4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.4 Sifat fisika kimia air
Pada saat dilakukan penelitian, bulan Desember sampai bulan Maret merupakan musim penghujan, bulan April – Mei merupakan musim peralihan antara musim penghujan dengan musim kemarau dan bulan Juli merupakan musim kemarau. Pada musim penghujan suhu tidak banyak berbeda antara stasiun Pulau Banjar sampai Pulau Gundul dimana suhu berkisar antara 27,00-29,70oC dan suhu tertinggi (31,30oC) terjadi pada musim kemarau. Kecerahan berkisar antara 15,00-59,00 cm. Kecerahan tertinggi ditemukan di Pulau Gundul, hal ini disebabkan pada musim penghujan gelombang besar sehingga terjadi pengadukan yang menyebabkan kecerahan di perairan Pulau Gundul lebih tinggi dibandingkan stasiun lainnya. Kedalaman berkisar antara 1,90 - 6,50 m, kedalaman tertinggi terdapat di Pulau Burung yaitu berkisar antara 5,20 - 6,50 m. Kekeruhan berkisar antara 16,10 - 55,7 NTU, kekeruhan tertinggi terdapat di stasiun Pulau Banjar yaitu berkisar antara 51,50 - 55,70 NTU, pada musim peralihan kekeruhan ini meningkat menjadi 71,55 NTU (Lampiran 8).
Sifat kimia perairan pada musim penghujan juga tidak banyak berbeda antara stasiun yang satu dengan stasiun lainnya. Nilai oksigen berkisar antara 4,25 - 6,75 mg/l, nilai ini menurun pada musim peralihan yaitu berkisar antara 3,92 - 4,80 mg/l dan pada musim kemarau kembali normal yaitu berkisar antara 4,64 - 5,66 mg/l. Nilai N-NH3 berkisar antara 0,059-0,434 mg/l pada musim
kemarau. Nilai N-NH3 tertinggi ditemukan di Sungai Borang yaitu 0,434-0,655
mg/l dan nilai N-NH3 terendah ditemukan di stasiun Pulau Banjar yaitu berkisar
antara 0,01-0,185 mg/l. Nilai pH berkisar antara 6,50-7,00 pada musim penghujan, 5,75-6,55 pada musim peralihan dan 7,15 – 7,38 pada musim kemarau. Nilai pH terendah ditemukan di Sungai Upang pada musim penghujan dan musim peralihan.
Karbondioksida pada musim penghujan berkisar antara 9,80-13,80 mg/l pada musim penghujan, meningkat menjadi 16,80-23,30 mg/l pada musim peralihan dan menurun kembali menjadi 13,2-16,2 mg/l pada musim kemarau. Nilai CO2 terendah di stasiun Pulau Gundul yaitu 11,80-11,90 mg/l, hal ini
mungkin disebabkan ombak cukup tinggi pada musim penghujan yang menyebabkan terjadinya pengadukan.
4.2 Pembahasan
4.2.1 Sebaran frekuensi panjang
Pengamatan yang dilakukan dari bulan Desember sampai bulan Juli menunjukkan bahwa ikan tilan lebih banyak tertangkap di bagian hulu stasiun di Pulau Banjar pada musim penghujan sedangkan pada musim kemarau lebih banyak tertangkap di Pulau Burung yang berada di bagian hilir Pulau Banjar. Ini berkaitan dengan sifat ikan tilan yang menyukai berada pada perairan yang bervegetasi, kedalaman minimal 3 meter dan ombak tidak begitu tinggi. Keperluan ikan tilan di perairan yang disukainya adalah untuk mencari makan dan sebagai tempat untuk berlindung. Jellyman et al. (1997) mengemukakan bahwa keberadaan komunitas ikan lebih bervariasi berdasarkan habitat dibandingkan berdasarkan musim. selanjutnya Wantzen et al. (2008) mengemukakan bahwa fluktuasi kedalaman perairan memengaruhi habitat akuatik, daerah pemijahan dan tempat mencari makan.
