• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI DAFTAR ISI KATA PENGANTAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI DAFTAR ISI KATA PENGANTAR"

Copied!
195
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tentang Buku Ini ... 7

C. Metodologi ... 8

D. Struktur Buku ... 10

BAB II PEMENUHAN HAK ATAS PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN DI ERA OTONOMI DAERAH: KERANGKA TEORETIK ... 12

A. Kewajiban Negara dalam Pemenuhan Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya ... 12

B. Hak atas Pendidikan ... 26

(1) Instrumen Internasional ... 26

(2) Instrumen Nasional ... 33

(3) Indikator ... 41

(a) Ketersediaan (availability) ... 42

(b) Keterjangkauan (accessibility) ... 44

(c) Keberterimaan (acceptability) ... 47

(d) Kebersesuaian (adaptability) ... 51

C. Hak atas Perumahan ... 54

(1) Instrumen Internasional ... 54

(2) Instrumen Nasional ... 57

(3) Indikator ... 61

(a) Keamanan Hukum Kepemilikan (security of legal tenure) ... 62

(b) Aksesibilitas (accessibility) ... 63

(c) Keterjangkauan Biaya (affordability) ... 64

(d) Layak Huni (habitalitity) ... 65

(e) Lokasi ... 66

(f) Kelayakan Budaya ... 67 DAFTAR ISI

(4)

D. Otonomi Daerah dan Desentralisasi ... 67

E. Monitoring dan Advokasi oleh Masyarakat Sipil ...77

BAB III ANALISIS SITUASI PEMENUHAN HAK ATAS PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN DI KOTA LHOKSEUMAWE DAN KABUPATEN ACEH UTARA, NANGRO ACEH DARUSSALAM...81

A. Data Umum Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara ... 81

(1) Letak Geografis ... 81

(2) Data Demografis ... 82

(3) Kondisi Sosial Ekonomi ... 83

(4) Kondisi Politik ... 85

B. Kondisi Umum Pemenuhan Hak atas Pendidikan dan Perumahan ...87

(1) Hak atas Pendidikan ... 87

(a) Infrastruktur Pendidikan di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe ... 87

(b) Tingkat partisipasi pendidikan ... 91

(c) Angka putus sekolah ... 93

(d) Sketsa Kasus ...96

(2) Hak atas Perumahan ...99

(a) Review atas Kebijakan Tata Ruang ...99

(b) Angka Alih Fungsi Lahan Dari Pertanian, Sawah Untuk Perumahan ... 103

(c) Korelasi Tingkat Pertumbuhan Penduduk Dengan Penyediaan Lahan Untuk Perumahan ... 105

(d) Kasus-Kasus Perumahan ... 109

C. Komitmen dan Kapasitas Pemerintah Daerah...118

(1) Review Atas Kebijakan dan Regulasi Daerah ...118

(a) Kebijakan Pendidikan ... 118

(i) Pemerataan dan Perluasan Akses (ii) Mutu, Relevansi, dan Daya Saing (iii) Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Pencitraan Publik (iv) Penerapan Sistem Pendidikan Bernuansa Islami (b) Kebijakan Perumahan ... 126

(2) Langkah-Langkah Legislasi ... 129

(3) Alokasi Anggaran ... 134

D. Monitoring dan Advokasi oleh Civil Society ... 138

E. Peran Pengadilan ... 140

BAB IV ANALISIS SITUASI PEMENUHAN HAK ATAS P E N D I D I K A N DA N P E RU M A H A N D I KABUPATEN SLEMAN, KOTA YOGYAKARTA DAN KABU PATEN BANTU L , DAE R AH ISTIMEWA YOGYAKARTA ... 143

A. KABUPATEN SLEMAN ... 143

(1) Data Umum Daerah ... 143

(a) Letak Geografis ... 143

(b) Data Demografis ... 144

(c) Kondisi Sosial Ekonomi ... 145

(d) Kondisi Politik dan Pemerintahan ... 147

(2) Kondisi Umum Pemenuhan Hak atas Pendidikan dan Perumahan ... 147

(a) Hak atas Pendidikan ... 147

(i) Infrastruktur Pendidikan (ii) Tingkat Partisipasi Pendidikan (iii) Angka Putus Sekolah (iv) Fasilitas Pendidikan (v) Korupsi: Tindakan Amoral Pencurian Hak Anak (b) Hak atas Perumahan ... 170

(I) Kebijakan Pemerintah Daerah tentang Hak Atas Perumahan (ii) Angka alih fungsi lahan dari pertanian dan sawah untuk perumahan (3) Komitmen dan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Bidang Pendidikan dan Perumahan ... 178

(5)

(a) Review atas Kebijakan dan Regulasi Daerah ... 178

(b) Alokasi Anggaran ... 186

(4) Monitoring dan Advokasi oleh Civil Society ... 192

(5) Peran Pengadilan ... 198

B. KOTA YOGYAKARTA ... 201

(1) Data Umum Kota Yogyakarta ... 201

(a) Letak Geografis ... 201

(b) Kondisi Sosial Ekonomi ... 202

(i) Jumlah Penduduk (ii) Perekonomian (iii) Tenaga Kerja (iv) Pendidikan (c) Pemerintahan ... 206

(2) Kondisi Umum Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan Perumahan ... 207

(a) Hak Atas Pendidikan ... 207

(i) Infrastruktur Pendidikan (ii) Tingkat Partisipasi Pendidikan (iii) Angka Putus Sekolah (iv) Sketsa Kasus (b) Hak Atas Perumahan ... 213

(i) Review atas Perda Tata Ruang (ii) Angka Alih Fungsi Lahan dari Pertanian dan Sawah untuk Perumahan (iii) Korelasi Tigkat Pertumbuhan Penduduk dengan Penyediaan Lahan Untuk Perumahan (3) Komitmen dan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan Perumahan ... 219

(a) Review atas Kebijakan dan Regulasi ... 219

(b) Alokasi Anggaran ... 222

(4) Monitoring dan Advokasi oleh Masyarakat Sipil ... 225

C. KABUPATEN BANTUL ... 227

(1) Data Umum Daerah ... 227

(a) Letak Geografis ... 227

(b) Gambaran Umum Demografis ... 229

(i) Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk (ii) Penduduk Miskin (iii) Indeks Pembangunan Manusia (c) Kondisi Sosial Ekonomi ... 232

(i) Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (ii) Keuangan Daerah (2) Kondisi Umum Pemenuhan Hak atas Pendidikan dan Perumahan ... 236

(a) Hak atas Pendidikan ... 236

(i) Infrastruktur Pendidikan (ii) Tingkat Partisipasi Pendidikan (iii) Pemerataan Pendidikan (3) Hak Atas Perumahan ... 247

(4) Komitmen dan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Pemenuhan Hak atas Pendidikan dan Perumahan ... 250

(a) Review atas Kebijakan dan Regulasi ... 250

(b) Alokasi Anggaran ... 255

(5) Monitoring dan Advokasi oleh Masyarakat Sipil ... 257

(6) Peran Pengadilan ... 259

BAB V ANALISIS SITUASI PEMENUHAN HAK ATAS PENDIDIKAN DAN HAK ATAS PERUMAHAN DI KOTA TARAKAN DAN KABUPATEN BULUNGAN, KALIMANTAN TIMUR ... 261

A. KOTA TARAKAN ... 261

(1) Data Umum Daerah ... 261

(a) Letak Geografis ... 261

(b) Data Demografis ... 264

(c) Kondisi Sosial Ekonomi ...268

(d) Kondisi Politik dan Pemerintahan ... 272

(2) Kondisi Umum Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan Perumahan ... 273

(6)

(i) Infrastruktur Pendidikan Di Kota Tarakan (ii) Tingkat Partisipasi Pendidikan di Kota Tarakan (iii) Angka Putus Sekolah

(iv) Sketsa Kasus

(b) Hak Atas Perumahan ... 282

(i) Review Terhadap Perda Tata Ruang Kota Tarakan (ii) Alih Fungsi Lahan Dari Pertanian, Sawah Untuk Perumahan di Kota Tarakan (iii) Korelasi Tingkat Pertumbuhan Penduduk Dengan Penyediaan Lahan Untuk Perumahan (iv) Sketsa Kasus (3) Komitmen dan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan Perumahan ... 295

