BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
C. Saran
Berdasarkan hasil analisis dan simpulan dalam penelitian ini, maka peneliti mengajukan saran sebagai berikut:
1. Bagi Pembaca
a. Memperbanyak membaca karya sastra, khususnya puisi, baik puisi karya penyair lama maupun puisi karya penyair baru serta memahami makna yang terkandung dalam puisi.
commit to user
b. Mengkaji karya sastra, khususnya puisi berdasarkan struktur fisik dan batinnya agar dapat memahami maksud dan keindahan puisi tersebut karena unsur-unsur puisi merupakan satu kesatuan yang saling membangun.
2. Bagi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Menengah Pertama (SMP)
a. Hasil penelitian dapat dimanfaatkan sebagai contoh dalam mengkaji struktural yang ada di dalam puisi.
b. Puisi-puisi karya Abdurahman Faiz dapat digunakan oleh guru bahasa dan sastra Indonesia sebagai alternatif materi pembelajaran apresiasi puisi di SMP.
commit to user DAFTAR PUSTAKA
Admin. 2007. http://mgmpips.wordpress.com/2007/03/02/pengertian-bahan-ajar-materi-pembelajaran/ diakses 26 Maret 2011.
Abdurahman Faiz. 2005. Aku Ini Puisi Cinta. Bandung: DAR! Mizan.
. 2011. http://masfaiz.multiply.com/. Diakses 30 Maret 2011. Andayani. 2008. Pembelajaran Apresiasi Sastra Berbasis Quantum Learning di
Sekolah Dasar. Surakarta: UNS Press.
Atar Semi. 1993. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.
Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi
Dasar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SMP. Jakarta: Badan
Standar Nasional Pendidikan.
B. Rahmanto. 2000. Metode Pengajaran Satra. Yogyakarta: Kanisius.
B. Rahmanto. 2009. Pembelajaran (Karya) Sastra Indonesia dalam Perspektif Multikultural. Disajikan dalam Konferensi Nasional Bahasa dan Sastra II pada 21 Desember 2009. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Burhan Nurgiyantoro. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada.
. 2005. Sastra Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Desy Ratna Intani. 2008. Puisi-puisi Nikah Ilalang Karya Dorothea Rosa Herliany (Sebuah Tinjauan Struktural dan Nilai Didik). Tidak diterbitkan. Herman J. Waluyo. 2003. Apresiasi Puisi: Untuk Pelajar dan Mahasiswa. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
. 2003. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
. 2009. Pengajaran Sastra, Kreativitas, dan Multikulturalisme Disajikan dalam Seminar Nasional pada 31 Oktober 2009. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Herson Kadir. 2010. Analisis Struktur Puisi Kita Ini Pemilik Syah Republik Ini Karya Taufik Ismail, dalam Inovasi, Volume 7, Nomor 2, Juni 2010, ISSN 1693-9034.
commit to user
Inoe. 2008. Materi Ajar.
http://andhysastera.blogspot.com/2008/06/materi-ajar.html diakses 30 Maret 2011.
Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2008. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jabrohim, Suminto A. Sayuti, Chairul Saleh. 2001. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Kelly, Alison. 2005. ‘‘Poetry? Of course we do it. It’s in the National
Curriculum’’ Primary children’s perceptions of poetry.
http://web.ebscohost.com/ diakses 14 Juli 2011.
Khoirudin Mardyan Pamungkas. 2010. Kumpulan Puisi Siti Atmamiah dalam Buku Angin pun Berbisik (Tinjauan Struktural dan Relevansinya sebagai Alternatif Materi Ajar Bahasa Indonesia di SMA). Tidak diterbitkan.
Kunandar. 2009. Guru Profesional Implementasi KTSP dan Sukses dalam
Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Maria Utami. 2010. Memilih Puisi, Membangun Karakter. Semarang. Bandungan
Institute.
Muhammad Subhan. 2009. Analisis Struktur Novel Durdjana Tama. http://www lontar.ui.ac.id/file?file=digital/123484-RB02M428a-Analisis%20struktur-Abstrak.pdf, diakses 14 Juli 2011.
