BAB V PENUTUP
B. Saran
Dalam penelitian ini diharapkan dapat berguna dalam pengembangan ilmu sastra khususnya kajian tentang ekspresi emosional tokoh dalam suatu novel dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra. Penelitian ini dapat dijadikan
68
sebagai bahan perbandingan pada penelitian selanjutnya di mana perkembangan karya sastra saat ini sangat pesat apalagi jika ditinjau dari segi psikologisnya.
DAFTARPUSTAKA
Aminuddin. 2013. Pengantar Apresiasi Karya Sastra . Bandung: Sinar Baru Algesindo
Azis, Siti Aida. 2012. Apresiasi dan Kajian Prosa Fiksi. Surabaya: BINTANG Surabaya (CV BINTANG).
Daruma, Razak. 2004. Perkembangan Peserta Didik. Makassar: FIP-UNM Depdikbud. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai
Pustaka
Dola, Abdullah, 2006. Apresiasi Prosa Fiksi dan Drama. Diktat, Makassar: FBS UNM
Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: CAPS (Center for Academic Publishing Service)
Fida, Naza. 2012. Tokoh dan Penokohan Drama, (Online), (Http://Fidanaza.blogspot.com/2012/05/Tokoh-dan-Penokohan-Drama.
html, diakses 18 april 2014)
Haryanto. 2010. Memahami Makna Cinta, (Online). Vol. 2,
(http://belajarpsikologi.com/memahami-makna-cinta.html), diakses 18 april 2014
Kasim, Ikhwani. 2012. Analisis Struktur Emosi Dalam Cerpen Jangan Main-main Dengan Kelaminmu Karya Djenar Maesa Ayu. Skripsi: Makassar.FBS UNM
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Pradopo, Rahmat Djoko. 1994. Prinspi-prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Rahmanto, Bernardus. 1988. Metode Pengajaran Sastra.Yogyakarta: Kanisius Rahmawati. 2008. Ekspresi Emosional Tokoh dalam Novel Cinta tak Berkelamin
karya Andi Stevenio. Skripsi: Makassar.FBS UNM
Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rimang, Sitti Suwadah. 2011. Kajian Sastra dan Teori Prakti. Yogyakarta: Aura Pustaka
Sarwono, Sarlito W. 2013. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
70
Semi, Atar. 1989. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa
Sugihastuti dan Suharto, 2002. Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Sujanto, Agus. 2006. Psikologi Umum. Jakarta: Bumi Aksara
Sukada, Made. 1993. Pembinaan Kritik Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa Tarigan, Henry Guntur. 1993. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa Tasaro. 2009. Takhta Nirwana. Bandung : Qanita
Wahid, Sugira. 2004. Kapita Selekta Kritik Sastra. Makassar: UNM Wetrimudrison, 2005. Seni Pengendalian Marah dan Menghadapi orang
pemarah. Bandung: Alfabeta
Zainuddin. 1992. Materi Pokok Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
72 Lampiran 1
KORPUS DATA
B. Ekspresi Emosional Tokoh dalam Novel Takhta Nirwana Karya Tasaro 1. Marah
Napas Sannaha memburu, menahan amarah yang menggebu. Amarahnya semakin menjadi ketika rasa penasarannya diabaikan begitu saja oleh Geng Jedhag.
(Tasaro, 2008: 40)
“Setan kecil!” Tampak kemarahan menguras emosi Yaksapurusa melihat adegan di depan matanya.
(Tasaro, 2008: 45) Mata Sannaha membelalak. Kemarahan tergambar pada garis wajah dan alisnya menaik. “Berani sekali kau mempermainkan aku, Nenek tua!”
(Tasaro, 2008: 55) Gadis itu, dengan sinar kemarahan masih mencolok di kedua matanya, mau tak mau mengikuti langkah Purandara meskipun hatinya dijubeli sumpah serapah.
(Tasaro, 2008: 109-110) Gadis itu membungkuk dalam gerakan yang sigap, bersamaan dengan melayangnya telapak kirinya menghajar wajah Purandara. Bunyi tamparan yang cukup menghenyakkan.
(Tasaro, 2008: 119)
Kepala gadis mungil itu tersentak. Kepalanya perlahan terangkat hingga tegak dan matanya menyorot kearah Purandara. Sinar putus asa segera berubah menjadi kemurkaan. “Kau! Apakah kau akan diam saja jika ayahmu direndahkan di depan matamu?”
(Tasaro, 2008: 125) Ini sudah cukup untuk membuat darah barbar Purandara bergejolak.
Keinginan untuk membunuh muncul kembali lewat gelombang kemarahan yang tak tertahankan.