(a) Review Kebijakan dan Regulasi Kota Tarakan yang Berkaitan dengan Pendidikan dan Perumahan ... 295

(b) Langkah-Langkah Legislasi (regelling dan beschiking) ... 298

(c) Alokasi Anggaran Pendidikan dan Perumahan di Kota Tarakan ... 300

(4) Monitoring dan Advokasi Oleh Civil Society .... 301

(5) Peran dan Putusan Pengadilan ... 303

B. KABUPATEN BULUNGAN ... 304

(1) Data Umum Daerah ... 304

(a) Letak Geografis ... 304

(b) Data Demografis ... 305

(c) Kondisi Sosial Ekonomi ... 306

(d) Kondisi Politik dan Pemerintahan ... 308

(2) Kondisi Umum Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan Perumahan di Kabupaten Bulungan ... 310

(a) Hak Atas Pendidikan ... 310

(i) Infrastruktur Pendidikan Di Kabupaten Bulungan (ii) Tingkat Partisipasi Pendidikan di Kabupaten Bulungan (iii) Angka Putus Sekolah (iv) Sketsa Kasus (b) Hak Atas Perumahan di Kabupaten Bulungan... 320

(i) Review Terhadap Perda Tata Ruang Kabupaten Bulungan (ii) Alih Fungsi Lahan Dari Pertanian, Sawah Untuk Perumahan di Kabupaten Bulungan (iii) Korelasi Tingkat Pertumbuhan Penduduk Dengan Penyediaan Lahan Untuk Perumahan (iv) Kasus-Kasus Yang Berkaitan Dengan Perumahan di Kabupaten Bulungan (3) Komitmen dan Kapasitas Pemerintah Daerah dalam Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan Perumahan ... 331

(a) Review atas Kebijakan dan Regulasi Kabupaten Bulungan yang berkaitan dengan Pendidikan dan Perumahan ... 331

(b) Langkah-Langkah Legislasi (regelling dan beschiking)... 333

(c) Alokasi Anggaran Pendidikan dan Perumahan di Kabupaten Bulungan ... 334

(4) Monitoring dan Advokasi Oleh Civil Society... 335

(5) Peran dan Putusan Pengadilan ... 339

BAB VI KESIMPULAN A. Situasi Pemenuahan Hak Atas Pendidikan dan Perumahan di Nanggroe Aceh Darussalam ... 340

B. Situasi Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan Perumahan di Daerah Istimewa Yogyakarta ... 343

C. Situasi Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan Perumahan di Kalimantan Timur ... 348

DAFTAR PUSTAKA ... 364

(7)

Puji Syukur ke hadirat Allah swt atas izin-Nya sehingga hasil penelitian ini dapat diterbitkan menjadi sebuah buku yang bisa hadir di tengah-tengah pembaca yang budiman.

Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan publikasi hasil penelitian yang berjudul Status dan Kondisi Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan Perumahan Di Aceh, Yogyakarta dan Kalimantan Timur. Penelitian ini dilakukan untuk menguji sejauh mana komitmen pemerintah daerah setelah diberlakukannya otonomi daerah dalam melaksanakan kewajiban pemenuhan hak-hak ekonomi, social dan budaya masyarakat. Penelitian ini menjadi sesuatu yang menarik karena dilakukan di tiga wilayah yang berbeda dengan basis ekonomi, social dan budaya yang juga berbeda-beda.

Wilayah Aceh merepresentasikan wilayah yang cukup kaya, namun baru selesai menghadapi persoalan serius yaitu konflik yang sedemikian panjang dan terjadinya bencana tsunami. Status sebagai daerah otonom dengan disahkannya UU No. 11 Tahun 2006 memberikan implikasi luar biasa pada sistem pemerintahan dan sistem sosial budayanya. Sayangnya hasil penelitian yang dilakukan di Aceh tidak memberikan warna yang berbeda. Nuansa unifikasi kebijakan masih sangat terlihat dan akhirnya hasil penelitiannya memperlihatkan situasi yang tidak terlalu jauh berbeda dengan daerah lain. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dipilih untuk mewakili daerah dengan situasi tengah. Dikenal sebagai kota pendidikan, daerah yang aman, masyarakatnya toleran namun pendapatan daerah sangat kecil. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta ternyata tidak terlalu memiliki kebijakan yang berbeda dengan daerah lain terutama berkaitan dengan kebijakan pendidikan. Anggaran pendidikan pada APBD telah melebihi target 20% seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar namun

hampir semuanya habis digunakan untuk biaya operasional administratif semata. Kalimantan Timur dipilih untuk mewakili daerah yang kaya akan sumber daya ekonomi. Pertanyaan yang ingin dijawab antara lain apakah ada perbedaan yang signifikan antara daerah yang kaya dan daerah yang tergolong miskin sumber daya ekonomi. Setelah dilakukan penelitian, hasilnya ternyata tidak terlalu jauh berbeda dengan daerah yang lain. Alokasi APBD untuk pendidikan telah dianggarkan sebanyak 20% lebih, namun semuanya habis untuk biaya operasional administratif sebagaimana yang terjadi di daerah yang lain. Sehingga tujuan semula untuk mencari kondisi yang berbeda antar berbagai daerah tersebut tidak sepenuhnya dapat dicapai.

Penelitian ini dilakukan oleh tiga tim yang meneliti di masing-masing wilayah. Wilayah Aceh, penelitian dilakukan oleh Mirza Alfath, S.H., M.Hum., dosen Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh Aceh. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta penelitian dilakukan oleh tim dari Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia yaitu Supriyanto Abdi, M.A., Eko Riyadi, S.H. dan Imran, S.H., M.Hum. Sedangkan Wilayah KIalimantan Timur, penelitian dilakukan oleh Yahya A. Zein, S.H., M.H. dosen pada Fakultas Hukum Universitas Borneo. Oleh karenanya kami mengucapkan terimakasih kepada para peneliti yang telah merampungkan penelitian ini dengan baik. Kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, para hakim di berbagai Pengadilan Negeri dan jajaran pemerintah daerah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta, jajaran pemerintah daerah Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Tarakan di Daerah Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe di Nangro Aceh Darussalam kami mengucapkan terimakasih atas kesediaannya untuk dijadikan narasumber pada penelitian kami ini. Mohon buku ini

(8)

dijadikan bahan otokritik bagi kita semua dengan harapan ke depan akan semakin lebih baik.

Secara khusus kami mengucapkan terimakasih kepada Prof. Soetandyo Wignyosoebroto yang telah berkenan memberikan pengantar pada buku ini sehingga mampu memberikan bobot tambahan tersendiri bagi buku ini.

Terakhir, sebagai Direktur Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (PUSHAM UII) Yogyakarta, saya mengucapkan terimakasih kepada Director of Norwegian Centre for Human Rights, University of Oslo, Norway yang telah memberikan dukungan sedemikian besar sehingga penelitian ini dapat dilakukan hingga hasilnya dapat diterbitkan menjadi buku ini. Terimakasih juga saya ucapkan kepada segenap tim PUSHAM UII dan semua pihak atas berbagai perannya sehingga buku ini dapat diterbitkan. Semoga buku ini dapat bermanfaat. Terimakasih.

Suparman Marzuki, S.H., M.Si. Direktur PUSHAM UII Yogyakarta

Pemenuhan Hak Ekonomi, Sosial dan

Budaya Bukanlah Kebaikan Pemerintah,

Melainkan Hak Rakyat Yang Harus Dipenuhi

Pemerintah

Buku yang tengah Bapak/Ibu pegang dan baca kali ini adalah buku yang hendak mengetengahkan persoalan hak-hak asasi manusia (HAM). Adapun yang dimaksudkan dengan 'hak asasi manusia' itu, dalam definisinya yang umum, tak lain daripada “seluruh hak yang melekat pada diri manusia berkat kodrat kelahirannya, pertama-tama berkenaan dengan kelestarian hidup dan kebebasannya sebagai wargamasyarakat dan warganegara untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik, dan kemudian daripada itu juga untuk mengupayakan serta memperoleh kesejahteraannya di bidang ekonomi, sosial dan budaya”. Dalam berbagai wacana, hak asasi manusia tersebut pertama disebut dengan akronim hak-hak sipil dan politik (sipol), sedangkan yang tersebut kedua disebut dengan akronim hak-hak ekonomi, sosial dan budaya (ekosob).

