Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT., atas taufiq, hidayah, dan karunia¬-Nya yang tak terhingga kepada kita semua, sehingga Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan (LKPJ AMJ) Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tahun Anggaran 2008-2012 dapat disusun.
Penyusunan LKPJ AMJ Gubernur DIY disusun berdasar Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 86/P Tahun 2008, tanggal 07 Oktober 2008 yang menetapkan, bahwa jabatan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta diperpanjang sampai dengan paling lama 3 tahun dan juga Keputusan Presiden Nomor 55/P Tahun 2011 yang ditetapkan tanggal 30 September 2011 yang isinya bahwa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta diperpanjang kembali selama satu tahun.
Penyusunan LKPJ AMJ merupakan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kepala Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) Kepada Masyarakat.
Sesuai dengan Pasal 24 PP Nomor 3 Tahun 2007 tersebut, LKPJ AMJ Kepala Daerah merupakan ringkasan LKPJ Tahun Anggaran 2008-2010 ditambah dengan LKPJ sisa masa jabatan yang belum dilaporkan. Dengan demikian LKPJ AMJ Gubernur DIY merupakan ringkasan LKPJ Gubernur DIY Tahun 2008, 2009, 2010 dan 2011 serta sisa masa jabatan tahun 2012.
Program kegiatan yang dilaksanakan selama kurun waktu 2008-2012 disusun dengan acuan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2003 tentang Rencana Strategis Daerah (Renstrada) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2004-2008 dan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJPD) Tahun 2005-2025 serta Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2009–2013.
Pengelolaan keuangan daerah yang merupakan salah satu indikator good governance, opini dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi DIY menunjukkan kinerja yang membaik dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2010 dan 2011 Pemerintah Provinsi DIY mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), yang tahun-tahun sebelumnya hanya mendapatkan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Hal tersebut dicapai berkat kerjasama dan kecermatan seluruh aparatur Pemerintah Provinsi DIY. Secara khusus kami memberikan apresiasi atas semua pihak yang telah memberikan kontribusi.
Berbagai keberhasilan yang telah dicapai tidak terlepas berkat buah pikiran dan kerjasama seluruh pemangku kepentingan dalam melaksanakan pembangunan di DIY yang tidak kenal lelah untuk terus berupaya demi peningkatan kesejahteraan
masyarakat DIY. Kami menyadari, masih terdapat beberapa permasalahan yang perlu segera diatasi dan dibenahi bersama.
Akhirnya, saran dan masukan konstruktif sangat diharapkan dalam rangka perwujudan penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik di masa-masa yang akan datang. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa memberikan petunjuk dan lindungan-Nya kepada kita semua.
Terima kasih.
Yogyakarta, Agustus 2012
GUBERNUR
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
HAMENGKU BUWONO XHAMENGKU BUWONO X
HAMENGKU BUWONO X
Masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY pada saat ini diatur berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 55/P Tahun 2011. Kepres ini men- gatur tentang Perpanjangan Masa Jabatan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan KGPAA Pakualam IX sebagai Wakil Gu- bernur Daerah Istimewa Yogyakarta selama satu tahun terhitung sejak 9 Oktober 2011. Sebelumnya, masa jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY juga sudah diperpanjang yang diatur dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 86/P Tahun 2008. Kepres ini mengatur tentang Perpanjangan Masa Jabatan Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan KGPAA Pakualam IX sebagai Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta selama tiga tahun terhitung sejak 9 Oktober 2008.
Dengan
akan berakhirnya masa jabatan Gubernur pada 09 Oktober 2012 maka disusunlah Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban Akhir Masa Jabatan (LKPJ AMJ) Gubernur Provinsi DIY Tahun 2008-2012. Penyusunan LKPJ AMJ merupakan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 (PP Nomor 3 Tahun 2007) tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kepala Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) Kepada Masyarakat. Sesuai dengan Pasal 24 PP Nomor 3 Tahun 2007 tersebut, LKPJ AMJ Kepala Daerah merupakan ringkasan tahun-tahun sebelumnya ditambah dengan LKPJ sisa masa jabatan yang belum dilaporkan, dengan demikian LKPJ AMJ Gubernur DIY Tahun 2008-2012 merupakan ringkasan LKPJ Gubernur DIY Tahun 2008, 2009, 2010, dan 2011 serta LKPJ sisa masa jabatan yang belum dilaporkan (tahun 2012).A. DASAR HUKUM
Keberadaan DIY sebagai bagian NKRI tidak dapat dilepaskan dari momen penting paska Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Sesaat setelah Indone- sia memproklamirkan kemerdekaannya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII menyatakan kepada Presiden RI bahwa Daerah Kasultanan Ngayog yakarta Hadiningrat dan Daerah Kadipaten Pakualaman menjadi wilayah Negara RI. Daerah Kasultanan Ngayogyakarta kemudian bergabung menjadi satu kesatu- an yang dinyatakan sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI.
Pernyataan-pernyataan
di atas disebutkan dalam:1. Piagam Kedudukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 19 Agustus 1945 dari Presiden RI;
2. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 5 September 1945 (dibuat secara terpisah);
3. Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal
PENDAHULUAN
Setelah pernyataan menggabungkan diri di atas, pada tanggal 6 September 1945 Pemerintah Pusat menyampaikan Piagam Kedudukan yang merupakan pengakuan dan penetapan sebagai jawaban atas amanat tersebut. Dengan latar belakang tersebut, keunikan pengalaman Yogyakarta merupakan salah satu fakta yang menjadikannya sebagai Daerah Istimewa.
Sejarah kedudukan keistimewaan men unjukkan bahwa sejak awal penggabungannya kedalam NKRI, DIY telah memiliki perhatian, komitmen, dan dukungan yang besar atas berdirinya Negara Republik Indonesia sebagai tonggak sejarah Indonesia secara keseluruhan. Pengalaman sejarah telah membuktikan bahwa DIY merupakan pusat perjuangan dimana berbagai peristiwa penting dalam perintisan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan NKRI terjadi, bahkan pernah menjadi Ibukota Negara yaitu pada tanggal 4 Januari 1946—27 Desember 1949.
Eksistensi DIY sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam NKRI secara formal diatur dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta. Undang-Undang ini pada saat yang sama juga merupakan pengakuan kewenangan untuk menangani berbagai urusan dalam menjalankan pemerintahan serta urusan yang bersifat khusus. Undang-undang ini telah diubah dan ditambah, terakhir kali dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1955 (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1819) yang sampai saat ini masih berlaku. Undang-undang tersebut menyatakan bahwa DIY merupakan daerah setingkat provinsi dan meliputi bekas Daerah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Daerah Kadipaten Pakualaman.
Berdasarkan Amandemen Kedua UUD 1945, eksistensi DIY sebagai daerah istimewa diakui dan dihormati secara tegas sebagaimana tercantum dalam Pasal 18B ayat (1) dan (2), yang berbunyi:
1. Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan Undang- undang.
2. Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Dalem. Di tempat inilah pada zamannya diselenggarakan kegiatan pemerintahan sehari- hari kerajaan. Sejak tahun 1945 kantor Perdana Menteri Kesultanan Yogyakarta ini menjadi kompleks kantor Gubernur/Kepala Daerah Istimewa Istimewa Yogyakarta.
foto: Agus Yuniarso (http://www.flickr.com/photos/agusyr/), teks: wikipedia
Pemerintahan Daerah, sebagaimana dinyatakan dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, khususnya Pasal 2 ayat (8) dan (9).
Terkait dengan kepemimpinan di daerah, dalam hal ini kepemimpinan di tingkat provinsi, saat ini Gubernur dan Wakil Gubernur dijabat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paduka Paku Alam IX. Sri Sultan Hamengku Buwono X pada saat ini juga merupakan pemimpin Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sedangkan Sri Paduka Paku Alam IX adalah pemimpin Kadipaten Pakualaman. Keduanya memainkan peran yang menentukan dalam memelihara nilai-nilai budaya dan adat istiadat Jawa, serta merupakan pemersatu masyarakat Yogyakarta, dengan demikian maka keduanya merupakan dwi-tunggal yang menjunjung kepemimpinan hamemayu hayuning bawana.
Hamemayu Hayuning Bawana mengandung makna sebagai kewajiban melindungi, memelihara, serta membina keselamatan dunia dan lebih mementingkan berkarya untuk masyarakat daripada memenuhi ambisi pribadi. Dunia yang dimaksud mencakup seluruh perikehidupan, baik dalam skala kecil (keluarga) maupun dalam skala lebih besar mencakup masyarakat dan lingkungan hidupnya, dengan mengutamakan darma bakti untuk kehidupan orang banyak, tidak mementingkan diri sendiri.
Mengakhiri masa jabatan selama empat tahun terhitung sejak perpanjangan jabatan tahun 2008, Gubernur selaku Kepala Daerah menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Akhir Masa Jabatan (LKPJ AMJ) Gubernur DIY 2008-2012.
