VIII. SIMPULAN DAN SARAN
8.2. Saran
1. Petani diharapkan lebih memfokuskan pada peningkatan efisiensi alokatif yaitu dengan menggunakan sejumlah input tepat sesuai dengan harga input di daerah setempat sehingga diharapkan terjadi peningkatan efisiensi ekonomis khususnya pada pola tanam non-keprasan.
2. Ukuran usahatani memiliki pengaruh paling besar untuk untuk mengurangi inefisiensi teknis. Hal ini erat kaitannya dengan skala usaha usahatani. Mengingat penambahan luas lahan sulit dilakukan, maka peran kelembagaan baik melalui koperasi maupun kelompoktani perlu ditingkatkan untuk mencapai skala usaha khususnya bagi petani berlahan sempit.
3. Penyuluhan dan pendampingan melalui kelembagaan pertanian yang ada di wilayah penelitian baik koperasi maupun kelompoktani perlu dilakukan secara intensif. Penyuluhan dan pendampingan ini diharapkan mampu memberikan informasi kepada petani supaya dalam berusahatani tidak hanya mengacu pada peningkatan produksi dan produktivitas tetapi juga mengalokasikan input yang tepat sehingga keuntungan maksimal tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Adhiana. 2005. Analisis Efisiensi Ekonomi Usahatani Lidah Buaya (Aloe Vera) di Kabupaten Bogor: Pendekatan Stochastic Production Frontier. Tesis Magister Sains. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Aigner, D. J., C.A.K. Lovell and P. Schimidt. 1997. Formulation and Estimation of Stochastic Frontier Production Frontier Models. Journal of Econometrics, 6(1): 21-37.
Babalola, D.A., O.I.Y. Ajani, B.T. Omonona, O.A. Oni, Y.A. Awoyinka. 2009. Techical Efficiency Differential in Industrial Sugarcane Production; The Case of Jigawane State Nigeria. Acta SATECH, 3(1): 59-69 Badan Pusat Statistik. 2010. Tabel Produksi, Luas Lahan dan Produktivitas Tebu
tahun 2010.
http://www.bps.go.id/aboutus.php?tabel=1&id_subyek=54. Diakses: 29 Mei 2011.
Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung. 2010. Lampung Dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung, Lampung.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Utara. 2010. Lampung Utara Dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Utara, Lampung Utara.
Bakhsoodeh, Mohammad and Kenneth J. Thomson. 2001. Input and Output Technical Efficiencies of Wheat Production inKerman, Iran. Agricultural Economic Journal, 24: 307-313.
Battese, G.E. 1992. Frontier Production Function and Technical Efficiency. A Survey of Empirical Applications of Agricultural Economics. Journal of Agricultural Economics, 7 (1): 185-208.
Battese, GE. and T.J. Coelli. 1995. A model for Tecnical Effieciency Effects in a Stochastic Frontier Production for Panel Data. Empirical Economics, 20: 325 -332.
Bishop, C.E. and W.D Toussaint. 1958. Introduction to Agricultural Economic Analisys. John Whisley&Sons, Inc., New York.
Chen, A.Z., W.E. Huffman and S. Rozella. 2003. Technichal Efficiency of Chinese Grain Production: A Stochastic Frontier Approach. Paper Presented in American Agricultural Economic Association Annual Meeting, 27-30 July 2003, Montreal.
Chidoko, Clainos dan Ledwin Chimway. 2011. Economic Challenger of Sugarcane Production in the Lowveld of Zimbabwe. Int.J. Eco. Res, 2(5): 1-3
Coelli, T. 1996. A Guide to Frontier version 4.1: A Computer Program for Stochastic Frontier Production Function and Cost Funtion Estimation.
Centre for Efficiency and Productivity Analysis, University of New England, Armidale.
_______., D.S.P. Rao and G.E. Bettese. 1998. An Introduction to Efficiency and Productivity Analyisis. Kluwer Academic Publisher, London.
Cooper, D. R. dan C. W. Emory. 1996. Metode Penelitian Bisnis. Jilid 1. Erlangga, Jakarta.
Clowes, M dan Breakwel, W. 1998. Zimbabwe Sugarcane Production. ZSA Experiment Station. Zimbabwe.
Daryanto, H.K.S. 2000. Analysis of the Technical Efficiencies of Rice Production in West Java Province, Indonesia: A Stochastic Frontier Production Function Approach. PhD Thesis. University of New England, Armidale.
