Bab II GAMBARAN UMUM KOMPAS
A. SEJARAH DAN FALSAFAH
Harian Kompas adalah nama surat kabar Indonesia yang berkantor pusat di Jakarta. Kompas adalah bagian dari Kelompok Kompas Gramedia. Untuk memudahkan akses bagi pembaca di seluruh dunia, Kompas juga menerbitkan edisi bernama Kompas Cyber Media, berisi berita-berita yang diperbarui secara aktual. Berikut ini gambaran umum Surat Kabar Kompas:
1. Sejarah Singkat
Kompas terbit pertama kali pada tanggal 28 Juni 1965 di Jakarta. Para pendiri Kompas adalah PK.Ojong, Jacoeb Oetama dan beberapa jurnalis lain mantan pekerja majalah Intisari. Sebelum menempati kantor di percetakan PT.Kinta, awak redaksi dan wartawan Kompas melakukan aktivitas jurnalistiknya di rumah Jacoeb Oetama.
Kemunculan Kompas tidak lepas dari konstelasi politik waktu itu, dimana Soekarno sedang gencar-gencarnya melaksanakan Politik Demokrasi Terpimpin. Salah satu kebijakan Soekarno saat itu adalah monopoli partai dalam kehidupan sosial politik masyarakat termasuk dalam dunia pers. Dengan Peraturan Presiden no 6 tahun 1964, pers diharuskan menginduk pada salah satu partai politik.
Perang dingin antara Komunis dengan Angkatan Darat juga mendorong kelahiran Kompas. Menyadari bahaya Komunis, Letnan Jendral Ahmad Yani selaku Menteri Panglima Angkatan Darat mengungkapkan gagasan kepada Frans
commit to user
Seda selaku Menteri Perkebunan untuk menerbitkan Koran yang berani melawan Komunis. Frans Seda kemudian menghubungi I.J Kasimo dari (Parkindo) dan dua orang pengelola Intisari yakni P.K Ojong dan Jacoeb Oetama.
Mereka itu--yang satu berlatar belakang budaya Jawa dan memiliki latar belakang pendidikan humaniora yang kuat, yang satu lagi berlatar belakang Tionghoa-Sumatera Barat dan memiliki latar belakang pendidikan hukum yang tegas--lantas menggodok terbitnya sebuah surat kabar harian. PK Ojong dan Jakob Oetama, itulah dua perintis dan pendiri harian Kompas, sebuah surat kabar nasional dalam arti hadir di semua provinsi dan isinya mencoba mencakup peristiwa yang berskala nasional.
Pada awalnya koran yang akan terbit diberi nama Bentara Rakyat. Namun atas pertimbangan politis bahwa kata “rakyat”sudah dimanipulasi oleh gerakan Komunis dan seakan-akan menjadi istilah milik Komunis, maka atas usulan dari Soekarno diberi nama Kompas. Menurut Soekarno, nama Bentara Rakyat meski berarti pengawal rakyat, namun hal itu dirasa kurang jelas untuk menjelaskan visi dan misi para perintisnya. Sementara kata “Kompas” lebih jelas tujuannya yakni sebagai penunjuk arah. Bentara Rakyat kemudian diabadikan sebagai nama yayasan yang menaungi Kompas.
Pengurus yayasan Bentara Rakyat adalah : I.J. Kasimo (Ketua), Frans Seda (Wakil Ketua), F.C. Palaunsuka (Penulis I), Jakob Oetama (Penulis II), dan Auwjong Peng Koen (bendahara).
Di tengah media massa kala itu yang cenderung pro- komunis, Kompas lahir dan melawan arus dari kebanyakan. Selain diplesetkan sebagai Kompt Pas
commit to user
Morgen atau Kompas yang datang keesokan hari, karena sering terlambat terbit. Kompas juga dituduh sebagai corong umat katolik (yang memunculkan ejekan Kompas adalah singkatan dari Komando Pastur).
Pada tanggal 28 Juni 1965 terbit Kompas nomor percobaan yang pertama. Setelah tiga hari berturut-turut berlabel percobaan, barulah Kompas yang sesungguhnya beredar. Kompas pada edisi perdana terbit dengan menurunkan berita utama tentang KAA (Konferensi Asia Afrika) yang ditunda selama 4 bulan. Secara keseluruhan terbitan perdana Kompas terdiri dari 11 berita luar negeri dan 7 berita dalam negeri.Edisi perkenalan di kanan bawah juga menyertakan tagline: “Mari ikat hati mulai hari ini dengan Mang Usil”.
Tahun 1985, sesuai dengan aturan bahwa yayasan tidak bisa lagi menjadi penerbit, nama Yayasan Bentara Rakyat diganti menjadi PT Kompas Media
Nusantara.
Sejak tanggal 13 Maret 1990 Kompas terbit 16 halaman, jumlah halaman maksimum yang diijinkan pemerintah. Sejak 17 September 1978, selain edisi harian, Kompas juga menerbitkan edisi Minggu. Sejak 22 September 1993, tiga kali dalam seminggu Kompas menambah halamannya menjadi 20. Tiga tahun kemudian, tepatnya 8 April 1996, Kompas terbit 24 halaman.