LKPJ AMJ 2008-2012 disusun berdasarkan:
1. Undang-undang No. 3 Tahun 1950, tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta jo. Undang-undang Nomor 19 Tahun 1950, tentang Perubahan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1950 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1950 sebagaimana telah diubah dan ditambah terakhir dengan Undang - undang Nomor 26 Tahun 1959;
2. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
3. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
4. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
5. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006, tentang Pelaporan dan Kinerja Keuangan Daerah;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Masyarakat;
8. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 86/P Tahun 2008 mengenai Perpanjangan Masa Jabatan Gubernur DIY;
9. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 55/P Tahun 2011 mengenai Perpanjangan Masa Jabatan Gubernur DIY;
10. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 yang disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
11. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2003 tentang Rencana Strategis Daerah (Renstrada) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2004-2008;
12. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJPD) Tahun 2005-2025;
13. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Secara administratif,
Provinsi DIY terdiri atas empat kabupaten dan satu kota dengan 78 kecamatan dan 438 desa/kelurahan, dengan perincian:1. Kota Yogyakarta terdiri atas 14 kecamatan dan 45 kelurahan/desa;
2. Kabupaten Bantul terdiri atas 17 kecamatan dan 75 kelurahan/desa;
3. Kabupaten Kulon Progo terdiri atas 12 kecamatan dan 88 kelurahan/desa;
4. Kabupaten Sleman terdiri atas 17 kecamatan dan 86 kelurahan/desa;
5. Kabupaten Gunungkidul terdiri atas 18 kecamatan dan 144 kelurahan/desa.
1.2 Luas Wilayah
Luas wilayah Provinsi DIY adalah 3.185,80 km² atau 0,17% dari luas Indonesia (1.890.754 km²). Luasan wilayah ini menjadikan DIY sebagai provinsi dengan luas terkecil setelah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Luasan wilayah tersebut jika diperinci hingga ke tingkat kabupaten/kota adalah sebagai berikut:
1. Kota Yogyakarta, dengan luas 32,50 km² (1,02%);
2. Kabupaten Bantul, dengan luas 506,85 km² (15,91%);
3. Kabupaten Kulon Progo, dengan luas 586,27 km² (18,40%);
B. GAMBARAN UMUM DAERAH 1. Kondisi Geografis Daerah 1.1 Batas Administrasi
Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di Pulau Jawa bagian tengah, terletak antara 7º33’ -8º12’ Lintang Selatan dan 110º00’ -110º50’ Bujur Timur. Letak ini secara administratif berbatasan dengan beberapa wilayah di sekelilingnya. Bagian utara Provinsi DIY berbatasan langsung dengan Kabupaten Magelang, bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Wonogiri, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, sedangkan di bagian selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia.
Gambar 1.1
PETA ADMINISTRASI WILAYAH STUDI
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
sumber:
Single Base Map Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta yang diLayout dengan Software Berbasis Geograpich Information System (GIS)
1.3 Topografi
Luas wilayah sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, secara umum terbagi kedalam beberapa karakter topografis. Sebagian besar dari luas wilayah DIY, yaitu sebesar 65,65% wilayah terletak pada ketinggian antara 100—499 m dpl, 28,84% wilayah dengan ketinggian kurang dari 100 m dpl, 5,04% wilayah dengan ketinggian antara 500—999 m dpl, dan 0,47% wilayah dengan ketinggian di atas 1000 m dpl.
Dengan
penampang topografis sebagaimana dijelaskan di atas, wilayah DIY terbagi menjadi beberapa satuan fisiografis yang terdiri atas beberapa satuan pegunungan dan dataran rendah sebagai berikut:1. Satuan Pegunungan Selatan yang memiliki luasan wilayah sebesar ± 1.656,25 km² dan terletak pada ketinggian antara 150–700 m. Satuan pegunungan ini terletak di Kabupaten Gunungkidul (Pegunungan Seribu) yang merupakan wilayah perbukitan batu gamping (limestone) yang kritis, tandus, dan selalu kekurangan air. Sedangkan pada bagian tengah berupa dataran Wonosari basin yang merupakan bentang alam solusional dengan bahan batuan induk batu gamping. Karakteristik wilayah ini adalah memiliki lapisan tanah dangkal dan vegetasi penutup yang relatif jarang;
2. Satuan Gunung Berapi Merapi dengan luas mencapai ± 582,81 km² dan memiliki ketinggian dari 80 m hingga 2.911 m. Satuan pegunungan ini terbentang mulai dari kerucut gunung api hingga dataran fluvial Gunung Merapi yang meliputi daerah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan sebagian Kabupaten Bantul. Wilayah ini termasuk ke dalam bentang alam vulkanik. Daerah kerucut dan lereng Gunung Merapi merupakan hutan lindung dan sebagai kawasan resapan air;
3. Dataran rendah antara Pegunungan Selatan dan Pegunungan Kulon Progo seluas ± 215,62 km² dengan ketinggian 0–80 m. Dataran rendah ini terletak membentang pada bagian selatan DIY mulai Kabupaten Kulon Progo sampai Kabupaten Bantul yang berbatasan dengan Pegunungan Seribu. Bentangan dataran rendah ini merupakan alam fluvial yang didominasi oleh dataran Alluvial yang merupakan wilayah yang subur. Bentang alam lain yang belum digunakan adalah bentang alam marine dan aeolin yang merupakan satuan wilayah pantai yang terbentang dari Kabupaten Kulon Progo sampai Bantul.
Khusus Pantai Parangtritis, terkenal dengan laboratorium alamnya berupa gumuk pasir;
4. DIY juga memiliki wilayah yang disebut sebagai Pegunungan Kulon Progo dan Dataran Rendah Selatan seluas ± 706,25 km² dengan ketinggian antara 0–572 m yang terletak di Kabupaten Kulon Progo. Bagian utara merupakan lahan struktural denudasional dengan topografi berbukit yang mempunyai kendala lereng yang curam dan potensi air tanah yang kecil.
Gambar 1.2
Luas Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Menurut Kabupaten/Kota
sumber:
Badan Pusat Statistik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Diolah)
2. Gambaran Umum Demografi 2.1 Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk Provinsi DIY pada tahun 2010 menurut hasil Sensus Penduduk (SP) 2010 sebanyak 3.457.491 jiwa dengan komposisi jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki sebanyak 1.708.910 jiwa dan perempuan sebanyak 1.748.581 jiwa. Sex ratio penduduk DIY sebesar 97,73.
Tabel 1.1
Jumlah Penduduk Provinsi DIY Hasil Sensus Penduduk 2010
Kabupaten/Kota Laki-laki Perempuan Jumlah Sex Ratio
Kulon Progo 190.694 198.175 388.869 96,23
Bantul 454.491 457.012 911.503 99,45
Gunungkidul 326.703 348.679 675.382 93,70
Sleman 547.885 545.225 1.093.110 100,49
Kota Yogyakarta 189.137 199.490 388.627 94,81
DIY 1.708.910 1.748.581 3.457.491 97,73
Sumber: DIY Dalam Angka 2011, BPS Provinsi DIY
Gambar 1.3
Jumlah Penduduk Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Hasil Proyeksi SP 2010 (x 1000)
sumber:
Badan Pusat Statistik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Diolah Keterangan : *) Proyeksi SP 2010 **) Proyeksi SUPAS 2005
Penduduk
Provinsi DIY berdasarkan hasil SP 2010, selama periode 2008-2011 terjadi peningkatan jumlah. Jumlah penduduk tahun 2008 sebanyak 3.393 ribu jiwa pada tahun 2011 menjadi 3.496 ribu jiwa. Meski mengalami peningkatan jumlah, namun jika dilihat dari laju pertumbuhan penduduk selama periode tersebut dapat dikatakan relatif kecil, yaitu kurang dari 1%.Dilihat dari persebaran jumlah penduduk Provinsi DIY menurut Kabupaten/Kota tahun 2010, jumlah penduduk terbanyak berada di Kabupaten Sleman yaitu sebanyak 1.093.110 jiwa atau sebesar 31,62%. Penduduk terbanyak kedua adalah Kabupaten Bantul dengan jumlah penduduk sebanyak 911.503 jiwa atau sebesar 26,36% dan disusul oleh Kabupaten Gunungkidul pada urutan ketiga dengan jumlah penduduk sebanyak 675.382 jiwa atau sebesar 19,53%. Selanjutnya, wilayah dengan jumlah penduduk terendah adalah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Kulon Progo dengan jumlah penduduk
Laju pertumbuhan penduduk Provinsi DIY pada tahun 2010 sebesar 1,02. Dua daerah di Provinsi DIY masih memiliki laju pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi yaitu Kabupaten Sleman (1,92%) dan Kabupaten Bantul (1,55%). Laju pertumbuhan penduduk tiga daerah lainnya memiliki laju pertumbuhan penduduk yang relatif rendah yaitu Kota Yogyakarta (-0,22%), Kabupaten Gunungkidul (0,06%) dan Kabupaten Kulon Progo (0,47%).
