• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Perkembangan Industri Logam Dasar Besi dan Baja

IV. GAMBARAN UMUM

4.2 Sejarah Perkembangan Industri Logam Dasar Besi dan Baja

4.2.1. Periode Antara 1950-1960

Perkembangan industri masih berat sebelah karena perindustrian masih berorientasi pada barang-barang konsumsi yang sebagian besar bahan baku atau penolong masih harus di impor dari luar negeri. Pertumbuhan industri di sektor pembuatan barang-barang modal (capital goods atau mesin-mesin) atau perindustrian kimia dasar dilakukan untuk membantu mengurangi ketergantungan dari luar negeri, namun hal ini kurang mendapat perhatian yang semestinya. Akibatnya pertumbuhan industri tidak terarah dan tidak seimbang sehingga impor bahan baku, penolong atau mesin-mesin masih dirasakan sebagai beban yang berat (kurang lebih 35 persen dari devisa untuk impor).

Bahan baku atau penolong yang diperlukan untuk aktivitas industri besi baja masih harus di impor dari luar negeri. Hal ini akan mengganggu kontinuitas produksi karena membutuhkan stok bahan baku atau penolong yang sangat banyak sedangkan devisa Indonesia masih terbatas. Dengan demikian, pada tahun 1955 pemerintah mulai memikirkan untuk membangun industri besi baja dengan menunjuk sebuah firma dari Jerman Barat yang bergerak dalam bidang Engineering dan Consulting untuk mengadakan survey dan mempelajari kemungkinan didirikannya industri besi baja yang didasarkan pada bahan baku dalam negeri yang bisa diperoleh.

Hasil yang diperoleh dari penyelidikan-penyelidikan tersebut memberikan saran-saran untuk mendirikan tiga buah pabrik yang mempunyai keseluruhan hasil produksi 300.000 ton/tahun dan sebuah tanur tinggi (Blast Furnace) di Lampung dengan kapasitas produksi 35.000 ton/tahun. Pada periode 1950-1960 telah didirikan sebuah Reroller (1956) yang mempunyai kapasitas permulaan sebesar 5.000 ton/tahun.

4.2.2. Periode Antara 1960-1965

Setelah pemerintah menerima hasil survey sebuah Firma Jerman Barat yang bergerak dalam bidang Engineering dan Consulting yang ditunjuk pemerintah untuk survey dalam mendirikan industri besi dan baja di Indonesia. Maka pada tahun 1960, terdapat tiga proyek yang direncanakan untuk direalisir yakni tanur tinggi di Lampung, pabrik baja di Cilegon dan sebuah pabrik integrasi yang terletak di Kalimantan Selatan dengan menggunakan bahan baku dari dalam negeri.

Tanur tinggi di Lampung, direncanakan untuk menghasilkan 35.000 ton setiap tahunnya dengan memakai biji besi lokal serta double coke dari batu bara Bukit Asam sebagai bahan baku. Persiapan telah diadakan pada awal 1960 akan tetapi proyek ini tidak terealisasikan. Pada tahun 1962, realisasi pembangunan pabrik besi baja tersebut dilaksanakan dan direncanakan akan selesai pada tahun 1968 tetapi pembangunannya terhenti pada tahun 1965 karena meletusnya pemberontakan G30S PKI.

4.2.3. Periode Antara 1965-1997

Tahun 1965 merupakan sejarah baru bagi negara dan bangsa Indonesia karena tumbangnya orde lama dan digantikan oleh orde baru. Tahun 1966 pemerintah menitikberatkan pada rehabilitasi ekonomi, stabilisasi moneter, produksi pangan dan pembangunan fasilitas-fasilitas infrastruktur untuk mendukung produksi pangan nasional. Pada tahun 1967, Undang-Undang Penanaman Modal Asing dikeluarkan dan tahun 1968 dilanjutkan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri. Kedua Undang-Undang tersebut sebagai perangsang bagi pemilik modal untuk berinvestasi di Indonesia.

Untuk melanjutkan program pembangunan tersebut maka pada tanggal 20 Desember 1967 dikeluarkan Instruksi Presiden untuk merubah Proyek Baja Trikora menjadi bentuk Perseroan Terbatas (PT) dengan nama PT Krakatau Steel yang diresmikan pada tanggal 27 Oktober 1971 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 tanggal 31 Agustus 1970. Proyek baja Kalimantan yang telah diintegrasikan direncanakan untuk memberikan hasil produksi permulaan sebesar

250.000 ton baja/tahun. Berbagai penyelidikan dilaksanakan dan beberapa pengusaha swasta melakukan survey terhadap kemungkinan pembangunan sebuah pabrik baja.

