• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR GAMBAR

SEJARAH DAN MASYARAKAT MELAYU LANGKAT

2.1 Sejarah Singkat Langkat

Perkataan Langkat yang menjadi nama kabupaten yang ada di Sumatera Utara berasal dari nama sebuah pohon yang dikenal oleh masyarakat Melayu pada saat itu dengan istilah pohon langkat. Bentuk pohon langkat ini menyerupai pohon langsat, tetapi rasa buahnya pahit dan kelat. Oleh karena pusat kerajaan ini berada di sekitar tepi sungai Langkat, maka kerajaan ini disebut dengan Kerajaan Langkat.

Luckman Sinar (2011:100), Kerajaan Langkat didirikan oleh Raja Kahar bertepatan tanggal 12 Rabiul Awal 1163 H, atau tanggal 17 Januari 1750. Setelah Raja Kahar wafat kepemimpina beliau diteruskan oleh putranya yang bernama Badiulzaman yang bergelar Sultan Bendahara yang dimulai pada tahun 1750—

1823.

Sebutan raja dengan sebutan sultan, dimulai pada masa Tengku Musa yang menjadi Sultan Langkat dengan gelar Sultan Musa Al-Muazzamsyah mulai tahun 1870—1896. Wilayah kekuasaan Tengku Musa sangat luas selain wilayah Kabupaten Langkat dan Kota Binjai kekuasaan beliau hingga ke wilayah Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh yang pada masa itu bernama Langkat Tamiang.

Sultan Musa yang dikenal sebagai pembangun Kerajaan Langkat yang cukup makmur dan kaya karena hasil alam yang sangat menguntungkan seperti banyaknya perkebunan, hasil hutan, dan ditemukannya sumur minyak di kawasan

Sungai Lepan di daerah Telaga Said pada tahun 1883. Pada tahun 1892 Sultan Musa bekerja sama dengan perusahaan Belanda yang bernama Koninklijke (Koninklijke Nederlandsche Maatschapij Tot Exploitatie van Petroliumbronnen in Nederlandsche-Indie). Pada masa kepemimpinan Sultan Musa banyak kerajaan kecil yang masih di bawah naungannya yaitu Stabat, Binjai, Selesai, Bahorok, Besitang termasuk Kerajaan Tamiang dan Seruai.

Menurut Arifin (2008:33—34), Kesultanan Langkat mencapai kejayaannya pada masa kepemimpinan Sultan Abdul Aziz dan dianggap Kerajaan Melayu terkaya yang ada di Sumatera Timur bahkan satu-satunya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur yang memiliki kursi dan tahta kerajaan serta kereta kencana yang terbuat dari emas.

Sultan Abdul Aziz turun tahta pada usia 53 tahun dan digantikan oleh putranya Sultan Mahmud Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmadsyah antara tahun 1926–

1946. Sultan Abdul Aziz wafat pada tanggal 1 Juli 1927 dalam usia 54 tahun, setahun setelah menyerahkan tahtanya kepada putranya. Pada masa kesultanan Sultan Mahmud Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmadsyah keadaan Kerajaan Langkat tidak semakmur masa kepemimpinan ayahandanya Sultan Abdul Aziz yang banyak membangun sarana ibadah dan sarana pendidikan. Sultan Mahmud Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmadsyah hanya membangun sarana kesehatan yaitu Rumah Sakit Tanjung Pura (dulu namanya Rumah Sakit T. Musa) pada tahun 1930 dan memindahkan serta membangun istana barunya di Binjai.

2.1.1 Langkat Pada Masa Kependudukan Belanda

Kerajaan Langkat pada masa Kolonial Belanda dibagi dalam dua bentuk yaitu, (1) Pemerintahan tradisional kesultanan yang dipimpin oleh Sultan Musa

dan (2) Pemerintahan ala Belanda yang dipimpin dengan sebutan residen yang bernama Morrey yang berkedudukan di Binjai (Arifin, 2008:40—43).

Tugas dan kekuasan dari asisten residen Belanda hanyalah mendampingi sultan bagi orang-orang asing, sedangkan Sultan Musa tetap berkuasa penuh kepada rakyat pribumi, dengan pusat kerajaannya di Tanjung Pura. Agar terlaksananya roda pemerintahan maka, pada tahun 1881 Langkat dibagi dua yaitu (1) Langkat Hulu dan (2) Langkat Hilir. Sultan Musa berkedudukan di Langkat Hilir, sedangkan untuk Langkat Hulu Sultan Musa menunjuk putra tertuanya untuk menjadi wakil sultan di Langkat Hulu. Ketika Sultan Abdul Aziz berkuasa, asisten residen Belanda dipindahkan dari Binjai ke Tanjung Pura.

