Pustaka
Syiah
Pustaka
Syiah
DI ISI DENGAN COVER B/W
Pustaka
Syiah
Sistem Politik Islam : Sebuah Penghantar / Ali Asgar Nusrati ; penerjemah, Musa Mouzawir ;
penyunting, Rudy Mulyono. -- Jakarta : Nur Al- Huda, 2014.
464 hlm. ; 23,5 cm.
Judul asli : Nizame Siyasi-e Islam ISBN 978-602-306-008-5
1. Islam dan politik. I. Judul. II. Musa Mouzawir. III. Rudy Mulyono.
297.62
Sistem Politik Islam: Sebuah Pengantar
Diterjemahkan dari buku Nizame Siyasi- e Islam karya Ali Asgar Nusrati, terbitan Entesharat-e Imam Asr, Qom Iran awal musim panas 1382 HS (2003 M).
Penerjemah : Musa Mouzawir Penyunting : Rudy Mulyono Pembaca Pruf : Musa Shahab Hak terjemahan dilindungi undang-undang All right reserved
Dilarang memperbanyak tanpa seizin penerbit Cetakan I , Januari 2015/ Rabiul Awal 1436 H Diterbitkan oleh : Nur Al-Huda Jl. Buncit Raya Kav.35 Pejaten
Jakarta 12510
Telp.021-799 6767 Fax.021-799 6777
e-mail : [email protected] Facebook :Nur Al-Huda
Tata Letak : MIZA Desain Sampul : Eja Assegaf
ISBN : 978-602-306-008-5
Pustaka
Syiah
Daftar Isi
Mukadimah 13
Pengantar Penulis 15
Bagian Pertama 21
Pandangan Umum dan Konsepsi 21
Bab Satu 23
Literasi dan Konsepsi 23
I.Pengertian Politik 23
Pengertian Etimologis 23
Pengertian Terminologis 24
Definisi Umum Politik 27
Definisi Khusus Politik 29
Definisi Politik dalam Pandangan Pakar Politik 30
Ilmu yang Mempelajari Pemerintahan dan Lembaga Lembaga Politik 36
Ilmu yang Mempelajari Kekuasaan 37
Ilmu yang Mempelajari Fenomena Politik 37
II. Kaitan Ilmu Politik dengan Disiplin Ilmu Lain 38
Fikih dan Ilmu Politik 41
Sejarah dan Ilmu Politik 44
Moral dan Ilmu Politik 45
Sosiologi dan Ilmu Politik 47
Antropologi dan Ilmu Politik 48
Psikologi Sosial dan Ilmu Politik 49
Ilmu Ekonomi dan Ilmu Politik 50
Statistik dan Ilmu Politik 51
III.Pengertian Sistem Politik 52
Definisi dan Karakteristik 52
Beberapa Istilah yang Serumpun dengan “Sistem Politik” 55
Bahan Latihan 65
Bab Dua 69
Aneka Ragam Sistem Politik 69
Pendahuluan 69
I.Sistem Politik Non-Teokrasi 70
Sistem Politik Kekuasaan Individu 71
Sistem Politik Kekuasaan Kelompok 74
Sistem Politik Kekuasaan Publik (Demokrasi) 80
Pustaka
Syiah
a.Plus-Minus Demokrasi 85
b.Konsekuensi Demokrasi 86
II.Sistem Politik Teokrasi 89
Teokrasi Berbasis Pengangkatan 90
III.Sistem Politik Pimpinan Imam (Sistem Politik Imamah) 97
a. Imamah sebagai Sistem Politik Ilahiah 97
b. Imamah sebagai Kedudukan Pengganti Rasulullah saw 99
c. Karekteristik Sistem Imamah 99
IV.Sistem Politik Pimpinan Wali Fakih (Sistem Politik Wilayah al-Faqih) 103
a. Sistem Pengangkatan 103
b. Karakteristik Sistem Wilayah al-Faqih 105
c. Karakteristik Wali Fakih 106
Teokrasi Tidak Berbasis Pengangkatan 107
V.Sistem Politik Pimpinan Khalifah (Sistem Kekhalifahan) 108
a. Syarat Penentuan Khalifah 109
b. Syarat Pemakzulan Khalifah 109
VI.Sistem Politik Pimpinan Raja (Sistem Kerajaan/Kesultanan) 111
Kesimpulan 114
Bahan Latihan 115
Bahan Kajian 116
Bab Tiga 119
Dasar-Dasar Sistem Politik 119
I.Dasar-Dasar Sistem Politik dalam Ideologi Ketuhanan 120
Tinjauan Ontologis Ideologi Ketuhanan 120
a) Memahami jalan hidup yang benar bergantung pada keimanan kepada wahyu. 122
b) Rasa tenteram dan bahagia bergantung pada keimanan kepada Allah dan kepatuhan kepada wahyu. 123
c) Kepatuhan kepada wahyu menertibkan perilaku individual dan sosial. 124
Tinjauan Antropologis Ideologi Ketuhanan 127
a) Mekanisme Pembangunan Manusia 129
b) Tujuan Pembangunan Manusia 130
c) Wahana Pembangunan 130
Pustaka
Syiah
II.Dasar-Dasar Sistem Politik dalam Ideologi
Materialisme 138
Tinjauan Ontologis Ideologi Materialisme 140
Tinjauan Antropologis Ideologi Materialisme 148
Tinjauan Sosiologis Ideologi Materialisme 153
Kesimpulan 158
Bahan Latihan 160
Bahan Kajian 161
Bagian Kedua 163
Sistem Politik Islam 163
Bab Satu 165
Urgensi Pendirian Sistem Politik Islam 165
I.Urgensi Pemerintahan167 Pemerintahan sebagai Kunci Ketertiban dan Kelangsungan Kehidupan Sosial 167
Pemerintahan sebagai Kunci Pembangunan 182
II.Urgensi Pemerintahan Islam 184
Menolak Pemerintahan Agamawi Berarti Menerima Pemerintahan Non-Agamawi 184
Peran Kunci Pemerintahan Agamawi untuk Penegakan Agama 188
Riwayat Hidup Para Pemuka Agama 194
Kesimpulan 200
Bahan Latihan 202
Bahan Kajian 203
Bab Dua 205
Tujuan dan Prinsip Sistem Politik Islam 205
I.Tujuan Sistem Politik Islam205 Tujuan Pokok Sistem Politik Islam 205
Tujuan Cabang Sistem Politik Islam 207
II.Prinsip-Prinsip Sistem Politik Islam 215
Kesimpulan 227
Bahan Latihan 228
Bahan Kajian 229
Bab Tiga 231
Pustaka
Syiah
Tergalangnya Dukungan Masyarakat 235
Pendirian Komunitas Sosial Terpadu di Madinah 235
Penetapan Masjid Sebagai Pusat Kegiatan Sosial Umat Islam 238
Pemberantasan Diskiriminasi 238
Penerapan Tatanan Islam 239
Pengindahan Karakteristik Pemimpin yang Agamawi 240
Upaya Menyebarluaskan Islam 244
Penyiapan Pengganti 249
II.Sistem Kekhalifahan 250
Kekhalifahan Abu Bakar 251
Kekhalifahan Umar bin Khaththab 253
Kekhalifahan Usman bin Affan 255
Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib 258
Kekhalifahan Hasan bin Ali Mujtaba 259
Kekhalifahan Bani Umayah 261
Kekhalifahan Bani Abbasiyah 264
Sisa-Sisa Kekhalifahan 267
III.Sistem Imamah 267
Era Kehadiran268 Pemerintahan yang Dijanjikan (Sistem Politik Islam Yang Paripurna di Era Kemunculan Imam Mahdi as) 278
Kesimpulan 280
Bahan Latihan 282
Bahan Kajian 284
Bagian Ketiga 285
Sistem Wilayah al-Faqih 285
Bab Satu 287
Kedudukan Wilayah al-Faqih 287
I.Pengertian Wilayah al-Faqih 287
Apakah Arti Wilayah al-Faqih ? 287
Pengertian Fakih 290
II.Latar Belakang Sejarah Diskursus Wilayah al-Faqih 292
III.Dalil-Dalil Wilayah al-Faqih 297
Dalil-Dalil Rasional 299
Pustaka
Syiah
Dalil-Dalil Tekstual 303
IV.Teori-Teori Tandingan Untuk Wilayah al-Faqih 313
Supervisi Fakih 313
Bolehnya Kewenangan Umum Para Fakih 320
Wikalah Fakih 324
Wikalah Orang Bijak 325
Kesimpulan 331
Bahan Latihan 333
Bahan Kajian 334
Bab Dua 335
Landasan Wilayah al-Faqih 335
I.Arti Masyru’iyah 335
II.Komponen Kekuasaan Wilayah al-Faqih 337
Masyru’iyah 337
Akseptabilitas 340
III.Teori Pemilu dan Masalah Masyru’iyah 341
Dalil-Dalil Teori Pemilu 341
Tanggapan atas Teori Pemilu 343
Kesimpulan 351
Bahan Latihan 353
Bahan Kajian 353
Bab Tiga 355
Syarat-Syarat Kepemimpinan 355
I.Berpengetahuan 355
Kecakapan dalam Istinbat Hukum Allah 356
Wahyu Ilahi Sebagai Pedoman Utama Para Fakih 357
Pengetahuan terhadap Urusan Budaya, Politik dan Sosial 363
Pengetahuan Manajemen Masyarakat 365
II.Berlaku Adil 365
Berkompeten 368
Kesehatan Jasmani 369
Keberanian 370
Pengelolaan 372
Kesimpulan 373
Bahan Latihan 374
Bahan Kajian 375
Pustaka
Syiah
I.Identifikasi Wali Fakih 378
II.Masa Bakti Pemimpin 384
Kesimpulan 387
Bahan Latihan 388
Bahan Kajian 389
Bab Lima 391
Kewenangan Wali Fakih 391
