Permasalahan dan Solusi Permasalahan
3. sistem terpusat
Berdasarkan perhitungan prosentase penduduk DIY yang terlayani sanitasi layak sampai dengan tahun 2011 adalah sebesar 70% (dengan jumlah rumah tangga bersanitasi sebanyak 501. 464 rumah tangga).
Sedangkan khusus untuk cakupan pelayanan jaringan Air Limbah Terpusat di APY dihitung berdasar persentase perbandingan antara jumlah sambungan rumah terpasang dengan kapasitas IPAL Sewon. Cakupan pelayanan IPAL Sewon sampai dengan 2011 sebesar 55%, lebih besar dari target kinerja yang ditetapkan sebesar 30%.
4.7 Prosentase Penduduk yang terlayani Pengelolaan Sampah
Pengelolaan persampahan menjadi kunci utama bagi kesehatan lingkungan.
Pelayanan minimal pengelolaan persampahan dilakukan melalui pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Untuk mengatur pengelolaan sampah tersebut, saat ini telah ditetapkan Undang‐
undang RI Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Undang‐undang ini mengamanatkan tentang hak dan kewajiban masyarakat serta wewenang pemerintah, pemerintah daerah untuk melaksanakan pelayanan publik dalam bidang pengelolaan sampah. Pengaturan hukum pengelolaan sampah didasarkan asas keadilan, asas kesadaran, asas kebersamaan, asas keselamatan, asas keamanan, dan asas nilai ekonomi. Skenario pengelolaan persampahan didasarkan pada pendekatan 3 R (Reduse, Reuse, Recycle), sehingga TPA yang ada sekarang kedepan diharapkan dapat menjadi Tempat Pemrosesan Akhir.
Pengelolaan sampah di Provinsi DIY dilakukan oleh pemerintah daerah dan oleh masyarakat secara mandiri. Untuk pengelolaan sampah di Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY) yang meliputi Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul dilakukan dengan penyediaan sistem pengelolaan sampah terpadu TPA Piyungan.
Pada tahun 2011 melalui fasilitasi pendanaan APBN oleh Kementerian Pekerjaan Umum telah dibangun TPA Sanitary Landfill di Kab. Gunungkidul, sedangkan melalui pendanaan APBD Provinsi DIY telah dilaksanakan kegiatan sebagai berikut:
1) Penyusunan naskah akademis dan draft perda tentang sampah domestik serta
2) Pembangunan IPST di Kab. Gunungkidul sebanyak 2 (dua) unit di kecamatan Semin dan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, seluas masing masing 400 m2.
Jumlah dan Persentase Penduduk Perkotaan Provinsi DIY Terlayani Persampahan Tahun 2009‐2011
No Kabupaten/Kota
Penduduk Perkotaan Terlayani Pengelolaan Sampah Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011
Jiwa % Jiwa % Jiwa %
1 Yogyakarta 249.678 64,67 270.742 69,67 300.463 77,10 2 Sleman 211.929 53,17 233.374 58,17 258.992 64,38 3 Bantul 186.432 54,80 204.773 59,80 227.252 66,18 4 Gunungkidul 92.401 48,66 102.561 53,66 113.820 59,39 5 Kulon Progo 78.229 45,02 87.486 50,02 97.089 55,36 Total Capaian 818.670 55,00 898.936 60,00 997.616 66,40 Sumber: Dinas PUP ESDM Provinsi DIY
Dari tabel di atas terlihat pada Tahun 2011, persentase penduduk perkotaan DIY yang terlayani persampahan adalah sejumlah 997.616 jiwa dari keseluruhan penduduk perkotaan DIY yang sejumlah 1.502.434 jiwa, sehingga diperoleh capaian prosentase penduduk perkotaan yang terlayani persampahan adalah sebesar 66,40%.
4.8 Jumlah TPA Sampah yang Menggunakan Sistem Sanitary Landfill
Kondisi capaian kumulatif jumlah TPA Sampah yang menggunakan Sistem Sanitary Landfill sampai tahun 2011 adalah sebanyak 2 lokasi yang diantaranya dilakukan dengan Program Pengelolaan Persampahan dan pembangunan TPA Sanitary landfill dengan pendanaan bersama‐sama antara APBD kabupaten/ kota dan APBN melalui Kementerian Pekerjaan Umum yang berada di Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Kulon Progo.
4.9 Prosentase Penurunan Genangan
Sistem drainase tidak dapat berdiri sendiri dan selalu berhubungan dengan subbidang infratruktur lainnya, seperti perumahan, jalan perkotaan, dan pengembangan kawasan baru. Penyelesaian permasalahan genangan di suatu kawasan bersifat lintas subbidang dan lintas wilayah, sehingga koordinasi dan sinkronisasi penanganan perlu dilakukan agar hasilnya optimal. Pembangunan drainase perlu dilakukan secara sistematis dan menyeluruh yang dimulai dari saluran primer‐sekunder‐tersier. Sesuai dengan data Masterplan Penanganan Drainase KPY teridentifikasi sebanyak 51 titik genangan di KPY. Capaian penanganan sampai dengan tahun 2011 adalah sebesar 23,9% dari target sebesar 30%, hal ini dikarenakan besarnya alokasi anggaran yang dibutuhkan untuk penanganannya termasuk kebutuhan penanganan diluar KPY.
