BAB IV HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
3. Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya
Syariat Islam dalam arti luas memiliki tiga dimensi yang berimbang dan sama pentingnya, yaitu (1) Iman (2) Islam (3) Ihsan. Dimensi keimanan banyak dikaji dalam disiplin ilmu tauhid dan ilmu kalam, dimensi Islam banyak dibahas dan dikupas dalam buku-buku tentang ilmu fiqh. Sedangkan dimensi ihsan banyak diurai tuntaskan secara mendalam dalam ilmu akhlak dan tasawuf.
Syaikh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad yang mempunyai
semangat thalabul „ilmi dan riyadoh amaliyyah yang kuat, mempelajari syariat
Islam dalam ketiga dimensinya itu, namun dalam perjalanan hidupnya yang semakin dewasa, beliau semakin tertarik untuk mempelajari ilmu tasawuf dan tarekat. Dan bidang tarekatlah yang akhirnya menjadi spesialisasinya. Tarekat yang ditekuni beliau adalah TQN. Beliau berguru kepada Syaikh Talhah bin
Thalabuddin di desa Kalisapu dan kampong Trusmi Cirebon, dan bertabaruk kepada Syaikh Khalil Bangkalan Madura. Kedua gurunya itu dikenal sebagai guru besar TQN pada zamannnya. Beliau meyakini bahwa ilmunya harus diamalkan karena ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. Ilmu juga menuntut pemiliknya untuk disebarkan, baik dengan cara ditanya oleh orangf lain, murid, peminat atau jamaah, maupun dengan cara berdakwah, tabligh,
pengajian-pengajian, atau melalui pendidikan.16
Untuk itulah, Syaikh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad yang akrab dipanggil Abah Sepuh, memprakarsai untuk pertama kalinya penyelenggaraan pengajian sekitar tahun 1890. Prakarsa ini dapat dikatakan sebagai peletakan pondasi bagi pendidikan dan dakwah Islam yang bernuansa ihsan (TQN) di Priangan Timur. Saat itu beliau berusia 54 tahun, dengan penguasaan ilmu agama Islam yang cukup matang dan terpadu.
Pertama-tama pengajian disampaikannya di kampong Tundangan oleh Abah Sepuh secara informal dan diikuti oleh jamaah/pengikut yang belum banyak sehingga partisipasi masyarakat dalam pengajian pun belum ramai dan kurang berkembang. Mungkin karena Tundagan kurang strategis (terpencil) dan sarana transportasi sulit, atau karena adanya kecurigaan masyarakat dan aparat setempat terhadap ilmu dan ajaran yang disampaikan Syaikh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad, maka untuk sementara waktu beliau beserta keluarganya pindah ke Rancameong Bandung. Beliau tinggal di rumah salah seorang ikhwan TQN bernama H. Tirta.
Selanjutnya, untuk meneruskan perjuangannya, Abah sepuh pindah ke kampung Cisero. Namun karena kondisinya hamper sama, kemudian pengajian itu pindah lagi sekitar tahun 1901, pada waktu beliau berusia sekitar 65 dan 66 tahun, ke kampong Godebag yang terletak di tepi sungai Citanduy bagian hulu. Kampung ini termasuk desa Tanjungkerta Kecamatan Tarikolot yang waktu itu merupakan wilayah administratif Kabupaten Sumedang. Meskipun sepi di
16
Muhammad Fadhil al-Jailany al-Hasanal-Husaini, dkk, TQN Suryalaya Membangun
pegunungan yang bersemak belukar dan di hulu sungai, kampung Godebag dekat dengan jalan hidup yaitu jalur tembus Ciawi-Panumbangan-Panjalu, Kawali-Kuningan-Cirebon. Pada tahun 1905, atau tatkala Abah Sepuh berusia 69 tahun, di kampung Godebag inilah, baru didirikan sebuah pondok pesantren dengan nama Pondok Suryalaya. Pondok Pesantren ini merupakan lembaga pendidikan Islam sebagai sarana dan tempat mengaji, mengkaji, dan
menyebarkan ajaran Islam dengan berbagai dimensinya, khususnya TQN.17
Pada Tahun 1904 dari Cisero (sekarang Ciserna), Abah Sepuh beserta keluarganya pindah ke Dusun Godebag, maka tepat pada Tanggal 7 Rajab 1323 H/5 September 1905 Pondok Pesantren Suryalaya didirikan oleh KH. Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad (dikenal dengan panggilan Abah Sepuh) atas izin dan restu Guru Agung beliau Syaikh Tolhah Thalabuddin dari Trusmi Cirebon. Pesantren ini terletak di desa Godebag yang sekarang terkenal dengan
nama Suryalaya. Surya Artinya matahari, laya artinya terbit. Jadi seakan
pesantren ini berada di tempat matahari terbit. Makna yang terkandung di dalamnya adalah pesantren ini harus menjadi pusat cahaya spiritual yang mampu menjadi penerang bagi umat manusia. Pesantren Suryalaya diharapkan dapat memberikan cahaya Islam bagi manusia seperti halnya matahari menyinari jagat raya ini. Atau dengan harapan, mudah-mudahan pesantren ini maju terus dan tidak ada yang mampu menghalanginya seperti halnya matahari
tidak aka nada satu makhluk pun yang mampu menghentikannya.18