I.Tugas-Tugas Pemimpin 391
Tugas di Kancah Global 392
Tugas di Kancah Internal 396
Kewajiban Pemimpin terhadap Warga Negara 399
Keselarasan Antara Kewenangan dan Tugas 402
Hakikat Kewenangan Mutlak 404
Kemutlakan Wilayah dari Aspek Ruang 404
Kemutlakan Wilayah dari Aspek Waktu 405
Kemutlakan Wilayah dari Aspek Isu 406
Kemutlakan Keberlakuan Instruksi 408
Antara Kewenangan Mutlak dan Batasan 409
Batasan 409
Kendala-Kendala 409
Kewenangan Mutlak yang Berorientasikan Ketentuan 411
a) Ikrar Hati 412
b) Ikrar Pemikiran 412
c) Ikrar Perbuatan 412
d) Maslahat Pembangunan 413
Tanggapan Atas Isu Diktatorisme 414
Sumber-sumber Diktatorisme 414
Faktor-Faktor Pencegah Diktatorisme 417
Kesimpulan 420
Bahan Latihan 422
Bahan Kajian 423
Bab Enam 425
Metode Pengelolaan Sistem Politik Islam (Realisasi Wilayah al-Faqih) 425
Pendahuluan 425
Pustaka
Syiah
Tanggapan atas Berbagai Pandangan yang Ada 429
a. Mengenai Wacana Islam versus Modenitas 431
b. Mengenai Wacana Keharusan Merumuskan Metode Pengelolaan yang Agamawi 432
Penentuan Tujuan dan Cita-Cita 433
Keputusan Politik dan Kebijakan Publik 434
Kriteria dan Indikator Pembangunan 435
Kesimpulan 436
Bahan Latihan 437
Bahan Kajian 438
Daftar Referensi 439
a. Buku 439
b. Jurnal/Koran/Artikel 451
INDEKS 453
Pustaka
Syiah
Pustaka
Syiah
mukadimah
S
ejak dahulu, para ahli agama kerap menyampaikan tentang pentingnya mengetahui kaidah berpikir dan tatanan intelektual yang baik dan benar dalam disiplin ilmu humaniora. Syahid Mudarris (Sayid Hasan Modarres, 1870-1937), seorang ulama pejuang terkemuka, memberikan ungkapan sangat menarik seperti ini: “Politik kami adalah keberagamaan kami, dan keberagamaan kami adalah politik.”Kalimat ini kemudian menjadi slogan cemerlang yang menginspirasi banyak orang di era setelahnya, serta menjadi bukti akan kepedulian sekolah-sekolah agama (hauzah ilmiyah) terhadap permasalahan kemanusiaan, kebudayaan, sosial dan politik.
Di antara berbagai tatanan politik yang ada, tatanan politik Islam dapat disebut sebagai sebuah tatanan terstruktur dan sekaligus memiliki sebuah tatanan intelektual khas. Artinya, tatanan Islam secara jelas memiliki kaidah dan aturan pemikiran tertentu;
bahwa sebelum muncul dalam format tatanan sosial dan, ia sudah melintasi tahapan-tahapan premis, dan berlanjut pada tahap-tahap keorganisasian dengan seluruh komponen yang berfungsi sinergis.
Atas dasar itu, hauzah ilmiyah yang juga berhadapan dengan berbagai isu strategis dan makro, serta senantiasa eksis di berbagai kancah sosial dan politik, tentu perlu mengenalkan cara pandangnya seiring dinamika sosio-politik dan perkembangan masyarakat yang terjadi.
Buku ini adalah hasil dari sebuah upaya profesional di Dewan Perencanaan Hauzah Ilmiah, yang sekaligus menjadi bukti intensitas
Pustaka
Syiah
kegiatan seksi-seksi riset dan penelitian yang ada di dalamnya. Dan, penyusunan buku ini diserahkan kepada Ali Asgar Nusrati, dan ia pun lantas menempuh tahap-tahap penyusunan melalui kerjasama dengan sekelompok pakar.
Kami dari Deputi Penelitian Hauzah Ilmiah menyatakan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat; terutama dalam penindaklanjutan, penelitian dan pengawasan dari pihak Kantor Bidang Penyusunan Naskah dan Sumber Pendidikan dan Kantor Layanan Penelitian, atas jerih payah mereka dalam semua tahapan penyusunan karya ini.
Hormat kami,
Deputi Penelitian Hauzah Ilmiah Musim Panas 1382 HS/2003 Masehi
Pustaka
Syiah
pengantar penulis
I
slam adalah sebuah agama dan ideologi yang kemunculannya mampu menggeser semua ideologi yang ada di tengah umat manusia. Di pentas sejarah, Islam memancar sebagai agama yang diturunkan pada era akhir zaman guna mengatasi aneka rupa problem manusia.Yakni, sebagai agama yang menawarkan jalan kebahagiaan bagi individu dan masyarakat yang pengaruhnya menerobos kehidupan duniawi fana, menebar aroma kebahagiaan kekal akhirat.
Kita juga layak mengingat bahwa meskipun sudah lebih tiga dekade kubu tagut, muna•ik dan jahil berusaha gencar mendepak Islam dari gelanggang politik, namun kita justru melihat ajaran ini tetap eksis dan aktif dalam skala yang masif di bidang pengelolaan masyarakat. Revolusi Islam yang berhasil menggulingkan dan meluluh-lantakkan sistem despotik kerajaan di Iran—yang tonggaknya ditetapkan pada 11 Februari 1979—telah membuahkan sebuah negara [Republik Islam]
yang menghadirkan konsep dan praktik politik Wilayah al-Faqih untuk melegakan dahaga dunia terhadap keadilan, kemanusiaan dan spiritualitas dengan logika yang •itri dan norma-norma yang agung. Karena itu, menjelaskan sistem politik Islam merupakan sebuah keharusan sosial.
Revolusi Islam Iran kini menjadi tantangan serius bagi semua sistem politik yang diklaim dapat menjamin kebahagiaan,
Pustaka
Syiah
ketenteraman dan kesejahteraan manusia, khususnya sistem demokrasi liberal Barat. Jika diperhadapkan dengan tantangan zaman kini penerapan sistem demokrasi liberal Barat itu justru
“membuahkan” kebuntuan teori dan fungsi. Revolusi Islam didirikan berdasarkan ide bahwa Islam memiliki teori tersendiri untuk mengelola tatanan sosial dan politik. Meminjam statemen Imam Khomeini , •ikih adalah teori yang realistis dan sempurna untuk mengelola manusia dan masyarakat dari sejak dalam buaian ibu hingga liang lahat.1
Di era ketika sosialisme dan komunisme menabrak jalan buntu setelah eksis selama 70 tahun dan tidak sedikit komunitas masyarakat kecele dan akhirnya mengabaikan kehidupan politik, lalu Barat pun gencar menjajakan demokrasi liberalnya sebagai satu-satunya resep untuk menjamin kebahagiaan dan kesejahteraan manusia, dan menebar klaim bahwa dengan ideologi itulah sejarah akan menapak tahap kesempurnaan.
Karena itu, sudah sewajarnya jika penjelasan tentang teori sistem politik Islam secara argumentatif ditawarkan kepada setiap khalayak pendamba keadilan dan kebenaran; yang semua ini menjadi salah satu tugas para pembela Islam dan revolusi Islam.
Kesempatan yang tersedia sekarang bagi umat Islam, khususnya kalangan pakar sosial-politik Islam dan mereka yang mengklaim bahwa sistem politik Islam bersifat langgeng, benar- benar merupakan kesempatan emas. Pemanfaatan kesempatan ini secara benar dan tepat waktu tak pelak dapat menempatkan Islam sebagai paham politik terdepan dan bisa menjadi satu- satunya model yang mampu merespons kebutuhan materi dan spiritual umat. Karena itu, penyusunan teori dan konsep sistem politik Islam secara sahih dan rasional dari satu sisi, dan pemaparan pengalamannya secara kongkret di gelanggang sosial negara-negara penganut sistem ini dari sisi lain, tentu dapat
1. Shahifeh-e Nour, jil.21, hal.98.
Pustaka
Syiah
mengenalkan sistem politik Islam sebagai model yang ideal dan sejalan dengan harapan manusia guna beranjak dari kekacauan yang mendera mereka.
