• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOGOR

2008

iv

sebagian besar responden (40,5%) berumur 21-32 tahun, jenis kelamin laki-laki 55,7%, pendidikan 44,3% berada pada jenjang Sekolah Lanjutan, bekerja di sektor non formal (40,5%), pendapatan 43% kurang dari Rp. 600.000,00 per bulan tergolong dalam kurang mapan sosial ekonominya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan perilaku komunikasi responden dalam menonton televisi secara keseluruhan dapat dikatakan tinggi (77,2%) berkisar antara enam sampai dengan tujuh hari dalam seminggu, mendengarkan radio sangat tinggi berkisar antara enam sampai dengan tujuh hari (48,1%), sedangkan membaca koran tergolong rendah berkisar antara tiga sampai dengan empat hari dalam seminggu (51,9%). (2) Karakteristik pertunjukan wayang purwa berdasarkan: rataan skor 3,34 hubungan dalang dengan penonton dalam pertunjukan wayang purwa bersifat netral. Hubungan dalang dengan penonton termasuk berada dalam hal terpenting yang terakhir dalam pertunjukan wayang purwa. Tokoh pelaku dalam pertunjukan wayang purwa dengan tema bersih desa berada dengan skor 3,40 dan dalam selang netral. Hal ini menggambarkan bahwa tokoh pelaku memiliki kedudukan yang cukup penting dalam pertunjukan wayang purwa. Tema serta masalah pokok memperoleh skor 3,39 dan berada dalam selang netral. (3) Tingkat efektivitas komunikasi masyarakat tentang bersih desa: sikap responden dalam pola kehidupannya dengan skor 3,51 yang termasuk dalam selang positif. Pengetahuan yang diperoleh melalui pertunjukan wayang purwa termasuk dalam selang netral dengan rataan skor 3,37. (4) Hubungan karakteristik individu masyarakat dengan karakteristik pertunjukan wayang purwa berhubungan nyata dengan karakteristik pertunjukan wayang purwa, antara lain (a) umur dengan tokoh pelaku, (b) pendidikan dengan hubungan dalang dengan penonton, tokoh pelaku dan tema serta masalah pokok, (c) pekerjaan dengan tokoh pelaku dan tema serta masalah pokok, (d) pendapatan dengan tokoh pelaku dan tema serta masalah pokok, (e) menonton televisi dengan hubungan dalang dengan penonton, tokoh pelaku dan tema serta masalah pokok. (5) Hubungan karakteristik individu masyarakat dengan efektivitas komunikasi masyarakat tentang bersih desa yang berhubungan nyata antara lain: jenis kelamin dengan pengetahuan dan berhubungan sangat nyata, antara lain: (a) pendidikan dengan efektivitas komunikasi masyarakat, (b) pekerjaan dengan sikap masyarakat, (c) pendapatan dengan efektivitas komunikasi masyarakat dan (d) menonton televisi dengan efektivitas komunikasi masyarakat. (6) Hubungan karakteristik pertunjukan wayang purwa dengan efektivitas komunikasi masyarakat secara keseluruhan berhubungan nyata.

Disimpulkan bahwa pertunjukan wayang purwa salah satu media yang masih digunakan di era globalisasi untuk mencapai komunikasi yang efektif dan masih dimanfaatkan masyarakat dalam mengkomunikasikan pesan yang berkenaan dengan bersih desa.

Disarankan dalang harus mampu mewadahi dalam bentuk kemasan pakeliran yang sesuai dengan pakem yang ada, sehingga tidak menggeser nilai-nilai yang berkembang di era globalisasi.

v

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

vii Nama : Nurtriana Rizkawati

NIM : I 353060101

Program Studi : Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan

Disetujui Komisi Pembimbing

Dr. Ir. H.Amiruddin Saleh, MS Dr. drh. Widiyanto Dwi Surya, MSc Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan

Komunikasi Pembangunan Pertanian Sekolah Pascasarjana IPB dan Pedesaan

Prof. Dr. Ir. H. Sumardjo, MS Prof. Dr. Ir. H. Khairil A. Notodiputro, MS

viii

ix

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan karunia – Nya kepada penulis sehingga Tesis ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya sesuai dengan harapan dan keinginan penulis.

Tesis yang berjudul “ Efektivitas Komunikasi Masyarakat dalam Memanfaatkan Pertunjukan Wayang Purwa Di Era Globalisasi, Kasus di Desa Bedoyo, Gunung Kidul, Yogyakarta” ini disusun untuk memenuhi tugas akhir dalam usaha mencapai gelar Magister Sains pada Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan.

