• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap ulama Syiah dalam menafsirkan ayat ini

DALAM AYAT-AYAT TENTANG RELASI GENDER

2. Sikap ulama Syiah dalam menafsirkan ayat ini

Hati-hati wahai Ibn 'Abbâs (dalam berfatwa), sesungguhnya Rasulullah Saw. melarang hal itu pada hari (peperangan) Khaibar dan (mengharamkan pula) daging himar jinak.260

Hadis ini menunjukkan haramnya nikah mut'ah selamanya. Ini diperkuat dengan hadis Nabi yang menyatakan secara tegas demikian. Inilah pendapat yang dikemukakan oleh jumhur ulama.

2. Sikap ulama Syiah dalam menafsirkan ayat ini

Thabathaba'i dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat ini jelas merupakan ayat tentang kebolehan nikah mut'ah, kalaupun ada sementara ulama yang menyatakan nikah mut'ah dinasakh itu masalah lain. beliau menganggap keliru orang yang menafsirkan istimta' dengan nikah sunnah karena antara nikah dengan tamattu'

(kenikmatan) ada hubungannya. Tidak dapat dipungkiri, siapa pun orangnya yang mendengar kata mut'ah pasti cenderung nengatakan bahwa itu adalah nikah mut'ah.

Ayat ini, jika dimaksud adalah nikah sunnah, maka tidak cocok dengan lanjutan ayat karena mahar wajib dikeluarkan ketika adanya akad. Demikian juga tentang penjelasan wajibnya pemberian mahar, tidak ada alasan untuk mengulangi kewajiban suatu perintah. Allah dalam surat Al-Nisâ`/ 4 ini saja sudah dua kali mengungkapkan masalah ini, yakni ayat: 4

ﺎﹰﺌﻳِﺮﻣ ﺎﹰﺌﻴِﻨﻫ ﻩﻮﹸﻠﹸﻜﹶﻓ ﺎﺴﹾﻔﻧ ﻪﻨِﻣ ٍﺊﻴﺷ ﻦﻋ ﻢﹸﻜﹶﻟﻦﺒِﻃ ﹾﻥِﺎﹶﻓ ﹰﺔﹶﻠﺤِﻧ ﻦِﻬِﺘﹶﻗﺪﺻ َﺀﺎﺴِّﻨﻟﺍ ﹾﺍﻮﺗﺍَﺀﻭ

)

٤

(

260

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan, kemudian jika mereka menyerahkan kepadamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.

dan ayat: 20

ﺭﺎﹶﻄﻨِﻗ ﻦﻫﺍﺪﺣِﺇ ﻢﺘﻴﺗﺍَﺀﻭ ٍﺝﻭﺯ ﹶﻥﺎﹶﻜﻣ ٍﺝﻭﺯ ﹶﻝﺍﺪﺒِﺘﺳﺍ ﻢﺗﺩﺭﹶﺍ ﹾﻥِﺍﻭ

ﺎﹰﺌﻴـﺷ ﻪـﻨِﻣ ﹾﺍﻭﹸﺬـﺧﹾﺄﺗ ﹶﻼﹶﻓ ﺍ

ﺎﻨﻴِﺒﻣ ﺎﻤﹾﺛِﺍﻭ ﺎﻧﺎﺘﻬﺑ ﻪﻧﻭﹸﺬﺧﹾﺄﺗﹶﺃ

)

٢٠

(

Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?.

Belum lagi dalam surat al-Baqarah/ 2: 236-237.261

َﺀﺎﺴﻨﻟﺍ ﻢﺘﹾﻘﱠﻠﹶﻃﹾﻥِﺇ ﻢﹸﻜﻴﹶﻠﻋ ﺡﺎﻨﺟ ﺎﹶﻟ

ِ

ﻊِﺳﻮﻤﹾﻟﺍ ﻰﹶﻠﻋ ﻦﻫﻮﻌﺘﻣﻭ ﹰﺔﻀﻳِﺮﹶﻓ ﻦﻬﹶﻟﺍﻮﺿِﺮﹾﻔﺗﻭﹶﺃﻦﻫﻮﺴﻤﺗ ﻢﹶﻟﺎﻣ

ﲔِﻨِﺴﺤﻤﹾﻟﺍ ﻰﹶﻠﻋ ﺎﻘﺣِﻑﻭﺮﻌﻤﹾﻟﺎِﺑ ﺎﻋﺎﺘﻣ ﻩﺭﺪﹶﻗ ِﺮِﺘﹾﻘﻤﹾﻟﺍﻰﹶﻠﻋﻭ ﻩﺭﺪﹶﻗ

)

٢٣٦

(

Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut'ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.

