C. Makna Kesalehan Sosial dalam Membangun Harmoni-Sosial secara denotasi, konotasi, dan mitos
3. Sceen 3 (Konservasi Sumber Daya Alam) Tabel 15
Pada gambar 3 tabel 3.14 terlihat santri dan Pak Lurah keluar rumah dengan menggunakan kendaraan roda dua untuk pergi ke Pondok Pesantren guna memenuhi panggilan Kiai Landung.
3. Sceen 3 (Konservasi Sumber Daya Alam) Tabel 3.15 Santri :
Pak Lurah : Santri :
Maaf Pak Lurah, saya diutus Pak Kiai untuk menjemput Pak Lurah ke pesantren.
Oh ya, tunggu sebentar ya.. saya santi pakaian. Iyah baik...(sambil menunggu).
Visualisasi: Denotasi
Pada gambar pertama terlihat anak kecil sedang memberikan sebuah sangkar burung kepada laki-laki paruh baya dan terlihat juga seorang nenek dan seorang laki-laki berdiri di belakang laki-laki paruh baya.
Pada gambar kedua terlihat Kiai Landung sedang mengeluarkan burung dari
sangkarnya.
Pada gambar ketiga nampak Kiai Landung mengangkat tangan dan terdapat burung dikepalan tangannya, terlihat juga di
sebelah kanan dan kiri Kiai Landung berdiri dua orang pria yang sedang memegang sangkar burung dan tongkat.
Pada gambar keempat terlihat empat pria dewasa sedang berdiri di tengah-tengah perkebunan
Gambar 1
Gambar 2
Gambar 4
Konotasi Makna konotasi yang terdapat dalam rangkaian gambar diatas adalah konservasi lingkungan hidup. Sebagai seorang manusia kita juga harus mampu menjaga hubungan kita dengan alam. Menjaga hubungan dengan alam bisa kita lakukan mulai dari hal yang terkecil seperti melepaskan hewan peliharaan, melakukan reboisasi, tidak melakukan perburuan liar dan pembalakan liar dll. Dalam rangkaian gambar diatas Kiai Landung melepaskan burung kutilang salah satu burung yang mungkin habitatnya sudah mulai jarang kita temui dikarenakan sering dijadikan bahan buruan oleh manusia. “Nilai kebebesan bukan tanpa batas, tanpa aturan, setiap manusia punya hak kemerdekaan tidak dirampas hidupnya oleh umat lain yang disebut manusia. Nah kenapa saya ingin menunjukan adegan itu karean saya ingin memberi tahu pada semua orang bahwa banyak orang yang salah dalam menafsirkan burung yang ada di dalam sangkar dikira kebanyak orang adalah nyanyian kebahagian seekor burung akan tetapi yang sesungguhnya kicauan burung itu adalah tangisan penderitaan yang dimana burung tersebut ingin merasakan kebebasan”.9
9
Wawancara dengan Sutradara dan Penulis Skenario Film Penjuru 5 Santri (Plaza Tamini Square) pada 8 Juni 2015.
.
Alangkah baiknya kita sebagai manusia hari ini tidak lagi melakukan perburuan liar semakin banyak perburuan liar yang kita lakukan maka semakin banyak ragam satwa kita yang punah sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara gagal dalam melakukan konservasi alam. Tidak hanya fauna tapi juga flora kita di bagian hutan, padang rumput, savana, dan lepas pantai tanaman-tanaman di sana sangat penting untuk tempat berteduh para binatang, sebagai daerah resapan air hujan, penahan abrasi air laut terutama bagi manusia sebagai penghasil oksigen untuk kita bernafas.
Mitos Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqoroh ayat 204-205:
“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia
adalah penantang yang paling keras”.
“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia
berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai
kebinasaan”. Dari ayat diatas bisa kita lihat bahwasanya Allah SWT sangat membenci orang-orang yang melakukan perusakan di muka bumi. Persakan disini bisa kita jeniskan dalam perusakan terhadap lingkungan.
Mitos Seharusnya kita sebagai manusia tetap menjaga setiap lingkungan dimanapun kita berada seharusnya kita mampu bersinergi dengan alam sekitar agar kita mampu menciptakan pola hidup yang harmonis tidak hanya harmonis dengan sesama manusia tapi kita juga harus menciptakan sekaligus menjaga hubungan harmonis kita dengan alam. Untuk menciptakan hubungan harmonis dengan alam bisa kita mulai dari hal yang terkecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Dan kemudian hal yang terbesar seperti tidak menebang hutan atau melakukan pembalakan dan mengadakan perburuan liar.
a. Narasi Antar Adegan Utama dan Pendukung pada Tabel 3.15
Tabel di atas merupakan beberapa adegan melepaskan satwa untuk mencari kebebasan yang ditunjukan oleh sutradara, dalam potongan gambar di atas, sutradara mencoba menampilkan konservasi sumber daya alam yang ditonjolkan dalam Film Penjuru 5 Santri. tampilan adegan ini dimulai dari Kiai Landung yang melihat burung di depan rumah Sabar dan meminta sangkar burung itu untuk dibawa oleh Kiai landung dan dilepaskan dialam bebas.
