• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM MEDIS DI RUMAH SAKIT JIWA SUMATERA UTARA 3.1. Hasil Tabel Silang dari Penjelasan Tabel Data pasien Sakit Jiwa

Untuk Etnis Batak terdiri dari Batak Toba, Karo, Simalungun berjumlah 428 orang. Dengan penyebab gangguan diantaranya adalah persoalan ekonomi rumah tangga, orang tua meninggal, tidak diikuti kemauannya, gagal memperoleh cita-cita (seperti polisi, PNS), gangguan roh jahat. Dengan mayoritas beragama Kristen Protestan berjumlah 250 orang, 153 orang beragama Katolik, dan 75 orang beragama Islam. Mayoritas berjenis kelamin pria dengan jumlah 258 orang. Dan berjemis kelamin wanita berjumlah 170 orang.

Sedangkan untuk pasien yang ber etnis Tionghoa berjumlah 150 orang. Kebanyakan dari mereka mengalami gangguan jiwa yang disebabkan oleh usaha hancur atau bangkrut, cerai, dan luka batin//tertekan dan gangguan roh jahat. Mayorita dari etnis Tionghoa beragama Budha dengan jumlah 7 pasien. Kebanyakan dari pasien yang ber etnis Tionghoa ini adalah lak-laki dengan jumlah 12 pasien dan berjenis kelamin perempuan berjumlah 3 pasien

Kemudian untuk pasien yang ber etnis Tamil berjumlah 25 orang. Faktor penyebab mereka mengalami gangguan jiwa dikarenakan oleh gangguan roh jahat. Sedangkan mayoritas mereka adalah beragama Hindu. Sedangkan untuk mereka yang ber etnis Tamil kebanyakan berjenis kelamin laki-laki dengan jumalh 17. Sedangkan berjenis kelamin perempuan berjumlah 8 orang.

Pasien yang ber etnis Nias pada Rumah Sakit Jiwa berjumlah 13 orang. Dari mereka faktor penyebab gangguan jiwa tersebut adalah dikarenakan stress berkali-kali, pernah masuk penjara, dan gangguan roh jahat. Sedangkan untuk

etnis Nias dari mereka kebanyakan beragama Kristen dengan jumlah 8 pasien. Sedangkan sisanya dengan jumlah 5 pasien beragama Islam. Dari mereka kebanyakan berjenis kelamin laki-laki dengan jumlah 10 dan sisanya berjumlah 3 pasien berjenis kelamin perempuan.

Untuk etnis Jawa yang menjadi pasien pada Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara berjumlah 12 orang. Dan semua pasien tersebut beragama Islam. Sedangkan faktor penyebab mereka mengalami gangguan jiwa diakibatkan oleh putus pacar, tidak diikuti keinginannya, step waktu kecil. Dari mereka kebanyakan berjenis kelamin laki-laki dengan jumlah 10 dan sisanya berjumlah 2 pasien berjenis kelamin perempuan.

3.2. Proses Diagnosa Oleh Rumah sakit Jiwa Sumatera Utara

Pasien penderita sakit jiwa dapat terdaftar dengan berbagai tahap yang dilakukan pihak Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara, baik dari penjemputan maupun diantar oleh pihak keluarga.

Untuk mengetahui keadaan sehat-sakit pasien, para Staf pegawai Rumah sakit yang berada dilokasi IGD ( Instalasi Gawat Darurat) melakukan proses diagnosa. Proses diagnosa adalah proses pemeriksaan yang dilakukan terhadap penderita gangguan jiwa, sehubungan dengan gejala-gejala/penyebab yang dialami oleh si penderita. Pasien yang ingin dirawat di Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara harus lah benar-benar dinyatakan menderita penyakit gangguan jiwa baik oleh keluarganya.

Keluarga pasien memberikan segala keterangan kepada Staf rumah sakit dan menyelesaikan segala administrasi yang telah dibuat oleh Rumah Sakit Jiwa

Sumatera Utara. Bagi pasien yang pernah sebelumnya masuk ke Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara Hanya memberikan tanda Kwitansi yang pernah diterima oleh keluarga sipasien.