ﹾﻥﹶﺍﱠﻻِﺍﻢﺘـﺿﺮﹶﻓ ﺎـﻣ ﻒﺼِﻨﹶﻓ ﹰﺔﻀﻳِﺮﹶﻓ ﻦﻬﹶﻟ ﻢﺘﺿﺮﹶﻓ ﺪﹶﻗﻭ ﻦﻫﻮﺴﻤﺗ ﹾﻥﹶﺍِﻞﺒﹶﻗ ﻦِﻣ ﻦﻫﻮﻤﺘﹾﻘﱠﻠﹶﻃ ﹾﻥِﺍﻭ

ﻀﹶﻔﹾﻟﺍ ﹾﺍﻮﺴﻨﺗ ﹶﻻﻭ ﻯﻮﹾﻘﺘﻠِﻟ ﺏﺮﹾﻗﹶﺍﺍﻮﹸﻔﻌﺗ ﹾﻥﹶﺍﻭ ﺡِ ﺎﹶﻜِّﻨﻟﺍ ﹸﺓﺪﹾﻘﻋ ِﻩِﺪﻴِﺑ ﻱِﺬﱠﻟﺍ ﹾﺍﻮﹸﻔﻌﻳ ﻭﹶﺍ ﹶﻥﻮﹸﻔﻌﻳ

ﻢﹸﻜﻨﻴﺑ ﹶﻞ

ﺮﻴِﺼﺑ ﹶﻥﻮﹸﻠﻤﻌﺗ ﺎﻤِﺑ َﷲﺍ ﱠﻥِﺍ

)

٢٣٧

(

Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka padahal kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika istri-istrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan itu lebih dekat kepada takwa. Dan jangnlah kamu melupakan keutamaan di anatara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.

261 Sayyid Muhammad Husain al-Thabâthabâ`î, al-Mizân fi Tafsīr al-Qur`ân, (Teheran: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah, tth), h. 291

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa ayat ini merupakan penguat dari ayat: 20 di atas, Pendapat ini juga lemah karena tidak ada qarīnah yang menunjukkan bahwa ayat ini sebagai penguat ayat tersebut.262

Ada pula ulama yang mengatakan bahwa ayat ini dinasakh oleh ayat tentang kewajiban menjaga kemaluan (al-Mu`minûn/ 23: 7), ada yang mengatakan dinasakh

dengan ayat 'iddah (al-Thalâq/ 65: 1), dan ayat talak (al-Baqarah/ 2: 228) karena dalam nikah sunnah terdapat talak dan ''iddahnya, sementara nikah mut'ah tidak ada dan banyak lagi pendapat lainnya.

Imam Thabâthabâ`î dengan jelas mematahkan argumen-argumen mereka, antara lain:

1) Surat al-Mu`minûn/ 23: 7 diturunkan di Makkah sementara ayat mut'ah ini turun di Madinah. Jadi tidak mungkin ayat makkiyah menasakh ayat

madaniah.263

2) Surat al-Baqarah/ 2: 228 dan al-Thalâq/ 65: 1. tentang talak dan 'iddah, hubungannya dengan ayat mut'ah ini bukan an-Nasikh dan al-Mansukh, melainkan al-'âm dan al-khâsh264 atau al-Muthlaq dan al-Muqayyad.265

262

Al-Thabâthabâ`î, al-Mizân …, h. 291

263

Perbedaan antara ayat-ayat makkiyyah dan ayat-ayat madaniyyah adalah sebagai berikut: 1) ayat makkiyyah ialah yang diturunkan sebelum hijrah, sekalipun tidak di Makkah, sedangkan ayat

madaniyyah diturunkan setelah hijrah walaupun turun di Makkah, 2) ayat makkiyyah duturunkan di

Makkah dan sekitarnya, sedangkan ayat madaniyyah turun di Madinah dan sekitarnya, 3) ayat

makkiyyah ditujukan untuk penduduk Makkah, sedangkan ayat madaniyyah dutujukan untuk penduduk Madinah. Jika makiyyah, biasanya diawali Yâ ayyuhannâs dan jika madaniyyah, diawali denganYa ayyuhalladzīna âmanû. Mannâ' al-Qaththân, Mabâhits fi 'Ulûm al-Qur`ân, (Riyadh: Mansyûrât al-'Ashr al-Hadis, tth), h.61-62