Buku bertema “Sistem Politik Islam” ini hadir menyuguhkan serangkaian kajian politik yang difokuskan pada masalah pengelolaan masyarakat dan disusun sebagai sebuah buku pelajaran dan analisis yang memadai untuk menjawab berbagai sorotan kritis terhadap sistem politik Islam dan Wilayah al- Faqih.
Buku ini disusun menjadi tiga bagian sebagai berikut;
Pertama, mengetengahkan Gambaran Umum dan Konsepsi, yang disajikan dalam tiga bab; Literasi dan Konsepsi, Jenis-Jenis Sistem Politik, dan Dasar-Dasar Sistem Politik.
Kedua, menyajikan tiga bab yang mengupas sistem politik Islam dari aspek urgensi pendirian, tujuan, prinsip, serta sejarah perkembangan sistem politik Islam.
Ketiga, membahas dan menganalisis secara detail sistem politik Wilayah al-Faqih sebagai manifestasi pemerintahan Islam. Bagian ini tersaji dalam enam bab: Kedudukan Wilayah al-Faqih (mengacu pada urgensi dan argumentasi), Landasan (legitimasi dan ekseptabilitas), Syarat-Syarat Pemimpin, Penentuan Pemimpin, Kewenangan Pemimpin, dan Metode Pengelolaan Sistem Politik Islam.
Sedangkan karakteristik kandungan buku ini dapat disimpulkan dalam beberapa poin berikut:
Mengingat bahwa setiap disiplin ilmu yang ada dalam tatanan pemikiran dan budaya masyarakat menghasilkan de inisi-de inisi tertentu dan Islam pun memiliki sistem
Pustaka
Syiah
pemikiran, keyakinan dan kebudayaannya sendiri, maka dalam memasuki kajian sistem politik, buku ini tidak sebatas mencermati dan mengkritisi berbagai de•inisi yang sudah populer, tetapi juga memberikan de•inisi- de•inisi yang lebih relevan dengan sistem pemikiran Islam untuk berbagai terminologi dan konsepsi yang ada.
Dalam menjelaskan dan mengupas berbagai sistem politik yang ada, secara normatif buku ini memandang semua sistem itu dalam dikotomi agamis dan non-agamis;
kemudian menjelaskan kedudukan sistem-sistem politik yang agamis dan Islami serta keanekaragaman dan karakteristik masing-masing. Kemudian, dalam bab tersendiri, dikupas pula secara detail dasar-dasar sistem politik agamis dan non-agamis dalam dimensi-dimensi antologis, antropologis dan sosiologis.
Dalam menjelaskan urgensi pendirian dan kedudukan sistem politik Islam, sambil memanfaatkan teks-teks keagamaan serta bukti-bukti rasional, dengan serius buku ini mengarahkan argumentasi—bukan hanya untuk memperkuat keyakinan kepada prinsip otoritas agama melainkan juga—untuk menjawab berbagai sorotan kritis terhadap pemerintahan agamis dan otoritas Ilahiah.
Mengenai tujuan dan prinsip pemerintahan Islam, buku ini pertama menjelaskan prinsip-prinsip operasionalnya, kemudian memaparkan tujuan sistem pemerintahan Islam serta harapan dan batasan tuntutan timbal balik antara masyarakat dan pemerintahan.
Buku ini menggambarkan sejarah perkembangan sistem politik Islam, liku-liku jalan yang ditempuh Islam di gelanggang politik hingga kemudian sekarang muncul kompetitornya yang sedemikian masif dan arogan dalam menebar klaim sebagai ideologi politik universal di tengah umat manusia.
Dalam pembahasan mengenai Wilayah al-Faqih, sistem politik Islam diperkenalkan sebagai sebuah sistem yang
Pustaka
Syiah
berorientasi pada otoritas Ilahi. Dengan memaparkan dasar-dasar ligitimasi, buku ini memberikan penjelasan de•initif tentang syarat-syarat dan metode penentuan kepemimpinan, bahan pertimbangan dan pola penerapan otoritas pemimpin sebagai arus kehendak politik pemimpin masyarakat, mekanisme pengarahan dan kepemimpinan publik serta kerjasama struktural antara rakyat dan pemimpin dalam upaya meraih tujuan. Semua ini akan dijelaskan sebagai manifestasi kerakyatan berbasis agama.
Mengenai metode pengelolaan sistem politik Islam disinggung pula tema bahwa karakteristik penting pengelolaan sistem ini di tengah masyarakat ialah misinya, guna membawa manusia menuju kesempurnaan diri [dan masyarakat]nya. Pada aspek ini, pengelolaan dan kepemimpinan masyarakat dalam sistem politik Islam memiliki dua keistimewaan dibanding sistem- sistem politik lain, sebagai berikut;
Pertama, program untuk mencapai kebahagiaan dan kesempurnaan diserap dari agama. Semua urusan dan peraturan didasarkan pada wahyu dalam semua dimensi kehidupan individual dan sosial.
Kedua, menempatkan pemimpin (rahbar) di pucuk pi- ramida kekuasaan untuk menuntun manusia dan ma- syarakat menuju kemajuan dan kesempurnaan.
Tak lupa kami sampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Deputi Riset Pusat Administrasi Hauzah Ilmiah Bagian Perempuan yang telah mengajukan permohonan untuk penyusunan buku ini. Begitu pula, kepada semua pakar dan peneliti yang ikut berkontribusi dalam penyusunan buku ini, termasuk beberapa Hujjatul Islam dan saudara-saudara kami yang mulia: Muhammad Naja•i, Ismail Parvar, Muhammad Salimi dan Reza Haji Ahmad yang telah membantu dalam penelitian
Pustaka
Syiah
dan penyusunan materi buku ini, serta kepada semua rekan yang terlibat dalam penyuntingan.
Tentu saja, kami juga berterima kasih kepada Lembaga Riset dan Kebudayaan atas besarnya perhatian dan jerih payah semua pimpinan dan stafnya yang bekerja untuk urusan penting ini.
Dari Allah-lah segala tau•ik berasal, dan hanya kepada Dia- lah kita semua bertawakal.
Ali Asgar Nusrati
Pustaka
Syiah
Ba i!" P$%!m&
pandangan umum dan konsepsi
ݲ B
AB1 : L
ITERASIDANK
ONSEPSIݲ BAB 2 : ANEKA RAGAM SISTEM POLITIK
ݲ BAB 3 : DASAR-DASAR SISTEM POLITIK
Pustaka
Syiah
Pustaka
Syiah
B'( Sa)*
literasi dan konsepsi
L
iterasi dan Konsepsi membahas istilah-istilah kunci yang dipakai untuk menjelaskan suatu tema yang menjadi infrastruktur sebuah konstruksi pemikiran tertentu. Adapun infrastruktur untuk pengertian (konsepsi) sistem politik ialah sebagai berikut;I. Pengertian Politik Pengertian Etimologis
Politik dalam bahasa Arab disebut “siyasat” ( ) yaitu kosakata yang berasal dari kata “saasa”-“yasuusu” ( ) . Dalam kamus Bahasa Persia, “siyasat” berarti: Kekuasaan atas rakyat; pengelolaan urusan negara; penyelenggaraan pemerintahan; penerapan kepemimpinan; kekuasaan; kepemimpinan; pengaturan urusan publik sesuai kepentingan mereka; penegakan keadilan; keberhukuman, ganjaran dan sanksi, penjagaan teritori; penjagaan dan pengawalan;
perintah dan larangan; pengeloaan urusan dalam dan luar negeri.2 Padanan untuk kata siyasat dalam bahasa Inggris ialah “policy”
yang berasal dari kata “polis” dalam bahasa Yunani. Kata ini dan turunannya dalam bahasa Persia diterjemahkan sebagai berikut:
a. Policy, yaitu kebijakan ( khat masyi), keberpikiran dalam penanganan urusan ( raviyeh), kebersiasatan
2. Farhangge Farsi Mouin dan Lughatnameh Dakhuda.
Pustaka
Syiah
( siyasatmadari), maslahat, kecakapan ( kardani), pengaturan ( tadbir) dan kelihaian ( zeraki).
b. Politic, yaitu kepintaran (zeraki), pengetahuan akan maslahat ( maslahatdan), keberaturan ( ba tadbir), kebermaslahatan ( maqrun beh shalah), tuntutan ( muqtaza), ketepatan ( maqrun beh shavab), rasionalitas ( aqilaneh), dan kebersiasatan ( siyasatmadaraneh).
c. Polity, yaitu pola pemerintahan, masyarakat, bangsa dan negara.3
Kamus-kamus bahasa Arab juga memberikan berbagai macam arti untuk kata “siyasat”, di antaranya ialah; melakukan sesuatu sesuai kemaslahatan; pekerjaan “sais”, yang membina hewan-hewan4; perbaikan makhluk dengan cara membimbing mereka menuju keselamatan dalam waktu dekat dan/atau untuk hari kemudian; kecakapan memerintah dan mengelola urusan dalam dan luar negeri.5
Pengertian Terminologis
Pertama yang patut diingat, bahwa definisi adalah sesuatu yang muncul dari persepsi orang dalam melihat fenomena dan perkara tertentu serta mengikuti perasaan dan pengetahuan yang mendefinisikan; sehingga untuk satu hal terkadang memiliki beberapa definisi yang berbeda sesuai perbedaan persepsi dan cara pandang. Perbedaan seperti ini memiliki skala yang lebih luas dalam urusan dan fenomena sosial.
