• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Drainase yang Ada 1. Sistim Drainase Keseluruhan

KONDISI SISTEM DRAINASE KOTA SAAT INI

3.2. Sistem Drainase yang Ada 1. Sistim Drainase Keseluruhan

Sungai-sungai yang ada di Balikpapan sebagian besar langsung mengalirkan air ke laut, sehingga setiap sungai merupakan satu sistem yang terpisah dari sistem sungai yang lain. Beberapa sungai kecil atau saluran ada yang langsung bermuara di laut, dan terlalu kecil untuk suatu sistem tersendiri. Hal ini menjadi pertimbangan dalam pembuatan Master Plan Drainase, dimana sebaiknya sungai-sungai tersebut tidak dibuat menjadi sistem tersendiri melainkan digabung dengan sistem sungai terdekat yang lebih besar. Sungai-sungai besar yang bermuara di laut (Selat Makasar dan Teluk Balikpapan) ada sebanyak 31 seperti tampak pada tabel 3.1 berikut ini:

Tabel 3.1 Sungai-sungai Besar di wilayah Kota Balikpapan

No Nama Sungai No Nama Sungai

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 S. Selok Api S. Teritip S. Ajiraden S. Lamaru S. Manggar Besar S. Manggar Kecil S. Batakan Besar S. Batakan Kecil S. Batakan Kecil II S. Sepinggan I S. Sepinggan II S. Sepinggan S. Bandara Sepinggan S. Klandasan Besar S. Klandasan II S. Klandasan Kecil 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 S. Puspo Yudho S. Prapatan S. Pandansari S. Kariangau 2 S. Kariangau 1 S. Somber S. Wain S. Alang S. Pada S. Berang S. Tengah S. Beranga S. Tempadung S. Beruang S. Kematis

Kondisi umum saluran/sungai yang ada di Balikpapan adalah sebagai berikut :

1. Sungai-sungai yang ada di wilayah Kota Balikpapan difungsikan sebagai pembuangan akhir sistem drainase, sebagai saluran primer atau saluran sekunder. 2. Secara umum dapat dikatakan bahwa sistem drainase kota belum memadai ditinjau

dari segi jumlah (panjang) saluran yang dibutuhkan, kapasitas saluran dan kondisi salurannya.

3. Drainase Primer adalah aliran-aliran sungai utama yang ada di Balikpapan yaitu: Sungai Pandan Sari, Klandasan Kecil, Sungai Klandasan Besar / Ampal, Sungai Sepinggan, Sungai Batakan, Sungai Manggar Kecil, Sungai Lamaru, Sungai Ajiraden, Sungai Teritip, Sungai Selok Api.

4. Drainase Sekunder adalah wadah pengaliran dari drainase tersier sebelum ke drainase Primer. Drainase sekunder tersebut dapat berupa anak-anak sungai dari drainase primer.

5. Drainase Tersier adalah drainase yang merupakan wadah pengaliran yang umumnya merupakan saluran pembuangan limbah rumah tangga yang berada di lingkungan permukiman maupun perkotaan.

6. Wilayah perumahan, perkantoran atau pertokoan belum semuanya memiliki sistem drainase tersier yang baik dan mencukupi untuk menampung dan mengalirkan limpasan hujan.

7. Pemeliharaan saluran kurang mendapat perhatian dari masyarakat sekitarnya. Hal ini terlihat dari banyaknya pasir dan sampah yang mengurangi fungsi saluran. 8. Kondisi tata ruang yang ada menunjukkan ketidakteraturan permukiman, dimana

terdapat banyak rumah atau bangunan yang dibangun tanpa ijin di dalam profil saluran/sungai. Hal ini menghambat aliran air dan mempersulit pemeliharaan saluran.

3.2.2. Sistem Drainase Klandasan Besar / Ampal

Sungai utama dari sistem drainase Ampal adalah Sungai Klandasan Besar, yang berupa alur sungai asli/saluran alam dan bermuara langsung ke laut. Kemiringan rata-rata dasar saluran di bagian hulu relatif besar (1%), sedang di bagian hilir kemiringannya cukup kecil/landai (0,15%) dan berbelok-belok. Pada bagian tengah saluran mempunyai bentuk yang tidak teratur dengan kemiringan dasar rata-rata lebih kecil daripada hulu tetapi lebih besar daripada hilir. Karena kondisi kemiringan dasar tersebut maka kecepatan dan karakteristik aliran juga berbeda, di hulu terjadi penggerusan dan di hilir terjadi sedimentasi.

