Ada beberapa materi yang diangkat dalam tema ini, yang walaupun tidak semuanya, harus dibicarakan dalam sosiologi.
Dalam paham materialisme, hal itu disorot sebagai indikator-indikator sosial terpenting dan besar pengaruhnya pada tatanan politik.
→ Proses Terbentuknya Masyarakat
Aristoteles mengembalikan masalah proses terbentuknya masyarakat kepada faktor karakter manusia sendiri. Dia mengatakan, “Kota adalah fenomena alami, dan sesuai watak alamiahnya manusia adalah hewan yang bersosial.”185 Manusia memilih hidup bersosial demi memenuhi kebutuhannya sebagai manusia. Aristoteles menambahkan, “Masyarakat pertama yang dipandang urgen ialah hubungan antarmanusia yang tidak dapat hidup tanpa kebersamaan satu sama lain, misalnya antara laki-laki dan perempuan yang harus berdampingan demi kelestarian generasi. Ini terjadi bukan berdasar kesengajaan dan kehendak, melainkan karena faktor alamiah yang juga berlaku pada semua
185. Politics, Aristoteles, edisi bahasa Persia (Siyasat), hal.5
Pustaka
Syiah
makhluk hidup, bahkan termasuk tanaman, supaya dapat berkembang biak.”186
Mengenai proses terbentuknya keluarga dan pedesaan serta asal muasal terbentuknya kota atau titik kesempurnaan masyarakat, Aristoteles menuliskan, “Suatu masyarakat yang terdiri atas beberapa desa pada akhirnya terbentuk dengan nama kota, dan ketika itu, boleh dikata bahwa mereka sudah mencapai puncak kesempurnaan dari segi kemampuannya mengatasi kebutuhan-kebutuhannya.”187
Dalam kamus Farhangge Ulum-e Ijtimai terdapat penjelasan yang dikutip dari pernyataan Fichter, yang memandang rahasia terbentuknya masyarakat terletak pada masalah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Kamus ini menyebutkan,
“Masyarakat adalah perkumpulan yang sudah terorganisasi dan terdiri atas para individu yang hidup berkelompok di daerah yang sama dalam bentuk komunitas dan bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya.”188
Menurut Rousseau, masyarakat terbentuk berdasar kontrak sosial yang disepakati oleh setiap orang. Kontrak sosial ini merupakan hasil undang-undang sipil yang datang sesudah hukum alam.189
Kecenderungan para individu untuk terlibat dalam komunitas masyarakat pada hakikatnya adalah untuk memenuhi dan menjaga kepentingan pribadi. Dengan kata lain, untuk memenuhi kebutuhannya itu setiap orang rela untuk berkumpul dan menanggung batasan-batasannya. Karena itu, ketika sebagian kalangan mengemukakan pendapat yang mereduksi kepentingan pribadi demi menjaga kepentingan sosial sebabnya tak lain adalah keinginan mereka supaya masyarakat bisa
186. Ibid., hal.2.
187. Ibid., hal.4.
188. Farhang-e Ulum-e Ijtimai, Alain Birou, hal.388.
189. Ibid., hal.389.
Pustaka
Syiah
terbentuk dan bertahan lestari. Hanya saja, alasan ini pada dasarnya bukan untuk masyarakat sendiri melainkan karena masyarakat adalah sarana untuk menjaga kepentingan individu.
Pada kesimpulannya, dalam teori ini, perkumpulan dan masyarakat menjadi tidak bermakna dan tidak menemukan bentuknya yang utuh. Al-Quran al-Karim dalam menggambarkan komunitas kaum muna•ikin menyebutkan:
Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.190
Kita mengacu pada ayat tersebut karena kaum muna•ikin adalah orang-orang yang perangai dan perkataannya tidak sejalan dengan kehendak batinnya, sehingga ketika mereka membentuk suatu komunitas maka perkumpulan mereka tidak dapat dinilai sebagai perkumpulan yang selaras dan setujuan. Sebab, sebagaimana mereka menutupi hakikat dirinya dengan cara pura-pura beriman di hadapan kaum beriman, sesama anggotanya sendiri mereka berbuat licik, hipokrit, memperlihatkan kekompakan dan solidaritas, padahal masing-masing hanya memburu kepentingannya sendiri-sendiri.