Pada bulan april 1969, pemerintah memulai Repelita pertama dimana difokuskan pada produksi pangan terutama produksi beras, meningkatkan ekspor dan membangun fasilitas-fasilitas infrastruktur yang harus saling menunjang. Akibatnya pemakaian baja meningkat secara mencolok sehingga terjadi perkembangan yang pesat di pasaran baja. Hal ini menarik perusahaan-perusahaan untuk menanamkan modalnya pada sektor ini. Banyaknya jumlah perusahaan yang bergerak dalam bidang ini dari tahun ke tahun semakin meningkat. Proyek- proyek pembangunan di dalam telah berjalan dengan baik sehingga terdapat peningkatan konsumsi besi baja. Oleh karena itu, kondisi industri besi baja nasional menunjukkan hasil yang baik. Pada tahun 1985, industri besi baja nasional mulai melakukan ekspor perdana yang dilakukan oleh PT. Krakatau Steel ke beberapa negara seperti Jepang, Amerika, Inggris, India, China, Timur Tengah, dan Korea. Hingga tahun 1995, industri besi baja Indonesia terus mengadakan proyek-proyek perluasan industrinya.

4.2.4. Periode Antara 1997-2007

Tahun 1997 merupakan tahun awal terjadinya krisis ekonomi yang melanda beberapa negara Asia yang juga melanda Bangsa Indonesia. Krisis ekonomi berdampak buruk terhadap perkembangan sektor industri terutama perkembangan industri manufaktur karena kebanyakan berbahan baku impor yang tinggi sehingga menyebabkan industri ini cukup sulit untuk mempertahankan

produksinya. Krisis ekonomi menyebabkan fluktuasi nilai tukar yang tajam, hal ini mengakibatkan industri mengalami pertumbuhan negatif.

Tabel 4.1. Pertumbuhan Subsektor Industri Pengolahan Indonesia Tahun 1996- 2000

Pertumbuhan Subsektor Industri Pengolahan Subsektor

1996 1997 1998 1999 2000

Makanan, Minuman, dan Tembakau 17,2 14,9 -3,1 5,3 0,7

Tekstil, Barang kulit dan alas kaki 8,7 -4,4 -14,0 8,0 10,5 Barang kayu dan hasil hutan lainnya. 3,2 -2,1 -26,0 -13,7 6,1

Kertas dan barang cetakan 6,9 9,0 -5,4 3,2 10,2

Pupuk Kimia dan Barang dari Karet 9,0 3,4 -15,0 9,8 12,8 Semen dan barang galian Non Logam 11,0 4,5 -30,5 5,3 7,3

Logam Dasar Besi dan Baja 8,0 -1,4 -25,6 -1,1 16,2

Alat angkut, Mesin dan peralatan 4,6 -0,4 -52,6 -10,3 51,5

Barang lainnya 9,7 6,0 -34,7 -2,8 8,1

Total 11,7 7,4 -14,4 3,8 7,2

Sumber : BPS, 1996-2000

Krisis ekonomi berdampak kurang baik bagi kondisi industri besi baja di Indonesia karena dengan krisis ekonomi menyebabkan adanya kenaikan biaya- biaya input produksi yang sangat besar sehingga dengan krisis ekonomi jumlah perusahaan dan tenaga kerja industri besi baja di Indonesia mengalami penurunan. Sejak terjadinya krisis ekonomi hingga tahun 1999, kondisi industri besi baja belum menunjukkan perbaikan yang baik. Di tahun 2000, walaupun terjadi penurunan jumlah unit usaha akan tetapi kondisi industri besi baja nasional secara keseluruhan sudah menunjukkan adanya perbaikan ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik seiring dengan berjalannya proyek-proyek pembangunan kembali infrastruktur yang rusak. Pada tahun 2001 hingga saat ini, industri besi baja nasional sangat terancam dengan masuknya produk-produk baja ilegal dan produk baja dengan harga dumping karena menyebabkan adanya persaingan usaha yang tidak sehat. Berbagai kasus mengenai adanya produk baja dumping dan ilegal ini telah ditangani oleh Komite Anti Dumping Indonesia (KADI).

Pada tahun 2003, beberapa negara seperti China, Irak, dan Rusia sedang giat-giatnya dalam melakukan pembangunan sehingga hampir sebagian besar bahan baku baja terserap untuk keperluan pembangunan negara tersebut. Menurut laporan Komite Studi Ekonomi Internasional Iron and Steel Institute (IISI) bahwa pada tahun 2003, impor besi baja China mencapai 257 juta ton/tahun atau naik hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2000 yang mencapai 142 juta ton/tahun. China menyerap sepertiga dari total impor besi baja dunia. Hingga tahun 2004, konsumsi baja China meningkat kembali menjadi 290 juta ton/tahun (warta ekonomi, 2006). Hal ini menyebabkan telah terjadi kelangkaan bahan baku baja untuk keperluan produksi industri besi baja Indonesia. Besarnya permintaan bahan baku baja menyebabkan terjadinya kenaikan harga bahan baku baja tersebut sehingga dapat berpengaruh pada aktifitas produksi industri besi baja dalam negeri yang sebagian besar bahan bakunya impor. Barulah diawal tahun 2006, China mengalami kelebihan pasokan besi baja hasil produksi yang berlebihan sehingga banyak produk-produk baja China yang masuk ke Indonesia dan diketahui ada beberapa produk disalurkan dengan harga dumping. Tahun 2006, dikabarkan bahwa China mengalami kelebihan pasokan sebanyak 116 juta ton (Kompas, 2006).

4.3. Regulasi Pemerintah Terhadap Industri Logam Dasar Besi dan Baja