Menilik isinya, buku yang berjudul “Potret Pemenuhan Hak Atas Pendidikan Dan Perumahan di Era Otonomi Daerah: Analisis Dari Tiga Daerah” ini akan lebih berkonsentrasi pada hak-hak ekosob, khususnya – seperti yang tertera di judul buku -- dalam ihwal pemenuhan hak rakyat atas perumahan dan pendidikan. Walaupun tak hendak memaparkan seluruh persoalan hak asasi manusia, pilihan persoalan yang tengah dikemukakan dalam buku ini, sebagaimana yang dipercontohkan oleh hasil penelitian di dan dari tiga daerah, amatlah bermakna.

Dikemukakan dalam buku ini sederet fakta betapa kerja merealisasi hak ekosok di negeri-negeri berkembang tidaklah semudah menggagas, membicarakan dan menuliskannya ke dalam risalah atau rencana kerja. Selama hak ekosob tetap dianggap sebagai kewenangan pemerintah dan bukan sebagai

(9)

hak rakyat yang asasi, maka masalah akan tetap saja timbul. Sesungguhnya sudah pada tahun 2005 Indonesia telah meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2005. Dengan demikian, pemerintah Indonesia di tingkat pusat ataupun daerah akan berkewajiban menurut hukum untuk dengan segera mengambil langkah yang diperlukan guna merealisasi terwujudnya kesejahteraan ekosob sebagaimana yang telah dijanjikan oleh kovenan internasional dan hukum perundangan nasional.

Sejelas itu isi pasal di dalam aturan hukumnya, namun demikian, selama pejabat pemerintah di pusat dan di daerah tidak menyadari upaya realisasi kesejahteraan sebagai hak rakyat, melainkan sebagai kewenangan pemerintah untuk antara lain menentukan skala prioritas dan waktu pelaksanaannya, maka perintah hukum “untuk dengan segera mengambil langkah ...” tidaklah akan demikian saja akan direspons.

Sementara itu, di lain pihak, apabila wargamasyarakat pun terlanjur tersosialisasi dan/atau terindoktrinasi bahwa apapun yang dikerjakan oleh pemerintah dalam era pembangunan itu sesungguhnya merupakan kewenangan pemerintah demi kepentingan nasional, maka, alih-alih menyadari hak-haknya, massa rakyat justru terlanjur “tahu diri” untuk ikut berkorban demi kejayaan nusa dan bangsa.

Apabila dalam proses pembangunan ada setetes dua tetes hasil pembangunan yang didistribusikan dalam bentuk layanan-layanan publik, rakyat pun sudah terlanjur dibikin percaya bahwa semua yang mereka terima itu adalah berkah kebaikan para pejabat yang tahu berzakat; dan bahwa sesungguhnya yang mereka terima itu bukan sekali-kali berpenanda sebagai hak mereka yang dijamin dan dilindungi oleh hukum, melainkan berpenanda sebagai budi baik para pejabat yang menyayangi rakyatnya.

Buku ini secara eksplisit maupun implisit berkehendak untuk mengajak para pembaca melihat dan menilai sejauh mana pemerintah pengemban kekuasaan negara telah

berupaya memenuhi kewajibannya, untuk secara bertahap namun segera, merealisasi hak-hak ekosok rakyat.

Dikatakan oleh penyusun buku ini bahwa ada dua indikator utama yang diperlukan untuk melihat kesungguhan usaha pemerintah itu, yakni komitmen dan taraf kekuatan sumberdaya finansialnya. Namun dalam hubungan ini perlu diingat, bahwa sesungguhnya dalam persoalan hak-hak ekosob yang asasi bagi rakyat itu, kewajiban pemerintah bukanlah mengerahkan sumberdaya untuk sepenuhnya memberikan (!) melainkan “hanya” untuk membangun infrastruktur publik (!).

Dana anggaran tidak untuk diobral dan dibagikan cuma-cuma melainkan untuk membangun infrastruktur, demikian rupa agar wargamasyarakat secara bebas mendapatkan peluang yang luas – berkat terbangunnya infrastruktur yang baik itu – untuk berusaha memperoleh kesejahteraannya.

Maka yang menjadi persoalan di sini ialah kewajiban dan komitmen pejabat pemerintahan, tidak untuk berzakat-zakat melainkan untuk membangun infrastruktur yang memudahkan rakyat dalam usaha-usaha mereka, yang bebas dan mandiri, tatkala mengupayakan kesejahteraannya.

Buku tentang potret keadaan faktual dari tiga daerah, yang berkisah tentang pemenuhan hak rakyat atas pendidikan untuk anak-anak mereka dan atas perumahan untuk keluarganya berikut ini, sebenarnya juga hendak lebih lanjut lagi mengajak para pembaca untuk menelaah, mengkritik dan ikut mencari solusi. Solusi tidak seyogyanya kalau hanya akan berarah ke saran-saran untuk menggerakkan kampanye guna menggugah komitmen para pejabat, khususnya dalam hal perencanaan dan pengalokasian anggaran yang people centered. Solusi mestilah juga berarah ke gerakan sosial macam lain, ialah yang berarah ke upaya pemberdayaan rakyat.

Sesungguhnya komitmen para pejabat itu tidak hanya harus digugah, akan tetapi juga harus didesak. Maka, akhir-akhir ini, kecuali mengembangkan tekanan opini guna mengubah perilaku konservatif para pejabat, gerakan

(10)

sosial-politik juga dibangun untuk menggugah kesadaran rakyat – bukan pertama-tama untuk menyadari kewajiban hukumnya melainkan pertama kesadaran akan hak-hak mereka di hadapan kekuasaan negara dan para pejabatnya. Hanya rakyat yang tahu posisi dan keberdayaannya dalam percaturan hukum yang akan memperoleh respek dari para pejabat pemerintahan.

Akhirulkalam, buku yang tengah berada di tangan para pembaca ini sesungguhnya tidak harus dimaknakan secara terbatas sebagai tambahan bacaan semata. Lebih dari itu, buku ini juga merupakan buku pencerahan yang berguna -- baik bagi mereka yang tengah dipercaya mengemban kewajiban untuk mengelola kekuasaan pemerintahan dengan cara yang baik-baik, maupun bagi rakyat yang masih perlu disadarkan hak-haknya – untuk berpikir, beranalisis dan berwacana guna menemukan solusi; suatu solusi yang tidak hanya tertuju demi kemajuan nusa dan bangsa, akan tetapi juga untuk dan demi kesejahteraan wargabangsanya.

Surabaya, 03 Agustus 2009 Soetandyo Wignjosoebroto

(11)

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tidak berbeda dengan hak sipil dan politik, hak-hak ekonomi, sosial dan budaya merupakan bagian yang esensial dalam hukum hak asasi manusia internasional; dua kelompok hak tersebut sama-sama menjadi bagian dari the international bill of human rights. Sebagai bagian dari the international bill of human rights, kedudukan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya dengan demikian sangat penting dalam hukum hak asasi manusia internasional dan tidak dapat

1 ditempatkan di bawah hak-hak sipil dan politik.

Pengakuan normatif terhadap hak-hak ekonomi, sosial dan budaya itu diwujudkan dengan positifikasi hak-hak tersebut ke dalam bentuk perjanjian multilateral (treaty). Rumusannya tertuang dalam International Covenant on

Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR) atau Kovenan

Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (KIHESB) yang disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1966 --bersama-sama dengan International Covenant on

Civil and Political Right (ICCPR) atau Kovenan Internasional

tentang Hak Sipil dan Politik (KIHSP). Hingga saat ini, setidaknya sudah 150 negara yang menjadi Negara Pihak Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan

2

Budaya (KIHESB) ini. Tingginya tingkat ratifikasi terhadap

Kovenan menunjukkan bahwa Kovenan ini memiliki karakteristik universalitas yang sangat kuat. Sebagian ahli hukum hak asasi manusia internasional bahkan menganggap perjanjian dengan karakter seperti ini telah memiliki kedudukan sebagai hukum kebiasaan internasional

(international customary law) yang mengikat setiap negara

3 dengan atau tanpa ratifikasi.

