PT. Armada Indonesia (PT. AI) merupakan perusahaan berskala menengah yang bergerak dalam bidang pertambangan, industri, perkebunan dan perdagangan. Bidang usaha yang digeluti antara lain sengonisasi, tambak udang, batu bara, dan pengembangan tanaman jarak pagar. Namun dalam perkembangannya usaha-usaha tersebut mengalami kendala- kendala dalam mempertahankan kinerja.
Pengembangan tanaman jarak pagar adalah usaha yang terakhir digeluti, dan pada saat ini sedang membutuhkan strategi-strategi untuk pengembangan usaha mengingat tanaman jarak pagar menjadi bahan baku substitusi dalam pembuatan biodiesel. Perusahaan ini didirikan oleh Bapak R. Pandji Adjar Kartanegara pada tahun 1963 bertempat di jalan Cikiray Rambay Villa No. 45, Cisaat, Sukabumi berdasarkan Alter Perseroan Terbatas, Firma, atau Komanditer dan Perkumpulan Koperasi dengan No. 17 tahun 1963. Awal mula berdirinya perusahaan ini dilatarbelakangi oleh adanya lahan yang sangat luas yang dimiliki oleh Bapak R. Pandji di berbagai tempat di Jawa Barat. Lahan-lahan tersebut memiliki potensi yang sangat tinggi untuk pemanfaatan usaha khususnya di bidang agribisnis.
Pada tahun 2005, PT. AI melihat adanya peluang mengembangkan tanaman jarak pagar untuk dijadikan sebagai bahan substitusi dalam pembuatan biodiesel. Seperti yang telah diketahui bahwa biodiesel saat ini menjadi isu dunia karena dinilai sebagai bahan bakar hayati yang ramah lingkungan selain mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Oleh karena itu, PT. AI menangkap
peluang dengan memulai usaha tersebut dengan memanfaatkan lahan masyarakat sebesar 12.000 Ha di Kecamatan Malingping dan Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten, Jawa Barat. Pemanfaatan lahan ini dinilai relevan karena lahan tersebut merupakan lahan kritis dan potensial untuk menanam tanaman jarak pagar.
Bapak R. Pandji menjalankan PT. AI memutuskan untuk mengikutsertakan putra-putrinya karena beliau berpendapat bahwa Perusahaan ini diharapkan dapat diturunkan kepada putra- putrinya kelak, sekaligus ingin memberdayakan putra-putrinya yang memiliki kemampuan dari berbagai macam disiplin ilmu yang diperoleh sehingga dapat menjadi motor penggerak perusahaan. Hal ini sangat terlihat dalam struktur organisasi perusahaan dimana putra-putri Bapak R. Pandji menduduki posisi strategis dalam perusahaan seperti posisi Direktur.
PT. AI menanam tanaman jarak pagar dilahan seluas 12.000 Ha dan disandingkan dengan tanaman jagung melalui sistem tumpang sari kedelai dan kacang tanah. Dalam pelaksanaannya, Bapak R. Pandji ikut memberdayakan masyarakat sekitar sebagai tenaga kerja sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar lahan penanaman tersebut. Saat ini, PT. AI hanya berkonsentrasi pada pengembangan tanaman jarak pagar, dan hanya menjual hasil panen berupa biji jarak. PT. AI belum dapat mengolah menjadi biodiesel karena belum memiliki fasilitas ataupun peralatan yang memadai untuk melakukan proses tersebut. Target konsumen yang dibidik oleh PT. AI adalah perusahaan yang mengolah biodiesel khususnya Perusahaan Listrik Negara (PLN). PT. AI
pun tidak melakukan distribusi karena menurut Bapak R. Pandji telah ada perjanjian terlebih dahulu dengan pihak konsumen walaupun secara tidak tertulis.
Permasalahan muncul ketika hasil panen yang telah ada, tidak dapat diterima oleh pihak konsumen dengan alasan standard biji jarak yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang diinginkan sehingga hasil panen terbengkalai begitu saja hingga saat ini. Lagipula, konsumen tidak sanggup menampung biji jarak yang begitu banyak karena saat ini masih sebatas pengembangan.
