BAB VI KESEHATAN KELUARGA
A. Situasi Derajat Kesehatan
Meningkatnya Umur Harapan Hidup waktu lahir secara tidak langsung memberikan gambaran tentang adanya kemungkinan peningkatan kualitas hidup dan kesehatan dalam masyarakat sehingga dapat menurunkan angka kematian.
Tabel 6.19. Estimasi Umur Harapan Hidup (Eo) Provinsi Riau 2005-2019
Tahun Eo Sumber Data
2005 70,7 Indeks Pembangunan Manusia Riau 2005, BPS Riau 2006 70,8 Indeks Pembangunan Manusia Riau 2006, BPS Riau 2007 71,0 Indeks Pembangunan Manusia Riau 2007, BPS Riau 2008 71,1 Indeks Pembangunan Manusia Riau 2008, BPS Riau 2009 71,25 Indeks Pembangunan Manusia Riau 2009, BPS Riau 2010 71,40 Indeks Pembangunan Manusia Ber Indeks Pembangunan Manusia Berbasis Gender, 2011 2011 71,55 Indeks Pembangunan Manusia Ber Indeks Pembangunan Manusia Berbasis Gender, 2012 2012 71,69 Badan Pusat Statistik Indonesia, 2013
2013 71,73 Badan Pusat Statistik Indonesia, 2014 2014 70,76 Badan Pusat Statistik Indonesia, 2016 2015 70,93 Badan Pusat Statistik Indonesia, 2016 2016 70.31 Badan Pusat Statistik Indonesia, 2016 2017 70,37 Badan Pusat Statistik Indonesia, 2017 2018 70,55 Badan Pusat Statistik Indonesia, 2018 2019 70,82 Badan Pusat Statistik Indonesia, 2019
Pada tahun 2019 angka harapan hidup waktu lahir (umur harapan hidup) di Kota Dumai sebesar 70.82tahun. Bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2018, dimana angka harapan hidup waktu lahir sebesar 70.55tahun, terlihat angka harapan hidup waktu lahir Kota Dumai mengalami sedikit peningkatan. Sedangkan bila dibandingkan dengan target indikator Kota Dumai tahun 2019
Profil Kesehatan Tahun 2019...
54 yakni sebesar 71,02tahun, maka pencapaian angka harapan hidup waktu lahir dibawah target. Perkembangan angka harapan hidup waktu lahir di Kota Dumai dari tahun 2010 sampai dengan 2019dapat di lihat pada grafik berikut ini :Grafik 6.18. Perkembangan angka harapan hidup waktu lahir Kota Dumai
Tahun 2010 – 2019
A.1.Terkendalinya Kejadian Mortalitas
Secara umum kematian pada manusia berhubungan erat dengan permasalahan kesehatan sebagai akibat dari gangguan penyakit atau akibat dari gangguan proses interaksi berbagai faktor yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama mengakibatkan kematian dalam masyarakat. Kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat memberikan gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat atau dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan bidang kesehatan.
a. Angka Kematian Neonatal
Angka kematian neonatal adalah jumlah kematian bayi usia kurang dari 28 hari per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian neonatal mencerminkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, yang berawal dari pelayanan keluarga berencana, pelayanan antenatal,
70.77 71.33 71.33 71.64 72 72 70.06 70.08 70.55 70.82 71.33 71.64 71.95 72.26 72.29 70.25 70.31 70.37 71 71.02 68.5 69 69.5 70 70.5 71 71.5 72 72.5 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Tahun Pencapaian Target
Profil Kesehatan Tahun 2019...
55 pelayanan persalinan dan post persalinan. Kematian neonatal menjadi prioritas dalam strategi pembangunan kesehatan Indonesia karena masalah neonatal merupakan penyebab lebih dari sepertiga kematian anak dan hampir separuh dari total kematian bayi.Penyebab utama kematian neonatal sangat erat kaitannya dengan permasalahan selama masa kehamilan, pada saat persalinan, serta perawatan bayi baru lahir terutama pada usia satu bulan pertama kehidupan.Pada tahun 2019, dari hasil pencatatan dan pelaporan kematian di puskesmas dan RSUD Kota Dumai diketahui jumlah kematian neonatal sebanyak 37orang dari 8.029 kelahiran hidup, sehingga angka kematian neonatal di Kota Dumai sebesar 4,6per 1000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2018 dimana angka kematian neonatal sebesar 6.1 per 1000 kelahiran hidup, terjadi penurunanangka kematian neonatal pada tahun 2019. Namun bila dibandingkan dengan target indikator Kota Dumai yakni 5 per 1000 kelahiran hidup, maka pencapaian angka kematian neonatal dibawahtarget.