Pembukaan lahan/keprasan di daerah hulu untuk berbagai kepentingan memperbesar erosi dan sedimentasi. Hal ini tampak sedimentasi baik di saluran tersier, sekunder maupun primer. Sepanjang alur sungai banyak terjadi penyempitan seperti di perpotongan alur sungai di Jl.MT.Haryono sekitar intake PDAM, sehingga terjadi hambatan aliran yang berakibat pada terjadinya banjir di daerah sekitarnya.

3.2.3. Sistem Drainase Klandasan Kecil, Klandasan II, Saluran Puspoyudho, Saluran Prapatan dan Sungai Pandan Sari

Kondisi saluran-saluran drainase pada saat ini adalah sebagai berikut :

 Sungai Klandasan Kecil, Klandasan II, Saluran Puspoyudho, Saluran Prapatan dan Pandan Sari masing-masing langsung bermuara ke laut.

 Kemiringan rata-rata dasar sungai cukup terjal, rata-rata sebesar 0.45 %

 Tata guna lahan di daerah aliran sungai-sungai tersebut sebagian besar merupakan permukiman/pertokoan padat penduduk.

 Lahan di kiri dan kanan sungai telah dipenuhi oleh bangunan.

 Penampang sungai berbelok-belok dan banyak terjadi penyempitan penampang.

 Penampang sungai/saluran telah diperkuat dengan pasangan/beton sesuai dengan penampang sungai aslinya.

 Aliran air dari saluran sekunder ke saluran primer A. Yani terhambat oleh dimensi gorong-gorong yang kecil dan tersumbat sampah / sedimen.

 Sebagian besar saluran yang berada di daerah pertokoan ditutup permukaannya secara permanen untuk keperluan jembatan/parkir sehingga sulit untuk dilakukan pembersihan.

3.2.4. Sistem Drainase Sepinggan

Kondisi saat ini sungai-sungai/saluran dalam sistem Sepinggan sebagai berikut :

 Sungai utama dari sistem Sepinggan ini adalah sungai Sepinggan yang bermuara di laut.

 Daerah hulu berbukit-bukit sedang daerah hilir datar dekat pantai.

 Pengeprasan bukit untuk pengembangan permukiman makin pesat, mengakibatkan erosi dan sedimentasi.

 Normalisasi sungai/saluran dilakukan bertahap dan sampai saat ini belum tuntas.

 Terdapat perumahan di antara bukit-bukit yang menyebabkan berkurangnya daerah resapan.

 Telah dibangun dua bendali di saluran Sepinggan Besar dan Saluran Sepinggan Baru.

 Telah dibangun bosem di dekat Pasar Butun, Sepinggan, yang dilengkapi dengan 4 pompa. 3.2.5. Sistem Drainase Manggar Besar

Kondisi saat ini :

 Sungai Manggar Besar memiliki beberapa anak sungai.

 Pada bagian hulu telah dibangun waduk Karang Joang.

 Sungai Manggar Besar adalah suatu sungai yang sangat besar, maka dalam sistem drainase

akan dianggap sebagai “badan air”, yang berfungsi sebagai outlet dari saluran drainase

primer dan beberapa saluran sekunder.

 Sebagai “badan air”, maka elevasi muka air sungai dianggap sama dengan muka air laut

yang dipengaruhi pasang surut.

3.2.6. Sistem Drainase Manggar Kecil Kondisi saat ini :

 Sungai Manggar Kecil bermuara di Selat Makasar

 Panjang sungai utama 7,26 km, dengan lebar dasar rata-rata 9,5 meter.

 Aliran sungai membawa sedimen cukup besar dan terjadi pengendapan di muara sungai.

 Saluran di Jalan Baitul Makmur mengalir ke Sungai Manggar kecil memiliki dimensi yang kurang memadai, tertimbun sampah dan alurnya berkelok-kelok yang menyebabkan terjadinya luapan air di musim hujan.

3.2.7. Sistem Drainase Teritip Kondisi saat ini :

 Sungai Teritip bermuara di Selat Makasar

 Panjang sungai utama 4,2 km, dengan lebar dasar rata-rata 9,6 meter.