5.2. Visi, Misi, dan Tujuan Perusahaan
PT. Armada Indonesia mempunyai visi menjaga lingkungan yang lestari dan misi perusahaan adalah mensejahterakan perusahaan dan masyarakat. Sedangkan tujuan perusahaan adalah membuka peluang usaha di bidang Agribisnis yang produktif dan menguntungkan.
5.3. Struktur Organisasi Perusahaan
Sebagai perusahaan keluarga yang berskala menengah, maka PT. AI memiliki struktur organisasi yang sederhana. Struktur organisasi tersebut dibentuk dan didasari atas Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Struktur Organisasi PT. AI dapat dilihat pada Gambar 6 halaman 56.
Gambar 6. Struktur Organisasi PT, Armada Indonesia
Sumber: PT. Armada Indonesia, 2007
Dalam menjalankan usahanya, PT. AI tidak memiliki karyawan, peusahaan lebih memilih untuk menyebut pekerja. Bertindak selaku Presiden Komisaris yaitu Bapak Moeslimin, selaku Komisaris yaitu Bapak Suhadi Wira Subrata dan Raden Adang Ganda Suntara yang seluruhnya tergabung dalam Dewa Komisaris. Bapak R. Pandji sendiri bertindak sebagai Presiden Direktur selaku pengambil keputusan. Posisi Direktur yang menjalankan aktifitas perusahaan diduduki oleh Bapak Mohamad Kusnan. Direktur I yang menjalankan proses pemasaran ditempati oleh putra dari Bapak R. Pandji yaitu R. Deny Fajar Pramudya dan Direktur II yang menjalankan aktifitas keuangan perusahaan ditempati oleh putri Bapak R. Pandji yaitu R. Pursita Ayu Gandari.
Presiden Direktur
Direktur
Direktur I
Direktur II
Pekerja
Dewan Komisaris
5.4. Aktifitas Perusahaan
Aktifitas PT. AI pada pengembangan tanaman jarak pagar dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu pengadaan bibit, produksi dan penjualan. Proses pengadaan bibit merupakan kegiatan yang penting karena menjadi awal penentu mutu tanaman jarak yang akan dipanen. Bibit tanaman jarak pagar yang akan ditanam diperoleh dengan cara pembelian bibit di Departemen Pertanian dengan harga satuan sebesar Rp. 500. Dalam pengadaan bibit, PT. AI tidak memiliki standard kualitas khusus yang ditetapkan. Hal inilah yang kemudian menjadi masalah yang sangat krusial karena konsumen pada akhirnya hanya menginginkan hasil panen tanaman jarak yang berasal dari bibit berkualitas.
Proses produksi yang terdiri dari penanaman dan pemanenan dilakukan setelah pengadaan bibit tersebut diatas. Siklus tanam tanaman jarak pagar dalam kurun waktu satu tahun dapat dilaksanakan tiga kali penanaman. Setiap empat bulan sekali tanaman jarak dapat dipanen. Proses ini dilakukan oleh masyarakat sekitar sebagai pekerja tetap denngan pengawasan oleh Direktur I dan juga dengan sistem kepercayaan. Begitu pula halnya dengan proses pemanenan dilaksanakan oleh masyarakat sekitar dengan pengawasan Direktur I.
Proses penjualan setelah pemanenan dilakukan secara langsung yaitu konsumen secara langsung datang dan membeli hasil panen Proses penjualan ini dilaksanakan langsung oleh Direktur I dan juga diawasi oleh Presiden Direktur secara langsung.