Pembahasan dari sudut hukum ini menunjukkan kesamaan kedudukan hukum antara hak-hak ekonomi, sosial dan budaya dan hak-hak sipil dan politik, tetapi persepsi atau pandangan yang berkembang mengenai hak-hak ekonomi, sosial dan budaya menunjukkan realitas yang lain; hak-hak ini diposisikan dalam kedudukan yang tidak berimbang dengan hak-hak sipil dan politik. Dalam waktu yang lama telah berkembang persepsi yang menyangkal keberadaan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya ini dalam rezim hukum hak asasi manusia karena hak-hak ini tidak dianggap sebagai

benar-4

benar hak (not really right). Kalaupun dianggap sebagai hak, hak-hak ekonomi, sosial dan budaya cenderung diaggap sebagai hak yang tidak menuntut pemenuhan dengan segera karena ia sangat terkait dengan tingkat ketersediaan sumber daya setiap negara yang berbeda-beda.

Formulasi yang berbeda tentang kewajiban negara dalam Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (KIHESB) biasanya dijadikan alasan pembedaan ini. Dalam Pasal 2 ayat (1) Kovenan Internasional tentang Hak

(12)

”Setiap negara peserta Kovenan berjanji untuk mengambil langkah-langkah, baik secara sendiri maupun melalui bantuan dan kerjasama internasional, khususnya bantuan teknis dan ekonomi, sampai maksimum sumberdaya yang ada (to maximum available

resources), dengan maksud untuk mencapai secara

bertahap perwujudan penuh (progressive realization) hak yang diakui dalam Kovenan dengan menggunakan semua sarana yang memadai (all appropriate means), termasuk pengambilan langkah-langkah legislatif.” Frase maximum available resources dan progressive realization yang terdapat dalam Kovenan tersebut seringkali disalah artikan sebagai dasar argumen bahwa pemenuhan hak-hak ekonomi sosial dan budaya akan terwujud setelah atau apabila suatu negara telah mencapai tingkat perkembangan ekonomi tertentu.

Kajian-kajian mutakhir menunjukkan bahwa anggapan 5

tersebut tidak berdasar. Pasal 2 Kovenan di atas memang tidak dirumuskan secara ketat, sehingga seringkali diartikan secara negatif –seakan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya bukan hak asasi manusia. Namun demikian, rumusan itu sesungguhnya tidak menghilangkan karakter hak asasi dari

6

hak-hak ekonomi, sosial budaya. Lebih dari itu sudah ada berbagai upaya dan dokumen yang menjelaskan kandungan hak tersebut. Komite Ekonomi, Sosial dan Budaya PBB, misalnya, telah menguraikan lingkup kewajiban negara dalam General Comment (Komentar Umum) No. 3, masyarakat akademik juga mencoba mendefinisikan dalam Limburg

7

Principles (Prinsip-Prinsip Limburg) dan Maastricht 8

Guideline (Panduan Maastricht). Di samping itu Pelapor Khusus, Danilo Turk, telah merumuskan sejumlah postulat dasar pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, di antaranya adalah bahwa ketersediaan sumber daya tidak bisa menjadi alasan untuk menjamin pemenuhan hak-hak

9 ekonomi, sosial dan budaya.

Dengan demikian, yang dimaksudkan dengan rumusan dalam Kovenan tersebut adalah kewajiban semua negara peserta untuk mewujudkan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, terlepas dari tingkat perkembangan ekonominya atau tingkat kekayaan nasionalnya. Rumusan dalam kovenan itu tidak bisa diartikan sebagai memberi peluang negara-negara untuk menunda usahanya tanpa batas waktu tertentu untuk menjamin realisasi hak yang digariskan dalam kovenan. Rumusan tersebut justru mewajibkan negara untuk bergerak secepat mungkin ke arah pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya. Kewajiban negara-negara peser ta untuk merealisasikan hak ekonomi, sosial dan budaya, dengan demikian, tidak tergantung pada tingkat ketersediaan sumber daya dan karenanya seluruh sumber daya yang ada harus digunakan dengan cara yang paling efektif bagi realisasi hak. Dengan kata lain, argumen progressive realization dan maximum available resources tidak dapat digunakan untuk mengesampingkan pemenuhan segera hak-hak tersebut. Negara memiliki kewajiban yang memiliki efek segera

10

(13)

Indonesia telah meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (KIHESB) pada 30 September 2005 melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2005. Dengan demikian, negara Indonesia berikut seluruh organnya, termasuk pemerintah daerah, terikat secara hukum untuk memenuhi kewajiban internasionalnya untuk mematuhi ketentuan-ketentuan yang ada dalam Kovenan tersebut, termasuk kewajiban untuk dengan segera mengambil langkah-langkah dalam upaya mewujudkan secara progresif hak yang termuat di dalamnya. Namun demikian, hak-hak ekonomi, sosial dan budaya pada kenyataannya belum banyak dipahami. Pemerintah seringkali memandang hak-hak ekonomi, sosial dan budaya lebih sebagai tujuan/cita-cita yang hendak dicapai ketimbang sebagai hak asasi yang harus dijamin pemenuhannya dalam kondisi apapun.

Dalam kaitan ini penting untuk melihat dan menilai sejauh mana negara telah berupaya memenuhi kewajibannya dalam merealisasikan secara bertahap hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, dengan melihat dua indikator utama, yakni kemauan (willingness) dan kemampuan (capacity) pemerintah. Pembedaan antara kemauan dan kemampuan ini penting dilakukan karena seringkali pemerintah tidak memenuhi kewajibannya dalam merealisasiakan hak asasi dengan dalih kurangnya sumber daya, padahal yang sebenarnya terjadi adalah kurangnya komitmen. Kemauan (willingness) dimaknai sebagai kemauan hukum dari pemerintah untuk mengadopsi

dan mengesahkan undang-undang yang relevan dengan 11

pemenuhan hak asasi manusia. Sedangkan kapasitas atau kemampuan (capacity) dimaknai sebagai pelaksanaan yang progresif setiap hak sesuai dengan sumberdaya finansial yang dimiliki. Hal yang lebih penting dalam konteks kemampuan sebuah negara adalah adanya alokasi anggaran yang cukup

12 bagi pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya.

Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah, di mana sejumlah wewenang dan kewajiban pemerintah pusat, termasuk yang menyangkut pelayanan publik dan pemenuhan hak-hak dasar warga, dilimpahkan ke pemerintah daerah, juga penting untuk menilai sejauh mana kesiapan pemerintah daerah dalam memenuhi secara bertahap hak-hak ekonomi, sosial dan budaya di tingkat lokal. Di tingkat daerah, komitmen dan kapasitas pemerintah bisa dilihat dari upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah beserta capaiannya. Komitmen dan kapasitas pemerintah daerah itu dapat diukur di antaranya dengan mengacu pada beberapa indikator seperti: (1) dijalankannya harmonisasi berbagai kebijakan dan regulasi daerah dengan cara merevisi atau mencabut kebijakan dan regulasi yang potensial melanggar HAM dan membuat kebijakan dan regulasi yang mendukung realisasi hak; (2) adanya alokasi anggaran yang memadai dan diupayakan terus meningkat untuk pelaksanaan hak asasi; (3) adanya langkah-langkah konkrit pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya yang dapat diakses dan dinikmati masyarakat,

(14)

khususnya kelompok marjinal; (4) disediakannya upaya-upaya remedial, termasuk judicial remedy atas pelanggaran terhadap hak atas baik yang dilakukan oleh aktor negara maupun aktor non-negara.

