BAB I PENDAHULUAN
2.2 Leasing
2.2.1 Sejarah, pengertian dan pengaturan leasing
Leasing adalah suatu bangunan hukum yang tidak lain merupakan improvisasi dari pranata hukum konvensional yang disebut "sewa-menyewa”, karena leasing ini dikembangkan dari sewa-menyewa dalam arti modern, pertama kali berkembang di Amerika Serikat, pada tahun 1850, yaitu telah tercatat adanya perusahaan leasing di bidang kereta api.
Selanjutnya, pada tahun 1877, The Bell Telephone Company memperkenalkan leasing di bidang pelayanan telepon kepada para pelanggannya. Dan agak lama setelah itu, yaitu dalam tahun 1952, perusahaan leasing di San Fransisco (USA) telah juga memperkenalkan leasing terhadap produk-produk tertentu.87 Selanjutnya pranata hukum leasing ini berkembang ke seluruh antero dunia seiring dengan arus globalisasi.
Di Amerika Serikat, perkembangan pranata hukum leasing ini cukup pesat. Selama dasawarsa 1980-an, volume leasing bertambah rata-rata 15% tiap tahunnya. Dan menjelang dasawarsa 1980-an tersebut, lebih kurang sepertiga dari pengadaan peralatan bisnis baru di sana dilakukan dalam bentuk leasing.
Demikianlah di USA, maka bank-bank dan perusahaan leasing hidup subur sebagai lessor. Di samping itu, bahkan perusahaan pemegang trademark terkenal juga ikut menjadi lessor. Tercatat
87Ahmad Muliadi, op.cit., Hal. 8-9.
misalnya, sejak dasawarsa 1980-an, perusahaan GATX merupakan lessor terbesar untuk leasing railcars. Sementara IBM merupakan lessor terbesar untuk leasing komputer. Dan, Xerox merupakan lessor terbesar pula untuk leasing mesin fotocopy.
Eksistensi pranata hukum leasing di Indonesia baru terjadi di awal dasawarsa 1970-an, dan baru diatur untuk pertama sekali dalam perundang-undangan Rl di tahun 1974. Beberapa peraturan di tahun 1974 tersebut merupakan tonggak sejarah perkembangan hukum tentang leasing di negeri ini. Peraturan-peraturan tersebut adalah :
(1) Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No. KEP-122/MKJ IV/2/1974, No. 32/M/SK/2/1974, No. 30/Kpb/l/1974, tertangal 7 Februari 1974 tentang Perizinan Usaha Leasing.88
(2) Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. KER 649/MK/IV/5/1974, tanggal 6 Mei 1974 tentang Perizinan Usaha Leasing.
(3) Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. Kep.
650/MK/IV/5/1974, tanggal 6 Mei 1974 tentang Penegasan ketentuan Pajak Penjualan dan Besarnya Bea Meterai Terhadap Usaha Leasing.
88Munir Fuady II, op.cit., Hal. 13.
(4) Pengumuman Direktur Jenderal Moneter Nomor: Peng-307/DJM/
III.1/7/1974, tanggal 8 Juli 1974 tentang Pedoman Pelaksanaan Peraturan Leasing.
Setelah berbagai aturan yang dikeluarkan di tahun 1974, ada beberapa peraturan lagi yang terbit di tahun-tahun kemudiannya. Dan, perkembangan sejarah bisnis leasing di Indonesia sangat terkait secara erat dengan aturan pemerintah yang tertuang dalam peraturan-peraturan tersebut.
Perkembangan leasing dalam sejarah di Indonesia tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam tiga fase sebagai berikut:
(1) Fase Pengenalan
Fase pertama yang merupakan fase pengenalan dari bisnis leasing di Indonesia terjadi antara tahun 1974 sampai dengan tahun 1983.
Fase pertama ini dimulai dengan keluarnya beberapa peraturan tahun 1974 yang khusus mengatur tentang pranata hukum leasing tersebut.
Dalam fase ini, leasing belum begitu dikenal masyarakat, dan perkembangannyapun tidak begitu pesat. Konsekuensinya, jumlah perusahaan leasing waktu itu belum seberapa dan jumlah transaksinyapun masih relatif kecil.