Dengan kata lain, konstruksi pengetahuan manusia tidak bisa lepas dari konstruksi perasaan dan perilakunya. Tiga konstruksi ini—pengetahuan, perasaan dan perilaku—
terikat erat dan berharmonisasi dalam proses perubahan
3 Farhangge Buzurgh Inggris-Farsi, Hateem.
4. Al-Munjid.
5. Lisan al-Arab.
Pustaka
Syiah
dan penyempurnaan. Karena itu, kaitan pengetahuan dan pemikiran manusia dengan dunia luar tidaklah terbentuk tanpa ada perantara berupa perasaan dan perbuataannya.
Akibat keterkaitan ini muncullah konsepsi dan pengetahuan- pengetahuan baru yang dipengaruhi oleh hasrat, optimisme ataupun pesimisme, dan pada tahap yang lebih lemah juga dipengaruhi oleh perbuatannya.6
Di bidang sosial juga terlihat jelas keterpengaruhan persepsi dan pemahaman orang oleh faktor keyakinan dan kepercayaannya. Tidaklah banyak ilmuwan dan peneliti yang dapat meluangkan waktu untuk melakukan riset dan inovasi ilmiah dalam suasana yang benar-benar bebas dari faktor kondisi sosial. Arus kebutuhan dan motivasi-motivasi sosial menjadi faktor yang determinan bagi cakrawala masa depan ilmu pengetahuan dan riset. Apa yang selama ini dicitrakan bahwa faktor yang memotori kegiatan riset dan penelitian—
termasuk di pusat-pusat kegiatan ini—yang semata-mata demi ilmu pengetahuan, kecintaan kepada ilmu pengetahuan atau “ilmu untuk ilmu”, lebih merupakan slogan belaka.
Di era modern, lembaga-lembaga riset didirikan oleh karena keberadaannya dibutuhkan untuk membantu merealisasikan visi dan misi kebudayaan, politik dan ekonomi dari sebuah tatanan masyarakat serta mengemban tugas mengatasi aneka problem masyarakat—dan kemudian turut memberikan sumbangsih dalam penataan suatu pertumbuhan dan gerak sosial.
Karena itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan riset—
dari mulai pengasasan prinsip dan asumsi dasar hingga pemilihan metode yang tepat, produksi dan bahkan volume
6. Rasulullah saw bersabda:
.ﻢﺼﻳ و ﻲﻤﻌﻳ ءﻲﺸﻠﻟ ﻚﺒﺣ “Kecintaanmu kepada sesuatu membutakan dan menulikan.” Yakni, kecintaanmu kepada sesuatu akan membuatmu tidak dapat melihat dan mendengar cacat dan aib
yang ada padanya.
Pustaka
Syiah
produksi dan penjajakan relasi-relasi baru—merupakan proses yang dipengaruhi oleh kecenderungan komunal dan mengikuti tujuan-tujuan yang sudah dicanangkan. Sedangkan kriteria dasar untuk menjaring hasrat dan kecenderungan komunal umumnya tidaklah lepas dari satu di antara dua faktor, [yakni] pemujaan Tuhan dan pemujaan dunia atau kenikmatan materi. Hanya saja, pada sebagian komunitas masyarakat kecenderungan kolektif itu tidaklah mengacu pada satu faktor secara mutlak, melainkan terkomposisi dari dua faktor tersebut.
Kesimpulannya, berbagai istilah, konsepsi dan definisi merupakan sesuatu yang lahir beralaskan motivasi dan tujuan, sehingga muncul dalam berbagai bentuk. Dengan berlandaskan motivasi dan tujuan yang bisa beragam tersebut maka nyaris tidak mungkin kita dapat menemukan bangunan kalimat atau definisi yang sama persis, khususnya dalam disiplin ilmu-ilmu humaniora, terlebih lagi pada tema- tema dan istilah-istilah yang bersifat global dan mencakup [berbagai hal]. Sebab, masing-masing orang lebih cenderung menjelaskan objek sesuai paradigma dan seleranya sendiri.
Atas dasar itu, konsepsi dan definisi yang populer—
kendatipun mengandung perbedaan dan bahkan kontradiksi satu sama lain—sengaja tetap dipaparkan dalam buku ini semata-mata hanya untuk diketahui, walaupun kemudian akan dijelaskan pula definisi yang menjadi pilihan dan relevan dengan alur pemikiran yang dominan dalam buku ini.7 Hal yang sama juga berlaku pada definisi yang komprehensif untuk kata “politik”. Dengan demikian, hal yang diupayakan di sini ialah pemaparan dua pengertian tentang politik secara
7. Mengingat bahwa buku ini disusun sebagai buku pegangan bagi pelajar maka pemutusan secara tegas mengenai benar dan tidaknya de inisi-de inisi yang ada sedapat mungkin dihindari supaya; pertama, tidak dinilai sebagai pandangan sepihak dan bentuk diktatorisme keilmuan; kedua, para pelajar bisa terjauhkan dari perasaan tidak memerlukan guru; dan ketiga, demi meningkatkan spirit penelitian dan aktivitas ilmiah kolektif mereka.
Pustaka
Syiah
“global” dan “spesifik” berdasarkan aspek-spek persamaan yang terlihat dalam de•inisi-de•inisi yang ada.
Definisi Umum Politik
Politik dalam pengertian global ialah: Pengelolaan dan kepemimpinan secara konseptual dan aktual pada serangkaian urusan komunikasi, kebudayaan dan ekonomi dalam rangka menggapai tujuan-tujuan yang dapat merealisasikaan pembangunan sosial.
Dengan de•inisi ini, beberapa unsur yang terkandung di dalamnya dapat disebutkan sebagai berikut:
1. Secara prinsip, politik mengacu pada masalah pengelolaan dan kepemimpinan yang meniscayakan pengaturan dan implementasi kehendak dan kekuasaan dalam penataan urusan-urusan masyarakat (umat). Pada konteks ini kepemimpinan dalam setiap urusan tentu menjalani tiga tahap; pertama, tahap penetapan prinsip-prinsip yang harus diberlakukan dan tidak boleh dilanggar;
kedua, tahap perencanaan berdasar prinsip-prinsip yang ditetapkan itu; dan ketiga, tahap implementasi rencana- rencana yang sudah dicanangkan. Pada tahap pertama, semua garis besar gerakan pemerintahan akan tersketsa pada ideologi yang dianut dan terjelaskan oleh perwakilan dan para eksponennya, dan tahap inilah yang menentukan hubungan mental dan kecenderungan kita, sedangkan tahap kedua dan ketiga membangun kepemimpinan secara teori dan praktik. Dengan cara pandang ini dan dalam pengertiannya yang global maka de•inisi itu meliputi tiga tahap tersebut.
2. Urusan masyarakat terbagi menjadi tiga kategori besar, yaitu komunikasi, kebudayaan dan ekonomi. Politik dalam
Pustaka
Syiah
pengertiannya yang umum mengatur semua urusan itu.
3. Suatu masyarakat yang diasumsikan sebagai sebuah sistem memiliki suatu tujuan komprehensif dan •inal yang merupakan hasil komposisi berbagai tujuan seluruh elemen—dari komunitas kecil dan besar—yang tergabung dalam masyarakat itu.
4. Setiap masyarakat memiliki kesadaran untuk meraih perkembangan dan perbaikan kualitas, di mana politik diasumsikan akan menghasilkan perkembangan yang lebih baik dan menunjang perbaikan kualitas masyarakat.
Hanya saja, perkembangan pada berbagai masyarakat dengan kebudayaan yang berbeda tentu memiliki berbagai pengertian yang berbeda pula.