Berdasarkan jenis kelamin, kematian neonatal lebih banyak terjadi pada laki-laki yakni sebanyak 22 orang (59,46%). Sedangkan berdasarkan penyebab kematian, penyebab kematian neonatal terbanyak adalah Asfiksia ( 15 kasus, 40,54%)danPrematur( 6 kasus 16,22%), kemudian disusul dengan BBLR 5 5 4.5 4 3.5 3.5 10 8 6 5 5.3 9.05 8.71 11.87 11.05 11.17 9.84 9.18 6.1 4.6 0 2 4 6 8 10 12 14 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 P er 100 0 K elahi ran Hi d u p Tahun
Grafik 6.19. Perkembangan Angka Kematian Neonatal Kota Dumai Tahun 2010 s/d 2019
Profil Kesehatan Tahun 2019...
56yakni sebanyak 4 kasus (10,81 %). Hal ini disebabkan karena lamanya proses persalinan serta berat
badan bayi yang rendah yang dapat menyebabkan asfiksia, dan permasalahan gizi selama kehamilan.
b. Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate)
Angka kematian bayi mencerminkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan terhadap perinatal. Angka Kematian Bayi (AKB) di Propinsi Riau berfluktuasi dan cenderung menurun dari tahun 2002 – 2019. Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat AKB, tetapi tidak mudah untuk menentukan faktor yang kurang dominan. Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan. AKB yang cenderung menurun ini menggambarkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan terhadap perinatal semakin membaik. Estimasi AKB Propinsi Riau dapat dilihat pada tabel berikut.
Pada tahun 2019, berdasarkan Laporan Kematian dan PWS-KIA Rumah Sakit dan Puskesmas jumlah kematian bayi di Kota Dumai sebanyak 58orang, sehingga angka kematian bayi di Kota Dumai sebesar 7,2 per 1000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2018 dimana angka kematian bayi sebesar 7,1 per 1000 kelahiran hidup, terlihat angka kematian bayi pada tahun 2019 mengalamipeningkatan. Namun bila dibandingkan dengan target indikator yakni <21 per 1000 kelahiran hidup, maka pencapaian angka kematian bayi masih lebih rendah dari target.
Hal ini menggambarkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan terhadap perinatal masih baik. Berdasarkan jenis kelamin, kematian bayi lebih banyak terjadi pada laki-laki yakni sebanyak 33orang (56.90%). Sedangkan berdasarkan penyebab kematian, penyebab kematian bayi terbanyak adalahAsfiksia(16 kasus27,59%)dan Prematur (6 kasus10,34%).
Profil Kesehatan Tahun 2019...
57 c. Angka Kematian Balita (AKABA)AKABA adalah jumlah kematian anak umur kurang dari 5 tahun per 1.000 kelahiran hidup. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit infeksi dan kecelakaan.
Berdasarkan Laporan Kematian Bulanan Rumah Sakit dan Puskesmas pada tahun 2019 jumlah kematian balita di Kota Dumai sebanyak 74 orang, sehingga angka kematian balita di Kota Dumai sebesar 9,2 per 1000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan dengan pencapaian 2018, dimana angka kematian balita sebesar 9,0 per 1000 kelahiran hidup, terlihat adanya peningkatanangka kematian balita pada tahun 2019. Pencapaian angka kematian balita tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan target indikator Kota Dumai dan target Nasional tahun 2019 yakni <28 per 1000 kelahiran hidup(yang berarti tingkat pencapaiannya baik).