Kepadatan penduduk di wilayah Provinsi DIY pada tahun 2010 sebesar 1.085,28 jiwa/Km2. Daerah terpadat adalah Kota Yogyakarta yaitu 11.957,75 jiwa/Km2, sedangkan kepadatan terendah adalah Kabupaten Gunungkidul yaitu 454,69 jiwa/Km2.
Secara umum, kepadatan penduduk berada pada wilayah yang relatif maju yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.
Gambar 1.5 Laju Pertumbuhan Penduduk
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Menurut Kabupaten/
Kota Tahun 2010 (%) sumber:
DIY dalam Angka 2011, BPS Provinsi DIY Gambar 1.4 Persebaran Jumlah Penduduk
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Menurut Kabupaten/
Kota Tahun 2010 (%) sumber:
DIY dalam Angka 2011, BPS Provinsi DIY
Gambar 1.6 Kepadatan Penduduk Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010 (Jiwa/Km2) sumber:
DIY dalam Angka 2011, BPS Provinsi DIY
2.2 Angkatan Kerja
Kondisi angkatan kerja adalah salah satu faktor penting yang akan menentukan kemajuan dan kemakmuran suatu daerah. Usia penduduk yang tergolong kedalam angkatan kerja adalah dari usia 15 tahun hingga 65 tahun. Komposisi penduduk pada usia ini dapat dijadikan indikator untuk melihat dinamika bidang ketenagakerjaan di suatu wilayah. Berdasarkan data tahun 2008 hingga 2012 kondisi ketenagakerjaan di DIY dapat dilihat dari tabel berikut.
Tabel 1.2
Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan di Provinsi DIY 2008-2012
Kegiatan 2008 (Agustus) 2009 (Agustus) 2010 (Agustus) 2011 (Agustus) 2012 (Februari)
Orang % Orang % Orang % Orang % Orang %
Angkatan Kerja 1.999.734 70,51 2.016.694 70,23 1.882.296 69,76 1.872.912 68,77 1.927.167 70,47 1. Bekerja 1.892.205 66,72 1.895.648 66,01 1.775.148 65,79 1.798.595 66,04 1.848.369 67,59 2. Pengangguran 107.529 3,79 121.046 4,22 107.148 3,97 74.317 2,73 78.798 2,88 Bukan Angkatan
Kerja 836.444 29,49 855.025 29,77 815.838 30,24 850.717 31,23 807.579 29,53
1. Sekolah 284.792 10,04 308.401 10,74 279.420 10,36 282.226 10,36 - -
2. M e n g u r u s
Rumah Tangga 445.969 15,72 461.014 16,05 437.630 16,22 429.555 15,77 - -
3. Lainnya 105.683 3,73 85.610 2,98 98.788 3,66 138.936 5,10 - -
Jumlah 2.836.178 100,00 2.871.719 100,00 2.698.134 100,00 2.723.629 100,00 2.734.746 100,00
Sumber: BPS Provinsi DIY
Jumlah angkatan kerja di Provinsi DIY menurut data BPS pada Agustus 2008 sebanyak 1.999.734 orang atau sebesar 70,51% dari total penduduk Provinsi DIY berumur 15 tahun keatas. Jumlah angkatan kerja tersebut meningkat menjadi 1.872.912 orang pada tahun 2011. Dari total penduduk DIY tahun 2011, sebesar 66,04%
merupakan penduduk bekerja. Sementara itu, data ketenagakerjaan Bulan Februari tahun 2012 menunjukkan jumlah angkaran kerja sebanyak 1.927.167 orang sedangkan bukan angkatan kerja sebanyak 807.579 orang.
Gambar 1.7
Perkembangan Tingkat
Pengangguran di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 2008-2011 sumber:
Badan Pusat Statistik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Diolah
Perkembangan tingkat pengangguran di Provinsi selama periode 2008- 2011 menunjukkan kondisi yang menggembirakan yang ditandai dengan adanya kecenderungan penurunan tingkat pengangguran di Provinsi DIY. Tingkat pengangguran tahun 2008 sebesar 5,38%, sempat mengalami peningkatan pada tahun 2009 menjadi 6,00% dan tahun 2010 sebesar 5,69%. Namun pada tahun 2011 tingkat pengangguran menurun cukup signifikan menjadi 3,97%. Tingkat pengangguran Provinsi DIY tahun 2012 Bulan Februari sebesar 4,09%.
Gambar 1.8 Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia, 2005-
2010 sumber:
DIY dalam Angka 2011, BPS Provinsi DIY
Untuk mengukur kualitas sumberdaya manusia digunakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dalam pengukurunnya mencakup kualitas bidang pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan penduduk (pendapatan penduduk). Trend dari tahun 2005 sampai dengan 2010 menunjukkan bahwa IPM Provinsi DIY selalu di atas IPM Nasional. Pada tahun 2009 IPM DIY sebesar 75,23 sedangkan nasional sebesar 71,76. Untuk DIY baik pada tahun 2009 maupun 2010 menduduki posisi keempat nasional. Pada tahun 2010, IPM Provinsi DIY sebesar 75,77, mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2009, sedangkan IPM nasional 72,27.
IPM
menurut Kabupaten/Kota di Provinsi DIY tahun 2010 menunjukkan bahwa Kota ogyakarta dan Sleman memiliki IPM yang jauh lebih baik dibandingkan 3 kabupaten lainnya. IPM Kota Yogyakarta menduduki ranking pertama dengan nilai sebesar 79,52, disusul kemudian oleh Kabupaten Sleman sebesar 78,20. Tiga daerah dengan IPM yang masih rendah adalah Kabupaten Bantul (74,53), Kulon Progo (74,49) dan Gunungkidul (70,45).Tabel 1.3
IPM Menurut Komponen dan Kabupaten/Kota di Provinsi DIY, 2010
Kabupaten/Kota
Angka Harapan
Hidup (tahun)
Angka Melek Huruf (%)
Rata - rata Lama Seko- lah (tahun)
Pengeluaran Riil Per Kapita yang Disesuaikan (000
Rp)
IPM Peringkat IPM
Kulon Progo 74,38 90,69 8,20 630,38 74,49 4
Bantul 71,31 91,03 8,82 646,08 74,53 3
Gunungkidul 70,97 84,66 7,65 625,20 70,45 5
Sleman 75,06 92,61 10,30 647,84 78,20 2
Kota Yogyakarta 73,44 98,03 11,48 649,71 79,52 1
Provinsi DIY 73,22 90,84 9,07 646,56 75,77 4
Sumber: DIY Dalam Angka 2011, BPS Provinsi DIY
Jumlah penduduk menurut usia sekolah di Provinsi DIY pada tahun 2011 adalah sebanyak 571.565 orang. Berdasarkan wilayahnya, penduduk usia sekolah terbanyak terdapat di Kabupaten Sleman dan Bantul, yaitu masing-masing sebanyak 159.260 orang (27,86%) dan 140.751 orang (24,63%). Sedangkan wilayah dengan penduduk usia sekolah paling sedikit adalah Kabupaten Gunungkidul dengan jum- lah 71.001 orang atau 12,42% dari total jumlah penduduk usia sekolah di DIY.
Tabel 1.4
Jumlah Penduduk Usia Sekolah Menurut Wilayah di Provinsi DIY, 2011
No. Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Menurut Usia Sekolah
7 - 12 13 - 15 16 - 18 Jumlah %
1 Bantul 910.572 70.999 34.743 35.009 140.751 24,63
2 Sleman 1.084.742 77.821 36.700 44.739 159.260 27,86 3 Gunungkidul 674.408 61.119 29.012 32.136 71.001 12,42 4 Kulon Progo 388.755 34.785 16.674 19.542 122.267 21,39 5 Yogyakarta 388.088 33.263 17.182 27.841 78.286 13,70 Propinsi DIY 3.446.565 277.987 134.311 159.267 571.565 100,00 Sumber: Disdikpora Provinsi DIY
Komitmen Pemerintah Provinsi DIY untuk senantiasa meningkatkan kualitas SDM diwujudkan melalui kebijakan yang didasarkan pada pemikiran bahwa pendidikan tidak sekedar menyiapkan peserta didik agar mampu masuk dalam pasar kerja, namun pendidikan juga merupakan upaya pembangunan watak bangsa (national character building). Pembangunan watak ini diantaranya dapat berupa penanaman nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, keikhlasan, kesederhanaan dan keteladanan. Hal ini diwujudkan melalui pelaksanaan berbagai program pembangunan di Provinsi DIY yang mendukung kegiatan pengajaran dan pendidikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Dengan dilaksanakannya program-program pembangunan, pelayanan pendidikan sudah mulai menjangkau daerah terpencil, dengan dibangunnya beberapa sekolah di daerah tersebut.
