• Tidak ada hasil yang ditemukan

Situasi Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan

Dalam dokumen DAFTAR ISI DAFTAR ISI KATA PENGANTAR (Halaman 182-195)

BAB VI KESIMPULAN

B. Situasi Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan

Secara umum pemerintah Kabupaten Sleman, Pemerintah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul lebih memberikan perhatian pada isu pendidikan daripada isu perumahan. Ini dapat dilihat dengan dijadikannya isu pendidikan sebagai salah satu prioritas utama program pembangunan mereka.

Terkait dengan pemenuhan hak atas pendidikan, Pemerintah Kabupaten Sleman sejauh ini belum membuat kebijakan legislasi yang khusus berkaitan dengan isu pendidikan. Situasi sedikit berbeda ditemukan di Kota Yogyakarta. Di sini, pemerintah daerah sudah mencoba melahirkan sejumlah regulasi yang menyangkut pendidikan, baik itu pendidikan usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah, termasuk di dalamnya adalah

pendidikan non-formal serta peran serta masyarakat dalam dunia pendidikan. Semuanya telah di atur dalam Perda N0. 5/2008 tentang Sistem Penyelenggaraan Pendidikan. Perda ini menggariskan bahwa maksud penyelenggaraan pendidikan adalah mengupayakan pemerataan pendidikan berkualitas, menjamin perluasan akses dan biaya pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat. Namun demikian, perda ini belum diikuti dengan kebijakan yang lebih konkret tentang pemerataan, akses dan biaya yang terjangkau bagi golongan miskin.

Kondisi di Kabupaten Bantul tidak jauh berbeda dengan Kabupaten Sleman. Sejauh ini pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Bantul belum melakukan langkah-langkah legislasi yang konkret berkenaan dengan upaya pemenuhan secara progresif hak atas pendidikan. Seperti yang terjadi di Kabupaten Sleman, selama ini langkah-langkah legislasi serta produk-produk hukum pemerintah dan DPRD Kabupaten Bantul masih didominasi oleh orientasi dan target meningkatkan pendapatan daerah dengan melahirkan banyak perda yang mengatur perijinan dan retribusi. Kebijakan-kebijakan dalam bidang pendidikan masih dirancang dan ditetapkan hanya sebagai bagian dari perencanaan pembangunan jangka panjang dan kebijakan umum anggaran APBD.

Berkenaan dengan pemenuhan hak atas perumahan, pemerintah Kabupaten Sleman Kota Yogyakarta dan Pemerintah Kabupaten Bantul sama-sama belum memiliki sebuah kebijakan khusus yang terencana dengan target dan sasaran yang terukur. Kebijakan perumahan umumnya hanya bersifat stimulan dan karitatif, tanpa sebuah masterplan yang jelas dan integratif.

Dalam hal alokasi anggaran, tiga pemerintah daerah tersebut menunjukkan kecenderungan yang sama. Secara umum, ketiga pemerintah daerah ini menunjukkan komitmen dan kebijakan anggaran yang cukup baik untuk bidang pendidikan. Meskipun dengan jumlah nominal yang berbeda karena perbedaan PAD mereka, secara umum pemerintah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul mengalokasikan anggaran pendidikan dengan prosentase yang cukup besar dan terus naik dari total APBD mereka.

Pemerintah Kabupaten Sleman, misalnya, memberikan alokasi anggaran yang cukup tinggi untuk pendidikan, bahkan lebih tinggi dari ketentuan konstitusi sebesar 20 %. Secara berurutan mulai tahun 2005-2008, alokasi anggaran pendidikan terus meningkat. Namun demikian, dari sekian banyak alokasi anggaran untuk pendidikan, lebih dari 80 % adalah alokasi anggaran untuk belanja rutin seperti gaji dan tunjangan pegawai dinas pendidikan, gaji dan tunjangan guru dan pejabat di sekolah, pemeliharaan gedung, pemeliharaan alat transportasi dan perjalanan dinas. Alokasi anggaran

untuk pengembangan sumber daya manusia tidak lebih hanya sekitar 5 %, termasuk anggaran untuk penambahan buku, rehabilitasi gedung sekolah adalah sangat kecil.

Di Kota Yogyakarta, data juga menunjukan bahwa alokasi anggaran untuk siswa dan pengembangan siswa sangat kecil jika dibandingkan dengan alokasi anggaran untuk belanja pegawai. Di sisi lain, walaupun memenuhi angka 20% anggaran, tidak ada alokasi anggaran untuk orang miskin. Dari data ini terlihat bahwa sesungguhnya lebih dari setengah anggaran diperuntukan untuk belanja pegawai. Demikian juga halnya dengan Pemerintah Kabupaten Bantul. Meskipun telah terus meningkatkan total anggaran pendidikan dalam empat tahun terakhir, seperti kecenderungan banyak pemerintah daerah lain, sebagian besar anggaran pendidikan habis digunakan untuk belanja pegawai/tidak langsung (gaji, tunjangan, dan honor), dan hanya sedikit yang diporsikan untuk belanja langsung.

Peran masyarakat dalam melakukan monitoring dan advokasi pemenuhan hak atas pendidikan dan perumahan cukup besar dalam mendesak pemerintah Kabupaten Bantul untuk memperkuat komitmen politik dan anggarannya bagi pemenuhan hak atas pendidikan dan perumahan. Peran civil society dilakukan dengan melakukan advokasi terhadap kasus muncul serta melakukan advokasi untuk perubahan kebijakan pemerintah daerah terhadap pendidikan. Di wilayah Yogykarta, muncul gerakan yang mengadvokasi hak atas

pendidikan yang menggabungkan diri dalam Kelompok Kerja Pendidikan Gratis.

