2.000.000.000 4.000.000.000 6.000.000.000 8.000.000.000 10.000.000.000 12.000.000.000 2010 2011 2012 2013 2014
PAD sektor Pariwisata
127 Gambar 5. 44. Rekapitulasi Kunjungan Hotel
Sumber: Dinas Pariwisata Kab. Jember, 2015
Dari data pada Gambar 5.44 mengenai rekapitulasi kunjungan hotel, dapat diamati bahwa terdapat pola kunjungan dari tahun 2011 hingga 2014 rata-rata mengalami peningkatan kunjungan di bulan Januari, Juli, dan Desember yang merupakan musim liburan atau disebut masa peak season. Namun pada bulan Agustus, pola kunjungan rata-rata tiap tahun tidak memiliki kesenjangan yang terlalu besar dengan saat peak season. Hal ini mengindikasikan bahwa meski di bulan Agustus bukan merupakan masa liburan, namun keberadaan event JFC yang hanya berlangsung selama 4 hari mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Jember.
c. Ketenagakerjaan
Aktivitas pariwisata merupakan kegiatan padat karya. Dengan jumlah usaha pendukung pariwisata yang bertambah, dampak yang ditimbulkan adalah lapangan pekerjaan yang terbuka di sektor ini.
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sept Okt Nov Des 2011 10777 10035 11079 10501 11491 11520 17441 16933 13138 10503 10604 12475 2012 13120 8010 1265 11931 11862 14013 20405 3575 5113 6295 3189 4177 2013 11850 8121 9690 8936 10401 10254 8151 10387 13226 14253 8882 11380 2014 19260 18834 24302 36638 18155 16939 14912 13394 16915 16530 11916 7668 0 10000 20000 30000 40000
128 Tabel 5.5 Tenaga Kerja di Sektor Pariwisata Kab. Jember 2011-2014 Ketenagakerjaan Unit 2010 2011 2012 2013 2014 Hotel Bintang orang 114 114 114 114 116
Hotel Melati orang 754 769 769 891 993
Restoran / Rumah Makan orang 542 729 729 741 759 Usaha Perjalanan Wisata orang 139 145 145 148 148 Obyek dan Daya Tarik
Wisata orang 324 324 324 351 343
Rekreasi dan Hiburan
Umum orang 352 352 352 462 482
JUMLAH 2225 2433 2.433 2.707 2.841 Sumber: Dinas Pariwisata Kab. Jember, 2015
Dari data terkait tenaga kerja di sektor pariwisata, dapat diamati bahwa terjadi peningkatan tenaga kerja tiap tahun terutama di bidang layanan akomodasi, makanan dan minuman, serta rekreasi-hiburan umum. Hal ini mengindikasikan bahwa activity support dibidang pariwisata memiliki kemampuan untuk membuka lapangan kerja yang akan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Melalui “ JFC Comunity Empowerment ” dengan program keterlibatan pelaku industri kreatif, travel, perhotelan, dan potensi wisata Kabupaten Jember diharapkan mampu melatih dan mengatur kompetensi antar industri sejenis untuk peningkatan mutu dan kualitas.
5.3.2. Dampak Sosial dan Budaya a. Perspektif Masyarakat Lokal
Perubahan kebudayaan atau komunikasi antar kebudayaan dan pengenalan kebudayaan merupakan dampak yang terjadi akibat aktivitas pariwisata. Kondisi
129 sosial budaya masyarakat Jember yang merupakan bagian dari komunitas Pendhalungan.
Budaya Pendhalungan merupakan gabungan beberapa kebudayaan yang dibawa oleh tenaga kerja migran perkebunan pada masa lampau. Hal ini menjelaskan mengapa ada berbagai tradisi ritual sosial masyarakat yang mengakar pada kebudayaan di kawasan lain yang menyebabkan Kabupaten Jember tidak memiliki kebudayaan yang kuat untuk merepresentasikan daerahnya sendiri.
