• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Sistem Kredit bank X

Hampir semua kegiatan perekonomian masyarakat membutuhkan bank dengan fasilitas kreditnya. Oleh sebab itu, saat ini proporsi pendapatan terbesar bank berasal dari pendapatan bunga kredit yang disalurkan, begitu pula dengan Bank X. Namun, dalam merealisasikan kegiatan penyaluran kreditnya ini, bank selalu dihadapkan dengan resiko kredit.

Dalam meminimalkan resiko kredit yang akan dihadapi maka dalam penyaluran kreditnya, Bank X memiliki dua sistem perhitungan nilai kelayakan debitur sebelum menerima kredit. Output dari sistem ini pula digunakan oleh komite persetujuan kredit Bank X sebagai bahan pertimbangan apakah pengajuan kredit diterima atau ditolak. Kedua sistem ini adalah Internal Credit Risk Rating (ICRR) dan Electronic Consumer

Loan System (ECLS).

ECLS pada prinsipnya hampir sama dengan sistem ICRR, perbedaannya hanya terletak pada proses pengerjaannya. Pada sistem ini segmennya bersifat produk masal (mass product) dan sifatnya konsumtif. Berbeda dengan hal tersebut ICRR memiliki segmen yang berupa kredit UKM (umumnya berupa kredit usaha / produktif).

Sistem ICRR sendiri adalah suatu sistem berbasis web yang digunakan Bank X untuk menganalisis kelayakan kredit setiap debitur berdasarkan kualitas debitur tersebut. Selain itu, ICRR berfungsi sebagai filter awal sebelum kredit diberikan kepada calon debitur. Output ICRR dengan plafon kredit dibawah Rp 500 juta digunakan sebagai analisa kredit dan pengganti proposal kredit. Plafon selain dibawah Rp.500 juta,

Output ICRR digunakan hanya untuk pendamping proposal kredit yang

dibuat secara manual.

Dengan berfungsinya ICRR (plafon dibawah Rp 500 juta) sebagai proposal kredit tersebut, maka otomatis keputusan kredit sangat tergantung

dari komponen pembangun ICRR. Hal ini juga termasuk mekanisme perhitungan untuk masing-masing parameter yang telah dirumuskan, sehingga ICRR dengan plafon dibawah Rp 500 juta ini menjadi sangat vital dalam menentukan kualitas pengembalian kredit yang akan diberikan. Parameter yang digunakan dalam perhitungan kemungkinan kelancaran kredit adalah variabel yang digunakan Bank X dalam memperhitungkan kelayakan kredit debiturnya pada sistem ICRR. Variabel ini dirumuskan oleh pakar dan Top Management Bank X berdasarkan pengembangan dari konsep 5C Weston dan Brigham dalam mengantisipasi resiko gagal bayar debitur akan kreditnya. Variabel dalam konsep 5C ini yaitu :

1. Character,

Bank X menilai perilaku calon debitur mengenai keinginan untuk membayar dan memenuhi kewajibannya. Dalam hal ini Bank X menggunakan data histories mengenai track record calon debitur,

cross checking dengan data Bank Indonesia dan pengecekan data calon

debitur dengan lingkungan sekitarnya.

2. Capacity,

Bank X menilai laporan keuangan histories dan kinerja calon debitur yang berupa performa arus kas, neraca, dan laba rugi untuk memperkiraan potensi pembayaran kewajiban debiturnya. Performa keuangan yang dapat menunjukkan kemampuan pemenuhan kewajiban ini berupa rasio lancar, rasio kas dan rasio efisiensi.

3. Capital,

Bank X memperhitungkan perbandingan antara pinjaman dan modal sendiri (ekuitas) debiturnya. Hal ini disebabkan karena apabila kredit pada debitur tersebut macet dan debitur memiliki modal dan aset sendiri yang bernilai cukup besar dibandingkan kreditnya,maka debitur tidak akan mudah meninggalkan aset atau modal sendiri tersebut.

4. Collateral,

Bank X memperhitungkan jaminan yang diberikan sebab jaminan merupakan piranti pengaman pinjaman yang terakhir. Bank X akan

42

mengeksekusi jaminan apabila debitur atau pembeli secara kredit menyatakan tidak dapat membayar dan pinjaman tidak mungkin di restrukturisasi. Dalam hal ini pula Bank X memperhatikan prinsip kehati – hatian dalam menerapkan kredit karena faktor status hukum jaminan, nilai jaminan terhadap kewajiban, kemudahan likuidasi jaminan.