Di bagian akhir ayat di atas disebutkan bahwa ketercerai-beraian hati dan tujuan kaum muna•ik adakah karena irasionalitas dan kebodohan mereka, atau karena yang menjadi petunjuk bagi mereka bukanlah akal dan budi pekerti, melainkan masing-masing mengikuti hawa nafsunya, tidak memiliki motivasi dan arah yang satu, sehingga yang terjadi pada kelompok tersebut tiada lain kecuali perpecahan dan ketercerai-beraian.
→ Progresivitas Masyarakat
Ketika yang menjadi sebab terbentuknya suatu masyarakat adalah pemenuhan kepentingan pribadi maka masyarakat tersebut tidak
190. QS. al-Hasyr [59]:14.
Pustaka
Syiah
layak disebut sebagai masyarakat yang memiliki tujuan dan cita-cita luhur bersama. Tujuan kolektif yang mempertemukan dan membuat semua anggota komunitas berdampingan satu sama lain ialah mendapatkan kenikmatan hidup melalui kehidupan bermasyarakat.
Jadi, yang pokok adalah kepentingan individu, sedangkan hal-hal lain adalah cabang. Kepentingan kolektif dan keberadaan komunitas merupakan hasil kebertemuan kepentingan individu. Yakni, untuk menunjukkan dan mengupayakan kepentingan kolektif tindakan misalnya, yang harus dilakukan ialah pemungutan suara. Di tengah masyarakat demokrasi, yang mayoritas ialah yang memegang kekuasaan serta menerapkan kehendak dan pendapatnya. Kondisi ini dipandang sebagai titik kesempurnaan masyarakat.
Memang, pada suatu masa hanya ada satu orang yang berkuasa, dan dengan cara diktator dia mengkondisikan masyarakat secara sistematis hanya untuk kepentingan pribadinya atau setidaknya mengutamakan kepentingan sekelompok kecil orang atas kepentingan mayoritas. Namun, terlepas dari realitas ini, bagaimanapun juga apa yang diklaim sebagai bentuk yang paling sempurna, atau kekuasaan mayoritas itu, tidak dapat memberikan gambaran bagi masyarakat tentang progesivitas yang ideal. Sebab, gerakan masyarakat mengekor hanya pada kehendak orang-orang yang akan senantiasa berubah pendapatnya ketika kepentingannya mengalami perubahan; mengikuti respon mereka terhadap kebutuhan sesaat atau periodiknya Dan, pada akhirnya, tujuan utama mereka dalam kehidupan sosial hanyalah memenuhi kebutuhan-kebutuhan materi dalam kehidupan yang singkat di dunia ini.
Dengan demikian, proses perkembangan dan progresivitas masyarakat materialis tak lain bertujuan mengeruk keuntungan dan kepentingan materi sebanyak mungkin namun dalam bentuk yang paling bisa diterima oleh semua orang atau mayoritas anggota masyarakat. Areanya pun tidak lebih dari dunia ini. Pada hakikatnya, kesempurnaan dalam proses ini tak ubahnya dengan titik penghabisan. Di samping itu, perjalanan untuk proses ini tidak
Pustaka
Syiah
mungkin bisa diprogram dan diarahkan pada tujuan yang jelas, karena yang menentukan adalah kehendak banyak manusia.
