BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB, Cikabayan, Darmaga, Bogor, yang terletak pada ketinggian 250 meter di atas permukaan laut. Penelitian dilakukan pada bulan November 2011 sampai dengan bulan Mei 2012. Analisis tanah, pupuk dan organ tanaman dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB. Adapun bagan alir perencanaan penelitian dapat dilihat pada Lampiran 7.
Bahan dan Alat
Bahan - bahan yang digunakan dalam penilitian ini adalah bibit kelapa sawit Tenera varietas Dami Mas ( nomor persilangan 44 x 19.10 ) yang berumur 4 bulan, top soil, kompos tandan kosong sawit, abu janjang sawit, polybag berukuran 50 cm x 40 cm dengan ketebalan 0,02 cm, tali plastik, Dithane M 45, pupuk Urea, SP36, KCl, spidol permanen, kertas binder, hekter dan bahan-bahan kimia untuk analisis tanah dan jaringan tanaman. Adapun alat - alat pendukung penelitian dapat dilihat pada Lampiran 7.
Alat-alat yang digunakan terdiri atas parang, timbangan analitik, meteran
alumunium, jangka sorong, Li-cor, leaf area meter, hand sprayer, klorofil meter
(SPAD-502), mikroskop, ember, gembor, ayakan tanah 10 mesh dan alat tulis.
Metode Penelitian
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan tujuh perlakuan yang diulang dalam enam ulangan. Masing - masing dengan taraf perlakuan dosis pupuk dan amelioran per bibit yaitu :
P1 : Dosis pupuk Urea 22 g, SP36 15 g, KCl 17,5 g
P2 : Dosis pupuk Urea 11 g, SP36 7,5 g, KCl 8,5 g + 1 kg Tandan Kosong Kelapa Sawit
P3 : Dosis pupuk Urea 11 g, SP36 7,5 g, KCl 8,5 g + 1 kg Abu Janjang Sawit P4 : Dosis pupuk Urea 11 g, SP36 7,5 g, KCl 8,5 g + 1 kg Tandan Kosong Kelapa
16
P5 : 1 kg Tandan Kosong Kelapa Sawit + 1 kg Abu Janjang Sawit P6 : 1 kg Tandan Kosong Kelapa Sawit
P7 : 1 kg Abu Janjang
Setiap perlakuan terdiri atas 10 tanaman dan dari 10 tanaman diambil 5 tanaman contoh, sehingga jumlah tanaman keseluruhan sebanyak 420 tanaman
Model linier aditif dari rancangan perlakuan ini adalah sebagai berikut:
ij j i ij Y
DimanaYij = Nilai pengamatan pada kelompok ke-i dan perlakuan amelioran ke-j
= Rataan populasi
i = Pengaruh aditif dari kelompok ke-i
j = Pengaruh aditif dari perlakuan amelioran ke-j
ij = Pengaruh galat dari kelompok ke-i dan perlakuan amelioran ke-j
Pelaksanaan Penelitian Persiapan Areal Penelitian
Areal yang dipergunakan dibersihkan dari gulma dan kotoran lain yang dapat menjadi sumber organisme pengganggu tanaman. Pembersihan gulma dilakukan dengan mencangkul sekaligus meratakan permukaan tanah. Areal yang dipersiapkan diusahakan agar distribusi cahaya maupun air hujan secara merata.
Persiapan Media Tanah dan Amelioran
Media yang digunakan untuk mengisi polybag adalah jenis Latosol dengan kedalaman sampai 20 cm, tandan kosong dan abu janjang sawit. Media tanah dan tandan kosong kelapa sawit dikering-anginkan dan selanjutnya diayak dengan menggunakan ayakan 10 mesh untuk membuang sisa-sisa kayu, akar dan batu. Pengisian media dilakukan sebagian lalu dipadatkan agar tidak terjadi rongga atau kantong air. Setelah semua pekerjaan di atas, kemudian polybag disusun sesuai dengan pengacakan yang dilakukan sebelumnya dengan jarak 90 cm x 90 cm x 90 cm. Adapun denah percobaan dapat dilihat pada Lampiran 9.