VI. IDENTIFIKASI FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL PERUSAHAAN
6.1. Faktor Internal Perusahaan
Identifikasi Faktor-faktor internal perusahaan dilakukan dengan menentukan faktor-faktor yang terdapat di dalam perusahaan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan dalam proses penyusunan strategi sehingga perusahaan- perusahaan yang ada di dalam industri dapat memanfaatkan kekuatan dan mengatasi kelemahan yang ada. Faktor-faktor internal yang terdapat dalam perusahaan dapat dikelompokkan menjadi : (1) manajemen, (2) pemasaran, (3) keuangan, (4) produksi dan operasi, (5) penelitian dan pengembangan
6.1.1. Manajemen
PT. Armada Indonesia menerapkan sistem manajemen yang terbuka dengan memasukkan anggota keluarga pada posisi-posisi strategis di perusahaan. Dalam menjalankan kegiatan produksi yang meliputi penanaman dan pemanenan PT. AI menggunakan sumberdaya masyarakat sekitar daerah tanam dengan tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat yang juga merupakan misi dari PT. AI sendiri. Masyarakat setempat pun menyambut hal ini dengan sangat baik dan bersedia menjalankan tugas yang diinstruksikan oleh perusahaan.
Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan perkembangan suatu usaha. Keragaan sumberdaya manusia meliputi jumlah pekerja, tingkat pendidikan, dan spesialisasi tugas. Para pekerja yang juga merupakan masyarakat setempat berjumlah sekitar 12.000 KK (60.000 jiwa). Apabila seluruh proses berjalan dengan semestinya maka setiap kepala keluarga akan mendapat penghasilan tambahan sebesar Rp. 600.000 setiap bulannya.
Pada sistem manajemen PT. AI sendiri sudah mempunyai job description
yang jelas sehingga penerapan fungsi-fungsi manajemen dapat berjalan dengan baik. Hal ini sangat membantu terhadap aktifitas keseluruhan perusahaan sehingga sistem manajemen dapat terlaksana dengan baik.
Dalam hal manajemen, PT. AI memiliki kekuatan berupa telah adanya job description pada sistem manajemen sehingga seluruh aktifitas perusahaan dapat terlaksana dengan baik. Kelemahan dalam manajemen PT. AI yaitu kualitas sumberdaya manusia dan tingkat pendidikan pekerja yang masih rendah. Hal ini disebabkan pekerja yang direkrut oleh PT. AI berasal dari masyarakat sekitar yang tingkat pendidikannya rata-rata masih rendah.
6.1.2. Pemasaran
Pemasaran merupakan proses menetapkan , mengantisipasi, menciptakan, dan memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen terhadap produk dan jasa. Pemasaran merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam pengembangan usaha. Beberapa aspek pemasaran adalah produk, harga, tempat penjualan, dan promosi.
Produk yang dipasarkan oleh PT. AI adalah berupa biji tanaman jarak pagar siap giling sebagai bahan baku untuk pembuatan biodiesel. Pemasaran biji tanaman jarak pagar tersebut dilakukan PT. AI dengan cara langsung tanpa melakukan distribusi yaitu konsumen atau pembeli yang datang langsung untuk membeli produk. Sampai saat ini, konsumen yang telah berinteraksi langsung dengan perusahaan melalui perjanjian kontrak tidak langsung adalah PLN (Perusahaan Listrik Negara). PT. AI belum melakukan proses pemasaran melalui media internet ataupun media yang lainnya karena perusahaan memiliki
kelemahan dalam bidang akses dan komunikasi. Harga jual yang ditetapkan oleh perusahaan untuk setiap satu kilogram biji jarak pagar adalah sebesar Rp. 850.
PT. AI tidak melakukan proses promosi secara aktif. Kegiatan promosi pada umumnya berjalan dengan sendirinya karena konsumen mendapat informasi melalui mulut ke mulut ataupun melalu pihak perusahaan yang memang mempunyai hubungan langsung ataupun tidak langsung dengan konsumen sehingga konsumen mengetahui bahwa PT. AI menjual biji jarak pagar.