Proses diagnosa dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara dengan melibatkan anggota keluarga pasien selama setengah hari setelah pasien sebelumnya sudah mulai menginap di Rumah Sakit Sumatera Utara pada hari pertama. Proses untuk melihat diagnosa si peneliti melakukan dengan dua cara yaitu : berpartisipasi dan wawancara :

3.2.1 Berpartisipasi

Dokter Psikiter memberikan kesempatan kepada keluarga untuk memberikan alasan mengapa si pasien dibawa ke Rumah Sakit Jiwa tersebut, setelah keluarga si pasien selesai memberikan alasannya, Dokter menyuruh sipeneliti untuk membawa keluarga si pasien untuk menyelesaikan masalah administrasi dan mengisi pendaftaran. Setelah selesai si pasien dibawa keruangan yang sudah tersedia di IGD dan disana si pasien dibiarkan selama 1-2 hari, setelah hari ke-3 Dokter psikiater dan si peneliti mulai memberikan pendekatan terhadap sipasien. Sapaan yang pertama yang diberikan Doter adalah memperkenalkan diri dan bertanya kepada si pasien apa kemauannya saat itu. Setelah si pasien mengatakan kemauannya yaitu ingin rokok, maka Dokter menyuruh si peneliti mencari rokok saat itu. Setelah si peneliti memberikan rokok, Dokter dan si peneliti membawa si pasien keruangan pemeriksaan, guna memeriksa apa yang membuat si pasien menjadi gila dan termasuk penyakit kejiwaan apa si pasien tersebut.

Setelah selesai dari ruangan IGD sipasien dimasukkan keruangan yang telah disediakan oleh Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara. Selama si peneliti melakukan penelitian secara partisipasi, si peneliti masuk sebagai perawat yang telah menerima ijin dari Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara. Untuk melihat bagaimana sistem yang diberikan rumah sakit untuk perawatan penyembuhan terhadap rumah sakit maka si peneliti memulai aktivitas sebagai perawat selama 1 bulan penuh. Sebelum si peneliti terjun untuk melakukan aktivitas tersebut, si peneliti mempelajari bagaimana tugas perawat untuk memberikan perawatan penyembuhan terhadap pasien sakit jiwa. Dengan waktu yang tidak terlalu lama si peneliti di ajari seorang perawat yang sudah 25 tahun menggeluti pekerjaan tersebut yaitu Bapa Sungkono S.Kep. Dalam waktu 3 hari untuk belajar maka si peneliti mulai melakukan aktivitas sebagai perawat untuk pasien sakit jiwa.

Bentuk-bentuk yang dilakukan perawat untuk melihat si pasien benar- benar pasien sakit jiwa adalah sebagai berikut:

1. Mengamati pandangan mata pasien apakah terlihat kosong yaitu jika pandangan matanya tidak fokus saat melihat sesuatu hal misalnya ketika diajak berbicara oleh perawat, bola mata si pasien tidak tertuju pada lawan bicaranya. Untuk seluruh pasien yang menderita gangguan jiwa baik yang akan digolongkan kedalam jenis penyakit gangguan jiwa stress ataupun jenis penyakit gangguan jiwa saraf sama-sama memiliki ciri-ciri pandangan mata yang terlihat kosong.

2. Melihat sikap pasien

• Jika pasien selalu terlihat gelisah atau seperti orang linglung/kebingungan dan terlihat seperti sering mengkhayal setiap

saat atau lebih dari sepuluh kali dalam satu hari, maka kesimpulan sementaranya pasien akan digolongkan kedalam jenis penyakit gangguan jiwa stress.

• Jika pasien tidak selalu (pada saat-saat tertentu) terlihat gelisah atau seperti orang linglung/kebingungan dan terlihat seperti sering mengkhayal, terkadang juga bersikap normal seperti orang sehat pada umumnya dan mampu melakukan suatu tugas yang diperintahkan oleh pembina seperti disuruh mandi atau membersihkan badannya. Maka kesimpulan sementaranya pasien akan digolongkan kedalam jenis penyakit gangguan jiwa saraf. Setelah melakukan hal tersebut maka perawat melakukan konsultasi kepada Dokter spesialis jiwa untuk memberikan solusi bagaimana perawatan yang harus diberikan. Biasanya para perawat sudah memiliki buku status pasien dan buku tersebut lah yang diperiksa oleh dokter spesialis jiwa. Dokter tersebut berfungsi bagi perawatan yang memberikan Obat untuk di konsumsi para pasien sakit jiwa.