Paul, Lissa. 2005. Writing Poetry or Children is a curious occupation: Ted Hughes and Sylvia Plath. http://web.ebscohost.com/ diakses tanggal 14 Juli 2011.
Poetri Mardiana Sasti. 2010. Analisis Struktur Puisi Anak, dalam. Alayasastra, Vol. 6, No. 2, November 2010:115-128.
Praba, M. 2003. Teknis Analisis Puisi dengan Parafrase http://groups.yahoo.com /group/pengarang/message/558 diakses 28 April 2011.
Rachmat Djoko Pradopo. 1990. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
, B. 2009. Pembelajaran (Karya) Sastra Indonesia dalam Perspektif Multikultural. Disajikan dalam Konferensi Nasional Bahasa dan Sastra II pada 21 Desember 2009. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Riris K Toha Sarumpaet (ed). 2002. Sastra Masuk Sekolah. Magelang: Indonesia Tera.
Sardiman. 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
commit to user
Sawali. 2009. Puisi sebagai Bahan Ajar: Antara Tuntutan Kurikulum dan Kepentingan Apresiasi. http://pawiyatan.com/2009/03/22/puisi-sebagai-bahan-ajar-antara-tuntutan-kurikulum-dan-kepentingan-apresiasi/ diakses 29 Maret 2011.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Suminto A. Sayuti. 1985. Puisi dan Pengajarannya. Semarang: IKIP Semarang Press.
Sutopo. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif.Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Teguh. 2009. Struktur Sastra dan Aspek Sosial Novel Toenggoel Karya Eer Asura. http://gemasastranusantara.wordpress.com/2009/08/04/struktur-sastra-dan-aspek-sosial-novel-toenggoel-karya-eer-asura/ diakses 9 Maret 2011.
Winarno Surakhmad. 2009. Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Winkel, W. S. 2007. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.
Yant Mujiyanto dan Amir Fuady. 2008. Sejarah Sastra Indonesia. Surakarta: UNS Press.
, 2007. Setiap Hari Sebuah Puisi. Surakarta: Mediatama
Zanikhan. 2009. Strategi Pembelajaran Active Learning,
commit to user
commit to user
Kumpulan Puisi Aku Ini Puisi Cinta Karya Abdurahman Faiz Ayah Bundaku
Bunda
engkau adalah
rembulan yang menari dalam dadaku
Ayah
engkau adalah
matahari yang menghangatkan hatiku
Ayah bunda
kucintai kau berdua seperti aku
mencintai surga
Semoga Allah mencium ayah bunda dalam tamanNya terindah
Nanti
(Januari 2002) Harry Potter
Sudahkah kau temukan ramuan paling rahasia itu agar seluruh orang di dunia bisa saling cinta?
(Oktober 2002) Kepada Guru
Aku selalu bermimpi
matahari telah melahirkan para guru dan guru melahirkan banyak matahari hingga matahari tak lagi sendiri Matahari tak pernah sendiri, guru ia selalu ada bersamamu
hangatkan cinta yang tumbuh dan menyinari cakrawala kecilku selalu
(November 2002) Ode Para Semut
Di kehidupan para semut tak satu pun yang tak ikhtiar tak satu pun yang tak menyapa tak satu pun yang tak bergiat
commit to user semua bergerak cepat
Ini jalan berliku
bernama jalan gotong royong kami susuri bersama
kami kerahkan segenap daya sambil sesekali menyengat musuh pemutus jalan kami Ini kami, para semut
makhluk kecil sering tak kau lihat kadang kami terinjak
di negeri para raksasa
namun kami terus melangkah mengangkat beban bersama Tak ada yang melemahkan kami kami terus berjalan
mencari rezeki ke mana saja tak pernah bermusuhan bergandengan selamanya sampai kami mati
Kami semut-semut ramah
hidup dengan tubuh teramat kecil belajarlah dari kebersamaan dan kebesaran jiwa kami
(Januari 2003) Siti dan Udin di Jalan Siti dan Udin namanya sejak pagi belum makan minum cuma seadanya dengan membawa kecrekan mengitari jalan-jalan ibu kota Siti punya ayah