6.1.3. Keuangan
Modal awal yang digunakan perusahaan untuk menjalankan usahanya berasal sepenuhnya dari masing-masing pihak yang menanam saham pada perusahaan tersebut. Pemilik saham perusahaan terbesar dimiliki oleh R. Pandji yaitu sebesar 50%, Muslimin sebesar 20%, Suhadi sebesar 15%, dan Sarjoen, M. Kusnan, R. Adang Ganda Suntara berturut-turut sebesar 5%, 8%, dan 2%.
Selama perusahaan beroperasi, perusahaan belum pernah meminjam modal usaha kepada Bank ataupun lembaga pemberi modal lainnya. Hal ini disebabkan karena perusahaan tidak ingin mengambil risiko dan tidak ingin merasa terbebani dengan adanya peminjaman tersebut. Perusahaan lebih memilih sistem kerjasama dengan investor untuk menjalankan usahanya.
6.1.4. Produksi dan Operasi
Proses produksi dan operasi di dalam suatu perusahaan merupakan seluruh aktifitas yang merubah input menjadi output yang berupa barang dan jasa. Bahan baku utama yang dibutuhkan perusahaan adalah berupa bibit tanaman jarak, pupuk, dan pestisida. Bibit tanaman jarak pagar diperoleh melalui Departemen Pertanian seharga Rp. 500 per anakan, sedangkan pupuk dan pestisida diperoleh
melalui berbagai tempat penjualan bahan pertanian seharga Rp. 50 per 0,5 liter untuk pestisida, Rp. 300 untuk pupuk kandang per satu kilogram dan Rp. 1500 per satu kilogram untuk pupuk majemuk.
Perusahaan memperoleh nilai tambah dari sistem kerjasama dengan masyarakat sekitar. Nilai tambah tersebut adalah perusahaan tidak perlu menyediakan peralatan untuk proses produksi karena peralatan tersebut dimiliki oleh masing-masing masyarakat. Tenaga kerja yang diperlukan dalam proses produksi per satu hektar lahan yaitu sebanyak 2 (dua) orang sedangkan rata-rata kapasitas produksi adalah 1-2 ton per hektarnya. Dalam menjalankan proses produksi dan operasinya, perusahaan menetapkan target produksi tidak berdasarkan permintaan pasar melainkan berdasarkan luasan lahan tanam. Hal ini dilakukan berdasarkan pertimbangan perusahaan mengejar target panen untuk menambah persediaan.
6.1.5. Penelitian dan Pengembangan
Penelitian dan pengembangan dalam suatu perusahaan sangat diperlukan dalam mendukung hasil produksi yang telah ada. Penelitian dan pengembangan memungkinkan perusahaan untuk melakukan serangkaian inovasi dalam rangka menyempurnakan produk yang dihasilkan.
Kegiatan penelitian dan pengembangan pada PT. AI secara struktural tidak tersurat, namun kegiatan tersebut dilakukan secara terus menerus oleh putra- putri pemilik perusahaan yang memiliki latar belakang pendidikan sarjana teknik dari ITB yang juga dipadukan dengan orang-orang kepercayaan Bapak R. Pandji yang telah bergelut dan berpengalaman di bidang pertanian sejak dahulu.
6.2. Faktor Eksternal Perusahaan
Analisis faktor eksternal dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan dan faktor-faktor ancaman yang harus dihindari dalam menyusun statu strategi. Faktor-faktor eksternal perusahaan dapat dikelompokkan menjadi lingkungan umum, lingkungan operasional, dan lingkungan industri.
6.2.1. Lingkungan Umum
Lingkungan umum adalah lingkungan luar atau lingkungan jauh dari perusahaan. Linkungan umum merupakan suatu tingkatan dalam lingkungan eksternal organisasi yang menyusun faktor-faktor yang memiliki ruang lingkup luas dan faktor-faktor tersebut pada dasarnya berada di luar operasi perusahaan. Lingkungan umum terdiri dari politik dan kebijakan pemerintah, ekonomi, sosial, dan teknologi.