264

Al-'âm ialah lafaz yang mencakup apa yang sesuai dengannya tanpa ada batasnya, sementara al-khâsh ialah lafaz yang tidak mencakup sesuatu yang sesuai dengannya tanpa ada batasnya. Cara kerjanya disebut takhshīsh yaitu mengeluarkan sebagaian apa yang tercakup lafaz yang umum. Al-Qaththân, Mabâhits…, h. 226

Memang sebagian ahli ushul ada yang berpendapat, apabila ada ayat khâsh

lalu disusul dengan ayat 'âm yang bertentangan, maka yang ayat 'âm dapat menasakh yang khâsh. Tetapi, ini tidak cocok jika diterapkan antara ayat talak yang terdapat dalam surat al-Baqarah: 228 dengan ayat mut'ah ini karena ayat talak ini lebih dahulu turun dari pada ayat mut'ah. Demikian pula, ayat 'iddah

lebih dahulu turunnya daripada ayat mut'ah yang lebih akhir turunnya dari pada ayat 'âm lainnya.266

Beliau memperkuat argumennya dengan beberapa riwayat lain, baik dari Ahlul Bait maupun dari shahabat-shahabat terkenal lainnya, antara lain:

Dari Zurarah berkata: Abdullah ibn 'Umair al-Laitsi datang kepada Abû Ja'far, lalu ia berkata: Apa pendapatmu tentang mut'ah al-nisâ` (nikah mut'ah)? Dia menjawab: Allah telah menghalakannya dalam Kitab-Nya dan menurut Sabda Nabi Saw. ia halal sampai hari kiamat. Lalu Abdullah berkata: wahai Abû Ja'far orang yang sepertimu (golongan Syiah) berkata semacam ini padahal ''Umar telah mengharamkannya dan melarangnya. Dia menjawab: Meskipun dia pernah melakukan?. Lalu dia berkata: Sungguh aku minta perlindungan kepada Allah untukmu dari perbuatan itu, engkau telah menghalalkan sesuatu yang telah diharamkan 'Umar. Abû Ja'far berkata: Engkau mengikuti pendapat temanmu ('Umar), sedangkan saya mengikuti pendapat Rasulullah Saw. marilah aku beritahu bahwa pendapat yang benar adalah pendapat Rasulullah Saw., sedangkan yang salah adalah apa yang diucapakan temanmu, lalu Abdullah berkata: Apakah kamu senang

265

Al-muthlaq ialah sesuatu yang menunjukan kapada hakekat tanpa ada batasnya, sedangkan

al-muqayyad ialah sesuatu yang menunjukkan kepada hakekat dengan ada batasnya. Al-Qaththân,

Mabâhits…,h. 245-246

266

kalau perempuan-perempuanmu, anak-anak perempuanmu, saudari-saudarimu dan anak-anak saudari pamanmu berbuat demikian (nikah mut'ah)? Lalu Abû Ja'far berpaling darinya (tidak menjawab pertanyaannya) ketika dia menyebutkan perempuan-perempuan (keluarganya) dan anak-anak perempuan pamannya.267

Dalam Tafsīr al-'Isyâsyi dari Muhammad ibn Muslim dari Abû Ja'far berkata: Jabir ibn Abdullah berkata tentang Rasulullah Saw. yang berperang bersamanya lalu beliau menghalalkan bagi mereka mut'ah dan tidak mengharamkannya. 'Ali ra. pernah berkata: Seandainya Ibn al-Khathâb, yakni ''Umar, tidak mendahului saya (dalam menetapkan haramnya mut'ah), maka tidak ada seorang pun yang zina kecuali orang yang celaka.

Ibn 'Abbâs dalam ayat ini menyatakan secara jelas bahwa dia membacanya:

ﻬﻨِﻣ ِﻪِﺑﻢﺘﻌﺘﻤﺘﺳﺍ ﺎﻤﹶﻓ

ﻦ

ﻰﻤﺴﻣ ٍﻞﺟﹶﺍﱃﺍ

ﹰﺔﻀﻳِﺮﹶﻓ ﻦﻫﺭﻮﺟﹸﺃﻦﻫﻮﺗﺂﹶﻓ

....