3.2.2 Wawancara

Wawancara yang dilakukan sipeneliti bisa bersamaan dengan ikut serta sebagai perawat Di dalam Rumah Sakit tersebut. Wawancara yang dilakukan si peneliti yaitu diruangan mana sipasien dimasukkan. Karena disetiap ruangan sudah tersedia juga ruangan khusus untuk kepala ruangan dan para perawat. Setelah pasien dimasukkan keruangan maka keluarga atau kerabat dekat yang membawa si pasien akan diwawancarai oleh kepala ruangan. Sipeneliti ikut serta

mendampingi kepala ruangan tetapi hanya sekedar mendengarkan apa yang diwawancarai kepala ruangan terhadap sikeluarga pasien.

Hal-hal yang akan diwawancarai yaitu alasan keluarga membawa si pasien kerumah sakit jiwa sumatera utara. dimulai dari bagaimana awalnya (sejak kapan) si penderita mulai menunjukkan gejala-gejala atau prilaku yang dirasa aneh oleh keluarganya. Kemudian perawat akan menanyakan pada keluarganya tentang bagaimana kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan si penderita saat mulai menunjukkan gejala kambuh serta frekuensinya dalam satu hari sebelum dibawa kerumah sakit jiwa sumatera utara.

Sebagai contoh nyata proses wawancara pada saat diagnosa pasien penderita gangguan jiwa, dibawah ini adalah contoh kutipan wawancara singkat antara kepala ruangan, yaitu diruangan sibual-buali salah satu ruangan dirumah sakit jiwa sumatera utara yaitu Ibu Susanti dengan keluarga salah satu pasien bernama Dahlan (nama samaran) :

"Anak saya Dahlan tidak pernah mengalami seperti ini. Dan hanya dia didalam keluarga ini yang mengalami penyakit seperti ini. Memang sejak kecil Dahlan ini memiliki sifat yang agak pendiam dan tertutup tetapi anaknya sangat rajin menolong orang tua, jujur, dan patuh tidak pernah melawan orang tua nya. Dia mulai bertingkah laku aneh sejak kalah melamar polisi. Sejak itu juga ia mengalami depresi dan akhirnya menjadi gila sampai sekarang. Dalam beberapa minggu ini Dahlan sangat sering ngomong sendiri, tiba-tiba marah sampe-sampe kamarnya hampir dbakar”

Menurut hasil kesimpulan kepala ruangan, Dahlan menderita jenis gangguan jiwa Stress, faktor yang memicunya yaitu akibat kecewa tidak tercapai apa yang menjadi impian Dahlan

Setelah selesai wawancara kepala ruangan mempertanyakan lama nya si pasien di rumah sakit dan berapa lama keluarga si pasien tersebut akan datang

menjenguk, alasannya adalah agar perawat bisa memberi ketenangan bagi si pasien kalau keluarganya tetap memperhatikan kesembuhannya, bila kapan si pasien akan bertanya.

3.3 Penyebab Penyakit Jiwa Menurut Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara. Konsep penyebab penyakit gangguan jiwa dalam setiap masyarakat berbeda-beda. Hal itu berkaitan dengan faktor tradisi atau kebudayaan masing- masing masyarakat. Bahkan para ahli jiwa sampai saat ini masih saling berdebat tentang penyebab penyakit gangguan jiwa. Karena penyebab penyakit gangguan jiwa itu sendiri sulit ditemukan .(Soewadi, 1997). Konsep penyebab penyakit gangguan jiwa Secara medis dan psikiatris terjadi secara multifaktor, yaitu akibat faktor organis (alamiah), psikis (kejiwaan) serta faktor lingkungan (sosial budaya). Ketiga faktor tersebut boleh jadi saling terkombinasi secara bersamaan sehingga menyebabkan seseorang mengalami gangguan dalam proses pikir dan emosinya (Kartono, 2002 : 31).

Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab penyakit gangguan jiwa yang terjadi pada para pasien yang di rawat di Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara, maka si peneliti melakukan wawancara dengan para perawat yang kebetulan satu ruangan dengan sipeneliti, hasil wawancara tersebut yaitu seperti dibawah ini :

“Penyebab penyakit gangguan jiwa sangat beragam, hal itu bisa kita selidiki dari masa lalu dan riwayat sakit masing-masing pasien. Walaupun kami semua para perawat Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara tidak memiliki latar belakang disiplin ilmu medis dan psikiater yang biasanya lebih mengetahui

secara pasti

penyebab penyakit gangguan jiwa. Namun, kami juga

memiliki pandangan mengenai penyebab gangguan jiwa.