B. Tentang Buku Ini

Berdasarkan latar belakang seperti dipaparkan di atas, buku ini mencoba memotret situasi dan kondisi pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya setelah pemerintah meratifikasi Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (KIHESB) pada 2005. Seiring dengan berlakunya otonomi daerah di era reformasi, buku ini secara khusus mencoba menganalisis situasi umum pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya tersebut di sejumlah daerah dalam beberapa aspek, termasuk komitmen dan kapasitas pemerintah daerah. Karena luasnya cakupan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, pembahasan dan analisis dalam buku ini difokuskan pada pemenuhan dua hak ekonomi, sosial dan budaya, yakni hak atas pendidikan dan hak atas perumahan.

Secara lebih spesifik buku ini mencoba menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut: Bagaimana kondisi umum pemenuhan hak atas pendidikan dan perumahan di daerah? Sejauh mana pemerintah daerah mengambil kebijakan dan langkah-langkah legislatif dalam pemenuhan secara progresif hak atas pendidikan dan perumahan? Seberapa besar pemerintah daerah mengalokasikan anggaran

untuk kebijakan dan program-program pemenuhan dan perlindungan hak atas pendidikan dan perumahan? Bagaimana peran lembaga peradilan dalam menangani kasus-kasus pelanggaran terhadap hak atas pendidikan dan perumahan? Bagaimana pula peran civil society dalam upaya pemantauan dan advokasi pemenuhan hak atas pendidikan dan perumahan di tingkat lokal?

Lingkup geografis pembahasan buku ini dibatasi pada tiga daerah, yakni Nanggroe Aceh Darussalam, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kalimantan Timur. Tiga daerah ini dipilih secara purposive dengan pertimbangan bahwa ketiganya dapat dianggap cukup mewakili keragaman geografis, sumber daya dan kekayaan daerah serta dinamika politik lokal. Di Nanggroe Aceh Darussalam, analisis difokuskan pada Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhoksemawe, di Daerah Istimewa Yogyakarta analisis dibatasi pada Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul sedangkan di Kalimantan Timur kajian dibatasi pada konteks Kota Tarakan dan Kabupaten Bulungan.

C. Metodologi

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitis. Dalam hal ini, penelitian ini mencoba menggambarkan dan menjelaskan serta menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan status dan kondisi pemenuhan hak atas pendidikan dan perumahan di tiga daerah tersebut di atas. Penelitian ini

(15)

menggunakan pendekatan kualitatif dengan pertimbangan bahwa pendekatan tersebut menyediakan beberapa perangkat yang fleksibel bagi pengumpulan dan analisa data. Definisi generik dari penelitian kualitatif adalah “menggunakan berbagai metode, serta melibatkan pendekatan naturalistik

13 dan interpretatif terhadap subjek persoalannya”.

Data yang dikumpulkan dalam buku ini adalah data yang bersifat primer dan sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah berbagai produk hukum dan kebijakan pemerintah daerah serta hasil wawancara dengan aktor-aktor kunci, baik dari pihak pemerintah daerah yang relevan (bupati/walikota, kepala-kepala dinas yang relevan), kalangan masyarakat sipil (aktivis LSM, akademisi), maupun masyarakat miskin sebagai sasaran utama kebijakan pemerintah daerah. Adapun data sekunder berasal dari hasil penelitian kepustakaan. Data ini terdiri dari hasil-hasil penelitian sebelumnya, dokumen, buku, dan artikel yang terkait.

Data yang telah terkumpul dianalisis melalui dua tahap. Pada tahap pertama menggunakan strategi analisis umum yang disebut strategi mengandalkan proposisi-proposisi teoritis (relying on theoretical prepositions), dan pada tahap berikutnya menggunakan teknik analisis yang disebut dengan explanation building. Strategi analisis umum dengan mengandalkan proposisi-proposisi teoritis adalah analisis data dengan cara mengikuti proposisi-proposisi yang menuntun

seluruh rangkaian studi. Proposisi-proposisi dilakukan untuk memfokuskan perhatian pada data tertentu dan mengabaikan data yang lain, dan membantu mengorganisasi keseluruhan studi serta mendefinisikan penjelasan alternatif untuk diuji. Adapun teknik analisis explanation building digunakan karena model analisis ini dibutuhkan untuk menjelaskan suatu rangkaian hubungan kausal tentang fenomena atau kasus tertentu, yang bersifat kompleks dan sulit diukur secara pasti. D. Struktur Buku

Setelah bab ini, Bab 2 akan memaparkan kerangka teoretik yang menjadi pijakan analisis buku ini. Dalam bab ini akan dijelaskan sejumlah kerangka teori yang relevan, yaitu teori tentang kewajiban negara dalam pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya; insctrumen internasional dan nasional hak atas pendidikan dan perumahan berikut indikator-indikator pemenuhannya oleh negara; teori desentralisasi dan otonomi daerah, serta teori monitoring dan advokasi oleh masyarakat sipil.

Tiga bab berikutnya akan menyajikan analisis situasi pemenuhan hak atas pendidikan dan perumahan di tiga lokasi berbeda. Bab 3 memberikan analisis situasi di Nanggroe Aceh Darussalam, Bab 4 menganalisis situasi di Kalimantan Timur dan Bab 5 mengkaji situasi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Masing-masing bab akan menyoroti situasi pemenuhan hak atas pendidikan dan perumahan di tiga daerah tersebut dalam

(16)

beberapa aspek, yaitu: (a) kondisi umum pemenuhan hak atas pendidikan dan perumahan; (b) komitmen dan kapasitas pemerintah daerah berdasarkan dua indikator, yakni kebijakan dan regulasi serta alokasi anggaran; (c) advokasi dan monitoring pemenuhan hak atas pendidikan dan perumahan oleh masyarakat sipil; dan (d) peran pengadilan dalam penanganan kasus pelanggaran terhadap hak atas pendidikan dan perumahan.

Bab terakhir kemudian akan mengemukakan beberapa kesimpulan umum dari pemaparan dan analisis dalam tiga bab sebelumnya serta sejumlah rekomendasi berdasarkan kesimpulan-kesimpulan tersebut.

BAB 2

PEMENUHAN HAK ATAS PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN

DI ERA OTONOMI DAERAH: KERANGKA TEORETIK

Buku ini berupaya menggambarkan dan menganalisis situasi pemenuhan hak atas pendidikan dan perumahan di era desentralisasi dan otonomi daerah dewasa ini. Sebagai pijakan bagi analisis yang akan diberikan, buku ini menggunakan sejumlah kerangka teori. Setidaknya ada empat kerangka teoretik yang relevan bagi pembahasan dan analisis dalam buku ini, yaitu: (a) kewajiban dan tanggung jawab negara dalam pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya secara umum; (b) instrumen internasional dan nasional hak atas pendidikan dan perumahan serta indikator-indikator pemenuhannya oleh negara; (c) desentralisasi dan otonomi daerah; dan (d) monitoring dan advokasi masyarakat sipil.

A. Kewajiban Negara dalam Pemenuhan Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya

Hak asasi manusia pada dasarnya mengatur hubungan antara individu-individu dengan negara. Hak asasi manusia telah disepakati sebagai hukum internasional yang dapat menjadi standar yang kuat bagaimana negara harus memperlakukan individu-individu di dalam wilayah

(17)

yurisdiksinya. Dengan kata lain, hak asasi manusia memberikan jaminan moral dan hukum kepada individu-individu untuk melakukan kontrol dan mendorong aturan dalam praktik-praktik kekuasaan negara terhadap individu-individu, memastikan adanya kebebasan individu dalam berhubungan dengan negara, dan meminta negara memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar individu-individu yang berada di dalam wilayah yurisdiksinya. Di sinilah negara menjadi pihak yang memiliki tugas dan kewajiban (duty-bearer) untuk menghormati (to respect), melindungi (to protect) dan memenuhi

(to fulfil) hak asasi manusia dan individu-individu yang

berdiam di wilayah jurisdiksinya sebagai pemegang hak (rights 14

holder).