Debertin, D, L. 1986. Agricultural Production Economics. Macmillan Publishing Company, New York.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2010. Statistik Perkebunan Indonesia. Kementerian Pertanian, Jakarta.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Lampung. 2011. Produksi Gula Propinsi Lampung 2002-2010. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Lampung, Lampung.
Dlamini, S., J.L. Rugambisa,. M.B. Masuku, dan A. Belete. 2000. Technical Efficiency of the Small Scale Sugarcane Farmers in Swaziland: A Case Study of Vulvane and Big Farmers. Afr.J. Agric.Res
DPR-RI. 2010. Laporan Kunjungan Kerja Spesifik Panja Gula Komisi VI DPR-RI ke Propinsi Lampung Masa Sidang I Tahun Sidang 2009-2010. Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR-RI). Jakarta. http://www.dpr.go.id. Diakses: 18 November 2011.
Dwijayanti, Riana. 2011. Kemitraan Antara Petani Tebu Rakyat Kerjasama Usahatani (TRKSU) dan Petani Tebu Rakyat Mandiri (TRM) dengan Pabrik Gula Candi Baru Di Kecamatan Candi Sidoarjo. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, Surabaya.
FAO Statistic. 2010. http://www.fao.org. Diakses: 12 Desember 2011.
Farrell. 1957. The Measurement of Product Efficiency. Journal of The Royal Statistical Society, 120 (3): 253-281.
Fadjar, Undang. 2006. Kemitraan usaha perkebunan : perubahan struktur yang belum lengkap. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 24 (1) : 46-60. Fernandez, M. Dina Padila, and Peter Leslie Nuthall. 2009. Technical Efficinecy
of Sugarcane in Central Negros Area Philipinnes. J. ISSAAS, 15 ( 1): 77-90.
Green, H. W. 1993. Maximum Likelihood Estimation of Stochastic Frontier Production Models. Journal of Economics, 18 (2): 285-289.
Govereh, J., S. Jayne, dan J. Nyoro. 1999. Small Holder Commercialization, Interlinkage Market and Food Crop Productivity: Cross Country Evidence in Eastern and Southern Africa. Department of Agricultural Economic, Michigan State University and Department of Economic, East Lansing, MI.Mimeo.
Hafsah, M. Jafar. 2003. Bisnis Gula Indonesia. Edisi Kedua. Pustaka Sinar harapan, Jakarta.
Henderson, J. M. And R. E. Quandt. 1980. Microeconomic Theory : A Mathemaical Approach. Third Edition, International Student Edition. McGraw-Hill International Book Company, Tokyo.
Hernanada, Nindya. 2011. Analisis peramalan tingkat produksi dan konsumsi gula Indonesia dalam mencapai swasembada gula nasional. Skripsi. Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor
Hernanto, Fadholi.1996. Ilmu Usahatan (Cetakan Ketujuh). Penebar Swadaya, Jakarta.
Indrayani, Ida. 2011. Analisis Efisiensi Teknis Usaha Penggemukan Sapi Potong di Kabupaten Agam Propinsi Sumatera Barat. Tesis Magister Sains. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Januarsini, Lely. 2000. Analisis Usahatani Serta Efisiensi Penggunaan Faktor Produksi Tebu. Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor
Jasila, Ismi. 2009. Pengaruh Kredit Ketahanan Pangan Terhadap Efisiensi Usahatani Tebu di Kabupaten Situbondo Propinsi Jawa Timur. Tesis Magister Sains. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Jondrow, J., C. A. K. Lovell, I.S. Materov and P. Schmidt. 1982. On Estimation of Technical Inefficiency in the Stochastic Frontier Production Function Model. Journal of Econometrics, 19 (2-3): 233-238.
Kartikaningsih, Anita. 2009. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Petani Dalam Berusahatani Tebu (Studi Kasus: Petani Tebu di Wilayah Kerja PG Trangkil, Kabupaten Pati). Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Kebede, T.A. 2001. Farm Household Technical Efficiency: A Stochastic Frontier Analysis: A Study of Rice Producers in Mardi Watershed in the Western Development Region of Nepal. Master Thesis. Department of Economic and Social Sciences, Agricultural University of Norway, Norway.
King, R.A. 1980. The Frontier Production Function: A Tool for Improved Decision Making. Journal of North-eastern Agricultural Economic Council, 9: 1-10.
Kopp, R.J. and W.E. Diewert. 1982. The Decomposition of Frontier Cost Function Deviations into Measures of Technical and Allocative Efficiency. Journal of Econometrics, 19 (2-3): 319-331.
