• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran-saran

Dalam dokumen Kriminalisasi perkawinan dibawah umur (Halaman 78-86)

BAB V PENUTUP

B. Saran-saran

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwasannya perkawinan masuk dalam wilayah perdata, adalah salah jika perkawinan diartikan dan masuk pada ranah hukum pidana. Dari kasus perkawinan syekh puji dapat disimpulkan tidak perlu adanya pemahaman sebagai sebuah kriminalisasi terhadap perkawinan, dengan ini menjadi jelas dalam memahami permasalahan ini.

Dengan ini kita harus mengetahui bahwasannya dampak negatif dari kriminalisasi itu sendiri diantaranya:

1. Menimbulkan pengaruh negatif terhadap kehidupan keluarga (istri/ suami) yang ditinggal menjalani hukuman penjara

2. Adanya cap atau anggapan yang melekat terhadap pelaku sebagai mantan narapidana setelah menjalani hukuman dikalangan masyarakat.

3. Dengan statusnya sebagai mantan narapidana akan sulit baginya mencari pekerjaan di sebuah instansi baik dalam pemerintahan maupun swasta karena melekat sebuah anggapan bahwasannya dia sebagai mantan narapidana

Hemat penulis hal yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya perkawinan di bawah umur bukan dengan kriminalisasi tetapi dengan menghilangkan faktor-faktor dalam proses terjadinya perkawinan di bawah umur diantaranya:

1. Faktor Perjodohan

Faktor perjodohan orang tua terhadap anak-anaknya biasanya berlaku di daerah primitif pedesaan dan rendah taraf pendidikannya. Adapun faktor dan motifasi orang tua untuk menikahkan anaknya sangatlah beragam, menurut RT. Akhmad Jayadiningrat, orang tua menikahkan anaknya yang masih kecil atau di bawah umur karena: a. Adanya keinginan untuk segara mendapatkan tambahan anggota keluarga. b. Tidak adanya pengertian mengenai akibat buruk dari perkawinan terlalu muda, baik bagi mempelai itu sendiri maupun keturunannya. c. Sifat kolot orang jawa yang tidak mau menyimpang dari ketentuan adat.77 Dalam islam mengenal tentang wali

mujbir78. Menurut syafi’iyah, wali mujbir adalah wali yang berhak menikahkan wanita perawan, baik wanita perawan itu masih kecil ataupun sudah dewasa, walaupun tidak ada persetujuan dari perawan tersebut. Akan tetapi wali tetap dianjurkan (mustahab) untuk meminta persetujuannya terlabih dahulu79.

77

Alfiah, “faktor-faktor pernikahan dini”, artikel diakses pada tanggal 5 agustus 2011 dari.

www.alfiah.23. Student. Umm.ac.id

78

Wali mujbir adalah wali yang mempunyai hak feto untuk menikahkan anak yang masih kecil atau belum baligh. Abdurrahman juzairi, mazahib arba’ah. (beirut, libanon: maktabah al-asyiriyyah, 2003), IV: 28

79

2. Faktor Pendidikan

Peran pendidikan anak-anak sangat mempunyai peran besar. Jika seorang anak putus sekolah pada usia wajib sekolah, kemudian mengisi waktunya dengan bekerja, maka anak itu sudah merasa cukup mandiri dan merasa mampu untuk menghidupi dirinya sendiri, sehingga ada dorongan yang sangat kuat untuk segera menikah atau berkeluarga. Hal yang sama juga jika anak yang putus sekolah tersebut menganggur, dalam kekosongan waktu tanpa pekerjaan membuat mereka akhirnya melakukan hal-hal yang tidak produktif. Salah satunya adalah menjalin hubungan dengan lawan jenis, yang juga diluar kontrol bisa membuat kehamilan diluar nikah80. Di sisi lain agama sangat menganjurkan adanya mencari ilmu, bahkan mencari ilmu hukumnya wajib.

3. Faktor Pemahaman Agama

Yang dimaksud dengan pemahaman agama adalah, proses seseorang dalam memahami secara komprehensif sesuai aturan-aturan yang berlaku, hal ini akan sangat penting, dikarenakan agama merupakan sebuah norma dasar yang akan sangat berpengaruh dalam membentuk karakteristik seseoarang yang nantinya akan berdampak terhadap kehidupannya sehari-hari.