Pandangan ini kami peroleh melalui pengalaman selama 19

tahun merawat dan memulihkan pasien serta melalui

pelatihan atau seminar yang pernah ikuti sejak Rumah

Sakit Ini ada

Kemudian si peneliti menanyakan lagi kepada perawat di Rumah Sakit Jiwa tentang jenis gangguan jiwa kepada kepala ruangan Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara. Menurut Ibu Santi:

berdasarkan pengalaman kami dari sekian banyak pasien

yang pernah dirawat di tempat ini, penyakit gangguan jiwa

terdiri dari dua jenis, yaitu jenis Stress dan jenis saraf. Kami

biasa menyebutnya sebagai jenis stress, apabila seorang

pasien mengalami gangguan jiwa karena pikiran dan

emosinya tertekan. faktor-faktor yang menyebabkannya

berasal dari luar diri individu si penderita. Faktor- faktor

pemicu utama yang menyebabkannya yaitu Putus pacar,

kehancuran hubungan dengan pasangan suami isteri,

Persoalan ekonomi/PHK/gagal usaha, Trauma/ luka batin/

duka masa lalu, Depresi atau frustasi, Gagal kuliah/

sekolah/cita-cita. Ciri-ciri pasien yang mengalami jenis

gangguan jiwa stress, yaitu Tingkah lakunya sering

menunjukkan raut wajah yang keheranan, Sering melamun

atau mengkhayal dan selalu terlihat linglung, Pandangan

matanya kosong, Susah menjawab pertanyaan, Terkadang

seperti anak-anak kecil, Mudah tersentak, Perasaannya

sensitive,

Suka menyendiri,

Susah untuk fokus

mendengarkan isi pembicaraan orang lain, Memiliki suatu

hal-hal yang menjadi ketakutan (phobia) tersendiri terhadap

si penderita.

pasien yang mengalami jenis gangguan jiwa stress,

biasanya frekuensi klimaks sakit (saat-saat megamuk) terjadi hampir setiap saat dalam satu hari, misalnya kalau pasien klimaks mengamuknya menangis maka pasien sehari bisa puluhan kali menunjukkan dirinya menangis setiap saat. Kami biasa menyebutnya sebagai jenis saraf, apabila seorang pasien mengalami gangguan jiwa akibat faktor yang berasal dari dalam diri si penderita. saraf diotak seseorang bisa terganggu atau rusak yang mengakibatkan gangguan pada proses pikir dan imajinasi si penderita. . Faktor- faktor yang menyebabkannya yaitu: Penyakit keturunan/alamiah/ tidak jelas penyebabnya, Yang dipercaya sebagai akibat gangguan roh-roh jahat seperti Kena guna-guna, kutukan, dosa nenek moyang, hukuman melanggar tabu/hukum adat, diganggu oleh roh-roh / sering kesurupan, Akibat terlalu banyak minum minuman keras, Sering mengalami step tinggi waktu kecil. Bedanya dengan pasien yang mengalami jenis gangguan jiwa stress, pada jenis saraf pasien biasanya tidaklah selalu menunjukkan klimaks mengamuknya, hanya terkadang biasanya 2 sampai tiga kali sehari dan selebihnya pasien akan berlaku normal seperti manusia umumnya, misalnya seorang

pasien yang menunjukkan klimaks sakitnya dengan berbicara sendiri, pasien tersebut berbicara sendiri hanya pada saat-saat tertentu dalam satu hari dan selebihnya pasien tersebut berlaku normal seperti manusia normal umumnya.

