BAB II KAJIAN PUSTAKA
3. Macam-macam Qira’at
5. Syarat-syarat Tahfidzul Quran
B. Tinjauan Konsep Belajar 1. Pengertian Belajar
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar 3. Hubungan Belajar dengan Menghafal dan Mengingat C.Problematika Tahfidzul Quran
1. Pengertian Problematika
2. Problematika Tahfidzul Quran Beserta Solusinya
3. Faktor-faktor Pendukung dalam Menghafalkan Al Quran 4. Metode Menghafalkan Al Quran
5. Kiat-kiat Memelihara Hafalan Al Quran Bab III: PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Paparan Data:
1. Sejarah berdirinya pondok pesantren Sirojuddin Assalafiah. 2. Letak geografis pondok pesantren Sirojuddin Assalafiah. 3. Sarana dan Prasarana
18
5. Keadaan Guru/Ustadz/Ustadzah 6. Keadaan Santri
7. Kegiatan di Lokal Pesantren
8. Tata Tertib Pondok Pesantren Sirojuddin Assalafiyah
B. Temuan Penelitian
1. Mengetahui niat dan motivasi santri kalong dalam menghafalkan Al Quran.
2. Mengetahui latar belakang pada masing-masing santri kalong. 3. Mengetahui aktivitas yang dilakukan santri kalong dalam
kehidupan sehari-hari.
4. Mengetahui problematika yang dihadapi santri kalong dalam menghafalkan Al quran.
5. Mengetahui bagaimana cara mereka dalam menghadapi dan menyikapi problematika tersebut.
Bab IV : PEMBAHASAN Meliputi:
1. Problematika yang dihadapi santri kalong dalam menghafalkan Al Quran.
2. Bagaimana upaya yang harus dilakukan dalam menghadapi problematika tersebut.
19 Bab V : PENUTUP Meliputi: A. Kesimpulan B. Saran C. Penutup
20 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Tahfidzul Quran
1. Pengertian Tahfidzul Quran
Istilah Tahfidzul Quran merupakan gabungan dari dua kata yang berasal dari bahasa Arab, yaitu tahfid dan Al Quran. Kata tahfid merupakan bentuk isim masdar (ﺎﻈﯿﻔﺤﺗ-ﻆﻔﺤ -ﻆﻔﺣ )dan fiil madhi (-ﻆﻔﺣ
ﻆﻔﺤ
-ﺎﻈﻔﺣ )yang mengandung makna menghafalkan atau menjadikan hafal (Yunus, 2005: 324). Sedangkan Al Quran secara bahasa berarti “bacaan”. Secara istilah, Al Quran adalah kalam Allah yang tiada tandingannya (mukjizat), diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, penutup para Nabi dan Rasul dengan perantaraan Malaikat Jibril alaihis salam, dimulai dengan surat Al Fatihah dan diakhiri dengan surat An Nash, ditulis dalam mushaf yang disampaikan secara mutawatir, serta mempelajarinya merupakan ibadah (Aminuddin, 1991: 15).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tahfidzul Quran adalah proses membaca serta mencamkan Al Quran dengan tanpa melihat tulisan Al Quran (di luar kepala) secara berulang-ulang agar senantiasa ingat dan mampu membacanya setiap saat tanpa melihat mushaf.
2. Beberapa Kitab Mushaf
Beberapa ulama salaf telah menulis beberapa kitab, yang mengemukakan mushaf sebelum Utsman. Dan mushaf-mushaf yang
21
dibatalkan dengan datangnya mushaf Utsman. Di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Iktilafu Mashahif Syam wak Hijaz wal Irak oleh Ibnu Amir, yang wafat tahun 118 H.
b. Iktilafu Mashahif Ahlu Madinah, wa Ahlu Kufah wa Ahlu Basrah oleh Kisay, wafat tahun 189 H.
c. Iktilafu Ahlul Kufah wal Bashrah dan Wasy Syam fil Mashahif oleh Al Fara, wafat tahun 207 H.
d. Iktilafu Mashahif oleh Khalaf bin Hisyam, wafat tahun 229 H. e. Iktilafu Mashahif Wajami’ul Qiraat oleh Al Madaini, wafat tahun
231 H.
f. Iktilafu Mashahif oleh Abu Hatim Sahal bin Muhammad As Sijistani, wafat tahun 248 H.
g. Al Mashahif wal Hijai oleh Muhammad bin Isa Al Ashbahani, wafat tahun 253 H.
h. Al Mashahif oleh Abdullah bin Abu Dawud As Sijistani, wafat tahun 316 H.
i. Al Mashahif oleh Ibnu Al Anbari, wafat tahun 327 H.
j. Al Mashahif oleh Ibnu azytah Al Asdbahany, wafat tahun 360 H. k. Gharibul Mashahif oleh Al Waraqi (Al Abyari, 1993, 81).
Tampilnya baeberapa ulama salaf seperti yang terdapat dalam karangan ini menimbulkan perselisihan, karena sering terdapat perbedaan bacaan Al Quran di antara mereka sehingga mengakibatkan
22
pertengkaran yang tidak diinginkan. Jika dibiarkan, kejadian ini akan mendatangkan perselisihan dan perpecahan yang makin luas dikalangan kaum muslimin (Dimjati, 2008: 8).
