BAB III RITUAL JAMASAN BENDHE NYAI CEPER
B. Sejarah Ritual Tradisi Jamasan Bendhe Nyai Ceper
Sejarah tradisi Jamasan Bendhe Nyai Ceper sudah ada sejak lama. Awal mula sejarah jamasan Bendhe Nyai Ceper dimulai. Menurut cerita dari Mbah Slamet:
“Zaman riyen niku biasa-biasa mawon mas, namung ngertos
kawulo zaman alit nggih niku namung dilukar busonone terus nggih nak perkoro niku saranane sami mawon sekar kenanga tuyo saking nglepen niku sami, nanging pengunjung e dereng katah, trus dereng diiringi wonten bangso gamelan niku
dereng namun nggih rampung mpun bancakan.75”
(Zaman dahulu itu biasa-biasa saja mas, namun setahu saya zaman kecil ya di buka busananyan terus kalau perkara itu sarana sama saja sekar kenanga air dari sendang itu sama, tapi pengunjungnya belum banyak, terus belum diiringi dengan gamelan ketika selesai langsung bancakan).
Pada zaman Mbah Slamet masih muda acara jamasan sama dengan yang sekarang ini. Acaranya biasa-biasa saja hanya membuka busana Bendhe Nyai Ceper. Sarananya sama seperti bunga sekar kenanga, air dari sendang. Pengunjung acara jamasan Bendhe Nyai Ceper masih sedikit, dan belum diiringi gamelan seperti sekarang. Setelah acara jamasan Bendhe Nyai Ceper selesai mengadakan acaraselametan.
Bendhe ini dianggap bukan benda sembarangan seperti bendhe- bedhe lainnya.Warga Dusun Pete belum berani merayakan Lebaran serta
75Wawancara dengan Mbah Slamet. Pada Tanggal 7 Agustus 2017. Di Rumah Mbah Slamet
bersilatuhrahmi ketetangga maupun kerabat, sebelum ritual penjamasan itu selesai digelar. Meski warga lain dusun telah merayakan Lebaran dengan silatuhrahmi, warga Dusun Pete belum merayakan Lebaran. “setelah ritual, baru warga merayakan Lebaran saling berkunjung ke sanak saudara aupun ke tetangga,” kata Slamet Sardjono, salah satu sesepuh Dusun itu.76
Menurut Mbah Slamet, saat pelaksanaan ritual itu terkait dengan warga Dusun Pete yang menganut Islam Alip Rebo Wage (Aboge). Pada tahun ini, warga merayakan Lebaran pada selasa 27 juni. Itu karena penetapan waktu Lebaran bukan didasarkan pada kalender nasional, tetapi menggunakan kalender Jawa yang digunakan secara turun temurun.77 Jadi ritual ini, menurut Mbah Slamet, selain ingin melestarikan peninggalan dan tradisi para leluhur, juga menjadi pertanda mulai memasuki bulan Syawal, yakni umat Islam merayakan Idul Fitri seusai melaksanakan ibadah puasa. Menurut Mbah Slamet yang rumahnya untuk menyimpan pusaka itu, konon berdasarkan cerita turun temurun, Bendhe ini ditemukan di makam desa tersebut oleh leluhurnya.78Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika jamasan yaitu:
“Setunggal tuyo ingkang kapendet saking satunggaling
sendang nuninggih wonten ing sendang utawi belik sari ingkang kapendet ing satengah ing wanci dalu antawis tabuh kalih welas. Pamundutipun tuyo kedah ngginaaken jun saha pangastanipun jun kedah wonten ing jun kasonggo sangandape jun. kalih sekar kenanga ingkang mangkihipun kacampur tuyo saking sendang.Tigo terek ingkang kadamel
saking temugiring lan gelepung wus jawi.”79
76Suara Merdeka, 3 juli 2017. Hal 27 77Ibid. Hal. 27
78Ibid. Hal. 27
(Pertama air yang diambil dari salah satu sendang yaitu berada di sendang atau belik sari yang diambil tengah malam antara jam 12 malam. Pengambilan air menggunakan junserta pengambilan jun harus berada di leher jun. Kedua sekar kenanga yang dicampur air dari sendang. Ketiga terek yang terbuat dari teugiring dan tepung beras jawa).