Analisa revisi

Dari hasil wawancara diatas, diketahui bahwa ada dua jenis penyakit gangguan jiwa yaitu jenis penyakit gangguan jiwa stress dan jenis penyakit gangguan jiwa saraf. Pengklasifikasian jenis penyakit tersebut adalah berdasarkan penyebab penyakit gangguan jiwa yang dialami oleh si pasien tersebut. Jenis penyakit gangguan jiwa stress terjadi akibat faktor-faktor pemicu yang berasal dari luar individu si pasien seperti akibat putus cinta/patah hati, persoalan ekonomi, trauma atau rasa sedih akan masa lalu, frustasi, tidak dituruti kemauannya dan lain sebagainya yang membuat si penderita menjadi depresi berat hingga akhirnya menderita penyakit gangguan jiwa. Sedangkan jenis penyakit gangguan jiwa saraf terjadi akibat faktor-faktor pemicu dari dalam diri si pasien yang merusak susunan sarafnya seperti akibat faktor gangguan roh-roh, step waktu kecil, penyakit turunan dan lain sebagainya.

3.4 Proses Perawatan di Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara

Setelah si pasien sudah selesai diperiksa dari ruangan IGD maka si pasien akan dimasukkan keruangan yang sudah disediakan Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara. Perawatan sampai dengan tahap penyembuhan. Semua diserahkan kepada perawat yang sudah ada di setiap ruangan. Ruangan yang terdiri atas 15 ruangan sudah ada perawat masing-masing 7 orang dan setiap ruangan juga memiliki dokter spesialis masing-masing 1 orang dokter.

Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara Mengklasifikasikan 4 metode perawatan terhadap pasien Sakit Jiwa yaitu :

3.4.1 Pemberian Obat

Obat untuk penyembuhan bagi si pasien yang menderita penyakit jiwa sebenarnya tidaklah ada pengaruhnya . Tetapi obat yang diberikan pihak Rumah Sakit adalah untuk mengontrol setiap pasien seperti: mudah emosi yang mengakibatkan si pasien mengamuk dan tidak bisa mengontrol kemarahannya.

Untuk melihat bagaimana dan apa saja pemberian obat yang dilakukan oleh para perawat rumah sakit si peneliti melakukan pendekatan kepada seorang kepala ruangan yang sudah berpengalaman untuk memberikan obat seperti apa yang biasa dikonsumsi pasien sakit jiwa di Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara. Hotmaida Simanjuntak,Skep.NS, yang menjabat sebagai kepala ruangan salah satu ruangan di Rumah Sakit tersebut memberikan keterangan kepada si peneliti apa saja obat yang diberikan kepada si pasien dan dikonsumsi si pasien, dan juga bagaimana si pasien maupun keluarga si pasien menanggapi obat tersebut.

Ada 3 macam obat yang diberikan kepada si pasien yaitu:

• CPZ adalah obat yang berfungsi untuk menurunkankan penerimaan rangsangan dari luar yang masuk ke otak. Misalnya, seorang pasien yang mengkonsumsi obat ini akan merasakan badan lemas dan tidak mau merespon suara-suara dari luar dirinya.

• HP (Haloperidal) adalah obat yang berfungsi untuk mengurangi kekakuan fisik pasien. Obat ini biasanya diberikan kepada pasien yang susah menggerakkan diantara bagian tubuhnya.

• THP adalah obat yang berfungsi untuk membuat saraf otak melemah biasanya setelah obat tersebut dikonsumsi si pasien akan cepat tertidur, dan obat inilah yang biasanya sering sekali diminta oleh si pasien yang tidak bisa tidur. Ada beberapa pasien yang telah diberikan 1 Pil obat ini sipasien juga tidak bisa tidur sehingga si pasien terkadang meminta kepada perawat untuk lebih banyak diberikan untuk diminum oleh si pasien. Ketiga jenis obat tersebutlah yang dikonsumsi oleh si pasien sakit jiwa, dari ketiga obat tersebut diberikan oleh perawat setelah selesai makan, dan diminum 2x sehari dengan ketentuan Dokter Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara.

Obat salah satu kebutuhan si pasien merupakan suatu masukan bagi Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara, sehingga Peran yang diberikan Rumah Sakit Jiwa Sumatera Utara memberikan lebih banyak lagi peran seorang Dokter yang bisa lebih peka untuk melihat hal ini.

3.4.2 Pemberian Terapi

Ada beberapa terapi yang dilakukan di Reumah Sakit Jiwa Sumatera Utara terhadap si pasien sakit jiwa yaitu :

•Terapi Elektronik

Terapi ini merupakan terapi secara elektronik yang dilakukan kepada pasien yang sudah dianggap lama tidak memberikan respon saat perawat memberikan perawatan, misalnya pada saat perawat mengajak komunikasi si pasien tidak memberikan respon sedikit pun. Terapi ini biasa disebut dengan ECT ( Electro Convulsive Theraphy ) yaitu, suatu prosedur yang menggunakan aliran listrik untuk menimbulkan bangkitan kejang umum (fisik kejang) yang berlangsung selama 25 – 150 detik.

