BAB III : BENTUK KLAIM DOKUMEN DAN BARANG SERTA
B. Sengketa dan Penyelesaian dalam Pengangkutan Barang
Peristiwa hukum merupakan salah satu jenis fakta hukum. Peristiwa hukum dalam bahasa Belanda disebut rechtsfeit dan dalam bahasa Inggris disebut legal fact. Peristiwa hukum ada tiga jenis, yaitu peristiwa hukum yang terjadi karena perbuatan, karena kejadian atau karena keadaan. Suatu peristiwa disebut peristiwa hukum apabila diatur dan diberi akibat oleh hukum. Setiap peristiwa hukum selalu menimbulkan hubungan hukum yang berdimensi kewajiban dan hak pihak-pihak, kerugian dan keuntungan pihak-pihak. Karenanya, peristiwa hukum yang terjadi itu ada yang dikehendaki oleh pihak-pihak karena menguntungkan dan ada pula yang memang tidak dikehendaki oleh pihak-pihak karena menimbulkan kerugian atau kerusakan.
Jika dihubungkan dengan pengangkutan, lingkup peristiwa hukum pengangkutan meliputi hal-hal berikut ini:
1. Perbuatan Hukum Pengangkutan yang Dikehendaki oleh Pihak-Pihak dalam Perjanjian Pengangkutan
Meliputi pengadaan perjanjian pengangkutan, penentuan hak dan kewajiban pihak-pihak dalam perjanjian pengangkutan, penyelenggaraan pengangkutan, berakhirnya pengangkutan, dan perjanjian pengangkutan.
2. Kejadian Hukum Pengangkutan yang Tidak Dikehendaki oleh Pihak-Pihak dalam Pengangkutan
Meliputi musibah atau kecelakaan yang terjadi sebelum, selama atau sesudah penyelenggaraan pengangkutan, misalnya, kecelakaan lalu lintas, tenggelamnya kapal, jatuhnya pesawat udara, ataupun kereta api keluar rel.
3. Keadaan Hukum Pengangkutan yang Juga Tidak Dikehendaki oleh Pihak- Pihak dalam Pengangkutan
Meliputi situasi atau kondisi yang terjadi dalam pengangkutan, yang menjadi kendala kelangsungan pengangkutan, misalnya kemacetan lalu lintas, mogoknya alat pengangkut, terjadi huru hara selama pengangkutan, putusnya jalan karena longsor atau jalan raya yang dijadikan tempat parkir dan tempat pedagang kaki lima.
Peristiwa hukum yang berupa perbuatan hukum pengangkutan merupakan sumber keuntungan dan kenikmatan bagi pihak-pihak karena pada dasarnya pihak- pihak telah melibatkan diri dalam kegiatan bisnis yang selalu berorientasi pada keuntungan (profit oriented). Kegiatan bisnis pengangkutan (butir 1) dan keuntungan yang diharapkan merupakan hal yang dikehendaki oleh pihak-pihak walaupun tidak selalu menguntungkan. Hal ini disebut variabel sebab (dependent variable). Kejadian hukum pengangkutan (butir 2) dan keadaan hukum pengangkutan (butir 3) merupakan sumber kerugian dan ketidaknyamanan yang tidak dikehendaki oleh pihak-pihak dalam hubungan hukum pengangkutan. Dua
hal ini disebut variabel akibat (independent variable) yang timbul karena adanya pengangkutan (butir 1).
2. Kerugian yang Terjadi
Kejadian Hukum Pengangkutan yang Tidak Dikehendaki oleh Pihak-Pihak dalam Pengangkutan
Meliputi musibah atau kecelakaan yang terjadi sebelum, selama atau sesudah penyelenggaraan pengangkutan, misalnya, kecelakaan lalu lintas, tenggelamnya kapal, jatuhnya pesawat udara, ataupun kereta api keluar rel.
Keadaan Hukum Pengangkutan yang Juga Tidak Dikehendaki oleh Pihak-Pihak dalam Pengangkutan
Meliputi situasi atau kondisi yang terjadi dalam pengangkutan, yang menjadi kendala kelangsungan pengangkutan, misalnya kemacetan lalu lintas, mogoknya alat pengangkut, terjadi huru hara selama pengangkutan, putusnya jalan karena longsor atau jalan raya yang dijadikan tempat parkir dan tempat pedagang kaki lima.
3. Penyelesaian Sengketa yang Terjadi
Hal-hal yang menyangkut penyelesaian suatu sengketa dalam pengangkutan barang melalui laut pada umumnya telah diatur di dalam konosemen atau Bill of Lading sebagai suatu persyaratan pengangkutan. Hal-hal yang menyangkut pilihan hukum dan yurisdiksi ini menjadi klausul yang sangat penting. Pilihan hukum adalah hal mengenai hukum apa yang berlaku dalam melaksanakan perjanjian yang
bersangkutan termasuk dalam penyelesaian sengketa. Sedangkan yurisdiksi pada hakekatnya mengenai masalah pilihan pengadilan mana yang dikehendaki untuk menyelesaikan sengketa. Termasuk pula adanya kemungkinan untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase.