Terwujudnya pendidikan yang bermutu melalui berbagai program Pemerintah Provinsi DIY dapat dinilai menggunakan tolok ukur angka partisipasi. Angka partisipasi yang terdiri dari Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) merupakan indikator kualitas pendidikan. Berikut adalah perkembangan APK dan APM dari tahun 2008-2010 di beberapa jenjang pendidikan di Provinsi DIY.
Tabel 1.5
Perkembangan APK dan APM Menurut Jenjang Sekolah di Provinsi DIY (2008-2011)
APK DAN APM 2008 2009 2010 2011
APK SD/MI 108,82 111,44 111,45 111,43
APK SMP/MTs 114,98 115,47 114,32 115,5
APK SMA/MA 81,51 87,06 88,33 88,79
APM SD/MI 94,73 96,65 97,15 97,53
APM SMP/MTs 84,64 84,78 81,05 81,08
APM SMA/MA 59,12 60,87 60,47 63,45
Sumber: Disdikpora Provinsi DIY
Selama kurun waktu 2008-2011 terjadi peningkatan APK di semua jenjang pendidikan yaitu dari jenjang SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA. Pada jenjang SD/MI APK tahun 2008 sebesar 108,82%, pada tahun 2011 menjadi 111,43%. Sementara itu pada jenjang SMP/MTs, nilai APK tahun 2008 sebesar 114,98% dan tahun 2011 mencapai 115,5%. Kondisi yang sama pada jenjang SMA/MA dimana APK tahun 2008 sebesar 81,51% menjadi 88,79% pada tahun 2011. Seperti halnya capaian APK, capaian APM selama kurun waktu 2008-2011 juga mengalani perkembangan yang positif ditandai dengan naiknya nilai APM dari tahun ke tahun khususnya pada jenjang SD/MI dan SMA/
Masalah kemiskinan merupakan problema yang membutuhkan kebijakan- kebijakan yang sifatnya solutif. Baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi DIY telah berupaya mengurangi jumlah penduduk miskin melalui program- program pengentasan kemiskinan. Banyak program penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan pemerintah dan memberikan hasil positif, setidaknya hingga tahun 2012, seperti bantuan beras miskin (raskin), asuransi kesehatan untuk keluarga miskin (askeskin), bantuan biaya pendidikan (BOS), dan lain-lain. Usaha- usaha tersebut telah menunjukkan hasil yang menggembirakan terlihat dari kecenderungan menurunnya persentase angka kemiskinan dari tahun ke tahun.
Tabel 1.6
Jumlah Penduduk Miskin di Provinsi DIY Menurut Wilayah, 2008-2012
Tahun
Kota/Urban Desa/Rural Jumlah Total
Jumlah (000)
% thd pen- duduk
Kota
Jumlah (000)
% thd pen- duduk
Desa
Jumlah (000)
% thd penduduk
Provinsi
2008 324,16 14,99 292,12 24,32 616,28 18,32
2009 311,47 14,25 274,31 22,60 585,78 17,23
2010 308,36 13,98 268,94 21,95 577,30 16,83
2011 304,34 13,16 256,55 21,82 560,88 16,08
2012* 305,89 13,13 259,44 21,76 565,32 16,05
* Bulan Maret 2012 Sumber: BPS Provinsi DIY
Jumlah penduduk miskin di Provinsi DIY pada tahun 2011 menurut data BPS se- banyak 560,88 ribu orang atau sebesar 16,08% dari total penduduk DIY. Jumlah penduduk miskin di DIY pada tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 0,75% dari tahun 2010 yang sebesar 16,83% serta tahun 2008 yang persentasenya masih mencapai 18,32%. Se- dangkan kecenderungan persebaran angka kemiskinan dari tahun ke tahun didominasi oleh kemiskinan yang tersebar di daerah pedesaan. Selama periode 2008-2011, rata-rata penduduk miskin di wilayah kota adalah 14,10% sedangkan rata-rata penduduk miskin di wilayah desa adalah 22,67%. Namun demikian, jika dilihat trendnya selama periode 2006- 2011, jumlah penduduk miskin cenderung mengalami penurunan, baik itu di wilayah kota maupun desa. Data tahun 2012 (Bulan Maret), jumlah penduduk miskin Provinsi DIY se- banyak 565,32 ribu orang atau sebesar 16,05% dari total penduduk DIY, dengan demikian angka kemiskinan tahun 2012 mengalami penurunan dibanding tahun 2011.
3. Kondisi Ekonomi
Kondisi ekonomi suatu daerah dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan suatu daerah. Adanya pertumbuhan ekonomi menunjukkan adanya peningkatan produksi di suatu daerah pada periode waktu tertentu. Adanya peningkatan produksi diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga juga terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
3.1 Potensi Unggulan Daerah
Provinsi DIY memiliki beberapa potensi unggulan yang merupakan pendukung kemandirian perekonomian di daerah. Sektor ekonomi unggulan perlu untuk dikembangkan sehingga benar-benar dapat mendorong kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Pertumbuhan ekonomi DIY didorong oleh sektor-sektor unggulan dimana sektor unggulan tersebut berkontribusi besar dalam pembentukan output di Provinsi DIY. Berikut ini adalah sektor ekonomi unggulan di Provinsi DIY:
3.1.1 Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR)
Sektor perdagangan mempunyai peran yang vital dalam menggerakkan perekonomian di daerah. Beberapa komoditi yang menjadi unggulan ekspor DIY antara lain kulit, mebel kayu, tekstil dan kerajinan. Perkembangannya ekspor di Provinsi DIY cenderung fluktuatif. Realisasi ekspor pada tahun 2008-2011 dapat dilihat dari tabel berikut.
Tabel 1.7
Nilai dan Volume Ekspor Impor Provinsi DIY, 2008-2011
Realisasi Ekspor Impor 2008 2009 2010 2011 2012
Ekspor
Nilai (juta US $) 130,30 109,00 140,00 144,00
45,30Volume (juta kg) 40,60 31,00 35,00 27,00
9,25Impor
Nilai (juta US $) 50,70 26 22 76
6,65Volume (juta kg) 8,90 5 3 2
0,76Sumber: Dinas Perindagkop & UKM Provinsi DIY (Data S.d. Maret 2012)
Meski volume dan nilai eskpor DIY cenderung fluktuatif, namun dari sisi impor terlihat perkembangan yan relatif menggembirakan yaitu adanya kecenderungan penurunan impor baik dari sisi nilai maupun nilainya. Hal ini merupakan salah satu indikasi semakin kuatnya keberadaan produk dalam negeri.
Pertumbuhan di sektor PHR salah satunya didorong oleh pariwisata. Salah satu predikat DIY adalah sebagai kota pariwisata. Keunggulan sektor pariwisata meliputi beragamnya destinasi pariwisata, tersedianya fasilitas baik berupa sarana maupun prasana aktivitas kepariwisataan hingga keberadaan kekayaan budaya di DIY. Objek wisata di daerah Provinsi DIY memang menjadi magnet yang kuat untuk menarik minat kunjungan wisatawan. DIY merupakan destinasi wisata utama di Indonesia selain Bali yang memiliki berbagai objek wisata dan khazanah kekayaan budaya.
Obyek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) di Provinsi DIY tersebar di seluruh kabupaten yang ada dalam berbagai jenis dan jumlahnya. Sampai saat ini, obyek wisata andalan DIY berdasarkan kabupaten meliputi 43 daya tarik wisata di Kota Yogyakarta, di Kabupaten Sleman terdapat daya tarik sebanyak 43, di Kabupaten Bantul sebanyak 40 daya tarik, di Kabupaten Kulon Progo terdapat 17 daya tarik wisata dan di Kabupaten
Krakal, Kebun Binatang Gembira Loka dan Monumen Yogya Kembali. Sedangkan obyek yang potensial untuk segmen wisatawan mancanegara misalnya daalah Gunung Merapi, Candi Sambisari, Candi Pawon, Kalasan dan bekas Kraton Ratu Boko. Jumlah event yang diselenggarakan di DIY kurang lebih 8.693 event. Sedangkan fasilitas pariwisata berupa hotel berbintang sejumlah 37 dan hotel melati dan pondok wisata sejumlah 1.048, serta restauran sejumlah 752 unit.
Pengembangan bidang pariwisata DIY juga didukung oleh berbagai kegiatan usaha yang sifatnya mendukung kegiatan pariwisata. Keberadaan berbagai usaha dan sarana pendukung pariwisata di atas memiliki korelasi positif dengan pertumbuhan tingkat kunjungan wisatawan. Tingkat kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Untuk mempertahankan tingkat kunjungan wisatawan, Pemerintah Provinsi DIY juga mengusahakan kegiatan kepariwisataan yang diarahkan menuju wisata minat khusus. Model wisata minat khusus ini perlu dikembangkan mengingat wisata model ini relatif kurang rentan terhadap krisis ekonomi serta menghasilkan lama tinggal (length of stay), tingkat pembelanjaan (spending) dan tingkat kunjungan ulang (repeaters) yang lebih tinggi.