Kurniawan, Ahmad Yousuf. 2008. Analisis Efisiensi Ekonomi dan Dayasaing Usahatani Jagung Pada Lahan Kering di Kabupaten Tamah Laut Kalimantan Selatan. Tesis Magister Sains. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Lestari, Sri Suci Purbo. 2008. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi dan Pendapatan Petani Tebu Lahan Kering (Studi Kasus di Kecamatan Trangkil Wilayah Kerja PG Trangkil Kabupaten Pati-Jawa Tengah). Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Mahadevan, R. 2002. A frontier Aprroach to Measuring Total Factor Productivity Growth in Siangapore Service’s Sector. Journal of Economic Studies, 29:48-58.
Malian, A. H., Kurnia Suci dan Indraningsih. 2006. Perspektif Pengembangan Industri Gula Di Indonesia. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Bogor, Bogor.
____________, M. Ariani, K.S. Indraningsih, A.K. Zakaria, A. Askin dan J. Hestina. 2004. Revitalisasi Sistem dan Usaha Agribisnis Gula; Laporan Akhir. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian Bogor, Bogor. Metadata. 2009. Industri Gula dan Pemasarannya di Indonesia. PT. Media Data
Riset, Jakarta.
Minarso, Bambang Rian dan Jabal Tarik Ibrahim. 2010. Penguatan Ketahanan Pangan Melalui Sektor Agroindustri di Jawa Timur. Jurnal Salam, 13 (1): 127-146
Mirzawan, Mohamad Mulyadi, Aris Toharisman. 2009. Identifikasi Potensi Lahan untuk Mendukung Pengembangan Agribisnis Tebu di Wilayah Timur Indonesia. www.sugarresearch.org. Diakses: 12 Juni 2011.
Msuya, Elibariki dan Gasper Ashimogo. 2007. Estimation of Technical Efficiency in Tanzania Sugarcane Production: A Case Study of Mtibwa Sugar Estate Outgrowers Scheme. MPRA Paper No. 3747, 07 November 2007.
Manurung, J.J., A.H. Manurung dan F.D. Saragih. 2005. Ekonometrika: Teori dan Aplikasi. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta
Mariyah. 2008. Pengaruh Bantuan Pinjaman Langsung Masyarakat terhadap Pendapatan Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Padi Sawah di Kabupaten Penajam Paser Utara Kalimantan Timur. Tesis Magister Sains. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Nainggolan, Kaman. 2005. Kebijakan Gula Nasional dan Persaingan Global. Agrimedia, 10: 52-65
Najmudinrohman, Cahya. 2011. Pengaruh Kemitraan Terhadap Pendapatan Usahatani Tebu di Kecamatan Trangkil Pati Jawa Tengah. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Nuryanti, Sri. 2007. Usahatani Tebu Pada Lahan Sawah Dan Tegalan Di Yogyakarta Dan Jawa Tengah. Jurnal Ekonomi Rakyat. Artikel
Pemikiran Mubyarto. Juli: 2007.
http://www.ekonomirakyat.org/edisi_23/artikel_7.htm. Diakses: 14 Oktober 2012.
P3GI. 2008. Konsep Peningkatan Rendemen. www.sugarresearch.org/wp- content/.../konsep-peningkatan-rendemen.pdf. Diakses: 14 Agustus 2011.
Pusat Data dan Informasi Pertanian. 2010. Outlok Komoditas Perkebunan 2010. Kementerian Pertanian, Jakarta.
Unggul, Priyadi. 2009. Peranan Inovasi Kelembagaan Pabrik Gula Madukismo Terhadap Pelaksanaan Usahatani Tebu di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.www.journal.uii.ac.id. Diakses: 14 Agustus 2011.
PTPN VII. 2010. Profil Perusahaan PTPN VII Unit Usaha Bungamayang. PT Perkebunan Nusantara VII, Lampung.
Raswati. 1997. Analisis Pendapatan dan Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani Tebu Lahan Sawah. Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Retna, Dewi. 1999. Model-Model Kemitraan Dalam pengambangan Hutan Rakyat. Buletin Teknik Pengolahan DAS V. Balai Teknologi Pengolahan Daerah Aliran Sungai. Surakarta, 1-4.
Saptana, Supena dan Tribastuti Purwantini. 2004. Efisiensi dan Dayasaing Usahtani Tebu dan Tembakau di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Bogor, Bogor.
Simatupang. 1996. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Total Faktor Produksi Usahatani Padi Sawah di Indonesia. Makalah Seminar Nasional Peningkatan Produktivitas Pertanian, Jakarta: 6-7 Agustus 1996.