Berdasarkan jenis kelamin, kematian balita lebih banyak terjadi pada laki-laki yakni sebanyak 44orang (59,46%). Sedangkan berdasarkanpenyebab kematian, penyebab kematian balita terbanyak adalah karena yakni asfiksia sebanyak 16 orang (21,62%), disusul dengan Aspirasi Pneumonisebanyak 7 orang (9,46%),Prematur6 orang
8 10.49 11.09 14.7 13.08 14.09 13.73 11.63 7.1 7.2 26 23 23 23 23 23 23 23 22 21 0 5 10 15 20 25 30 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 P e r 1 0 0 0 K e la h ir a n H Id u p Tahun
Grafik 6.20. Perkembangan Angka Kematian Bayi Kota Dumai Tahun 2010 s/d 2019
Profil Kesehatan Tahun 2019...
58 (8,11%),BBLR 4 orang (5,41%), Kelainan Detak Jantung 3 orang (4,05%), Sepsis3 orang (4,05%), kejang demam3 orang (4,05%).Perkembangan angka kematian balita di Kota Dumai dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2019 dapat dilihat pada grafik berikut
d.Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka kematian ibu bersalin berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, waktu melahirkan dan masa nifas.
Berdasarkan Laporan Kematian dan PWS-KIA Rumah Sakit dan Puskesmas pada tahun 2019jumlah kematian ibu di Kota Dumai sebanyak 10orang, sehinggaangka kematian ibu di Kota Dumai sebesar 124,55 per 100.000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2018, di mana angka kematian ibu bersalin sebesar 63 per 100.000 kelahiran hidup, terlihat adanya peningkatan angka kematian ibu pada tahun 2019. Penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan7 kasus 70% dan gangguan system peredaran darah 2 kasus 20%, pre eklamsi/hypertensi 1 kasus 10%. Untuk itu diperlukan upaya yang lebih intensif lagi dari semua pelaksana kegiatan, penanggung jawab lintas sektor dan lintas program dalam upaya menurunkan angka kematian ibu di kota Dumai. 12 13.36 13.9 16.9 15.87 16.64 16.88 13.44 9 9.2 58 32 32 32 32 32 32 32 30 28 0 10 20 30 40 50 60 70 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 P er 10 00 Kela h ir an HId u p Tahun
Grafik 6.21. Perkembangan Angka Kematian Balita Kota Dumai Tahun 2010 s/d 2019
Profil Kesehatan Tahun 2019...
59 Perkembangan angka kematian ibu di Kota Dumai dari tahun 2010 sampai dengan 2019 dapat di lihat pada grafik berikut iniGrafik 6.22. Angka Kematian Ibu Kota Dumai /100.000 KH tahun 2010 - 2019
A.2. Meningkatnya Status Gizi Balita
Status gizi sangat erat kaitannya dengan permasalahan kesehatan secara umum, karena di samping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung dan jugadapat menyebabkan gangguan kesehatan individual. Bahkan status gizi janin yang masih berada dalam kandungan dan bayi yang sedang menyusu sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu hamil dan ibu menyusui.
Pengukuran gizi pada balita difokuskan pada tingkat kecukupan gizinya yang diukur melalui berat badan terhadap umur atau berat badan terhadap tinggi badan. Dari hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) pada balita di Kota Dumai pada tahun 2019 diperoleh status gizi balita sebagai berikut: persentase balita dengan gizi buruk sebesar 0,02% (7 penderita), persentase balita dengan gizi kurang sebesar 0,5 % (182 penderita), dan persentase balita pendek sebesar 0,1% ( 20 penderita), balita kurus sebanyak 108 penderita (0,3%). Bila dibandingkan dengan target sasaran tahun 2019 dimana persentase balita dengan gizi buruk sebesar < 2% dan persentase balita dengan gizi kurang sebesar < 5%, maka pencapaian status gizi balita masih lebih rendah dari target.
88 172.41 84.26 64.49 114.29 145.75 109.32 142.16 63 124.55 225 200 185 155 118 118 118 120 115 110 0 50 100 150 200 250 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Tahun Pencapaian Target
Profil Kesehatan Tahun 2019...