Hasil tangkapan ikan tilan berdasarkan bulan menunjukkan adanya perbedaan yaitu hasil tangkapan terendah pada bulan Desember (54 ekor) dan hasil tangkapan tertinggi pada bulan Juli (312 ekor). Bergan et al. (2002) mengemukakan bahwa ikan-ikan dominan seperti ikan Stellifer micropsdan ikan Anchovia clupeoides, berada di perairan bagian hulu estuarin mulai pada bulan
Agustus sampai Desember dan puncaknya pada bulan Oktober, menyebar di bagian tengah dalam jumlah yang kecil pada bulan Oktober dan Maret. Selanjutnya Feyrer et al. (2005) mengemukakan bahwa keberadaan ikan splittail (Pogonichthys macrolepidotus) berdasarkan musim dimana pada musim dingin dan musim semi berada di hulu sungai yang terdapat rawa banjiran untuk memijah, setelah memijah kembali ke estuarin. Selanjutnya Bialetzki et al. (2002) mengemukakan bahwa larva ikan Hoplias aff. malabaricus tertinggi didapatkan pada saat level air rendah dengan temperatur rendah, konduktivitas tinggi dan konsentrasi oksigen dan pH yang tinggi.
Secara keseluruhan ukuran selang kelas yang mendominasi yaitu pada selang kelas 300-349 mm sebanyak 254 ekor (35,4%), kelas panjang 350-399 mm sebanyak 190 ekor (19%). Selang kelas ukuran panjang ikan tilan yang terdapat di ke lima stasiun selama tujuh bulan penelitian berkisar antara 100-749 mm. Berdasarkan Tannil (2006), ukuran panjang maksimum ikan tilan yang ditemukan di Sungai Tapee 690 mm selanjutnya berdasarkan Fishbase (2007) ukuran panjang ikan tilan 1000 mm dan Kottelat et al. (1993) mengemukakan bahwa ukuran maksimum ikan tilan 760 mm
4.2.2 Makanan
Ikan tilan menyukai habitat yang memiliki vegetasi yang padat dimana pada saat vegetasi ini terendam air pada musim penghujan banyak terdapat makanan hidup berupa ketam, larva capung dan serangga air. Ikan tilan memiliki kulit tubuh yang tebal dan tahan terhadap pergeseran-pergeseran dengan vegetasi- vegetasi yang dilewati saat memburu mangsa. Tingkah laku ikan tilan dalam mencari makan bersifat memburu mangsa yang bergerak sehingga perburuannya sampai ke sawah-sawah yang terendam air pada saat pasang perbani. Ini terbukti dengan adanya ikan tilan yang memakan lambar (Meghimatium sp) yaitu sejenis moluska yang hidup di sawah-sawah. Ini sesuai dengan yang dikemukakan Eroglu Sen (2007) bahwa ikan-ikan dari family Mastacembelidae menyukai habitat yang bervegetasi karena habitat yang bervegetasi menyediakan banyak makanan alami. Selanjutnya Anderson (1984) dan Lewin et al. (2004) mengemukakan bahwa komunitas vegetasi air merupakan komponen yang penting bagi lingkungan
hidup ikan dimana keberadaan ikan erat hubungannya dengan karakteristik habitat dan kehadiran vegetasi air di suatu perairan. Hal ini senada dengan pendapat dari Utomo dan Asyari (1999) yang mengemukakan bahwa kelimpahan ikan lebih tinggi ditemukan di perairan yang ada hutan rawa karena hutan rawa air tawar banyak menyediakan pakan alami seperti perifiton dan serangga air. Selanjutnya Petty dan Grossman (1996) mengemukakan bahwa keberadaan beberapa jenis ikan lebih baik diprediksi bahwa ikan tersebut berada di perairan tersebut karena faktor makanan dibandingkan faktor-faktor lainnya seperti kedalaman, arus dan komposisi substrat.
Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa ketam yang dimakan terdiri dari satu jenis yaitu Sesarma eydouxi, udang lima jenis, gastropoda tiga jenis, pelecypoda satu jenis, ikan satu jenis dan larva capung satu jenis. Kecenderungan ikan tilan memakan jenis-jenis tersebut karena ketersediaannya yang cukup banyak di perairan Sungai Musi bagian hilir. Lim et al. (1999) mengemukakan bahwa ikan tilan di Sungai Mekong memakan serangga dan cacing serta potongan tumbuhan. Selanjutnya Kone et al. (2008) mengemukakan bahwa ada kecenderungan ikan- ikan karnivor memangsa ketersediaan makanan di alam seperti insekta dan Gastropoda. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Melo et al. (2004) yang meneliti ikan Synodontis comoensis di beberapa habitat dimana ikan tersebut menyesuaikan pola makannya dengan makanan yang ada di habitat ikan tersebut hidup.
