BAB V PENUTUP
B. Saran-saran
Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwasannya perkawinan masuk dalam wilayah perdata, adalah salah jika perkawinan diartikan dan masuk pada ranah hukum pidana. Dari kasus perkawinan syekh puji dapat disimpulkan tidak perlu adanya pemahaman sebagai sebuah kriminalisasi terhadap perkawinan, dengan ini menjadi jelas dalam memahami permasalahan ini.
Dengan ini kita harus mengetahui bahwasannya dampak negatif dari kriminalisasi itu sendiri diantaranya:
1. Menimbulkan pengaruh negatif terhadap kehidupan keluarga (istri/ suami) yang ditinggal menjalani hukuman penjara
2. Adanya cap atau anggapan yang melekat terhadap pelaku sebagai mantan narapidana setelah menjalani hukuman dikalangan masyarakat.
3. Dengan statusnya sebagai mantan narapidana akan sulit baginya mencari pekerjaan di sebuah instansi baik dalam pemerintahan maupun swasta karena melekat sebuah anggapan bahwasannya dia sebagai mantan narapidana
Hemat penulis hal yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya perkawinan di bawah umur bukan dengan kriminalisasi tetapi dengan menghilangkan faktor-faktor dalam proses terjadinya perkawinan di bawah umur diantaranya:
1. Faktor Perjodohan
Faktor perjodohan orang tua terhadap anak-anaknya biasanya berlaku di daerah primitif pedesaan dan rendah taraf pendidikannya. Adapun faktor dan motifasi orang tua untuk menikahkan anaknya sangatlah beragam, menurut RT. Akhmad Jayadiningrat, orang tua menikahkan anaknya yang masih kecil atau di bawah umur karena: a. Adanya keinginan untuk segara mendapatkan tambahan anggota keluarga. b. Tidak adanya pengertian mengenai akibat buruk dari perkawinan terlalu muda, baik bagi mempelai itu sendiri maupun keturunannya. c. Sifat kolot orang jawa yang tidak mau menyimpang dari ketentuan adat.77 Dalam islam mengenal tentang wali
mujbir78. Menurut syafi’iyah, wali mujbir adalah wali yang berhak menikahkan wanita perawan, baik wanita perawan itu masih kecil ataupun sudah dewasa, walaupun tidak ada persetujuan dari perawan tersebut. Akan tetapi wali tetap dianjurkan (mustahab) untuk meminta persetujuannya terlabih dahulu79.
77
Alfiah, “faktor-faktor pernikahan dini”, artikel diakses pada tanggal 5 agustus 2011 dari.
www.alfiah.23. Student. Umm.ac.id
78
Wali mujbir adalah wali yang mempunyai hak feto untuk menikahkan anak yang masih kecil atau belum baligh. Abdurrahman juzairi, mazahib arba’ah. (beirut, libanon: maktabah al-asyiriyyah, 2003), IV: 28
79
2. Faktor Pendidikan
Peran pendidikan anak-anak sangat mempunyai peran besar. Jika seorang anak putus sekolah pada usia wajib sekolah, kemudian mengisi waktunya dengan bekerja, maka anak itu sudah merasa cukup mandiri dan merasa mampu untuk menghidupi dirinya sendiri, sehingga ada dorongan yang sangat kuat untuk segera menikah atau berkeluarga. Hal yang sama juga jika anak yang putus sekolah tersebut menganggur, dalam kekosongan waktu tanpa pekerjaan membuat mereka akhirnya melakukan hal-hal yang tidak produktif. Salah satunya adalah menjalin hubungan dengan lawan jenis, yang juga diluar kontrol bisa membuat kehamilan diluar nikah80. Di sisi lain agama sangat menganjurkan adanya mencari ilmu, bahkan mencari ilmu hukumnya wajib.
3. Faktor Pemahaman Agama
Yang dimaksud dengan pemahaman agama adalah, proses seseorang dalam memahami secara komprehensif sesuai aturan-aturan yang berlaku, hal ini akan sangat penting, dikarenakan agama merupakan sebuah norma dasar yang akan sangat berpengaruh dalam membentuk karakteristik seseoarang yang nantinya akan berdampak terhadap kehidupannya sehari-hari.