6.2.1.1. Faktor Politik dan Kebijakan Pemerintah
Faktor politik dan keamanan merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi perkembangan perusahaan ataupun industri dalam suatu negara. Situasi politik yang tidak kondusif akan berdampak negatif bagi kelanjutan usaha, begitu pula sebaliknya, stabilitas politik yang kondusif akan mendukung jalannya suatu perusahaan. Adanya kebijakan-kebijakan pemerintah pun akan turut membantu perusahaan dalam rangka mendukung seluruh program dan rencana yang akan dijalankan.
Kebijakan pemerintah yang mendukung PT. AI yaitu antara lain dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah (Perpres) nomor 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional dan juga Instruksi Presiden (Inpres) nomor 1 tahun
2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati/ BBM (biodiesel) sebagai bahan bakar lain. Adanya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang di dalamnya mengatur desentralisasi wewenang pemerintah pusat ke daerah, sehingga diharapkan dengan adanya otonomi tersebut maka pemerintah daerah dapat mengembangkan dan memajukan potensi dan kekhasan daerah daerah masing-masing baik berupa sumberdaya manusia maupun kekayaan alam yang berupa komoditi atau produk unggulan yang menjadi prioritas pengembangan.
Berdasarkan PT. AI, kondisi stabilitas politik dan keamanan di kabupaten Lebak pada khususnya dan propinsi Banten pada umumnya tidak kondusif karena tidak adanya dukungan dari pemerintah daerah setempat. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya peraturan perundangan daerah yang mengatur kegiatan usaha. Hingga saat inipun tidak ada program-program konkrit dari pemerintah dalam upaya pengembangan biodiesel di propinsi Banten.
6.2.1.2. Faktor Ekonomi
Kondisi ekonomi suatu negara akan mempengaruhi perkembangan suatu perusahaan atau industri dalam menjalankan usahanya. Indikator perekonomian yang baik dapat dilihat oleh adnya pembangunan ekonomiyang terjadi dalam tempo waktu tertentu. Indikator tersebut antara lain dapat dilihat dari segi pertumbuhan ekonomi Produk Domestik Bruto, neraca perdagangan luar negeri, investasi, dan tingkat inflasi. Perkembangan indikator perekonomian dapat dilihat pada tabel 13 halaman 64.
Tabel 13. Perkembangan Beberapa Indikator Ekonomi Indonesia Tahun 2002 – 2005 Indikator No. Indikator 2002 2003 2004 2005 1. Pertumbuhan Ekonomi 4,50 4,78 5,05 5,60 2. Inflasi (%) 10,03 5,06 6,40 17,11 3. PDB harga konstan 2000 (Rp) 1505,20 1577,20 1656,80 1749,50 4. PDB per kapita harga berlaku (ribu rupiah) 8645,10 9429,50 10506,20 12450,70
Neraca Perdagangan luar negeri (juta US$) 25869,90 28507,60 25060,10 27959,10 Ekspor (juta US$) 27158,80 61058,30 71584,60 85660,00 5.
Impor (juta US$) 31228,90 32550,70 46524,50 57700,90 Investasi
a. PMDN (milyar Rp) 25262,30 48484,80 36747,60 50577,40 6.
