• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENEGASAN ISTILAH

B. Sejarah Postmodernisme

Awal mula tumbangnya modernisme dan munculnya postmodernisme sebenarnya dapat dilacak pada filsafatnya Soren Kierkegaard (1813-1855), yang menentang rekontruksi-rekontruksi rasional dan masuk akal yang menentukan keabsahan kebenaran ilmu. Kriteria kebenaran yang berlaku bagi dunia modern adalah yang rasional dan objektif. Kierkegaard justru berpendapat sebaliknya, bahwa kebenaran itu bersifat subjektif, “truth is subjectivity”. Pendapat tentang “kebenaran subjektif‟ ini menekankan pentingnya pengalaman dan relativitas,

yang dialami oleh individu-individu (Maksum, 2016: 269).

Istilah postmodernisme kali pertama digunakan oleh Frederico de Onis pada 1930-an untuk menyebut gerakan kritik di bidang sastra, khususnya sastra Pranscis dan Amerika Latin. Onis menyebut tahap modernisme awal antara tahun 1896-1905 dan tahap postmodernisme antara tahun 1905-1914 yang ia sebut

“periode intermezzo” atau pertengahan, dan modernitas yang lebih tinggi

kualitasnya dalam tahap ultramodern antara tahun 1914-1932. Kemudian pada

1947, sejarawan Arnold Toynbee memakai kata postmodern dalam buku A Study

of History. Bagi Toynbee, pengertian postmodern adalah masa yang ditandai perang, gejolak sosial, evolusi yang menimbulkan anarki, runtuhnya rasionalisme dan pencerahan. Pada tahun yang sama, Rudolf Panwitz menggunakan istilah

Panwitz menyebut “manusia postmodern” sebagai manusia sehat, kuat, nasionalis,

dan religius yang muncul dari nihilisme Eropa. Dan postmodernisme adalah puncak modernisme (Maksum, 2016: 262).

Pada 1957, Peter Dricker menulis subjudul Laporan tentang Dunia

Pascamodern dalam bukunya The Landmarks of Tomorrow. Drucker

memperkenalkan istilah postmodern untuk menyebut perkembangan baru dalam bidang ekonomi yang sudah memasuki zaman pasca industri/pascakapitalis, dan revolusi gelombang ketiga.

Tahun 1960-an, Irving Hole menulis Mass Society and Postmodern

Fiction. Hole menyebut sastra kontemporer/postmodern berbeda dengan sastra modern. Menurutnya, sastra postmodern menunjukkan kemerosotan disebabkan lemahnya para pembaru dan kekuatan penerobosnya. Baginya, sastra postmodern harus meninggalkan model modern-klasik, dan orang bebas menangkap dan mengapresiasikan kualitas-kualitas khas dari sastra baru. Kemudian sastra postmodernisme baru menunjukkan prestasinya yang penting yaitu saat berhasil menjembatani perbedaan antara kebudayaan elite (high culture) dengan kebudayaan massa (pop culture) (Maksum, 2016: 263).

Tahun 1970-an, di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan, postmodernisme diperkenalkan oleh Jean Francois Lyotard dalam bukunya The Postmodern

Condition: A Report on Knowledge (1979). Lyotard mengartikan

“postmodernisme” sebagai “ketidakpercayaan terhadap segala bentuk narasi besar; penolakan filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran yang mentotalisasi seperti Hegelianisme, Liberalisme, Marxisme, dan isme-isme

lainnya. Postmodernisme, sambil menolak pemikiran yang totaliter, juga

“menghaluskan kepekaan terhadap perbedaan dan memperkuat kemampuan

toleransi terhadap kenyataan yang tak terukur. Prinsipnya lalu bukanlah homologi para ahli, melainkan paralogi para pencipta.

Pemikiran Lyotard berkisar tentang posisi pengetahuan di abad ilmiah kita,

khususnya tentang cara ilmu dilegitimasikan melalui yang disebutnya “narasi besar” seperti kebebasan, kemajuan, emansipasi, kaum proletar, dan sebagainya.