Imam Khomeini ra—yang merupakan •igur konkret politik Islam—dalam mende•inisikan politik juga mengemukakan poin-poin ini, meski dengan ungkapan yang berbeda. Beliau menyebutkan, “Politik ialah pembinaan dan penuntunan masyarakat, kepedulian kepada semua kepentingan masyarakat, perhatian kepada semua dimensi manusia dan masyarakat. Politik membimbing masyarakat kepada arah yang mendatangkan maslahat bagi mereka, kebaikan bagi bangsa mereka, dan kebaikan bagi individu-individu yang ada, dan ini adalah kewenangan khusus para nabi, orang lain tidak dapat menanganinya, ini hanya khusus para nabi dan wali.”8
Keistimewaan de•inisi yang disuguhkan oleh Imam Khomeini ialah daya cakupnya yang menjangkau semua dimensi kepribadian manusia; yang meliputi ruh, pikiran dan perbuatan, serta semua aspek kemasyarakatan; yang meliputi kebudayaan, politik dan ekonomi. Politik, di mata Sayid Ruhullah Musawi, bermuara pada pengarahan menuju maslahat individu dan
8. Shahifeh-e Nour, Ruhullah Musawi Khomeini, jil.13, hal.218.
Pustaka
Syiah
masyarakat. Dengan kaca mata demikian maka yang berwenang menuntun manusia secara individu dan sosial adalah para nabi, para wali dan alim-ulama, karena merekalah yang terhubung dengan sumber pengetahuan Ilahiah sehingga mengetahui maslahat manusia secara individual dan sosial.
Imam Khomeini juga menyebutkan tentang tiga kategori untuk politik, yaitu “ politik syaitani” dan “ politik hewani” yang berlawanan dengan “politik Islami”. Dengan kategori itu, de•inisi politik yang dimaksud tentu saja mengacu pada politik Islami, yang dalam pandangannya adalah sesuatu yang identik dengan keberagamaan.9
Definisi Khusus Politik
Politik dalam pengertiannya yang spesi•ik ialah: Pengelolaan dan kepemimpinan secara konseptual dan aktual pada serangkaian urusan komunikasi guna meraih tujuan-tujuan yang dapat mewujudkan kemajuan sosial.
Politik dalam pengertian ini umumnya digunakan ketika politik dipandang sebagai unsur substansial dalam pengertiannya yang global serta diposisikan sejajar dengan dua unsur substansial lainnya, yaitu kebudayaan dan ekonomi.
Dengan demikian, politik dalam pengertiannya yang spesi•ik mencakup hal-hal yang lebih berfungsi sebagai kunci komunikasi dan mekanisme yang mensinergikan berbagai urusan yang ada.
Politik dalam konteks ini termanifestasi dalam hal-hal seperti wacana-wacana politik, undang-undang dan peraturan, institusi dan organisasi.
Dengan pengertian demikian, pada setiap masyarakat terdapat sarana yang membuat proses perbaikan, pertumbuhan dan
9. Lihat, Shahifeh-e Nour, jil.13, hal.217, 218.
Pustaka
Syiah
perkembangan diartikan dalam bentuk aktivitas perekonomian.
Begitu pula, terdapat paradigma yang membuat pembenahan, perkembangan dan pembangunan diartikan dalam bentuk paket kebudayaan. Dan, pada akhirnya, terdapat pula komunikasi dan koneksi-koneksi yang mendorong terjadinya penyelarasan fasilitas dan sarana yang tersedia dengan paradigma serta harmonisasi semua itu pada satu arah. Lalu, proses pembenahan dan perkembangannya disebut sebagai “politik”.
Sesuai de•inisi politik tersebut—baik yang global maupun yang spesi•ik—setiap masyarakat dan sistem politik memiliki suatu kekuatan yang terkait satu sama lain; daya insani berupa budaya dan intelektualitas, dan daya •isik berupa fasilitas.
Terkomposisinya semua daya itu menghasilkan kemampuan masyarakat menggalang kerjasama (komunikasi). Dengan demikian, ketika politik dikemukakan dalam formatnya yang mutlak, misalnya ketika dikaitkan dengan keberagamaan, maka yang lebih diperhatikan adalah maknanya yang umum dan komprehensif itu. Seperti dalam perkataan Imam Khomeini ra, berkaitan dengan keberagamaan dan politik, “Pekerjaan para nabi adalah politik, keberagamaan adalah politik sehingga dari situlah agama menggerakkan masyarakat dan menuntun masyarakat kepada segala sesuatu yang mendatangkan maslahat bagi mereka. Kehadiran Rasulullah saw dan para Imam as adalah manifestasi keberagamaan dan politik. Dalam memberi petunjuk, menjelaskan syariat dan hukum-hukumnya, mereka memberikan perhatian kepada persoalan politik dan isu-isu kemasyarakatan, serta memandang politik sebagai bagian dari misi keagamaan mereka.”10
Definisi Politik dalam Pandangan Pakar Politik
Selain dua de•inisi yang telah disebutkan, juga terdapat beberapa de•inisi lain yang dikemukakan para pakar politik.
10. Shahifeh-e Nour, jil.13, hal.218.
Pustaka
Syiah
Beberapa de•inisi mereka itu secara garis besar dapat kita simpulkan dalam kategori sebagai berikut:
1. Politik diartikan sebagai kepemimpinan dan pengaturan dalam semua atau sebagian urusan masyarakat. Plato, misalnya, memandang politik sebagai pengelolaan masyarakat yang besar, negara, bangsa dan pemerintahan, untuk mewujudkan apa yang terbaik bagi seluruh warga.11 Dia menyebutkan, “Kewajiban pemimpin ialah membina masyarakat dengan keluhuran, serta tugas khusus dan penting pemerintah adalah pendidikan.”12 Raymond Aron dari Perancis merumuskan politik sebagai pengambilan keputusan dalam penanganan masalah-masalah pelik.13 Abu Nasr Farabi menyebutkan bahwa politik (siyasat) adalah hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin serta layanan pemerintahan dengan baik. Menurut Farabi, pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang mampu menanamkan karakter yang dapat membuahkan kebahagiaan sejati bagi rakyatnya. 14 Dia menyebut pemerintahan demikian sebagai lawan dari kekuasaan atau pemerintahan jahiliah. Imam Ghazali mende•inisikan politik sebagai tindakan untuk memperbaiki masyarakat dan memberi petunjuk kepada mereka tentang jalan yang benar dan dapat menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat.15 Sementara Kawakibi mengartikan politik sebagai cara pengelolaan masyarakat secara rasional dan bijaksana.16
Politik dalam de•inisi-de•inisi ini pada intinya adalah pengelolaan dan pengaturan berbagai urusan. Dalam
11. Mabani-e Siyasat, Abdul Hamid Abul Hamd, hal.33.
12. Tarikh-e Falsafeh-e Gharb, Abdurrahman Alem, jil.1, hal.98.
13. Farhangge Ulum-e Siyasi, Ali Babai, Gholamreza, Aghai, Bahman, hal.394.
14. Ihsha’ al-Ulum, Abu Nasr Muhammad Farabi, terjemahan bahasa Persia oleh Husain Khadyu Jam, hal.108.
15. Ihya’ Ulumuddin, Abu Hamid Ghazali, terjemahan bahasa Persia oleh Moayeduddin Mohammad Kharazmi, jil.1, hal.55.
16. Tabi’at-e Estebdad, Sayid Abdurrahman Kawakibi, terjemahan Abdul Hossein Mirzai Qajar, dikomentari dan ditashih oleh Mohammad Javad Sahebi, hal.27.
Pustaka
Syiah
perspektif Plato, lingkungan utama politik ialah masyarakat.
Kebermasyarakatan adalah sesuatu yang penting bagi setiap individu, nilai individu diukur melalui intensitas hubungannya dengan pemerintah, kebebasan individu diabaikan demi ketangguhan dan keamanan masyarakat, keberuntungan dan keluhuran adalah tujuan politik masyarakat yang mesti diajarkan oleh pemerintah, dan, keadilan dapat ditegakkan melalui pendidikan. Menurut Plato, keadilan adalah terwujudnya masyarakat yang setiap individunya berada pada kedudukan yang disukainya serta dapat melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kedudukan berdasar apa yang diinginkan dan diajarkan itu.17
Dalam de inisi Raymond Aron, pengambilan keputusan merupakan unsur dasar politik, mengacu pada penyelesaian urusan masyarakat dan penentuan kebijakan oleh pemerintah dalam berbagai persoalan makro. Carut marut yang terjadi dalam politik menandakan luasnya skala persoalan yang sebanding dengan otoritas dan supremasi pemerintah. Proses pengambilan keputusan meliputi skala kegiatan yang luas mulai dari penetapan keputusan, implementasi kehendak dalam penentuan tema hingga penentuan tujuan, pengaturan struktur, penetapan garis kebijakan, dan pelaksanaan program. Namun, dalam perspektif ini secara umum politik menjadi lebih bersifat pasif dan berkenaan dengan aspek penerapan. Sehingga, jika dalam skala kegiatan kita mempertimbangkan perencanaan keputusan, pengambilan keputusan dan penerapan keputusan maka perencanaan keputusan akan keluar dari lingkup politik.