Dengan keberadaan event JFC, komunitas kreatif mencoba untuk memperkenalkan Jember dengan budaya yang membedakan dengan daerah lain. Kreativitas JFC, menurut 81% responden yang berasal dari pengunjung dan 58% masyarakat lokal event JFC merupakan event yang unik dan menarik, sedangkan 3% responden pengunjung dan 8% responden masyarakat memilih tidak setuju. Selebihnya memilih netral. (Gambar 5.44)
Gambar 5. 45. Keunikan Event JFC Berdasarkan Penilaian Pengunjung dan Masyarakat Lokal
Sumber: Hasil Analisa, 2016
Upaya memperkenalkan Kabupaten Jember dengan segala kekayaan budaya yang dimiliki ke masyarakat luas melalui event JFC. Menurut 52%
3% 11% 28% 59% 2% 6% 33% 25% 33% STS TS N S SS Pengunjung Masyarakat
130 responden event JFC merupakan salah satu bentuk kreativitas budaya, tetapi menurut 13% yang lain tidak. Menurut 41% responden, event JFC telah berhasil memposisikan kota hingga dikenal lebih luas, sedangkan bagi 8% yang lain belum berhasil. (Gambar 5.46 dan Gambar 5.47)
Gambar 5. 46. Penilaian Masyarakat Terhadap Event JFC sebagai Bentuk Budaya Sumber: Hasil Analisa, 2016
Dengan upaya sebagai media etalase budaya dan pariwisata daerah, 46% responden menyatakan JFC telah menjadi ikon kota, namun 54% responden menganggap ikon kota Kabupaten Jember bukanlah event JFC. (Gambar 5.47)
Gambar 5.47. Citra Kota Melalui JFC
Berdasarkan Penilaian Masyarakat Sumber: Hasil Analisa, 2016
Gambar 5.48. JFC sebagai Ikon Kota Berdasarkan Penilaian Masyarakat dan Pengunjung
Sumber: Hasil Analisa, 2016
STS TS N S SS 5% 8% 35% 39% 13% 0% 10% 20% 30% 40% STS TS N S SS 2% 6% 41% 29% 22% Ya 46% Tidak 54%
131
Dari beberapa data responden yang telah diperoleh mengenai penilaian terhadap event JFC sebagai bentuk budaya yang unik dan memiliki kemampuan untuk memposisikan Kabupaten Jember di peta pariwisata nasional. Beberapa temuan mengindikasikan bahwa kekuatan event JFC meski telah dikenal luas di luar Kabupaten Jember, namun sense of belonging JFC belum dirasakan masyarakat lokal daerah sendiri.
b. Perspektif Pengunjung
Tujuan seseorang melakukan kunjungan ke sebuah daerah daya tarik wisata akan mempengaruhi aktivitas yang akan dilakukan selama di daerah tersebut. Selain untuk menikmati daya tarik karnaval, sangat penting untuk diketahui motivasi pengunjung JFC yang mendasari kegiatan kunjungan tersebut.
Berdasarkan data, fokus responden dalam mengunjungi event JFC 30% berkaitan dengan kegiatan fotografi, 29% untuk mencari hiburan, 16% merupakan studi banding, 9% melakukan aktivitas public relation, 3% melakukan aktivitas belanja, dan 13% responden menyatakan terdapat motivasi lain diluar yang telah disebutkan. (Gambar 5.49)
Event JFC XIV tahun 2015 merupakan event gabungan antara karnaval (hiburan), exhibition (pameran produk), dan conference. Sehingga dengan kegiatan tersebut dapat menjadi indikator terhadap kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas-aktivitas tersebut, teknologi yang digunakan, serta tren sosial yang terjadi di masyarakat.
132 Gambar 5.49. Motivasi Pengunjung JFC
Sumber: Hasil Analisa, 2016
5.4. Perencanaan Ruang Event dan Ruang Terbuka Kota
Keberadaan event JFC sebagai salah satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Jember menimbulkan pro dan kontra. Penyelenggaraan event JFC memanfaatkan fasilitas ruang terbuka publik kota berupa alun-alun dan sebagian ruas jalan protokol, seringkali berbenturan dengan aktivitas masyarakat yang memanfaatkan kawasan tersebut.
Gambar 5.50. Zonasi Kawasan Alun-alun Kota dan Ruas Jalan Sultan Agung Sumber: https://www.google.com/maps/place/Alun+Alun+Kota+Jember/@-8.1692201,113.7016321,463m/data=!3m Fotografi 30% Workshop 16% Hiburan 29% Belanja 3% PR 9% Lain-lain 13%
133 5.4.1 Elemen Ruang Luar dan Koridor Jalan
Penyelenggaraan event JFC XIV yang menggabungkan antara carnaval-exhibition-conference memanfaatkan alun-alun kota dan sebagian ruas jalan protokol Kabupaten Jember sebagai media kegiatan. Maka diperlukan perencanaan dan pengelolaan elemen fisik pembentuk kawasan tersebut.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, diperoleh temuan mengenai elemen pembentuk ruang luar yang terbagi dalam tiga zona yang digunakan sebagai media atraksi karnaval, yaitu alun-alun, ruas Jalan Sultan Agung, dan ruas Jalan Gajahmada.
