Sekolah Alam adalah sekolah dengan konsep pendidikan berbasis alam semesta. 33. Sekolah Alam (SA) dapat dimaknai sebagai suatu lembaga pendidikan dengan metoda tertentu dan dapat pula dimaknai sebagai suatu sistem. Sebagai sistem, Sekolah Alam merupakan sistem pendidikan yang memanfaatkan dimensi alam sebagai obyek pendidikan, eksperimen/ uji coba, modal produksi dan sarana pengembangan manusia.34
Sedangkan, penulis D. Zawawi Imron dalam berpendapat bahwa Sekolah Alam adalah sekolah tempat belajar bertindak mencintai alam, belajar menjadi manusia yang berdaya lahir batin, bertanggung jawab merawat dan mengawal negara, karena alam atau tanah air adalah sajadah tempat bersujud kepada Tuhan.35
b. Urgensi Sekolah Alam
Pendidikan dan pengelolaan lingkungan hidup (alam) merupakan dua komponen yang sangat berhubungan. Pendidikan pada dasarnya adalah proses pengenalan, pemahaman, dan penghayatan nilai-nilai pengelolaan lingkungan hidup. Sedangkan penyadaran dan pengelolaan lingkungan hidup akan menjadi efektif bila didasarkan pada proses pendidikan yang benar. Proses penyadaran merupakan proses inti atau hakikat dari proses pendidikan itu sendiri.
Secara psikologis, proses pengetahuan akan maksimal apabila pengalaman yang dimiliki anak menjadi pengetahuan bagi mereka sendiri. Dengan mengalami sesuatu itu sendiri, pemahaman yang diterima otak lebih maksimal terekam dan awet dibandingkan ketika membaca, menghafal, mendengar dan melihat saja.
Di sekolah terjadi proses enkulturasi, yaitu proses pembudayaan terhadap nilai-nilai dan norma-norma yang berkembang dalam masyarakat, termasuk nilai dan norma yang mengatur hubungan antara manusia dan lingkungannya. Oleh karena sikap terhadap alam, nilai dan norma yang berlaku, pantangan dan pengetahuan seseorang sangat berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan, maka pendidikan di sekolah menempati posisi strategis sebagai tempat persemaian manusia-manusia ramah lingkungan.
c. Karakteristik Sekolah Alam
33 Profil Sekolah Alam Ciganjur
34 Profil Sekolah Alam Ar-Ridho Semarang
Berbeda dengan konsep belajar konvensional yang pada umumnya dikelola oleh pemerintah, Sekolah Alam menawarkan konsep belajar yang lebih dinamis dan fleksibel. Meski bukan mustahil jika sekolah-sekolah negeri pada umumnya turut mengembangkan kurikulum seperti di Sekolah Alam, namun faktanya sekolah-sekolah konvensional tersebut banyak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan kurikulum baru dari pemerintah. Hal ini disebabkan karena sekolah-sekolah negeri terbiasa terikat secara birokratif sehingga kurang mandiri dan cenderung berorientasi pada teori saja.
Berdasarkan hasil studi banding, Sekolah-sekolah Alam di Indonesia mempunyai beberapa kesamaan ciri yang membentuk karakteristik umum Sekolah Alam. SA sangat spesifik dilihat dari paradigma belajar, metoda, hubungan guru-siswa, media belajar, kurikulum, desain fisik, dan penentuan lokasi. Karakteristik SA secara umum antara lain :
1). Pembelajaran berpusat pada siswa (learner centered) sehingga mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku. 2). Guru diposisikan sebagai fasilitator proses pembelajaran siswa. Guru menjadi mitra
pembelajaran yang berfungsi sebagai pendamping (guide on the side) bagi siswa. 3). Belajar Berbasis Pengalaman (Experiential Learning) sehingga siswa memperoleh
pemahaman terhadap suatu pengetahuan dengan lebih mendalam (deep learning). 4). Alam digunakan sebagai media belajar. Alam sekitar dijadikan sebagai
laboratorium.