Sedangkan dalam de inisi yang diajukan oleh para ilmuwan Islam seperti al-Farabi dan Ghazali, unsur tujuan dan peran kepemimpinan terlihat sangat menonjol, walaupun skala de inisi terbatas dan hanya meliputi hal-hal yang menurut mereka merupakan jalan keselamatan dan keberuntungan.
Dalam de inisi politik yang disebutkan Kawakibi terdapat penekanan pada dua unsur. Pada de inisi pertama dia menempatkan politik pada kategori cara, sehingga politik menjadi terbatas hanya pada tahap proyeksi dan pola pengaturan, dan
17. Lihat, Tarikh-e Falasafeh-e Gharb, jil.1, Bab 4.
Pustaka
Syiah
tidak menyentuh tahap implementasi. Pada de•inisi kedua dia menekankan aspek rasionalitas.
Meskipun sama sekali tidak ada kontradiksi antara rasionalitas dan syariat, juga pada hakikatnya akal sehat harus ditelusuri dengan mengikuti jejak para nabi dan syariat mereka, namun Kawakibi memberikan penekanan pada pengelolaan secara rasional dan berdasar kearifan masyarakat; dan ini merupakan upaya dia untuk memisahkan pemerintahan dan politik dari wilayah manajerial agama dan hukum ilahi.
2. Politik diartikan sebagai kekuasaan. Bertrand Russel, •ilsuf Perancis, dalam bukunya berjudul Power, hingga batas tertentu memandang politik identik dengan kekuasaan. Hanya saja, kekuasaan ini dalam kacamata Russel terde•inisikan sebagai faktor penghasil pengaruh-pengaruh yang dikehendaki.18 Bertrand de Jouvenel, Guru Besar Sosiologi Universitas Paris, dalam de•inisi yang lebih transparan berpendapat bahwa politik adalah penelisikan dan pengetahuan tentang akar segala bentuk penerapan kekuasaan dan pengaruh. Dalam de•inisi ini, kekuasaan ditimbang dari segi artinya secara umum sebagaimana terlihat dari penjelasannya tentang kekuasaan: “Orang yang memaksa orang lain melakukan suatu perbuatan atau mencegahnya melakukan perbuatan itu maka dia telah menerapkan kekuasaan.”19
Max Weber berpendapat bahwa politik adalah upaya untuk terlibat dalam kekuasaan atau upaya untuk memengaruhi proses penjatahan kekuasaan antarnegara maupun antarkelompok dalam sebuah negara.20 Kendati semua de•insi itu menerjemahkan politik sebagai kekuasaan, namun satu sama lain berbeda dalam memandang kekuasaan dari aspek permukaan. Russel menilai segala bentuk penerapan kekuasaan oleh seseorang untuk merealisasikan kehendaknya sebagai kekuasaan, baik itu berkenaan dengan manusia maupun benda-benda lain, termasuk alam. De Jouvenel memandang wilayah penerapan kekuasaan itu
18. Lihat, Power karya Bertrand Russell, edisi bahasa Persia terjemahan Najaf Daryabandari, hal.217.
19. Mabani-e Siyasat, Abdul Hamid Abul Hamd, hal.27.
20. Ali Akbar Amini, Jurnal Ettela’at-e Siyasi Eqteshadi, No.11, hal.29.
Pustaka
Syiah
hanya sebatas hubungan sesama manusia, sedangkan Max Weber membatasi kekuasaan pada hubungan internal dan eksternal negara sehingga politik diartikannya sebagai kekuasaan yang diterapkan pada hubungan antarnegara ataupun hubungan antarkelompok dalam suatu negara.
Alhasil, semua penjelasan tentang politik pada kategori ini hanyalah menerangkan suatu bagian dari apa yang terkandung dalam makna politik, sedangkan bagian substansialnya, yang mengacu pada pembimbingan dan arah, justru terabaikan.
3. Politik dimasukkan dalam kategori ilmu dan pengetahuan.
R.M MacIver dalam bukunya, Politik and Society, memberikan penjelasan bercorak teka-teki; “Politik adalah ilmu yang mengajarkan kepada kita tentang siapa yang membawa, apa yang dibawa, di bawa ke mana, bagaimana dan mengapa dia membawa?”21 Abdul Hamid Abul Hamd, Guru Besar Ilmu Politik Universitas Tehran menuliskan; “Politik adalah ilmu yang membahas semua bentuk hubungan kekuasaan pada berbagai waktu dan tempat serta memperlihatkan arah dan cara penerapan kekuasaan.”22 Dengan penjelasan yang berbeda, Ali Syari’ati menyebutkan, “Politik ialah kesadaran yang terjadi dengan sendirinya pada manusia terhadap lingkungan, masyarakat, nasib dan kehidupan kolektifnya dan suatu masyarakat di mana ia tinggal dan bergantung padanya.”23
Ibnu Sina, ilsuf tersohor muslim asal Iran mengatakan,
“Politik adalah salah satu bagian dari ‘hikmat amali’, dan itu ialah ilmu tentang maslahat komunitas manusia yang berkumpul di dalam suatu kota dan negara berdasar prinsip gotong royong, pelestarian entitas dan penggalangan kesejahteraan para anggota.
Politik terbagi menjadi dua; satu berkaitan dengan kekuasaan dan kerajaan dan ini disebut ilmu politik, dan yang lain berkaitan
21. Politic and Society, R.M. MacIver, terjemahan bahasa Persia (Jameeh wa Hukumat) oleh Ibrahim Ali Kani, hal.29.
22. Mabani-e Siyasat, Abdul Hamid Abul Hamd, hal.29.
23. Tarikh-e Adyan, Ali Syariati, terbitan Entesharat-e Anjuman-e Islami Daneshjuyan Daneshgah Sanaati, 1348 HS (Hijriah Syamsiah), hal.11.
Pustaka
Syiah
dengan syariat samawi, hukum ilahi, ajaran para nabi dan wali, dan ini disebut ilmu kebijaksanaan (hikmat).”24
Di samping de inisi-de inisi itu memandang politik hanya dari aspek pengetahuan, MacIver memandang kepentingan sebagai poros politik, padahal pelayanan, pengorbanan dan pembinaan juga merupakan aspek yang ada pada politik dan tak dapat dipungkiri. Penjelasan yang diajukan Abul Hamd meskipun memiliki banyak kelebihan de inisi politik yang sahih namun masih tergolong mengglobalisasikannya pada hubungan insani dan non-insani. Begitu pula de inisi yang dikemukakan Ali Syariati; dia menarik politik ke semua ranah sosiologi sehingga menyamarkan perbedaan politik dengan disiplin-disiplin sosiologi. Selain itu, ungkapan “kesadaran yang terjadi dengan sendirinya” mengisyaratkan adanya paradigma personal dan egosentris manusia. Sedangkan Ibnu Sina walaupun secara garis besar memandang politik sebagai ilmu tentang kemaslahatan namun di tahap kategorisasi dia memandang politik sebagai pengelolaan pemerintahan dan kerajaan.
4. Politik diterjemahkan sebagai konsep komprehensif, yang mencakup semua kebutuhan hidup bersosial. Tentang ini Robert Dahl menyatakan, “Politik adalah salah satu realitas yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Dalam setiap saat manusia pasti berurusan dengan sebentuk persoalan politik.”25 Onsor Maali Qayqavus ibn Qaboos Voshmgir dalam Qabus Nameh menyebutkan bahwa politik adalah semua tugas yang ada di pundak raja. Dia juga menyebutkan bahwa tugas terpenting raja ialah memerintah. Menurutnya, unsur dasar politik ialah memerintah dengan menggunakan cara paksa dan unjuk kekuasaan. 26
Sebagaimana terlihat di atas, pendapat para ilmuwan dan
24. Qanun, Ibnu Sina, jil.2, hal.194.
25. Modern Political Analysis, Robert Dahl, edisi bahasa Persia (Tajziyeh wa Tahlil-e Jadid-e Seyasat), terj., Zafariyan, hal.1
26. Dalam ia menuliskan; “Raja yang tidak memerintah bukanlah raja. Sebagaimana ia berbeda dengan orang lain, dalam memerintah itu ia harus berbeda karena sistem raja-diraja memang sudah seharusnya memerintah, dan memerintah ini tidak lain adalah politik. Dengan demikian, ia tidak boleh kendur dalam berpolitik supaya semua urusan dan pekerjaan berjalan lancar tanpa ada kekurangan.” ( Qabus Nameh, ditashih
oleh Gholam Hossein Yousou i, hal.232)
Pustaka
Syiah
pakar politik dalam mende•inisikan politik ternyata memang mengandung konotasi yang cukup jauh berbeda satu sama lain. Karena itu, pemilihan de•inisi politik yang lebih relevan dalam penjelasan dan analisis sistem politik Islam bukan saja tidak bermasalah, melainkan justru merupakan keharusan.