Selesainya penulisan Tesis ini tidak terlepas dari bimbingan, perhatian dan bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih dan rasa hormat yang sedalam-dalamnya kepada berbagai pihak, sebagai berikut:

1. Dr. Ir. H. Amiruddin Saleh, MS selaku Pembimbing I yang senantiasa memberikan bimbingan dan petunjuk kepada penulis dengan penuh kesabaran. 2. Dr. drh. Widiyanto Dwi Surya, MSc selaku Pembimbing II yang selalu

memberikan arahan dan bimbingan yang bersifat membangun.

3. Ibu Dra. Krishnarini Matindas, MS selaku penguji yang telah memberikan waktu serta bimbingannya dalam tesis ini menjadi lebih baik.

4. Segenap dosen dan administrasi pada program studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan dan Sekolah Pascasarjana pada umumnya yang telah memberikan kemudahan dalam pengurusan surat-menyurat.

5. Bapak Reki sekeluarga selaku dalang yang telah bersedia membantu serta memberikan informasi terkait dengan efektivitas komunikasi masyarakat dalam memanfaatkan pertunjukan wayang purwa di era globalisasi terkait pesan bersih desa.

6. Kepala Desa Bedoyo beserta staf, yang dengan setia melayani penulis di dalam memperoleh data yang penulis perlukan dan pelayanan yang penuh dengan rasa kekeluargaan selama penulis mengadakan penelitian di Desa Bedoyo.

7. Enumerator (Amin Suprihatin dan Arief) yang setia melayani penulis di dalam memperoleh data-data yang penulis perlukan dan pelayanan yang penuh

x

8. Keluarga yang telah memberikan dorongan kepada penulis sampai terselesaikannya penulisan tesis ini.

9. Teman-teman yang telah membantu dalam proses evolusi yang tiada akhirnya Penulis menyadari bahwa Tesis ini masih jauh dari sempurna mengingat keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki. Untuk itu segala kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan Tesis ini lebih lanjut. Akhirnya besar harapan penulis agar tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi yang memerlukannya.

Bogor, 5 September 2008

xi

Penulis dilahirkan di Jakarta Selatan, Kelurahan Cikoko, Kecamatan Pancoran, Jakarta pada tanggal 28 Oktober 1984, merupakan anak bungsu dari pasangan Basri Jatoko (Bapak) dengan Silvia Nurlaila (Ibu).

Mulai masuk sekolah dasar tahun 1990 di SD Muhammadiyah 06 pagi Jakarta Selatan dan tamat pada bulan Juni 1996. Pada tahun yang sama melanjutkan pendidikan ke SMPN 73 Jakarta Selatan. Pada tahun 1998 pindah ke SMPN 81 Jakarta Timur, dikarenakan pindahnya tempat tinggal ke Jakarta Timur, berhasil tamat bulan Juni 1999 kemudian melanjutkan ke sekolah SMAN 113 Jakarta Timur, mengambil jurusan ilmu pengetahuan alam dan berhasil tamat bulan Juni 2002.

Pada tahun 2002 melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian melalui jalur SPMB dan pada tahun 2006 terpilih menjadi mahasiswa berprestasi peringkat III Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, Bali.

xii

Halaman

DAFTAR TABEL ... xiv DAFTAR GAMBAR ... xv DAFTAR LAMPIRAN ... xvi PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1 Perumusan Masalah ... 6 Tujuan Penelitian ... 7 Manfaat Penelitian ... 8 Ruang Lingkup Penelitian ... 8 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis ... 9 TINJAUAN PUSTAKA ... 12 Karakteristik Individu ... 12 Wayang ... 12 Karakteristik Pertunjukan Wayang Purwa ... 33 Efektivitas Komunikasi ... 41 Globalisasi Informasi dan Komunikasi ... 45 Bersih Desa ... 47 METODE PENELITIAN ... 56 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 56 Desain Penelitian ... 56 Populasi dan Contoh ... 56 Data dan Instrumentasi ... 58 Definisi Operasional ... 58 Validitas dan Reliabilitas Instrumen... 60 Pengumpulan Data ... 62 Analisis Data ... 63 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 64 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 64 Deskripsi Kegiatan Bersih Desa ... 65 Karakteristik Responden Masyarakat Desa Bedoyo ... 70 Karakteristik Pertunjukan Wayang Purwa ... 81 Tingkat Efektivitas Komunikasi Masyarakat mengenai Pertunjukan Wayang Purwa ... 89 Hubungan Karakteristik Individu Masyarakat dengan Karakteristik Pertunjukan Wayang Purwa ... 92 Hubungan Karakteristik Individu Masyarakat dengan Efektivitas Komunikasi Masyarakat ... 98 Hubungan Karakteristik Pertunjukan Wayang Purwa dengan Efektivitas Komunikasi Masyarakat ... 103

