• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kesesuaian Pemanfaatan Ruang

6 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Kesesuaian penggunaan lahan eksisting tahun 2013 dengan rencana pola ruang mencapai 6.213,96 ha atau 52,99% dari luas wilayah Kota Bogor. Rencana pola ruang yang belum terealisasi yaitu sebesar 5.028,34 ha (42,88%), antara lain lahan yang direncanakan untuk pemukiman dan perumahan serta perdagangan dan jasa masih berupa kebun, semak belukar dan tanah kosong. Sementara untuk penggunaan lahan tahun 2013 yang tidak sesuai dengan Rencana Pola Ruang sebesar 484,71 ha (4,13%), terdiri dari berbagai penggunaan lahan aktual yang berada di lahan yang direncanakan untuk penggunaan yang berbeda.

Program pembangunan fisik yang sesuai dengan RTRW menunjukkan angka yang berfluktuasi dari tahun ke tahun, dengan persentase kesesuaian terbesar pada tahun 2015 yaitu sebesar 92,31 % dan persentase kesesuaian terkecil pada tahun 2014 yaitu sebesar 80,00 %. Namun secara rata-rata program pembangunan fisik yang sesuai dengan RTRW adalah 87,68 %. Berdasarkan urusannya, kesesuaian program pembangunan fisik dengan RTRW bervariasi. Urusan yang mempunyai persentase kesesuaian 100% adalah Urusan Kebudayaan, Urusan Kepemudaan dan Olahraga serta Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. Urusan lain yang persentase kesesuaiannya masih di bawah 100% yaitu Urusan Pendidikan, Urusan Kesehatan, Urusan Perumahan Urusan Lingkungan Hidup, Urusan Pekerjaan Umum, Urusan Perhubungan, Urusan Sosial dan Urusan Perpustakaan.

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bogor sebagai salah satu pedoman kebijakan pembangunan yang memberikan arahan lokasi belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh instansi yang berada di lingkungan Pemerintah Kota Bogor. Hal ini ditunjukkan dengan adanya beberapa instansi yang masih belum menggunakan RTRW dalam penyusunan usulan program pembangunan yaitu sebesar 25% sedangkan 75% instansi sudah menggunakan RTRW dalam penyusunan usulan program pembangunan.

Faktor atau alasan yang mempengaruhi tidak digunakannya RTRW dalam penyusunan program pembangunan adalah tidak adanya ketentuan bahwa RTRW harus digunakan dalam penyusunan usulan program pembangunan, substansi RTRW yang terlalu umum dan tidak memberikan arahan yang jelas. Adapun alasan digunakannya RTRW dalam penyusunan program pembangunan karena RTRW membantu penyusunan prioritas program pembangunan, memberikan arahan dalam penentuan lokasi kegiatan, RTRW sebagai salah satu pedoman perumusan kebijakan pembangunan daerah.

Strategi peningkatan sinkronisasi tata ruang wilayah dengan program pembangunan di Kota Bogor berdasarkan urutan prioritas adalah :

a. Menerapkan peraturan tentang rencana tata ruang dan rencana pembangunan secara tegas agar komitmen pemerintah kota dalam mewujudkan rencana tata ruang dapat terwujud dengan baik

b. Menjaga komitmen pemerintah kota dalam mewujudkan sinergi antara rencana penataan ruang dan rencana pembangunan sehingga masyarakat lebih nyaman

c. Meningkatkan koordinasi dan sosialisasi peraturan perundangan kepada para pemangku kepentingan agar penataan ruang dan perencanaan pembangunan dapat bersinergi

d. Mengoptimalkan sumberdaya manusia yang ada baik itu aparatur pemerintah maupun masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan

e. Melakukan asistensi dan pengawasan secara terpadu dalam penyusunan dan pengesahan / persetujuan program pembangunan sehingga menjadi efisien dan membuat masyarakat menjadi lebih produktif

f. Memperjelas materi, arahan dan indikasi program dalam RTRW agar lebih mudah dijabarkan dalam rencana kerja sehingga pembangunan menjadi lebih terarah dan masyarakat lebih produktif

g. Membuat aturan yang jelas dan tegas mengenai sanksi serta melibatkan masyarakat dalam setiap tahapan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan untuk meminimalisir ketidaksesuaian program pembangunan dengan RTRW

h. Melakukan pembahasan yang intensif dan sinergis diantara pemangku kepentingan dalam setiap penentuan kebijakan agar masyarakat merasa aman dan nyaman

Saran

Instrumen pengendalian pemanfaatan ruang yaitu peraturan zonasi, perizinan, insentif dan disinsentif serta pemberian sanksi harus lebih dioptimalkan oleh instansi terkait, terutama pada lahan yang masih belum terealisasi sesuai rencana pola ruang yang masih berupa kebun, semak belukar dan tanah kosong, dengan tidak mengesampingkan pengendalian untuk penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan rencana pola ruang. Sosialisasi tentang RTRW kepada para pemangku kepentingan baik itu eksekutif, legislatif maupun masyarakat luas perlu lebih ditingkatkan secara intensif dan berkala melalui (a) Penyebarluasan dokumen RTRW ; (b) Publikasi di media cetak, media elektronik, website dan papan informasi di setiap instansi sampai ke tingkat kelurahan.

Kualitas dan kuantitas aparatur yang memiliki kemampuan dan kompetensi sebagai perencana di setiap instansi di lingkungan Pemerintah Kota Bogor harus lebih ditingkatkan dengan melaksanakan pelatihan tentang sinkronisasi perencanaan pembangunan dan perencanaan keruangan. Usulan program yang sesuai dengan rencana tata ruang perlu diberikan prioritas yang lebih tinggi berdasarkan kriteria yang ditentukan bersama oleh para pihak. Semua pihak perlu diberi peluang dalam penyusunan, perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian program pembangunan. Perlunya penyusunan rencana tata ruang yang lebih informatif, operasional, menyeluruh dan mengakomodasi keinginan berbagai pihak agar dapat dimanfaatkan dalam penyusunan usulan program pembangunan. Informasi mengenai indikasi program RTRW yang menjadi acuan penyusunan program pembangunan harus dimaksimalkan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang ada.

Perlu adanya kebijakan/peraturan yang mengatur mekanisme sinkronisasi rencana tata ruang dengan rencana pembangunan, termasuk didalamnya

85 pengaturan sanksi dan insentif. Kebijakan/peraturan ini harus dapat menjembatani antara rencana pembangunan dengan rencana tata ruang dan fokus pada prosedur penyusunan rencana sehingga memastikan substansi rencana saling terkait satu dengan yang lain. Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 2 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 2 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah belum cukup kuat untuk mengatur mekanisme sinkronisasi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bisa menjadi salah satu alternatif yang relatif sederhana bagi Pemerintah Kota Bogor dalam mengatur mekanisme sinkronisasi rencana tata ruang dengan rencana pembangunan.

Penelitian lanjutan sangat disarankan, dengan menggunakan rencana tata ruang yang lebih detail serta mempertimbangkan kesesuaian rencana waktu pelaksanaan, perkiraan sumber dana dan instansi pelaksana selain pertimbangan kesesuaian lokasi. Untuk itu Rencana Detail Tata Ruang dan peraturan zonasi yang masih dalam proses, perlu segera diterbitkan agar pembangunan dapat berjalan efektif.

Dokumen terkait