Tahun 2007 Kompas rata-rata terbit 500.000 eksemplar per hari, yang pada penerbitan dalam rangka ulang tahun ke-40 tampil dengan wajah baru: lebih kecil, lebih compact, berwarna-warni, dengan penekanan pada jurnalisme visual tanpa meninggalkan jati diri Kompas. Desain ulang ini hasil konsultasi dengan seorang pakar desain, Mario Garcia, dari Amerika Serikat.
commit to user
Kalau pada awal kelahirannya hanya diawaki 15 wartawan, pada usia lepas 42 tahun ini Kompas memiliki 958 karyawan, 257 di antaranya wartawan. Jumlah itu merupakan sebagian dari sekitar 11.000 karyawan unit usaha dan kelompok usaha yang tergabung dalam Kompas Gramedia.
Sampai saat ini Kompas pernah dua kali dilarang terbit. Pertama, tanggal 2-5 Oktober 1965, ketika Kompas diminta untuk tidak terbit dulu sampai keadaan memungkinkan. Itu terjadi ketika beberapa hari setelah pemberontakan G30S tahun 1965, militer langsung memberedel koran-koran yang dinilai kiri seperti
Harian Rakyat, Bintang Timur, Warta Bhakti, dan Suluh Indonesia. Yang boleh
terbit hanya media militer seperti harian Angkatan Bersenjata, Berita Yudha, Kantor Pusat Pemberitaan Angkatan Bersenjata, dan LKBN Antara. Kompas
terbit kembali tanggal 6 Oktober 1965.
Pelarangan terbit kedua terjadi pada 21 Januari-5 Februari 1978. Kompas
yang dinilai meliput secara intensif gerakan mahasiswa 1977-1978 ditutup bersama Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The Indonesian Times, Sinar Pagi, dan
Pos Sore. Pada waktu bersamaan dilarang terbit juga sedikitnya tujuh penerbitan
pers mahasiswa di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Palembang.
Saat ini, dalam kaitan perluasan terbitan edisi Kompas, di empat daerah (Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Barat) diterbitkan tambahan 8 halaman. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memberikan tambahan informasi dan selaras dengan otonomi daerah. Terbit juga dua halaman tambahan edisi Sumatera Selatan dan Sumatera Utara, menggantikan dua halaman rubrik Metropolitan edisi nasional.
commit to user
Untuk menampung keinginan pembaca memperoleh informasi yang aktual, diterbitkan Kompas Update sejak 4 Januari 2008, dengan mengganti beberapa judul di halaman 1 dan 15. Namun, Kompas Update berubah menjadi
Kompas edisi siang sejak 1 April, tanpa ada berita yang diperbarui lagi. Dengan
berbagai pertimbangan, di antaranya kenaikan harga kertas yang mencapai 20 persen per Mei 2008, Kompas Update dihentikan penerbitannya tanggal 30 Juni 2008.
2. Falsafah
Harian umum Kompas adalah lembaga pers yang bersifat umum dan terbuka, tidak melibatkan diri dalam kelompok yang bersifat politik, agama, sosial, budaya, dan ekonomi. Kompas akan selalu berusaha secara aktif membuka interaksi positif dan dialog di antara kelompok-kelompok yang ada melalui persamaan asas-asas kemanusiaan yang disepakati. Cita-cita ini diwujudkan dalam sistem rekrutmen karyawan, khususnya wartawan, dengan tidak mempermasalahkan latar belakang, suku, agama, ras, dan keturunan tetapi lebih menekankan kemampuan intelektual dan karakter.
Humanisme transendental atau kemanusiaan yang beriman, yang berarti menempatkan nilai dan asas kemanusiaan sebagai nilai tertinggi, diterjemahkan dalam bidang kegiatan yang menunjang sepak terjang Kompas sesuai dengan konteks wilayah kerja masing-masing, meliputi unit Redaksi, Bisnis, Teknologi Informasi, Penelitian dan Pengembangan, dan Sumber Daya Manusia-Umum.
Selain modal dan teknologi serta aset lain (segala aset menurut teori ekonomi klasik serta informasi sebagai aset ekonomi moderen) sumber daya
commit to user
manusia menjadi aset yang terpenting. Sifat-sifat utamanya adalah pribadi yang memiliki kemampuan, kompetensi, dan karakter untuk suatu pekerjaan dan sepakat dengan sikap dan pandangan Kompas. Siapapun bisa bergabung di dalamnya sejauh memenuhi syarat secara profesional dan menerima nilai-nilai, visi, dan misi Kompas yang digagas dan dicoba diwujudkan sejak kelahirannya.
Dalam unit Redaksi dicoba disampaikan kualitas informasi dan jurnalistik yang berbobot melelui upaya intelektual yang penuh empati. Ciri pokok yang mengiringinya adalah pendekatan rasional, tetapi selalu berusaha untuk memahami jalan pikiran dan argumentasi lain; selalu berusaha mendukung persoalan dengan penuh pertimbangan, tetapi tetap kritis dan teguh pada prinsip; dan disampaikan dengan cara dan bahasa yang santun.
Selain karakter sebagai dasar aset manusia yang utama, perlu dikembangkan gaya manajemen yang tepat untuk menumbuhkan sistem kerja dan budaya kerja yang disemangati sikap profesional, serta mekanisme birokrasi yang bersifat kreatif, bukan birokrasi sebagai beban tambahan yang mematikan inisiatif. Sasarannya selalu mencari sesuatu yang lebih baik untuk memperbesar kemampuan menerjemahkan sasaran secara konkret, termasuk di dalamnya mengoreksi yang keliru dan membakukan apa yang sudah baik, mengelaborasi kelebihan yang lain, dan meminimalkan kekurangannya.