xiii

DAFTAR PUSTAKA ... 110 LAMPIRAN ... 114

xiv

Halaman

1. Populasi masyarakat Desa Bedoyo, Gunung Kidul, DIY ... 57 2. Jumlah contoh penelitian masyarakat Desa Bedoyo, Gunung Kidul, DIY ... 58 3. Distribusi luas tanah menurut penggunaannya di Desa Bedoyo ... 65 4. Distribusi responden masyarakat Desa Bedoyo berdasarkan karakteristik

individu ... 70 5. Rataan skor pendapat responden tentang karakteristik pertunjukan wayang

purwa di Desa Bedoyo ... 84 6. Rataan skor pendapat responden tentang tingkat efektivitas komunikasi

masyarakat mengenai bersih desa dalam memanfaatkan pertunjukan wayang purwa di Desa Bedoyo ... 90 7. Hubungan karakteristik individu dengan karakteristik pertunjukan wayang

purwa di Desa Bedoyo ... 93 8. Hubungan karakteristik individu dengan efektivitas komunikasi masyarakat

tentang bersih desa di Desa Bedoyo ... 99 9. Hubungan karakteristik pertunjukan wayang purwa dengan efektivitas

xv

Halaman

1. Hubungan peubah bebas dan terikat pada kerangka analisis efektivitas komunikasi masyarakat dalam memanfaatkan pertunjukan wayang purwa di era globalisasi ... 10 2. Distribusi responden berdasarkan umur di Desa Bedoyo, Gunung Kidul,

DIY... 71 3. Distribusi responden berdasarkan jenis kelamin di Desa Bedoyo, Gunung

Kidul, DIY ... 72 4. Distribusi responden berdasarkan pendidikan di Desa Bedoyo, Gunung

Kidul, DIY ... 73 5. Distribusi responden berdasarkan pekerjaan di Desa Bedoyo, Gunung

Kidul, DIY ... 74 6. Distribusi responden berdasarkan pendapatan per bulan di Desa Bedoyo,

Gunung Kidul, DIY ... 75 7. Distribusi responden berdasarkan perilaku komunikasi dalam menonton

xvi

Halaman

1. Arti kata dan istilah lokal ... 115 2. Uji validitas kuesioner ... 119 3. Uji reliabilitas kuesioner ... 126

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dewasa ini di negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia, telah terjadi proses modernisasi. Era modernisasi ini ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan cenderung mulai ditinggalkannya tata nilai yang telah lama berakar dalam alam pikir masyarakat pendukungnya. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggeser tata nilai itu, terjadi pula proses transformasi nilai (budaya).

Istilah “negara yang sedang berkembang,” di samping mencangkup pengertian proses pengintegrasian unsur-unsur tradisional untuk suatu solidaritas nasional, adalah juga mencakup pengembangan hasil integrasi unsur-unsur untuk peningkatan kesejahteraan kehidupan bangsa yang menunjang unsur- unsur kebudayaan itu.

Kayam (1986) mengatakan bahwa transformasi nilai mengandalkan suatu proses peralihan total dari suatu bentuk sosok baru yang akan mapan. Transformasi sebagai tahap terakhir dari suatu perubahan yang mengarah ke era globalisasi. Transformasi dapat dibayangkan sebagai titik balik yang cepat.

Di Indonesia sejak terbentuknya negara bangsa (nation state) pada masa kemerdekaan telah terjadi transformasi di bidang kehidupan politik, ekonomi dan sosial budaya. Dalam bidang politik bangsa Indonesia telah merdeka dan bebas dari ikatan politik kolonial. Bidang ekonomi bangsa Indonesia terlepas dari dominasi sistem ekonomi kolonial dan di bidang sosial budaya ditandai oleh runtuhnya struktur sosial masyarakat feodal (Kartodirdjo, 1992).

