BAB III DOA DEVOSI DALAM GEREJA KATOLIK
B. Sejarah dan Latar Belakang doa devosi
Dalam mengembangkan hidup beriman jemaatnya, Gereja memiliki cara dan tradisi masing-masing sesuai dengan situasi dan kebutuhan jemaatnya. Walaupun Gereja memiliki cara dan tradisi yang disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan jemaatnya, dalam melaksanakan karya pastoralnya, Gereja juga tetap bertitik tolak dan belajar dari pengalaman para pendahulunya. Bahkan dapat dikatakan Gereja saat ini melanjutkan sebagian dari karya pastoral yang sudah dilakukan oleh Yesus Kristus dan para pengikut-Nya.
Doa Devosi juga menjadi salah satu bagian dari tradisi doa yang pernah dilaksanakan oleh Gereja, bahkan sampai saat ini masih tetap dilaksanakan dan dikembangkan terus-menerus oleh Gereja, sesuai dengan situasi dan kebutuhan jemaatnya.
Dalam melaksanakan dan mengembangkan doa Devosi ini, Gereja berlandaskan pada ajaran-ajaran dalam Kitab Suci. Kitab Suci diyakini sebagai pesan (wahyu) dari Allah, untuk semua umat manusia. Pengalaman iman bangsa
Israel keluar dari penjajahan bangsa Mesir dan melalui para nabi-nabi utusan dari Allah yang sudah dikisahkan dalam Kitab suci, membuat manusia menyadari bahwa Allah sangat peduli dalam kehidupan manusia.
Bertitik tolak dari pengalaman iman yang sudah dikisahkan dalam Kitab Suci tersebut, nampaklah bahwa hubungan Allah dengan manusia, mengandung unsur adanya kesetiaan. Allah yang begitu setia kepada manusia, juga menuntut manusia untuk mau setia kepada Allah. Bahkan tuntutan kesetiaan Allah kepada manusia secara konkret diwujudkan dalam bentuk perjanjian antara Allah dan manusia, yang saat ini dikenal dengan nama sepuluh perintah Allah. Dalam perjanjian tersebut, dapat dilihat bahwa Allah menghendaki manusia setia kepada ajaran-ajaran-Nya dan juga mencintai Allah secara sungguh-sungguh. Dan oleh Yesus Kristus ajaran-ajaran dan perintah untuk mencintai semakin disempurnakan dan lebih dikonkretkan lagi, yakni dengan mencintai mereka yang lemah, miskin dan tersingkir, bahkan yang memusuhi.
Ajaran untuk semakin mencintai dan setia kepada Allah, diwujudnyatakan secara konkret oleh para pengikut Kristus, dengan menghidupkan tradisi doa dan melaksanakan karya pastoral untuk semua orang, sesuai dengan situasi dan kondisi zamannya. Dan kelanjutan dari tradisi doa dan karya yang pernah dilakukan oleh para pengikut Kristus ini, semakin lama muncullah adanya praktek doa Devosi kepada Allah. Praktek doa Devosi ini terjadi dan berkembang terutama di daerah Yerusalem. Bahkan dari orang-orang Yerusalem inilah, awal istilah Doa Devosi dan juga praktek doa Devosi.
Pada awal mulanya yakni pada abad pertama, kedua dan ketiga, kehidupan Devosional bersifat sangat sederhana, yakni sebuah doa harian yang dilakukan oleh manusia untuk mengawali kegiatan hidupnya. Manusia sebelum melakukan aktifitas hidupnya, mengawali dengan sebuah doa yang spontan, sederhana dan kemudian diakhiri dengan doa Bapa Kami (Darminta, (1993) : Hal 65).
Kemudian pada abad ke 4, karena karya pastoral juga berkembang di zaman ini, sering terjadi bentrokan antara mereka yang menjadi pengikut Kristus dengan mereka yang anti terhadap Kristus. Bentrokan ini sering menimbulkan kekacauan dan korban nyawa pada para pengikut Kristus. Sejak saat itu penghormatan kepada mereka yang mati karena kristus ( martir ), berkembang dan mulai dilakukan oleh jemaat Kristiani pada zaman itu.
Para pengikut Kristus menganggap, para martir merupakan orang yang dipilih untuk berjuang bersama Allah. Bahkan perjuangannya sampai pada penyerahan nyawanya. Maka dari itu mereka begitu menghormati para martir ini. Para pengikut Kristus sering berkumpul mendoakan para martir yang telah meninggal, selain itu juga mengadakan penghormatan kepada barang-barang peningggalan para martir ini atau yang sering disebut dengan Relikwi.
