Sumber: BKPM Provinsi DIY
13 URUSAN KETAHANAN PANGAN
Permasalahan dan solusi Permasalahan
1. Rendahnya keterampilan dan keahlian pencari kerja, sehingga sulit bersaing di pasar kerja, baik di tingkat lokal, daerah, maupun luar negeri, dan menyebabkan sulitnya penempatan. Disamping itu berkurangnya SDM/tenaga instruktur karena pensiun.
2. Jumlah kesempatan kerja tidak sebanding dengan jumlah angkatan.
3. Produktivitas tenaga kerja yang relatif masih rendah membuat banyak kesempatan kerja lokal justru diisi tenaga kerja luar daerah.
4. Masih adanya pengusaha dan pekerja yang kurang bisa memahami hak dan kewajibannya masing‐masing sehingga masih sering terjadi pemutusan hubungan kerja secara sepihak.
5. Kurangnya fungsi pemberdayaan masyarakat (community development) maupun tanggung jawab sosial (social responsibility) dari perusahaan, sehingga penerimaan magang di perusahaan belum dapat maksimal.
Solusi
Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk mengatasi beberapa permasalahan tersebut di atas, antara lain:
1. Mengupayakan peningkatan kualitas/kompetensi melalui pelatihan‐
pelatihan di lembaga pelatihan kerja Pemerintah (BLK) dan swasta (LPKS), melalui perbaikan kualitas BLKPP dan BLK sehingga perlu untuk direvitalisasi dengan sungguh sungguh agar lulusan pelatihan BLKPP dan BLK lebih berdaya saing. Selain itu pemberdayaan LPK termasuk akreditasi LPK secara berkelanjutan dilakukan agar terjadi sinergi antara pemerintah dan swasta dalam penanganan pengangguran, khususnya dalam hal peningkatan kualitas ketrampilan pencari kerja. Dalam rangka menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai yang dibutuhkan pasar kerja, maka BLKPP menyiapkan Tempat Uji Kompetensi (TUK). Untuk memenuhi kebutuhan SDM di lembaga pelatihan kerja secara berkesinambungan perlu adanya kaderisasi secara dini.
2. Secara berkelanjutan melakukan kegiatan‐kegiatan yang dapat membuka perluasan kesempatan kerja, serta pelatihan pelatihan kewirausahaan.
3. Memantau atau mengukur produktivitas kerja dan terus mengupayakan pelatihan peningkatan produktivitas.
4. Perlu sosialisasi, implementasi dan penegakan hukum bidang ketenagakerjaan.
5. Mengembangkan jejaring pemagangan agar semakin banyak perusahaan dapat menerima peserta magang yang nantinya dapat berlanjut pada ikatan kerja permanen atau setidaknya para peserta magang dapat memperoleh pengalaman kerja yang sangat berharga yang dapat dipergunakan untuk memasuki pasar kerja.
13 URUSAN KETAHANAN PANGAN
Pembangunan ketahanan pangan diarahkan pada kemampuan penyediaan pangan yang aman dikonsumsi bagi seluruh masyarakat DIY secara berkesinambungan dengan harga yang terjangkau yang meliputi aspek
Ketersediaan pangan di Provinsi DIY tercermin pada ketersediaan energi dan protein. Selama kurun waktu 2008‐2011, baik ketersediaan energi maupun protein menunjukkan peningkatan. Ketersediaan energi pada tahun 2008 sebesar 3.558 kkal/kapita/hari kemudian pada tahun 2011 menjadi 3.715 kkal/kapita/hari.
Demikian pula halnya dengan ketersediaan protein dari 85,50 gram/kapita/hari pada tahun 2008 menjadi 100,47 gram/kapita/hari pada tahun 2011. Angka ketersediaan energi dan protein tahun 2008‐2011 sudah jauh di atas angka standar nasional. Angka standar nasional ketersediaan energi 2.200 kkal/kapita/hari, sedangkan angka ketersediaan protein 55 gram/kapita/hari.
Sementara itu, tingkat konsumsi penduduk Provinsi DIY tahun 2008‐2010 mengalami kenaikan, namun pada tahun 2011 terjadi penurunan. Hal tersebut dikarenakan adanya erupsi Gunung Merapi pada bulan November 2010 yang berdampak pada tingkat konsumsi masyarakat. Daya beli masyarakat juga menurun disebabkan aktivitas ekonomi produktif yang terganggu sehingga sangat mempengaruhi pendapatan masyarakat, Survey PPH tahun 2011 menunjukkan angka konsumsi energi dan konsumsi protein paling rendah di Kabupaten Sleman. Konsumsi energi penduduk Provinsi DIY pada tahun 2008 sebesar 1.765,50 kkal/kapita/hari, dan pada tahun 2011 mencapai 1.626,9 kkal/kapita/hari. Selanjutnya konsumsi protein pada tahun 2008 sebesar 49,6 gram/kapita/hari sementara pada tahun 2011 sebesar 49 gram/kapita/hari.