seorang tukang becak ibunya tukang cuci berbadan ringkih
Udin tak tahu di mana ayahnya ditinggal sejak bayi
ibunya hanya pemulung
commit to user Mereka bangun rumah
dari triplek dan kardus tebal di tepi kali ciliwung
tapi sering kena gusur Bila malam tiba
mereka tidur di kolong jembatan ditemani nyanyian nyamuk dan suara bentakan preman Siti dan Udin namanya muka mereka penuh debu dengan baju rombengan
menyanyi di tengah kebisingan pagi sampai malam
tersenyum dalam peluh menyapa om dan tante mengharap receh seadanya Beribu Siti dan Udin berkeliaran di jalan-jalan dengan suara serak
dan napas sesak oleh polusi kalau hari ini bisa makan sudah alhamdulillah tapi tetap berdoa agar bisa sekolah
dan punya rumah berjendela (Februari 2003) Muhammad Rinduku
Kalau kau mencintai Muhammad ikutilah dia
sepenuh hati apa yang dikatakan apa yang dilakukan ikuti semua
jangan kau tawar lagi sebab ialah lelaki utama itu memang jalan yang ditempuhnya sungguh susah
commit to user hingga dengannya terbelah bulan
tapi kalau kau mencintai Rasul ikutilah dia
sepenuh rindumu dan akan sampailah kau padaNya
(April 2003) Doaku Hari Ini
Tuhanku
berikanlah waktuMu padaku untuk tumbuh di jalan cinta dan menyemainya
di sepanjang jalan ayah bundaku di sepanjang jalan Indonesiaku di sepanjang jalan menujuMu Amin
(Juli 2003) Bunda ke Amerika
Sepucuk surat undangan sampai pagi ini di rumah kami
untuk bundaku tercinta dari universitas di Amerika Aku tahu bundaku pintar juga amat berbudaya
tak heran bila ia diundang bicara sampai ke negeri adidaya Ia adalah muslimah ramah
dengan jilbab tak pernah lepas dari kepala sehari-hari berbicara benar
dan tak henti membela yang lemah
Dari berita yang kubaca Amerika penuh rekayasa khawatir pun melanda
bila jilbab dijadikan masalah Bagaimana bila bunda
commit to user bukankah Presiden Amerika
menuduh dengan mudah siapa saja yang tak dia suka? Maka aku minta kepada Allah agar bunda dilindungi senantiasa bunda tersenyum dan memelukku ia teguh pergi dengan jilbab di kepala katanya: hanya Allah Maha Penjaga
(September 2003) Jalan Bunda
Bunda
engkaulah yang menuntunku ke jalan kupu-kupu
(September 2003)
Dari Seorang Anak Irak dalam Mimpiku untuk Bush Mengapa kau biarkan anak-anak meneguk derita
peluru-peluru itu bicara pada tubuh kami dengan bahasa yang paling perih
Irak, Afghanistan, Palestina dan entah negeri mana lagi meratap-ratap
Mengapa kau koyak tubuh kami? apa yang kau cari?
apa salah kami? kami hanya bocah
yang selalu gemetar mendengar keributan dan ledakan
mengapa kau perangi bapak ibu kami? Kini
kami tak pernah lagi melihat pelangi hanya api di matamu
dan sejarah yang perih
tapi kami sudah tak bisa lagi menangis kami berdarah
kami mati
(Oktober 2003)
commit to user Sehari sebelum ulang tahunku
aku terjatuh di selokan besar ada tujuh luka membekas, berdarah aku mencoba tertawa, malah meringis Sehari sebelum ulang tahunku
negeriku masih juga begitu lebih dari tujuh luka membekas kemiskinan, kejahatan,
korupsi di mana-mana, pengangguran, pengungsi jadi pemandangan
yang meletihkan mata menyakitkan hati
Tapi ada yang seperti lucu di negeriku
orang yang ketahuan berbuat jahat tidak selalu dihukum
namun orang baik bisa dipenjara Pada ulang tahunku yang kedelapan aku berdiri di sini dengan tujuh luka sambil membayangkan Indonesia Raya dan selokan besar itu
Tiba-tiba aku ingin menangis (15 November 2003) Siapa Mau Jadi Presiden?