b. PMA (juta US$) 9744,10 13207,20 10277,30 12979,30 Sumber : BPS, 2005
Kinerja perekonomian Indonesia selama empat tahun mengalami percepatan pertumbuhan . Pada tahun 2003 ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,78%. Pada tahun 2004 perekonomian Indonesia mampu tumbuh lebih tinggi lagi, yaitu sebesar 5,05%. Pada tahun 2005, perekonomian Indonesia tidak mencapai target dari target pertumbuhan yang direncanakan sebesar 6,0%. Pertumbuhan ekonomi terasa sangat menurun pada triwulan terakhir tahun 2005. Hal ini sebagai dampak dari kenaikan BBM yang diberlakukan pemerintah per tanggal 1 Oktober 2005 sebanyak dua kali lipat. Keadaan tersebut membuat daya beli masyarakat menjadi turun yang juga secara langsung berakibat pada penurunan nilai produksi.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2005 yang diukur berdasarkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan 2000, tercatat sebesar 5,6% dengan nilai PDB sebesar Rp. 1.749,5 triliun. Pertumbuhan tersebut terjadi pada seluruh sektor ekonomi, dimana berbagai
sektor ekonomi pada tahun 2005 sangat dipengaruhi oleh sensitifitas masing- masing sektor ekonomi terhadap depresiasi nilai tukar dan perlambatan permintaan dunia. Beberapa sektor yang melambat umumnya merupakan sektor yang terkait langsung dengan ekspor serta relatif sensitif terhadap perubahan perubahan harga BBM dan nilai tukar seperti sektor industri pengolahan dan pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, transportasi dan komunikasi, dan sektor listrik, gas dan air minum mencatat pertumbuhan yang relatif tinggi.
Stabilitas perekonomian dapat dilihat dari laju inflasi. Selama periode tahun 2001 sampai tahun 2004 laju inflasi Negara Indonesia menunjukkan kecenderungan yang terus menurun. Perubahan laju inflasi yang terjadi menunjukkan bahwa pada tahun 2003 tingkat harga lebih baik jika dibandingkan tahun 2001, 2002, dan 2004. Pada tahun 2003, tingkat kenaikan harga barang secara umum lebih rendah dibandingkan tahun 2001, 2002, dan 2004.
Pada tahun 2005 neraca perdagangan luar negeri Indonesia tercatat surplus sebesar US $ 28 milyar. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan nilai yang tedapat pada tahun 2004 yaitu US $ 25,1 milyar. Kebijakan yang diberlakukan pemerintah pun menimbulkan barbagai hal positif antara lain peningkatan perdagangan luar negeri (ekspor dan impor). Hal ini ditunjukkan dengan nilai ekspor dan impor yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2005, nilai investasi dalam negeri tercatat sebesar Rp. 50.577,4 milyar atau mengalami peningkatan sebesar 37,63% dibandingkan pada tahun 2004 yang sebesar Rp. 36. 747,6 milyar. Hal ini diikuti pula dengan investasi asing yang meningkat dari US $ 10.277,3 juta menjadi US $ 12.979,3 juta atau mengalami penungkatan sebesar 26,29%.
Dari beberapa faktor ekonomi tersebut diatas, terlihat bahwa sektor perekonomian Indonesia khususnya pada bidang industri pengolahan dan pertanian, menunjukkan pertumbuhan yang relatif tinggi. Hal ini akan sangat mendukung perusahaan untuk lebih mengembangkan usaha yang digeluti yaitu pengembangan biodiesel berbasis tanaman jarak pagar.
6.2.1.3. Faktor Sosial
Sebagai salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Hal ini menyebabkan peningkatan jumlah angkatan kerja yang lebih besar dari lapangan kerja sehingga akan menyebabkan banyaknya angkatan kerja yang menganggur. Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS, jumlah penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Indonesia pada tahun 2002 hingga 2004 dapat dilihat pada tabel 14.
Tabel 14. Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Tahun 2002-2004
Tahun Jumlah Penduduk (Ribu Jiwa) Laju Pertumbuhan Penduduk (Persen)
2002 212.003 1,08
2003 215.276 1,54
2004 217.856 1,19
Sumber : BPS 2005
Tingginya angka petani miskin yang termasuk dalam angkatan kerja di wilayah Banten yaitu sebesar 70% atau sebesar 12.000 KK (60.000 jiwa) akan menjadi suatu tantangan sendiri bagi perusahaan dalam rangka membatu mengatasi permasalahan pengangguran yang terjadi (Pemerintah Daerah Wilayah Banten, 2005). Keberadaan PT. Armada Indonesia di wilayah tersebut akan menimbulkan dampak positif terhadap masyarakat karena dalam pelaksanaannya,
perusahaan memakai tenaga kerja yang diperoleh dari masyarakat setempat yang dominan petani sehingga jumlah yang sangat signifikan tadi dapat diakomodasi. Ini juga termasuk di dalam program perusahaan yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sistem kerjasama tersebut.