Air yang diambil dari sebuah sendang yaitu bernama Belik “Sari” yang diambil saat waktu tengah malam.80 Pengambilan air harus menggunakan jun (Kendhi), dan membawanya dengan memegang leher dan menyangga kendhi.Kedua bunga kenanga, yang nantinya akan dicampurkan dengan air sendang yang telah diambil pada malam hari tersebut.Dan yang ketiga terek yang terbuat dari temu giring dan tepung beras.
Arti dari air, bunga kenanga, dan terek yaitu:
“Tuyo kapendet salah satunggaling sendang memuwedi manunggaling cipto, roso, lan karso bilih poro kawulo kedah manunggal dados setunggal kejawi saking meniko ugi ngemu werdi bilih pitulungan ipun manungso niku namun satungal yaiku gusti ingakang makaryo neng jagad. Kapendet satengahe dalu awit dalu satengahe dalu puniko suasana nipun meneb, meneng, lan ning lir ipun manungsa mekaten kedah anggadahi raos kang meneb, meneng, lan ning lan ugo
samubarang kang waget gangsar lan lancar.”81
(Air yang diambil salah satu sendang berarti manunggaling cipto, roso, lan karso untuk para manusia jadisatu menjadi satu selain itu juga berarti pertolongannya manusia itu hanya satu yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Diambil tengah malam yaitu suasana tenang, diam, dan hening artinya manusia mempunyai rasa yang tenang, diam, dan hening dan juga semuabarang yang dapat berjalan dengan mudah dan lancar.)
Air sendang yang berarti satu kesatuan, rasa dan kekuatan. Yang mana kita semua harus menyatu selain itu melambangkan bahwasanya
80Lihat lampiran foto gambar. 3
81Wawancara dengan Mbah Slamet. Pada Tanggal 7 Agustus 2017. Di Rumah Mbah Slamet
manusia itu harus satu kesatuan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pelaksanaan pengambilan air tengah malam melambangkan menep (diam), meneng (diam), dan ening (ketenangan) yang mana mempunyai maksud manusia harus bisa menep, meneng, dan ening sehingga setiap hal dapat berjalan dengan mudah dan lancar.
“Sekar Kenongo kagem jamasan menggah werdinipun sekar
kenanga nuninggih: tekan, tekun, lan teken, liripun mugi
dumugi punopo ingkang sinejo.”82
(Sekar kenanga yang buat jamasan mempunyai arti sekar kenanga yaitu: sampai, tekun, teken, artinya apapun yang diinginkan bisa tercapai).
Bunga Kenanga yang dibuat untuk jamasan Bendhe Nyai Ceper yang berarti tekan, tekun, dan teken, melambangkan semua cita-cita dapat terlaksana.
“Terek kang kadamel saking temugiring lan glepung wus jawi (menawi kagem bobokan raosipun ipun asrep), Te-Mu memu werdi temen lan mulih/pulih liripun mugi hambok bilih menawi nyandang sesakit saged pulih bagaswaras kados duking uni,soho gelepung
wos jawi angdadosaken asrep ing raos lan samudayangipun.83
(Terek yang terbuat dari temugiring dan tepung beras (jika untuk bedakan rasanya dingin), Te-Mu artinya temen dan mulih atau pulih artinya bagi orang yang menyandang sakit bisa sehat kembali, dan tepung beras menjadikan rasa dingin dan rasa nyaman.
Terek yang terbuat dari temugiring dan tepung beras (jika buat untuk mengoleskan tubuh rasanya dingin) Temu mengandung makna
temen lan mulihatau pulihyang mana dimaksudkan seseorang yang sedang
merasakan sakit dapat sembuh kembali. Sedangkan tepung beras bisa membuat rasa dingin dan membuat rasa nyaman.