→ Pengelolaan Masyarakat
Dalam suatu masyarakat materialis, upaya meraih keuntungan maksimal meniscayakan berlangsungnya pergesekan dan kon lik dalam dua bentuk. Pertama, kon lik dalam tubuh masyarakat itu sendiri, yang berbentuk persaingan antarindividu untuk meraih keuntungan maksimal. Kedua, kon lik di luar tubuh masyarakat, dalam hubungannya dengan masyarakat-masyarakat lain, baik masyarakat yang juga materialis dan sama-sama berambisi mengeruk keuntungan duniawi sebanyak mungkin maupun masyarakat berbasis ketuhanan yang ketika terjadi kon lik itu, para pemegang fondasi ketuhanan tentu saja bukan semata-mata karena urusan materi. Pada berbagai masyarakat yang berpaham materialisme ini, pemerintahan terbentuk dengan beberapa tujuan sebagai berikut:
1. Menjamin keamanan sosial, melangsungkan pemanfaatan kenikmatan materi untuk semua anggota masyarakat, dan mencegah pelanggaran kepentingan para anggota oleh pihak-pihak lain.
2. Mendistribusikan fasilitas dan memberdayakan semua individu dalam pemanfaatan sumber-sumber kesejahteraan materi.
3. Mengorganisasikan kepentingan-kepentingan kolektif dalam bentuk yang dapat meminimalisasi kon lik, gejolak dan perpecahan di tengah masyarakat serta memungkinkan peningkatan volume pemanfaatan kesejahteraan dan tingkat kebergantungan pada dunia. Dalam bentuknya yang terburuk, pengorganisasian dilakukan dengan berorientasikan kepentingan individu dan pemuasan hawa nafsu. Dalam pemerintahan diktator, yang menjadi tolok ukur tatanan masyarakat serta distribusi jabatan dan
Pustaka
Syiah
fasilitas semata-mata hanya kehendak dan kepentingan raja dan orang yang berkuasa. Sedangkan dalam bentuknya yang paling bagus dan ramah, pemerintahan berfungsi sebagai garda yang melindungi kepentingan semua orang. Namun, karena berbagai kepentingan masyarakat tidak mungkin dapat diseragamkan maka dengan pengklasi•ikasian kepentingan berbagai kelompok dan komunitas, lalu pluralisme diajukan dan diterima.
Kesimpulan
Setiap sistem politik, baik yang mengaku ideologis dan normatik maupun yang mengaku sekuler dan murni berorientasikan materi, tidaklah lepas dari pijakan keyakinan dan nilai. Dengan kata lain, pasti ada kerangka ideologis, keyakinan dan paradigma khas yang menentukan haluan serta arah dan bentuk program, kebijakan dan etos kerja masing-masing.
Bertolak dari klasi•ikasi paling global yang menghasilkan dikotomi sistem politik religius dan non-religius, landasan semua itu dapat pula dibahas dalam dua tema; dasar sistem politik berbasis ketuhanan” dan “dasar- “dasar-dasar sistem politik berbasis materialisme”. Sebab, fondasi-fondasi utama dan sangat berpengaruh pada sistem politik ialah ontologi, antropologi dan sosiologi.
Dalam ideologi ketuhanan, alam semesta adalah makhluk, sedangkan Tuhan sebagai Penciptanya adalah satu-satunya pemegang kekuasaan atas alam semesta dan seisinya, termasuk manusia. Menurut ideologi ini, hak peletakan undang-undang dan hak kekuasaan atas masyarakat telah diserahkan kepada orang-orang yang terhubung dengan sumber Ilahiah dan patuh sepenuhnya kepada perintah Tuhan; pengelolaan masyarakat harus dilandasi wahyu [Ilahi]; domain pembangunan dan penyempurnaan manusia mencakup dunia dan akhirat;
Pustaka
Syiah
dan kelurusan perilaku manusia bergantung pada ketakwaan dan keimanan mereka kepada hari kebangkitan yang menjadi kendali dan menjadi kunci kelestarian dan kesejiwaan masyarakat agamis. Masih menurut ideologi ketuhanan, hal yang pokok adalah perkembangan dan kebahagiaan manusia, dan meskipun manusia terlingkari oleh faktor kondisi lingkungan, ia tetap mengaktivasi ikhtiar dan kehendaknya secara independen dan bahkan menggunakannya untuk mengubah keadaan dirinya maupun orang lain.