60 Penimbangan balita merupakan salah satu dari kegiatan pelayanan gizi di posyandu. Pada tahun 2019jumlah balita (S) di Kota Dumai berjumlah 41.381balita. Dari jumlah tersebut, balita yang memiliki KMS sebanyak 39.067 balita (96,1%) jumlah balita yang ditimbang (D) sebanyak 36.069balita D/S (87,2%). Sedangkan balita yang naik berat badannya (N) sebanyak 30.731balita (85,2%).Adapun indikator untuk melakukan pemantauan petumbuhan balita di posyandu yaitu : (K/S) yang merupakan cakupan program sebanyak 36.084 balita atau sebesar 87,2%. Dari sasaran balita sebanyak 41.381 balita, yang memiliki KMS sebanyak 36.084 balita. Bila dibandingkan dengan target sasaran tahun 2019 yakni > 95%, maka angka tersebut tidak mencapai target. Partisipasi masyarakat (D/S) pada tahun 2019 sebesar 87,2%. Bila dibandingkan dengan target sasaran tahun 2019 yakni > 90%, maka angka tersebut tidak mencapai target. Keberhasilan program (N/D) sebesar 85,2%. Bila dibandingkan dengan target sasaran tahun 2019 yakni > 90%, maka angka tersebut tidak mencapai target.
Grafik 6.23. Perkembangan Pencapaian Indikator Program Gizi Di Kota Dumai dari tahun 2010 s/d Tahun 2019
93.7 92.1 94.7 95.7 94.77 90.9 95.4 96.2 96.01 87.2 87.5 83.6 85.62 86.5 87.41 83.18 87.78 85.9 86.48 87.2 94.7 91.6 90.62 90.4 92.23 92.67 91.56 93.82 92.47 85.2 70 80 90 100 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Persentase Ind ika to r P ro g ram G iz i N/D D/S K/S
Profil Kesehatan Tahun 2019...
611) Pemantauan Pertumbuhan Balita Balita Bawah Garis Merah
Balita yang hasil penimbangannya berada di bawah garis merah (BGM) adalah balita yang mempunyai berat badan di bawah garis merah dan apabila dibandingkan ke dalam tabel NHCS adalah balita dengan status gizi kurang dan buruk.
Dari tabel diatas terlihat bahwa adanya penurunan balita dibawah garis merah pada tahun 2019dengan cakupan BGM/D adalah (0,5%) mengalami penurunan. Target cakupan BGM tahun 2019 adalah 5%.
2) Pelayanan Gizi
Cakupan balita mendapat kapsul vitamin A 2 kali per tahun
Kegiatan pendistribusian vitamin A untuk bayi (6-11 bulan) dengan sasaran 8.029 orang tercakup sejumlah 91,8% (7.370orang) pada tahun 2019. Pendistribusian kapsul vitamin A untuk anak balita (12-59 bulan) pada tahun 2019 yaitu 92,2% (sasaran 33.352orang, cakupan 30.754 orang), mengalami peningkatanjika dibandingkan dengan tahun 2018.Perkembangan cakupan balita mendapat kapsul vitamin A 2 kali per tahun di Kota Dumai dari tahun 2010 sampai dengan 2019 berfluktuasi dan cenderung meningkat seperti terlihat pada grafik berikut ini.
15 5 5 5 5 5 5 5 5 5 1.5 0.87 0.63 0.68 0.5 0.46 0.56 0.4 0.9 0.5 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 P er se n tas e Tahun
Grafik 6.24.Balita Bawah Garis Merah Dari Tahun 2010 s/d 2019
Profil Kesehatan Tahun 2019...
62 Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin APemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas dilakukan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan ibu nifas. Tujuan pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas adalah agar bayinya memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Sedangkan Vitamin A ibu nifas tahun 2019 sebesar 98,3 % (dengan sasaran 8.431, cakupan 8.289 orang), terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2018 dengan cakupan 97,3%. Perkembangan cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A Kota Dumai dari tahun 2010 sampai dengan 2019cenderung mengalami peningkatan, seperti terlihat pada grafik berikut ini.
Grafik 6.26 Cakupan Ibu Nifas mendapat kapsul Vitamin A Tahun 2010 - 2019
86 88 90 92 94 96 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 90 90 90 90 90 90 90 90 90 90 93.45 93.03 94.6 92.07 91.26 91.13 90.55 89.16 90.9 92.2 Tahun
Grafik 6.25.Cakupan Balita Mendapat Kapsul Vitamin A 2 Kali Per Tahun Dari Tahun 2010 s/d 2019 Target Pencapaian 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 90 90 90 90 90 90 90 90 90 90 92.8 92.04 93.71 94.15 94.4 90.98 89.3 85.91 97.3 98.3 P e rs e n ta s e Tahun Target Pencapaian
Profil Kesehatan Tahun 2019...