Pengertian Ilmu Politik
De•inisi ilmu politik bersangkut paut langsung dengan de•inisi politik. Sebagaimana politik, ilmu politik juga dide•inisikan dalam dua arti; global dan spesi•ik. Secara global, ilmu politik dide•inisikan sebagai: ilmu tentang pengelolaan dan penanganan serangkaian urusan komunikasi, kebudayaan dan ekonomi masyarakat untuk merealisasikan tujuan tertentu dan menunjang pembangunan secara maksimal. Dengan pengertian itu ilmu politik meliputi seluruh pengetahuan yang berkaitan dengan pengelolaan berbagai urusan masyarakat. Sedangkan secara spesi•ik, de•inisi ilmu politik ialah ilmu tentang pengelolaan dan pengaturan serangkaian urusan masyarakat untuk pengembangan komunikasi dan pembenahan hubungan di dalamnya. Dalam de•inisi khusus ini lingkup ilmu politik jauh lebih terbatas, dan objeknya pun menjadi lebih jelas daripada de•inisi global.
Sebagaimana perbedaan ideologi, pandangan dan tujuan yang memicu perbedaan dalam pende•inisian dan penafsiran atas kata politik, hal yang sama juga terjadi dalam pembahasan Ilmu Politik sehingga ditemukan berbagai persepsi dan pendapat; di antaranya ialah sebagai berikut:
Ilmu yang Mempelajari Pemerintahan dan Lembaga- Lembaga Politik
Dalam buku Ashna’i ba Elm-e Siyasat (Pengantar Ilmu Politik) disebutkan; “Ilmu politik dapat dide•inisikan sebagai ilmu yang mempelajari pemerintahan atau sebagai suatu bagian dari
Pustaka
Syiah
sosilogi yang berkenaan dengan teori, organisasi-organisasi dan perilaku pemerintahan. Secara lebih luas lagi, perilaku berbagai kelompok dan organisasi yang sedikit banyak terpisah dari pemerintah namun juga bertujuan meraih kekuasaan politik dan mengembangkan pengaruhnya di ranah politik nasional.
Arti kepemimpinan publik juga dapat ditambahkan pada de•inisi tersebut.”27
Ilmu yang Mempelajari Kekuasaan
Para pemikir seperti Harold Lasswell, Charles Merriam, Max Weber, Bertrand Russel, Watkins dan Hans Morgenthau berpendapat bahwa kekuasaan merupakan makna yang paling pokok bagi kata politik, dan kekuasaanlah yang menautkan semua cabang ilmu politik satu sama lain.28 Dengan demikian, mengenai dasar, prinsip dan pengaruhnya, politik dan ilmu politik berurusan dengan kekuasaan di tengah masyarakat. Kemudian, karena kekuasaan merupakan faktor terpenting dalam teori dan praktik politik maka tugas utama ilmu politik ialah mempelajari kekuasaan. Lasswell dalam mengartikan ilmu politik menyebutkan, “Ilmu politik sebagai suatu sistem eksperimental adalah ilmu yang mempelajari proses terbentuknya kekuasaan dan keterlibatan di dalamnya, sedangkan praktik politik ialah praktik yang dilakukan berdasarkan kekuasaan.”29
Ilmu yang Mempelajari Fenomena Politik
Sebagian orang meyakini bahwa Aristoteles sebagai peletak dasar ilmu politik, dan dialah yang menyusun metode khusus, membuatkan klasi•ikasi dan istilah-istilah khusus untuk disiplin ilmu ini karena dialah orang pertama yang menghimpun banyak realitas dan persoalan politik. Karena itu, buku Politics karya
27. Introduction to Political Science, Carlton Clymer Rodee, Totton James Anderson dan Carl Quimby Christol edisi bahasa Persia (Ashnai ba Elm-e Siyasat), terjemahan
Behram Malakouti, hal.10.
28. Boneyadha-e Elm-e Siyasat, Abdurrahman Alem hal.28.
29. Lihat, Modern Political Analysis, Robert Dahl, edisi bahasa Persia terjemahan Zafariyan, hal.1
Pustaka
Syiah
Aristoteles dikhususkan untuk membahas masalah ini dan dalam buku itu pula dia mengupas sebagian besar penguasa yang hidup pada zamannya. Menurut Aristoteles, politik dalam praktiknya telah menduduki peringkat tertinggi di antara sekian disiplin ilmu karena temanya adalah kota (city), dan ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari pembentukan dan kepemimpinan atas kota atau negara.30
Abul Hamd dalam buku Mabani-e Siyasat menyebutkan bahwa ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari berbagai fenomena politik dan bentuk negara, pemerintahan, relasi kekuasaan, dasar- dasar materialistik dan moralitas serta ideologi pada berbagai waktu dan tempat yang berbeda, mengungkap pertautan antarfenomena politik dan sebab musabab kemunculannya, serta mengkaji masalah pengelolaan masyarakat dalam negara dan hubungan internasional.”31
II. Kaitan Ilmu Politik dengan Disiplin Ilmu Lain
Tak dapat dipungkiri bahwa wilayah setiap disiplin pengetahuan bukanlah sesuatu yang dapat ditentukan secara detail. Demikian pula batasan antardisiplin ilmu; tidak dapat ditentukan secara pasti. Sebab, keberbauran antarobjek pengetahuan dan terbukanya kemungkinan suatu objek untuk ditinjau dari berbagai aspek, praktis memunculkan zona-zona kolektif antardisiplin ilmu yang terkadang justru bertautan satu sama lain. Hal ini terjadi secara lebih signi ikan khususnya di bidang-bidang sosial, karena gelanggang aktivitas manusia memang tidak dapat diklasi ikasi dalam ruas- ruas yang sepenuhnya terpisah satu sama lain. Kemudian, berbagai kecenderungan, pemikiran dan aktivitas politik manusia juga tidak dapat dipisahkan dari kosmologi, ideologi, moralitas dan pola kehidupan materinya.
Lebih jauh lagi, antara ilmu politik dan ilmu-ilmu humaniora juga terdapat kaitan dan persamaan yang lebih solid. Sebab, politik
30. Lihat, Mabani va Kulliyat-e Ulum-e Siyasi, Sayid Jalaluddin Madani, hal.34.
31. Mabani-e Siyasat, Abdul Hamid Abul Hamd, hal.33.
Pustaka
Syiah
memiliki cakupan luas dan pengaruh yang menyentuh langsung dan terlihat jelas di berbagai lini kehidupan. Di sisi lain, politik juga memanfaatkan hasil-hasil berbagai disiplin ilmu lain untuk merealisasikan tujuannya. Itulah sebabnya mengapa sebagian orang memandang ilmu politik sebagai ilmu yang bersifat interdisipliner sehingga hanya dalam kerangka sedikit lebih luas saja ia dapat mengintegrasikan disiplin-disiplin ilmu tertentu untuk membahas fenomena-fenomena politik.32
Disiplin-disiplin keilmuan serumpun yang terlibat interaksi dengan ilmu politik ialah ilsafat, ikih, akhlak, hukum, sejarah, geogra i, sosiologi, antropologi, psikologi sosial, ekonomi dan statistik.33 Selanjutnya secara global akan disinggung bagaimana interaksi tersebut.
Filsafat dan Ilmu Politik
Di masa lalu para filsuf membagi filsafat menjadi dua; yang teoretis dan yang praktis, kemudian menempatkan politik dalam kategori filsafat praktis. Walaupun di awal-awal abad ke-20, empirisme menjadi aliran dominan dalam dunia ilmu pengetahuan, yang kemudian secara perlahan menggeser banyak disiplin ilmu keluar dari [ikatannya dengan] filsafat.
Namun, dalam keterkaitan antara filsafat dan politik dalam format lain, dapat ditelusuri sebagai filsafat politik yang di Barat maupun dalam lingkungan Islam sama-sama memiliki latar belakang sejarah yang panjang.
Penulis buku Falsafeh-e Siyasat (Filsafat Politik) menyebutkan, “Filsafat politik sejatinya adalah cabang
32. Boneyadha-e Elm-e Siyasat, Abdurrahman Alem, hal.64
33. Tak syak lagi, terkait hubungan antardisiplin ilmu, politik tidak terbatas hanya pada bidang-bidang studi tersebut. Bahkan dapat dipastikan bahwa setiap upaya keilmuan dan kebudayaan yang memberikan bentuk-bentuk pengaruh pada masyarakat, pengaruhnya pada politik juga dapat ditelaah. Contohnya adalah revolusi industri dengan semua dampaknya, yang telah mendorong adanya kajian secara lebih terbuka terhadap pengaruh para pelaku, kekuatan dan kecenderungan ekonomi terhadap politik. Dari sisi lain, pengaruh kebijakan-kebijakan politik makro terhadap semua ranah keilmuan juga tidak terbantahkan.