Pada masa-masa awal, ada anggapan, sesuai dengan teori status George Jellinek (status negativus = hak-hak liberal untuk tidak campur tangan, status activa = hak-hak partisipasi demokratis, status positivus = hak-hak sosial yang membutuhkan tindakan positif negara) dan teori tiga generasi hak asasi manusia, bahwa negara, berkenaan dengan hak-hak sipil dan politik, hanya diwajibkan untuk tidak ikut campur, sedangkan mengenai hak-hak ekonomi dan sosial mereka diwajibkan untuk memberikan pelayanan positif saja. Dengan kata lain, hak ekonomi, sosial dan budaya cenderung dibedakan secara tajam dari hak-hak sipil politik dengan kategorisasi bahwa yang pertama merupakan hak-hak positif

(positive rights), sementara yang kedua dikatakan sebagai

hak-15

Namun demikian, kajian-kajian mutakhir menunjukkan bahwa hak ekonomi, sosial dan budaya itu tidak sepenuhnya merupakan hak-hak positif. Sejumlah hak ekonomi, sosial dan budaya menuntut negara agar tidak mengambil tindakan (state

obligation not to do something) guna melindungi hak-hak

tersebut. Ini dapat dilihat pada klausul-klausul seperti hak berserikat, hak mogok, kebebasan memilih sekolah, kebebasan melakukan riset. Oleh karena itu, dan setelah tampak jelas bahwa hak asasi manusia tidak bisa dibagi dan saling tergantung, secara berangsur diterima pendapat bahwa pada prinsipnya negara diwajibkan untuk menghormati (to

respect), memenuhi (to fulfil) dan melindungi (to protect) semua

jenis hak asasi manusia, baik hak sipil politik maupun hak-16

hak ekonomi sosial dan budaya.

Kewajiban untuk menghormati (to respect) merujuk pada kewajiban negara untuk menghindari intervensi atas kedaulatan dan kebebasan individu. Intervensi yang tidak terjustifikasi dengan demikian merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Kewajiban untuk memenuhi (to fulfil) merujuk pada kewajiban negara untuk mengambil langkah-langlah legislatif, administratif, yudisial dan praktis yang diperlukan u n t u k m e m a s t i k a n b a h w a h a k a s a s i m a n u s i a diimplementasikan seluas mungkin. Sedangkan kewajiban untuk melindungi (to protect) lebih ditujukan untuk menghindari pelanggaran hak asasi manusia oleh pihak swasta. Kewajiban negara untuk melindungi dengan kata lain

(18)

ditunjukkan dengan mengambil tindakan terhadap segala bentuk pelanggaran hak asasi manusia (human rights abuses)

17 atau ancaman terhadap hak asasi menusia setiap individu.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) memaksakan sekurang-kurangnya kewajiban moral bagi semua negara untuk berupaya mewujudkan terpenuhinya hak ekonomi, sosial dan budaya. Namun melalui Pasal 2 Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (KIHESB) Negara-Negara Peserta telah mengemban kewajiban-kewajiban hukum yang mengikat untuk mengambil langkah-langkah bagi pengelolaan sumber daya yang tersedia secara maksimal, untuk secara progresif mencapai pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya secara penuh. Kata “pencapaian secara progresif ” menetapkan kewajiban-kewajiban yang jelas bagi Negara-Negara Peserta untuk bergerak secepat mungkin menuju perwujudan hak-hak

18 tersebut.

Pasal 2 ayat (1) Kovenan Internasional tentang Ekonomi, Sosial dan Budaya (KIHESB) menyatakan:

“Setiap Negara Peserta Kovenan ini berupaya untuk mengambil langkah-langkah, secara sendiri maupun melalui bantuan dan kerjasama internasional, khususnya dalam bidang ekconomi dan teknis, sejauh dimungkinkan oleh sumber daya yang tersedia, yang mengarah pada pencapaian secara bertahap dari realisasi sepenuhnya dari hak-hak yang diakui dalam Kovenan ini dengan semua cara yang tepat, termasuk pada khususnya dengan mengadopsi langkah-langkah legislatif ”.

Pasal 2 ini menjelaskan sifat dari kewajiban umum yang diemban oleh Negara Peserta Kovenan. Penggunaan istilah “Setiap Negara Peserta berupaya mengambil langkah-langkah” sebagaimana tersebut dalam Pasal 2 ayat (1) Kovenan ini memang biasanya ditafsirkan dengan kandungan arti implementasi Kovenan secara bertahap. Namun

19

demikian, Komite Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya melalui Komentar Umum No. 3 menjelaskan bahwa:

“..walaupun realisasi sepenuhnya atas hak-hak yang relevan bisa dicapai secara bertahap, langkah-langkah ke arah itu harus diambil dalam waktu yang tidak lama setelah Kovenan berlaku bagi Negara Peserta bersangkutan”.

Dengan kata lain, kewajiban untuk “secara bertahap mencapai realisasi sepenuhnya hak-hak tersebut” mengharuskan Negara Peserta bergerak secepat mungkin ke arah terwujudnya hak-hak tersebut. Dalam keadaan apapun hal ini tidak dapat ditafsirkan sebagai mengandung arti bahwa negara berhak untuk mengulur usaha secara tidak terbatas untuk memastikan realisasi sepenuhnya. Sebaliknya semua Negara Peserta mempunyai kewajiban untuk dengan segera mulai mengambil langkah-langkah untuk memenuhi kewajiban-kewajiban mereka berdasarkan Kovenan. Beberapa kewajiban berdasarkan Kovenan mengharuskan pelaksanaan sepenuhnya dengan segera oleh semua Negara Peserta, seperti larangan diskriminasi dalam pasal 2 Kovenan. Kewajiban terhadap pencapain secara bertahap ada dan tidak tergantung

(19)

pada peningkatan sumber daya. Kewajiban ini membutuhkan 20 penggunaan sumber-sumber yang tersedia secara efektif.

Karena itu frasa undertakes to take steps, to achieve progressively dan to maximum of its available resources pada Pasal 2 ayat (1) KIHESB harus dilihat sebagai ketentuan yang memiliki hubungan yang dinamis dengan semua pasal lainnya. Hakikat kewajiban hukum yang timbul dari pasal ini bukan hanya menuntut negara berperan aktif, tetapi juga menuntut negara tidak mengambil tindakan (pasif). Karena itu kurang tepat, tanggung jawab negara di bidang hak-hak ekonomi, sosial dan budaya ini dibedakan antara obligation of conduct dan obligation of result. Kedua kewajiban itu merupakan kewajiban yang sekaligus harus dipikul oleh negara dalam pelaksanaan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya. Misalnya, untuk mencukupi kebutuhan pangan, negara harus mengambil langkah-langkah dan kebijakan yang tepat agar tujuan mencukupi pangan tersebut berhasil

(obligation of result). Tetapi dalam waktu yang bersamaan,

negara juga tidak diberbolehkan mengambil tindakan yang menyebabkan seseorang kehilangan kebebasan memilih pekerjaan atau sekolah (obligation of conduct). Jadi jelas keliru jika tanggung jawab negara dikatakan terbatas pada obligation

21 of result.

Prinsip-Prinsip Limburg juga menegaskan hal yang serupa. Kumpulan prinsip yang disusun oleh para ahli hukum

22

internasional itu --yang didesain untuk memberi pedoman

dalam mengimplementasikan KIHESB-- ber usaha meletakkan arah baru dalam melihat tanggung jawab negara dalam konteks hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, yaitu dengan tidak memandangnya melulu bersifat positif. Hal ini dapat dibaca pada paragraf ke-16 Prinsip-Prinsip Limburg yang mengatakan:

“Some obligations unders the Covenant require immediate implementation in full by all States parties, such as the probihation of discrimination in article 2(2) of the Covenant.”

Jadi, meskipun KIHESB menetapkan pencapaian secara bertahap dan mengakui realitas keterbatasan sumberdaya yang tersedia di satu sisi, pada sisi lain ia juga menetapkan berbagai kewajiban yang memiliki efek segera (immediate

effect). Itu artinya hak-hak ekonomi, sosial dan budaya tidak

lagi dapat dilecehkan sebagai “bukan merupakan hak yang sebenarnya” alias sekedar “statemen politik”. Argumen maximum available resources atau progressive realization tidak dapat digunakan untuk mengesampingkan pemenuhan

23 segera hak-hak tersebut.