Untuk mendapatkan informasi apa tujuan terapi ini si peneliti melakukan wawancara langsung dengan petugas yang biasa melakukan terapi ini, dari hasil wawancara si peneliti membuat suatu kesimpulan bahwa tujuan terapi ini adalah membantu rangsangan bagian otak pasien sakit jiwa, dan melancarkan respon otak si pasien. Si peneliti juga diperbolehkan ikut serta untuk melihat aktivitas pada saat terapi ini. Setelah si pasien diambil dari ruangannya akan dibawa keruangan ECT yang diikuti 6 orang staf pegawai diantara 6 orang tersebut si peneliti sudah termasuk didalamnya. Selain itu juga kursi roda juga sudah dipersiapkan untuk si pasien yang di ECT karena setelah selesai kegiatan terapi tersebut tubuh si pasien akan melemah selama 1 hari. Setelah si pasien sampai diruangan ECT perawat serta para staf akan menyuruh sipasien berbaring terlentang, setelah itu tugas 6 orang diantaranya si peneliti akan memegang tubuh si pasien dengan sekuat tenaga karena, waktu dilakukan terapi si pasien akan tersentak seperti tersentak oleh listrik. Alat terapi ECT ini akan dibuat di bagian kepala si pasien tujuannya untuk lebih cepat memberikan sentakan tersebut ke otak. Dalam waktu yang tidak lama yaitu 5 detik, setelah itu perawat langsung mencabut alat tersebut dari kepala si pasien. Pada saat alat tersebut terlepas pasien akan dilepas dan dibiarkan selama 25 – 150 detik karena selesai seperti disengat listrik sipasien tidak sadar fisik si pasien akan melemah. Setelah selesai terapi tersebut para staf pegawai akan membawa kembali si pasien keruangannya dengan menggunakan kursi roda. Selama 1 hari penuh sipasien akan dibiarkan istirahat.

• Terapi Sosial

Terapi sosial adalah terapi yang diberikan oleh pihak Ruamh Sakit Sumatera Utara untuk melihat bagaimana perkembangan dalam penyembuhan

terhadap pasien sakit jiwa. Terapi sosial ini selain melihat perkembangan terhadap penyembuhan pasien, juga dapat membantu hubungan yang baik antara si pasien dengan para staf perawat yang selalu berhati-hati setiap saat untuk melakukan pendekatan terhadap si pasien. Terapi ini merupakan obat yang dianggap lebih berpengaruh untk penyembuhan terhadap si pasien sakit jiwa, oleh karena itu dalam terapi sosial ini para perawat harus lebih memberikan perawatan yang lebih baik dengan bersungguh-sungguh memberikan terapi ini. Terapi sosial ada 5 macam yaitu :

• Terapi Bermain

Terapi bermain adalah terapi yang dilakukan pihak Rumah Sakit Sumatera Utara dengan mengajak si pasien bermain yang selayaknya dimengerti atau yang biasa dilakukan oleh manusia yang memiliki perilaku yang normal. Misalnya, perawat rumah sakit akan memberikan permainan lomba memasukkan air dari tempat yang satu ketempat yang lain, lomba membuat puisi, bermain bola basket yang telah disediakan pihak rumah sakit, dan sebagainya.

(gambar.1. Saat si pasien sakit jiwa melakukan Terapi bermain)

Tujuan dari terapi ini adalah membuat si pasien merasakan kegembiraan dan secara langsung memaksa si pasien bergembira mengeluarkan kegembiraan dan melepaskan rasa keheningan pada saat kesendirian si pasien.

Salah satu contoh saat si peneliti ikut dalam aktivitas terapi ini, si peneliti meminta izin kepada perawat untuk mengambil alih dalam terapi tersebut. Setelah si peneliti di izinkan, si peneliti membuat suatu permainan lomba melukis. Si peneliti di izinkan untuk ke esokan harinya agar bisa mempersiapkan kebutuhan untuk terapi tersebut. 14 Maret 2011, Pukul 10 Wib, si peneliti melakukan terapi

Dokumen terkait