• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Politik Pimpinan Imam (Sistem Politik Imamah)

Dalam dokumen DI ISI DENGAN COVER B/W. Pustaka Syiah (Halaman 97-103)

Teokrasi Berbasis Pengangkatan

III. Sistem Politik Pimpinan Imam (Sistem Politik Imamah)

a. Imamah sebagai Sistem Politik Ilahiah

Imamah (kepemimpinan) sebagai suatu perkara sosial107 dalam perspektif politik Islam mencakup makna yang paling umum dari sistem politik Ilahiah dan sistem politik tagut atau

“imam yang membawa manusia menuju cahaya petunjuk (imam nur)” dan “imam yang membawa manusia menuju api neraka (imam nar).” Para imam nur108 mengajak manusia menuju hidayah sesuai perintah Ilahi, sedangkan imam nar109 mengajak

105. QS. Ali Imran [3]:146.

106. Harian Keyhan, 15/9/1379 HS (6 Desember 2000 M), Pidato Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran di hadapan para pejabat tinggi negara ini.

107. Perkara sosial sebagai lawan dari kategori perkara takwini dan maknawi.

108. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan agar mereka mengerjakan

[kebajikan... (QS. al-Anbiya [21]:73

109. Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (QS. al-Qashash [28]:41)

Pustaka

Syiah

manusia menuju neraka, mengutamakan perintahnya daripada perintah dan hukum Allah, memaksakan hawa nafsunya kepada masyarakat. Sedangkan, menurut istilah yang populer di tengah masyarakat, imamah ialah sistem politik Ilahiah.

Sebagaimana kedudukan kenabian, imamah merupakan kewenangan Allah Swt. Yakni, hanya Dialah yang berhak memilih dan mengangkat seseorang sebagai imam. Karena itu, Nabi Ibrahim as—setelah melintasi maqam kenabian dan kekhalilan110 serta menjalani beberapa jenjang ujian berat—ketika akhirnya mencapai derajat imamah,111 memperoleh penegasan dan pengangkatan Allah Swt berikut: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia...” Nabi Ibrahim as memohon supaya kedudukan ini juga ditetapkan untuk anak-anak keturunannya, namun Allah Swt menjawab permohonan itu dengan ber irman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.”112

Peran imam sedemikian penting dalam sistem politik dan tatanan sosial sehingga sebutan “imam” sering dipakai dalam berbagai sistem politik, termasuk dalam tatanan sosial pimpinan Nabi Ibrahim as yang dalam al-Quran disebut sebagai “umat” atau

“millat” Ibrahim.113 Begitu pula pada pemerintahan-pemerintahan umat Islam yang lain, seperti pemerintahan khulafa’ al-rasyidin, pemerintahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, kekhalifahan

110. Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai khalil (kesayangan)-Nya. (QS. al-Nisa ([4]:125

111. Imam Muhammad Baqir as berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai hamba sebelum menjadikannya sebagai nabi, menjadikannya sebagai nabi sebelumnya menjadikannya sebagai rasul, menjadikannya sebagai rasul sebelum menjadikannya sebagai khalil, menjadikannya sebagai khalil sebelum menjadikannya sebagai imam, dan setelah Allah mengumpulkan semua ini dalam diri Ibrahim [as], Dia lantas ber irman kepadanya; ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia.’ (Ushul al-Ka i, terjemahan bahasa Persia, jil.1, hal.247. Imam Ja’far Shadiq juga berkata demikian sebagaimana dimuat dalam Ushul al-Ka i edisi bahasa Persia pada jilid dan halaman yang sama).

112. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah ber irman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah ber irman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.” (QS.

al-Baqarah [2]:124)

113. ...dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus. (QS. al-Nisa [4]:125

Pustaka

Syiah

Bani Umayah, kekhalifahan Bani Abbasiah dan kekhalifahan Dinasti Usmani.114

b. Imamah sebagai Kedudukan Pengganti Rasulullah saw

Imamah dalam pengertian yang spesi ik dan sesuai dengan keyakinan mazhab Syi’ah ialah sistem politik yang kepemimpinannya berlanjut secara berkesinambungan melalui 12 imam, dan mereka menempati kedudukan ini berdasarkan nas dari Allah Swt115 dan sabda Rasulullah saw.116

c. Karekteristik Sistem Imamah

Sistem imamah memiliki beberapa ciri khas yang akan dibahas dalam dua tema; karakteristik umum sistem imamah dan karakteristik umum para imam [as] sebagai berikut:

Karakteristik Umum Sistem Imamah

Haluan: Karakterik pertama sistem imamah ialah haluannya yang berjalan pada garis wilayah atau kepengaturan Ilahiah dan kepemimpinan Rasulullah saw. Hal ini didukung dalil-dalil al-Quran, di antaranya:

Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di

an-114. Al-Nizham al-Siyasi !i al-Islam, Ahmad Husain Ya’qub Muhami, hal.89.