2.1.2 Langkat Pada Masa Kependudukan Jepang

Rezim Jepang mulai berkuasa di Medan dan sekitarnya pada tanggal 13 Maret 1942 yang sekaligus mengambil alih kekuasaan atau jajahan Belanda menjadi jajahan Jepang. Otomatis Kerajaan atau Kesultanan Langkat jatuh ke tangan Jepang. Semua istilah-istilah Belanda ditukar menjadi istilah Jepang.

Istilah keresidenan ditukar menjadi ―Syu‖ yang dikepalai oleh Syu-tyokan yang setarap dengan residen tetapi kekuasaan Syu-tyokan setaraf dengan gubernur yang mempunyai wewenang penuh untuk mengurus dan mengatur daerahnya sendiri.

Dengan sistem kerja paksa (Romusha), bangsa Jepang membawa pemuda Langkat untuk bekerja tanpa upah dalam menyelesaikan proyek mereka seperti pembangunan lapangan terbang di Baguldah Padang Cermin Kecamatan Selesai dan pembangunan lapangan terbang di Tanjung Beringin Hinai. Kekejaman Jepang mengakibatkan terjadinya pemberontakan rakyat yang dikoordinir oleh Aron. Para rakyat melawan tentara Jepang terutama pada ―Kempetai‖ di kampung

Belilir Kecamatan Kuala, Tanjungpura, Pangkalan Berandan, Besitang. Di Besitang dikenal dengan perlawanan berdarah oleh H.O.K. Nurdin yang bergelar Datuk Setia Bakti Besitang yang menghadang satu kompi pasukan Jepang dan akhirnya beliau tewas oleh pengeroyokan puluhan serdadu Jepang. Pada masa itu yang yang menjabat sebagai sultan di Langkat adalah Sultan Mahmud yang memang kurang mampu dan kurang berani dalam membela rakyatnya, karena setiap gerak dan langkahnya selalu diintai oleh pihak Jepang. Setiap keputusan yang akan diambil oleh Sultan Mahmud harus diketahui dan disetujui oleh pemerintahan Jepang (Arifin, 2008:43—46).

2.1.3 Langkat Era Kemerdekaan

Berita kemerdekaan Indonesia itu belum terdengar di Medan dan Langkat karena pada masa itu belum ada televisi sedangkan radio juga masih sulit dipunyai. Berita kemerdekaan Indonesia baru diterima melalui telegram pada tanggal 6 September 1945 secara berantai dari Jakarta melalui Bukit Tinggi maka, sejak itu berkibarlah Sang Merah Putih di tanah Langkat.

Negara Republik Indonesia untuk Provinsi Sumatera secara resmi diumumkan pada tanggal 3 Oktober 1945 dengan gubernur dan wakilnya yaitu Teuku Muhammad Hasan dan Dr. M. Amir. Untuk meyakinkan raja-raja di Sumatera Timur tentang kemerdekaan Indonesia maka Dr. M. Amir melakukan koordinasi dan pertemuan dengan Sultan Mahmud Abdul Aziz di Istana Sultan Langkat di Tanjung Pura pada tanggal 24 Oktober 1945. Kedatangan Dr. M. Amir disambut oleh Sultan Mahmud Abdul Aziz yang didampingi oleh T. Amir Hamzah yang ketika itu merupakan pangeran kerajaan Langkat atau raja muda. Pada pertemuan itu dijelaskan bahwa Kesultanan Langkat kedudukannya adalah

sebagai daerah istimewa, yang pada akhirnya melahirkan kesepakatan pertemuan sebagai berikut, (1) Kesultanan Langkat berada di bawah perlindungan dan naungan Pemerintah Republik Indonesia, yaitu Gubernur Sumatera, (2) Tengku Amir Hamzah diangkat dan ditetapkan menjadi asisten residen Pemerintah Kabupaten Langkat. Ibu kotanya berkedudukan di Binjai.