80
Lily Ahmad, “Hakim dan Pernikahan Dini”, artikel diakses pada tangal 5 agustus 2011 dari
http://lilyahmad.multiply. Com/journal/item/26/HAKIM DAN PERNIKAHAN DINI.diposkan pada
Adanya pemahaman sepihak terhadap agama tanpa menengok kepada dasar-dasar hukum yang melandasinya semisal dalam maqasid asy-syar’i. Biasanya dalam memandang persoalan pernikahan, orang yang akan menikahkan anaknya di bawah umur sesuai dan mengikuti adanya hadis pernikahan nabi Muhammad S.A.W dengan Aisyah r.a selain itu juga berpihak kepada hadis ancaman bagi orang tua yang tidak segera mengawinkan anaknya81.
4. Faktor Ekonomi
Faktor ini merupakan salah satu faktor adanya pernikahan di bawah umur, tidak bisa dipungkiri lagi salah satu penyebab terjadinya perkawinan di bawah umur adalah tekanan ekonomi, bahkan ada juga indiksi eksploitasi dari orang tua terhadap anak. Biasanya orang tua akan merelakan anaknya untuk dinikahkan dengan orang yang sudah mapan perekonomiannya, karena dalam keluarga tersebut sudah merasa kesulitan untuk memberi nafkah terhadap anak tersebut, sehingga dengan dinikahkan anak tersebut akan sedikit mengurangi beban orang tua82.
Memang sekilas menurut hukum Islam faktor tersebut dibenarkan bahwa disyaratkan bagi seorang wali yang ingin menikahkan anaknya yang masih kecil atau di bawah umur harus sekufu dan mampu memberi nafkah. Namun jika adanya niat tidak baik dari orang tua yang ingin mengeksploitasi anak, maka hal tersebut sangat
81
Hadis dari Abu Isa at-Tirmizi, sunan at-Tirmizi, hadis: 1084, (Bairut; Dar’ihya’ al-Arabi., tt, III:394)
82
Persoalan Ekonomi, Motif Nikah Muda, artikel diakses pada tanggal 19 juni tahun 2011 dari kompas.com semarang sabtu 14 maret 2009
dilarang oleh agama. Dalam undang-undang perlindungan anak yang berlaku di indonesia juga melarang terjadinya eksploitasi terhadap anak dengan jalan apapun83.
83
75
Abdussalam, Kriminologi, Jakarta: Restu Agung, 2007
Adjis, Chairil A dan Akasyah, Dudi. Kriminologi Syariah. Cet. I, Jakarta: RMBOOKS, 2007
Arifin, Bey, dan Syinqity Djamaludin. Terjemahan Sunan Abi Daud, jilid III,Semarang: CV. Asy-Syifa’, 1992
Djazuli, A., Fiqih Jinayah: upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam, cet. III, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2000
Djirjosisworo, Soedjono. Anatomi Kejahatan di Indonesia, Gelagat dan Proyeksi Antisipasinya pada awal abad ke 21, Bandung: Granesia, 1996
Haq, Hamka, Al-Syatibi Aspek Teologi Konsep Maslahah dalam Kitab al-Muwafaqat, Erlangga: 2007
Kamus Hukum, Bandung : Citra Umbara 2008.
Kansil C.S.T dan Cristine S.T Kansil., Kamus Istilah Aneka Hukum, cet. I Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001
Kementrian Pemberdayaan Perempuan RI dan Departemen Sosial RI. Undang-Undang Perlindungan Anak, Jakarta: Kementrian Pemberdayaan Perempuan RIdanDepartemenSosialRI2003
Marbun B. N. Kamus Hukum Indonesia, Jakarta: Sinar Harapan, 2006.