Peran pengadilan baik di Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul selama ini masih bersifat pasif, yaitu dengan menyidangkan kasus-kasus yang dilimpahkan oleh kepolisian dan kejaksaan. Salah satu kasus yang telah ditangani oleh Pengadilan Negeri Sleman adalah kasus korupsi pengadaan buku pelajaran bagi sekolah dasar dan menengah. Pada tahun 2007 hingga 2008, masyarakat Kabupaten Sleman digemparkan dengan isu korupsi pencetakan buku yang dilakukan oleh kepala dinas pendidikan bekerjasama dengan ketua DPRD dan diduga melibatkan Bupati Sleman. Dua terdakwa yang pertama yaitu M. B. (Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman) dan J.S. (Mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Kabupaten Sleman) telah dihukum dengan hukuman masing-masing selama 4 tahun penjara oleh Pengadilan Negari Sleman. Sedangkan I.S. (Bupati Sleman) sedang menjalani persidangan atas dakwaan korupsi di pengadilan negeri Sleman.

Sementara di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, meskipun ada beberapa kasus pelanggaran terhadap hak atas pendidikan dan perumahan yang muncul seperti kasus dana BOS di Kota Yogyakarta dan kasus pengusuran warga dusun Mancingan di Kabupaten Bantul, sejauh ini belum ada satu kasus pun yang benar-benar di bawa hingga tingkat

pengadilan. Dengan demikian, sejauh ini lembaga peradilan di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul belum bisa memainkan peran aktif dalam penegakan hak atas pendidikan dan perumahan di wilayah ini.

C. Situasi Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan Perumahan di Kalimantan Timur

Dalam pemenuhan hak atas pendidikan, pada prinsipnya pemerintah Kota Tarakan sudah menunjukkan konsen terhadap upaya pemenuhan hak atas pendidikan, terurtama melalui penyediaan sarana dan prasarana di bidang pembangunan fisik dan non-fisik. Sementara Pemerintah Kabupaten Bulungan lebih mengorientasikan kebijakan pendidikannya, baik dalam jangka pendek, menengah maupun panjang, pada pembukaan dan peningkatan akses pendidikan bagi seluruh masyarakat, meskipun belum maksimal. Pemerintah Daerah bersama-sama DPRD Kota Tarakan juga telah mencoba mengambil sejumlah langkah legsilasi dalam upaya pemenuhan hak atas pendidikan secara progresif dengan merumuskan sejumlah Rancangan Peraturan Daerah, Peraturan Walikota & Keputusan Walikota. Sedangkan Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Bulungan sejauh ini belum mengambil langkah-langkah legislasi khusus dalam upaya meningkatkan secara progresif pemenuhan penuh hak atas pendidikan.

Terkait dengan hak atas perumahan, secara umum baik Pemerintah Kota Tarakan maupun Pemerintah Kabupaten Bulungan belum merumuskan kebijakan pengembangan perumahan masyarakat yang sepenuhnya konsisten dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Kebijakan perumahan Pemerintah Kota Tarakan dan Kabupaten Bulungan sejauh ini hanya bersifat stimulan. Pemerintah dan DPRD Kota Tarakan dan Kabupaten Bulungan juga sejauh ini belum mengambil langkah-langkah legislasi khusus, baik berupa regelling dan

beschiking.

Dalam hal alokasi anggaran, pada prinsipnya Pemerintah Kota Tarakan dan Kabupaten Bulungan telah berupaya menunjukkan komitmen yang cukup baik. Ini dapat dilihat dari pemenuhan anggaran pendidikan yang sudah mencapai 20% sejak tahun 2004 sebagaimana ketentuan yang tertuang dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasioanl (Sisdiknas) bahkan pada tahun 2008 alokasi anggaran untuk pendidikan di Kota Tarakan sudah di atas 20%. Namun berbeda dengan anggaran pendidikan, dalam hal alokasi anggaran untuk pemenuhan hak atas perumahan, yang dilakukan Pemerintah Kota Tarakan selama ini masih bersifat stimulan dan belum ada pengalokasian secara khusus.

Dalam upaya pemantauan dan advokasi pemenuhan hak atas pendidikan dan perumahan di Kota Tarakan dan Kabupaten Bulungan, sejauh peran civil society (LSM, Ormas,)

masih belum maksimal. Ini disebabkan belum adanya LSM/ORMAS yang secara khusus menangani pemantauan dan advokasi secara khusus berkaitan dengan hak atas pendidikan dan perumahan di Tarakan dan Bulungan. Sejauh ini, beberapa upaya advokasi yang dilakukan LSM yang ada, seperti LIRA di Tarakan dan Nurani Bangsa di Bulungan, masih lebih banyak sebatas melakukan hearing dengan DPRD.

Sementara menyangkut peran pengadilan, baik di Kota Tarakan maupun di Kabupaten Bulungan sejauh ini belum pernah ada kasus yang berkaitan dengan pendidikan dan perumahan yang masuk ke pengadilan. Namun demikian, Hakim di PN Tarakan dan PN Bulungan menyatakan komitmen mereka untuk menerima kasus pelanggaran terhadap hak atas pendidikan dan perumahan serta mengunakan berbagai instrumen hak asasi manusia yang relevan.

Dalam dokumen DAFTAR ISI DAFTAR ISI KATA PENGANTAR (Halaman 182-195)

Dokumen terkait