Kemudian pada tanggal 26 Oktober 1945 Gubernur Sumatera mengeluarkan surat keputusan bahwa T. Amir Hamzah ditetapkan sebagai asisten residen Republik Indonesia untuk wilayah Langkat (setingkat dengan Bupati pada masa sekarang). Dengan adanya penetapan tersebut maka kunci utama untuk melancarkan jalannya pemerintahan Republik Indonesia di daerah keresidenan Sumatera Timur adalah Sultan Langkat.

Pada 3 Maret 1946 terjadi revolusi sosial di Sumatera Timur yang dilakukan oleh rakyat. Rakyat menuntut agar Pemerintahan Istimewa (Sistem Kerajaan di Sumatera Timur) dibubarkan. Revolusi ditujukan kepada golongan-golongan yang berkhianat kepada bangsa dan tanah air Indonesia. Rakyat pun mulai menyerang istana raja-raja yaitu Deli, Langkat, Asahan, Siantar, Tanah Karo dan lain-lain. Namun Sultan Deli yang berada di Istana Maimoon terlindungi dari amukan rakyat karena ketika itu pendudukan serdadu Inggris di mana pasukan Sekutu menempatkan markas mereka di Istana Maimoon sehingga gerakan revolusi sosial tidak dapat menyerang istana Maimoon.

Rakyat menculik tokoh-tokoh feodalis Kerajaan/Kesultanan Langkat di antaranya adalah Sekretaris Sultan Langkat yaitu Datuk M. Jamil yang sangat radikal memihak kepada Pemerintahan Kolonial Belanda dan akhirnya tewas ketika melawan dan menghadang rombongan yang akan memasuki istana.

Penyerangan yang mengatasnamakan rakyat ini dipelopori oleh tokoh Partai Komunis PKI Langkat serta Tokoh Pesindo Langkat.

Selain keluarga besar Sultan Mahmud yang menjadi korban revolusi sosial, Tengku Amir Hamzah juga menjadi korban fitnah. Tengku Amir Hamzah yang semasa hidupnya dikenal sebagai raja Penyair Pujangga Baru juga dikenal sebagai politikus. Tengku Amir Hamzah dianggap tidak mampu bertindak tegas sebagai seorang asisiten residen (Bupati). Maka pada tanggal 3 Maret 1945 ketika ia bersama dengan istri dan anak tunggalnya T. Tahura Alautiah yang masih kecil menunggu mobil jemputan, beberapa orang pemuda membawa paksa Tengku Amir Hamzah dan dibawa sebagai tawanan di sebuah gudang di Perkebunan Tembakau Kuala Begumit arah pedalaman Binjai. Beliau dituduh sebagai kaki tangan Belanda dan pengkhianat Bangsa Indonesia. Maka setelah beberapa hari beliau ditangkap dan ditawan, pada tanggal 20 Maret 1946 pukul 1.15 dini hari Tengku Amir Hamzah dibawa ke arah Stabat dan dipancung mati di sebuah lubang bersama 18 orang lainnya (Arifin, 2008:76).

2.1.4 Tanjung Pura dan Pangkalan Brandan Dibumihanguskan Pasca- Kemerdekaan

Belanda menguasai kota Stabat pada tanggal 22 Juli 1947, untuk menjaga agar Belanda tidak masuk ke Tanjung Pura untuk merusak atau membakar Istana atau rumah-rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya ketika terjadi revolusi sosial para pejuang menjaga di pinggiran jembatan Sungai Wampu. Namun, pada tanggal 30 Juli 1947 Istana Mahligai, Istana Kecil Mangkubumi, Gedung Krapatan Sultan (sekarang Gedung Museum daerah Langkat) dan 17 rumah milik para pembesar Sultan Langkat dibakar dan dibom oleh Laskar Font Tanjung Pura

yang terdiri atas Kesatria Pesindo, Barisan Merah, Laskar Mujahiddin, Laskar Hisbullah, dan Sabilillah. Hanya Gedung Krapatan Sultan (sekarang Gedung Museum daerah Langkat) dan sebahagian Istana Mahligai Sultan Mahmud yang tidak hancur. Belanda menguasai Tanjung Pura pada tanggal 4 Agustus 1947, pada tanggal 11 Agustus 1947 pasukan Komando Sektor Barat Oetara (KSBO) meledakkan jembatan Securai agar dapat menghambat masuknya tentara Belanda ke Pangkalan Brandan, namun pada tanggal 13 Agustus 1947 tambang minyak di Pangkalan Brandan dibumihanguskan juga agar Belanda tidak dapat menguasai tambang minyak tersebut (Arifin, 2008:90--105).

Dokumen terkait