Bagi Indonesia yang saat ini sedang melaksanakan pembangunan nasional, proses transformasi itu terus berlanjut dan tidak terlepas dari elemen kemodernan. Konsekuensi dari kemodernan ini akan diikuti pula dengan perubahan-perubahan di bidang sosial budaya termasuk perubahan tata nilai yang bersumber pada nilai-nilai budaya. Dalam proses kemodernan, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan unsur-unsur yang dominan. Untuk kepentingan Indonesia modern, penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian penting dalam usaha menyukseskan pembangunan nasional (Sutrisna, 1992).

Seiring dengan upaya bangsa Indonesia untuk memajukan diri melalui pembangunan nasional, terjadi pula proses globalisasi di dunia. Globalisasi itu

sendiri menunjuk pada pengertian pembauran atau kesamaan dalam hampir segala aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek-aspek sosial, budaya, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, teknologi yang bersifat universal secara tidak langsung juga mempengaruhi bidang informasi dan komunikasi.

Perkembangan teknologi informasi yang menuju ke arah globalisasi komunikasi cenderung berpengaruh langsung terhadap tingkat peradaban manusia. Kita semua menyadari bahwa perkembangan teknologi informasi pada dekade terakhir ini bergerak sangat pesat dan telah menimbulkan dampak positif maupun negatif terhadap tata kehidupan masyarakat di berbagai negara (Subrata, 1992), termasuk Indonesia.

Masuknya pengaruh globalisasi informasi dan komunikasi ke Indonesia itu tidak mungkin dihindari. Diterimanya pengaruh globalisasi informasi dan komunikasi ini merupakan konsekuensi pasal 32 UUD 1945 yang dalam penjelasannya menunjukan bahwa kita bangsa Indonesia tidak menolak ide-ide baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkaya kebudayaan serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

Wujud konkret dari maksud penjelasan pasal 32 UUD 1945 itu adalah terjadinya kontak-kontak budaya kita dengan budaya asing. Ini merupakan suatu kenyataan bahwa bangsa Indonesia sebagai makhluk sosial tidak dapat menghindarkan diri dari ketertarikan terhadap bangsa lain dengan konsekuensi menerima pengaruh globalisasi dan komunikasi yang memperkenalkan kepada kita ilmu pengetahuan dan produk-produk teknologi termasuk teknologi informasi yang baru.

Warisan-warisan lama yang berbentuk pengaturan kehidupan material yang dianggap tidak mungkin bisa mengatasi tuntutan persoalan mereka yang baru, ditinjau kembali dan diusahakan pembaharuan kemungkinan-kemungkinan. Tanah-tanah pertanian yang menjadi sempit, penduduk yang menjadi padat, kemampuan manusia yang makin terbatas untuk menguasai alam karena pengetahuannya sudah tidak mencukupi lagi, kebutuhan akan diferensiasi yang lebih jauh, peninjauan akan kemampuan bentuk pemerintahan yang baru untuk mendorong dan “menggalakkan” perubahan dan inovasi. Semua ini tercakup dalam proses pengembangan hasil integrasi unsur-unsur tradisional itu tadi. Inilah yang sering disebut dengan modernisasi.

Proses tersebut bukanlah proses yang selalu berjalan lancar. Sama dengan proses pengintegrasian unsur-unsur tradisional menjadi integrasi baru

yang disebut integrasi nasional. Dalam proses modernisasi ditunjukan dengan adanya kegelisahan dan ketegangan yang terutama berhubungan langsung dengan masalah pembaruan dalam orientasi dari nilai-nilai.

Kesenian tradisional di Indonesia tumbuh sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat tradisional di wilayah itu. Dengan demikian ia mengandung sifat-sifat atau ciri-ciri yang khas dari masyarakat tradisional.

Pertama, ia memiliki jangkauan yang terbatas pada lingkungan kultur yang menunjangnya. Kedua, ia merupakan pencerminan dari satu kultur yang berkembang sangat perlahan karena dinamika masyarakat yang menunjangnya memang demikian. Ketiga, ia merupakan bagian dari satu “kosmos” kehidupan yang bulat dan tidak terbagi dalam pengkothakan spesialisasi. Keempat, ia bukan merupakan hasil kreativitas individu tetapi tercipta bersama dengan sifat kolektivitas masyarakat yang menunjangnya.

Pada awalnya, masyarakat Jawa berkembang dalam budaya mistik-religius yang lambat laun mendewasakan diri dengan menyerap berbagai unsur yang datang dari luar. Sikap masyarakat Jawa dengan struktur budaya yang terbuka terhadap pengaruh asing cenderung membentuk pola budaya yang selalu berkembang ke arah sintesa pluralistik. Kelenturan masyarakat Jawa dalam menerima dan mengolah unsur pendatang dapat menciptakan bentuk-bentuk budaya ambiguitas antara asli Jawa dan paham pendatang.