Persyaratan pengangkutan (Conditiona of carriage) sebagaimana dimaksud, tercantum di dalam Bill of Lading di halaman belakang dari Bill of Lading itu sendiri. Ditulis dalam ukuran huruf yang kecil, hampir tidak terbaca karena memang tempat yang disediakan untuk mencetaknya hanya seluas halaman B/L itu sendiri. Halaman B/L ini sama pentingnya dengan halaman depannya. Dan bilamana diminta perusahaan pelayaran harus dapat memberikan dan menjelaskanya dengan jelas agar calon pengirim dapat mempelajari syarat-syarat pengangkutan dari Bill of Lading
tersebut.
Bill of Lading itu merupakan perjanjian yang sifatnya unilateral (sepihak) akan tetapi meskipun demikian persyaratan dan pengaturan yang berada di dalamnya berlaku juga bagi pihak-pihak lain yang tersangkut didalamnya seperti shipper maupun consignee. Hal ini tertera dalam cassatoria clause yang terdapat dalam B/L yang mengandung arti:
“Dengan menerima surat muatan (B/L) maka pengirim, penerima atau pemilik dan pemegang surat muatan ini dengan tegas menyetujui semua ketetapan dan persyaratan baik yang tertulis , tercetak maupun yang disetempel atau yang dimuat pada bagian muka atau belakang surat muatan ini.”
Bahwa barang siapa menghendaki barang muatanya diangkut oleh perusahaan pelayaran maka harus tunduk kepada semua persyaratan B/L perusahaan pelayaran yang bersangkutan. Jadi untuk melindungi kepentingan para pengirim atau penerima barang dari ketentuan cassatoria clause maka pada umumnya perusahaan pelayaran menunjuk pada hukum yang tertinggi (paramount clause). yang digunakan untuk menyelesaikan sengketa yang timbul dengan pengirim / penerima barang. Untuk perusahaan pelayaran samudera menunjuk hukum yang tertinggi The Hague Rules (International Convention for Univication of Certain Rules Relating to B/L), Brussel 1924, The Hamburg Rules (United Nation Convention on the Carriage of Goods by Sea), 1978 atau United Carriage of Goods by Sea Act 1936 (USA Congsa 1936). Sedangkan untuk perusahaan pelayaran nusantara mengacu pada Pasal 470 KUHD. Sebagai paramount clause untuk menyelesaikan sengketa tentang hak dan kewajiban yang timbul dalam pelayaran nusantara dan tampaknya pengaturan pada Hague Rules, Congsa by Sea Act ataupun dalam KUHD terdapat pengaturan yang berbeda. Untuk perusahaan pelayaran di Indonesia, semuanya mengacu kepada Hague atau Hague-Vsby-Rules dengan beberapa variasinya.
Sebagai contoh pada Bill of Lading dari PT Djakarta Lloyd adalah B/L untuk pengangkutan barang ke Australia , yakni Indonesia/Australia/Straits Service yang berbeda dengan B/L dari Djakarta Loyd yang dipakai untuk pelayaran ke daerah lain. Pada Pasal 3. Hague Rules Governing Law and Jurisdiction, memberi keterangan bahwa :
“Bill of Lading ini berdasarkan Hague Rules yang dibuat di Brussel pada 25 Agustus 1924 serta protocol Hague Rules pada 28 Februari 1968 yang menjadi dasar tanggung jawab pengangkut. Barang yang dimuat dengan kapal berdasarkan B/L ini dilindungi oleh Hague- Visby Rules dan hukum dari Negara Republik Indonesia. Tidak ada tuntutan terhadap pengangkut, seperti yang tertulis di B/L, kecuali bila dilakukan di pengadilan di Negara Indonesia kecuali jika pengangkut menghendaki dilakukan di Negara lain. Jadi pasal ini menerangkan bahwa yang berkalu hanya Hague-Visby Rules serta hukum Negara Republik Indonesia.” Begitu pula dengan
Bill of Lading dari perusahaan pelayaran asing maka biasanya akan diberlakukan hukum dari Negara asal dan hukum internasional lain yang mereka anut.
Hal-hal yang telah diatur didalam Bill of Lading maka tidak bisa diganggu gugat adanya kecuali pihak pengangkut kemudian memutuskan lain karena alasan tertentu, dalam hal ini dimungkinkan karena pertimbangan kepentingan kelangsungan bisnis.
C. Bentuk Klaim Dokumen dan Barang