Pengembangan pariwisata minat khusus ini diarahkan pada optimalisasi destinasi pariwisata yang dinilai paling potensial di masing–masing wilayah, sehingga setiap kabupaten/kota di DIY memiliki fokus pengembangan yang berbeda, misalnya;
Kota Yogyakarta diprioritaskan pada bidang heritage, Kabupaten Gunungkidul pada wisata alam/goa–gunung, Kabupaten Bantul destinasi bidang kerajinan dan religi/
mitos, Kabupaten Kulon Progo destinasi alam/bahari dan Kabupaten Sleman destinasi desa wisata. Di samping wisata minat khusus, juga diupayakan untuk meningkatkan wisata Meeting, Incentive, Conference and Exhibition (MICE) mengingat banyaknya hotel/tempat pertemuan yang mendukung pelaksanaannya.
3.1.2 Sektor Pertanian 1. Tanaman Pangan
Sektor tanaman pangan di Provinsi DIY memiliki beberapa komoditas yang dipandang potensial untuk dikembangkan. Potensi tersebut meliputi antara lain; padi, jagung dan kedelai. Dipandang potensial mengingat ketiga komoditas tersebut memiliki beberapa pertimbangan, seperti; 1) merupakan bahan pangan pokok penduduk DIY, 2) menjadi bahan baku industri, dan 3) pengusahaannya banyak menyerap tenaga kerja. Gambaran perkembangan ketiga komoditas tersebut dari tahun 2008-2012 dapat dilihat dari data berikut.
Tabel 1.8
Luas Panen Tanaman Pangan di Provinsi DIY (Ha), 2008-2012
No Komoditas 2008 2009 2010 2011 2012* Rerata Pertum- buhan (%) 1 Padi sawah 100.359 105.613 106.907 107.990 110.281 0,08 2 Padi ladang 39.808 39.811 40.151 42.837 43.606 2,34 Total padi 140.167 145.424 147.058 150.827 153.887 2,37
3 Jagung 71.164 74.563 86.837 69.768 76.187 2,70
4 Kedelai 32.514 31.666 33.572 28.988 27.275 -4,04 Sumber: BPS Provinsi DIY, * Angka Ramalan 1 2012
Tabel 1.9
Populasi Tanaman Pangan di Provinsi DIY (Kw/Ha), 2008-2012
No Komoditas 2008 2009 2010 2011 2012* Rerata Per-
tumbuhan (%)
1 Padi sawah 62,61 62,72 60,50 60,51 63,56 0,42
2 Padi ladang 42,68 44,10 44,10 44,24 47,79 2,92
Total padi 56,95 57,62 56,02 55,89 59,09 0,97
3 Jagung 40,10 42,24 39,80 41,80 46,86 4,17
4 Kedelai 10,76 12,72 11,39 11,31 12,14 3,60
Sumber: BPS Provinsi DIY, * Angka Ramalan 1 2012
Tabel 1.10
Produksi Tanaman Pangan di Provinsi DIY (Ton) 2008-2011
No Komoditas 2008 2009 2010 2011 2012*
Rerata Per- tumbuhan
(%) 1 Padi sawah 628.321 662.368 646.816 653.434 700.966 2,84 2 Padi ladang 169.911 175.562 177.071 189.500 208.374 5,29 Total padi 798.232 837.930 823.887 842.934 909.340 1,40
3 Jagung 285.372 314.937 345.576 291.596 356.989 6,72
4 Kedelai 34.998 40.278 38.244 32.795 33.123 -0,80
Sumber: BPS Provinsi DIY, * Angka Ramalan 1 2012
Produksi
padi dari tahun 2008 hingga 2012 mempunyai kecenderungan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 2,84%. Namun demikian pada tahun 2010 terjadi penurunan produksi padi jika dibandingkan tahun 2009 yang disebabkan oleh pergeseran masa tanam dan tingginya curah hujan pada fase pembungaan padi di pertengahan tahun hingga akhir 2010. Rerata pertumbuhan padi yang positif tersebut merupakan kontribusi dari peningkatan produksi padi ladang yang cukup signifikan. Hal ini juga ditunjukkan oleh peningkatan luas panen dan produktivitas padi ladang yang terus bertumbuh. Padi ladang adalah komoditas tanaman pangan utama yang dibudidayakan oleh petani di Kabupaten Gunungkidul. Seluruh kecamatan di Gunungkidul menghasilkan padi ladang. Hal ini didukung oleh lahan di kawasan Gunungkidul yang potensial untuk pengembangan tanaman pangan lahan kering karena kesesuaian agroekosistemnya.Luas panen, produksi, dan produktivitas jagung juga tercatat cenderung meningkat dari tahun 2008 hingga tahun 2012. Peningkatan ini dikarenakan pertambahan luas panen di lahan kering. Meskipun produksi jagung pada tahun 2011 mengalami penurunan, namun berdasarkan perhitungan Angka Ramalan I, produksinya diperkirakan akan kembali meningkat pada tahun 2012, bahkan hingga melampaui pencapaian produksi pada tahun 2010.
Untuk komoditas kedelai, meskipun produksi pada tahun 2012 diproyeksikan mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2011, namun rerata pertumbuhannya dari tahun 2008 hingga 2012 justru mengalami kecenderungan penurunan sebesar 0,80%.
Hal ini dipengaruhi oleh adanya penurunan produksi yang signifikan pada tahun 2010 dikarenakan tingginya curah hujan sehingga banyak tanaman yang gagal dipanen.
Salah satu komoditas hortikultura unggulan berupa sayuran yang dihasilkan dari DIY adalah bawang merah varietas Tiron. Keunggulan bawang merah ini diantaranya tahan busuk ujung daun dan relatif tahan busuk umbi. Penanaman bawang merah Tiron berkembang luas hingga di kecamatan Sanden, Srandakan, Bambanglipuro dan Pundong. Bawang merah varietas Tiron dari Kabupaten Bantul ini juga telah dilepas sebagai varietas unggul oleh Kementerian Pertanian.
Salak Pondoh
merupakan komoditas hortikultura buah-buahan dengan nilai ekonomi tinggi yang telah berkembang di DIY, khususnya Sleman. Salak Pondoh dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di dataran rendah sampai pada ketinggian 900 meter di atas permukaan laut yang berarti sesuai dengan agroekosistem di daerah Sleman. Saat ini Salak Pondoh dikembangkan di Kecamatan Turi, Tempel dan Pakem.Pemasaran salak pondoh untuk memenuhi kebutuhan domestik di Yogyakarta maupun kota-kota besar lain di Indonesia umumnya dilakukan melalui pedagang pengumpul yang ada di masing-masing desa dengan kapasitas 6-8 ton per hari.
Sedangkan sebagai komoditas ekspor, salak pondoh telah dipasarkan hingga ke China.
Salak Pondoh yang diekspor sudah tersertifikasi Prima-3 sehingga memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan.
Tabel 1.11
Luas Panen dan Produksi Salak dan Bawang Merah di Provinsi DIY, 2008-2011
Komoditas
2008 2009 2010 2011
Luas (Ha) Prod
(Kuintal) Luas
(Ha) Prod
(Kuintal) Luas (Ha)
Prod (Kuin- tal)
Luas
(Ha) Prod (Kuintal) Salak
(satuan rumpun)
4.632.882 707.730 4.836.703 625.720 4.789.215 577.930 3.639.296 258.070
B a w a n g merah
2.164 210.420 1.628 197.628 2.027 133.658 1.271 144.070
Sumber: Dinas Pertanian Provinsi DIY
Tahun 2010 dan 2011 terdapat beberapa persoalan yang menyebabkan turunnya produksi bawang merah. Penurunan ini disebabkan oleh dampak anomali iklim yang mengakibatkan curah hujan cukup tinggi sejak triwulan III 2010, sedangkan pada tahun 2011 luas panen bawang merah menurun karena luas tanam yang berkurang karena beralih ke tanaman hortikultura lainnya. Sementara itu penurunan produksi dan produktivitas salak disebabkan oleh dampak erupsi Gunung Merapi pada triwulan IV 2010 dan dampaknya masih dirasa tahun 2011 dimana tanaman salah di sentra produksi Sleman dalam tahapan recovery tanaman terkena dampak erupsi. Produksi salak tahun 2012 diperkirakan sebesar 468.284 kuintal.
DIY juga memiliki komoditas hortikultura unggulan berupa tanaman hias. Salah satu komoditas tanaman hias unggulan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi yaitu Krisan. Hampir semua varietas Krisan yang ditanam dapat tumbuh dengan baik di dataran dengan ketinggian medium antara 400 – 700 m di DIY. Hal ini didukung oleh kemampuan daya adaptasi Krisan yang tinggi. Oleh karena itu, saat ini Krisan sedang dikembangkan di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kulon Progo.