Secara longitudinal mulai stasiun paling hulu (stasiun Pulau Banjar) dan paling hilir (stasiun Sungai Upang) jenis makanan yang dimakan sama (Tabel 7) tidak terjadi perubahan, tidak seperti beberapa penelitian yang dilakukan bahwa Oberdorff et al. (1993; 2002) yang mengemukakan bahwa adanya transisi perubahan makanan ikan dari hulu ke hilir sungai yaitu dari pemakan serangga berubah menjadi ikan pemakan segala dan pemakan ikan. Perbedaan ini diduga karena areal yang diteliti hanya sepanjang 100 km sehingga belum terlihat adanya perubahan makanan ikan tilan.
Di sepanjang stasiun tidak ditemukan adanya pola makanan yang berubah, ini menunjukkan bahwa di ke lima stasiun ketersediaan makanan yang ada di perairan hampir sama kecuali di Pulau Gundul dan Sungai Upang tidak ditemukan
Nasiaeschna pentachanta yaitu sebangsa larva capung dan Bithinia yaitu sebangsa remis air tawar. Ini sesuai dengan pendapat dari Melo et al (2004) dan Giarrizzo dan Paul (2008) bahwa pola makan ikan tergantung pada ketersediaan makanan di alam. Selanjutnya Tannil 2006 mengemukakan bahwa komposisi makanan ikan tilan di hilir sungai Tapee Thailand meliputi 56,9% ketam, 32% udang, 6% detritus, 4,8% larva serangga dan 0,3% moluska. Komposisi makanan ini hampir sama untuk ikan tilan yang terdapat di Sungai Musi yaitu ketam 92,29 %, udang 6,02 %, gastropoda 0,95%, pelecypoda 0,01%, insekta 0,18%, serasah 0,34% dan tidak teridentifikasi 0,07 %. Ketam yang dimakan terdiri dari satu jenis yaitu Sesarma eydouxi, udang lima jenis, gastropoda tiga jenis, pelecypoda satu jenis, ikan satu jenis dan larva capung satu jenis.
4.2.3 Reproduksi
Nisbah kelamin
Nisbah kelamin antara ikan jantan dan ikan betina berbanding 1,04:1 (ikan jantan 51,05% dan ikan betina 48,95%) yang menunjukkan bahwa sebaran antara ikan jantan dengan ikan betina di perairan selama penelitian seimbang. Kondisi populasi ikan normal di perairan, dicirikan oleh keseimbangan antara jenis kelamin jantan dan betina (Najamuddin et al. 2004; Koc et al. 2007; Offem et al. 2008). Pada penelitian yang dilakukan terhadap ikan Mastacembelus lainnya, nisbah kelamin ditemukan di perairan secara keseluruhan seimbang (Serajuddin dan Mustafa 1994; Serajuddin dan Ali 2005; Suresh et al. 2006).
Berdasarkan stasiun, perbandingan ikan jantan dengan ikan betina seimbang di stasiun Pulau Banjar, Sungai Borang dan Pulau Burung dan perbandingan ini tidak seimbang di Pulau Gundul dan di Sungai Upang. Ketidak seimbangan perbandingan antara ikan jantan dengan ikan betina disebabkan perairan Pulau Gundul dan Sungai Upang memiliki gejolak kualitas perairan yang tidak stabil karena pengaruh pasang sehingga keberadaan ikan tilan di perairan ini tidak berkesinambungan.
Dari uji Khi kuadrat (Lampiran 6) diperoleh bahwa berdasarkan bulan, nisbah kelamin ikan jantan dan ikan betina seimbang pada bulan Desember,
Februari, Maret, April, Juli dan tidak seimbang pada bulan Januari dan Mei (Lampiran 7). Sebaliknya memasuki musim peralihan sampai pada musim kemarau jumlah ikan betina lebih banyak dibandingkan ikan jantan. Tingginya jumlah ikan betina pada musim peralihan diduga disebabkan pada umumnya ikan betina yang hidup di perairan tawar aktif mencari makan pada awal musim
kemarau untuk proses pematangan gonad. Sokołowska dan Skóra (2002)
mengemukakan bahwa setelah musim pemijahan ikan betina ninespine stickleback (Pungitius pungitius L.) mendominasi di perairan. Ini merupakan hal yang wajar karena ikan betina aktif mencari makan dan membutuhkan energi yang lebih besar untuk perkembangan gonad.