Sampai dengan tahun 1980, jumlah perusahan leasing hanya berjumlah 5 (lima) buah dengan besarnya kontrak 22,6 miliar rupiah.
Dan sampai dengan tahun 1984, jumlah perusahaan leasing
bertambah sehingga seluruhnya menjadi 48 buah dengan total kontrak 436,1 miliar rupiah.89
(2) Fase Pengembangan
Fase kedua yang merupakan fase pengembangan ini terjadi kira-kira antara tahun 1984 sampai dengan tahun 1990. Dalam fase kedua ini, bisnis leasing cukup pesat perkembangannya berba-rengan pesatnya pertumbuhan bisnis di Indonesia.
Ini terlihat misalnya pada indikator peran dan kontribusi leasing terhadap investasi nasional secara keseluruhan. Dalam hal ini, dari 2,60% di tahun 1986 misalnya, menjadi 6,32% di tahun 1989.
Demikian juga perkembangan perusahaan dan jumlah besarnya kontrak leasing, di mana jumlah perusahaan sebanyak 89 buah di tahun 1986, dengan nilai kontrak 645 miliar rupiah, bertambah menjadi seluruhnya 122 buah perusahaan di tahun 1990, dengan nilai kontraknya tidak kurang dari 4,061 triliun rupiah.
Pada fase kedua ini, beberapa segi operasionalisasi leasing telah berubah, misalnya dalam hal metode perhitungan penyusutan aset untuk kepentingan perpajakan. Hal ini akibat dari berlakunya Undang-Undang Pajak 1984. Sementara sistem pelaporan pajak dalam periode kedua ini masih memakai operating method seperti pada fase sebelumnya, tetapi dengan beberapa distorsi.
89Munir Fuady II, op.cit., Hal. 14.
(3) Fase Konsolidasi
Fase ketiga, yang merupakan fase konsolidasi dari perkembangan leasing di Indonesia ini, terjadi sejak tahun 1991 sampai sekarang.
Pada periode ini izin-izin pendirian perusahaan leasing yang sebelumnya agak diperketat, kemudian dibuka kembali. Perusahaan multi finance juga banyak didirikan pada periode ini. Dan, salah satu perubahan yang terjadi dalam fase konsolidasi ini adalah diubahnya sistem perpajakan, dari semula dengan operating method berubah menjadi financial method. Perubahan sistem perhitungan perpajakan ini mulai berlaku sejak 19 Januari 1991, berdasarkan ketentuan dalam SK Menteri Keuangan No. 1169/KMK.01/1991.90
Secara umum leasing merupakan suatu equipment funding, yaitu suatu kegiatan pembiayaan dalam bentuk peralatan atau barang modal untuk digunakan pada proses produksi suatu perusahaan.91
Beberapa pendapat mengenai definisi leasing :
Pada Pasal 1 Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, dan Menteri Perindustrian No. KEP.
122/MK//IV/2/1974, No. 32/M/SK/2/1974, dan No. 30/Kpb/1/1974 tertanggal 7 Pebruari 1974, menyebutkan bahwa leasing itu adalah :
"Setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu
90Munir Fuady II, op.cit., Hal. 15.
91Sunaryo, op.cit., Hal. 47.
perusahaan tertentu, berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala, disertai dengan hak pilih (optie) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama."
Equipment Leasing Association di London memberikan definisi sebagai berikut :
"Leasing adalah perjanjian antara lessor dan lessee untuk menyewa suatu jenis barang modal tertentu yang dipilih/ditentukan oleh lessee.
Hak pemilikan atas barang modal tersebut ada pada lessor sedangkan lessee hanya menggunakan barang modal tersebut berdasarkan pembayaran uang sewa yang telah ditentukan dalam suatu jangka waktu tertentu."