17
Penanaman Bibit
Setelah pengisian media dan penyusunan polybag, kemudian bibit dipindahkan ke dalam polybag ukuran 50 cm x 40 cm. Bibit yang digunakan
adalah bibit umur tiga bulan di pembibitan awal (pre - nursery). Pemindahan bibit
dilakukan dengan hati-hati agar perakaran bibit yang masih muda tidak terganggu atau putus sehingga dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan bibit selanjutnya.
Perlakuan Dosis Pupuk dan Amelioran
Perlakuan pupuk Urea, SP36 dan KCl ditimbang sesuai dosis anjuran kemudian diberikan pada masing - masing perlakuan yang sudah ditentukan. Setelah itu, pupuk dimasukkan ke dalam lubang yang dibuat berjarak ± 6 cm dari pohon bibit kelapa sawit. Pemberian pupuk ini dilakukan 2 minggu setelah pindah tanam (MST) bibit ke polybag, dan pemberian selanjutnya dilakukan setiap 4 MST hingga selesainya penelitian. Adapun dosis rekomendasi pemupukan Urea,
SP36, KCl dan amelioran disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Dosis Rekomendasi Pemupukan Urea, SP36, KCl dan Amelioran terhadap Bibit Kelapa Sawit di Pembibitan Utama pada Umur 1 - 6 Bulan.
Umur
Jenis pupuk g/bibit (100 % rekomendasi)
Jenis pupuk g/bibit
(50 % rekomendasi) Amelioran Urea SP36 KCl Urea SP36 KCl TKKS AJ 1 2 1 1,5 1 0,5 0,75 1 kg 1 kg 2 2 1 1,5 1 0,5 0,75 - - 3 3 2,5 2,5 1,5 1,25 1,25 - - 4 5 3,5 4 2,5 1,75 2 - - 5 5 3,5 4 2,5 1,75 2 - - 6 5 3,5 4 2,5 1,75 2 - - Jumlah 22 15 17,5 11 7,5 8,5 - -
Sumber: Memet Hakim, olahan dari vademecum kelapa sawit PTP X, 2006
Pemeliharaan
Gulma yang tumbuh di polybag dicabut dengan tangan. Pekerjaan ini sekaligus untuk menggemburkan tanah jika terjadi pengerasan tanah di dalam polybag. Interval penyiangan bergantung pada pertumbuhan gulma pada polybag.
18
Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada saat bibit berumur 4 minggu setelah tanam (MST) dari pembibitan awal ke pembibitan utama, dan pengamatan selanjutnya dilakukan dengan interval waktu empat minggu sampai bibit berumur 7 (tujuh) bulan. Pengamatan yang dilakukan yaitu pertumbuhan (morfologi) yang meliputi tinggi bibit, luas daun, jumlah daun, diameter batang, bobot basah tajuk, bobot kering tajuk, bobot basah akar dan bobot kering akar, sedangkan respon fisiologi, jumlah klorofil daun, kerapatan stomata, analisis hara jaringan daun dan analisis tanah.
1. Respon Morfologi Tanaman
a. Tinggi Bibit (cm). Diukur dari batas leher akar sampai ujung daun. Untuk mempermudah pengukuran ditanam ajir sebagai standar pengukuran. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan meteran alumunium, dan pengukuran ini dilakukan 4 empat minggu setelah tanam (MST) sampai akhir penelitian.
b. Diameter Batang (cm). Pengertian diameter batang disini adalah kumpulan pelepah daun. Pengukuran diameter batang dengan menggunakan jangka sorong Caliper (jangka sorong). Diameter batang diukur setinggi 5 cm di atas permukaan tanah, pengukuran pertambahan diameter batang ini dilakukan sampai akhir penelitian.