menjadi presiden itu berarti melayani dengan segenap hati rakyat yang meminta suka dan menyerahkan jutaan keranjang dukanya
commit to user Bukan Puisi tapi Surat untuk Presiden Baruku Kepada Yang terhormat
Bapak SBY di tempat
Assalamu’alaikum
apa kabar, Pak?
aku berharap Bapak baik-baik saja seperti aku saat ini Bapak, namaku Faiz sekarang aku duduk di kelas III SD aku suka sekali membaca dan menulis
alhamdulillaha sudah menerbitkan dua buku tahun lalu aku mengirim surat pada Ibu Presiden kata orang suratku lucu
Ibu Mega sempat juga membalasnya
Bapak, sayang. Selamat ya sudah dipilih rakyat sebagai Presiden Indonesia yang baru
Selain bersyukur, aku tahu Bapak pasti deg-degan soalnya menjadi Presiden itu kan susah
PR-nya banyak sekali
lebih banyak dari PR seluruh murid sekolah di dunia ini aku tahu juga sedikit tentang PR itu, Pak
misalnya PR bagaimana membuat rakyat tersenyum kan susah ya, Pak
Kalau semua harga mahal
untuk makan, berobat, dan sekolah saja susah bagaimana rakyat mau tersenyum?
apalagi cari pekerjaan pun sukar sekali kudengar di luar negeri
banyak tenaga kerja kita yang disiksa
terus juga PR untuk membuat negeri kita lebih aman agar jangan banyak orang jahat berkeliaran
apalagi bawa bom segala kami takut sekali
kalau bisa nanti negeri kita
tidak mendapat rangking I lagi untuk korupsi sedih kalau ingat itu
padahal teman-teman kecilku
banyak yang harus berjuang di jalanan padahal negeri kita kaya
makanya aku harap Bapak bisa peka dan tegas Mimpiku sih ingin punya Presiden
commit to user yang dekat sekali dengan rakyat
tdak malu makan di warung sering jalan ke tempat kumuh
ngobrol dengan orang kecil seperti aku dan sering tersenyum
Bapak yang ganteng dan pintar betapa berat menjadi presiden yang tumbuh dari duka lara rakyat
Apalagi rakyatnya selalu berharap terus seperti aku Ya, seperti yang Bapak bilang
Bapak tak bisa berjuang sendirian tapi bersama kita bisa!
Aku yakin itu!
Aku juga ingat kata Bunda kalau kita menjadi orang baik dan punya hati yang bersih
kita akan dicintai tidak hanya di bumi tapi juga di langit
makanya, aku berdoa semoga nanti tak ada lagi air mata duka
hanya ada pelangi di mata kita
seperti lagu yang sering Bapak nyanyikan itu loh. Selamat berjuang Presiden baruku
aku akan selalu mendoakan Bapak
tapi kalau Bapak salah, biarpun Bapak Presiden, Doktor dan Jenderal berbadan tegap,
aku boleh menegur ya? dan Bapak jangan marah ya, sebab itu aku lakukan karena cinta Jakarta, 21 September 2004 Salam hormat
Abdurahman faiz
Kelas III SDN 02 Cipayung, Jakarta Timur Mimpi di jalan Raya
Seperti hari-hari lalu
pagi ini kau tumpuk mimpimu di sepanjang jalan raya
tapi truk dan bus
commit to user beberapa pengemudi memaki
mencabik sisa mimpimu
Hari ini belum dapat sepeser pun kau ingin menangis
tapi tak ada tempat
untuk menampung airmata adik dalam gendongan tersenyum mengusap pipinya yang kotor matanya berkilat sesaat mengira kau bercanda
sebab kalian selalu bernyanyi dalam segala musim
walau tak ada ayah ibu Tapi tak pernah ada mimpi yang hidup lama di jalan raya dengan lunglai kau hampiri tong-tong sampah orang kaya berharap ada sisa mimpi di sana untuk kau simpan demi masa depan.