Menurut Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan dalam bukunya yang berjudul Aspek Yuridis Dalam Leasing, Leasing itu adalah Pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal dengan pembayaran secara berkala oleh perusahaan yang menggunakan barang-barang modal tersebut, dan dapat membeli atau memperpanjang jangka waktu berdasarkan nilai sisa.92
Menurut Munir Fuady dalam bukunya yang berjudul Hukum Tentang Pembiayaan Istilah leasing sebenarnya berasal dari kata lease,
92Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan Tunggal, op.cit., Hal. 8.
yang berarti sewa menyewa. Karena memang dasarnya leasing adalah sewa menyewa. Jadi Leasing merupakan suatu bentuk derivatif dari sewa menyewa. Tetapi kemudian dalam dunia bisnis berkembanglah sewa menyewa dalam bentuk khusus yang disebut leasing itu atau kadang-kadang disebut sebagai lease saja, dan telah berubah fungsinya menjadi salah satu jenis pembiayaan. Dalam bahasa Indonesia leasing sering diistilahkan dengan "sewa guna usaha.”93
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut di atas, maka pada prinsipnya dalam pengertian leasing itu terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut :
a. Pembiayaaan perusahaan. Pembiayaan di sini tidak dilakukan dalam bentuk sejumlah dana, tetapi dalam bentuk peralatan atau barang modal yang akan digunakan dalam proses produksi.
b. Penyediaan barang-barang modal. Peralatan atau barang modal ini biasanya disediakan oleh pabrikan atau supplier atas biaya dari lessor untuk dipergunakan oleh lessee.
c. Jangka waktu tertentu. yaitu lamanya waktu leasing yang dimulai sejak diterimanya barang modal oleh lessee sampai dengan perjanjian berakhir.
d. Pembayaran kembali secara berkala. Lessee membayar harga barang- modal kepada lessor secara angsuran, sebagai imbalan penggunaanbarang modal berdasarkan perjanjian Leasing.
93Munir Fuady II, op.cit., Hal. 7.
e. Hak opsi untuk membeli barang modal. lessee mempunyai hak untuk menentukan apakah dia ingin membeli barang modal tersebut, memperpanjang leasing ataukah mengembalikan barang modal tersebut kepada lessor.
f. Adanya nilai sisa yang disepakati bersama (residu). Yaitu nilai barang modal pada akhir masa sewa guna usaha yang telah disepakati oleh lessor dengan lessee pada awal masa sewa guna usaha/leasing.94
Peraturan tentang leasing yang berlaku masih sangat sederhana, dan pelaksanaan sehari-hari didasarkan pada kebijaksanaan yang tidak bertentangan dengan Surat Keputusan Menteri yang ada.
Surat Keputusan Tiga Menteri tahun 1974 mengenai leasing adalah peraturan pertama yang khusus dikeluarkan untuk itu. Surat Keputusan itu dan lain-lain peraturan yang dikeluarkan belakangan untuk mengatur perihal perjanjian-perjanjian dan kegiatan-kegiatan leasing di Indonesia, terutama bersifat administratif dan obligatory atau bersifat memaksa.
Menurut Munir Fuady yang merupakan alas hukum pokok leasing di indonesia adalah asas kebebasan berkontrak, seperti yang terdapat dalam 1338 KUH Perdata. Sepanjang memenuhi syarat seperti yang diatur oleh perundang-undangan, maka leasing berlaku dan ketentuan
94Sunaryo, op.cit., Hal. 48.
tentang perikatan seperti yang terdapat dalam buku ketiga KUH Perdata, berlaku juga untuk leasing.95
Adapun sumber hukum yang lebih luas dan mendalam yang melandasi perjanjian lease atau kegiatan leasing di Indonesia Menurut Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan dibagi menjadi 2, yaitu sumber hukum yang umum dan yang khusus, antara lain :
a. Umum (general) :
1) Asas Konkordansi Hukum berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 atas Hukum Perdata yang berlaku bagi penduduk Eropa.
2) Pasal 1338 KUH Perdata mengenai Asas Kebebasan Berkontrak serta asas-asas persetujuan pada umumnya sebagaimana96 tercantum dalam Bab I Buku III KUH Perdata. Pasal ini memberikan kebebasan kepada semua pihak untuk memilih isi pokok perjanjian mereka sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan undang-undang, kepentingan/kebijaksanaan umum (public policy) dan kesusilaan.
3) Pasal 1548 sampai 1580 KUH Perdata (Buku III Bab VII). yang berisikan ketentuan-ketentuan tentang sewa-menyewa sepanjang tidak diadakan penyimpangan oleh para piliak. Pasal-pasal ini membahas hak dan kewajiban lessor dan lessee.
b. Khusus (specific) :
95Munir Fuady II, op.cit., Hal. 6.
96Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan Tunggal, op.cit., Hal. 11.
1) Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia No.
KEP.-122/MK/IV/2/1974, No. 32/M/SK/2/1974, No. 30/Kpb/I/1974 tertanggal 7 Pebruari 1974 tentang Perizinan Usaha Leasing.
2) Surat Keputusan (SK) Menteri Keuangan Republik Indonesia No.
KEP. 649/MK/IV/5/1974 tertanggal 6 Mei 1974, tentang Perizinan Usaha Leasing.
3) Surat Keputusan (SK) Menteri Keuangan Republik Indonesia No.
KEP. 650/MK/IV/5/1974 tertanggal 6 Mei 1974. tentang Penegasan Ketentuan Pajak Penjualan dan Besarnya Bea Meterai Terhadap Usaha Leasing.
4) Surat Edaran Direktur Jenderal Moneter No. PENG.-307/
DJM/III.1/7/1974 tertanggal 8 Juli 1974, tentang : i. Tata cara perizinan
ii. Pembatasan usaha iii. Pembukuan
iv. Tingkat suku bunga v. Perpajakan
vi. Pengawasan dan pembinaan
5) Surat Keputusan Menteri Perdagangan No. 34/KP/II/80 tertanggal 1 Pebruari 1980, mengenai lisensi/perizinan untuk97 kegiatan usaha
97Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan Tunggal, op.cit., Hal. 12.
sewa-beli (Hire Purchase), jual-beli dengan Angsuran/Cicilan (Sale and Purchase by Installment), dan sewa-menyewa (Renting).
6) Surat Edaran Dirjen Moneter Dalam Negeri No. SE. 4815/ MD/1983 tertanggal 31 Agustus 1983 tentang ketentuan Perpanjangan Izin Usaha Perusahaan Leasing dan Perpanjangan Penggunaan Tenaga Warga Negara Asing pada Perusahaan Leasing.
7) Surat Edaran Dirjen Moneter Dalam Negcri No. SE. 4835/ MD/1983 tanggal 1 September 1983 tentang Tata Cara dan Prosedur Pendirian Kantor Cabang dan Kantor Perwakilan Perusahaan Leasing.
8) Surat Keputusan (SK) Menteri Keuangan Republik Indonesia No. S.
742/MK. 011/1984 tanggal 12 Juli 1984 mengenai PPh Pasal 23 atas Usaha Financial Leasing.
9) Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pajak No. SE. 28/PJ. 22/ 1984 tanggal 26 Juli 1984 mengenai PPh Pasal 23 atas Usaha Financial Leasing.
Selain sumber hukum tersebut di atas, menurut Munir Fuady terdapat pula beberapa alas hukum lainnya, di antaranya yang terpenting adalah :
(1) Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep-38/MK/IV/1/1972, tentang Lembaga Keuangan, yang telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 562/KMK/011/1982.
(2) Keputusan Presiden Rl, No. 61 Tahun 1988, tentang Lembaga Pembiayaan.
(3) Keputusan Menteri Keuangan Rl No. 448/KMK.17/2000 tentang Pembiayaan Perusahaan.
(4) Keputusan Menteri Keuangan Rl, No. 634/KMK.013/1990, tentang Pengadaan Barang Modal Berfasilitas Melalui Perusahaan Sewa Guna Usaha (Perusahaan Leasing).
(5) Keputusan Menteri Keuangan Rl No. 1169/KMK.01/1991, tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha (Leasing).
(6) Keputusan Menteri Keuangan Rl No. 84/PMK.012/2006, tentang Perusahaan Pembiayaan.98
Dengan demikian maka untuk pembuatan perjanjian Leasing yang harus mengatur hak, kewajiban dan hubungan hukum antara pihak-pihak yang bersangkutan, selain dari peraturan-peraturan dan pedoman-pedoman tersebut di atas, juga harus berpegang pada asas-asas dan ketentuan-ketentuan hukum yang terdapat di dalam Undang-Undang, dalam hal ini Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Yurisprudensi-yurisprudensi yang ada dan atau yang dituruti di Indonesia serta praktek-praktek bisnis yang telah berkembang menjadi kebiasaan.99