Wayang sebagai salah satu produk pendewasaan budaya Jawa terbentuk dari nilai lokal yang diperkaya dan disempumakan dengan paham-paham pendatang dari zaman ke zaman, hingga mampu mencapai posisi adiluhung. Wayang dipercaya mempunyai nilai-nilai universal, selain memuat hampir seluruh unsur seni yang dimiliki masyarakat Jawa. Dalam perkembangan terakhir telah teruji bahwa wayang menyimpan nilai-kaji yang multi-disipliner, memuat beragam fenomena disiplin ilmu terutama sosio-humaniora.

Bagi masyarakatnya, wayang adalah sumber penilaian watak manusia, ajaran kebenaran, cermin tingkah laku dan tingkat kedewasaan seseorang. Nilai- nilai edukatif dalam wayang secara tidak langsung diajarkan kepada manusia Jawa sejak dini tanpa pernah disadari pelakunya bahwa hal tersebut sebagai proses pendidikan yang evolutif hingga akhimya disadari atau tidak, semuanya bernaung dalam aura besar pewayangan. Fenomena kebesaran wayang telah dirasakan sejak zaman raja-raja Jawa Kuno yang secara magis diwariskan turun-

temurun dengan sebuah pemahaman legenda bahwa manusia Jawa adalah penerus kepahlawanan tokoh-tokoh/raja-raja besar dalam pewayangan.

Dalam masyarakat Jawa, wayang bukan hanya sebagai bentuk seni pertunjukan, hiburan atau kesenian rakyat, melainkan telah menjadi bagian habitus (komunal) dalam kehidupan sosial, religius, bahkan mistik. Wayang mempunyai posisi penting sebagai penterjemah wewayangan (gambaran) kehidupan universal yang diangkat dalam bahasa panggung untuk memberi nilai segar bagi kehidupan masyarakat.

Wayang berkembang dalam tempo berabad-abad melewati berbagai versi, namun fungsinya sebagai alat komunikasi tetap terjaga dan dipertahankan. Propaganda yang terjadi di Jawa pada permulaan perkembangannya dilakukan melalui alat-alat komunikasi tradsional (wayang, gamelan dan cerita-cerita) dan orang Jawa “menerima dan mengembangkan” unsur-unsur modern.

Peranan seni-tradisional dalam suatu proses seperti integrasi nasional dan modernisasi nampaknya akan lebih banyak pada unsur “synthesis.” Dalam satu wilayah kultur seperti Indonesia di mana “dialog” dan bukan “konfrontasi” yang nampaknya dipilih sebagai suatu “kawicaksanaan” (wisdom) utama, peranan seni tradisional akan lebih berarti pada kemampuannya untuk merangkum unsur- unsur. Dalam proses integrasi dan modernisasi itu, secara paradoxal, seni- tradisional bisa menjadi juru bicara yang mengaitkan unsur lama dengan unsur baru.

Bersih desa sebagai tradisi budaya juga memuat seni spiritual. Seni spiritual ini perlu dilihat lebih jauh dari aspek etnografi agar jelas makna dan fungsinya. Jadi, mencermati seni dari sisi budaya bukanlah seni sebagai seni, melainkan seni dalam konteks (Simatupang, 2005). Pendapat ini memberikan gambaran bahwa dibalik fenomena tradisi dan seni, memuat konteks etnografi yang menarik diperbincangkan. Hal yang menarik dari fenomena tradisi bersih desa, dapat terkait dengan berbagai hal antara lain tempat, waktu dan pelaku dalam rangkaian sebuah prosesi seni budaya. Atas dasar ini dapat dikatakan bahwa dalam seni ada spiritualitas dan dalam tradisi ada seni.

Tradisi bersih desa telah mendarah daging dalam masyarakat Jawa pedesaan, hampir setiap wilayah menyelenggarakannya. Format bersih desa dari waktu ke waktu bisa saja berbeda atau berubah namun esensinya tetap pada pendekatan diri pada Tuhan. Bersih desa dapat berusia panjang. Masing-masing wilayah di Jawa memiliki keunikan sendiri-sendiri dalam melaksanakan bersih

desa. Salah satu aktivitas bersih desa yang tergolong unik adalah fenomena yang ada di wilayah Bedoyo. Keunikan tradisi bersih desa di wilayah ini yaitu selalu menggunakan seni pertunjukan ritual berupa wayang kulit. Rangkaian ritual ini telah ditata menurut laku dan aktivitas spiritual. Di dalamnya terdapat laku mistik kejawen yang kental dengan nilai-nilai mitos.