Pada gambar 1 tabel 3.15 Kiai Landung melihat sankar burung yang tergantung di depan rumah Sabar kemudian Kiai Landung meminta sangkar burung tersebut untuk diberikan kepadanya. Berikut dialog Kiai Landung dan Sabar:
Kiai Landung :
Sabar :
Kiai Landung :
Sabar :
Sabar, ini kamu punya burung ya. Iyah Pak Kiai.
Boleh kalau ku minta.
Kiai Landung :
memberikan sangkar burung kepada Kiai Landung.
Terimakasih yah.
Pada gambar 2 tabel 3.15 terlihat Kiai Landung meminta sangkar burung yang sedang di pegangi oleh santrinya dan kemudian Kiai Landung mengeluarkan burung tersebut dari sangkarnya untuk diterbangkan dialam bebas
Pada gambar 3 tabel 3.15 terlihat Kiai Landung ingin menerbangkan burung, agar burung tersebut hidup dengan bebas sekaligus memberikan contoh peraga dari dibebaskannya burung dalam arti sebuah kebebasan dan cinta kepada santri-santrinya. Berikut ungkapan Kiai Landung “Akan ku lepaskan burung ini, biarlah dia menemukan
kebebasan dan menemukan kembali cintanya, alangkah indahnya
kebebasan itu”.
Pada gambar 4 tabel 3.15 Kiai Landung memberikan nasihat kepada ketiga santrinya setelah Kiai Landung melepaskan burung dialam terbuka. “Kita manusia harus menghargai kebebasan dan caranya ialah
jangan sampai kita masuk penjara, masuk kerangkeng karna kesalahan kita. Jadi sebenarnya orang yang berbudi luhur berakhlak mulia, menghargai hukum baik hukum negara maupun hukum Tuhan, insya allah
tidak akan masuk penjara” dan harapan Kiai Landung setelah melepaskan burung dari sangkarnya “Aku bayangkan, betapa nikmatnya burung
barusan yang kita lepas itu menikmati air jernis dan sekaligus mandi di telaga jernih di balik bukit itu. Subhanallah alangkan nikmatnya
kebebasan, alangkah indahnya kebebasan dan kita bahagia karna kita
memberikan kebebasan walaupun kepada seekor burung”. 4. Sceen 4 (Pendidikan dan Pelatihan)
Tabel 3.16 Visualisasi:
Denotasi
Pada gambar pertama terlihat Gus Pras sedang mengajarkan orang gila berwudhu dan di belakangnya terlihat Kiai Landung sedang mengawasi. Pada gambar kedua nampak Gus Pras sedang membantu orang gila untuk berdiri dan berjalan. Pada gambar ketiga terlihat Gus Pras sedang memberikan arahan yang benar dalam gerakan tahayatul akhir. Pada gambar
keempat terlihat Gus Pras sedang
memegangi kepala orang gila.
Pada gambar kelima terlihat senyuman di raur wajah Gus Pras dan didepan Gus Pras terlihat gerakan rasa bersyukur yang ditunjukan pada orang gila.
