• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

E. Manfaat Penelitian

2. Sikap Siswa terhadap Matematika …

seseorang terhadap suatu obyek berperan sebagai perantara antara respon yang dilakukan orang tersebut dengan obyek yang disikapi. Respon tersebut bisa berupa respon kognitif (reaksi perceptual dan pernyataan mengenai apa yang diyakini), respon afektif (respon saraf simpatetik dan pernyataan afeksi), maupun respon perilaku (berupa tindakan dan pernyataan mengenai perilaku). Dengan melihat salah satu diantara ketiga bentuk respon tersebut maka sikap seseorang terhadap obyek sudah dapat diketahui. Sikap seseorang dapat dipahami secara mendalam lebih dari sekedar melihat seberapa positif atau negatif sikap tersebut.

2. Sikap Siswa Terhadap Matematika

Ada hubungan yang erat antara sikap siswa terhadap matematika dengan prestasi belajar matematika yang dicapai. Sikap siswa terhadap matematika mempengaruhi prestasi belajar matematika dan prestasi yang dicapai berpengaruh pula pada pembentukan sikap siswa terhadap matematika (Tjahjanti, 1990). Siswa menganggap bahwa matematika sama bahkan lebih penting dibandingkan dengan mata pelajaran lain.

Dalam bidang studi matematika sikap seseorang terhadap matematika dilihat dari keinginannya untuk tahu atau belajar lebih banyak dari kemauannya untuk terlibat atau melibatkan diri dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan matematika (Suyono,1981: 9). Berdasarkan pengertian tersebut dapat diartikan bahwa keterlibatan siswa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ϭϯ

dalam pelajaran dan kegiatan yang berkaitan dengan matematika dapat mencerminkan sikap siswa terhadap matematika.

Sikap berarti kecenderungan untuk menerima atau menolak suatu obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek itu sebagai hal yang berguna atau berharga (sikap positif) atau tidak berguna atau tidak berharga (sikap negatif). Maka sikap siswa terhadap matematika berarti kecenderungan untuk menerima atau menolak pelajaran matematika berdasarkan penilaiannya terhadap matematika sebagai hal yang berguna atau berharga (sikap positif terhadap matematika) atau sebagai hal yang tidak berguna atau berharga (sikap negatif terhadap matematika (Winkel,2004: 117).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sikap seseorang terhadap matematika dapat terlihat sejauh mana kesediaan siswa untuk terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan matematika. adapun kesediaan untuk terlibat itu berdasarkan penilaiannya terhadap matematika. Apabila siswa menilai bahwa matematika sebagai suatu hal yang berguna atau berharga maka siswa semakin bersedia untuk banyak terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan matematika, sedangkan apabila siswa menilai matematika itu tidak berharga atau berguna maka siswa akan enggan untuk melibatkan dirinya dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan matematika. Semakin siswa bersedia untuk banyak melibatkan diri dalam berbagai kegiatan matematika berarti semakin positif sikapnya terhadap matematika dan semakin enggan siswa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ϭϰ

untuk melibatkan diri dalam kegiatan matematika maka semakin negatif sikapnya terhadap matematika.

Sikap dan kualitas guru juga mempengaruhi sikap siswa khususnya terhadap matematika, terutama untuk siswa di sekolah yang lebih tinggi. Dorongan yang diberikan guru kepada siswa dapat mempengaruhi siswa dalam mengambil pelajaran tambahan khususnya matematika. Kualitas guru yang berhubungan dengan sikap siswa terhadap matematika mencakup aktivitas professional dan keseluruhan aktivitas guru yang berhubungan dengan matematika (Muhibbin Syah, M.Ed,2003: 144).

Orang tua juga merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan sikap siswa terhadap matematika. Orang tua mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi akan mempengaruhi sikap siswa yang baik terhadap matematika (Muhibbin Syah, M.Ed,2003: 144). Disamping faktor-faktor tersebut intelegensi siswa juga berhubungan dengan sikap siswa terhadap matematika. Siswa yang mempunyai intelegensinya tinggi lebih tertarik dan menyukai matematika (Muhibbin Syah, M.Ed,2003: 144).

Sikap selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Menurut Saiffudin Azwar (1995: 30) perkembangan perubahan sikap seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta faktor emosional.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ϭϱ

Berikut akan diuraikan mengenai faktor yang mempengaruhi sikap sesesorang yang relevan dengan sikap siswa terhadap matematika.

a. Pengalaman Pribadi

Apa yang dialami siswa akan membentuk dan mempengaruhi penghayatannya terhadap stimulasi sosial, yang selanjutnya akan menjadi dasar terbentuknya sikap. Menurut Middlebrook (1975), tak adanya pengalaman sama sekali dengan sesuatu obyek psikologis cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap obyek tersebut (Saifuddin Azwar,1995: 30). Sebagai contoh apabila siswa sedang mengalami kesulitan dalam menjawab soal matematika, kemudian menanyakan kepada guru, tetapi guru memberikan tanggapan yang kurang mengenakan dan malah kembali bertanya kepada siswa, maka akan sangat mudah terbentuk sikap negatif terhadap matematika yang selanjutnya dapat menjadi dasar pembentuk sikap negatif terhadap matematika. Namun sebaliknya, dalam situasi emosional yang lain seorang siswa yang mengalami kesulitan dalam matematika dan ia mendapat nilai yang bagus maka pada diri siswa akan terbentuk kesan positif terhadap matematika yang selanjutnya dapat menjadi dasar pemebentuk terhadap sikap positif terhadap matematika.

Dari uraian contoh diatas dapat dikatakan bahwa sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Hal ini dikarenakan dalam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ϭϲ

situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih berbekas.

b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Seseorang yang dianggap penting bagi siswa akan banyak mempengaruhi pembentuk sikap siswa terhadap matematika. Seseorang yang biasanya dianggap penting oleh siswa adalah orang tua, teman, guru dan lain-lain.

Pada masa anak-anak seorang anak cenderung memiliki sikap yang menyerupai orang tuanya, hal ini dikarenakan pada masa tersebut anak masih menganggap orang tua mereka adalah baik adanya. Namun setelah ia menginjak remaja pengaruh orang tua kalah dengan teman sebaya. Contohnya pada masa anak-anak orang tua menanamkan sikap yang positif terhadap matematika, namun setelah menginjak SMP ataupun SMA ia akan terpengaruh oleh teman sebaya yang membenci matematika maka secara tidak langsung sikapnya berubah terhadap matematika. Hal ini dikarenakan, ia tidak ingin dikucilkan dari teman-temannya.

Adapun keinginan siswa untuk tahu lebih banyak dan dari kemauannya untuk terlibat dan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan matematika akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Rasa keingintahuan siswa tersebut sangat penting dan berguna bagi siswa itu sendiri. Sebaliknya perasaan tidak menyukai matematika

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ϭϳ

merupakan salah satu hambatan untuk belajar matematika yang efektif dan dalam hal ini mempengaruhi prestasi siswa.

Dengan demikian, perasaan menyukai maupun tidak menyukai matematika akan mempengaruhi prestasi siswa. Apabila dalam belajar matematika tidak disertai sikap menyukai matematika, maka siswa juga akan sulit memperoleh prestasi yang bagus.

Dokumen terkait