Interpretasi Komite tersebut berkaitan dengan kewajiban melakukan (obligation of conduct) maupun kewajiban hasil (obligation of result) bermaksud mengakui pentingnya sumber daya bagi pemenuhan hak-hak ini, tetapi tidak menganggap bahwa keterbatasan sumber daya sebagai alasan untuk lepas dari kewajiban. Dalam kasus semacam ini, Komite meyatakan bahwa dalam kasus di mana sejumlah

(20)

cukup signifikan rakyat hidup dalam kemiskinan dan kelaparan maka Negara harus membuktikan bahwa kegagalannya memenuhi hak-hak orang-orang ini memang di luar kendali. Di sinilah konteks gagasan kewajiban minimum

24

(minimum core obligation) yang dikembangkan Komite.

Komite melihat bahwa setiap Negara Peserta mempunyai kewajiban minimum untuk memenuhi tingkat pemenuhan yang minimum dari setiap hak yang terdapat dalam Kovenan. Komentar Umum No. 3 memberi ilustrasi yang sangat jelas untuk hal ini. Sebagai contoh, jika terdapat penduduk secara massal menderita kelaparan, tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan, tidak mempunyai tempat bernaung dan perumahan, atau tidak menikmati pendidikan dasar, maka dapat dinyatakan negara gagal menjalankan obligasinya berdasarkan Kovenan.

Lebih jauh Komite menjelaskan bahwa sekalipun didapati kenyataan tidak cukupnya sumber daya yang ada, kewajiban negara tetap harus dijalankan untuk menjamin pemenuhan hak yang seluas-seluasnya dalam kondisi yang sangat terbatas itu. Bahkan pada saat terjadi keterbatasan sumber daya yang akut, anggota masyarakat yang rentan dapat dan memang harus mendapatkan perlindungan dengan diadopsinya program-program yang dirancang relatif murah.

Dengan demikian, konsep kewajiban minimum dikembangkan untuk menyangkal alasan tidak adanya sumber

daya sebagai faktor yang mencegah pemenuhan kewajiban. Komite menegaskan bahwa negara mempunyai kewajiban minimum guna memenuhi realisasi setiap hak yang terdapat dalam Kovenan pada tingkat yang minimum. Kegagalan untuk memenuhi kewajiban minimum dapat disebut sebagai pelanggaran terhadap hak yang termuat dalam Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (KIHESB).

Kewajiban negara terhadap hak-hak ekonomi, sosial dan budaya pada tingkatan paling utama adalah menghormati

(to respect) sumber daya-sumber daya yang dimiliki baik oleh

individu maupun kolektif serta menghormati kebebasan untuk menggunakan sumber daya yang diperlukan baik sendiri maupun bekerja sama guna memenuhi kebutuhan

25

hidupnya. Kewajiban ini juga mensyaratkan negara untuk tidak ikut campur tangan dalam upaya pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya. Dalam tingkat kewajiban ini, negara diharuskan untuk tidak mengambil tindakan-tindakan yang mengakibatkan tercegahnya akses seseorang terhadap hak-haknya. Termasuk di dalamnya adalah mencegah melakukan sesuatu yang dapat menghambat warga memanfaatkan sumber-sumber daya alam materil yang tersedia. Dalam konteks hak atas perumahan, misalnya, negara tidak diperkenankan melakukan penggusurann (paksa).

(21)

Kewajiban negara pada tahap kedua mencakup kewajiban melindungi (to protect). Kewajiban ini pada dasarnya mengharuskan negara mengontrol aktor-aktor lain yang berada di bawah yuridiksinya dan mengambil tindakan terhadap perbuatan yang dilakukan oleh satuan-satuan bukan negara. Kewajiban ini mencakup tanggung jawab negara untuk memastikan bahwa pihak swasta atau perorangan, termasuk perusahaan transnasional di mana mereka mempunyai yurisdiksi, tidak meniadakan hak-hak perorangan atas ekonomi, sosial dan budaya. Negara bertanggung jawab atas pelanggaran terhadap hak ekonomi, sosial dan budaya yang timbul dari kegagalan untuk melaksanakan pengawasan yang ketat terhadap tingkah laku para pelaku non-negara

26 tersebut.

Kewajiban negara untuk melindungi hak ekonomi, sosial dan budaya juga meluas ke partisipasinya dalam organisasi internasional, di mana negara-negara itu bertindak bersama-sama. Sangat penting bahwa negara-negara menggunakan pengaruhnya untuk memastikan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut tidak timbul dari program dan kebijakan organisasi-organisasi di mana mereka adalah anggotanya. Dihapuskannya pelanggaran terhadap hak ekonomi, sosial dan budaya merupakan hal yang sangat penting bagi organisasi internasional, termasuk lembaga keuangan internasional, untuk memperbaiki kebijakan dan tindakan mereka sehingga tidak menyebabkan hilangnya hak

ekonomi, sosial dan budaya. Negara-negara anggota dari organisasi semacam itu, secara sendiri-sendiri atau melalui badan-badan yang memerintah, maupun sekretariat serta lembaga swadaya masyarakat harus mendorong dan menggeneralisasikan kecenderungan dari beberapa organisasi semacam ini untuk meninjau ulang kebijakan dan program mereka dengan mempertimbangkan masalah mengenai hak ekonomi, sosial dan budaya, terutama ketika kebijakan dan program ini dilaksanakan di negara yang kekurangan sumber daya untuk melawan tekanan dari lembaga internasional terhadap pembuatan keputusan yang mempengaruhi hak

27 ekonomi, sosial dan budaya.

Pada tahap ketiga, negara mempunyai kewajiban untuk membantu (to assist) dan memenuhi (to fulfil) hak setiap orang di

28 bawah ketentuan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya. Jika kewajiban menghormati pada intinya membatasi tindakan negara, kewajiban 'memenuhi' mengharuskan negara untuk melakukan tindak proaktif yang bertujuan memperkuat akses masyarakat atas sumber-sumber daya. Kewajiban ini merupakan kewajiban yang paling menuntut intervensi negara

(positive measures) sehingga terjamin hak setiap orang atas

kesempatan memperoleh haknya yang tidak dapat dipenuhi melalui usaha sendiri. Dalam kewajiban ini masalah anggaran

29 belanja negara menjadi sangat penting.

Dari paparan tentang kewajiban dan tanggung jawab negara tersebut, tampak jelas bahwa tanggungjawab negara

(22)

(state obligation) dalam memajukan hak ekonomi, sosial dan

budaya tidak hanya dalam bentuk obligation of result, tetapi sekaligus dalam bentuk obligation of conduct. Dalam konteks tanggungjawab yang demikian ini, maka kebijakan-kebijakan negara dalam memajukan hak ekonomi, sosial dan budaya harus dapat menunjukkan terpenuhinya kedua bentuk kewajiban tersebut. Artinya, ketika negara merancang kebijakan kebijakan pendidikan, ia harus sudah menimbang hasilnya dapat menjamin terpenuhinya hak atas pendidikan tersebut. Begitu pula negara harus menyediakan sarana atau mekanisme yang memberi akses kepada rakyat untuk menuntut apabila hak-hak tersebut tidak terpenuhi.

Dalam kontek pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya, kewajiban negara tidak terkait dengan pilihan sistem ekonomi yang diterapkan negara tersebut, apakah pro-pasar atau sistem komando. Sekalipun kebijakan ekonomi suatu negara didasarkan pada sistem pasar bebas atau liberalisme –seperti yang sekarang diterapkan pemerintahan saat ini, negara tersebut tetap memikul kewajiban merealisasi hak ekonomi, sosial dan budaya warganya di dalam sistem ekonomi tersebut. Apabila kebijakan ekonomi negara tersebut gagal memberi jaminan terhadap pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya warganya, maka negara dapat dikatakan melanggar hak-hak yang terdapat dalam Kovenan tersebut

(violations of covenant obligations). Apalagi setelah sebuah

30 negara menjadi pihak dari Kovenan tersebut.