ﺔﻳﻻﺍ

Mereka (para shahabat lain), menurut Ibn 'Abbâs, menolak ayat ini, padahal Rasulullah menghalalkannya dan tidak mengharamkanya.268

Dari sekian riwayat yang dipertentangkan antara kaum Sunni dengan Syiah tentang nikah mut'ah, ada satu riwayat di mana kedua golongan ini sama-sama menjadikan tolak ukur nikah mut'ah, yakni riwayat Jabîr ibn Abdullah yang pernah mengatakan:

ﻢﹶﻠﹶﻓ ﺮﻤﻋ ﺎﻤﻬﻨﻋ ﺎﻧﺎﻬﻧ ﻢﹸﺛ ِﷲﺍ ِﻝﻮﺳﺭﻊﻣ ﺎﻤﻫﺎﻨﹾﻠﻌﹶﻓ

ﺎﻤﻬﹶﻟ ﺪﻌﻧ

269

267

Di akhir hadis ini ada dua kemungkinan Abû Ja'far tidak menjawab pertanyaan Abdullah:

pertama, mungkin dia merasa tersinggung ketika keluarga perempuannya disebut sebagai contoh,

kedua, mungkin juga karena ketidaksetujuannya jika keluarga perempuannya melakukan nikah mut'ah

sementara jika dia mengungkapkan ketidaksetujuannya ini khawatir dianggap membatalkan fatwanya.

268 Hadis-hadis ini dikutip dari Thabâthabâ`î, al-Mizân …, jilid 4, h. 308-309

269 Thabâthabâ`î, al-Mizân …, jilid 4, h. 317. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih …, jilid 9, h. 185.

Kami pernah melakuka (nikah mut'ah dan mut'ah dalam haji) bersama Rasulullah Saw. kemudian 'Umar melarang kami, lalu kami tidak mengerjakannya lagi.

Ini menunjukkan bahwa keharamannya secara mutlak, di mana tidak ada perselisihan di dalamnya adalah di zaman 'Umar karena banyak riwayat di Muslim menyebutkan bahwa menurut Jabîr ibn 'Abdullah, masih banyak shahabat yang melakukannya di zaman Rasulullah, Abû Bakar, dan separoh awal periode 'Umar.270

Dengan demikian, bisa jadi ini ijtihad 'Umar ibn Khathâb dalam melarang nikah mut'ah. Lepas dari dalil-dalil ini, bagaimana pun kita perlu mengkaji ulang hukum nikah mut'ah ini. Apakah ia layak dilestarikan pada masyarakat modern seperti sekarang ini atau tidak.

Ada beberapa perbedaan antara nikah mut'ah dan nikah sunnah menurut Syiah Imamiyah antara lain:

1. Dalam pelaksanaan akad, nikah mut'ah tidak diwajibkan adanya saksi dan diumumkan pada orang lain, kecuali khawatir dituduh zina.271 Sedangkan dalam nikah sunnah saksi menjadi rukun nikan.

2. Dalam nikah mut'ah, harus disebutkan batas waktu yang jelas dan disepakati untuk hidup bersama. Sedangkan dalam nikah sunnah tidak boleh disebutkan batas waktu, karena seharusnya dia langgeng.

3. Mahar merupakan rukun nikah. Sedang dalam nikah sunnah, mahar tidak menjadi rukun.

270

Dalam Shahih Muslim dijelaskan bahwa ada lima hadis yang diriwayatkan dari Jabir ibn Abdullah yang secara jelas menyatakan bahwa yang mengharamkan nikah mut'ah selamanya adalah ''Umar ibn Khathâb dan tidak ada riwayat satu pun dari Jabîr yang mengatakan bahwa Rasulullah

mengharamkannya. Lihat: Muslim, Shahih …, jilid 9, h. 182-184.

271

4. 'iddah (masa tunggu) bagi nikah mut'ah, setelah habis masa perjanjian nikah adalah dua kali haid, sedang dalam nikah sunnah tiga kali haid. Jikalau yang hamil dalam nikah mut'ah, 'iddahnya sampai melahirka.

5. Suami Istri dalam nikah sunnah saling mewarisi sedang dalam nikah mut'ah

diperselisihkan.