Utsman membuat tindakan ketika beliau dikejutkan oleh perselisihan itu. Beliau dengan pendirian yang mantap setelah dikuatkan oleh banyak sahabatnya, mewajibkan keseluruh kota-kota besar untuk memakai mushaf Al Imam kemudian membakar selainnya. Dengan demikian, maka tidak ada perselisihan lagi(Al Abyari, 1993: 82).
Utsman bin Affan meminta Hafshah binti Umar agar naskah Al Quran yang telah dituliskan dan dihimpun pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar yang tersimpan di rumah Hafshah disalin dan diperbanyak lagi bagi kepentingan kaum muslimin.
Jumlah Mushaf yang disalin oleh panitia Zaid bin Tsabit atas perintah khalifah Utsman menurut pendapat Al Zarqani, ada 6 (enam), satu mushaf untuk khalifah, yang kemudian terkenal dengan nama “Al Mushaf Al Imam”. Lima mushaf Utsman lainnya dikirim ke daerah-daerah Islam disertai dengan seorang sahabat ahli Ilmu Qiraah untuk mengajarkan qiraat yang sesuai dengan qiraat sebagian besar penduduk dari daerah Islam yang bersangkutan (Zuhdi, 1997: 181). .
Semua wahyu Ilahi yang diterima oleh Nabi segera disampaikan kepada para pencatat wahyu dari sahabat, disertai dengan penjelasan tentang letaknya di surah apa dan ayat berapa. Tidak kurang dari 40 sahabat yang ditunjuk oleh Nabi sebagai pencatat wahyu. Dan tidak
23
sedikit pula jumlah sahabat yang hafal Al Quran baik sebagian atau seluruhnya. Para sahabat Nabi penulis dan penghafal Al Quran yang terpercaya dan tidak sedikit jumlahnya serta mereka mendengar langsung dari Nabi, meneruskan atau mengajarkan Al Quran pada generasi berikutnya (Tabi’in) melalui tulisan, bacaan, dan hafalan. Kemudian dari Tabi’in diteruskan kepada generasi berikutnya (Tabi’ut Tabi’in) dan begitu seterusnya hingga sampai pada kita (Zuhdi, 1997: 186).
Dengan demikian Al quran yang berada di tengah-tengah umat Islam pada saat ini dan seterusnya sesuai dengan yang ada pada masa Rasulullah SAW, tanpa ada sedikitpun firman Allah yang ditambah, dikurangi, diganti atau dirubah.
3. Macam-macam Qira’at dalam Al Quran
Menurut istilah pakar ilmu Al Quran, qira’at adalah suatu mazhab (jalan/metode) bacaan Al Quran yang dijadikan pijakan para ahli Al Quran pada generasi setelah sahabat dan tabiin (Amrullah, 2008: 61).
Metode bacaan ini jika dirunut ke atas akan sampai kepada Rasulullah SAW. Dikalangan sahabat, para qari yang cukup terkenal antara lain Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, dan Abu Musa Al Asy’ari. Mereka adalah orang-orang yang dikenal dekat dan setia kepada Rasulullah Saw, sehingga tidak mungkin apa yang mereka lakukan akan bertentangan dengan syariat Islam.
24
Di antara para Qurra yang paling banyak dikenal adalah tujuh orang imam qira’ah. Mereka ini menjadi rujukan dalam ilmu qira’ah dan mengalahkan imam-imam yang lain. Dari masing-masing tujuh imam itu dikenal dua orang perawi di antara sekian banyak perawi yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Nama-nama tujuh imam dan dua orang perawinya itu adalah sebagai berikut:
a. Ibnu Katsir dari Makkah, dua orang perawinya adalah Qanbul dan Bizzi yang meriwayatkan qira’ah darinya melalui seorang perantara.
b. Nafi’ dari Madinah. Dua orang perawinya adalah Qalun dan Warasy.
c. Ashim dari Kufah. Dua orang perawinya adalah Abu Bakar Syu’ban bin Al Iyasy dan Hafs. Al Quran yang ada dikalangan kaum muslimin dewasa ini adalah memakai qira’ah Ashim yang diriwayatkan oleh Hafs.
d. Hamzah dari Kufah. Dua orang perawinya adalah Khalf dan Khallad yang meriwayatkan qira’ah darinya melalui satu perantara. e. Al Kisa’i dari Kufah. Dua orang perawinya adalah Dauri dan Abul
Harits.
f. Abu Amr bin Al Ala dari Basrah. Dua orang perawinya adalah Dauri dan Sausi yang meriwayatkan qira’ah darinya melalui seorang perantara.
25
g. Ibnu Amir. Dua orang perawinya adalah Hisyam dan Ibnu Zakwan yang meriwayatkan melalui satu perantara.
Kemasyhuran qira’ah sab’ah (tujuh qira’ah yang diriwayatkan dari tujuh imam qira’ah di atas) diiringi oleh tiga qiraah lain yang diriwayatkan dari Abu Ja’far, Ya’kub, dan Khalaf (Thabathaba’i, 1998: 137-138).