Gambar 1
Gambar 3
Gambar 4
Konotasi yang ditunjukan dari rangkaian adegan diatas adalah sifat kesalehan sosial dalam bentuk pendidikan dan pelatihan. Pendidikan merupakan salah satu modal utama untuk mengubah kehidupan seseorang, seperti rangkaian di atas setelah mengajak orang gila untuk tinggal dalam lingkungan pesantrennya Kiai Landung beserta para santrinya dalam adegan ini Gus Pras mereka bersama-sama membimbing sekaligus mengajarkan orang gila itu dengan rasa penuh rasa kasih sayang meskipun sulit namun secara perlahan orang gila tadi sudah mulai mengerti bagaimana caranya sholat. Orang gila bukanlah suatu penyakit yang harus di takuti oleh masyarakat umum. Mereka hanya sedang sakit dan memerlukan bantuan kita orang yang normal guna untuk menyembuhkan kembali ingatan dan pikirannya dan membuat mereka menjadi sembuh dan normal kembali. Ini semua bisa dilakukan dengan menerapkan berbagai macam ilmu termasuk ilmu agama yang berguna untuk membuat batinnya kembali tenang sehingga lama kelamaan pikirannya normal kembali. ”Meluruskan yang bengkok yang menyadarkan yang kurang sadar. Memulihkan kembali orang yang kurang waras menjadi waras dan sehat lalu mendekatkan diri pada Tuhan, dan diajarkan dipesantren ini untuk selalu bersyukur itu luar biasa dan allah sangat mencintai orang yang selalu memberikan manfaat terhadap orang lain. Dan itu jika dia orang waras berubah menjadi orang waras bahkan dia bisa mengingat Tuhan, orang yang mengajarkannya tidak akan terputus pahalanya karena dia sudah memberikan ilmu yang sangat luar biasa”.10
Setelah pikiran orang gila tersebut normal kita tidak lepas tangan begitu saja kita juga harus selalu memberikan pengajaran rutin bisa berupa pelatihan sehingga mereka bisa hidup normal kembali.
10
Wawancara dengan Sutradara dan Penulis Skenario Film Penjuru 5 Santri (Plaza Tamini Square) pada 8 Juni 2015.
Inilah yang kesalehan sosial ajarkan bahwa pendidikan dan pelatihan keterampilan bukan hanya untuk orang yang normal saja tapi juga orang yang tidak mampu seperti orang gila, gelandangan, anak jalanan dan semua masyarakat kalangan bawah kita harus tetap mengajarkan dan memberikan ilmu kita kepada mereka karena kita sesama manusia harus tetap saling tolong menolong dan meskipun sedikit ilmu yang kita berikan bagi mereka dan pengaruhnya sangat besar.
Islam adalah agama tolong menolong, Islam menggalakan umatnya agar selalu melepaskan saudaranya yang dalam kesempitan dunia, yang berada dalam kesusahan hidup. Memberikan suatu ilmu tambahan kepada orang-orang yang tidak mampu baik secara fisik maupun rohani merupakan salah satu wujud memberantas kebodohan, apabila seorang manusia hidup tanpa ilmu sedikitpun niscaya ia akan menjadi sampah masyarakat. Oleh karena itu pemberian ilmu berupa keterampilan dan kecakapan diri (lifeskill) bisa membantu manusia mengarungi kehidupan di dunia. Pemberian pelatihan kecakapan diri ini bisa dilakukan dengan pendekatan-pendekatan agama seperti mengajarkan shalat, mengaji, dan berwudhu. Karena melalui pendekatan-pendekatan agama seseorang bisa mulai kita ajarkan bagaimana disiplin tidak hanya disiplin dalam menjalankan semua perintah Allah saja tapi juga disiplin menjalani setiap pekerjaan yang akan ia lakukan. Meringankan beban orang yang membutuhkan dengan cara memberikan keterampilan hidup (lifeskill) termasuk suatu ibadah dan insya Allah mendapat pahala hal ini pun sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi :
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa meringankan
satu kesusahan orang mukmin dari kesusahan-kesusahan-nya di dunia, maka Allah akan meringankan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari qiyamat. Membantu memberikan keterampilan terhadap golongan orang yang membutuhkan dirasa masih sangat jarang di Indonesia kita selalu sibuk terhadap diri kita. Kita selalu memikirkan bagaimana kita bisa lebih mengasah diri lagi agar kita naik jabatannya, agar kita bisa memperoleh gaji yang lebih besar dan segala macam sikap ke egoisan kita lainnya. Sebenarnya memberikan pelatihan kecakapan diri ini sangatlah mudah kita hanya memerlukan hati yang tulus dan segenap kemampuan kita untuk berbagi terhadap mereka yang membutuhkan. Jadikanlah diri kita penuh dengan rasa kesalehan sosial niscaya tidak akan ada lagi kesulitan yang dialami oleh seluruh masyarakat.
a. Narasi Antar Adegan Utama dan Pendukung pada Tabel 3.16
Tabel di atas merupakan serangkaian narasi yang saling berkaitan satu sama lain. Dalam rangkaian gambar di atas, sutradara mencoba menampilkan beberapa adegan kesalehan sosial dalam bentuk melatih dan mengajarkan orang yang tidak mampu dalam konteks beribadah kepada allah SWT yang terjadi dalam Film Penjuru 5 Santri. seluruh adegan
berikut ditampilkan mulai dari Gus Pras mencoba mengajarkan orang gila berwudhu, sholat, dan berdoa seperti selayaknya manusia biasa.
