• Tidak ada hasil yang ditemukan

6.1 Simpulan

Setelah data dianalisis, simpulan ditentukan sebagai berikut:

(1) Kosakata Pronomina Persona, Ekspresif dan Ideologis ditemukan dalam TG ketika mengajar di kelas.

a. Kosakata Pronomina Persona

- Kosakata pronomina persona yang sama ditemukan dalam TG dengan jumlah yang bervariasi dan berbeda. Pronomina persona tersebut adalah

kalian, kamu, kau, saya, anda,aku.

- Penggunaan pronomina persona yang bervariasi ini menandakan bahwa guru tersebut tidak konsiten dalam menyebut dirinya sendiri dan juga murid-muridnya.

- Hampir semua pronomina persona dalam TG adalah pronomina persona yang menandakan hubungan guru dan murid sangat formal, berjarak dan kurang dekat.

- Hanya sedikit Pronomina persona yang menunjukkan kedekatan atau keakraban guru dan murid yaitu: kita, ibu dan adek/dek dan nama diri

muridnya.

b. Kosakata Ekspresif

- Kosakata Ekspresif yang digunakan guru dalam semua TG adalah kosakata ekspresif negatif. Kosakata ini agak kasar/tidak layak diucapkan oleh seorang guru di hadapan murid.

- Kosakata ekspresif yang negatif ini tentu berpotensi mengakibatkan murid menjadi takut, tersinggung dan mungkin tidak bersemangat untuk belajar. Penggunaan kosakata ekspresif ini juga menunjukkan kesuperioran dan keotoriteran seorang guru di dalam kelas.

- Kosakata ekspresif ini digunakan guru pada saat kesal, marah, menyindir dengan halus, menyepelekan, mendesak, memaksakan kehendaknya, mencerca kelakuan murid dan pada situasi yang ditemuinya dikelas.

- Kosakata ekspresif dalam TG adalah : kalian patah-patahin, kamu yang suka matahin kapur, kau buang ke sibiak ya? lama kalipun kau, bisa atau tidak?, kau bilang tau?, suaramu paling kuat, paling cepat menjawab, tidak bertanggungjawab, bagusan tidak usah menjawab kalau memang nggak tau, sifatmu dari kelas satu itulah ya, dengarin kupingnya, anda bagaimana sih, ngak usah mulutmu hei, ini jagonya di ruangan ini, itu juga gak jelas yang dibelakang sana pasti bingung, kamu kira ngapain saya?, sudah langganan itu, saya tugasi, saya tentukan, cari dengan cepat, kalau ada kesulitan biar saya bantu, selagi tidak ada kesulitan lanjutkan, kata - kata yang sudah saya tentukan, lama sekali jangan lambat, menurut kau apa?, selanjutnya ulangan harian, berhutan rupanya rambutmu?, jangan ributmu aja yang ada, cepat,cepat haa?, ihh negara pun kau nggak tau ya?, paham kan ?

c. Kosakata Ideologis

- Kosakata Ideologis ada dalam semua TG adalah penggunaan kosakata yang sama beberapa kali/diulang-ulang. Ini mengidikasikan bahwa guru tidak

sabar, otoriter, kurang percaya diri ,sangat terburu-buru dan ingin segera menyelesaikan tugas mengajarnya dengan cepat.

- Kosakata Ideologis dalam TG adalah: kalian, cepat, nanti aja, perhatikan apa itu?, kau bilang tau, kau dari dulu suaramu paling kuat, mengerti maksudnya?, ayo, namanya, kamu, woi, ayo, kita, membaca indeks itu gunanya, membantu siapa?, satu kelompok, dua puluh menit, waktu masih ada sepuluh menit lagi, sudah?, terus, makna konotasi, apa artinya?, maknanya menyempit, gila, contoh, oke iya, kau, cepat, ya.

- Kata Ideologis ini juga dipakai guru untuk memaksakan kehendaknya terhadap murid-muridnya, yang bermakna guru sangat berkuasa dan bahkan seperti mengancam murid-muridnya kalau tidak cepat menyelesaikan tugasnya.

- Kosakata Ideologis juga dipakai guru ketika bertanya dan mendesak murid. Ini mengindikasikan guru tidak sabar dan tidak punya waktu menunggu muridnya menjawab. Hal-hal tersebut di atas tentu mengakibatkan ketidak nyamanan bagi murid-murid dalam proses belajarnyakarena guru bertindak tidak tenang atau santai.

(2) Gramatika proses, kalimat aktif/pasif, modalitas yang ada dalam TG ketika mengajar di kelas.

a. Proses dalam TG

- Proses material, mental dan relasional ada dalam semua TG dengan jumlah yang berbeda-beda.