Kompleks Pondok Pesantren Suryalaya terletak di sebuah lembah yang sangat indah, diapit oleg dua pegunungan, Gunung Cakrabuana dan Gunung Sawal. Dibelakangnya mengalir sungai Citanduy, batas teritorial yang alami antara kabupaten Ciamis Tasikmalaya. Letak Pesantren merupakan wilayah yang subur dan sangat sejuk udaranya. Selama bertahun-tahun menjadi pusat wilayah yang dikuasai oleh pergerakan Darul Islam, yang dipimpin oleh Kartosuwiryo, yang menjadi tempat berlindung pada tahun 1950-an. Pesantren
17
Ibid, h. 6
18
Suryalaya terletak 9,5 kilometer dari jalan utama Bandung-Tasikmalaya, sekitar 30 kilometer sebelah utara sebelum Tasikmalaya. Jalan kecil ini mengarah ke Pesantren dan kota Suryalaya dan juga melewati desa/kampung yang ramai, berpenghuni padat. Rute ini tidaklah terpencil karena masih bias
dilewati dengan kendaraan.19
Pada saat memasuki kompleks Pesantren Suryalaya, kita akan temukan deretan bangunan yang mengelilingi masjid besar 2 lantai, yang diberi nama Nurul Asrar. Pada sisi kiri, depan masjid, ada sebuah rumah di mana Abah Anom dan sekeluarga bertempat tinggal. Puncak menara masjid dihiasi dengan lafadz “Allah”. Sebuah tulisan Arab yang bersinar diterangi oleh lampu di
malam hari, menyala di tengah-tengah lembah yang gelap. Lafadz “Allah”
dilihat sebagai lambang cahaya kesucian di hati manusia yang merupakan inti
sari pengajaran di pesantren tersebut.20
Modal pertama Pondok Pesantren Suryalaya berupa sebuah Masjid yang dijadikan tempat mengaji dan mengajarkan TQN. Masjid itu dibangun atas
restu Syaikh Thalhah. Cikal bakal pesantren itu diberi nama “Patapan
Suryalaya Kejembaran Rahmaniyah”, disingkat “Suryalaya”. Masjid itu diresmikan pada tanggal 7 Rajab 1323 H/5 September 1905 M. Tanggal
tersebut kemudian dijadikan titimangsa kelahiran (milad) Pondok Pesantren
Suryalaya. Meskipun nama godebag terkait dengan banyak peristiwa penting sehingga bagi sementara orang member kesan yang cukup mendalam, namun Suryalaya itu selanjutnya lebih dikenal umum dan lebih popular.
Masa awal perjalanan Pondok Pesantren Suryalaya sebagai lembaga pendidikan Islam dengan cirri khusus dan spesialisasi pengajian, pengamalan, dan pengembangan TQN tidak berjalan mulus begitu saja, karena ada kesalahpahaman sebagian masyarakat, ditambah kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang kurang mendukung berkembangnya tarekat pada umumnya.
19
Sri Mulyati, Peran Edukasi TQN dengan referensi utama Suryalaya, (Jakarta : Kencana Prenada Group, 2010), h. 208
20
Pemerintah Belanda melihat dan mencatat bahwa Kyai Tarekat termasuk santri dan pesantrennya sebagai provokator, penyulut tumbuhnya kekacauan seperti Perang Banten (1658-1682), Perang Padri (1821-1838), Perang Aceh (1873- 1903), Perang Diponegoro (1825-1830), dan pemberontakan Cilegon-Banten
(1888) serta pemberontakan di Kedongdong Cirebon (1893).21
Setelah Abah Sepuh wafat pada tahun 1956, Pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya di wariskan kepada Abah Anom (Putra Abah Sepuh). Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin Pesantren. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladanan, Abah Anom gigih menyebarluaskan ajaran Islam melalui metode TQN ke berbagai pelosok tanah air walaupun ketika itu masih terus mendapat ancaman keamanan terutama dari Darul Islam yang masih merajalela. Pondok Pesantren Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat, melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk
pembangkit tenaga listrik.22
Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan Negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya. Disamping melestarikan dan menyebarluaskan ajaran Islam melalui mertode TQN, Abah Anom juga sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Maka sejak tahun 1961 didirikan Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai dari TK, SMP Islam, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), SMU, dan Perguruan Tinggi (IALM dan STIE), dan Pondok Remaja Inabah. Didirikannya Pondok Remaja Inabah sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan umat dan merasa berkewajiban untuk menolong umat yang sedang tertimpa musibah. Berdirinya Pondok Remaja
21
Ibid, h 6-7
22
Inabah membawa hikmah, diantaranya menjadi jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar ilmu kesehatan, pendidikan, sosiologi dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama mulai yakin bahwa agama Islam dengan berbagai disiplin ilmunya termasuk tasawuf dan tarekat mampu merehabilitasi kerusakan mental dan membentuk daya tangkal yang kuat melalui
pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan TQN.23