Setiadji, Inung Widi. 1997. Analisis Pendapatan Usahatani Tebu Lahan Kering serta Analisis Nilai Tambah dan Titik Impas Pabrik Gula (Kasus PG Modjopanggoong, Kab. Tulungagung, Jawa Timur). Skripsi. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sugianto, T. 1982. The Relative Economic Efficiency of Irrigate Rice Farm, West Java, Indonesia. Ph. D Thesis. Department of Agricultural Economics, University of Illionis, Urbana.
Suratiyah, Ken. 2008. Analisis Usahatani. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Susila, W.R. dan B.M. Sinaga. 2005 (a). Analisis kebijakan industri gula Indonesia. Jurnal Agro Ekonomi, 23(1): 30−5γ.
___________________________________(b). Pengembangan Industri Gula Indonesia yang Kompetitif Pada Situasi Persaiangan yang Adil. Jurnal Litbang Pertanian, 24(1).
Soekartawi. 2003. Teori Ekonomi Produksi. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. _________. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian (Teori dan Aplikasi). Edisi
Kedua. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Soekartawi, Soeharjo A, Dillon J, Hardaker J. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil (Terjemahan). UI Press, Jakarta.
Sriati, Yulian Junaidi dan Lisa Asri Gusnita. 2008. Pola Kemitraan antara Petani Tebu Rakyat Dengan PTPN VII Unit Usaha Bunga Mayang Dalam Usahatani Tebu; Kasus di Desa Karang Rejo Kecamatan Sungkai Selatan, Lampung Utara. Socio-Economic of Agriculture and Agribusiness Journal, 8 (2).
Taylor, T.G., H.E. Drummond and A.T. Gomes. 1986. Agricultural Credit Program and Production Efficiency: An Analysis of Traditional Farming in South-eastern Minas Gerais, Brazil. American Journal of Agricultural Economics, 68 (1): 100-117.
Tjakarawiralaksana, Abas. 1985. Usahatani. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta
Wahida. 2005. Estimasi Tingkat Efisiensi Teknis Usahatani Padi dan Palawija Sungai Brantas: Aplikasi Pendekatan Stochastic Production Frontier. Tesis Magister Sains. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Zhang, Yu, Jian Hing Ni, dan Sizhu Zhang. 2011. Sustainable Energy Crop Production in Yunan China. Paper Presented at the 55th Annual Australian Agricultural and Resource Economic Society National Conference , Melbourne: 8-12 February 2011.
Lampiran 1. Analisis Usahatani Petani TRK dan Petani TRB Pola Tanam Non- Keprasan dan Keprasan
a. Analisis Finansial Usahatani Petani TRK Pola Tanam Non-Keprasan
Uraian Nilai Rata-
Rata/Hektar Nilai (Rp)
Total (Rp/Ha)
A Penerimaan
Pendapatan Gula 2 810 8 106 22 776 911
Pendapatan Sisa Rendemen 334 8 106 2 709 148
Pendapatan Natura 281 10 500 2 950 541 Pendapatan Tetes 1 558 1 617 2 519 311 Total Penerimaan 30 955 910 B Biaya B1 Biaya Diperhitungkan Bibit 14.61 75 000 273 912 Pupuk Urea 253.51 1 800 456 321 Pupuk TSP 239.63 4 600 1 102 292 Pupuk KCL 251.61 5 200 1 308 372 Pestisida Padat 1.90 90 000 171 235 Pestisida Cair 3.03 80 000 242 268 Tenaga Kerja 232.13 45 000 10 445 979
Biaya Angkutan Tebu 65.48 28 000 1 833 448
Total Biaya Diperhitungkan 15 833 825
B2 Biaya Tidak Diperhitungkan
Bibit
Tenaga Kerja Dalam Keluarga 53.88 45 000 2 424 759
Penyusutan 242 343
Bunga Modal 191 689
PBB 53 347