Selain karena aspek agroekosistem yang mendukung pengembangan Krisan di DIY, potensi pengembangan Krisan juga timbul akibat adanya tarikan pasar DIY terhadap tanaman hias (bunga). DIY yang menjadi destinasi pariwisata dan merupakan tempat penyelenggaraan MICE membutuhkan tanaman hias dalam jumlah yang besar setiap bulan. Sedangkan di sisi lain, kebutuhan tanaman hias tersebut sekitar 70%
dipenuhi oleh pasokan dari luar DIY. Hal ini menimbulkan celah yang cukup besar untuk dieksploitasi melalui pengembangan Krisan.
Tanaman Krisan merupakan tanaman hias semusim yang dapat dipanen setelah tiga bulan atau sekitar 110 hari dari penanaman bibit. Ini berarti dalam setahun terdapat tiga musim tanam efektif dengan hasil panen antara 3.000 hingga 5.000 batang per minggu. Hasil ini dapat dioptimalisasi melalui intensifikasi jarak tanam serta aplikasi teknologi budidaya.
3. Peternakan
Sektor peternakan juga menjadi salah satu sektor yang potensial untuk dikembangkan di wilayah DIY. Beberapa wilayah yang menjadi sentra beberapa komoditas peternakan adalah Gunungkidul sebagai sentra penghasil sapi potong dan kambing, sedangkan Sleman terkenal sebagai sentra sapi perah. Perkembangan ketiga komoditas ini dapat dilihat dari data tahun 2008-2011 berikut.
Tabel 1.12
Populasi Ternak di Provinsi DIY (ekor), 2008-2011
No Jenis Ternak 2008 2009 2010 2011 Rerata Pertum-
buhan (%)
1 Sapi Potong 269.655 283.043 290.949 385.370 13,40
2 Sapi Perah 5.652 5.495 3.466 3.888 -9,18
3 Kambing 304.780 308.353 331.147 343.647 4,21
Sumber: Dinas Pertanian Provinsi DIY
Perkembangan
ketiga komoditas ternak tersebut cukup menggembirakan dilihat dari potensi pertumbuhannya yang dari tahun ke tahun cenderung meningkat, kecuali sapi perah. Populasi sapi potong dan kambing pada tahun 2011 mengalami peningkatan dari tahun 2010, 2009 dan 2008. Hal ini berkaitan erat dengan sejumlah kegiatan yang mendukung peningkatan populasi, seperti bantuan sosial sapi potong dan ternak kambing baik dari anggaran APBD Provinsi maupun APBN.Populasi sapi perah pada tahun 2010 mengalami penurunan dari tahun 2009, sebesar 36,92%, hal ini disebabkan karena dampak awan panas erupsi Merapi disentra populasi sapi perah Kabupaten Sleman sehingga menyebabkan banyak ternak yang mati.
Pada tahun 2011 dengan berbagai upaya pemulihan populasi sapi perah meningkat menjadi 3.888 ekor.
4. Kehutanan
Hutan negara di Provinsi DIY seluas 18.715,0640 ha atau hanya sekitar 5,87% dari total luas seluruh provinsi yaitu 3.185,18 km
2.Dari luasan tersebut, kawasan hutan yang dikelola oleh Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan Yogyakarta sebagai UPTD Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi DIY seluas 16.358,6 ha yang terdiri dari Hutan Produksi (HP) seluas 13.411,70 ha, Hutan Lindung (HL) seluas 2.312,80 ha, dan Hutan Konservasi (Taman Hutan Raya) seluas 634,10 ha.
Penutupan
vegetasi pada wilayah hutan Balai KPH Yogyakarta terdiri dari beberapa jenis antara lain jati, kayu putih, sonokeling, pinus, kenanga, mahoni, kemiri, gliricidea, akasia, murbei, dan bambu dengan luas yang bervariasi. Namun demikian diantara keseluruhan jenis yang ditanam, hanya jati dan kayu putih saja yang ditanam dalam luasan yang besar kerana jenis lain hanya dengan luasan kecil dan bersifat sporadis. Hal ini berarti hutan DIY memiliki potensi kayu dan non kayu yang cukup tinggi.Produksi hasil hutan kayu berupa kayu bulat baik jenis jati maupun rimba belum semuanya dilakukan secara langsung dalam pengelolaan hutan. Produksi kayu bulat ini pada dasarnya dari tebangan tak tersangka akibat adanya kegiatan yang membutuhkan pembukaan lahan atau akibat adanya pencurian yang barang buktinya dapat diselamatkan, kebakaran, dan bencana alam. Oleh karena itu, potensi unggulan
Yogyakarta. Potensi tanaman kayu putih ini tersebar pada lima Bagian Daerah Hutan (BDH), yaitu BDH Karangmojo dengan luas 2.267,6 ha, BDH Playen dengan luas 1.616,37 ha, BDH Paliyan seluas 403,3 ha, BDH Kulon Progo-Bantul seluas 286,45 ha, dan BDH Panggang seluas 30 ha.
Tanaman kayu putih dipungut daunnya untuk bahan baku lima unit Pabrik Minyak Kayu Putih (PMKP), yaitu PMKP Sendangmole (BDH Playen), PMKP Gelaran (BDH Karangmojo), PMKP Dlingo, PMKP Kediwung, dan PMKP Sermo (BDH Kulon Progo- Bantul). Pada tahun 2011 kawasan hutan kayu putih di BDH Kulon Progo seluas 68 ha telah dialihkan menjadi Kawasan Konservasi dengan fungsi Suaka Margasatwa seluas 63 ha sehingga kayu putih pada Suaka Margasatwa ini tidak dapat dipungut. Hal ini juga berarti PMKP Sermo tidak memproduksi minyak kayu putih lagi sejak tahun 2011.
Pemanfaatan kayu putih ini telah lama dikelola secara kemitraan dengan masyarakat sekitar kawasan hutan. Pemungutan daun kayu putih dilaksanakan oleh pesanggem penggarap tanah yang kemudian diberikan kompensasi berupa upah pungutan. Selain itu, masyarakat sekitar hutan juga diberi kesempatan untuk melakukan tumpangsari di hutan kayu putih. Pemungutan daun kayu putih ini juga dilaksanakan dengan memperhatikan kaidah konservasi.
Produksi minyak kayu putih selama periode 2008-2011 selengkapnya disajikan dalam tabel berikut :
Tabel 1.13
Produksi Minyak Kayu Putih (Liter, 2008-2011)
No Unit Pabrik 2008 2009 2010 2011 Rerata Per-
tumbuhan %
1 Sermo 260 251 260 - -33,30
2 Kediwung 424 415 423 330 -7,39
3 Dlingo 770 737 846 876 4,68
4 Gelaran 22.267 22.325 24.207 22.490 0,53
5 Sendangmole 17.160 17.353 17.616 21.261 7,78
Jumlah 40.881 41.082 43.352 44.957 3,24 Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi DIY
Rata-rata pertumbuhan produksi minyak kayu putih selama 2008-2011 sebesar 3,24%. Selain itu, sumbangan produksi minyak kayu putih terhadap Pendapatan Asli Dae- rah (PAD) Provinsi DIY cukup siginifikan. PAD yang berasal dari penjualan minyak kayu putih pada tahun 2011 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2010, yaitu dari Rp.5.028.309.000,- menjadi Rp.6.110.306.400,- atau sebesar 21,52%.
5. Perkebunan
Berdasarkan kondisi saat ini, lahan yang berpotensi untuk dikembangkan seluas 176.000 ha. Dengan sistem pengusahaan perkebunan yang hampir secara keseluruhan dilaksanakan oleh petani dalam bentuk perkebunan rakyat, memungkinkan dilaksanakannya pengembangan komoditas tanaman perkebunan, terutama untuk tanaman semusim melalui pola perguliran tanaman. Agribisnis perkebunan ini telah menumbuhkan sentra-sentra produksi komoditas perkebunan yang selanjutnya dikembangkan melalui penanaman dan atau pengutuhan populasi tanaman sesuai skala ekonomis usaha di tingkat lokasi melalui rehabilitasi dan intensifikasi. Operasionalisasinya dengan mengembangkan kebersamaan usaha perkebunan dalam satu wilayah secara kelompok atau koperasi dengan bermitra usaha dengan pihak lain yang lebih menguntungkan dalam pendekatan agribisnis utuh, berdaya saing dan berkelanjutan.