115. Allah Swt ber irman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama

bagimu.” (QS. al-Maidah [5]:3]

116. Rasulullah saw bersabda:

ﻢﻫ ﻲﯩﻟو ﻦﻣ ﻦﻴﺒﻴﻄﻟا و ﺎﻴﻠﻋ نإ سﺎﻨﻟا اﺮﺷﺎﻌﻣ ....ﻲﻴﺻوو ﻲﺧا ﺐﻟﺎﻃ ﻲﺑا ﻦﺑا ﻲﻠﻋ ﻮﻫ و ﻩﻻﻮﻣ ﻲﻠﻋ اﺬﻬﻓ ﻩﻻﻮﻣ ﺖﻨﮐ ﻦﻣ .ﺮﻐﺻﻷا ﻞﻘﺜﻟا “Barangsiapa menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka [inilah] Ali adalah pemimpinnya, dialah Ali bin Abi Thalib saudaraku dan washiku....Wahai orang-orang, sesungguhnya Ali dan orang-orang baik dari keturunanku adalah pusakaku yang lebih kecil.” (Hadis Ghadir, termuat dalam al-Ihtijaj karya Thabarsi)

Rasulullah saw jugabersabda:

.ﻞﻴﺋاﺮﺳا ﻲﻨﺑ ءﺎﺒﻘﻧ ةﺪﻋ يﺪﻌﺑ ءﺎﻔﻠﺨﻟا ةﺪﻋ نأ “Sesungguhnya jumlah khalifah sepeninggalku sama dengan jumlah para pemimpin

Bani Israil.” (Kanz al-Ummal, jil.12, hadis 14971) Beliau juga bersabda:

.ﺔﻔﻴﻠﺧ ﺮﺸﻋ ﻲﻨﺛإ ﻢﻜﻴﻠﻋ نﻮﻜﻳ ﻰﺘﺣ ﺎﻤﺋﺎﻗ ﻦﻳﺪﻟا اﺬﻫ لاﺰﻳﻻ “Agama ini akan senantiasa berdiri tegak hingga datang kepada kalian dua belas orang

khalifah.” (Kanz al-Ummal, jil.12, hadis 30929)

Pustaka

Syiah

tara kamu.117

Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.118

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).119 Legitimasi: Legitimasi sistem politik imamah mengakar pada penetapan dan pengangkatan oleh Allah Swt. Dengan otoritas yang diperoleh dari Allah seorang imam berwenang mengendalikan semua urusan. Dalam pandangan Syi’ah, imam tetap memiliki legitimasi walaupun pemerintahannya tidak terealisasi. Dengan kata lain, legitimasi imam tidak bergantung pada akseptabilitas masyarakat.

Aktualisasi Imamah: Walaupun imamah adalah ketetapan dari Allah dan legitimasinya hanya bertolak dari pengangkatan oleh Allah, namun aktualisasi wilayah dan misi kepemimpinan, pengelolaan urusan masyarakat dan pembimbingan umat ke arah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, tidak akan terlaksana jika sang imam tidak didukung oleh “makmum” atau umat; sebagaimana yang telah terjadi pada hampir semua Imam Maksum as. Di antara mereka hanya satu atau dua orang yang dapat menerapkan kepemimpinan sosialnya.

Dengan demikian, imamah hanya akan eksis di gelanggang sosial apabila rakyat atau umat menerimanya, menyambut pengendalian urusan masyarakat di tangan imam dan siap berkorban dengan jiwa-raga demi terealisasinya sistem imamah.

Satu lagi karakteristik sistem imamah ialah kemampuannya beradaptasi dengan semua tingkat tawalli (kepengikutan atau penerimaan) umat. Imamah dapat menyesuaikan diri dengan

117. QS. al-Nisa [4]:59.

118. QS. al-Nisa [4]:80.

119. QS. al-Maidah [5]:55.

Pustaka

Syiah

seberapa pun tingkat kepatuhan dan kebermakmuman umat. Hal ini pada dasarnya bukan ciri khas sistem imamah semata, melainkan merupakan sunah Allah yang berlaku pada setiap masyarakat dan sistem. Al-Quran menegaskan bahwa yang dapat mengubah nasib suatu kaum hanyalah kaum itu sendiri:

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri.120

Rasulullah saw bersabda:

ﻢﻜﻴﻠﻋ ﻰﱠﻟﻮُﻳ نﻮﻧﻮﻜﺗ ﺎﻤﻛ

“Kepemimpinan atas kalian akan berjalan sebagaimana ad-anya kalian.”121

Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan: “Ketika hamba-hamba-Ku secara sadar tidak menaati perintah-Ku maka orang yang tidak mengenal-Ku akan berkuasa atas mereka.”122

Dengan demikian, dalam sistem imamah, seorang imam akan memimpin masyarakat sejauh tingkat kehendak sosial mereka.

Karakteristik Imam

Imam sebagai pusat dan pelaku utama pembinaan dan penanganan masyarakat menuju kebahagian dan proses kesempurnaan diri memiliki karakteristik khusus yang mendudukkannya sebagai pemimpin dan panutan masyarakat.