(Tasaro, 2008: 178)
“Terkutuk kau elang merah!” Janyamaksa merasa jantungnya berhenti berdetak. Dia tahu, beberapa detik kedepan, kemungkinan besar istrinya tak akan selamat.
(Tasaro, 2008: 225)
“Kau mengancamku?” nada suara Purandara meninggi. Dia serta merta membanting sabut kelapa yang digunakan untuk membersihkan badan kuda tunggannya. Purandara lantas menghampiri Sopa yang masih berdiri kaku,
“Katakan lebih jelas, Sopa. Apa kau mengancamku?”
(Tasaro, 2008: 272) Sannaha kecil rupanya tidak lagi sanggup menahan emosinya. Kepalan tangan-nya bergerak cepat menghajar pipi lawan adu mulutnya dengan telak. biasa di wajah Phawaci,” Anak itu benar-benar tak mau mendengarku!”
(Tasaro, 2008: 337) 2. Takut dan Khawatir
Sannaha meneliti tubuhnya, seolah-olah khawatir jika ada organ tubuhnya direnggut oleh mimpi buruknya tadi.
(Tasaro, 2008: 9) Jantung Sannaha berdetak dua kali lebih kencang dari biasa dan jauh dari keteraturan. Yaksapurusa seorang Thabhug, dan sekarang aku berada diantara orang-orang Thabhug?!
(Tasaro, 2008: 37) Berkali-kali kepalanya menoleh kebelakang penuh khawatir. Melihat kesungguhan gadis itu meskipun masih tak bisa mengusir keraguan di benaknya.
(Tasaro, 2008: 94 -95) Sopa berdiri kaku dengan jantung memacu berlipat lebih cepat dibanding biasanya. “Mati aku…, mati aku… Bagaimana jika orang-orang Yaksapurusa mendengar apa yang kukatakan.”
(Tasaro, 2008: 170)
“Dibandingkan aku ketika seusia dia, Pitaloka jauh lebih dewasa sekaligus jauh lebih sulit diatur. Aku khawatir Chandrabhaga benar-benar telah melakukan sesuatu terhadap cara dia berpikir.
(Tasaro, 2008: 189)
Mukanya terlihat pucat dan ketakutan. Dia memegang pedang pendek.
Namun, apa yang terkesan di wajahnya menunjukkan bahwa dia sama sekali tak siap untuk menggunakannya.
(Tasaro, 2008: 208) Lara Lisning kemudian meyakini bahwa Sannaha sedang menyimpan sebuah rencana besar. Entah apa, tapi itu sudah cukup membuat Lara Lisning sangat khawatir. Apapun yang direncanakan Sannaha, sang permaisuri meyakini adanya risiko yang luar biasa besar mengiringnya.
(Tasaro, 2008: 256) Bunisora mulai gelisah. Dia semakin tak bisa menduga kemana arah taktik Sannaha, sama sekali tidak terbaca. Bagaimana jika benar raja Wilwatika memilih Pitaloka? Takhta Sunda akan direbut Bayutala. Ini tidak boleh terjadi. Apakah Pitaloka telah kehilangan akalnya?
(Tasaro, 2008: 263) Di benak Candrabhaga memang muncul kekhawatiran-kekhawatiran ketika dia menyaksikan sifat keras gadis kecil asuhannya itu telah banyak melumat sisi kelembutannya.
(Tasaro, 2008: 303) Kenyataan bahwa Sannaha dan Harakalpa begitu sering berselisih sebenarnya mendatangkan kepedihan dan kekhawatiran di hati Candrabhaga.
(Tasaro, 2008: 308)
3. Gembira, Tertawa, dan Tersenyum
Yaksapurusa memelototkan dua matanya sambil tertawa gila,
“Kepongahanmu begitu legendaris, Putri. Sekarang aku baru merasakannya!”
(Tasaro, 2008: 42) Phawaci menolehkan kepalanya kearah puncak menara sembari tersenyum anggun, “Ibu ratu tengah bermeditasi. Beliau begitu tekun. Apakah Putri yakin tidak akan mengganggunya nanti? Apakah tidak lebih baik jika Putri memenuhi undangan bibi?”
(Tasaro, 2008: 193)
Raja mengangguk-angguk sembari tersenyum berat, “Engkau siap memberikan dirimu, Pitaloka. Aku lega dan bangga mendengarnya.” Satu tarikan napas.
(Tasaro, 2008: 240)
Bunga warna warni dan kicau burung bersuara riuh dan merdu menyambut langkah Sannaha yang tampak sedang diliputi kegembiraan.