80

Lily Ahmad, “Hakim dan Pernikahan Dini”, artikel diakses pada tangal 5 agustus 2011 dari

http://lilyahmad.multiply. Com/journal/item/26/HAKIM DAN PERNIKAHAN DINI.diposkan pada

Adanya pemahaman sepihak terhadap agama tanpa menengok kepada dasar-dasar hukum yang melandasinya semisal dalam maqasid asy-syar’i. Biasanya dalam memandang persoalan pernikahan, orang yang akan menikahkan anaknya di bawah umur sesuai dan mengikuti adanya hadis pernikahan nabi Muhammad S.A.W dengan Aisyah r.a selain itu juga berpihak kepada hadis ancaman bagi orang tua yang tidak segera mengawinkan anaknya81.

4. Faktor Ekonomi

Faktor ini merupakan salah satu faktor adanya pernikahan di bawah umur, tidak bisa dipungkiri lagi salah satu penyebab terjadinya perkawinan di bawah umur adalah tekanan ekonomi, bahkan ada juga indiksi eksploitasi dari orang tua terhadap anak. Biasanya orang tua akan merelakan anaknya untuk dinikahkan dengan orang yang sudah mapan perekonomiannya, karena dalam keluarga tersebut sudah merasa kesulitan untuk memberi nafkah terhadap anak tersebut, sehingga dengan dinikahkan anak tersebut akan sedikit mengurangi beban orang tua82.

Memang sekilas menurut hukum Islam faktor tersebut dibenarkan bahwa disyaratkan bagi seorang wali yang ingin menikahkan anaknya yang masih kecil atau di bawah umur harus sekufu dan mampu memberi nafkah. Namun jika adanya niat tidak baik dari orang tua yang ingin mengeksploitasi anak, maka hal tersebut sangat

81

Hadis dari Abu Isa at-Tirmizi, sunan at-Tirmizi, hadis: 1084, (Bairut; Dar’ihya’ al-Arabi., tt, III:394)

82

Persoalan Ekonomi, Motif Nikah Muda, artikel diakses pada tanggal 19 juni tahun 2011 dari kompas.com semarang sabtu 14 maret 2009

dilarang oleh agama. Dalam undang-undang perlindungan anak yang berlaku di indonesia juga melarang terjadinya eksploitasi terhadap anak dengan jalan apapun83.

83

75

Abdussalam, Kriminologi, Jakarta: Restu Agung, 2007

Adjis, Chairil A dan Akasyah, Dudi. Kriminologi Syariah. Cet. I, Jakarta: RMBOOKS, 2007

Arifin, Bey, dan Syinqity Djamaludin. Terjemahan Sunan Abi Daud, jilid III,Semarang: CV. Asy-Syifa’, 1992

Djazuli, A., Fiqih Jinayah: upaya menanggulangi kejahatan dalam Islam, cet. III, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2000

Djirjosisworo, Soedjono. Anatomi Kejahatan di Indonesia, Gelagat dan Proyeksi Antisipasinya pada awal abad ke 21, Bandung: Granesia, 1996

Haq, Hamka, Al-Syatibi Aspek Teologi Konsep Maslahah dalam Kitab al-Muwafaqat, Erlangga: 2007

Kamus Hukum, Bandung : Citra Umbara 2008.

Kansil C.S.T dan Cristine S.T Kansil., Kamus Istilah Aneka Hukum, cet. I Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001

Kementrian Pemberdayaan Perempuan RI dan Departemen Sosial RI. Undang-Undang Perlindungan Anak, Jakarta: Kementrian Pemberdayaan Perempuan RIdanDepartemenSosialRI2003

Marbun B. N. Kamus Hukum Indonesia, Jakarta: Sinar Harapan, 2006.