4.10 Penataan Bangunan dan Lingkungan dan Jasa Konstruksi
PBL adalah serangkaian kegiatan yang diperlukan sebagai bagian dari upaya pengendalian pemanfaatan ruang, terutama untuk mewujudkan lingkungan binaan (built environment), baik di perkotaan maupun di perdesaan, khususnya wujud fisik bangunan gedung dan lingkungannya. Hingga tahun 2009, Kota Yogyakarta telah memiliki Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) untuk
RTBL,dan Kabupaten Kulon Progo memiliki tiga (3) kawasan yang memiliki RTBL.
Adapun Kabupaten Bantul belum memiliki kawasan dengan RTBL. Secara keseluruhan, kawasan‐kawasan di Provinsi DIY yang memiliki RTBL ada 14 kawasan. Pada tahun anggaran 2010 telah dilaksanakan kegiatan penyusunan DED Kawasan Kotagede yang bertujuan untuk penataan dan revitalisasi kawasan tradisional bersejarah Kotagede.
Disamping kegiatan di atas, dilaksanakan pula fasilitasi gedung‐gedung pemerintah, yang meliputi penyelenggaraan rumah negeri, bantuan teknis pembangunan rumah negara dan pembangunan rumah negara. Jumlah rumah negara yang sudah tertangani dalam proses status rumah negara berkisar 1.047 rumah negara, setiap tahun kegiatan yang dapat difasilitasi sekitar 81 rumah negara dan perkiraan jumlah rumah negeri yang harus difasilitasi sekitar 2.000 rumah.
Tolok ukur kinerja untuk pengujian informasi permukiman dan bangunan dan pengembangan jasa konstruksi adalah sebagai berikut: Teknologi terterapkan, Pengujian konstruksi terlayani, serta Peningkatan jumlah ahli utama terlayani.
Permasalahan dan Solusi Permasalahan
1. Adanya keterbatasan sumber air baku air minum di Provinsi DIY, khususnya yang selama ini menggantungkan pada sumber mata air di wilayah terdampak erupsi Gunung Merapi.
2. Kontribusi pemerintah kabupaten/kota sebagai pemegang tanggung jawab utama penanganan drainase belum maksimal.
3. Masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan air limbah serta keterbatasan kapasitas keuangan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam pengembangan cakupan pelayanan air limbah terpusat.
4. Manajemen jasa pengujian belum optimal.
5. Belum optimalnya pemahaman pihak‐pihak terkait terhadap regulasi jasa konstruksi.
6. Belum optimalnya penyediaan data dan updating terbarukan terkait informasi permukiman dan bahan bangunan.
Solusi
1. Perlu dilakukan identifikasi dan pengembangan terhadap potensi sumber air baku untuk air minum di Provinsi DIY.
2. Sosialisi kepada masyarakat yang intensif tentang pemahaman fungsi drainase serta masih diperlukan dukungan dana baik dari APBD maupun APBN dan sumber dana lainnya.
3. Peningkatan sosialisasi untuk meningkatkan komitmen sambungan rumah (SR), serta penyusunan regulasi yang mewajibkan masyarakat di kawasan APY untuk memanfaat kan jaringan air limbah terpusat.
4. Perlunya pendidikan dan pelatihan enterpreneurship bagi SDM Laboratorium Pelayanan Jasa pengujian.
5. Peningkatan Sosialisasi dan diseminasi terkait regulasi Jasa Konstruksi.
6. Pembinaan intensif kepada SDM yang menangani updating data dan pemikiran akan kerjasama saling menguntungkan dengan para supllier bahan bangunan.
Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Wewenang pemerintah provinsi dalam penyelenggaraan penataan ruang meliputi pengaturan, pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota serta terhadap pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis provinsi dan kabupaten/kota.
Selain itu, pada tahun 2007 Pemerintah telah menetapkan Undang‐Undang Republik Indonesia No. 26 Th 2007 Tentang Penataan Ruang sebagai pengganti Undang‐Undang Nomor 24 Tahun 1992, dimana Undang‐undang yang baru ini lebih sesuai dengan kebutuhan pengaturan penataan ruang. Undang‐undang ini mengamanatkan diperlukannya penataan ruang berbasis mitigasi bencana sebagai upaya meningkatkan keselamatan dan kenyamanan kehidupan dan penghidupan mengingat bahwa secara geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia berada pada kawasan rawan bencana. Bagi DIY, hal ini merupakan prioritas mengingat secara geografis wilayah DIY merupakan daerah yang rawan bencana. Terbitnya Undang‐undang ini menjadi dasar dari serangkaian program dan kegiatan penataan ruang di DIY.
