• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebuah Pedoman bagi Sikap

Dalam dokumen publikasi e-binaanak (Halaman 124-128)

Sikap pribadi terhadap anak yang sedang menunggu ajalnya ialah mengutamakan penyampaian kasih Allah kepadanya. Saya juga harus mengasihi, penuh pengertian, dan bersabar selalu. Setiap dekapan, pelukan, sentuhan, atau ciuman menyalurkan kasih.

125

Tuti seorang anak berusia delapan tahun. Suatu pagi di Sekolah Minggu ia menyanyi solo secara sukarela. Dalam kesempatan berikutnya ketika kami bertemu dengannya, ia sudah tidak bisa berbicara lagi. Kanker yang telah menyebar, dan serangan pada otak telah menyebabkan dia lumpuh tidak berdaya sama sekali. Mengunjungi dia sungguh penting, karena keluarganya jarang sekali menengok dia.

Saya juga menetapkan beberapa "larangan" bila menghadapi anak yang mempunyai penyakit yang membawa kematian.

1. Jangan sekali-sekali menunjukkan rasa iba kepadanya.

Bagi saya, anak adalah bagian yang paling mengagumkan dari semua ciptaan Allah. Mereka sungguh luar biasa; indah sekali! Mereka sama sekali tidak ingin dikasihani.

2. Jangan memanjakan mereka secara berlebihan sehingga merusak.

Tingkah laku yang tidak dapat diterima pada anak yang sehat juga berlaku pada diri anak yang sedang mendekati ajalnya.

3. Jangan mengatakan sesuatu yang tidak benar-benar Anda maksudkan. Anak cepat sekali melihat kepura-puraan. Pertumbuhan rohani dapat dirusak oleh janji yang tidak dapat ditepati.

Kesadaran kita juga harus meliputi kenyataan bahwa seorang anak dalam keadaan koma mungkin masih mendengar dan mengerti. Pendengaran biasanya adalah indera terakhir yang akan hilang.

Dina menghadiri Sekolah Minggu di rumah sakit itu hanya dua kali. Ia sudah dalam keadaan setengah koma ketika kami mengetahui bahwa pengetahuan tentang

kekristenan dalam masa sebelas tahun usianya itu hanyalah melalui saat-saat singkat di kelas-kelas Sekolah Minggu kami. Orang tua Dina sudah bercerai dan adik satu-satunya seorang perempuan, juga sedang sakit, sehingga berminggu-minggu lamanya Dina seorang diri saja, tidak ada yang menemani. Setiap kali saya pergi ke rumah sakit, saya meluangkan waktu untuk menemani dia. Setiap saat saya mengingatkan dia tentang kasih Yesus kepadanya, tentang kematian-Nya supaya semua orang bisa diampuni dari dosa-dosanya, tentang betapa indahnya surga itu, dan yang terindah dari semuanya ialah tentang kenyataan bahwa Yesus hadir di tempat itu. Jika Dina percaya dan mengasihi dia, maka Ia sedang menyiapkan sebuah tempat yang khusus hanya untuk dia.

Apakah ia mengerti? Apakah ia percaya? Pernah ketika saya duduk di samping tempat tidurnya dan membelai rambutnya, sambil mengatakan betapa Yesus dan saya

mengasihi dia, tiba-tiba ia menjadi gelisah dan berusaha bergerak. Kemudian bibirnya membentuk sebuah kata, "kasih".

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku : Kebutuhan Rohani Anak

Judul Artikel Asli: Penginjilan Cara Anak-anak Pengarang : Judith Allen Shelly

Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1982 Halaman : 137 - 143

126

Artikel 2: Pemahaman Anak Mengenai Kematian

Artikel berikut ini mengajak kita untuk mengetahui secara psikologi umum, sejauh mana daya tangkap anak-anak akan kematian. Ingatlah untuk selalu berdoa minta hikmat dan kebijaksanaan dari Tuhan ketika Anda menerangkan mengenai kematian kepada anak. Terangkanlah, bahwa bagi orang percaya kematian itu bukanlah akhir dari segalanya, bahkan kematian adalah suatu keuntungan ("Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan." -- Filipi 1:21).

Meskipun ada banyak konsep tentang kematian yang perlu anak mengerti, kita tidak boleh tergoda untuk menjelaskan semuanya sekaligus. Usia perkembangan anak mempengaruhi berapa banyak informasi yang dapat diserapnya. Selain itu penjelasan yang panjang akan membuat anak semakin bingung dan membangkitkan pertanyaan lain yang kita sendiri sulit menjawabnya. Jadi, lebih bijaksana kita memberikan jawaban singkat dan langsung tertuju pada apa yang ditanyakan anak kita.

Berikut ini adalah beberapa pemahaman anak mengenai kematian sesuai dengan perkembangannya menurut apa yang dikemukakan oleh Charles Schaefer dan Theresa Foy DiGeronimo:

1. Anak usia tiga hingga lima tahun.

Anak pada usia ini umumnya mengetahui bahwa kematian berhubungan dengan kesedihan. Kebanyakan anak beranggapan secara salah bahwa yang bergerak adalah hidup, termasuk misalnya awan, kipas angin yang berputar, jam, dan sebagainya. Tidak adanya gerakan berarti mati. Umumnya kematian dianggap sesuatu yang bersifat sementara. Apalagi pemahaman ini diperkuat oleh film kartun dan film anak yang mempertontonkan tokoh yang mati kemudian bangkit lagi. Rasa takut anak pada usia ini terutama adalah ketakutan pada kegelapan (karena orang mati dikubur), dan pada situasi dimana ia ditinggal sendirian. Rasa takut semacam ini timbul terutama pada mereka yang pernah menyaksikan atau mendengar cerita tentang upacara pemakaman.

2. Anak usia enam sampai delapan tahun.

Anak pada usia ini sudah mulai menyadari akan situasi keberakhiran dari

kematian. Sekalipun demikian mereka masih sulit memahami akan sifat kematian yang tidak mungkin terhindarkan. Pada usia ini, jika ada orang yang mereka sayangi meninggal, anak-anak merasakan hal itu sebagai hukuman terhadap tindakan atau pikiran mereka yang salah.

3. Anak usia sembilan tahun hingga remaja.

Anak-anak pada usia ini mulai menyadari secara penuh bahwa kematian tidaklah terhindarkan dan bersifat universal. Mereka mulai mengetahui sebab-akibat kematian, seperti misalnya kematian sebagai akibat dari kerusakan fisik, penyakit, atau ketuaan, dan sebagainya. Mereka mulai memahami kenyataan dari kematian.

Dengan mengetahui prinsip dari perkembangan ini, orangtua juga dapat lebih bersikap rileks bila anak belum memahami beberapa konsep dasar dari kematian yang

127

disebabkan oleh perkembangan usia mereka. Selain itu, orangtua dapat memberi penjelasan dan jawaban mengenai kematian sesuai dengan usia anak.

Sumber:

Judul Buku : Majalah Eunike, Edisi 07/Triwulan IV

Artikel Asli : Membantu Anak Memahami Makna Kematian Penulis Artikel: Heman Elia, M.Psi.

Penerbit : Yayasan Eunike, Jakarta, 2002 Halaman : 11

128

Dalam dokumen publikasi e-binaanak (Halaman 124-128)