(Tasaro, 2008: 259) Kedua mata Phawaci tampak berbinar-binar. Bibirnya melintangkan senyum agung,”tentu saja, Putri. Kapan saja Putri menginginkannya.”
(Tasaro, 2008: 263) Lara Lisning mengangguk anggun sambil tanpa melepas senyum agungnya.
Dia lantas berjalan dengan langkah tertata menuju kursi yang diset rapi ditengah pendopo.
(Tasaro, 2008: 316) Sannaha menoleh sambil mengembangkan senyumnya, “Ini hanya awal, Paman. Aku masih memiliki kejutan-kejutan lain. Paman akan mengetahuinya nanti. Sekembali kita dari barat, aka nada perubahan besar di Kawali.”
(Tasaro, 2008: 360) 4. Kecewa
Kata-kata Purandara barusan disadarinya telah membuat luka menganga di batin Sannaha. Tanpa mampu dikendalikan, Sannaha merasa ada rasa kecewa yang merembet dengan cepat, memeras emosi di dadanya.
(Tasaro, 2008: 120) Sannaha berbalik kilat, “Apa pedulimu?! Kau sama sekali tidak mempedulikan seorang pun kecuali dirimu sendiri!” Sannaha tampak benar telah mencapai titk emosi tertingginya. Matanya memerah dan berair.
Tubunhya bergetar, garis wajahnya mempertontonkan kekecewaan yang luar biasa.
(Tasaro, 2008: 254)
5. Sedih dan Menangis
Sannaha membiarkan benaknya menayangkan kenangan kuat antara dia dan gurunya meskipun itu memunculkan rasa perih yang sangat menyiksa.
(Tasaro, 2008: 231)
Kancana terpaku di tempatnya berdiri. Matanya seperti ditaburi kaca-kaca.
Namun, tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya ketika Sannaha terus melangkah menuju pintu.
(Tasaro, 2008: 254) Sekarang, tiba-tiba saja Sannaha memberikan kejutan dengan bersikap di luar kebiasaan. Dia bahkan menangis setelah sedikit menyingkap arti penting Candrabhaga bagi hidupnya. Sedikit saja, dan itu berakhir dengan tangis tertahan. Benar-benar di luar kebiasaan!
(Tasaro, 2008: 309) Sannaha merasa ada yang mengentak dadanya. Kepalanya berdenyar mendengar kalimat Purandara. Jantungnya memburu. Matanya seperti ditaburi kaca. “Aku bisa menjaga diri. Kumohon…pergilah.”
(Tasaro, 2008: 322)
6. Benci
Lelaki tua ramah itu seperti kehilangan akalnya. Matanya memerah penuh kebencian. Dua pangkal alisnya merapat seperti hendak bersentuhan. Dia sedang menahan amarah yang luar biasa.
(Tasaro, 2008: 207) 7. Cinta
Kaki-kaki kuda tunggangan Purandara berderap cepat. Namun, masih kalah cepat dibanding angan Purandara yang meluncur tanpa kendali. Dia mulai berani mengangankan sesuatu yang tadinya tak terpikirkan sama sekali. Apa jadinya jika Putri Mahkota kerajaan Sunda bersanding dengan kepala perampok? Bukankah ini akan sangat menarik? Prandara menyeringai, dari caranya menatapku, aku tahu dia menyukaiku. Aku yakin dia menginginkanku.
(Tasaro, 2008: 205) Candrabhaga menyayanginya dengan perasaan yang khas. Tapi, tidak kemudian mengalahkan kecintaannya kepada Harakalpa. Namun, caranya menyayangi Sannaha memang khas, tidak bisa diterangkan dengan kalimat sederhana.
(Tasaro, 2008: 308)
77 Lampiran 2
SINOPSIS
Novel Takhta Nirwana Karya Tasaro
Novel takhta nirwana menceritakan tentang kisah seorang Putri kerajaan Sunda bernama Sannaha (Pitaloka) yang melarikan diri dari kerajaan istana kerajaannya demi membalaskan dendam gurunya yang telah dibunuh secara sadis.
Dalam perjalanan mencari sang pembunuh gurunya, Sannaha melewati banyak rintangan yang hampir saja meregang nyawa.
Ditengah perjalanan, Sannaha bertemu dengan seorang pemuda yang terkenal sebagai seorang pembunuh berdarah dingin bernama Purandara. Tanpa ia ketahui bahwa Purandara adalah anak dari seorang yang sudah membunuh guru Sannaha. Purandara pun pada saat itu hanya berniat menolong Sannaha.