Total Biaya Tidak Diperhitungkan 2 912 138
C Total Biaya Usahatani (B1+B2) 18 745 963
D Pendapatan Atas Biaya Tunai (A-B1) 15 122 085
E Pendapatan Tunai (A-C) 12 209 947
F R/C atas Biaya Tunai (A/B1) 1.96
b. Analisis Finansial Usahatani Petani TRK Pola Tanam Keprasan
Uraian Nilai Rata-
Rata/Hektar Nilai (Rp)
Total (Rp/Ha)
A Penerimaan
Pendapatan Gula 3 036 8 106 24 605 636
Pendapatan Sisa Rendemen 361 8 106 2 926 662
Pendapatan Natura 304 10 500 3 187 435 Pendapatan Tetes 1 683 1 617 2 721 583 Total Penerimaan 33 441 315 B Biaya B1 Biaya Diperhitungkan Bibit Pupuk Urea 281.77 1 800 507 192 Pupuk TSP 265.48 4 600 1 221 195 Pupuk KCL 228.70 5 200 1 189 236 Pestisida Padat 1.81 90 000 163 057 Pestisida Cair 2.39 80 000 191 527 Tenaga Kerja 230.83 45 000 10 387 178
Biaya Angkutan Tebu 68.70 28 000 1 923 623
Total Biaya Diperhitungkan 15 583 008
B2 Biaya Tidak Diperhitungkan
Bibit 14.61 75 000 273 912
Tenaga Kerja Dalam Keluarga 32.88 45 000 1 479 386
Penyusutan 278 836
Bunga Modal 142 395
PBB 45 000
Total Biaya Tidak Diperhitungkan 2 219 529
C Total Biaya Usahatani (B1+B2) 17 802 536
D Pendapatan Atas Biaya Tunai (A-B1) 17 858 308
E Pendapatan Tunai (A-C) 15 638 779
F R/C atas Biaya Tunai (A/B1) 2.15
c. Analisis Finansial Usahatani Petani TRB Pola Tanam Non-Keprasan
Uraian Nilai Rata-
Rata/Hektar Nilai (Rp)
Total (Rp/Ha)
A Penerimaan
Pendapatan Gula 3 048 7 850 23 923 956
Pendapatan Sisa Rendemen
Pendapatan Natura Pendapatan Tetes Total Penerimaan 23 923 956 B Biaya B1 Biaya Diperhitungkan Bibit 13.97 75 000 261 917 Pupuk Urea 289.92 1 800 521 848 Pupuk TSP 242.93 4 600 1 117 460 Pupuk KCL 200.94 5 200 1 044 911 Pestisida Padat 2.06 90 000 185 490 Pestisida Cair 3.41 80 000 272 790 Tenaga Kerja 221.95 45 000 9 987 914
Biaya Angkutan Tebu 66.37 32 000 2 123 913
Total Biaya Diperhitungkan 15 516 243
B2 Biaya Tidak Diperhitungkan
Bibit
Tenaga Kerja Dalam Keluarga 38.87 45 000 1 749 244
Penyusutan 265 999
Bunga Modal
PBB 85 750
Total Biaya Tidak Diperhitungkan 2 100 993
C Total Biaya Usahatani (B1+B2) 17 617 236
D Pendapatan Atas Biaya Tunai (A-B1) 8 407 712
E Pendapatan Tunai (A-C) 6 306 719
F R/C atas Biaya Tunai (A/B1) 1.54
d. Analisis Finansial Usahatani Petani TRB Pola Tanam Keprasan
Uraian Nilai Rata-
Rata/Hektar Nilai (Rp)
Total (Rp/Ha)
A Penerimaan
Pendapatan Gula 3 563 7 850 27 971 889
Pendapatan Sisa Rendemen
Pendapatan Natura Pendapatan Tetes Total Penerimaan 27 971 889 B Biaya B1 Biaya Diperhitungkan Bibit Pupuk Urea 251.14 1 800 452 047 Pupuk TSP 229.41 4 600 1 055 291 Pupuk KCL 208.97 5 200 1 086 665 Pestisida Padat 1.75 90 000 157 811 Pestisida Cair 3.38 80 000 270 443 Tenaga Kerja 230.64 45 000 10 378 884
Biaya Angkutan Tebu 70.31 32 000 2 249 761
Total Biaya Diperhitungkan 15 650 903
B2 Biaya Tidak Diperhitungkan
Bibit 13.97 75 000 261 917
Tenaga Kerja Dalam Keluarga 22.20 45 000 998 955
Penyusutan 314 967
Bunga Modal
PBB 109 145
Total Biaya Tidak Diperhitungkan 1 684 984
C Total Biaya Usahatani (B1+B2) 17 335 887
D Pendapatan Atas Biaya Tunai (A-B1) 12 320 985
E Pendapatan Tunai (A-C) 10 636 002
F R/C atas Biaya Tunai (A/B1) 1.79
Lampiran 2. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Pola Tanam Non-Keprasan dan Non- Keprasan Tanpa Benih