Penghormatan kepada para martir dilakukan oleh jemaat Kristiani dengan berbagai macam cara. Selain dengan penghormatan kepada relikwi juga sering dilakukan peziarahan keamakam-makam para martir tersebut, untuk mendoakan mereka yang sudah meningggal karena membela imannya. Bahkan sering terjadi disaat para jemaat Kristiani berkumpul mendoakan para martir, juga dilakukan penghormatan kepada benda-benda peningggalan para martir tersebut.
Penghormatan tersebut dapat dilakukan dengan memasang gambar, atau arca para martir, bersujud mendoakan para martir, mencium benda-benda relikwi yang pernah dimiliki oleh para martir dan masih banyak lagi. Semua itu dilakukan sebagai tanda pengenangan akan jasa para martir tersebut.
Pengenangan jasa para martir melalui doa, kemudian menjadi salah satu bentuk dan cara parktek doa Devosi. Jadi pada zaman itu, praktek doa Devosi dilakukan, untuk mengenang jasa para martir yang telah membela imannya. Sampai pada abad ke delapan, praktek doa dan penghormatan untuk para martir berkembang pesat. Terutama setelah jenazah para martir dipindahkan ke basilika-basilika atau katakombe-katakombe, para jemaat Kristiani semakin banyak yang melakukan penghormatan dan sekaligus mendoakan para martir tersebut. Pada abad itu mulai dikembangkan juga penghormatan kepada Santa Perawan Maria, karena Maria dianggap sebagai orang yang suci dan setia kepada kehendak Allah, yakni dengan teladan dan perilaku hidupnya selama mendampingi Yesus putranya.
Pada perkembangan selanjutnya, untuk menghindari kekacauan dan adanya penyimpangan, maka Gereja mulai mengatur dan membuat kriteria-kriteria untuk menentukan siapa-siapa saja yang layak disebut sebagai suci atau kudus ( martir ). Hal ini dilakukan oleh Gereja untuk menghindari penyimpangan dan menetralisir anggapan sebagian besar masyarakat pada waktu itu, bahwa orang yang meningggal pastilah dapat dikatakan sebagai orang suci. Pada awalnya masing-masing kelompok jemaat di setiap keuskupan, berhak untuk menentukan para kudus, berdasarkan suara pilihan rakyat terbanyak. Dan pada tahun 1234 Gereja
memutuskan bahwa hanya Takhta Suci yang berhak untuk menyatakan orang ini dapat disebut sebagai orang kudus atau tidak (Darminta, (1993) : Hal 65-66).
Dalam buku Kehidupan Devosional Romo Darminta, SJ berpendapat, “Dibawah pengaruh para religius, terutama para religius dari mendikan, kesalehan populis berkembang kearah lebih bersifat individual dan lebih inderawi.” Jadi adanya kehidupan para religius, membuat semakin berkembang kehidupan Devosional ditengah jemaat Kristiani. Sebagai contoh antara lain kehidupan doa Devosi kepada sengsara Yesus, penghormatan kepada salib dan sengsara Tuhan, penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus, Devosi kepada Lima Luka Yesus, doa Jalan Salib, penghormatan kepada Bunda Maria, diperkenalkannya doa Salam Maria, doa Rosario dan masih banyak lagi.
Dari adanya berbagai bentuk praktek penghormatan kepada para martir inilah, kemudian muncul adanya berbagai macam bentuk doa devosi. Berbagai macam bentuk doa devosi ini, begitu hidup ditengah jemaat Kristiani, sebagai salah satu upaya untuk mengenang kembali dan melakukan penghormatan untuk para martir tersebut. Dalam prakteknya penghormatan melalui Doa devosi ini dilaksanakan secara pribadi maupun bersama-sama. Doa Devosi yang dilaksanakan secara bersama-sama membuat paguyuban-paguyuban menjadi hidup ditengah jemaat Kristiani perdana. Gereja kemudian menampung dan mengkoordinir doa Devosi yang dilaksanakan secara bersama-sama tersebut.
Karena adanya karya Roh Kudus dalam Gereja, maka doa Devosi menjadi semakin hidup dan berkembang ditengah kehidupan iman jemaat kristiani sampai sekarang. Dari adanya praktek doa devosi inilah, Gereja menjadi mempunyai
berbagai macam bentuk paguyuban yang hidup berlandaskan pada Injil. Jika suatu paguyuban sudah hidup berlandaskan pada ajaran Kitab Suci, maka orang-orang dalam paguyuban tersebut akan selalu hidup dalam kebenaran. Hidup dalam kebenaran inilah yang membuat paguyuban berkembang kesalehannya. Kesalehan itu nampak di mata jemaat kristiani dan juga di tengah masyarakat pada umumnya. Kesalehan yang nampak karena ketekunan dalam doa, akan bisa memberi kekuatan untuk melakukan karya pengabdian sosial untuk masyarakat.
C. Kehidupan Doa Devosi Pada Zaman Sekarang