Urusan Penataan Ruang tidak bergerak di ranah kegiatan fisik, namun lebih pada regulasi yang terkait perencanaan dan pemanfaatan ruang, serta pengendalian atas pemanfaatan ruang.
Indikator sebagai tolok ukur pencapaian target kinerja urusan penataan ruang tahun periode 2008–2012 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.16
Indikator dan Capaian Kinerja Urusan Penataan Ruang, 2008‐2012 No Indikator Kinerja Satuan Capain Tahun
2008 2009 2010 2011 2012
1 Jumlah Kawasan Yang
Dikembangkan Buah 1 1 1 1 2
2
Prosentase Daerah yang Dikonversi Terhadap Luasan Total Lahan
% 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00
Sumber: Dinas PUP ESDM Provinsi DIY
5.1 Jumlah Kawasan Yang Dikembangkan
Tolok ukur terkait jumlah kawasan yang dikembangkan lebih diarahkan pada regulasi menyangkut perencanaan dan arah pemanfaatan ruang yang komplementer dengan regulasi diatasnya (RTRW Nasional), dan sinergis dalam pemanfaatan ruang di DIY sendiri. Dari sisi perencanaan, kawasan yang perlu dikembangkan dimulai dengan penyusunan RTRW Provinsi DIY, dan dilanjutkan Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan dan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan, khususnya bagi kawasan yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis. Terkait hal ini target perencanaan Kawasan yang dikembangkan meliputi Kawasan Pantai Selatan bagian barat (Kabupaten Kulon Progo), rencana detail tata ruang kawasan pantai selatan bagian tengah (Kabupaten Bantul), kawasan pertanian, kawasan bencana longsor, dan kawasan Perkotaan Yogyakarta.
5.2 Prosentase Daerah yang Dikonservasi Terhadap Luasan Total Lahan
Indikator ini dicapai melalui pembuatan serangkaian perangkat untuk pengaturan pengendalian pemanfaatan lahan lebih lanjut, agar konversi lahan secara total tidak mengalami peningkatan, sehingga diupayakan setiap tahunnya hanya terjadi konversi lahan sebesar 1%. Kegiatan untuk menunjang keberhasilan tolok ukur kinerja ini dilakukan melalui penyusunan regulasi (termasuk aturan pemberian insentif dan disinsentif kepada Kabupaten), serta sosialisasi Rencana Tata Ruang baik Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi maupun Rencana Detail Tata Ruang.
Penyusunan regulasi yang terkait pemanfaatan dan pengendalian ruang meliputi penyusunan norma, standard prosedur, dan kriteria pemanfaatan ruang serta penyusunan rencana detail tata ruang kawasan strategis provinsi. Disamping itu untuk pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan pemantauan kondisi penggunaan lahan dan perubahan peruntukan yang terjadi khususnya penggunaan untuk permukiman.
2008 2 5 746.701.975 695.776.295 94,54 100,00
2009 6 11 4.110.000.000 3.580.600.140 87,12 100,00 2010 3 7 2.276.000.000 2.118.571.826 93,08 100,00 2011 3 5 1.798.136.000 1.740.310.640 96,78 100,00 2012
*)
3 7 2.145.713.500 355.138.650 16,55 30,79
Catatan: *)Posisi s/d Bulan Juli 2012 Sumber: Dinas PUP ESDM Provinsi DIY 2012
Pada tahun 2012 jumlah program dilaksanakan sebanyak 3 Program dengan jumlah kegiatan sebanyak 7 Kegiatan. Sampai dengan Bulan Juli 2012, capaian fisik rata‐rata sebesar 30,79% dengan serapan keuangan sebesar 16,55%.
Permasalahan dan Solusi Permasalahan
1. Koordinasi yang belum optimal untuk menjaga konsistensi antara RTRW Provinsi DIY dengan RTRW kabupaten/kota.
2. Produk perencanaan tata ruang belum sepenuhnya dijadikan pedoman di dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.
3. Belum optimalnya peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang.
4. Pemanfaatan potensi yang belum memperhatikan kelestarian lingkungan.
1. Meningkatkan koordinasi dalam kegiatan penataan ruang melalui peningkatan kinerja Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD).
2. Menyusun kebijakan operasionalisasi dari RTRW Provinsi DIY sebagai dasar implementasi RTRW Provinsi itu sendiri dan dasar kebijakan‐
kebijakan dalam RTRW kabupaten/kota, serta dilaksanakan sosialisasi terhadap produk‐produk kebijakan yang dihasilkan.
3. Menyiapkan perangkat penyelenggaraan penataan ruang yang meliputi perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian ruang termasuk insentif dan disinsentif serta menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) penataan ruang untuk meningkatkan peran serta masyarakat.
4. Optimalisasi potensi dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup.