• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 (Satu) Serikat Pekerja

44 Pasal 188 ayat (1) UU No 13-2003.

Bagan 2. 1 (Satu) Serikat Pekerja

Jumlah anggota serikat pekerja 50%+1 dibuatkan perjanjian kerja bersama

Jumlah anggota serikat pekerja 50%+1 dibuatkan perjanjian kerja bersama

Jika pemungutan suara gagal, maka pengajuan pembuatan perjanjian kerja bersama diajukan kembali setelah 6 (enam) bulan

Sumber: UU No. 13-2003, diolah.

Dalam hal di satu perusahaan terdapat lebih dari 1 (satu) serikat buruh maka yang berhak mewakili pekerja/buruh melakukan perundingan dengan pengusaha yang jumlah keanggotaannya lebih dari 50%. Jika, tidak terpenuhi, maka serikat buruh dapat melakukan koalisi sehingga tercapai jumlah lebih dari 50%. Jika masih tidak terpenuhi, maka serikat buruh membentuk tim perunding yang keanggotaannya ditentukan secara proporsional berdasarkan jumlah anggota masing-masing serikat buruh. Di dalan UU No. 13-2003 tidak disebutkan kelanjutan dari Pasal 120 ayat (3) yang memuat dibentuknya tim perunding jika koalisi gagal. Menurut penulis

69

dibentuknya tim perunding ini merupakan langkah terakhir jika koalisi gagal. Jika masih saja tidak tercapai maka pengajuan pembuatan perjanjian kerja bersama diajukan kembali setelah 6 (enam) bulan.

Bagan 3.

Lebih 1 (Satu) Serikat Pekerja

Yang berhak mewakili buruh adalah yang memiliki anggota 50%

Jika tidak tercapai bisa dilakukan koalisi

Jika tidak tercapai dibuat tim perunding

Jika gagal, maka pengajuan pembuatan perjanjian kerja bersama diajukan kembali setelah 6 (enam) bulan

Sumber: UU No. 13-2003, diolah.

Prosedur yang begitu demokratis seperti ini pada kenyataannya tidak berjalan dengan baik. Pengusaha sering kali memanfaatkan prosedur yang cukup rumit ini untuk kepentingannya. Contohnya, ada serikat pekerja bentukan pengusaha, yang tentunya akan menguntungkan pihak perusahaan. Ada lagi ketua serikat pekerja yang pro perusahaan. Pastinya hal-hal demikian akan menimbulkan iklim kerja yang tidak harmonis.

Masa berlakunya perjanjian kerja bersama paling lama 2 (dua) tahun. Kenapa dibuat 2 (dua) tahun, sepertinya pembuat undang- undang memikirkan ke depan, karena menemukan pengusaha dengan serikat pekerja dalam 1 (satu) kursi untuk berunding adalah sulit sekali. Jika dirasa masih sesuai dan menguntungkan kedua belah pihak maka perjanjian kerja bersama dapat diperpanjang masa berlakunya paling lama 1 (satu) tahun sesuai kesepakatan tertulis para pihak.

Perjanjian kerja bersama paling sedikit memuat:

hak dan kewajiban pengusaha;

hak dan kewajiban serikat pekerja/serikat buruh serta pekerja/buruh; jangka waktu dan tanggal mulai berlakunya perjanjian kerja bersama; tanda tangan para pihak pembuat perjanjian kerja bersama.

70

Pengusaha, serikat pekerja dan pekerja wajib melaksanakan ketentuan yang ada di dalam perjanjian kerja bersama. Karena ini adalah sebuah kesepakatan yang sah menurut undang-undang jika salah satu mengingkarinya, hal ini merupakan sebuah wan prestasi.

Pengusaha dan serikat pekerja wajib memberitahukan isi perjanjian kerja bersama atau perubahannya kepada seluruh pekerja, karena perjanjian kerja bersama ini dibuat untuk seluruh anggota perusahaan. Sesuai dengan asas hukum perjanjian adalah keterbukaan. Dalam hal ini pengusaha harus mencetak dan membagikan naskah perjanjian kerja bersama kepada setiap buruh atas biaya perusahaan. Biasanya ini dalam bentuk buku saku yang mudah untuk dibawa.