Beberapa karakteristik utama sosok imam ialah sebagai berikut:

1. Maksum dan adil. Kemaksuman atau keterpeliharaan dari dosa adalah salah satu karakteristik seorang imam.

120. QS. al-Ra’d [13]:11.

121. Kanz al-Ummal, hadis 14979.

122. Man La Yahdhuruh al-Faqih, juz 3, hal.279.

Pustaka

Syiah

Tentang ini Imam Ali bin Abi Thalib as menjelaskan:

ﻰﻄﺨﻳﻻو ،ﺎﻴﺘﻔﻟا ﻲﻓ لﺰﻳ ﻻ ،ﺎﻫﺮﻴﺒﻛ و ﺎﻫﺮﻴﻐﺻ ﺎﻬﻠﻛ بﻮﻧﺬﻟا ﻦﻣ مﻮﺼﻌﻣ ﻪﻧا ﻢﻠﻌﻳ نا ﺎﻬﻨﻣ .ﺎﻴﻧﺪﻟا ﺮﻣا ﻦﻣ ءﻲﺸﺑ ﻮﻬﻠﻳ ﻻ و ،ﻰﺴﻨﻳ ﻻ و ﻰﻬﺴﻳ ﻻ و ،باﻮﺠﻟا ﻲﻓ

“Salah satu tanda imam ialah diketahui bahwa di terjaga dari semua dosa kecil dan besar, tidak tergelincir pada kekeliruan dalam berfatwa, tidak salah dalam menjawab, tidak lupa dan tidak menyibukkan diri dengan urusan duniawi (yang membuatnya lupa kepada Allah dan tugasnya(.”123

Keadilan terkadang juga dipakai dengan arti kemaksuman, karena adil berarti menempatkan semua urusan pada tempatnya yang hakiki. Imam Ali as berkata:

ﺎﻬﻌﺿاﻮﻣ رﻮﻣﻷا ﻊﻀﻳ لﺪﻌﻟا

“Adil ialah penempatan perkara pada tempatnya.”

Ketika kita mengatakan “imam adil” maksudnya ialah segala perbuatan yang ia lakukan adalah sesuatu yang identik dengan kebenaran dan merupakan tindakan yang terbaik.

2. Alim (berpengetahuan). Tingginya kualitas keilmuan juga merupakan salah satu karakteristik igur imam. Tak hanya dari segi imamah takwiniah di mana seorang imam pasti memiliki pengetahuan terhadap hakikat alam semesta, dalam konteks syariat dan pengelolaan masyarakat pun seorang imam pasti memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang hukum-hukum Allah dan pengelolaan masyarakat secara benar menuju kemaslahatan hakiki. Tingkat keilmuan imam sedemikian tinggi hingga mencapai jenjang; pertama, kemaksuman dari salah dan keliru di level keilmuan dan pengetahuan; kedua, keunggulan di atas

123. Bihar al-Anwar, juz 25, hal.164.

Pustaka

Syiah

semua orang [dalam amal] pada zamannya. Dalam lanjutan penjelasan tentang sosok imam, Amirul Mukminin Ali as mengatakan:

ﻊﻴﻤﺟ و ﻪﻴﻬﻧ و ﻩﺮﻣأ و ﻪﻣﺎﻜﺣأ بوﺮﺿ و ﻪﻣاﺮﺣ و ﷲا لﻼﺤﺑ سﺎﻨﻟا ﻢﻠﻋأ نﻮﻜﻳ نأ ﯽﻧﺎﺜﻟاو .ﻢﻬﻨﻋ ﻲﻨﻐﺘﺴﻳ و ﻪﻴﻟا سﺎﻨﻟا جﺎﺘﺤﻴﻓ سﺎﻨﻟا ﻪﻴﻟا جﺎﺘﺤﻳ ﺎﻣ

“....yang kedua, dia harus merupakan orang yang paling mengetahui halal dan haram yang ditetapkan Allah serta jenis-jenis hukum-Nya, perintah dan larangan-Nya serta segala yang dibutuhkan manusia sehingga semua orang butuh kepadanya, sedangkan dia tidak butuh kepada mereka.”124

3. Berkemampuan: Untuk dapat berperan sebagai juru petunjuk bagi masyarakat, selain harus memiliki ilmu yang mumpuni dan maksum [dalam ilmu dan amal], seorang imam juga harus memiliki kemampuan mengelola pemerintahan. Lebih dari itu, dia bahkan harus merupakan sosok yang paling berkompeten di bidang ini. Dalam lanjutan pernyataan di atas Imam Ali as menyebut superioritas sosok imam ini dengan ungkapan “ asyja’un nas” atau “ asykhan nas” yang berarti orang yang paling layak dan cakap dalam mengelola urusan publik dan pemerintahan.

IV. Sistem Politik Pimpinan Wali Fakih (Sistem

Dalam dokumen DI ISI DENGAN COVER B/W. Pustaka Syiah (Halaman 97-103)