Keberagaman ataupun kualitas konsumsi pangan masyarakat ditunjukkan dalam bentuk Pola Pangan Harapan (PPH), dimana batas skor maksimal PPH adalah 100 dan semakin mendekati skor maksimal berarti semakin tinggi tingkat diversifikasi atau tingkat keragaman pangan optimal. Skor PPH pada tahun 2008 adalah 73,80 dan di tahun 2011 sebesar 78,20 namun demikian diversifikasi pangan di Provinsi DIY masih perlu ditingkatkan dikarenakan konsumsi bahan pangan masih didominasi oleh pangan sumber karbohidrat dan diarahkan pada pencapaian pola konsumsi masyarakat yang berimbang, beragam, bergizi dan aman. Sementara itu, dari sisi keamanan pangan, sampai dengan tahun 2011 di DIY tidak terjadi kasus keamanan pangan/keracunan pangan, namun hasil pemantauan di lapangan masih terdapat 18,57% pangan segar dan 57,06%
pangan olahan yang tidak aman beredar di pasaran.
Distribusi pangan dipengaruhi oleh produksi yang dihasilkan setempat, kelancaran pasokan antar waktu dan antar wilayah serta pemberian/hibah kepada rumah tangga yang dikatagorikan pra sejahtera. Untuk memenuhi bahan pangan yang dibutuhkan oleh setiap individu rumah tangga, secara umum telah berjalan dengan baik dan lancar. Hal ini ditunjukkan adanya distribusi antar waktu dan antar wilayah dari produksi setempat yang sudah dilaksanakan secara baik dan pasokan bahan pangan yang terselenggara dengan lancar sebagai dampak tersedianya infrastruktur dan sarana prasarana yang memadai sekaligus pemberian/hibah kepada keluarga pra sejahtera yang dapat disalurkan memadai sesuai sasaran yang ditetapkan.
Dalam rangka upaya pengendalian harga bahan pangan strategis, telah dilaksanakan fasilitasi stabilisasi harga bahan pangan dan peningkatan ketersediaan pangan setempat melalui pengembangan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM). Sementara untuk meningkatkan ketersediaan dan mendekatkan akses pangan bagi masyarakat di daerah rawan pangan dilaksanakan kegiatan Lembaga Akses Pangan Masyarakat (LAPM) termasuk fasilitasi pelaksanaan operasi pasar. Sampai dengan saat ini, sudah difasilitasi sebanyak 72 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dari target 392 Gapoktan untuk stabilisasi harga komooditas gabah/beras, jagung, kedelei dan ubi
bahan pangan di tingkat rumah tangga dan 31 gapoktan untuk peningkatan akses pangan masyarakat. Meskipun pengendalian harga ini masih belum dapat dilaksanakan secara optimal, tetapi upaya‐upaya yang sudah dilaksanakan ini dapat mengendalikan stabilisasi harga yang terjadi baik di tingkat petani selaku produsen sekaligus di tingkat konsumen.
Dalam rangka mewujudkan pemantapan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani, Penyelengaraan Penyuluhan yang efektif dan efisien sangat diperlukan. Sejak tahun 2008 sampai 2012 untuk mewujudkan penyuluhan yang efektif dan efisien telah dilaksanakan pemantapan kelembagaan penyuluhan dan kelembagaan petani.
Pemantapan kelembagaan penyuluhan dilakukan dengan revitalisasi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang sekarang dikenal dengan Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K). Sampai dengan tahun 2011, melalui sinergi antara APBD dan APBN, bantuan luar negeri dan Dana Alokasi Khusus telah dibangun 56 BPP/BP3K yang tersebar di Kabupaten/Kota se Provinsi DIY.
Untuk pemberdayaan petani dalam rangka peningkatan pendapatan, melalui sinergi antara APBN, Bantuan Bank Dunia dan APBD, telah ditumbuhkan 180 FMA (Farmer Managed Extensions Activities, atau Kegiatan Penyuluhan yang dikelola oleh petani) dan difasilitasi untuk pembelajaran sampai dengan 17 juta rupiah per tahun per FMA. Disamping itu dalam rangka tindak lanjut pembelajaran dari dana APBD memfasilitasi Bantuan Penguatan Modal pada tahun 2010 sebanyak Rp.240.000.000,‐ untuk 6 kelompok FMA dan pada tahun 2011 disediakan dana Rp.120.000.000,‐ untuk 12 kelompok FMA.
Tabel 4.30
Indikator Ketahanan Pangan di Provinsi DIY, 2008‐2012
No Indikator Satuan Tahun
2008 2009 2010 2011 2012
1. Ketersediaan pangan a. Ketersediaan
energy
Kkal/kap/hr
3.558 3.573 3.736 3.736 N/A b. Ketersediaan
protein
Gr/Kap/hr
85,50 87,59 92,88 92,88 N/A c. Pengembangan
lumbung pangan
Unit
‐ ‐ 28 29 75
d. Pengembangan Desa Mandiri
Gapoktan ‐ 20 83 150 165
b. Penguatan akses pangan
masyarakat
Gapoktan
‐ ‐ 15 5 11
c. Terwujudnya stabilisasi harga
Komoditas ‐ ‐ 4 4 N/A
3. Konsumsi
a. Konsumsi energy Kkal/kap/hr 1.765,50 1.802,60 1.809,74 1.626,9 N/A b. Konsumsi protein Gr/Kap/hr 49,60 51,35 52,27 49 N/A
2008 2009 2010 2011 2012