Pada gambar 1 tabel 3.16 terlihat Gus Pras sedang mengajarkan berwudhu kepada orang gila, walaupun pada awalnya orang gila tersebut tidak mau untuk berwudhu, tetapi Gus Pras terus mengajarinya hingga akhirnya orang gila tersebut mau mengikutinya di mulai dari mencuci tangan, berkumur-kumur, hingga mencuci kaki.
Pada gambar 2 tabel 3.16 terlihat Gus Pras membantu orang gila untuk berdiri dan berjalan setelah diajarkan berwudhu, kemudian Gus Pras dan Kiai Landung membawa orang gila ke dalam masjid untuk diajarkan sholat.
Pada gambar ke 3 tabel 3.16 Gus Pras memberikan arahan kaki yang benar kepada orang gila walaupun orang gila tersebut awalnya tidak mau dan mengeluh kesakit. Berikut dialognya:
Pada gambar 4 tabel 3.16 terlihat Gus Pras sedang menuntun orang gila untuk menggerakan kepala kekiri dan kekanan dengan mengucapkan salam.
Gus Pras : Ini salah.
Orang Gila : Aaaaa (teriak kesakitan)
Gus Pras : Ini sakit karena salah duduknya. Orang Gila : Gini aja
Gus Pras : Ayo (sambil membetulkan kaki)
Gus Pras : assalamualaikum warohmatullah (sambil menggerakan kepala rang gila kearah kana dan kiri).
Pada gambar 5 tabel 3.16 Gus Pras mengambil tangan orang gila untuk berusap ke wajah dan menuntun orang gila tersebut untuk mengucapkan “alhamdulillah dan Allahu Akbar” kemudian terlihat ketenangan dalam diri orang gila tersebut.
5. Seceen 5 (Profesionalisme)
Tabel 3.17 Visualisasi:
Denotasi
Pada gambar pertama Terlihat dua orang pria berhadapan dengan kiai Landung dan empat santri. Pada gambar kedua terlihat seorang pria yang mengenakan seragam dinas sedang berbincang dengan seorang pria berkemeja.
Pada gambar ketiga terlihat kerumunan orang sedang berdiri dan ditengah-tengah terlihat dua orang sedang berjabat tangan.
Pada gambar
keempat terlihat tiga orang pria sedang mengamati sesuatu di balik semak belukar.
Gambar 1
Gambar 3
Gambar 4
Konotasi Konotasi yang ingin disampaikan dari rangkaian adegan di atas ialah sikap profesionalisme seorang pimpinan yang ditunjukan oleh pak lurah sebagai pemimpin desa pak lurah selalu sigap menanggapi setiap masalah yang sedang terjadi didaerahnya. Dalam rangakain gambar ini Pak lurah sigap menanggapi laporan dari pak kiai yang mengatakan bahwa ada kegiatan muncurigakan di dalam hutan dan patut untuk di telususri lebih lanjut, kemudian pak lurah beserta pak RT dan Gus Pras bersama-sama menyelidiki kegiatan tersebut. Inilah seharusnya sikap yang harus dicontoh oleh para pemimpin.
Sebagai harapan sekaligus pelindung dan pengayom masyarakat pemimpin harus bisa tanggap memutuskan apa saja tindakan yang harus di lakukan agar masyarakatnya bisa aman, tentram dan nyaman. Pemimpin pun harus berani turun langsung ketika ada masalah di dalam wilayahnya dia tidak boleh asal dalam mengutus orang untuk menyelidiki masalah tersebut. Sebagai seorang pemimpin sudah pasti harus mampu mengemban amanah yang diberikan salah satu upaya mengemban amanah adalah menumbuhkan sikap kesalehan sosial dalam diri pemimpin itu sendiri lalu selah sikap kesalehan sosial mampu ia tanamkan dan ia terapkan niscaya pempin tersebut akan dinilai sebagai pemimpin yang profesional oleh masyarakatnya sekaligus bisa dijadikan contoh oleh masyarakat. “Para tokoh masyarakat di desa cenderung mengahrgai hak pendapat masyarakat, sehingga tidak terjadi pemimpin yang mutlak dan seorang lurah harus turun langsung kemasyarakat apabila terjadi hal-hal yang diperlukan bahkan kejadian yang mencurigakan yang bisa mengancam masyarakat setempat. Pemimpinlah yang harus ikut andil dalam menyikapi permasalahan yang ada karena pemimpin itu sudah diberikan amanah untuk menjalani tugas-tugasnya. Begitu juga ada hubungan baik antara pemerintah setempat dengan pesantren dan masyarakat sekitarnya itu yang di tunjukan pada film tersebut. Makanya saya membuat adegan dimana pemimpin itu harus bersikap seperti yang dicontohkan oleh film sekaligus menjadi teguran pada pemimpin-pempimpin kita sekarang ini khususnya para pejabat yang ada di Indonesia”.11
Mitos Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai (senang) jika salah seorang diantara kamu mengerjakan suatu pekerjaan
dilakukan dengan profesional/sempurna” (HR. Imam Baihaqi).