(Desember 2003)
Doa untuk Semua Tukang Sampah di Dunia Inilah keheranan
yang kukumpulkan dalam doa untuk orang-orang istimewa semua tukang sampah di dunia Sesungguhnya gajimu
yang super kecil itu telah rinci tercatat di buku para malaikat Maka semoga
bermilyar kotoran dan aroma busuk yang kau jauhkan dari kami
yang kau buang setiap hari menjelma permata tak ternilai serta wewangian abadi
di sisi Tuhan Tuhan
berilah semua kebaikan yang bisa Kau anugrahkan
commit to user bagi keindahan
dan kebersihan hati para tukang sampah di seluruh dunia Mari aminkan.
(Januari 2004) Ayah
I
Sedalam laut, seluas langit cinta selalu tak bisa diukur begitulah ayah mengurai waktu meneteskan keringat dan rindunya untukku
II
Ayah pergi sangat pagi kadang sampai pagi lagi tapi saat pulang
ia tak lupa menjinjing pelangi lalu dengan sabar
menguraikan warnanya satu persatu padaku dengan mata berbinar III
Waktu memang tak akrab denganku dan ayah
tapi di dalam buku gambarku tak pernah ada duka atau badai hanya sederet sketsa
tentang aku, ayah dan tawa yang selalu bersama
(April 2004) Di mana Syukurku?
Aku sering memelihara kesal dan marah padahal Dia memberiku kesejukan air Aku sering merasa hatiku menghitam padahal Dia memberiku terang matahari Aku sering merasa paling malang
padahal Dia selalu mencukupiku Begitu sering aku melupakanNya
commit to user tapi Dia selalu menjaga
Begitu sering aku durhaka padaNya tapi udara untukku tetap ada
Pada setiap musim
setelah kehadiran para nabi terkabarkan dan terbukti cinta abadiMu
sedang aku masih tergugu mencari syukur dan setiaku yang terjerembab
di emperan dunia
(Maret 2004) Anak Televisi
Setiap hari kami saksikan kesadisan di luar logika,
juga pertikaian yang tak selesai diiringi goyang bor patah-patah, gosip para selebriti,
serta gentayangan para hantu setiap jamnya
Kami larut dalam kisah cinta
anak sekolah berseragam putih merah, putih biru dan putih abu-abu…
sambil menertawakan si Yoyo, Cecep, Sin Chan, dan Bidadari,
lalu sibuk mendukung bintang baru lewat SMS
Dari pagi sampai malam kami menghafal televisi kami cerna kelicikan, darah, goyangan, dan semua jenis hantu sambil mendebukan buku-buku Di sekolah guru bertanya tentang cita-cita
dan sambil menguap panjang kami menjawab
kami ingin jadi orang
paling berguna bagi negeri ini seperti yang pernah dinasihatkan orangtua, guru, pejabat, politisi,
commit to user ulama, dan selebriti kami
di televisi
(Mei 2004) Balada Sri dan Nirmala Nyalakan lagi api unggun biru di matamu
puisi-puisi telah lama menari di antara kepingan derita deras keringat dan
uang kertas dolar tak seberapa Semua telah membaca
dan menangkap resah yang berlarian rembesi pori-pori pertiwi
tapi siapa peduli, siapa?
di tengah jasad teman-temanmu yang terbujur di negeri asing kebiadaban terus melekat di badan Tak ada majikan berhati peri
yang tumbuh dari mimpi-mimpi kuli hanya kau yang tak henti disetrika lara dan puisi-puisi yang terus menggelepar Di dusun sunyi tak bernama
orangtuamu pasrah menanti kabar sambil menunggu rumah semen yang tak pernah selesai dibangun
(Juni 2004) Penyair
Penyair memahat kata-kata untuk orang-orang dewasa dan menaburkan kata-kata pada kanak-kanak sepertiku Aku berloncatan menangkap huruf sebagai isyarat
dan bait sebagai makna
kesetiaan yang kadang tak kumengerti
Aku memahat kata-kata di bilik pembaca dewasa
commit to user mereka bertanya-tanya
yang mana titipan dewa Aku menaburkan kata-kata di kepala kanak-kanak sebagai hujan, sebagai pasir
yang mereka tangkap sambil bermain (Mei 2004)
Sahabatku Buku
Buku adalah sahabat paling setia rela mendampingi sepanjang waktu di mana pun aku berada,
tanpa pernah memikirkan dirinya Buku yang kubaca
selalu memberi sayap-sayap baru membawaku terbang
ke taman-taman pengetahuan paling menawan
melintasi waktu dan peristiwa, berbagi cerita cinta,
menyapa semua tokoh yang ingin kujumpai sambil bermain di lengkung pelangi
Terimakasih, buku
Kau selalu membuatku bercahaya (September 2004) Sajak anti Perang
Mengapa perang tak juga berhenti?