5). Menekankan pada Pendidikan Luar Ruang (Outbound Education) yang sarat dengan permainan yang menantang, mengandung nilai-nilai pendidikan, dan mendekatkan siswa dengan alam.
6). Memodifikasi kurikulum nasional dengan memasukkan kurikulum pengembangan seperti : falsafah ilmu pengetahuan, spiritualisasi di alam, kepemimpinan, ilmu pengetahuan hayati, pendidikan lingkungan hidup, distribusi bisnis dan retail, teknologi informasi dan komunikasi, dll.
7). Menggunakan konsep pembelajaran spider web (mengambil satu obyek lalu mengaitkannya dengan banyak mata pelajaran sekaligus) dan fun learning (menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan).
8). Desain fisik ruang kelas biasanya berupa saung-saung tanpa bangku kelas umumnya. Anak-anak dapat bebas memilih posisi duduk di lantai.
9). Fasilitas untuk melakukan kegiatan di alam biasanya berupa laboratorium, rumah kaca, area kebun dan ternak, lapangan untuk outbound, kolam/empang untuk
variasi outbound dan playground. Fasilitas lain yang umumnya disediakan SA antara lain perpustakaan, ruang administrasi, laboratorium komputer, ruang serbaguna dan tempat ibadah.
10). Lokasi SA pada umumnya dipilih di pinggir kota, di mana anak-anak dapat dengan mudah menemukan lingkungan hijau seperti kebun, sawah, sungai, dan cukup tenang dari keramaian aktivitas kota.
11). Tapak SA biasanya mempunyai potensi alam dan eksisting alami yang menarik, seperti misalnya sawah, sungai, kontur bervariasi, kebun, peternakan, waduk tadah hujan, pemukiman penduduk setempat, bukit, dan jenis biodiversitas lainnya. 12). Lansekap SA dirancang dinamis, jauh dari kesan formal, mengikuti kontur alami,
cenderung berkesan rekreatif dan menyatu dengan alam.
13). Bahan material bangunan didominasi oleh kayu, bambu, ijuk dan batu bata yang menimbulkan kesan menyatu dengan alam.
14). Massa-massa bangunan biasanya dipolakan secara terpisah agar tercipta ruang-ruang terbuka di antara massa-massa bangunan itu. Ruang-ruang-ruang antara dijadikan lahan bertanam dan area untuk berinteraksi dengan alam.
d. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Mendukung Eksistensi Sekolah Alam (SA)
KTSP memuat 7 prinsip dasar pembelajaran36, yaitu antara lain :
1). Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini, peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
2). Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu : (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jatidiri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
3). Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi keTuhanan, keindividuan, kesosialan dan moral.
4). Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarso sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan)
5). Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip ”alam takambang jadi guru” (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).
6). Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
7). Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.
Secara ringkas, KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip berikut :
1) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
2) Beragam dan terpadu
3) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni 4) Relevan dengan kebutuhan kehidupan
5) Menyeluruh dan berkesinambungan 6) Belajar sepanjang hayat
Dengan membandingkan antara prinsip dasar pembelajaran dalam KTSP 2006 dan konsep pembelajaran Sekolah Alam terdapat keselarasan muatan sebagai berikut :
Tabel II.7
Perbandingan antara Prinsip Dasar Pembelajaran KTSP dengan Konsep Pembelajaran Sekolah Alam
No. Prinsip Dasar Pembelajaran KTSP 2006
Konsep Pembelajaran Sekolah Alam 1) Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada
potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini, peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
Kurikulum tak hanya berupa daftar kumpulan mata pelajaran melainkan juga sebagai kegiatan belajar dan pengalaman belajar peserta didik. Cara pandang ini menuntut guru untuk mampu berkreativitas, mengaitkan perilakunya di depan kelas dengan konteks pembelajaran yang menjadi pengalaman dan dibutuhkan oleh peserta didik, sehingga orientasi pembelajarannya berpusat pada peserta didik (learner
centred). Anak-anak SA diarahkan untuk
memahami potensi dasarnya sendiri. Setiap anak dihargai kelebihannya dan dipahami kekurangannya.
2) Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu : (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jatidiri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Hakikat tujuan pendidikan SA adalah membantu anak didik tumbuh menjadi manusia yang berkarakter. SA tetap mengikuti kurikulum nasional sebagai acuan dasar lalu mengembangkannya sesuai kebutuhan dan kemampuan SA.
3) Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi keTuhanan, keindividuan, kesosialan dan moral.
Kurikulum yang diterapkan SA disusun staf pengajar agar sesuai dengan kemampuan siswanya. Sistem pendidikan SA memadukan teori dan penerapannya.
4) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsip tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarso sung tulada
Fun learning merupakan metode belajar
mengajar yang bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga anak didik senang untuk belajar. Guru dan murid adalah teman sehingga terbina hubungan yang akrab, menyenangkan, terbuka dan saling menghargai di SA. 5) Kurikulum dilaksanakan dengan
menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan
SA merupakan sekolah dengan konsep pendidikan berbasis alam semesta. SA mempunyai dimensi alam sebagai sumber ilmu yang bisa dikelola oleh para
Sumber : Analisa pribadi, 2008 e. Sekolah Alam di Indonesia
Sebagian besar SA di Indonesia berada pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP) dan prasekolah (Playgroup dan TK). Hal ini disebabkan karena SA masih baru di Indonesia. SA yang pertama kali muncul dan mempelopori berdirinya banyak SA di Indonesia adalah Sekolah Alam Ciganjur di Ciganjur, Jakarta.
1). Sekolah Alam Ciganjur di Jakarta
SA ini didirikan oleh Lendo Novo yang prihatin dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Ia melihat banyak kegiatan belajar mengajar di sekolah pada umumnya didominasi oleh sistem kurikulum yang sempit, masif, cenderung teoretik, didominasi oleh guru dan identik dengan peraturan yang menyamaratakan. Orientasi anak belajar hanya untuk mencari nilai, bukan sebagai life skill yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu hanya berhenti pada angka bukan pada manfaatnya bagi kehidupan apabila diterapkan. Oleh karenanya, Lendo Novo menggagas sebuah ide membangun model sekolah yang sekarang populer dengan nama SA Ciganjur dengan harapan dapat mewujudkan pendidikan yang ideal bagi anak-anak Indonesia.
Demi hakikat pendidikan dalam membentuk manusia yang berkarakter, proses belajar mengajar berlangsung dalam suasana yang menggunakan metoda :
a). Fun Learning
Belajar di alam terbuka, secara naluriah akan menimbulkan suasana “fun”, tanpa tekanan dan jauh dari kebosanan. Sehingga, akan tumbuh kesadaran pada anak bahwa “learning is fun” dan sekolah identik dengan kegembiraan.
memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan prinsip ”alam takambang jadi guru” (semua yang terjadi, tergelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).
peserta didik. Anak-anak tak hanya belajar di kelas melainkan belajar dari alam sekelilingnya, dari manapun dan dari siapapun.
6) Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
Spider web merupakan metode yang mengintegrasikan beberapa mata pelajaran pada satu obyek pembelajaran. Dengan demikian, pengetahuan menjadi lebih menyeluruh dan terinternalisasi. 7) Kurikulum yang mencakup seluruh
komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.