Selain manusia sebagai individu, masyarakat juga memiliki hukum dan karakteristik yang khas serta dapat berkembang dan sukses atau malah sebaliknya; terpuruk dan bangkrut. Pemerintahan adalah kristalisasi kehendak publik, pemegang kekuasaan publik dan bertanggung jawab menggalang pertumbuhan dan perkembangan masyarakat. Dengan tinjauan yang paling global, kekuasaan publik tidak lepas dari dua kemungkinan;
selaras dengan kekuasaan Ilahiah atau justru sejalan dengan kekuasaan tagut dan syaitaniyah. Sejarah manusia telah menjadi arena kon lik permanen antara dua kubu ini; dan selagi masih dikehendaki Allah, pergumulan antara hak dan batil akan terus berlanjut hingga akhirnya yang menjadi pemenang adalah kedaulatan dan otoritas Ilahiah.
Materialisme adalah landasan bagi semua sistem politik non-agamis. Paham ini mengabaikan adanya Sang Maha Pencipta dan Tuhan Yang Disembah di luar alam materi ini dan menganggap pengetahuan manusia tidak lebih dari sesuatu yang bersifat inderawi saja. Paham ini kemudian menemukan kerangka berpikir dan ideologisnya dengan nama sekularisme, dan dengan landasan-landasan humanisme, rasionalisme dan empirisme.
Dalam paham materialisme manusia terde inisikan sebagai wujud yang sepenuhnya materi dan tidak
Pustaka
Syiah
memiliki ikhtiar akibat kondisi •isik yang menguasainya.
Pembangunan manusia tak lain adalah pembangunan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan •isiknya, dan masyarakat pun tak lain adalah hasil perkumpulan manusia-manusia yang merupakan himpunan materi yang serba kompleks. Individualisme mengakibatkan manusia terlihat sebagai titik atom dan pada gilirannya setiap individu hanya melihat dirinya dan kepentingan dirinya sendiri—yang sama sekali tidak memiliki titik temu dengan entitas-entitas lain. Karena itu diusunglah konsep pluralisme yang mengajarkan kesiapan semua orang untuk menerima perbedaan tujuan, selera, pergerakan dan metode yang dikehendaki untuk pengorganisasian dinamika manusia dan masyarakat. Namun di saat yang sama, adanya kon•lik kepentingan dan pergesekan untuk mendapatkan kekuasaan dan kekayaan yang maksimal, serta pengabaian terhadap kepentingan pihak lain, menjadi risiko sosial dan natural yang tak terelakkan dalam paham ini.
Bahan Latihan:
1. Menurut pandangan al-Quran, milik siapakah kekuasaan mutlak atas alam semesta?
2. Apakah tatatan sosial masyarakat Islam harus bersumber pada wahyu? Mengapa?
3. Bagaimanakah hakikat manusia dalam pandangan Islam?
4. Bagaimanakah peran sistem politik berbasis ketuhanan dalam pembangunan manusia?
5. Jelaskan pandangan Allamah Thabathaba’i tentang
Pustaka
Syiah
hubungan antara individu dan masyarakat!
6. Bagaimanakah peran rakyat bagi kemajuan tatanan berbasis wilayah Ilahiyah?
7. Apakah pandangan materialisme juga dapat dikatakan berpijak pada suatu keyakinan dan ideologi?
8. Bagaimanakah pengertian sekularisme?
9. Bagaimanakah karakteristik manusia dalam doktrin-doktrin materialisme.
10. Jelaskan indikator-indikator pembangunan manusia dalam program PBB.