- Dua TG yang dominan menggunkan proses material, memberi informasi bahwa guru tersebut menujukkan banyak aktifitas atau tindakan yang bersifat fisik yang dilakukan guru dan muridnya.

- Dua TG dominan menggunakan proses relasional, memberi informasi bahwa guru tersebut mempunyai hubungan yang baik terhadap murid- muridnya. Guru tersebut menyadari akan adanya kehadiran muridnya ketika memproduksi teksnya.

b. Kalimat aktif/pasif dalam TG

- Kalimat aktif/pasif yang digunakan guru dalam TG sangat berbeda dalam jumlah dan kedominanannya.

- Tiga TG dominan menggunakan kalimat aktif menunjukkan bahwa guru tersebut menggunakan kalimat yang menunjukkan siapa dirinya sebagai pelaku tindakan secara jelas dan guru tersebut juga lebih banyak menonjolkan dirinya sebagai pelaku dalam melakukan tindakannya dibanding hasil dari tindakannya tersebut.

- Hanya satu TG yang dominan menggunakan kalimat pasif yang menunjukkan bahwa guru yang tidak ingin menegaskan siapa dirinya sebagai pelaku tindakannya melainkan apa hasil dari tindakannya tersebut.

c. Modalitasdalam TG

- Modalitas yang digunakan guru dalam semua TG sangat bervariasi baik dari segi jenis, jumlah dan kedominan.

- Modalitas yang ditemukan dalam TG adalah: mau, pasti/pasti akan/pastinya, mestinya, akan, biasanya, harus, mungkin, boleh, kadang kadang.

- Modalitas „harus‟ ada ditemukan di semua TG, memberi informasi bahwa

semua guru menunjukkan perannya yang sangat berkuasa /dominan.

- Diikuti oleh modalitas ‟akan‟ yang berarti adanya sikap guru yang tidak pasti atau masih ragu-ragu dalam bertindak.

- Selanjutnya modalitas pasti posisi probabilitas pada tingkat tinggi yang berarti guru mempunyai keyakinan tinggi.

(3) Struktur teks dalam TG

- Ada satu TG yang tidak menggunakan unsur pembukaan dan satu TG lainnya berkesan asal ada saja. Ini bermakna bahwa guru tersebut tidak mempersiapkan muridnya untuk belajar.

- Semua TG menggunakan unsur isi yang sangat panjang sekali, tanpa memberi kesempatan buat murid-muridnya memberi respon. Hal ini bermakna bahwa dominasi TG sangat kuat. Guru terkesan dalam keadaan terburu-buru dan tidak rileks dan mengejar sesuatu yang harus selesai dalam waktu yang sudah ditentukan, tanpa memperdulikan apakah materi yang disampaikannya sudah dimengerti muridnya.

- Unsur penutup sangat singkat sekali dan terkesan asal ada, ini terjadi karena guru menyadari waktu yang tersedia sudah tidak cukup, sementara materi belum selesai.

(4) Strategi pengembangan ideologi yang digunakan guru dalam TG adalah: a). menguatkan hal-hal negatif murid-muridnya. b). mengurangi hal-hal positif dari murid-muridnya. Ideologi yang digunakan guru dalam TG adalah pencitraan negatif terhadap murid-muridnya dan adanya ketidak setaraan relasi antar partisipan guru dan murid.

(5) Dari semua kesimpulan di atas tentang penggunanaan kosakata, gramatika dan struktur teks dalam semua TG, ditemukan wewenang, otoritas, dominasi, kekuasan guru yang sangat besar dan tidak terbatas dalam memproduksi TG nya di kelas.

6.2 Saran

Sesuai dengan simpulan di atas, saran ditentukan sebagai berikut:

1. Penelitian AWK juga bisa dilakukan dengan melihat ciri-ciri linguistik lainnya seperti nominalisasi, kalimat positif/negatif dan metafora dan lain sebagainya. 2. Bagi peneliti selanjutnya disarankan meneliti unsur bunyi dan Supra

segmental seperti unsur-unsur: Intonasi, Keras lembu, Stres dan seterusnya yang juga berperan dalam terjadinya teks guru tersebut.

3. Bidang lain seperti Semiotik visual juga bisa digunakan dalam kajian AWK. 4. Bisa juga dilakukan penelitian tentang bagaimana TG:

a. ketika berada di luar kelas, seperti di lapangan, kantor, kantin ,perpustakaan dan tempat lain yang masih dalam lingkungan sekolah. b. terhadap orang lain selain murid di lingkungan sekolah seperti, sesama

guru, kepala sekolah, pegawai administrasi, petugas perpustakaan, petugas kantin dan lain lainnya.

Dokumen terkait