Muhammad, Husein. Fiqih Perempuan: refleksi kiai atas wacana agama dan gender, cet. V, Yogyakarta: LkiS, 2009

Muzdhar, M. Atho’ dan Khairudin Nasution. Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern: studi perbandingan dan keberanjakan Undang-Undang modern dari kitab-kitab fiqih, Jakarta: Ciputat Press, 2003

Nawawi Arief, Barda. Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung: Citra Aditya Bhakti, 2003

---, Pembaharuan Hukum Pidana: Dalam Perspektif Kajian Perbandingan, cet. I. Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, 2005

---, Bunga Rampai Hukum Pidana Perkembangan Penyusunan KUHP baru, jakarta: kencana, 2008

Prajogo, soesilo. Kamus Hukum Internasional Dan Indonesia, Jakarta: Wacana Intelektual, 2007

Prasetyo, Teguh. Kriminalisasi Dalam Hukum Pidana, Bandung: Nusa Media, 2010 Rusyd, Ibnu. Bidayatul Mujtahid: analisis fiqih para mujtahid jilid II, cet. III Jakarta:

Pustaka Amani, 2007

Sianturi S.R dan Mompang L. Panggabean. Hukum Penitensia, Jakarta:akarta: Alumni Ahaem-Petehaem, 1996

Soekanto, Soerjono dan Mamuji, Sri. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat. Cet. VIII. Jakarta: Rajawali Pers, 2004

Sudarto. Hukum dan Hukum Pidana, cet.V. Bandung: PT. Alumni, 2007

Suma, Muhammad Amin. Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2005

Supeno, Hadi. Kriminalisasi Anak: tawaran gagasan radikal peradilan anak tanpa pemidanaan. Jakarta: PT. Gramediapustaka utama, 2010

Syarifudin, Amir. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia Antara Fiqih Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan, Jakarta: Kencana Prenada Media Croup, 2009

Thalib, Sayuti. Hukum Kekeluargaan Indonesia, cet. V. Jakarta: UI-Press, 1986 Tim Redaksi Fokusmedia. Himpunan Peratuaran Perundang-undangan tentang

Kompilasi Hukum Islam. Bandung: Focusmedia, 2005

Tim Redaksi. Perundangan Tentang Anak. Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2010

Rujukan dari Situs Internet, dan Wawancara Pribadi

Admin, Putusan Sela, Syeh Puji Bebas, artikel diakses pada 17 maret 2011 dari

http://radar pekalongan.com/putusan sela-syeh-Puji-bebas

Ahmad Sofyan, MA dan Misran Lubis, Pernikahan Dini, artikel diakses pada tanggal 18 juli 2011dari http://niaschild.multiply.com/journal PKPA Nias-indonesia Alfiah, Faktor-Faktor Pernikahan Dini, artikel diakses pada tanggal 5 agustus 2011

dari. www.alfiah.23. Student. Umm.ac.id

Basfin Siregar, Syeikh Puji Divonis 4 Tahun, Artikel diakses pada tanggal 23 maret

2011 dari

http//new.gatra.com/index.php?option=com_content&view=article&id=339: syeikh puji divonis 4 tahun.

Dr. Asmawi, M.A, Kriminalisasi Poligami dalam Hukum Keluarga di Dunia Islam Kontemporer, artikel diakses pada tanggal 18 april 2011 dari

http://www.pdfreference.com/Kriminalisasi-Poligami-dalam-Hukum-Keluarga-di-Dunia-Islam-Kontemporer

Kompas.com, Cuma 4 tahun, aktifis perempuan menyesal, artikel diakses 23 maret 2011 dari http://www.arsipberita.com/arsip/kasus-syekh-Puji.html

Lily, Ahmad, Hakim dan Pernikahan Dini, artikel diakses pada 5 agustus 2011 dari

http://lilyahmad.multiply.com/journal/item/26/HAKIM_DAN_PERNIKAHA N_DINI

Luxboy, Syekh Puji Menghadiri Persidangan, artikel diakses pada 17 maret 2011 dari

http://gugling.com/syekhPuji-menghadiri-persidangan. html

Persoalan Ekonomi, Motif Nikah Muda, artikel diakses pada tanggal 19 juni tahun 2011 dari kompas.com semarang sabtu 14 maret 2009

Wawancara pribadi dengan Dr. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA. Wakil Ketua KPAI pada tanggal 21 juli 2011

Dalam dokumen Kriminalisasi perkawinan dibawah umur (Halaman 78-86)

Dokumen terkait