c. Jumlah Daun (helai). Perhitungan jumlah daun adalah dengan menghitung jumlah daun yang telah terbuka sempurna. Perhitungan parameter pertambahan jumlah daun ini dilakukan 4 (empat) minggu sekali sampai akhir penelitian.
d. Luas Daun (cm2). Luas daun yang di ukur adalah daun ke-4 yang telah membuka sempurna. Pengukuran luas daun pada umur 0 - 12 MST dilakukan dengan menggunakan rumus LD = P x L x k, dimana:
LD = Luas daun (cm2)
P = Panjang daun (cm)
L = Lebar daun terlebar (cm)
19 al. 1969).
Sedangkan pada 16 MST menggunakan portable area meter Li-cor
3000C. Sebelum melakukan pengukuran, alat portable area meter Li-cor di
set-up lebih dahulu. Kemudian memilih daun ke empat untuk mengukur. Setelah pengukuran, selanjutnya data yang terrekam dicatat berdasarkan peubah yang diukur
e. Bobot Basah Tajuk (g). Bobot basah tajuk diukur diakhir penelitian yaitu pada saat tanaman berumur 7 ( tujuh) bulan. Pengukuran sampel diambil dari perlakuan yang berpengaruh nyata atau terbaik, dengan cara memisahkan antara tajuk dan akar bibit, kemudian tajuk bibit dibersihkan dengan air, dikeringanginkan dan ditimbang dengan timbangan 5 kg.
f. Bobot Kering Tajuk (g). Tanaman dipotong hingga batas leher akar,
kemudian dikeringkan dalam oven selama 48 jam dengan suhu 80 oC,
ditimbang bobot kering tajuknya. Pengukuran ini dilakukan pada akhir penelitian yaitu dengan mengukur satu tanaman sampel dari perlakuan yang berpengaruh nyata atau yang pertumbuhannya optimum.
g. Bobot Basah Akar (g). Bobot basah akar diukur pada akhir penelitian pada saat bibit berumur 7 (tujuh) bulan. Pengukuran sampel diambil dari perlakuan yang berpengaruh nyata atau terbaik, dengan cara membersihkan akar bibit dari tanah dengan air, kemudian dikeringanginkan dan ditimbang dengan timbangan 5 kg. Sampel diambil dari perlakuan yang berpengaruh nyata atau yang pertumbuhannya optimum.
h. Bobot kering akar (g). Akar dikeringkan dalam oven selama 48 jam dengan
suhu 80 oC kemudian ditimbang. Pengukuran dilakukan pada akhir penelitian
dan sampel yang diukur diambil dari perlakuan yang berpengaruh nyata atau yang pertumbuhannya optimum.
Respon Fisiologi Tanaman
a. Jumlah Klorofil. Jumlah klorofil daun dihitung dengan menggunakan alat
SPAD-502 Plus chlorophyll meter. Alat ini secara digital mencatat tingkat
20
nilai berdasarkan jumlah cahaya yang ditransmisikan oleh daun (Konika Minolta 1989). Pengukuran dilakukan pada umur 16, 20 dan 24 MST. Sampel daun yang diukur adalah daun ke-4 dengan cara meletakkan daun pada titik alat pembaca, kemudian tombol pembaca ditekan. Penghitungan dilakukan pada tiga titik (pangkal, tengah dan ujung) yang berjarak ± 0,5 cm dari tepi
leaflet. Nilai real kadar klorofil daun untuk kelapa sawit dihitung dengan menggunakan rumus Y = 0,0007x - 0,0059, dimana: Y = kandungan klorofil
dan X = nilai hasil pengukuran SPAD-502 (Farhana et al. 2007).
b. Kerapatan Stomata. Kerapatan stomata diamati dan dihitung dengan
menggunakan mikroskop. Sampel daun yang diamati adalah daun ke-4 yang dihitung dari atas (daun paling muda). Pengukuran dilakukan pada 20 MST. Adapun tahapan cara kerja sebagai berikut :
1. Sampel daun dioles dengan menggunakan selulosa asetat (cat kuku
bening) pada bagian atas dan bawah daun ± 1,5 cm x 0,5 cm.