6. Tidak ada kewajiban nafkah atas suami bagi perempuan yang dinikahi secara

mut'ah kecuali jika disyaratkan dalam akad. Sedangkan nikah sunnah memberi nafkah adalah kewajiban suami.

7. Ulama Syi'ah berpendapat dalam nikah mut'ah laki-laki diperbolehkan menikah lebih dari empat perempuan dalam saat yang sama. Sementara dalam nikah sunnah tidak diperbolehkan menikahi lebih dari empat perempuan.272

Dengan adanya perbedaan tersebut patut untuk dipertimbangkan dan dipikirkan dampak positif dan negatifnya seandainya terjadi legalisasi nikah mut'ah

pada saat ini. Dampak positifnya antara lain:

Pertama, Terpenuhinya hasrat seksual muda-mudi yang belum mapan secara ekonomi karena dengan nikah mut'ah dia tidak ada kewajiban memberi nafkah lahir, kecuali disyaratkan dalam akad.

Kedua, Problem anak tidak terlalu dipikirkan karena kesepakatan dari awal pernikahan tidak bertujuan untuk memberikan keturunan.

272

Quraish Shihab, Perempuan …, h. 208-209 , lihat juga dalam Muhammad Jawwad

Maghniyyah, Fiqh al-Imam Ja'far al-Shiddiq, (Iran: Muassasah Anshariyan Li al-Thabâ'âh wa al-Nasyr, tth), jilid 5, h. 5

Ketiga, Perceraian mudah dilakukan karena sudah ada kesepakatan dari awal, sesuai dengan akad.

Keempat, Bagi yang kebetulan mendapat suami orang kaya, misalnya pengusaha asing yang bermukim dalam jangka waktu tertentu, mungkin si perempuan akan mendapat keuntungan yang banyak dari mereka.

Kelima, Mengurangi beban banyaknya perempuan yang belum menikah, di saat populasi perempuan melebihi kadar jumlah laki-laki.

Dampak negatif yang dapat ditimbulkan:

Pertama, membuka peluang yang besar bagi laki-laki hidung belang dan perempuan jalang untuk melakukan praktek perzinahan atas nama agama.

Kedua, Jika terjadi kehamilan, perempuan sangat dirugikan, yakni dalam hal pendidikan dan pemeliharaan anak, meskipun nasab dihubungkan kepada suami (mut'ah), tetapi jika terjadi perceraian kebanyakan suami enggan bertanggung jawab untuk memiliharanya. Apabila perempuan tersebut sering bergonta-ganti pasangan, tentunya akan lebih sulit lagi menentukan nasab anaknya.

Ketiga, Dengan pemberian mahar yang tidak seberapa dibanding efek negatifnya yang ditimbulkannya, ini menunjukkan rendahnya martabat perempuan yang mudah "dibeli".

Keempat, Tidak terciptanya hikmah pernikahan yang sebenarnya, yakni:

sakinah (ketenteraman batin), mawaddah (cinta kasih yang senantiasa ingin memberi perhatian), dan rahmah (rasa sayang yang berusaha tidak menyakiti hati pasangannya). Yang ada dalam nikah mut'ah ini hanyalah penyaluran hawa nafsu belaka.

Kelima, Berkurangnya generasi manusia atau banyaknya anak-anak yang terlantar dan semakin meningginya angka perempuan yang menjadi janda.273

Atas pertimbangan di atas, meskipun ada ayat maupun hadis yang menjelaskan nikah mut'ah ini. Penulis pribadi tidak setuju apabila undang-undang nikah mut'ah dilegalkan, sebagaimana keinginan sejumlah kelompok Lembaga Swadaya Masyarakat.

C. Studi Kritis Ragam Qirâ`ât dalam Penafsirana Ayat-ayat Perceraian 1. Hak cerai Istri (Q.s. Al-Baqarah/ 2: 229)

ﺎـﻤِﻣ ﺍﻭﹸﺬـﺧﹾﺄﺗ ﹾﻥﹶﺃ ﻢـﹸﻜﹶﻟ ﱡﻞِﺤﻳ ﺎﹶﻟﻭ ٍﻥﺎﺴﺣِﺈِﺑ ﺢﻳِﺮﺴﺗ ﻭﹶﺃ ٍﻑﻭﺮﻌﻤِﺑ ﻙﺎﺴﻣِﺈﹶﻓ ِﻥﺎﺗﺮﻣ ﻕﺎﹶﻠﱠﻄﻟﺍ