82Catatan Milik Mbah Slamet. 25 Oktober 2006 83Ibid. 25 Oktober 2006
“Ingkang pitados tuyo tirahan, ingkang kagem jamasan saged dipun unjuk mboten kinging dipun agem raop punopo deng wijik. Minggah ginanipun tuyo saha terek tumrap ingkang pitados saged kagem kangge kebagas warasan, penglaris jodo lan sapanunggalanipun. Wondene terek nipunagem borehan ingkang werginupun saget mbengkas
sengkolo”.84
(Bagi yang tahu air bekas, yang digunakan jamasan bisa diminum tidak boleh untuk cuci muka dan cuci tangan, gunanya air dan terek bagi yang tahu bisa untuk kesehatan, penglaris jodoh dan sebagainya. Dan terekdibuat untuk bedakan yang artinya untuk mencegah balak).
Air bekas jamasan hanya boleh diminum tidak boleh membasuh muka atau cuci tangan. Guna air bekas jamasan adalah, bagi orang yang tahu bisa untuk kesehatan mudah rezeki, mudah jodoh, dan lain-lain sebagainya. Guna terek adalah untuk bedak yang dimaksudkan untuk mencegah balak.
“Rikolo semonten wonten salah satunggaling tiyang ingkang ngersaaken tuyo tirahan jamasan tuyo dipun agem wijik lan raup kalian ida-idu soho gerundelan ingkang artosipun nyepelekaken. Sinareng priyantun punika kundur saking papan jamasan, mboten wartawis tebih piyambakipun dawah, dawah lajeng semaput lan sak lajengipun tiyang
puniko sakit ngantos dumugi pejah.”85
(Pada zaman itu pernah ada salah seorang warga yang mengambil air bekas jamasan air tersebut dibuat mencuci tangan dan muka dengan meludah menggerutu yang artina menyepelekan, ketika orang tersebut pulang dari jamasan, tidak jauh orang tersebut jatuh, jatuh kemudian pingsan dan orang tersebut sakit sampai meninggal).
Pernah ada kejadin pada zaman dulu, salah seorang yang mengambil air bekas jamasan, air tersebut dibuat mencuci tangan dan membasuh muka disertai dengan meludah serta melecehkan dan
84Ibid. 25 Oktober 2006 85Ibid. 25 Oktober 2006
meremehkan tetepi. Seseorang tersebut pulang dari jamasan tidak lama kemudian orang tersebut terjatuh dan pingsan beberapa hari kemudian sakit sampai meninggal.
Perlambangan Bendhe Nyai Ceper ada beberapa unsur yaitu: a. Keadaan Busana
“Bendhe Nyai Ceper sadurung kajamasi langkung rumiyen dipun lukar busononipun, saben dipun lukar mboten nate ajek busono ingkang kaagem, rikolo tahun 2005 busono ingkang kaagem wonten 29 lembar, tahun 2006 wonten 31 lembar rikolo wau menggah ingkang ngemu werdi mbukbilih tahun kalampah mangkih dados sae sedoyo tiyang ing Dusun Sidoarjo mliginipun Dusun Pete bade kemakmuran
tetaneman dados loh jinawi ugi tentrem ayem
kawontenanipun.86”
(Bendhe Nyai Ceper sebeluh di jamasi pertama dilepas busananya, setiap dilepas tidak pernah sama busana yang dipakai, ketika tahun 2005 busana yang dipakai ada 29 lembar, tahun 2006 ada 31 lembar ketika saat itu artinya ketika tahun yang akan datang nantinya akan baik semua orang di Dusun Sidoarjo khususnya Dusun Pete akan makmur bercocok tanam menjadi subur serta tentram keadaanya).