Muhammad, Husein. Fiqih Perempuan: refleksi kiai atas wacana agama dan gender, cet. V, Yogyakarta: LkiS, 2009
Muzdhar, M. Atho’ dan Khairudin Nasution. Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern: studi perbandingan dan keberanjakan Undang-Undang modern dari kitab-kitab fiqih, Jakarta: Ciputat Press, 2003
Nawawi Arief, Barda. Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung: Citra Aditya Bhakti, 2003
---, Pembaharuan Hukum Pidana: Dalam Perspektif Kajian Perbandingan, cet. I. Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, 2005
---, Bunga Rampai Hukum Pidana Perkembangan Penyusunan KUHP baru, jakarta: kencana, 2008
Prajogo, soesilo. Kamus Hukum Internasional Dan Indonesia, Jakarta: Wacana Intelektual, 2007
Prasetyo, Teguh. Kriminalisasi Dalam Hukum Pidana, Bandung: Nusa Media, 2010 Rusyd, Ibnu. Bidayatul Mujtahid: analisis fiqih para mujtahid jilid II, cet. III Jakarta:
Pustaka Amani, 2007
Sianturi S.R dan Mompang L. Panggabean. Hukum Penitensia, Jakarta:akarta: Alumni Ahaem-Petehaem, 1996
Soekanto, Soerjono dan Mamuji, Sri. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat. Cet. VIII. Jakarta: Rajawali Pers, 2004
Sudarto. Hukum dan Hukum Pidana, cet.V. Bandung: PT. Alumni, 2007
Suma, Muhammad Amin. Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2005
Supeno, Hadi. Kriminalisasi Anak: tawaran gagasan radikal peradilan anak tanpa pemidanaan. Jakarta: PT. Gramediapustaka utama, 2010
Syarifudin, Amir. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fiqih Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan, Jakarta: Kencana Prenada Media Croup, 2009
Thalib, Sayuti. Hukum Kekeluargaan Indonesia, cet. V. Jakarta: UI-Press, 1986 Tim Redaksi Fokusmedia. Himpunan Peratuaran Perundang-undangan tentang
Kompilasi Hukum Islam. Bandung: Focusmedia, 2005
Tim Redaksi. Perundangan Tentang Anak. Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2010
Rujukan dari Situs Internet, dan Wawancara Pribadi
Admin, Putusan Sela, Syeh Puji Bebas, artikel diakses pada 17 maret 2011 dari
http://radar pekalongan.com/putusan sela-syeh-Puji-bebas
Ahmad Sofyan, MA dan Misran Lubis, Pernikahan Dini, artikel diakses pada tanggal 18 juli 2011dari http://niaschild.multiply.com/journal PKPA Nias-indonesia Alfiah, Faktor-Faktor Pernikahan Dini, artikel diakses pada tanggal 5 agustus 2011
dari. www.alfiah.23. Student. Umm.ac.id
Basfin Siregar, Syeikh Puji Divonis 4 Tahun, Artikel diakses pada tanggal 23 maret
2011 dari
http//new.gatra.com/index.php?option=com_content&view=article&id=339: syeikh puji divonis 4 tahun.
Dr. Asmawi, M.A, Kriminalisasi Poligami dalam Hukum Keluarga di Dunia Islam Kontemporer, artikel diakses pada tanggal 18 april 2011 dari
http://www.pdfreference.com/Kriminalisasi-Poligami-dalam-Hukum-Keluarga-di-Dunia-Islam-Kontemporer
Kompas.com, Cuma 4 tahun, aktifis perempuan menyesal, artikel diakses 23 maret 2011 dari http://www.arsipberita.com/arsip/kasus-syekh-Puji.html
Lily, Ahmad, Hakim dan Pernikahan Dini, artikel diakses pada 5 agustus 2011 dari
http://lilyahmad.multiply.com/journal/item/26/HAKIM_DAN_PERNIKAHA N_DINI
Luxboy, Syekh Puji Menghadiri Persidangan, artikel diakses pada 17 maret 2011 dari
http://gugling.com/syekhPuji-menghadiri-persidangan. html
Persoalan Ekonomi, Motif Nikah Muda, artikel diakses pada tanggal 19 juni tahun 2011 dari kompas.com semarang sabtu 14 maret 2009
Wawancara pribadi dengan Dr. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA. Wakil Ketua KPAI pada tanggal 21 juli 2011