6.2.1.4. Faktor Teknologi
Perkembangan teknologi menciptakan suatu perubahan yang menonjol di berbagai macam sektor kehidupan termasuk sektor industri. Dampak yang ditimbulkan oleh teknologi memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kelangsungan suatu usaha. Namun ternyata memperoleh perkembangan teknologi tidaklah mudah bagi perusahaan. Diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk mendapatkannya.
Dalam perkembangan pada alat-alat komunikasi seerti telepon, telepon seluler, televisi, internet dan lain sebagainya memungkinkan perusahaan untuk mendapat kemudahan-kemudahan antara lain ; melalui internet perusahaan dapat mempromosikan dan memperluas jaringan produk yang dijual, perusahaan pun dapat mengakses informasi dalam rangka melakukan pengembangan produk yang dihasilkan secara cepat dan akurat. Selain itu teknologi pun menciptakan mesin- mesin yang mampu membantu perusahaan dalam berproduksi sehingga pencapaian target dalam hal kualtas dan kuantitas dapat dihasilkan.
Namun, PT. AI tidak terlalu mengakses perkembangan teknologi yang ada. Untuk melakukan proses promosi pun perusahaan masih melakukannya melalui telepon dan bertatap muka langsung dengan pembeli. Pengadaan mesin pengolah biji jarak urung pula didatangkan karena harganya yang sangat mahal.
Perusahaan beralasan karena faktor keterbatasan modal dan biaya yang mengakibatkan seluruh hal tersebut. Hal ini merupakan suatu kelemahan yang perlu diperbaiki karena dengan adanya perkembangan teknologi dapat menjadi peluang bagi perusahaan dalam menghadapi persaingan.
6.2.2. Lingkungan Operasional
Lingkungan operasional terbagi menjadi tiga kategori yaitu konsumen, pemasok, dan pesaing.
6.2.2.1. Konsumen
Konsumen merupakan individu, rumah tangga, dan perusahaan yang membeli barang dan jasa untuk dikonsumsi. Karena dewasa ini konsumen semakin kritis, maka perusahaan dituntut untuk dapat memahami lalu kemudian mewujudkan keinginan dan kebutuhan konsumen. Selain dapat mempertahankan konsumen yang ada, perusahaan pun dapat menerapkan dan menentukan strategi bersaing yang tepat untuk diterapkan.
PT. AI melakukan proses produksi untuk menhasilkan biji tanaman jarak pagar yang berkualitas yang kemudian akan diolah menjadi biodiesel. Target knsumen PT. AI adalah seluruh perusahaan yang mengolah biji jarak pagar menjadi biodiesel. Dalam kurun waktu tahun 2005-2006, PT. AI menjalin kerjasama dengan PT. Perusahaan Listrik Negara (PT. PLN). Namun dalam perjalanannya, karena kerjasama yang dibangun bersifat personal, PT. PLN membatalkan kerjasama sepihak dengan alasan kualitas biji yang dihasilkan tidak sesuai dengan permintaan, lagipula PT. PLN tidak mampu menampung dalam jumlah banyak sebab proyek biodesel berbasis tanaman jarak pagar masih sekedar wacana, belum menjadi primadona di Indonesia seperti kelapa sawit. Kelapa sawit
termasuk komoditas perkebunan yang cukup penting di Indonesia dan memiliki prospek pengembangan yang cerah. Tanaman penghasil minyak nabati ini menjadi penyumbang devisa non-migas terbesar ketiga setelah karet dan kopi (Budi Daya Kelapa Sawit, 2005).
6.2.2.2. Pemasok
Pemasok merupakan individu ataupun perusahaan bisnis yang menyediakan sumber daya yang diperlukan perusahaan untuk memproduksi barang dan jasa. Bahan baku utama yang digunakan oleh PT. AI untuk