Sekembalinya Sannaha dengan selamat ke kerajaan Sunda, tanpa pernah bertemu dengan sang pembunuh gurunya, masalah kembali muncul. Sannaha baru mengetahui bahwa ayahnya pun ternyata sangat tidak menyukai guru Sannaha, bahkan merencanakan sesuatu ketika Sannaha di utus oleh ayahnya untuk belajar di padepokan sang guru. (Chandrabhaga).
Dibalik itu semua, Sannaha berusaha mempertahankan kerajaan yang dipimpin oleh ayahnya agar tidak dikuasai oleh selir terkasih dan anaknya. Sebab Sannaha tahu akan ada hal yang buruk jika semua itu terjadi. Demi
mempertahankan kerajaannya, Sannaha menyusun sebuah rencana yang bahkan berisiko bagi dirinya sendiri.
Purandara yang terlanjur mencintai Sannah selalu ada disaat Sannaha sedang mengalami kesulitan, tetapi pada saat mengetahui bahwa Purandara adalah anak dari pembunuh sang guru, hatinya semakin bergejolak. Meskipun begitu, batinnya mulai merasa bahwa Purandara tidak ada kaitannya dengan perbuatan ayahnya. Sannaha hanya bertujuan membalas dendam akan kematian sang guru dan demi mempertahankan kerajaannya.
31 Lampiran 3
BIOGRAFI PENGARANG Novel Takhta Nirwana Karya Tasaro
Tasaro adalah nama pena Taufiq Saptoto Rohadi yang lahir di Gunung Kidul, 1 September 1980, putra Bapak Muryadi dan Ibu Umi Daridjah. Tasaro menjalani pendidikan dasarnya di SDN Trowono I, lulus pada 1992, kemudian melanjutkan ke SMPN 4 Yogyakarta, lulus pada 1995, dan menamatkan sekolah menengah atasnya di SMA Mataram Yogyakarta pada 1998.
Tasaro tak pernah merasakan bangku perkuliahan pada jurusan Jurnalistik, PPKP Universitas Negeri Yogyakarta (lulus 2000), dan pada Jurusan Syariah, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Hidayah, Bogor (keluar 2003 karena pindah lokasi kerja).
Mantan wartawan ini mengalihkan 100 persen energy jurnalistiknya ke dalam media buku. Dia coba-coba menulis novel. Naskah yang telah ditulisnya yaitu, Wandu (juara 1 lomba novel nasional FLP Award 2005); Di serambi Makkah (buku terbaik Adikarya IKAPI 2006); Oh, Acgilles! (buku terbaik
Adikarya IKAPI 2007).
Sesekali, kekangenannya pada jurnalistik dia lepaskan lewat keisengan menulis artikel, antara lain Kontes Kecantikan: Legalisasi Ke pura-puraan, meraih Penghargaan Penulis Menpora RI 2006. Karena belum mampu menulis cerpen, fiksi paling pendek yang dia hasilkan berupa cerita bersambung: Pitaloka
yang dimuat bersambung di harian Republika 2006, dan Mad Man Show, juara lomba cerbung Femina 2006.
Meskipun tak pernah belajar sama sekali tentang kepenulisan skenario, rasa prihatin terhadap tayangan sinetron membuat Tasaro nekat menulis scenario pertamanya; Bubat, juara lomba menulis scenario nasional, Direktorat Film 2006.
Kini, Tasaro tinggal damai di punggung Gunung Geulis, Jatinangor.
Berusaha memahami istri, beramaha tamah dengan tetangga, dan terus menulis dengan ditemani foto klasik ibunya yang dibingkai kertas daur ulang.
RIWAYAT HIDUP
Sitti Ahriana Rukka. Lahir di Kota Kendari, 12 September 1990. Tamat Sekolah Dasar Negeri No. 20 Kemaraya Timur Kecamatan Kota Kendari pada Tahun 2003, dan masuk Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Kendari Kecamatan Kota Kendari pada tahun 2003. Hanya dua tahun bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Negri 1 Kendari, melanjutkan ke Sekolah Menengah Negri 26 di Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Setelah itu, melanjutkan ke SMA Negeri 11 Kota Makassar hanya hingga tahun 2008. Setelah itu melanjutkan kembali SMA di Sekolah Menengah Atas Negri 1 Takalar Kabupaten Kota Takalar, tamat pada tahun 2009. Dan kemudian pada tahun 2010 melanjutkan kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar.. Dan sekarang menyelesaikan Program Studi dengan judul skripsi “Ekspresi Emosional Tokoh dalam Novel Takhta Nirwana Karya Tasaro” pada tahun 2014.