Penciptaan sistem pembelajaran yang berbasis lingkungan memberikan suasana yang kondusif bagi pendidikan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya retensi serta kompetensi siswa pada konsep-konsep yang dipelajarinya.
b). Spider Web
Spider Web merupakan metoda belajar yang mengintegrasikan tema dalam semua mata pelajaran sehingga pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran bersifat integratif, komprehensif dan aplikatif. Misalnya, tema pelajaran adalah pasar. Ini berarti, para murid mempelajari semua hal yang ada di pasar. Dari sisi pelajaran Sains, murid diajak mencari tahu asal sayuran dan buah-buahan. Dari segi pelajaran Matematika, mereka belajar menghitung harga jual supaya pedagang tidak rugi. Sedangkan dari segi pelajaran bahasa, mereka berlatih cara berbicara yang baik dengan pedagang maupun pembeli.
Kurikulum SA Ciganjur didasarkan atas tiga output proses pendidikan Sekolah Alam. Ketiga output tersebut adalah :
a). Integritas Akhlaq dicapai dengan keteladanan; keteladanan guru, orang tua, serta semua komponen Sekolah Alam
b). Integritas Logika dicapai dengan model pembelajaran action learning, anak-anak belajar langsung dari alam. Alam menjadi laboratorium bagi mereka. c). Kepemimpinan dicapai dengan metode outbound dan dynamic group.
Dengan landasan ketiga output tersebut, maka kurikulum Sekolah Alam terdiri dari dari tiga aspek, yaitu kurikulum akhlak, kurikulum kognitif (pendekatan dari logika berfikir), dan kurikulum kepemimpinan.
a). Akhlaqul Karimah menjadikan anak memiliki akhlaq yang baik dengan metode utamanya keteladanan yang berdasar pada Al-Qur’an dan Hadits
b). Falsafah Ilmu Pengetahuan menjadikan anak memiliki logika berpikir yang baik, mencermati alam lingkungannya menjadi media belajarnya dengan metoda action learning dan diskusi.
c). Kepemimpinan/Leadership menjadikan anak memiliki semangat kepemimpinan yang baik dengan metoda outbound dan dynamic group.
Kurikulum SA mempunyai komposisi materi pembelajaran dengan perbandingan 80:20, artinya sebanyak 80% merupakan kurikulum akhlak, sedangkan 20%-nya adalah kurikulum kognitif. Kurikulum model ini diambil karena keberhasilan anak cenderung ditentukan oleh kecerdasan emosinya. Dalam penyampaian pembelajaran, 70% kegiatan pembelajaran di SA merupakan outdoor activity dan 30% lainnya adalah indoor activity. Materi pembelajaran disampaikan secara active dan fun.
a). Outbound Salah satu kegiatan outdoor di Sekolah Alam ini rutin diberikan untuk semua siswa. Outbound bertujuan untuk pembentukan sikap kepemimpinan siswa (kepercayaan diri, kerja sama tim, dan lain-lain).
b). Kebun dan Ternak Kegiatan kebun dan ternak dilakukan oieh semua siswa. Adapun jenis kegiatannya ditentukan sesuai jenjang kelas siswa. Selain belajar mencintai lingkungan, kegiatan ini juga dapat dijadikan sebagai media pembelajaran untuk materi pelajaran lain secara terpadu.
c). Market Day Merupakan ajang setiap kelas untuk berjualan di Sekolah Alam. Setiap siswa akan terlibat mulai dari perencanaan, promosi hingga penjualan produk mereka. Hal ini membutuhkan kerjasama antar siswa dari masing-masing kelas. Pada saat market day, orang tua siswa dan masyarakat diundang untuk secara langsung melihat dan membeli dagangan siswa sekolah alam.
d). Outing Merupakan kegiatan untuk memperdalam pembelajaran yang disampaikan di sekolah. Kegiatan ini dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat yang sesuai dengan tema pembelajaran siswa saat itu.
e). Muhadhoroh dan Audiensi Merupakan pertemuan pekanan siswa yang bertujuan menjalin keakraban antara siswa yaitu audiensi siswa, yaitu pertunjukan setiap kelas seperti drama, ensamble, puisi, menyanyi lagu, dll. Kegiatan untuk menumbuhkan jiwa entertainership siswa dan melatih apresiasi siswa terhadap hasil karya temannya.