Lampiran 4. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Non-Keprasan Tanpa Variabel Benih Terestriksi dan Uji Asumsi Constan Return to Scale (CRTS)
Lampiran 5. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Keprasan Terestriksi dan Uji Asumsi Constan Return to Scale (CRTS)
Lampiran 6. Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Non-Keprasan Rata-Rata OLS dan Fungsi Produksi Stochatic Frontier (MLE) dengan Menggunakan Frontier 4.1
Output from the program FRONTIER (Version 4.1c)
instruction file = terminal data file = be15.dat
Tech. Eff. Effects Frontier (see B&C 1993) The model is a production function
The dependent variable is logged
the ols estimates are :
coefficient standard-error t-ratio beta 0 0.11252995E+01 0.45525965E+00 0.24717753E+01 beta 1 0.35801985E+00 0.62839249E-01 0.56973921E+01 beta 2 0.17066722E+00 0.62044179E-01 0.27507370E+01 beta 3 0.88291286E-01 0.32751634E-01 0.26957826E+01 beta 4 0.57930408E-01 0.52893249E-01 0.10952326E+01 beta 5 0.81955598E-01 0.27501447E-01 0.29800468E+01 beta 6 0.55030893E-01 0.33458775E-01 0.16447372E+01 beta 7 0.22044641E+00 0.53584246E-01 0.41140153E+01 sigma-squared 0.64109082E-02
log likelihood function = 0.32469247E+02 the final mle estimates are :
coefficient standard-error t-ratio
beta 0 0.14097773E+01 0.30680189E+00 0.45950737E+01 beta 1 0.31629331E+00 0.41418724E-01 0.76364813E+01 beta 2 0.12018843E+00 0.67319652E-01 0.17853394E+01 beta 3 0.98925822E-01 0.23222186E-01 0.42599703E+01 beta 4 0.65947801E-01 0.47016820E-01 0.14026427E+01 beta 5 0.87404078E-01 0.22164403E-01 0.39434439E+01 beta 6 0.31215185E-01 0.23485986E-01 0.13290983E+01 beta 7 0.22940619E+00 0.36121597E-01 0.63509427E+01 delta 0 0.48788702E+00 0.14530846E+00 0.33575955E+01 delta 1 -0.98870962E-02 0.83150749E-02 -0.11890568E+01 delta 2 -0.13165693E-01 0.48278186E-02 -0.27270479E+01 delta 3 -0.37680971E-01 0.57335699E-01 -0.65719913E+00 delta 4 -0.66672765E-01 0.39202617E-01 -0.17007223E+01
sigma-squared 0.40897887E-02 0.93164326E-03 0.43898656E+01
gamma 0.83453316E+00 0.32665362E+00 0.25547954E+01
LR test of the one-sided error = 0.11925025E+02 with number of restrictions = 6
[note that this statistic has a mixed chi-square distribution] number of iterations = 26
(maximum number of iterations set at : 100) number of cross-sections = 25
number of time periods = 1 total number of observations = 25 thus there are: 0 obsns not in the panel technical efficiency estimates :
firm year eff.-est. 1 1 0.88104102E+00 2 1 0.81859483E+00 3 1 0.96899398E+00 4 1 0.89017796E+00 5 1 0.78379373E+00 6 1 0.89630389E+00 7 1 0.84709514E+00 8 1 0.82252780E+00 9 1 0.95047798E+00 10 1 0.90371437E+00 11 1 0.87802376E+00 12 1 0.94581829E+00 13 1 0.87916838E+00 14 1 0.77761114E+00 15 1 0.80315776E+00 16 1 0.97890377E+00 17 1 0.97280257E+00 18 1 0.87511129E+00 19 1 0.89342480E+00 20 1 0.97015727E+00 21 1 0.81707346E+00 22 1 0.83677116E+00 23 1 0.95360738E+00 24 1 0.98605718E+00 25 1 0.99423542E+00
Lampiran 7. Hasil Analisis Pendugaan Fungsi Produksi Keprasan Rata-Rata OLS dan Fungsi Produksi Stochatic Frontier (MLE) dengan Menggunakan Frontier 4.1
Output from the program FRONTIER (Version 4.1c)