Tabel 5.6 Elemen Ruang Luar dan Koridor Jalan Pembentuk Kawasan Elemen Pembentuk
Ruang Luar Alun-alun Jalan Sultan Agung Jalan Gajahmada Bangunan Shelter temporer,
material wireframe dengan penutup
fabric
Kawasan niaga, ruko, material beton,
dengan ketinggian rata-rata 2 lantai Gedung perkantoran, material beton, ketinggian bangunan variatif Lansekap dan Ruang
Terbuka hijau, sebagian Ruang terbuka kecil groundcover
berupa con-block untuk pedestrian dan sebagian besar
vegetasi, Tanaman berupa coniver dan palm
Groundcover con-block untuk pedestrian, aspal, vegetasi minim, jarak antara bangunan dan sempadan berbatasan langsung,
tanpa median jalan
Groundcover con-block pedestrian way, aspal, vegetasi teratur, jarak antara
bangunan dan sempadan variatif,
memiliki median jalan Pedestrian way lebar 2.5m, keliling Lebar 2m, 2 sisi
bahu Lebar 2m, 2 sisi bahu Sirkulasi dan Parkir Area parkir masuk
ke dalam area alun-alun
Jalur satu arah, area parkir satu sisi tepi sepanjang ruas jalan
Jalur dua arah, area parkir dua sisi tepi sepanjang ruas jalan Penanda Dan billboard pada
sudut di dalam area alun-alun Signage bangunan sejajar facade, billboard pada ketinggian dan posisi jembatan penyeberangan dengan bottom ketinggian 4 meter
dari muka jalan
Signage bangunan sejajar facade, plot billboard pada sudut
persimpangan jalan
134 Pada saat penyelenggaraan event JFC, alun-alun dimanfaatkan sebagai area pameran, expo, main stage, dan tribun. Material pembentuk shelter berupa wireframe dengan penutup fabric, sedangkan pagar pembatas terbuat dari plat metal masif setinggi 2.40 meter.
Gambar 5.51. Elemen Ruang Luar dan Koridor Jalan Media Event JFC Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2015
Kondisi ruas Jalan Sultan Agung dan Jalan Gajahmada pada saat event dimanfaatkan sebagai runway peserta karnaval. Ruang peserta karnaval dan penonton dibatasi oleh pagar pembatas setinggi 1 meter, tanpa ada tambahan naungan artifisial. Terdapat jembetan penyeberangan di simpang ruas Jalan Sultan Agung menuju pasar Tanjung yang dimanfaatkan sebagai spot fotografi.
135 5.4.2 Jalur Sirkulasi
Pada saat penyelenggaraan event JFC beberapa ruas jalur ditutup karena dimanfaatkan untuk area karnaval. Penutupan dan pengalihan jalur lalu lintas menurut 65% responden menyebabkan gangguan terhadap aktivitas. Selain itu 63% responden beranggapan bahwa penutupan dan pengalihan jalur lalu lintas menyebabkan kesulitan akses menuju lokasi tujuan pengguna jalan. Persentase responden yang memilih bersikap netral untuk kedua permasalahan yang diakibatkan oleh penutupan dan pengalihan jalur adalah sama, 31%. Sisa responden tidak mempermasalahkan aktivitas ini.
Gambar 5.52. Penilaian Terhadap Pengalihan Arus Lalin Selama Event JFC Sumber: Hasil Analisa, 2016
Responden yang merupakan masyarakat yang beraktivitas di seputar kawasan Alun-alun kota dan ruas jalan yang digunakan sebagai lokasi penyelenggaraan event JFC terdiri atas beberapa kelompok kepentingan yaitu pendidikan, pekerjaan, religi, rekreasi, dan sebagian memanfaatkan kawasan tersebut sebagai jalur akses menuju tempat aktivitas utama.
4% 31% 61% 4% STS TS N S SS