f). Ramadhan Camp dan I'tikaf Merupakan kegiatan yang bernuansa Ramadhan. Salah satu bentuk kegiatannya adalah buka puasa bersama. Siswa mulai kelas 3 melanjutkan acara buka puasa dengan menginap di sekolah. Bersama-sama mereka melakukan sholat tarawih, tilawah quran, kajian islam, qiyamul lail dan sahur. Kegiatan menginap diadakan selama dua hari semalam.
g). OTFA (Out Tracking Fun Adventure) Merupakan evaluasi akhir dari keseluruhan kegiatan outbound bagi siswa SD. OTFA biasanya dilakukan di luar sekolah selama dua hari di akhir tahun ajaran. Bentuk kegiatannya berupa camping, outbound¸ dan tracking.
h). Renang Kegiatan diikuti oleh seluruh siswa satu bulan sekali secara bergiliran tiap kelasnya.
Kekhasan secara fisik, massa-massa bangunan SA berupa saung-saung persegi empat dengan tampilan yang menonjolkan nuansa yang menyatu dengan alam. Di sini terdapat halaman parkir, saung tunggu, saung kantor guru dan administrasi, perpustakaan, ruang Special Needs Centre, musholla, lapangan, Green Lab, kebun, kolam ikan dan tempat ternak. Green Lab, yaitu laboratorium tanam-tanaman dalam rumah plastik dan kaca, lengkap dengan saung kebunnya, berpadu dengan petak-petak kebun yang ditanami aneka tanaman organik dan hidroponik, milik masing-masing kelas sebagai penanggung jawabnya.
SA Tingkat Dasar memberi kesempatan seluas-luasnya bagi peserta didik maupun pendidik untuk belajar bersama di alam baik di dalam maupun di luar sekolah. Secara psikologis, anak-anak di usia 5-15 tahun sedang berusaha mencari dan mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya demi memuaskan pertanyaan-pertanyaaan yang menyangkut diri dan lingkungan sekitar mereka. Secara psikomotorik, koordinasi dan keseimbangan tubuh anak sudah semakin membaik. Secara sosial, kontak dengan dunia luar pun semakin luas. Karakteristik perkembangan psiko-fisik anak dan kebutuhan kegiatannya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel II.8
Karakteristik perkembangan psiko-fisik anak dan kebutuhan kegiatan37
Kelompok usia
Perkembangan psiko fisik Kebutuhan anak 5-10 tahun
(anak sekolah)
Keseimbangan badan sudah membaik
Koordinasi psikomotorik semakin berkembang
Kontak dengan dunia luar semakin luas
Permainan mengarah permainan kelompok
Menyukai bermain kejar – kejaran
Mulai bersifat menyelidik
Ketergantungan pada individu lain berkurang
Suka mendengarkan cerita
Rasa tanggungjawab mulai tumbuh
Kognitif, contoh : iptek, membaca
Afektif, contoh : menggambar/ melukis, musik, teater boneka
Motorik gerak, konstruktif, reseptif
11-14 tahun (anak remaja)
Koordinasi psikomotorik sudah baik
Proses sosialisasi semakin baik
Permainan mengarah pada permainan kelompok dan sudah dapat memahami peraturan tertentu
Dapat memisahkan persepsi dengan tindakan, mulai menggunakan logika dalam bertindak
Mulai usia 12 tahun gerakan anak semakin tergantung aturan
Kognitif, contoh : iptek, membaca Afektif, contoh : menggambar/ melukis, musik, film Motorik gerak, konstruktif, reseptif Sumber : Winkel, WS. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Grasindo
37 Winkel, WS. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Grasindo anorganik
Gambar III.1 Pembagian wilayah Solo Raya
Sumber : www.soloraya.co.id dengan analisa pribadi, 2008