ِﻘﻳ ﺎﱠﻟﹶﺃ ﺎﹶﻓﺎﺨﻳ ﹾﻥﹶﺃ ﺎﱠﻟِﺇ ﺎﹰﺌﻴﺷ ﻦﻫﻮﻤﺘﻴﺗﺍَﺀ

ﺡﺎﻨﺟ ﺎﹶﻠﹶﻓ ِﻪﱠﻠﻟﺍ ﺩﻭﺪﺣ ﺎﻤﻴِﻘﻳ ﺎﱠﻟﹶﺃ ﻢﺘﹾﻔِﺧ ﹾﻥِﺈﹶﻓ ِﻪﱠﻠﻟﺍ ﺩﻭﺪﺣ ﺎﻤﻴ

ﻢـﻫ ﻚـِﺌﹶﻟﻭﹸﺄﹶﻓ ِﻪﱠﻠﻟﺍ ﺩﻭﺪﺣ ﺪﻌﺘﻳ ﻦﻣﻭ ﺎﻫﻭﺪﺘﻌﺗ ﺎﹶﻠﹶﻓ ِﻪﱠﻠﻟﺍ ﺩﻭﺪﺣ ﻚﹾﻠِﺗ ِﻪِﺑ ﺕﺪﺘﹾﻓﺍ ﺎﻤﻴِﻓ ﺎﻤِﻬﻴﹶﻠﻋ

ﹶﻥﻮﻤِﻟﺎﱠﻈﻟﺍ

)

٢٢٩

(

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma`ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau Keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa Keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas Keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.

273

Banyak orang laki-laki lebih menyukai nikah mut'ah karena tanpa beban nafkah dan

pemelihraan anak. Sementara perempuan tidak bisa terus-menerus dalam status istri mut'ah, jika sudah

tua dan tidak menarik lagi, tentu laki-laki tidak mau menikahinya sehingga banyak di antara mereka yang menjadi janda.

Perbedaan Qirâ`ât:

Imam Hamzah, Abû Ja'far, dan Ya'qûb membaca lafaz

ﺎـﹶﻓﺎﺨﻳ ﹾﻥﹶﺃﺎﱠﻟِﺇ

dengan cara memberi dlommah pada huruf ya-nya yakni,

ﺎـﹶﻓﺎﺨﻳ ﹾﻥﹶﺃﺎـﱠﻟِﺇ

. sementara ulama

Qurrâ` lainnya membacanya dengan cara memfathahkannya yaitu,

ﺎﹶﻓﺎﺨﻳ ﹾﻥﹶﺃﺎﱠﻟِﺇ

. 274 Implikasi Makna:

Bacaan

ﺎﹶﻓﺎﺨﻳ

diambil dari fiil mudlori mabni ma'lum, yang berarti suami istri itu merasa khawatir dan yakin mereka tidak menjalankan hak-haknya dalam berkeluarga secara baik, maka mereka sepakat untuk bercerai.

Sementara jika dibaca

ﺎـﹶﻓﺎﺨﻳ

yang diambil dari fiil mudlori' mabni majhul, yang artinya kedua suami istri itu dikhawatirkan tidak dapat menjalankan hak-hakanya secara baik. Dalam hal ini, hakim berperan untuk memutuskan perceraian mereka atas gugatan yang diajukan istri.

Implikasi terhadap Relasi Gender

Dalam ayat ini terkandung dua permasalahan penting: pembatasan perceraian dan hak perceraian bagi istri. Masalah pertama hanya sedikit disinggung karena masalahnya sudah jelas dan tidak ada perbedaan qirâ`ât di dalamnya. Fokus pembahasan ini terletak dalam masalah kedua, di mana terdapat perbedaan qirâ`ât

yang perlu dikritisi segi-segi hukumnya.

Masalah pertama berkenaan dengan tradisi jahiliyah yang suka memperalat perempuan. Ketika itu talak tidak ada batasnya. Seorang yang menceraikan istrinya, dia tidak menggaulinya lagi sehingga saat 'iddah hampir selesai, suaminya datang rujuk kembali. Perilaku semacam ini seringkali dilakukan oleh mereka. Bahkan

274

menurut Qatadah, perbuatan ini dilakukan oleh mereka sampai sepuluh kali atau lebih.275 Tentu praktek semacam ini sangat merugikan perempuan. Kebebasan mereka sebagai istri terkatung-katung. Bahkan boleh jadi, nafkah lahirnya tidak terpenuhi, apalagi nafkah bathinnya. Allah tidak rela penganiayaan semacam ini terus-menerus berlangsung. Karena itu, tatkala di zaman Nabi Saw. ada seorang perempuan yang merasa dianiaya dengan perbuatan jahiliyah ini, Allah menurunkan ayat yang membatasi talak hanya sampai tiga kali.