63 Cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet FePada tahun 2019 sasaran ibu hamil di Kota Dumai sebanyak 8.832 orang. Ibu hamil yang mendapat tablet Fe I sebanyak 8.706 orang ibu hamil (98,6%), sedangkan ibu hamil yang mendapat Fe III sebanyak 8.679 orang ibu hamil (98,3%). Pemberian Fe pada ibu hamil dilakukan selama 90 hari berturut-turut dengan maksud agar terjadi penurunan prevalensi anemia pada ibu hamil. Bila dibandingkan dengan target pencapaian Kota Dumai tahun 2019 yakni 100%, maka pencapaian pemberian tablet Fe I dan tablet Fe III masih dibawah target. Perkembangan cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe (Fe I dan Fe III) di Kota Dumai dari tahun 2010 sampai dengan 2019 berfluktuasi dan cenderung menurun seperti terlihat pada grafik berikut ini.
Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada balita dari keluarga miskin
Pemberian MP ASI dilakukan secara bertahap sesuai dengan tahapan usia bayi. Awalnya makanan yang bertekstur lunak seperti bubur susu lalu kemudian bubur saring. Setelah itu, bubur lembek seperti bubur biasa dan nasi tim. Sampai pada akhirnya makan padat berupa nasi atau makanan keluarga. Masing- masing anak mendapat MP-ASI berupa biskuit dengan pemberian 80 gram/hari selama 90 hari dengan energi total sebesar 540
90 90 90 90 90 90 90 100 100 100 104 98 99.41 99.64 99.49 100 95.56 91.91 97.3 98.6 97.53 92.78 94.98 89.82 96.32 93.6 93.2 90.61 95.6 98.3 80 85 90 95 100 105 110 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Pe rs e n ta s e Tahun
Grafik 6.27. Cakupan Ibu Hamil Mendapat 90 Tablet Fe (Fe I & Fe III) di Kota Dumai dari Tahun 2010 s/d 2019
Profil Kesehatan Tahun 2019...
64 kalori per kotak yang berisi 12 kepingbiskuit . Pada tahun 2019 tidak tersedia makanan pendamping ASI bagi balita keluarga miskin.
Bayi yang mendapat ASI-Eksklusif
Pada tahun 2019 persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif sebesar 39,6% (3.225bayi usia 0-6 bulan yang lulus ASI eksklusif). Bila dibandingkan dengan target sasaran tahun 2019 yakni sebesar 85%, maka angka tersebut belum mencapai target. Perkembangan persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif di Kota Dumai dari tahun 2010 sampai dengan 2019berfluktuasi dan cenderung menurun seperti terlihat pada grafik berikut ini.
Desa dengan garam beryodium baik
Pada tahun 2019 dari 858 Rumah tangga dilakukan survey garam beryodium, terdapat 858 rumah tangga (100 %) Rumah tangga dengan garam beryodium baik. Bila dibandingkan dengan target sasaran tahun 2019 yakni sebesar 100%, maka angka tersebut mencapai target.
B. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi
Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (K1 dan K4)
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan
80 67 70 75 80 80 80 80 80 85 60.2 50.78 61.86 60.32 55.03 78.77 73.97 47.38 78.2 39.6 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 P e rs e nt a s e Tahun
Grafik 6.28. Bayi Yang Mendapat ASI Eksklusif Dari Tahun 2010 s/d 2019
Profil Kesehatan Tahun 2019...
65 standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Sedangkan tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelayanan antenatal lepada ibu hamil antara lain dokter spesialis kebidanan, dokter, bidan dan perawat.Pelayanan antenatal yang sesuai standar meliputi timbang berat badan, pengukuran tinggi badan, tekanan darah, nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas), tinggi fundus uteri (puncak rahim), menentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ), skrining status imunisasi tetanus dan memberikan im
unisasi Tetanus diphteri (Td) bila diperlukan, pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan, test laboratorium (rutin dan khusus), tatalaksana kasus, serta temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), serta KB pasca persalinan.