Pengusaha dilarang mengganti perjanjian kerja bersama dengan peraturan perusahaan, selama di perusahaan yang bersangkutan masih ada serikat buruh. Karena jika dilihat dari sifatnya perjanjian kerja bersama derajatnya masih lebih tinggi dari pada peraturan perusahaan. Perjanjian kerja bersama dibuat berdasarkan musyawarah. Sedangkan peraturan perusahaan dibuat sepihak oleh pengusaha. Kecuali, jika dalam hal di perusahaan tidak ada lagi serikat pekerja dan perjanjian kerja bersama dapat diganti dengan peraturan perusahaan, namun ketentuan yang ada dalam peraturan perusahaan tidak boleh lebih rendah dari ketentuan yang ada dalam perjanjian kerja bersama.

Perjanjian kerja bersama mulai berlaku pada hari penandatanganan kecuali ditentukan lain dalam perjanjian kerja bersama. Perjanjian kerja bersama harus segera didaftarkan oleh pengusaha pada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setelah ditanda tangani kedua belah pihak. Instansi disini adalah Dinas Tenaga Kerja setempat.

Ketentuan pembuatan perjanjian kerja bersama di atas agar memiliki keotentikan maka harus memenuhi syarat Pasal 1868 BW, antara lain:

F Bentuknya sesuai dengan undang-undang,

F Dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum (notaris), F Pegawai umum tersebut berkuasa di wilayahnya (kompetensi relatif).

Tidak dilaksanakan sepenuhnya Pasal 1868 BW di atas, maka perjanjian kerja bersama tersebut hanya mempunyai kekuatan bukti

71

di bawah tangan. Jadi, selama ini seluruh perjanjian kerja bersama di Indonesia hanya mempunyai kekuatan bukti di bawah tangan. Hal ini tentunya riskan sekali mengingat kasus yang diterima pengadilan hubungan industrial adalah perbedaan penafsiran terhadap perjanjian kerja bersama. Kekuatan bukti yang sempurna dan wajib dihormati di pengadilan adalah kekuatan bukti otentik, oleh karena itu untuk kedepannya sebaiknya perjanjian kerja bersama dibuat dihadapan notaris saja.

E. Faktor Penghambat Dan Pendukung Perjanjian Kerja Bersama

Faktor-faktor penghambat dan pendukung terlaksananya perjanjian kerja bersama:

1. Faktor Penghambat

l Kurangnya sosialisasi yang dilakukan aparat merupakan faktor penghambat yang paling utama, karena mengingat masih banyak perusahaan yang sudah memiliki serikat pekerja namun tidak membuat perjanjian kerja bersama, sepertinya disini pengusaha memanfaatkan keluguan serikat pekerja.

l Kebanyakan buruh tidak memahami manfaat dari perjanjian kerja bersama.

l Pengusaha sering kali memanfaatkan prosedur yang cukup rumit ini untuk kepentingan pengusaha. Contohnya, ada serikat pekerja yang di bentuk pengusaha, yang tentunya akan menguntungkan pihak perusahaan sendiri.

l Ketua serikat pekerja yang pro perusahaan, hal-hal demikian akan menimbulkan iklim kerja yang tidak harmonis.

2. Faktor Pendukung

9 Banyak jaringan internet yang bisa digunakan buruh untuk melihat dan memahami isi perjanjian kerja bersama sewaktu-waktu.

9 Banyaknya organisasi buruh, federasi dan konfederasi pekerja akan membantu buruh untuk memenuhi haknya.

9 Adanya perwakilan ILO di daerah tingkat satu yang memiliki peran untuk mendorong pemerintah untuk terus memerangi tindakan eksploitasi pengusaha terhadap pekerja.

9 Banyaknya buku-buku tentang ketenagakerjaan yang mengupas tentang perjanjian kerja bersama.

72