Diriwayatkan oleh Ibn Jarîr dari Hisyam ibn 'Urwah dari ayahnya bahwasannya ada seorang laki-laki dari golongan Anshor yang marah terhadap istrinya, lalu dia berkata pada istrinya: "saya tidak akan mendekatimu dan kamu tidak halal bagi saya". Istrinya berkata: "apa yang ingin kamu lakukan:, suaminya menjawab: "saya cerai kamu, tapi nanti kalau 'iddah kamu sudah dekat, saya rujuk. kemudian saya ceraikan kamu lagi, lalu saya rujuk kalau 'iddah kamu hampir selesai." Perempuan itu kemudian mengadu kepada Rasulullah Saw. lalu turunlah awal ayat ini:276

ٍﻥﺎﺴﺣِﺈِﺑ ﺢﻳِﺮﺴﺗ ﻭﹶﺃٍﻑﻭﺮﻌﻤِﺑ ﻙﺎﺴﻣِﺈﹶﻓ ِﻥﺎﺗﺮﻣ ﻕﺎﹶﻠﱠﻄﻟﺍ

.

Adapun masalah kedua berkenaan dengan hak cerai bagi perempuan atau dengan kata lain khulu'.277 Ibn 'Abbâs pernah ditanya tentang asal mula adanya khulu' ini. Beliau berkata: Khulu' pertama kali terjadi dalam Islam berkenaan dengan gugatan cerai yang diajukan oleh saudari 'Abdullah ibn Ubay (yang bernama Jamilah

275 Al-Thabari, Jâmi'…, jilid 2, h. 470

276

Al-Thabari, Jami …, jilid 2, h. 469

277

Khulu' menurut bahasa ialah melepaskan atau menghilangkan. Khulu' menurut istilah adalah menghilangkan ikatan pernikahan yang tergantung pada persetujuan perempuan (untuk memberikan tebusan kepada suaminya) dengan memakai lafaz khulu' atau lafaz-lafaz yang semakna dengannya. Al-Zuhali, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, (Bairut: Dar al-Fikr,1989), jilid 7, h. 480

istri Tsabit ibn Qois, dalam riwayat lain). dia mengadu kepada Rasulullah: "Ya Rasulullah, saya tidak mau berkumpul dengan dia lagi, selamanya! Saya telah lama memendam ini, yakni kalau saya melihatnya datang di suatu saat, maka saya (merasa kecil hati dan tidak berselera padanya, karena) dia itu orang yang sangat hitam, sangat pendek dan sangat buruk wajahnya, dibandingkan dengan orang lain." Suaminya berkata: "Ya Rasulullah, saya telah memberikan padanya harta yang amat saya sukai, yakni sebidang kebun, jika dia mau mengembalikan kebun saya (maka saya penuhi gugatan cerainya)," Rasulullah bersabda: Bagaimana pendapatmu. Istrinya menjawab: "Ya, kalau perlu saya tambahkan". Lalu Rasulullah menceraikan keduanya.278

Dengan bahasa yang lebih halus Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibn 'Abbâs, bahwa istri Tsabit itu berkata: "Saya tidak mencela akhlak maupun agamanya. Tetapi saya khawatir kufr (mendurhakai) Islam." Rasulullah bersabda: "Maukah kamu mengembalikan kebunnya?" "Ya," jawabnya. Lalu Rasulullah berkata pada suaminya: "Terimalah kebun itu lalu talaklah sekali!"279

Jumhur fuqaha membolehkan khulu' (gugatan cerai), meskipun tanpa alasan terjadinya penganiayaan (dlarar) karena Allah Swt. tidak menyebutkan syarat tertentu dalam ayat ini. Allah hanya menyebutkan kebiasaan terjadinya khulu' ini, yakni istri merasa tidak mampu menjalankan kewajibannya dengan baik,280 karena berbagai macam sebab yang melatar belakanginya.