11
Wawancara dengan Sutradara dan Penulis Skenario Film Penjuru 5 Santri (Plaza Tamini Square) pada 8 Juni 2015.
Bekerja secara sungguh-sungguh dan menjunjung tinggi sikap keprofesionalan sangatlah patut kita tiru dan kita jadikan sebagai etos kerja. Dan dalam hal ini yang ditampilkan dalam adegan di atas adalah sebuah sifat profesional dari seorang pipminan (lurah). Seperti yang kita pahami bersama bahwa sebagai seorang pemimpin kita wajib untuk mengayomi seluruh masyarakat yang kita pimpin. Namun diera milenium seperti ini banyak sekali manusia-manusia licik yang mengandalkan jabatannya demi meraup keuntungan semata dan tidak jarang banyak sekali kasus pemimpin seperti ini yang berujung hotel prodeo. Hal ini harus kita sadari bahwasanya apabila kita diberikan jabatan kita harus tetap amanah dalam menjaga kepercayaan yang sudah diberikan masyarakat bekerja secara maksimal dan profesional maka akan tercipta suatu sistem pemerintahan yang adil bagi seluruh masyarakatnya karena dipimpin oleh pimpinan yang shaleh dan mampu bekerja secara profesional.
a. Narasi Antar Adegan Utama dan Pendukung pada Tabel 3.17
Pada tabel di atas merupakan serangkaian narasi yang saling berkaitan satu sama lain. Dalam rangkaian gambar di atas, sutradara mencoba menampilkan beberapa adegan kesalehan sosial dalam menjalankan profesi sesuai dengan keahlian menjujung tinggi amanah yang diberikan dan selalu memberikan kemanfaatan dan kemaslahatan untuk kepentingan umat yang terjadi dalam Film Penjuru 5 Santri. Seluruh adegan ini dimulai dari Pak Lurah datang ke Pondok Pesantren hingga Pak Lurah Blusukan ke hutan.
Pada gambar 1 tabel 3.17 terlihat Pak Lurah memenuhi panggilan Kiai Landung dengan datang ke Pondok Pesantren dan mendengarkan keluhanan Gus Pras perihal santrinya yaitu Sabar dan Sugeng yang tidak pulang semalaman. Berikut dialongnya:
Pada gambar 2 tabel 3.17 Pak Lurah menanyakan kepada Pak RT perihal siapa pemilik rumah di hutan tersebut. Berikut dialognya:
Pada gambar 3 tabel 3.17 terlihat Pak Lurah, Pak RT dan Gus Pras berpamitan kepada Kiai Landung untuk pergi kehutan jati guna menyelidiki rumah yang ada dihutan jati.
Pada gambar 4 tabel 3.17 terlihat Pak Lurah, Pak RT, dan Gus Pras sedang blusukan ke hutan untuk melihat aktivitas penghuni yang tinggal di hutan jati dan ketika mereka melihat penghuni tersebut, Pak RT tidak mengenal siapa mereka dan bukan warganya, merekapun berusaha untuk
Pak Lurah : assalamualaikum.
Gus Pras : waalaikumsalam Wr Wb Pak Lurah. Kebetulan maaf sebelumnya, tadi Sugeng dan Sabar baru saja menceritakan perihal tidak pulangnya mereka tadi malam, rupanya mereka kemaren itu mencari kayu bakar di hutan dan mereka melihat ada sebuah rumah di sana ini sangat
mencurigakan dan sepertinya harus kita periksa tapi harus hati-hati pak..
Pak Lurah : Pak RT, apa Pak RT tau siapa yang mendirikan rumah di hutan jati itu?
Pak RT : Maaf Pak Lurah, saya juga heran ko gak ada yang lapor ke saya dulu.
Pak Lurah : makanya kalau jadi RT itu, sekali-kali harus supaya Mengenal daerah-daerahnya.
Pak RT : Betul Pak Lurah, lebih afdhol lagi kalau Pak Lurah juga blusu’an keliling desa.
melapor kepada pihak yang berwajib yaitu polisi untuk menyelidikinya. Berikut dialognya:
B. Pesan dominan dalam kerangka Kesalehan Sosial di Film Penjuru Lima