Metanarasi itu, menurut Lyotard, telah mengalami nasib yang sama dengan narasi-narasi besar sebelumnya seperti religi, negara-kebangsaan, keunggulan Barat, dan sebagainya, yang sulit dipercaya. Dengan katalain, dalam abad ilmiah ini narasi-narasi besar menjadi tidak mungkin, khususnya narasi tentang peranan dan kesalihan ilmu itu sendiri. Maka nihilisme, anarkisme, dan pluralisme

“permainan bahasa” pun merajalela. Yang perlu ditunjukkan sekarang adalah

kepekaan baru terhadap perbedaan-perbedaan dan keberanian melawan segala bentuk totaliterisme (Maksum, 2016: 264).

Dengan pandangan macam itulah, Lyotard membawa istilah

“postmodernisme‟ ke dalam medan diskusi filsafat lebih luas. Sejak saat itu segala

kritik atas pengetahuan universal, atas tradisi metafisik, fondasionalisme maupun

atas modernisme, diidentikkan dengan “postmodern”. Oleh sebab itu, istilah

“postmodernisme” di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan memang ambigu; ia

menjadi sekadar istilah yang memayungi hampir segala bentuk kritik atas modernisme, meskipun satu sama lain berbeda. Dengan demikian, istilah

postmodernisme dipahami sebagai “segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-

paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya” (Maksum, 2016: 265).

Bila kita bicara dari sudut filsafat, maka karakter yang khas dalam modernisme adalah, bahwa ia selalu berusaha mencari dasar segala pengetahuan

tentang “apa”nya realitas, dengan cara kembali ke subjek yang mengetahui itu

sendiri (dipahami secara psikologis maupun transendental). Di sana diharap ditemukan kepastian mendasar bagi pengetahuan kita tentang realitas itu, realitas

yang biasanya dibayangkan sebagai “realitas luar”. Kepastian itu persisnya

terdapat dalam hukum logika (Sugiharto, 2016: 33).

Demikian maka klaim-klaim dari kaum postmodernisme tentang

“berakhirnya Modernisme “biasanya dimaksudkan untuk menunjukkan

berakhirnya anggapan modern tentang “subjek” dan “dunia objektif” tadi, dunia yang seolah sepenuhnya mandiri menanti subjek yang akan membuat representasi mental tentangnya saja. Lalu postmodernisme dimengerti sebagai upaya-upaya untuk mengungkapkan segala konsekuensi dari berakhirnya modernisme itu beserta metafisika tentang fondasionalisme dan representasionalismenya (Sugiharto, 2016: 33).

Tentang kapan persisnya awal dari tumbangnya modernisme di bidang filsafat itu ada banyak versi cerita. Dari sudut poststrukturalis, misalnya, modernisme sudah berakhir sejak serangan-serangan awal atas fenomenologi (yang dianggap semacam titik kulminasi dari Humanisme). Sedangkan di dunia yang berbahasa Inggris, modernisme baru tumbang bersama dengan munculnya

lebih awal, yaitu konon sudah sejak Nietzsche mengadakan kritik dekonstruktif atas tradisi metafisik-platonik. Namun gagasan-gagasannya itu memang kurang membawa efek pada zamannya, sehingga kalau pun ia dianggap sebagai salah seorang perintis postmodernisme tentu bukanlah dalam artian kronologis,

melainkan dalam „sejarah efektif”nya (bila meminjam istilah Gadamer), yaitu

dalam inspirasi-inspirasi yang dicetuskannya bagi pemikiran-pemikiran abad keduapuluh ini. Dan sebetulnya pengaruh Nietzsche ini pun baru tampil kuat lewat penafsiran Heidegger atas Nietzsche, yang problematis itu, lalu juga diperkuat oleh kultus terhadapnya di kalangan kaum Nietzschean Perancis. Sedangkan versi lain seperti dianggap awal tumbangnya modernisme. Sayang awalan ini tak membawa gema panjang (Sugiharto, 2016: 34).

Dokumen terkait