Tingkat kematangan gonad
Sebagian besar ikan tilan yang tertangkap di semua stasiun memiliki TKG I Dan II, ditemukan delapan ekor yang memiliki TKG IV dan dua ekor yang memiliki TKG V serta dua ekor TKG VI. Sebagian besar ikan tilan yang tertangkap bulan Desember sampai bulan Juli berada pada TKG I dan II. Pada bulan Desember ditemukan ikan jantan pada TKG IV satu ekor pada bulan Desember dan 13 ekor pada bulan januari dan pada bulan Februari sampai bulan Juli tidak ditemukan ikan jantan pada TKG III dan IV. Sebaliknya pada bulan Januari ditemukan dua ekor ikan betina siap mijah (TKG VI) dan masih ditemukan ikan betina pada TKG V 1 ekor pada bulan Februari dan 1 ekor pada bulan Mei.
Induk ikan tilan dengan TKG V tertangkap sebanyak dua ekor masing- masingnya pada bulan Februari dan bulan Mei yang tertangkap pada saat terjadi penurunan permukaan perairan. Ikan tilan yang tertangkap di Sungai Borang berasal dari anak - anak sungai yang memasuki Sungai Borang, tertangkap dengan alat tangkap belat yang dipasang menutupi anak sungai yang memasuki Sungai Borang. Diduga induk-induk yang matang gonad berada di anak-anak sungai yang bermuara ke Sungai Borang.
Walaupun tidak banyak ditemukan ikan tilan betina yang berada pada TKG III dan IV namun didapat petunjuk bahwa ikan tilan yang siap mijah ditemukan di Sungai Borang. Diduga daerah pemijahan ikan tilan di anak-anak
sungai yang menghubungkan antara Sungai Borang dengan Sungai Kenten. Sungai Borang merupakan anak Sungai Musi yang berhubungan dengan anak- anak sungai yang behubungan langsung dengan Sungai Kenten.
Indeks kematangan gonad
Indeks kematangan gonad yang dihitung yaitu mulai dari Bulan Februari sampai pada bulan Juli. Indeks kematangan gonad ikan jantan berkisar antara 0,0089 – 11,33 % dan ikan betina berkisar antara 0,0131- 18,5%. Nilai ini tidak jauh berbeda dengan penelitian dari Eroglu dan Sen (2007) yang meneliti ikan Mastacembelus simack di danau Karakaya yang mendapatkan nilai IKG ikan jantan berkisar antara 0,06 - 3,65%. dan kisaran antara 0,012 - 21,48% untuk ikan betina.
Nilai IKG ikan jantan tidak jauh berbeda dari bulan Februari sampai bulan Juli. Nilai IKG rata-rata per bulan menunjukkan adanya peningkatan pada bulan April kemudian sedikit menurun pada bulan Juli. Demikian juga dengan ikan betina menurun dari bulan Februari sampai Maret kemudian meningkat lagi pada bulan April sampai bulan Mei dan pada bulan Juli menurun lagi
Diameter telur ikan tilan berkisar antara 0,1- 2,4 mm dan ukuran diameter telur ini tidak berbeda dengan hasil penelitian Eroglu dan Sen (2007) yang mengemukakan bahwa sebaran dimeter telur ikan Mastacembelus simackberkisar antara 0,22-2,10 mm.
Sebaran diameter telur menunjukkan bahwa ikan tilan merupakan ikan yang melakukan pemijahan bertahap yang diperlihatkan dengan beberapa puncak pada grafik. Ini menunjukkan bahwa ikan tilan memijah beberapa kali selama musim pemijahan. Beberapa jenis ikan termasuk jenis ikan cichlid dan mastacembelidae memijah beberapa kali selama musim pemijahan (Robert dan Gossman 2001; Chellappa et al. 2003; Suresh et al. 2006).