4. Condition,

Bank X dalam hal ini mempertimbangkan kondisi eksternal

perusahaan debitur yang mempengaruhi kelangsungan usahanya. Kondisi perusahaan berupa kondisi makro (ekonomi, politik, selera konsumen, dan lingkungan) dan intervensi pihak berkepentingan (stakeholders).

Konsep 5C ini kemudian dikemas Bank X menjadi variabel sistem kelayakan kredit dalam program ICRR bentuk website yang hanya dapat diakses oleh para acount officernya. Output dari sistem ICRR ini berupa penilaian atas tiga aspek yaitu ikhtisar keuangan, borrower grade dan

facility grade yang kemudian digunakan Bank X sebagai pengganti

proposal kredit untuk sektor UKM (seperti yang telah dijelaskan diatas).

Output ikhtisar keuangan ini merupakan kondisi keuangan debitur yang di benchmark pada sektor usaha sejenis. Output ini kemudian digunakan

sebagai input dalam perhitungan borrower grade dan facility grade.

Tahap Pertama adalah penentuan borrower grade ( Langkah 1-4 ). Pada tahap ini dilakukan penilaian atas kelayakan pemberian kredit dan kemungkinan adanya kegagalan (default) dari debitur. Pertimbangan utama dalam melakukan analisa terhadap debitur untuk menentukan rating adalah sebagai berikut :

1. Informasi Keuangan

Beberapa rasio keuangan yang utama diperoleh dari laporan

keuangan.yang (paling tidak) berdasarkan data histories 2 atau 3 tahun sebelumnya, kecenderungan (trend) dan perubahan rasio dapat dianalisa. Selain itu, kualitas dan realibilitas (kewajaran) dari laporan keuangan harus diteliti. Hal ini penting terutama untuk kredit usaha

kecil menengah (UKM), karena umumnya kondisi finansial berkarakteristik non audited, sehingga kondisi finansial terkadang tidak wajar.

2. Aktivitas Transaksi Keuangan

Dengan tingkat kesulitan dan ketidakakuratan dari posisi finansial pada kredit UKM, maka perlu untuk menilai aktivitas rekening bank sebagai kriteria pendukung dalam melakukan evaluasi performa bisnis debitur. 3. Performa dan Kualitas Manajemen

Analisa fokus pada perkembangan usaha, pengalaman dan kompetensi manajemen serta reputasi dan pengalaman calon debitur di dalam menjalankan usahanya. Namun, harus diperhatikan bahwa faktor ini menyangkut sejumlah penilaian dan tergantung dari pengalaman seorang analis.

4. Lingkungan Bisnis secara Makro

Analisa bisnis juga memegang peranan penting dalam menentukan rating. Hal yang dianalisa dalam hal ini adalah prospek dan karakteristik bisnis dimana debitur berada, contoh : menganalisa jenis produk, karakteristik dari pelanggan dan supplier, peraturan pemerintah, dan lain-lain.

Tahap selanjutnya yaitu penentuan facility grade (Langkah 5 – 7). Secara umum hal-hal penting yang dinilai adalah sebagai berikut :

5. Fasilitas Kredit

Jatuh tempo (jangka waktu) dan tujuan (kegunaan) fasilitas kredit sangat penting untuk dipertimbangkan dalam melakukan penilaian atas suatu fasilitas. Hal ini penting karena kedua faktor tersebut digunakan dalam menghitung alokasi modal untuk resiko kredit. Dampaknya dapat mengakibatkan penurunan rating, jika risiko yang dihadapi meningkat (bertambah).

6. Kecukupan Agunan 7. Jaminan dari Pihak Ketiga

Hal terakhir yang dipertimbangkan adalah jaminan dari pihak ketiga. Hal ini dapat mempengaruhi fasility grade karena secara efektif

44

mentransfer risiko kepada pihak pemberi garansi atau sebagai alternatif, menggunakan rating dari pemberi garansi (apabila ada).

5.2. Hubungan Parameter Perkiraan Kelancaran Kredit dengan

Dokumen terkait