BAB III GAMBARAN UMUM
A. Sistem dan Iklim Media Massa di Indonesia
Sebelum abad ke-20 media massa itu sudah ada di Indonesia yaitu berupa surat kabar dan dikelola oleh orang Belanda. Awal abad ke-20 barulah dikelola oleh orang Indonesia. Hal ini dikarenakan munculnya kesadaran untuk berjuang melawan penjajah Belanda. Media pada saat itu bersifat perjuangan. Digunakan sebagai saluran komunikasi rakyat Indonesia untuk membangun jiwa perjuangan melawan penjajah saat itu.
Bangsa Indonesia mulai berkenalan dengan dunia pers pada saat Belanda menjajah Indonesia melalui Vereebigde Oost-Indische Compagnie (VOC).
Tahun 1712 bangsa Indonesia berupaya untuk menerbitkan surat kabar di Batavia yang sekarang berubah nama menjadi Jakarta, namun pemerintah VOC melarangnya. Tahun 1744 terbit mingguan Bataviase Nouveles di Jakarta. Penerbitan ini hanya bertahan 2 tahun yaitu sampai 1746. 1
VOC takut merasa tersaingi akan keuntungan berita dagang yang diperoleh koran itu. Para direktur VOC di Negeri Belanda melarang surat kabar itu terbit. Alasannya telah menimbulkan akibat yang membahayakan di Negeri Belanda. Sistem pers saat itu sangat diawasi ketat oleh Belanda. Pengaruh kekuasaan politik begitu besar terhadap sistem pers di Indonesia pada saat itu. Hal ini sesuai dengan lahirnya pasal tentang pers dalam Regerings Reglement 1854, pemerintah Belanda diberi hak mengawasi pers.2
1
Edward C.Smith, Sejarah Pembredelan Pers di Indonesia, (Jakarta: Grafitipers,1983), h.3.
2 Ibnu Hamad, Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa: Sebuah Studi Critical Discourse Analysis terhadap Berita-Berita Politik, (Jakarta: Granit, 2004), h.60.
Pada awal abad ke-20, pers mulai digunakan sebagai alat perjuangan. Hal ini dikarenakan tumbuhnya berbagai organisasi politik seperti Boedi Oetomo, Indische Partij, Sarekat Islam, Perhimpunan Indonesia, Partai Komunis Indonesia dan Partai Nasional Indonesia. Pers menjadi wadah bagi para tokoh organisasi politik dalam menyuarakan gagasannya. Surat kabar Indonesia juga sarat akan muatan politik, ini tampak pada nama-nama yang digunakannya seperti Suara Kemerdekaan, Suara Berjuang, dan Benih Kemerdekaan. Surat kabar pada masa itu bercorak menjadi nasionalis, liberal, radikal dan komunis. Namun di lain hal ada juga yang netral, politik dan sekedar dagang.
Belanda berhasil diusir oleh Jepang, penjajahan pun masih tetap dirasakan oleh Bangsa Indonesia. Penjajahan Jepang di Indonesia terjadi selama tahun 1942-1945. Awalnya surat kabar Indonesia telah mampu berdiri sendiri, namun dengan datangnya Bangsa Jepang kemudian dipaksa bergabung. Jepang mendirikan Jawa Shinbun Kai dan cabang kantor Domei dengan menggabungkan kantor berita yang ada di Indonesia yaitu Aneta dan Antara.
Pada masa ini, terbit beberapa media harian, yaitu Asia Raya di Jakarta, Sinar Baru di Semarang, Suara Asia di Surabaya, Tjahaya di Bandung. Pada saat itu, Jepang memiliki kontrol terhadap pers Indonesia sehingga mengalami tekanan. Namun disisi lain ini ada juga keuntungan yang didapat oleh bangsa Indonesia, di antaranya: pengalaman pekerja pers mulai bertambah, pola pikir rakyat bersifat kritis terhadap berita yang disajikan oleh Jepang dan meluasnya penggunaan Bahasa Indonesia. Dari situ awal mula Bahasa Indonesia akan menjadi bahasa nasional.
Tahun 1945 Indonesia merdeka dari penjajahan bangsa asing. Sistem kehidupan pers mulai berubah. Sebelumnya sistem pers penuh tekanan pada masa penjajahan, maka setelah kemerdekaan kehidupan pers menjadi bebas dan merdeka. Hal ini didasarkan pada kebijakan pers bahwa pikiran masyarakat umum atau pendapat umum merupakan dasar pemerintahan yang berkedaulatan rakyat. Pers bebas yang mampu menyuarakan aspirasi rakyat bukan menjadi alat kelompok berkuasa. Banyak bermunculan surat kabar baru. Pers nasional menunjukkan jati diri sebagai pers perjuangan.