Pelayanan kesehatan ibu hamil diwujudkan melalui pemberian pelayanan antenatal sekyrang – kurangnya empat kali masa kehamilan, dengan distribusi waktu minimal satu kali pada trimester pertama (usia kehamilan 0-12 minggu), satu kali pada trimester dua (12-24 minggu), dan dua kali pada trimester ketiga usia kehamilan 24 minggu sampai persalinan. Pelayanan antenatal disebut lengkap apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan serta memenuhi standar tersebut. Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan kepada ibu hamil, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan dan penanganan komplikasi.
Hasil pencapaian program pelayanan kesehatan ibu dapat dinilai dengan menggunakan indikator cakupan K1 dan K4 yang dihitung dengan membagi jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal pertama kali oleh tenaga kesehatan (untuk penghitungan indikator K1) atau jumlah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 4 kali sesuai standar oleh tenaga kesehatan di statu wilayah pada kurun waktu tertentu (untuk penghitungan indikator K4) dengan jumlah sasaran ibu hamil yang ada di wilayah kerja dalam 1 tahun.
Profil Kesehatan Tahun 2019...
66 adalah sebesar 99.3%. Sedangkan cakupan pelayanan ibu hamil K4 sebesar 96,8% dari 8.832 perkiraan ibu hamil. Bila dibandingkan dengan target sasaran Kota Dumai Tahun 2019 sebesar 85% untuk K1 dan 90% untuk K4, maka pencapaian persentase cakupan kunjungan ibu hamil K1 dan K4 mencapai target. Perkembangan persentase cakupan kunjungan ibu hamil K4 di Kota Dumai dari tahun 2009 sampai dengan 2019 berfluktuasi seperti terlihat pada grafik berikut ini.Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
Pada tahun 2019 persentase cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 98,3% (8.291 orang) dari perkiraaan 8.431 persalinan. Bila dibandingkan dengan tahun 2018 dimana persentase persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 97,3%, maka terlihat pencapaian mengalami peningkatan pada tahun 2019. Sedangkan bila dibandingkan dengan target sasaran tahun 2019 yakni sebesar 90%, maka angka tersebut memenuhi target.
0 20 40 60 80 100 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 95 95 95 95 95 95 95 80 80 90 97.5 92.78 95.42 95.97 96.32 93.6 71.6 90.6 92 96.8 Pe rs e n ta s e Tahun
Grafik 6.29. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K 4 dari Tahun 2010 s/d 2019
Profil Kesehatan Tahun 2019...
67 Cakupan pelayanan kesehatan ibu nifas (KF3)Pelayanan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal 3 kali dengan distribusi waktu: 1) kunjungan nifas pertama (KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari; 2) kunjungan nifas ke 2 (KF2) dilakukan pada minggu ke 2 setelah persalinan ; dan 3) kunjungan ke 3 (KF3) dilakukan minggu ke 6 setelah persalinan. Diupayakan kunjungan nifas ini dilakukan pada saat dilaksanakannya kegiatan di posyandu dan dilakukan bersamaan pada kunjungan bayi.
Pada tahun 2019 cakupan pelayanan kesehatan ibu nifas di Kota Dumai sebesar 94,8% dari 8.273 perkiraan ibu nifas. Sedangkan bila dibandingkan dengan target sasaran tahun 2019 yakni sebesar 100%, maka angka tersebut tidak mencapai target. Perkembangan cakupan pelayanan kesehatan ibu nifas di Kota Dumai dari tahun 2010 sampai dengan 2019 berfluktuasi dan cenderung menurun seperti terlihat pada grafik berikut ini.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 90 94.6 90 90 90 90 90 90 90 90 90 92.12 94.02 94.21 94.42 91 89.3 93.2 97.3 98.3 Pe rs e n ta s e Tahun
Grafik 6.30. Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dari Tahun 2010 s/d 2019
Profil Kesehatan Tahun 2019...
68 Grafik 6.31. Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Kota DumaiDari Tahun 2010 s/d 2019
Penanganan Komplikasi Obstetri dan Neonatal
Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh tenaga bidan di desa dan Puskesmas, ibu hamil yang memilik risiko tinggi (risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan, karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan, maka kasus tersebut perlu dilakukan upaya rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai.
Risti/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Risti/komplikasi kebidanan meliputi HB < 8 g%, tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg, diastole > 90 mmHg), oedeme nyata, eklampsia, perdarahan per vaginam, ketuban pecah dini, letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu, letak sungsang pada primigravida, infeksi berat/sepsis, dan persalinan prematur.
