Dalam ideologi ketuhanan, dimensi eksistensial manusia dan pembangunan insani merupakan dua masalah substansial yang menjadi bagian dari beberapa masalah prinsip dalam antropologi ideologi ini. Penjelasan untuk dua masalah ini ialah sebagai berikut:
→ Dimensi Eksistensial Manusia
Eksistensi manusia dapat dikenal melalui tiga dimensi;
dimensi isik, dimensi ruh, dan dimensi intelektual (akal), yang menjadi penghubung antara dimensi isik dan dimensi ruh. Ia
152. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar... (QS. Ali Imran [3]:110)
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang
(ma’ruf, mencegah dari yang munkar... (QS. al-Taubah [9]:71 :Imam Ali as berkata
.دوﺪﺤﻟا ﺔﻣﺎﻗإ و ﺮﻜﻨﻤﻟا ﻦﻋ ﻲﻬﻨﻟا و فوﺮﻌﻤﻟﺎﺑ ﺮﻣﻷا ﺔﻌﻳﺮﺸﻟا ماﻮﻗ
Fondasi syariat adalah amar makruf dan nahi munkar serta penegakan hukum Allah.””
((Ghurar al-Hikam wa Duraru al-Kalam
153. Imam Ja’far meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
.ﻢﻠﺴﻤﺑ ﺲﻴﻠﻓ ﻪﺒﺠﻳ ﻢﻠﻓ ﻦﻴﻤﻠﺴﻤﻠﻟ ﺎﻳ يدﺎﻨﻳ ﻼﺟر ﻊﻤﺳ ﻦﻣو ،ﻢﻬﻨﻣ ﺲﻴﻠﻓ ﻦﻴﻤﻠﺴﻤﻟا رﻮﻣﺄﻳ ﻢﺘﻬﻳ ﻢﻟ و ﺢﺒﺻأ ﻦﻣ
“Barangsiapa bangun pagi dalam keadaan tidak memedulikan urusan umat Islam maka dia bukan bagian dari muslim, dan barangsiapa mendengar orang lain berseru, ‘wahai, umat Islam!’ kemudian dia tidak menjawab seruan itu maka dia bukan muslim.”
(Al-Ka i, juz 2 hal.164, Hadis 5) Imam Ali as berkata:
.ﻢﺋﺎﻬﺒﻟا و عﺎﻘﺒﻟا ﻦﻋ ﻰﺘﺣ نﻮﻟوﺆﺴﻣ ﻢﻜﻧﺈﻓ ﻩدﻼﺑ و ﻩدﺎﺒﻋ ﻲﻓ ﷲا اﻮﻘﺗإ
“Bertakwalah kepada Allah berkenaan dengan hamba-hamba-Nya dan negeri-Nya, karena sesungguhnya kalian semua memikul tanggung jawab, bahkan terhadap sejengkal tanah dan hewan-hewan di dalamnya.” (Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abil
Hadid, juz 7 hal.304) Rasulullah saw bersabda:
... ﻪﺘﻴﻋر ﻦﻋ لوﺆﺴﻣ ﻢﻜﻠﻛ و عار ﻢﻜﻠﻛ ﻻأ
“Ketahuilah bahwa kalian semua adalah gembala dan kalian semua bertanggungjawab atas apa yang digembalakan.” (Shahifah al-Ridha, juz 3 hal.1459)
Pustaka
Syiah
bertanggungjawab mengatur keseimbangan antarperilaku, dan membukakan peluang bagi pengendalian ruh atas jasmani berikut gerak-geriknya.
Manusia memiliki kecenderungan murni yang bisa mengatur arah kehidupan serta membuatnya suka atau benci pada sesuatu.
Dimensi eksistensial manusia ini lazim disebut dengan nama-nama seperti: kalbu, ruh, rasa/kecenderungan murni atau dimensi keimanan.154
Pada dimensi intelektual, manusia memiliki ilmu dan pengetahuan yang di dapat dari dua zona; internal dan eksternal. Di zona internal manusia dapat mengetahui kecenderungan, kehendak, informasi yang tersimpan dalam memori, perkara-perkara mental dan perilakunya sendiri. Sedangkan di zona eksternal ia dapat mengenal Tuhan, memahami masalah spiritual, masalah rasional dan fenomena empirik.
Dimensi jasmani manusia, dari satu sisi adalah wujud •isik dan materi itu sendiri, sedangkan dari sisi lain adalah wujud perilaku yang menjadi manifestasi kecenderungan, pikiran dan kehendaknya.
Dalam ideologi ketuhanan, meskipun tiga dimensi eksistensial manusia berupa hati (ruh/jiwa), nalar (intelektual) dan jasmani berfungsi saling melengkapi dalam pembentukan karakter manusia, namun proporsi kiprah masing-masing berbeda satu sama lain;
[yakni] ruh atau hati memainkan peran utama, nalar-pikiran memainkan peranan cabang, dan •isik berperan pasif.