Potensi
unggulan subsektor perkebunan yang dimiliki oleh Provinsi DIY adalah kelapa, kopi, jambu mete, kakao, tembakau, dan tebu. Sentra produksi kelapa, kakao, dan jambu mete berada di Kabupaten Kulon Progo danGunungkidul. Sedangkan sentra komoditas kopi berada di Kabupaten Sleman.Tabel 1.14
Produksi Komoditas Perkebunan Provinsi DIY Tahun 2008-2011
No. Komoditas
Produksi (ton)
Rata-rata Pertumbu- han (%)
2008 2009 2010 2011
1 Kelapa 52.792,53 53.108,22 56.753,90 55.317,77 1,64
2 Kopi 433,82 417,04 399,99 388,05 -3,65
3 Jambu mete 707,68 704,69 408,32 385,90 -15,99
4 Kakao 1.184,46 1.193,43 1.333,69 1.260,22 2,33
5 Tebu 15.785,31 18.089,14 17.031,34 17.262,20 3,37
Jumlah 70.903,80 73.512,52 75.927,24 74.614,14 1,74 Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi DIY
Produksi komoditas perkebunan unggulan di DIY untuk masing-masing komoditas cenderung meningkat, kecuali jambu mete dan kopi yang produksinya menurun karena dampak anomali iklim. Rata-rata pertumbuhan total dari komoditas unggulan tersebut dari tahun 2008 hingga 2011 terhitung sebesar 1,74%.
6. Kelautan dan Perikanan
Provinsi DIY memiliki wilayah pantai sepanjang ± 113 km yang meliputi tiga wilayah kabupaten yaitu Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo dengan potensi ikan yang dapat dihasilkan secara lestari mencapai 320.600 ton per tahun, sedangkan di Samudra Hindia potensi lestarinya sebesar 906.340 ton per tahun.
Potensi serta pemanfaatan sumberdaya melalui perikanan tangkap masih terus dioptimalkan melalui pengembangan pelabuhan perikanan di Sadeng dan Glagah yang diharapkan mampu meningkatkan produksi perikanan tangkap khususnya komoditas tuna yang menjadi produk unggulan baik untuk pasar lokal maupun pasar luar negeri.
Penangkapan
yang selama ini dilakukan sudah melebihi 12 mil ke arah laut sesuai dengan kemampuan perahu yang sudah menggunakan kapal di atas 10 GT. Namun demikian, sebagai upaya optimalisasi produksi perikanan tangkap, maka telah dilakukan pengadaan kapal 30 GT yang nantinya diharapkan akan memiliki daerah operasi yangyang akan mengoperasionalkan kapal 30 GT tersebut.
Potensi ikan yang dapat diusahakan/dihasilkan dari perikanan budidaya sebesar lebih kurang 38.700,29 ton per tahun dengan luas lahan potensial lebih kurang 18.129,3 ha. Garis pantai yang cukup panjang dengan topografi lahan yang landai serta didukung oleh tersedianya air tawar dan air laut yang berkualitas menjadikan lahan pesisir juga dapat digunakan untuk kegiatan budidaya, baik untuk kegiatan pembesaran ikan/udang, maupun untuk usaha pembenihan/hatchery. Potensi sumberdaya lahan pesisir yang dapat dikembangkan untuk usaha budidaya tambak maupun kolam budidaya (terpal) seluas lebih kurang 650 Ha dengan potensi produksi kurang lebih sebesar 13.000 ton per tahun.
Tabel 1.15
Capaian Subsektor Kelautan dan Perikanan, 2008-2011
No Uraian Satuan 2008 2009 2010 2011
Rerata Pertum- buhan
(%)
1 Produksi Ton 17.764,60 25.205,80 43.938,98 49.524,00 42,97
- Perikanan Budidaya Ton 14.736,70 20.105,40 39.032,98 44.524,00 48,21 - Perikanan Tangkap Ton 3.027,90 5.100,40 4.906,00 5.000,00 22,18 2 Ikan Masuk Ton 26.977,00 44.564,80 39.526,26 41.553,10 19,67
3 Ikan Keluar Ton 1.793,80 2.765,40 7.483,93 5.017,8 63,95
4 Konsumsi Ikan kg/kap/th 17,03 19,38 22,06 23,01 10,64
5 Pendapatan Rp/bulan
- Nelayan 1.850.000 1.942.500 1.868.685 1.150.000 -12,42 - Pembudidaya ikan 1.076.000 1.284.000 1.716.000 1.100.000 5,69 - Pengolah 1.980.000 2.090.000 2.403.500 2.332.320 5,86 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY
Data Tabel 1.15 menunjukkan perkembangan positif dari sektor perikanan yang antara lain dapat dilihat dari peningkatan produksi perikanan dari tahun ke tahun.
Produksi perikanan dari tahun 2008 hingga 2011 rata-rata meningkat sebesar 42,97%.
Capaian produksi perikanan pada tahun 2010 melonjak hingga 74% menjadi 43.939,98 ton. Dinamika yang cukup menggembirakan juga dapat dilihat dari pertumbuhan jumlah ikan yang keluar dari DIY sebesar 63,95% walaupun jumlah ikan yang masuk juga masih bertumbuh rata-rata sebesar 19,67%. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap ikan di Provinsi DIY semakin meningkat. Selain itu, ditilik dari tingkat pendapatan pembudidaya dan pengolah ikan yang rata-rata pertumbuhannya sekitar 5% dapat juga mengindikasikan betapa sektor perikanan dan kelautan merupakan bidang yang memiliki potensi besar untuk berkembang pesat pada masa yang akan datang.
Produksi perikanan di Provinsi DIY lebih didominasi oleh hasil perikanan budidaya. Perkembangan produksi perikanan budidaya meliputi budidaya tambak, kolam, sawah, karamba, jaring apung dan telaga. Peningkatan produksi maupun nilai produksi perikanan budidaya menggambarkan bahwa minat masyarakat terhadap perikanan budidaya semakin tinggi, serta dipengaruhi oleh harga pasar. Pelaksanaan kegiatan intensifikasi dan rehabilitasi budidaya ikan air tawar dengan prioritas pada komoditas unggulan yang mempunyai nilai lebih pada sistem produksi dan pemasaran.
Komoditas unggulan di Provinsi DIY yang telah ditetapkan yaitu udang (galah, lobster tawar, vaname, windu/penaide), nila, gurami, dan lele (patin, lele dumbo, lele lokal). Pembinaan dan pengembangan perikanan melalui pendekatan kelembagaan dilaksanakan dengan mengutamakan pembudidaya ikan yang tergabung dalam wadah kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) dan juga menumbuhkan kelompok-kelompok baru sehingga diharapkan dengan cara usaha bersama akan lebih berdaya dan lebih mampu bersaing.
Dalam rangka optimalisasi produksi perikanan budidaya, Provinsi DIY telah mengembangkan Kawasan Sentra Produksi Perikanan (KSPP). Pengembangan KSPP juga untuk mengakomodasi kecamatan sebagai pusat pertumbuhan. KSPP tersebut diharapkan akan menjadi tempat konsentrasi usaha, pengaturan produksi pasar, pembinaan teknis, penyediaan sarana produksi, dan pengembangan kemitraan.
Untuk mendukung percepatan pembangunan ekonomi di sektor kelautan dan perikanan, pemerintah membangun konsep minapolitan. Konsep minapolitan adalah konsep pengembangan bidang perikanan dengan memfokuskan pengembangan sektor kelautan dan perikanan dari hulu ke hilir dalam sebuah kawasan. Konsep minapolitan di wilayah Provinsi DIY diterapkan di Kabupaten Gunungkidul. Gunungkidul merupakan salah satu kawasan prioritas pengembangan minapolitan nasional yang untuk skala nasional secara keseluruhan berjumlah 41 kabupaten/kota. Dipilihnya Kabupaten Gunungkidul untuk menyandang status minapolitan nasional tidak dapat dilepaskan dari posisi strategis sejumlah kecamatan di Gunungkidul yang berada di tepi pantai, misalnya Kecamatan Panggang, Saptosari, Tanjungsari, Tepus, dan Girisubo.
7. Jogja Seed Centre (JSC)
Gagasan untuk meraih peluang menjadi pusat perbenihan melalui kegiatan unggulan Pengembangan JSC didukung oleh keberadaan beberapa lembaga perbenihan yang dimiliki DIY. Lembaga Perbenihan tersebut meliputi Balai Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikiltura (BP2TPH) dan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertanian (BPSBP), serta Balai Pengembangan Bibit, Pakan Ternak dan Diagnostik Kehewanan (BPBPTDK) untuk sektor pertanian, Balai Pengembangan Perbenihan dan Percontohan Kehutanan dan Perkebunan (BP3KP), Balai Sertifikasi Pengawasan Mutu Benih dan Proteksi Tanaman Kehutanan dan Perkebunan (BSPMBPTKP) untuk subsektor perkebunan, dan Balai Pengembangan Teknologi Kelautan dan Perikanan (BPTKP) untuk sektor perikanan.