Pada tahun 2019, melalui kegiatan Audit Maternal Perinatal dari 8.674 orang ibu hamil diperkirakan sebanyak 1.766 (20,00%) adalah ibu hamil resiko tinggi/komplikasi yang dideteksi oleh tenaga kesehatan. Dari jumlah ibu hamil resiko tinggi/komplikasi tersebut, setelah dilakukan penjaringan ditemukan sebanyak 1.686orang bumil resti/komplikasi (95,4%) yang ditangani.
Adapun data komplikasi kebidanan tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah
85 90 90 90 90 90 90 90 90 100 92.85 92.04 93.87 91.09 90.29 88.13 87.1 91.3 95.6 94.8 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 P er sent ase Tahun Target Pencapaian
Profil Kesehatan Tahun 2019...
69 ini :Tabel 6.20. Penanganan Komplikasi Kebidanan Kota Dumai Tahun 2019
JENIS KOMPLIKASI KEBIDANAN
JUML AH DITAN GANI ( % ) No PKM PERD INF PE/ DIST KPD ANC. PREMA TUR LAIN2 EKL 1 D.KOTA 83 2 50 19 54 11 48 267 99,4 2 D.BARAT 5 0 2 9 45 0 52 113 100 3 B.KAPUR 35 0 9 3 24 1 69 141 100 4 S.SEMBILAN 124 0 10 17 16 8 44 219 100 5 M.KAMPAI 65 0 4 2 3 0 21 95 100 6 BUMI AYU 56 0 30 24 46 1 66 223 100 7 B. TIMAH 11 0 13 5 14 3 31 77 100 8 J. MUKTI 79 1 39 17 42 9 104 291 100 9 PURNAMA 46 0 7 1 8 0 52 114 100 10 BUKITKAYU KAPUR 35 0 5 24 20 0 62 146 100 TOTAL 539 3 169 121 272 33 549 1.686 100
Dari 1.686 kasus ibu hamil resiko tinggi/komplikasi tersebut dijumpai kematian maternal sebanyak10orang (AKI= 125 per 100.000 kelahiran hidup). Neonatus risti/komplikasi meliputi asfiksia, prematur ikterus, sepsis, BBLR (Berat Badan Lahir < 2.500 gram), sianosis, dan kelainan kongenital. Neonatus risti/komplikasi yang ditangani adalah neonatus risti/komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang terlatih yaitu dokter dan bidan di polindes, puskesmas, rumah bersalin dan rumah sakit.
Cakupan kunjungan neonatus
Bayi sampai umur 28 hari merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari) minimal 3 kali, yaitu pada 6 - 48 jam setelah lahir, pada hari ke 3
Profil Kesehatan Tahun 2019...
70 – 7 hari, dan hari ke 8 – 28 hari.Dalam melaksanakan pelayanan neonatal, petugas kesehatan di samping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. Pelayanan tersebut meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit dan pemberian imunisasi); pemberian vitamin K; Manajemen Terpadu Balita Muda (MTBM); dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah menggunakan buku KIA.
Pada tahun 2019 cakupan kunjungan neonatal pertama (KN1) sebesar 98,8% (7.929neonatus) dari 8.029 perkiraan jumlah neonatus. Sedangkan untuk cakupan kunjungan neonatal ketiga (KN Lengkap) adalah sebesar 98,4% (7.900 neonatus). Bila dibandingkan dengan target sasaran tahun 2019 yakni sebesar 90%, maka angka tersebut telah melebihi target. Perkembangan cakupan kunjungan neonatal ketiga (KN Lengkap) dari tahun 2010 s/d 2019 di Kota Dumai mengalami fluktuasi seperti terlihat pada grafik berikut ini.
Grafik 6.32. Cakupan Kunjungan Neonatus Ketiga (KN Lengkap) Kota Dumai Dari Tahun 2010 s/d 2019
Pelayanan kesehatan pada bayi 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 100 91.61 98.23 96.26 98.04 94.57 92.8 95.4 97.31 98.8 91.72 86.12 95 92.62 93.57 91.57 91.7 94.3 96.7 98.4 90 90 90 90 90 90 90 90 90 90 Pe rs e n ta s e Tahun KN 1 KN 3 Lengkap Target