Bersih desa yang dilaksanakan di kawasan pegunungan telah berusia lama dan memiliki mitos yang panjang. Tradisi ini juga terdapat mitos-mitos yang diyakini akan membawa berkah apabila dihormati melalui bersih desa dan sebaliknya akan mendatangkan bahaya apabila masyarakat meninggalkannya. Fenomena ritual tersebut dalam seni pertunjukan spiritual yang selalu digunakan. Ada perasaan takut masyarakat jika bersih desa tidak melaksanakan pertunjukan wayang kulit. Itulah sebabnya, masyarakat selalu berjuang keras agar bersih desa tetap terselenggara meskipun dalam ekonomi yang kurang memungkinkan.

Masyarakat selalu menyepakati secara aklamasi ketika dilakukan rencana bersih desa. Hal ini selalu didorong oleh asumsi bahwa dengan cara gotong royong menjalankan bersih desa kelak akan mendapatkan keselamatan hidup. Kondisi ini meneguhkan kembali pendapat Taylor (Coleman,1998) bahwa inti dari religi adalah kepercayaan pada hal-hal spiritual. Penjelasan ini, mengisyaratkan bahwa nilai-nilai spiritual jauh lebih penting dibanding nilai material dalam bersih desa. Nilai-nilai spiritual tersebut menjadi penggerak batin warga masyarakat untuk selalu mengadakan aktivitas bersih desa.

Ini semua menunjukan bahwa peranan wayang sebagai frame of reference

dari simbol-simbol akan mulai berakhir dan mulai menginjak pada peranannya yang lebih “profan” yang lebih “manusiawi” yakni sebagai drama, sebagai lakon modern. Ini artinya penonton akan melihat perwatakan tokoh-tokoh wayang serta lakon-lakon yang mendukungnya tidak lagi sebagai tokoh-tokoh atau lakon-lakon teladan tetapi sebagai menusia-manusia dengan sejumlah kemungkinan.

Seiring dengan adanya penetrasi pengaruh paham asing yang instant dan frontal dapat menyebabkan terjadinya pergeseran konsepsi budaya Jawa. Akibatnya akan mengurangi daya lentur dalam melakukan filterisasi terhadap budaya pendatang. Kondisi ini disadari sangat merisaukan kelangsungan tatanan sosial dan perilaku budaya masyarakat Jawa. Eksistensi wayang yang mencoba bertahan pada konsep-konsep dasar (pakem) akan semakin kehilangan daya magisnya dalam menghimpun "aura penaung," bahkan sering terseret dalam

situasi yang penuh “tempelan" sebagai upaya mempertahankan diri agar tetap diterima masyarakatnya.

Perumusan Masalah

Proses globalisasi informasi dan komunikasi di dunia ini melanda negara- negara yang sedang berkembang. Bangsa Indonesia sebagai makhluk sosial tidak dapat menghindarkan diri dari ketertarikan hubungan dengan bangsa lain dan sebagai konsekuensinya harus menerima pengaruh globalisasi termasuk di dalamnya teknologi.

Pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas pada hakikatnya juga merupakan pembangunan manusia yang memiliki ketahanan sosial budaya. Ketahanan sosial budaya adalah suatu kondisi kehidupan sosial budaya bangsa yang dijiwai kepribadian nasional berdasarkan Pancasila yang mengandung kemampuan membentuk dan mengembangkan kehidupan sosial budaya manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, rukun, bersatu, cinta tanah air, berkualitas, maju dan sejahtera dalam kehidupan serba selaras, serasi dan seimbang serta memiliki kemampuan menangkal penetrasi budaya asing yang tidak sesuai dengan kebudayaan nasional. Sikap bangsa Indonesia dalam menghadapi penetrasi budaya asing adalah mempertahankan unsur-unsur yang baik dari kebudayaan sendiri dan mengambil yang lebih baik dari kebudayaan asing tersebut.

Penyerapan unsur budaya luar dan inovasi yang muncul dari dalam akan membuat kebudayaan yang merupakan salah satu sumber utama sistem atau tata nilai masyarakat, berubah dan berkembang. Dinamika masyarakat

Dokumen terkait