278

Al-Thabari, Jâmi' …, h. 475

279 Ismâil al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Kairo: Maktabah al-Syuruq, 2003), jilid 9, h. 62

280

Ayat Khulu' ini diawali dengan pernyataan Allah, bahwa seseorang diharamkan mengambil hak milik istrinya baik dari hasil kerjanya maupun apa yang telah diberikan suami padanya. Ayat ini mengecualikan harta yang diambil karena memang ada kerelaan dari istrinya, dicontohkan di sini dengan harta yang dijadikan tebusan atas gugatan cerai yang diajukan kepada suaminya.

Khulu' yang dilakukan oleh pihak istri bisa jadi karena dua sebab. Pertama, karena perbuatan istri yang nusyûz (menolak semua keinginan suami), seperti kasus yang terjadi pada shahabat Nabi di atas atau istri ingin menikah dengan orang lain karena suaminya tidak memenuhi apa yang diinginkannya dan lain sebagainya.

Kedua, karena perbuatan nusyuz yang dilakukan suami, seperti penganiayaan terhadap istri, meninggalkan tanggung jawab pemberian nafkah dan lain-lain. Gugatan cerai yang dibolehkan untuk meminta tebusan pada istri ini pada kasus pertama. Sedangkan pada kasus kedua, jumhur ulama berpendapat tidak boleh, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Nisâ`/ 4 ayat 19:

...

ِﻑﻭﺮﻌﻤﹾﻟﺎِﺑ ﻦﻫﻭﺮِﺷﺎﻋﻭ ٍﺔﻨﻴﺒﻣ ٍﺔﺸِﺣﺎﹶﻔِﺑﲔِﺗﹾﺄﻳﹾﻥﹶﺃﺎﱠﻟِﺇ ﻦﻫﻮﻤﺘﻴﺗﺍَﺀ ﺎﻣ ِﺾﻌﺒِﺑﺍﻮﺒﻫﹾﺬﺘِﻟ ﻦﻫﻮﹸﻠﻀﻌﺗﺎﹶﻟﻭ

ﻳﻭ ﺎﹰﺌﻴﺷ ﺍﻮﻫﺮﹾﻜﺗ ﹾﻥﹶﺃﻰﺴﻌﹶﻓ ﻦﻫﻮﻤﺘﻫِﺮﹶﻛ ﹾﻥِﺈﹶﻓ

ﺍﲑِﺜﹶﻛ ﺍﺮﻴﺧ ِﻪﻴِﻓ ﻪﱠﻠﻟﺍ ﹶﻞﻌﺠ

)

١٩

(

…janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

Perbedaan qirâ`ât yang terdapat pada ayat

ِﻪـﱠﻠﻟﺍ ﺩﻭﺪـﺣ ﺎﻤﻴِﻘﻳ ﺎﱠﻟﹶﺃﺎﹶﻓﺎﺨﻳ ﹾﻥﹶﺃ ﺎﱠﻟِﺇ

merupakan proses terjadinya khulu' hingga keputusan jatuhnya khulu'. Qirâ`ât

ﺎﹶﻓﺎﺨﻳ

ketidakmampuan mereka untuk menjalankan tanggung jawab itu berasal dari suami-sitri. Al-Shâbuni menafsirkan ayat ini, sebagaimana berikut: "kecuali suami-istri merasa khawatir tidak dapat bergaul dengan baik dan keduanya tidak mampu menjaga hak-hak pasangannya yang telah diperintahkan Allah kepada mereka."281 Dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak ini, para fuqaha' yang mengikuti pendapat 'Umar dan 'Usmân ra. berkata bahwa khulu' dapat jatuh menjadi perceraian yang sah tanpa memerlukan hakim.282

Di sini ada keterlibatan kedua belah pihak yang merasa tidak memenuhi tuntutan pasangannya. Namun, yang ditekankan adalah adanya gugatan istri meminta perceraian. Hal ini karena, menurut ulama salaf, pemegang otoritas talak ada di tangan suami. Jadi, ketika suami ingin menceraikan istrinya, tanpa ada kesepakatan keduanya, talak itu tetap jatuh. Ini berbeda dengan gugatan cerai istri.

Karena itu, jika suami menyepakati gugatan cerai istri dengan mensyaratkan untuk mengembalikan apa yang telah diberikan kepadanya, misalnya berupa mahar,

Dokumen terkait