 Sungai ini merupakan saluran alam yang sebagian besar belum diberi perkuatan (plengsengan).

 Tataguna lahan di daerah hulu sungai umumnya merupakan hutan, berbukit-bukit, sedangkan bagian hilir merupakan area pertambakan.

 Di bagian tengah sungai telah di bangun waduk untuk keperluan irigasi dan mengendalikan banjir.

 Ketika hujan deras waduk tidak mampu menampung air dan air meluap melalui pelimpah yang menyebabkan terjadi genangan di hilirnya.

 Sungai Teritip memiliki dimensi yang kurang memadai, tebing ditumbuhi semak dan pohon perdu dan alurnya berkelok-kelok yang menyebabkan terjadinya luapan air di musim hujan.

 Sungai Teritip juga membawa angkutan sedimen yang cukup besar. 3.2.8. Sistem Drainase Salok Api

Kondisi saat ini :

 Sungai Salok Api bermuara di Selat Makasar

 Sungai ini memiliki panjang 5,7 Km dengan lebar sungai rata-rata 5 meter.

 Sungai merupakan saluran alam, berkelok-kelok dan pada tebingnya ditumbuhi tumbuhan air dan bakau.

 Di beberapa penampang sungai mengalami penyempitan dan pendangkalan, sehingga ketika hujan turun bersamaan dengan pasang air laut akan terjadi luapan air dan penggenangan.

3.2.9. Sistem Drainase Somber Kondisi Saat ini :

 Genangan yang terjadi pada setiap musim hujan setinggi 0,20 m sampai 0,50 m, dengan lama genangan 1 sampai 2 jam (ada yang sampai 3 jam yaitu di daerah saluran sekunder Gunung Empat di Kelurahan Margo Mulyo). Pada umumnya disebabkan oleh daerah cekungan yang tidak mempunyai saluran kwarter/side drain yang mengalirkan air ke saluran tersier (Kelurahan Margo Mulyo) dan saluran yang ada tidak mampu mengalirkan debit banjir tahunan, karena penyempitan dan/atau dipenuhi sampah.

 Gorong-gorong yang ada kapasitasnya kecil sehingga tidak mampu mengalirkan debit banjir tahunan.

 Adanya pengaruh pasang air laut di Sungai Somber.

 Genangan air terjadi di perumahan Graha Indah, akibat meluapnya anak sungai Somber yang melintasi perumahan Graha Indah pada saat mengalirkan debit banjir yang bersamaan dengan terjadinya air pasang di sungai Somber.

 Genangan juga disebabkan oleh elevasi permukaan tanah di perumahan Graha Indah lebih rendah dari elevasi permukaan banjir sungai, sehingga air hujan yang jatuh di lahan permukiman tidak dapat mengalir ke sungai dan menunggu hingga permukaan air sungai surut.

3.2.10. Rumah Pompa Drainase

Bangunan rumah pompa yang sudah ada dibangun di Sungai Sepinggan dekat Bandara Udara Sepinggan. Pompa ini dipergunakan untuk memompa air dari bosem ke Sungai Sepinggan ketika tidak memungkinkan terjadinya aliran gravitasi dari bosem ke sungai. Bosem Sepinggan seluas 0,6 ha untuk menampung sementara air dari kawasan pasar Sepinggan dan sekitarnya. Pompa yang ada memiliki kapasitas 4 x 1,4 m3/dt. Bangunan bosem dan rumah pompa dibangun pada tahun 2002.

3.2.11. Tanggul laut / Kondisi pantai

Disepanjang pantai Balikpapan tidak terdapat bangunan tanggul laut. Hal ini mengingat pengaruh pada saat air pasang dan gelombang laut akibat angin tidak dominan. Bangunan pantai yang ada adalah dinding penahan gelombang dan krib-krib sejajar dan tegak lurus pantai. Di sepanjang pantai selat Makasar terdapat Jl. Mulawarman, Jl. Iswahudi dan Jl.

Sudirman. Jarak antara jalan dan pantai relatif kecil antara 50 - 200 meter. Sedang di kanan kiri jalan tersebut terdapat pertokoan, pasar dan pemukiman padat.

BAB 4