Namun pada masa itu, Bangsa Belanda ingin merebut kembali kemerdekaan Indonesia dengan menarik simpati rakyat Indonesia melalui pers yang dibuatnya. Bangsa Indonesia giat berjuang mempertahankan Indonesia. Dan saat itu pers terbagi menjadi dua, yaitu pers yang diterbitkan oleh sekutu Belanda yang dinamakan Pers Nica dan pers yang diterbitkan oleh rakyat Indonesia yang disebut Pers Republik. Koran harian yang diterbitkan oleh Pers Republik, antara lain: Harian Merdeka, Harian Sumber, Harian Kedaulatan Rakyat, Harian Nasional, dan Harian Pedoman. Dan koran Pers Nica yaitu Wartawan Indonesia di Jakarta, Persatuan di Bandung, Suluh Rakyat di Semarang, Pelita Rakyat di Surabaya, dan Mustika di Medan.
Dinamika pers di Indonesia pada masa itu berubah-ubah mengikuti perkembangan politik nasional. Periode 1945-1955 adalah politik transisional. Pers Indonesia berubah haluan menjadi alat perjuangan politik. Pers lebih memihak pada kelompok-kelompok politik besar. Pada masa ini disebut Orde
Lama era pers partisipan. Namun era ini tidak berlangsung lama, sejak Dekrit Preseiden 1 Juli 1959, pers Indonesia memasuki masa gelap gulita.3
Selama rezim Soeharto, pers dijalankan secara otoriter terselubung. Berita yang diterbitkan harus sesuai dengan izin pemerintah, ini sesuai dengan Surat Izin Tjetak (SIT). Isi berita yang tidak sesuai dengan politik pemerintah dibredel.
Ini sesuai dengan catatan Atmakusumah, akibat peristiwa 15 Januari 1974, mingguan Mahasiswa Indonesia di Bandung ikut dibredel oleh pemerintah bersama-sama sebelas penerbitan pers umum. Sedangkan awal tahun 1978, tujuh surat kabar harian ibu kota hampir serentak ditutup setengah bulan dan ini juga diikuti oleh tujuh penerbitan mahasiswa di berbagai kampus di Jawa dan Sumatera.4
Pers saat itu benar-benar tidak diberi ruang untuk dapat memberitakan sesuai fakta dan realita, melainkan berita yang terbit hanya seputar politik pemerintahan yang diagung-agungkan. Rasa takut juga dialami hampir seluruh pekerja pers. Ruang kebebasan berfikir dan berpendapat dibatasi seolah-olah pemerintahan saat itu takut dengan adanya pers yang merdeka.
Memasuki era reformasi merupakan titik balik ruang pers menjadi aspirasi banyak kalangan. Pembatasan akan berpendapat mulai dicabut. Siapa pun bebas mengeluarkan pendapatnya. Ini menjadi satu awalan sistem demokrasi mulai diterapkan di Indonesia. Di era ini, sistem pers Indonesia menganut sistem pers liberal Barat. Perkembangan perusahaan pers mulai banyak, ini juga diikuti dengan persaingan bebas di antara masing-masing. Perusahaan yang memiliki modal besar memiliki kekuatan yang kuat dalam mengendalikan
3 Suf Kasman, Pers dan Pencitraan Umat Muslim di Indonesia: Analisis Isi Pemberitaan Harian Kompas dan Republika, (Jakarta: Balai Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2010), h.190.
4 Atmakusumah Astraatmadja, Kebebasan Pers dan Arus Informasi di Indonesia, (Jakarta: Lembaga Studi Pembangunan, 1981), h.53-54.
pasar sehingga tumbuh menjadi besar. Dalam segi produksi berita, saat memilih topik yang akan diangkat, cara berita itu disajikan, topik yang menarik perhatian pembaca dan berbagai pertimbangan-pertimbangan yang komersil. Hal inilah yang disebut pers Indonesia sistemnya berkiblat ke Negara Barat.
Era sekarang ini, Indonesia menganut sistem pers bebas dan bertanggung jawab. Pers bertanggung jawab akan informasi yang telah diberitakan baik kepada masyarakat, pemerintah. Dengan didukung perkembangan teknologi, media-media yang sebelumnya berupa cetak mulai berinovasi ke media berbasis online. Informasi terbaru yang diterima jauh lebih cepat dibanding media cetak yang harus menunggu esok hari atau bahkan seminggu atau sebulan lagi. Di sisi lain, ini juga diikuti dengan mudahnya masyarakat memberi respon terhadap berita yang diterbitkan melalui media berbasis
online. siapa pun bebas mengeluarkan pendapatnya terhadap suatu topik.
Ruang aspirasi begitu mudah didapat di era sekarang dibandingkan dulu. Namun terkadang terlalu bebas, banyak juga yang tidak mampu mengontrol kata-kata yang disampaikannya. Masyarakat pun sudah bersifat kritis terhadap berita-berita yang disajikan. Media sebagai pers juga harus tetap pada aturan yang ada yaitu mampu bertanggung jawab terhadap pemberitaan yang disebarluaskan dan berita itu harus sesuai fakta. Dan ini lah salah satu kunci keberhasilan pers Indonesia.
B. Profil Antaranews.com