Bendhe Nyai Ceper sebelum dijamasi dilepas busananya.87 Setiap diganti kainnya tidak pernah sama, seperti pada tahun 2005 kain yang digunakan ada 29 lembar, sedangakan pada tahun 2006 ada 31 lembar yang bermakna ada penambahan kain yang dianggap masa selajutnya akan semakin baik, membuat Desa Sukoharjo khususnya Dusun Pete akan makmur, tanamannya subur dan desa akan aman.88
86Wawancara dengan Mbah Slamet. Pada Tanggal 7 Agustus 2017. Di Rumah Mbah Slamet
87Lihat lampiran foto gambar. 30
88Lihat buku karya Dr. Sugeng Priyadi, M. Hum, Sejarah Tradisi Penjamasan Pusaka
“Sakwonten kawontenanipun ugi ageman mbuk bilih ageman iku sae ngartosaken mbuk bilih kaeadananipun raharjan menawi agemanipun rusak utawi amoh paring paenget dumateng kawulo ing Pete puniko mbuk bilih mongso ingkang bade kalampah, nate kadadosan rikolo zaman Jepang bilih agemanipun Bendhe Nyai Ceper rikolo dipun lukar wonten branjet ipun kagemaken rikolo zaman semonten poro kawulo sami ngagem busono karung goni, nate ugi busono Nyai Ceper wonten cringut ipun nandakaken poro kawulo zaman semonten angdamel kranjang gereh kamongko
sedoyo kala wau mboten wonten ingkang ndekeni.”89
(Begitu juga keadaan busana jika busana itu bagus mengartikan keadaan makmur sejahtera, jika busana rusak atau jelek memberikan peringatan kepada manusia di Dusun Pete untuk tahun yang akan dijalani mendatang. Pernah kejadian ketika zaman Jepang busana Bendhe Nyai Ceper ketika dilepas busananya di dalamnya ada brandil, ketika zaman tersebut orang-orang menggunakan pakaian karung goni, pernah juga busana Nyai Ceper ada potongan bambu berukuran kecil menandakan bahwa para warga zaman itu membuat keranjang ikan. Padahal semua itu tidak ada yang memberi).
Begitu juga keadaan kain bilamana keadaan kain terlihat bagus maka menandakan ketentraman desa tetapi jika kain terlihat rusak menandakan bahwasanya masyarakat Pete untuk menghadapi tahun berikutnya.90 Pernah ada peristiwa pada waktu zaman Jepang di kain Nyai
Ceper ada brandil atau pakaian dari karung yang faktanya pada waktu itu masyarakat memakai pakain dari karung. Pernah ada juga kejadian kain Nyai Ceper ada potongan bambu yang tenyata warga pada tahun itu banyak berprofesi pembuat kranjang ikan (besek).
b. Keadaan Bendhe
“Ngelingi kawontenan BendheNyai Ceper hambukbilih resik
keemong mratandakaken mbuk bilih ing Sukoharjo
89Ibid. 7 Agustus 2017
mliginipun DusunPete ugi dadi kamakmuran, menawi Bendhenipun keroh, mbrontok lan sak panunggalanipun paring paenget dumateng poro kawulo bilih kedah atos- atos.91”
(Mengingatkan keadaaan Bendhe Nyai Ceper jika bersih menandakan untuk Sukoharjo khususnya Dusun Pete menjadi makmur, jika bendhe kasar dan kotor dan sebagainya memberikan peringatan kepada para warga harus berhati- hati).
Bilamana keadaan Bendhe Nyai Ceper keadaan bersih menandakan jika di Desa Sukoharjo khususnya Dusun Pete akan makmur, tetapi jika keadaan kasar, kotor dan seterusnya, memberikan peringatan kepada masyarakat di Dusun Pete harus berhati-hati.
c. Keadaan Suara Bendhe
“Sak paripurnanipun kajamasi BendheNyai Ceper katabuh
kaping gangsal hambuk bilih suwanten bendhe puniko dipun tabuh suwanten nipun hening lan banter ateges para kawulo badhe manggih kesaenanan anging menawi suwanten nipun pecah, gembrek langkung-langkung katabuh mboten mungal
ateges paring paenget supados poro kawulo atos-atos.92”
(setelah acara jamasan selesai Bendhe Nyai Ceper dipukul lima kali jika suara bendhe yang dipukul suaranya hening dan keras berarti para warga akan menemukan kebaikan tetapi jika suaranya pecah, jelek ketika di pukul tidak berbunyi memberikan peringatan para warga harus hati-hati).
Setelah acara jamasan selesai Bendhe Nyai Ceper dipukul sebanyak 5 kali, bilamana suara yang dihasilkan nyaring dan keras menandakan kebaikan. Tetapi jika suara yang dihasilkan pecah atau tidak berbunyi menandakan masyarakat di Dusun Pete harus berhati-hati.
91Ibid. 7 Agustus 2017 92Ibid. 7 Agustus 2017
Menurut Mbah Slamet dipukul lima kali merupakansimbol dari pancasiladasar negara Indonesia yang terdiri dari lima sila.93