Pustaka
Syiah
filsafat dan merupakan suatu upaya mengetahui esensi urusan politik dan pengorganisasian sejumlah keyakinan filosofis untuk pengelolaan urusan publik.”34
Persoalan politik tidaklah lepas dari tema mendukung atau menentang, memilih atau menolak, penghargaan atau pelayanan. Persoalan politik sejatinya tidaklah netral, melainkan menuntut kepatuhan dan loyalitas kepada seseorang dan mendorong pengambilan keputusan dan penilaian. Mengingat isu-isu politik lazim ditimbang dalam konteks baik dan buruk atau adil dan tidak adil maka pembacaan yang tidak serius terhadap apa yang eksplisit dan implisit dalam isu-isu politik—yakni tidak mau menimbang isu-isu itu dengan kriteria baik dan buruk—
berarti kegagalan membaca persoalan politik secara apa adanya. Untuk memberikan penilaian secara benar maka kriteria-kriteria hakiki harus diketahui. Jika filsafat politik hendak memperlakukan objeknya secara fair harus ada upaya penggalian pengetahuan yang prinsip tentang kriteria-kriteria itu. Filsafat politik pada hakikatnya memang berupaya menangkap esensi persoalan dan sistem politik dengan baik dan tepat.35
Setiap sistem pemerintahan memiliki filsafat politiknya sendiri. Kejayaan revolusi yang terjadi di sebuah masyarakat sejatinya adalah suatu keruntuhan filsafat politik sebelumnya digantikan dengan filsafat politik lain. Kaidah dan prinsip pemikiran yang dijadikan pedoman dalam pemerintahan Republik Islam Iran pasca revolusi, misalnya, adalah cerminan filsafat politik yang berpijak di atas prinsip-prinsip Islam, dan secara fundamental berbeda dengan filsafat politik pada sistem-sistem berlandaskan paham liberalisme yang kini
34. Falsafeh-e Siyasat, Mohammad Javad Nourozi, hal.17.
35. What is Political Philosophy, Leo Strauss, edisi bahasa Persia (Falsafeh-e Siyasi Cist), terjemahan Dr. Farhang Rajai, hal.4.
Pustaka
Syiah
dominan di dunia, sebagaimana juga berbeda dengan •ilsafat politik pada sistem-sistem pemerintahan Iran sebelumnya. 36
Fikih dan Ilmu Politik
Ilmu •ikih adalah ilmu penggalian ( istinbat) hukum-hukum dan kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi oleh umat Islam.
Hukum-hukum ini dalam terminologi •ikih dikenal dengan hukum lima, yakni; wajib, yaitu perbuatan yang apabila diabaikan maka pengabainya akan mendapat siksa; haram, perbuatan yang apabila dilakukan maka pelakunya akan mendapat siksa;
mustahab atau sunah, adalah perbuatan yang apabila dilakukan maka pelakunya akan menjadi lebih terpuji; makruh, yaitu perbuatan yang sebaiknya dihindari dan pelakunya dipandang tercela; dan mubah, ialah perbuatan yang sama statusnya antara dilakukan atau tidak dilakukan, sehingga terserah pada mukalaf (orang yang dikenai keharusan mematuhi perintah dan larangan agama—penerj.) untuk melakukannya atau tidak. Dari sisi lain, •ikih—yang dalam dimensi lebih luas merupakan hukum Islam—
memiliki cabang-cabang sebagaimana juga dimiliki hukum- hukum positif. Cabang •ikih antara lain ialah •ikih ibadah, •ikih pengadilan dan •ikih politik.37
Kemudian, dalam masyarakat dan budaya Islam—mengacu pada de•inisi ilmu politik yang telah dijelaskan sebelumnya—
unsur pembimbingan, kepengurusan dan pengelolaan urusan kebudayaan, komunikasi dan ekonomi masyarakat, serta penggalangan maslahat duniawi dan ukhrawi, menuntut kemampuan memahami hukum-hukum yang sifatnya memberi petunjuk (hidayah) dan kemampuan mengenal maslahat dan mafsadat yang terjadi pada individu dan masyarakat. Tuntutan ini tentu saja tidak mungkin terpenuhi tanpa bantuan dari sumber- sumber wahyu. Ilmu •ikih memenuhi banyak porsi dalam hukum politik dan sosial sehingga dalam konteks ini masyhur dengan
36. Falsafeh-e Siyasat, hal.19.
37. Fiqh-e Siyasi-e Islam, Abol Fazl Shakouri, jil.1, hal.6.
Pustaka
Syiah
istilah •ikih politik (al-•iqh al-siyasat), dan dengan demikian terjalinlah koneksi yang erat dan inspiratif antara •ikih dan ilmu politik. Imam Khomeini ra mengatakan, “Pemerintahan dalam pandangan seorang mujtahid sejati merupakan •ilsafat praktis semua •ikih pada semua lini kehidupan manusia. Pemerintahan adalah manifestasi aspek praktis •ikih dalam menyikapi problem sosial, politik, militer dan kultural. Fikih adalah teori konkret dan sempurna bagi pengelolaan manusia dan masyarakat dari sejak di buaian ibu hingga berada di liang lahat.”38
Dalam statemen tersebut Imam Khomeini, yang memandang •ikih secara lebih komprehensif daripada apa yang dipersepsikan kebanyakan orang, lantas memperkenalkan •ikih pemerintahan (•iqh-e hukumati). Dalam hal ini, ia memberikan pemaknaan yang melampaui dari apa yang biasa dipersepsi kebanyakan orang, yang terkonsentrasi pada •ikih pribadi—dan maksimal •ikih kolektif—yang digunakan untuk merespon aneka peristiwa dan isu-isu kekinian. Fikih pemerintahan, menurutnya, bertujuan mengelola dan menangani peristiwa, berkompeten menentukan tujuan, menyusun strategi gerakan dan program serta mengawal implementasinya hingga membuahkan hasil yang dikehendaki.
Hukum dan Ilmu Politik
Hukum adalah peraturan yang mengikat dan bersifat menaungi dan mengatur hubungan antaranggota dan antarkomponen sebuah masyarakat. Secara terminologis, hukum ialah serangkaian kaidah atau ketentuan yang mengikat dan ditetapkan dengan mempertimbangkan kepentingan kolektif serta demi mengatur hubungan antarindividu.39
Dewasa ini berbagai pemerintahan telah menetapkan undang-undang seperti undang-undang dasar, peraturan- peraturan pemerintah, regulasi dan lain sebagainya yang
38. Shahifeh-e Nour, jil.21, hal.80 dan 101.
39. Farhangge Ulum-e Siyasi, jil.1, hal.256.
Pustaka
Syiah
umumnya berfungsi sebagai alat dalam politik dan menjadikan berkurang atau bertambahnya domain kekuasaan dan pemerintahan. Sebuah rezim pemerintahan yang menyatakan eksistensinya namun tidak menguatkan diri dengan kriteria dan ketentuan hukum dan tidak memberikan kebijakan pada bagian-bagian globalnya adalah tidak dapat diterima. Karena itu, suatu pemerintahan hanya akan solid dan mampu menciptakan keselarasan hubungan anggota masyarakatnya apabila dapat menyediakan tatanan hukum yang komprehensif dan e•isien.
Dari sisi lain, hukum juga merupakan senjata yang ampuh bagi sebagian bangsa untuk menikmati kebebasan dan haknya di depan pemerintahan diktator. Di samping itu konstitusi, yang juga adalah salah satu cabang hukum, merupakan bagian dari tema ilmu politik. Tema ini membahas kaidah-kaidah hukum dalam dinamika politik yang antara lain berbicara tentang hak para individu suatu bangsa, bentuk pemerintahan, institusi- institusi tertinggi negara serta hubungan di antara mereka.
Sedangkan politik membahas persoalan-persoalan yang sama secara deskriptif atau teoretis.
Satu lagi titik temu dan kaitan erat antara hukum dan politik ialah kancah hubungan internasional dan kebijakan luar negeri.
Di kancah ini hukum internasional publik dan privat membahas masalah pengaturan hubungan antarorganisasi internasional, antarnegara dan antarwarga negara serta menjelaskan hukum diplomatik dan konsuler, kaidah perilaku berikut komunikasi antarnegara dan perwakilan mereka.40
Dengan demikian, hukum dan ilmu politik saling berkaitan dari segi tema. Di era sekarang, secara konseptual, hukum dan pemerintahan benar-benar tak terpisahkan satu sama lain, dan semua institusi sama-sama memiliki aspek hukum dan aspek politik. Hanya saja, perlu kehati-hatian dalam perluasan ranah
40. Lihat, Mabani va Kulliyat-e Ulum-e Siyasi, Sayid Jalaluddin Madani, hal.57 dan 62.