Mekanisme pemeranan digambarkan bahwa perilaku manusia bertolak dari “rasa”, menemukan sketsanya di dalam hati, dan di lingkup ini terjadi penyesuaian antara berbagai daya tarik yang ada
154. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu ber irman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh(ciptaan)-Ku, maka tunduklah
(kamu kepadanya dengan bersujud. (QS. al-Hijir [15]:28-29
Pustaka
Syiah
dengan kecenderungan yang paling pokok. Pada tahap berikutnya, daya intelektual di alam ide (alam mitsali) melakukan pemeriksaan dalam bentuk asumsi dan dugaan terhadap cara pencapaian tujuan. Kemudian pada tahap akhirnya adalah tahap eksekusi atau impelementasi kehendak menjadi perbuatan dan perilaku yang konkret.
→ Pembangunan Manusia
Pembangunan manusia adalah pembahasan terpenting dalam antropologis. Sebab, jika dalam dimensi eksistensialnya manusia dijelaskan dalam kondisinya yang statis—atau perilakunya dijelaskan secara sederhana, maka dalam “pembangunan manusia”
perhatian terfokus pada pergerakan manusia menuju kesempurnaan di tengah tatanan alam semesta.
Setiap ideologi tentu memiliki persepsi sendiri tentang pembangunan manusia sesuai penafsiran masing-masing terhadap
“manusia” dan “pembangunan”. Dalam ideologi ketuhanan yang memandang manusia dari segi martabat dan keagungannya—
sehingga dalam suluk ia bahkan disebut sebagai khalifah Allah Swt—
semua dimensi eksistensial manusia tumbuh dan berkembang secara seimbang dan relevan. Karena itu, dalam menimbang masalah pembangunan manusia kita perlu memerhatikan tiga parameter yang mengacu pada tiga dimensi eksistensial manusia.
Tiga parameter itu ialah: (1) Parameter pembangunan dimensi ruh;
(2) Parameter pembangunan dimensi intelektual; dan (3) Parameter pembangunan dimensi isik.
Di situ kemudian muncul pertanyaan, bagaimanakah pembangunan manusia itu berjalan? Apa yang memotivasi pembangunan? Dan apakah yang menjadi tujuan dan landasan pembangunan manusia tersebut?
a) Mekanisme Pembangunan Manusia
Dalam pandangan Ilahiah, setiap gerakan dan perubahan yang dilakukan oleh manusia adalah karena motivasi dan kehendak
Pustaka
Syiah
manusia sendiri. Yakni, ketika dihadapkan pada beberapa pilihan manusia dapat mengetahui perbedaan dan keserupaan di antara beberapa pilihan itu, kemudian memilih satu di antaranya. Karena itu, setiap perbuatan ikhtiari manusia ternisbat pada manusia itu sendiri dan karena itu dia bertanggungjawab atas perbuatannya.
Dengan demikian, kehendak dan ikhtiar adalah faktor utama pembangunan manusia di semua dimensi eksistensialnya.
b) Tujuan Pembangunan Manusia
Tujuan pembangunan manusia adalah meraih kesempurnaan, yang puncaknya—sejalan dengan semua dimensi eksistensial manusia—tak lain adalah hakikat keimanan, ilmu dan amal saleh.
Puncak kesempurnaan manusia adalah jenjang yang tak terbayang lagi ada jenjang lain setelahnya. Jenjang dan kedudukan ini dalam al-Quran disebut “kemenangan” ( fauz),155 “keberuntungan” ( falah),156 dan “kebahagiaan” ( sa’adah).157
Adapun “tempat” ( maqam) di mana kesempurnaan dan keagungan insani menemukan wujudnya dalam diri manusia disebut “ qurb”, yang berarti kedekatan di sisi Allah.158
c) Wahana Pembangunan
Dalam ideologi ketuhanan, kehendak dan ikhtiar manusia adalah wahana bagi pembangunan manusia. Manusia memang tidak bisa dipisahkan dari lingkungan—yaitu alam, masyarakat, sejarah dan tatanan semesta—yang melingkunginya. Dan, semua itu turut berpengaruh pada kehendaknya, namun pengaruhnya tidaklah determinan sehingga lantas mengendalikan kehendak dan mengurung manusia dalam keadaan serba terpaksa. Karena faktor kehendak dan ikhtiar itulah balasan-hukuman bagi manusia
155. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.(QS. al-Ahzab [33]:71 )
156. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. al-Baqarah [2]:5)
157. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya...(QS. Hud [11]:108)
158. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa Allah Swt ber irman:
...ﻪﻴﻠﻋ ﺖﺿﺮﺘﻓا ﺎﻤﻣ ّﻲﻟإ ﺐﺣا ﺪﺒﻋ ّﻲﻟا بﺮﻘﺗ ﺎﻣ
“Tiada hamba yang mendekati-Ku mengerjakan sesuatu lebih Aku sukai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya.” (Ushul al-Ka!i, juz 2, hal.352).
Pustaka
Syiah
menjadi bermakna. Artinya, bahkan dalam keadaan terkepung oleh semua faktor eksternal yang melingkupi itu pun manusia tetap dapat menentukan langkahnya sendiri secara independen. Hanya saja, perkembangan manusia memang lebih merupakan hasil kehendak dan iktikad baiknya di tengah lingkungan yang kondusif.
Menciptakan lingkungan yang kondusif inilah yang kemudian menjadi tanggung jawab sistem politik. Oleh sebab itu, dalam ideologi ketuhanan, sistem politik berbasis ketuhanan diperlukan agar bisa menciptakan keadaan yang mendukung progresivitas dan perkembangan insani.