Hujan mortir peluru, gerimis darah dan airmata kebiadaban menanti di setiap tapak jalan di antara asap tebal dan luka yang melelehi bangkai manusia serta puing-puing bangunan Mengapa perang tak juga berhenti?
Anak-anak lelah dan kehilangan segala tak ada orang tua, rumah, juga makanan tak ada waktu untuk bermain
sebab tubuh tinggal sepotong hanya lara dan dendam menggigil di halaman buku kehidupan
commit to user Mengapa tak ada damai?
kami bergidik menyaksikan peperangan pecah setiap hari
seperti menu basi di koran dan televisi dan kami dipaksa mengunyahnya selalu Setiap detik di medan pertempuran Kami tebarkan duka lara
kematian kami sendiri
dan jutaan puisi berbendera putih tak sampai-sampai pada damai
(Oktober 2004)
untuk Saudara-saudara Kecilku di Aceh Jakarta, 8 Januari 2005
Kepada yang tercinta
saudara-saudara kecilku di Aceh Assalaamu'alaikum
Saudaraku,
sejak gempa dan tsunami, aku tak berhenti mendoakan kalian.
Doa-doa itu menjadi tangisan kalau aku menonton tivi. kalau aku baca koran. Aku sampai tak ingin bermain. Aku susah makan kalau ingat penderitaan kalian. Aku sempat susah tidur.
Saudara kecilku,
Aku ingin sekali menghapus airmata kalian. Bagaimana caranya ya?
Sayang aku juga masih kecil. Jadi hanya bisa berdoa. Hanya bisa menyumbang uang dari celenganku.
Andai sudah besar aku akan berada di sana bersama kalian.
Aku akan berangkat pakai ongkos sendiri. Tidak minta siapa-siapa. Soalnya kan aku relawan. Jadi harus rela.
Aku juga akan memeluk kalian kuat-kuat. Membagi uang royalti bukuku untuk kalian.
Aku akan membantu menguburkan ayah bunda kalian.
Aku akan memasakkan makanan untuk kalian, menghibur, mengajak bermain dan apa saja.
Saudara kecilku,
tetap sabar dan tegar ya!
commit to user
ayah bunda kalian sekarang sedang tersenyum di surga. Dan mereka akan bahagia kalau kalian bisa tersenyum lagi.
Saudaraku sayang,
Aku terus menabung nih supaya bisa terus menyumbang. Aku harus rajin mengaji supaya soleh. Rajin belajar supaya pintar, biar gampang cari kerja. Nah kan bisa jadi kaya jadi gampang menolong orang. Siapa tahu nanti bisa membangunkan rumah dan sekolah untuk kalian.
Dan ayah bundaku juga boleh menjadi ayah bunda kalian! Ini beneran loh. Aku mencintai kalian. Terus berdoa, tegar dan tetap belajar ya.
Dari saudaramu Abdurahman Faiz
commit to user
DATA HASIL WAWANCARA
Waktu : Kamis, 19 Mei 2011
Objek : Kusprihyanto Namma, Sastrawan
Tempat : di MAN Ngawi
P : Apakah struktur batin sebuah puisi selalu tersurat? Atau hanya tersirat sehingga perlu dikaji lebih dalam?
I : Berbicara mengenai puisi, puisi diciptakan untuk dibaca oleh para pembaca. Oleh sebab itu, setiap puisi memiliki struktur batin yang tersurat dan ada juga yang tersirat. Suatu puisi paling tidak, struktur batin yang tersurat dan tersirat haruslah seimbang. Setiap apresian atau pembaca dapat menafsiri kata-kata yang digunakan oleh penyair dan ini merupakan keunikan dari puisi.
P : Menurut Pak Kus, puisi yang bagaimana yang sesuai untuk pembelajaran