instruction file = terminal data file = dkk.dat
Tech. Eff. Effects Frontier (see B&C 1993) The model is a production function
The dependent variable is logged
the ols estimates are :
coefficient standard-error t-ratio
beta 0 0.15440051E+01 0.46793448E+00 0.32996181E+01
beta 1 0.42613847E+00 0.91171269E-01 0.46740435E+01
beta 2 0.11360838E+00 0.76558514E-01 0.14839418E+01
beta 3 0.15052761E+00 0.61566694E-01 0.24449520E+01
beta 4 0.10703631E+00 0.45933411E-01 0.23302495E+01
beta 5 0.11056273E+00 0.55037942E-01 0.20088457E+01
beta 6 0.84397240E-01 0.33713600E-01 0.25033589E+01
beta 7 0.89084102E-01 0.84543338E-01 0.10537093E+01
sigma-squared 0.15472786E-01
log likelihood function = 0.37628723E+02 the final mle estimates are :
coefficient standard-error t-ratio
beta 0 0.20394995E+01 0.30421241E+00 0.67041959E+01
beta 1 0.55093465E+00 0.60785878E-01 0.90635303E+01
beta 2 0.12016586E+00 0.60369790E-01 0.19904966E+01
beta 3 0.96342695E-01 0.42833794E-01 0.22492216E+01
beta 4 0.74462100E-01 0.35451134E-01 0.21004152E+01
beta 5 0.18974768E-01 0.47702811E-01 0.39777043E+00
beta 6 0.77273864E-01 0.27200450E-01 0.28409038E+01
beta 7 0.10364420E+00 0.58234502E-01 0.17797731E+01
delta 0 0.14128724E+01 0.42741785E+00 0.33055998E+01
delta 1 -0.11105117E+00 0.32442649E-01 -0.34229995E+01 delta 2 -0.47779960E-01 0.36128036E-01 -0.13225175E+01 delta 3 -0.63273331E-01 0.12069558E+00 -0.52423902E+00 delta 4 -0.70554883E-01 0.36684484E-01 -0.19232895E+01 sigma-squared 0.27689456E-01 0.76227733E-02 0.36324649E+01
gamma 0.82420335E+00 0.12448732E+00 0.66207817E+01
LR test of the one-sided error = 0.26142622E+02 with number of restrictions = 6
[note that this statistic has a mixed chi-square distribution] number of iterations = 25
(maximum number of iterations set at : 100) number of cross-sections = 50
number of time periods = 1 total number of observations = 50 thus there are: 0 obsns not in the panel technical efficiency estimates :
firm year eff.-est.
1 1 0.96152540E+00 2 1 0.98633879E+00 3 1 0.94394561E+00 4 1 0.94757844E+00 5 1 0.91603614E+00 6 1 0.95048974E+00 7 1 0.89708886E+00 8 1 0.89959506E+00 9 1 0.97002195E+00 10 1 0.98081918E+00 11 1 0.79257478E+00 12 1 0.97610233E+00 13 1 0.91502807E+00 14 1 0.98113340E+00 15 1 0.98390955E+00 16 1 0.90351562E+00 17 1 0.95737161E+00 18 1 0.97412812E+00 19 1 0.94630991E+00 20 1 0.93752719E+00 21 1 0.92265887E+00 22 1 0.93182673E+00 23 1 0.89752538E+00 24 1 0.95986865E+00 25 1 0.91631662E+00 26 1 0.96834327E+00 27 1 0.92507060E+00 28 1 0.91236473E+00 29 1 0.96317185E+00 30 1 0.84674076E+00 31 1 0.97126014E+00 32 1 0.94502985E+00
33 1 0.55797520E+00 34 1 0.95466887E+00 35 1 0.94742628E+00 36 1 0.96640407E+00 37 1 0.96959190E+00 38 1 0.97736977E+00 39 1 0.96842303E+00 40 1 0.97630763E+00 41 1 0.97941484E+00 42 1 0.73179721E+00 43 1 0.97320053E+00 44 1 0.98113669E+00 45 1 0.96248794E+00 46 1 0.98110321E+00 47 1 0.93762116E+00 48 1 0.80761845E+00 49 1 0.98026332E+00 50 1 0.95761285E+00
ABSTRACT
KHOIRUL AZIZ HUSYAIRI. The Efficiency Analysis of Sugar Cane Production in the Working Area of PTPN VII Bungamayang Business Unit North Lampung District Lampung Province. Under direction of RATNA WINANDI and WILSON HALOMOAN LIMBONG.