2. Plester bening dipotong dengan ukuran ± 2 cm x 1,2 cm yang berguna
untuk mencetak pola stomata.
3. Plester kemudian ditempelkan pada daun yang telah kering setelah
dioles selulosa asetat kemudian plester dibuka dari sampel daun dan dipindahkan ke objek kaca yang selanjutnya diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 40 x 10.
4. Menghitung jumlah stomata dengan menggunakan rumus :
a. Kerapatan stomata (KS)
KS = n
Luas bidang pandang=
x
1��2
dimana :
n = jumlah stomata / Luas bidang pandang x = jumlah stomata / mm2
b. Luas bidang pandang mikroskop (L)
L =��2, dimana :
�= 3,14
21
c. Analisis jaringan hara pada daun (N, P dan K). Daun yang diambil sebagai
sampel adalah daun yang ke lima dan dilakukan pada akhir penelitian. Pengambilan daun tanaman dilakukan pada pagi hari dan segera dimasukkan ke dalam cool box. Setelah sampai di laboratorium, sampel dimasukkan ke
dalam freezer dengan suhu -10 oC dan pada hari berikutnya dikeringkan
dengan menggunakan oven pada suhu 60 oC selama 24 jam sampel yang
sudah kering disimpan kembali ke dalam freezer untuk dianalisis kadar unsur haranya. Analisis kandungan nitrogen menggunakan metode Kjeldhal. Prinsip kerjanya adalah sampel didestruksi dengan asam sulfat pekat dengan menggunakan kalium sulfat dan merkuri oksida sebagai katalisator. Nitrogen organik yang terdapat dalam sampel diubah menjadi ion ammonium. Kemudian ammonium didestilasi dengan penambahan natrium hidroksida. Kadar nitrogen dalam sampel ditentukan dengan Kjeltec Auto Analiyzer. Analisis kandungan fosfor (P) menggunakan metode pengabuan kering dengan menggunakan Hidrogen Klorida pekat.
d. Analisa Tanah. Analisa tanah dilakukan sebelum dan sesudah penelitian
berakhir
Awal penelitian : sampel tanah diambil secara komposit yang diperoleh pada
beberapa titik yang mewakili areal yang ditetapkan sebagai lokasi penelitian, sampel tanah diambil pada kondisi kapasitas lapang dengan menggunakan sekop sedalam ± 20 cm. Sampel tanah dibersihkan dari sisa-sisa akar, setelah bersih diambil sampel seberat 200 g untuk dianalisis. Analisis tanah dilakukan terhadap tekstur tanah, kadar C-organik, N total, P, K, pH, KTK dan basa-basa dapat ditukar, KB, Al-dd, H-dd, dan unsur mikro tersedia lainnya (Fe, Cu, Mn).
Akhir penelitian : sampel tanah diambil secara komposit yang diperoleh dari beberapa polybag pada semua perlakuan yang ditetapkan sebagai sampel. Sampel tanah diambil pada kondisi kapasitas lapang. Sampel tanah dibersihkan dari sisa-sisa akar, setelah bersih diambil sampel seberat 200 g untuk dianalisis. Analisis tanah dilakukan terhadap tekstur tanah, kadar C-organik, N total, P, K, pH, KTK
22
dan basa-basa dapat ditukar, KB, Al-dd, H-dd, dan unsur mikro tersedia lainnya (Fe, Cu, Zn, Mn).
Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan sidik ragam pada uji F taraf α 0,05. Jika
hasil sidik ragam berpengaruh nyata, maka dilakukan uji lanjut dengan DMRT (Mattjik dan Sumartajaya 2006).
23