JSC dirancang
untuk menjadi pusat informasi perbenihan yang memberikan layanan secara utuh tentang berbagai aktivitas perbenihan (pertanian, peternakan, kehutanan, perkebunan, perikanan), termasuk zonasi komoditas benih/bibit, pelaku usaha, dan aktivitas pemasaran baik yang dilakukan secara online maupun penjualan langsung.Melalui fungsi ini JSC diharapkan dapat menjadi suatu paket sistem informasi perbenihan terpadu. Untuk mewujudkan tujuan ini, saat ini telah dibangun website “Jogja Seed Centre” untuk mengintegrasikan semua aktivitas perbenihan yang diharapkan dapat mengakomodasi seluruh pemangku kepentingan.
Mengingat kedudukan JSC yang sangat strategis, percepatan implementasi JSC dilakukan dengan pembentukan institusi untuk menjadi ajang koordinasi. Sebagai langkah awal JSC diwadahi dalam bentuk Sekretariat Bersama yang diatur dengan Peraturan Gubernur DIY Nomor 58 tahun 2011 tentang Pusat Perbenihan Yogyakarta.
Tugas organisasi Jogja Seed Centre atau yang kemudian diubah menjadi Jogja Benih sebagaimana termaktub dalam Pergub ini adalah sebagai koordinator dan fasilitator layanan informasi, konsultasi, diseminasi, promosi, pertemuan dan kerjasama perbenihan/perbibitan tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan, serta perikanan.
Dalam perkembangannya, untuk mengimplementasikan gagasan Jogja Benih, hingga tahun 2011 telah dilepas beberapa varietas unggulan dan spesifik Provinsi DIY, baik untuk subsektor tanaman pangan, hortikultura, perikanan dan perkebunan.
Varietas dan produksi benih/bibit yang dihasilkan tersebut meliputi benih/bibit tanaman pangan, tanaman hortikultura, peternakan, perikanan, kehutanan dan perkebunan, secara rinci sebagai berikut:
a. Pertanian
Putih Lumbu Putih, Tomat Kaliurang, Srikaya Si Nyonya, Durian Menoreh Kuning, Durian Menoreh Jambon, Mangga Malam, Buah Naga Sabila Merah dan Sabila Putih; tanaman pangan (Padi Gogo Segreng, Padi Gogo Segreng Handayani dan Mendel Handayani;
Kedelai Hitam Malika). Sementara itu varietas yang berpotensi untuk dilepas adalah:
Bawang Merah Crok Kuning, Temulawak Imogiri, Durian Promasan, Pisang Raja Bagus, Melon Melody Gama, Melon Gama Basket.
Produksi benih tanaman pangan mengalami kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Produksi benih padi pada tahun 2011 sejumlah 2.519,22 ton atau mengalami peningkatan 132,38% dibandingkan tahun 2010 yang berjumlah 1.084,08 ton. Produksi benih jagung sejumlah 121.139 ton juga mengalami peningkatan 18,6%
dibandingkan tahun 2010 sejumlah 102.145 ton.
b. Kehutanan dan Perkebunan
Pada sektor kehutanan dan perkebunan dalam mendukung JSC diwujudkan melalui kegiatan pembuatan bibit tanaman kehutanan dan perkebunan. Kegiatan pembuatan bibit tanaman kehutanan yang dilakukan di persemaian Bunder berupa penyediaan bibit yang akan dipergunakan untuk kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan, diperbantukan pada instansi, dan kelompok tani/masyarakat untuk perluasan tanaman baik di kawasan hutan rakyat, masyarakat, maupun hutan negara. Pembuatan bibit tanaman kehutanan mengalami kecenderungan meningkat. Pada tahun 2009 kegiatan pembuatan bibit tanaman kehutanan di persemaian di Bunder sebanyak 725.000 batang. Sedangkan pada tahun 2010 bibit yang dibuat sejumlah 635.000 batang dan meningkat lagi menjadi 651.500 batang pada tahun 2011. Kegiatan pembibitan tanaman perkebunan yang sudah dilakukan antara lain berupa sertifikasi bibit unggul perkebunan, pemurnian tembakau, pemilihan pohon induk kelapa, serta observasi dan identifikasi potensi kelapa dalam.
c. Perikanan
Pada sektor perikanan, Pemerintah Provinsi DIY terus berusaha untuk meningkatkan peran Balai Benih Ikan (BBI)/Budidaya Air Tawar (BAT) agar menjadi BBI/BAT sentral.
Saat ini terdapat empat BBI yaitu: BBI Cangkringan, BBI Bejiharjo, BBI Sendangsari dan BBI Wonocatur. Untuk produksi dari BBI dan Unit Pembenihan Rakyat Binaan pada tahun 2009-2010 telah terjadi peningkatan produksi dari total telur ikan pada 2009 sebanyak 124.720 butir meningkat drastis hingga 15.570.294 butir. Sementara itu dari sisi benih juga terjadi peningkatan yang cukup signifikan dimana produksi benih ikan pada tahun 2009 sebanyak 3.849.640 ekor menjadi 12.467.465 ekor pada tahun 2010 atau mengalami peningkatan hingga 224%. Sedangkan produksi benih ikan pada tahun 2011 kembali mengalami peningkatan, yaitu sejumlah 28.950.350 atau meningkat sebesar 132,21% dibanding tahun sebelumnya.
3.1.3 Sektor Industri Pengolahan
Sektor industri sebagai salah satu penggerak perekonomian di DIY memiliki nilai yang sangat strategis dalam mewujudkan kemandirian perekonomian daerah. Saat ini di DIY terdapat beragam unit usaha dibidang industri yang meliputi industri pangan, sandang dan kulit, kimia dan bahan bangunan, logam dan elektronika, dan industri kerajinan. Unit usaha tersebut mengalami pertumbuhan yang cukup menggembirakan dilihat dari pertambahan unit usaha.
Selama tahun 2008-2011
, terjadi peningkatan jumlah unit usaha Industri Kecil, Menengah dan Besar (IKMB) di Provinsi DIY. Jumlah unit usaha IKMB pada tahun 2008 sebanyak 76.267 unit, mengalami peningkatan hingga pada tahun 2011 menjadi 80.056 unit. Sektor industri memiliki peranan yang cukup besar dalam penyerapan tenaga kerja. Serapan tenaga kerja ini meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahunGambar 1.9
Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Provinsi DIY, 2008-2012 orang pada tahun 2009 dan tahun 2010 dapat menyerap tenaga kerja sejumlah 292.625 orang. Sementara itu, jumlah tenaga kerja yang terserap dalam industri IKM pada tahun 2011 sebanyak 295.461 orang. Perkembangan yang positif juga terjadi pada indikator lain seperti nilai inverstasi, nilai produksi dan juga nilai bahan baku.
Tabel 1.16
Potensi Industri IKM Provinsi DIY, 2008-2011
No Uraian Satuan 2008 2009 2010 2011
1. Unit Usaha Unit
Usaha
76.267 77.851 78.122 80.056
2. Tenaga Kerja Orang 273.621 291.391 292.625 295.461
3. Nilai Investasi Rp. 000 769.274.520 871.110.097 878.063.496 1.003.678.054 4. Nilai Produksi Rp. 000 2.800.904.707 2.325.582.931 2.821.218.797 3.053.031.164 5. Nilai Bahan Baku Rp. 000 1.258.224.448 1.251.173.034 1.358.293.612 1.352.479.088 Sumber: Dinas Perindagkop & UKM Provinsi DIY
Selain produk-produk sebagaimana disebutkan sebelumnya, Provinsi DIY memiliki potensi untuk berkembang menjadi pusat industri kreatif. Industri kreatif di Provinsi DIY yang cukup potensial meliputi fashion, kerajinan, layanan komputer dan piranti lunak, serta permainan interaktif.
Tabel 1.17
Potensi Industri Kreatif Provinsi DIY
No Cabang Industri
Unit Usaha (Unit)
Tenaga Kerja (orang)
Nilai Investasi
(Rp.000) Nilai Produksi (Rp. 000)
Nilai Bahan Baku/Bahan Pe- nolong (Rp. 000)
1 Desain 33 277 2.109.600 7.006.100 2.085.400
2 Fesyen 5.505 26.186 137.289.551 463.000.535 229.601.765
3 Kerajinan 27.984 114.548 392.492.753 1.222.695.444 490.153.396 4 Layanan komputer
dan Piranti Lunak 347 1.338 2.056.260 6.469.775 2.692.396
5 Permainan Interaktif 13 39 70.550 1.139.450 924.808
Jumlah 33.882 142.388 534.018.714 1.700.311.304 725.457.765 Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Provins DIY
3.2 Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Provinsi DIY selama 2008-2011 cenderung mengalami kenaikan.
Rata-rata pertumbuhan ekonomi selama 2008-2011 sebesar 4,87% per tahun. Angka pertumbuhan ekonomi di Provinsi DIY tahun 2008-2011 berturut-turut sebesar 5,03%, 4,43%, 4,88% dan 5,16%. Sampai dengan triwulan II tahun 2012, pertumbuhan ekonomi Provinsi DIY sebesar 5,79%.