The objectives of this study are: (1) to analyze smallholder sugarcane farm system (plant-cane and ratoon cropping patterns) in partnerships that Tebu Rakyat Kredit (TRK-Credit Sugarcane Smallholder partnership) and Tebu Rakyat Bebas (TRB-Independent Sugarcane Smallholder partnership) in the working area of PTPN VII Bungamayang Business Unit and influence partnerships on sugarcane farmers' income levels of sugarcane smallholder, (2) to analyze production efficiency rate on sugarcane smallholders in the working area of PTPN VII Bungamayang Business Unit and influence of partnership on production efficiency on sugarcane smallholders. The results of farm income analysis indicate that smallholder sugarcane farm in the study area on plant-cane and ratoon cropping pattern financially feasible. Farmers' income on ratoon greater than plant-cane cropping pattern and farmers' income on TRK partnership greater than TRB. The estimation results of smallholder sugarcane farms using a frontier production function shows that land, fertilizer (Urea, TSP, KCL), pesticide (solid and liquid) and labour variable have positive significant effect in plant-cane cropping pattern. While land, fertilizer (Urea, TSP, KCL), pesticide (liquid) and labour variable have positive significant effect on ratoon cropping patterns. The technical inefficiency of farmers on plant-cane and ratoon cropping pattern is influenced by education, experience and farm size. Farm size has greatest influence to reducing technical inefficiencies. The partnership has positive influence because it makes farmers efficient technically on plant-cane and ratoon cropping patterns. The farmers have been able to reach allocative and economic efficiency on ratoon but have not on plant-cane cropping patterns. Based on partnership TRB farmers more efficient in technical, allocative and economic efficiency than TRK.
Key words: sugar cane, partnership, production function, stochastic frontier, efficiency
RINGKASAN
KHOIRUL AZIZ HUSYAIRI. Analisis Efisiensi Produksi Tebu Rakyat di Wilayah Kerja PTPN VII Unit Usaha Bungamayang Kabupaten Lampung Utara Propinsi Lampung. Dibimbing RATNA WINANDI dan WILSON HALOMOAN LIMBONG.
Gula merupakan salah satu komoditas yang sangat penting dalam perekonomian. Selain sebagai sumber mata pencaharian bagi petani dan pekerja, gula juga merupakan bahan utama bagi industri makanan dan minuman. Konsumsi gula diperkirana akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya populasi penduduk. Peningkatan konsumsi gula ternyata tidak dimbangi dengan produksinya. Rata-rata produksi gula nasional masih sangat rendah sehingga terjadi defisit dalam pemenuhan kebutuhan gula nasional. Defisit pemenuhan gula selama ini adalah dengan melakukan impor yang pada gilirannya menimbukan ketergantungan. Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan produksi gula nasional untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap gula impor.
Upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produksi gula nasional adalah peningkatan produksi tebu rakyat karena produksi gula nasional sebagian besar dihasilkan dari tebu perkebunan rakyat. Selain itu peningkatan produksi tebu rakyat juga penting mengingat produksi maupun produktivitas tebu rakyat yang cenderung masih rendah saat ini. Rendahnya produktivitas juga mencerminkan rendahnya tingkat efisiensi yang berpangkal pada tidak optimalnya budidaya dalam aktivitas usahatani. Peningkatan produktivitas ini penting mengingat produktivitas yang rendah pada giliraanya akan berpengaruh pada pendapatan petani. Pendapatan yang rendah menyebabkan modal yang dimiliki petani terbatas. Biaya usahatani yang meningkat sering menyebabkan petani tidak mampu melakukan tahapan budidaya dan produksi serta penggunaan teknologi sebagaimana mestinya. Salah satu satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah mengembangkan kemitraan antara petani dengan pabrik gula. Dengan adanya kemitraan, petani mendapatkan permodalan sehingga dapat menggunakan input yang proporsional dan tepat. Selain itu, kemitraan memungkinkan petani mendapatkan bimbingan dari pabrik sehingga dapat menjalankan usahataninya dengan lebih baik dan efisien. Salah satu kemitraan antara petani dengan pabrik gula adalah kemitran antara petani tebu rakyat di Lampung Utara dengan PTPN VII Unit Usaha Bungamayang.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis sistem usahatani tebu rakyat (pola non-keprasan dan keprasan) pada kemitraan Tebu Rakyat Kredit (TRK) dan Tebu Rakyat Bebas (TRB) dan pengaruh kemitraan terhadap pendapatan usahatani tebu rakyat di wilayah kerja PTPN VII Unit Usaha Bungamayang. (2) Menganalisis tingkat efisiensi dan faktor yang mempengaruhi inefisiensi produksi usahatani tebu rakyat dan pengaruh pola kemitraan di wilayah kerja PTPN VII Unit Usaha Bungamayang.