Karena hak ekonomi, sosial dan budaya, sebagaimana hak sipil dan politik, juga mengharuskan negara untuk menahan diri (negative rights) dan intervensi agar pemenuhan hak tercapai (positive rights), pelanggaran hak ekonomi, sosial dan budaya dapat berupa pelanggaran by ommission (melalui tindakan pembiaran) maupun by commission (dengan sengaja melakukan tindakan itu sendiri).

Panduan Maastrich merinci sejumlah tindakan yang 31 dapat dikategorikan sebagai pelanggaran by commission:

a. meniadakan aturan yang sangat penting bagi pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya; b. adanya perlakuan-perlakuan diskriminatif;

c. mengeluarkan peraturan atau kebijakan yang menambah pelanggaran hak asasi manusia. Tentu jika kebijakan itu memiliki tujuan yang jelas-jelas dapat meningkatkan persamaan dan memberi perlindungan lebih pada kelompok rentan, kebijakan itu bukan pelanggaran hak ekonomi, sosial dan budaya.

d. pemotongan atau relokasi anggaran yang mengakibatkan tidak dinikmatinya hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, seperti peralihan biaya pendidikan dan pelayanan dasar kesehatan untuk pembelanjaan alat-alat militer.

Sedangkan pelanggaran hak ekonomi, sosial dan budaya yang dilakukan dengan pembiaran (by omission) merujuk pada

(23)

Panduan Maastrich yang memberi gambaran sejumlah tindakan yang dianggap sebagai bentuk pelanggaran tersebut. Panduan itu memang dirumuskan secara umum sehingga dapat diterapkan dalam situasi riil. Daftar yang disusun di bawah ini didasarkan pada kewajiban negara untuk aktif sehingga menjamin pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya secara tepat. Kalau negara yang harusnya melakukan tapi tidak melakukan kewajiban itu, ia dianggap telah melakukan pelanggaran hak ekonomi, sosial dan budaya dengan pembiaran, sebagai contoh:

a. seperti juga diungkapkan dalam Prinsip 32

Limburg, kegagalan negara untuk melakukan langkah-langkah yang diperlukan (sesuai pasal 2 ayat (1)) merupakan pelanggaran hak asasi manusia karena pembiaran;

b. kegagalan merubah atau mencabut aturan yang sungguh-sungguh tidak konsisten dengan kewajiban yang ada dalam kovenan ini;

c. k e g a g a l a n m e l a k s a n a k a n a t u r a n a t a u memberlakukan kebijakan yang diperuntukan bagi pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya; d. kegagalan mengatur pihak ketiga (termasuk

modal) entah individu atau kelompok agar mereka mencegah melakukan pelanggaran hak ekonomi, sosial dan budaya;

e. kegagalan negara memperhitungkan aspek

ekonomi, sosial dan budaya dalam membuat perjanjian internasional dengan negara lain, sebuah organisasi internasional, atau dengan perusahaan multinasional. Dalam hal ini, negara tetap dianggap sebagai pihak yang memiliki k a p a s i t a s u n t u k m e n j a m i n p e n c e g a h a n pelanggaran oleh pihak ketiga.

B. Hak Atas Pendidikan (1) Instrumen Internasional

Pendidikan merupakan elemen dasar dari hak asasi manusia. Di dalam hak atas pendidikan terkandung berbagai elemen yaitu hak ekonomi, sosial dan budaya dan juga hak sipil dan politik. Hak atas pendidikan adalah hak asasi manusia dan sarana yang mutlak diperlukan demi terpenuhinya hak-hak yang lain. Penyelenggaraan pendidikan hingga selesai tahapan pendidikan merupakan prasyarat untuk mendapatkan hak atas pekerjaan, dengan asumsi bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka akan mudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan pendidikan juga seringkali dikaitkan dengan isu hak perempuan; pendidikan dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting untuk pemberdayaan perempuan.

Pendidikan juga merupakan elemen dasar bagi penghormatan terhadap hak-hak sipil dan politik. Pendidikan akan mengantarkan seseorang untuk dapat dipilih dan

(24)

memilih dan berperan serta dalam pemerintahan. Pendidikan juga yang mengantarkan seseorang untuk dapat membaca kartu suara pada pemilihan umum, sehingga pilihan yang diberikan adalah pilihan sehat dan bukan pilihan buta.

Begitu pentingnya hak atas pendidikan, maka seluruh komunitas internasional bersepakat untuk meletakkan hak atas pendidikan sebagai salah satu hak yang wajib dipenuhi oleh seluruh pemerintahan di seluruh negara. Kewajiban tersebut secara eksplisit ditegaskan di dalam berbagai instrumen internasional, khususnya di dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) dan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (KIHESB).

Pasal 26 ayat (1) DUHAM menjelaskan:

Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Pendidikan harus dengan cuma-cuma, setidak-tidaknya dalam tingkatan rendah dan tingkatan dasar. Pendidikan sekolah rendah harus diwajibkan. Pendidikan teknik dan kejuruan harus terbuka bagi semua orang dan pendidikan tinggi harus dapat dimasuki dengan cara yang sama oleh semua orang, berdasarkan kecerdasan. Ketentuan di atas memposisikan pendidikan sebagai hak dasar yang harus diberikan secara gratis, bahkan harus diwajibkan. Artinya, penyelenggaraan pendidikan adalah wajib bagi pemerintah. Ini adalah salah satu dari sedikit kewajiban positif yang secara eksplisit dibebankan kepada negara oleh DUHAM. Prinsip dasar yang diatur oleh DUHAM di atas dioperasionalkan oleh Kovenan yang lain

yaitu Pasal 13 KIHESB yang menyatakan:

1. Para Negara Peserta Kovenan ini mengakui hak setiap orang atas pendidikan. Mereka bersepakat bahwa pendidikan harus diarahkan pada perkembangan seutuhnya dari kepribadian manusia dan kesadaran akan harga dirinya, dan memperkuat rasa hormat terhadap hak asasi manusia dan kebebasan dasar. Mereka bersepakat bahwa pendidikan harus memungkinkan semua orang untuk berpartisipasi secara efektif dalam suatu masyarakat yang bebas, meningkatkan rasa pengertian, toleransi serta persahabatan antara semua bangsa dan semua kelompok rasial, etnis a t a u a g a m a , d a n m e m a j u k a n k e g i a t a n perserikatan bangsa-bangsa.

2. Para Negara Peserta Kovenan ini mengaku bahwa untuk melaksanakan hak itu secara penuh:

a. Pendidikan dasar harus diwajibkan dan terbuka bagi semua orang;

b. Pendididikan lanjutan dalam berbagai bentuknya, termasuk pendidikan teknik dan kejuruan tingkat menengah pada umumnya harus dapat diperoleh dan terbuka bagi semua orang dengan segala cara yang layak dan khususnya mengadakan pendidikan cuma-cuma, secara bertahap;

c. Pendidikan lebih tinggi har us juga dilaksanakan atas prinsip terbuka bagi semua orang atas dasar kecakapan dengan segala upaya yang tepat, khususnya dengan penyelenggaraan pendidikan cuma-cuma secara bertahap;

d. Pendidikan dasar harus sejauh mungkin dianjurkan atai diidentifikasikan bagi orang-o r a n g ya n g b e l u m m e n a d a p a t k a n p e n d i d i k a n d a s a r a t a u b e l u m menamatkannya;

(25)

e. Pengembangan suatu sistem sekolah ada semua tingkat harus secara aktif dikejar, suatu sistem bea siswa yang memadai harus dibentuk, dan kondisi-kondisi materi staf pengajar harus terus-menerus diperbaiki. Pasal 13 di atas secara tegas mengatur bahwa pendidikan adalah hak setiap orang dan pemerintah wajib mengakui hak tersebut dan wajib memenuhi secara bertahap seluruh kebutuhan hak atas pendidikan secara cuma-cuma. Bagi negara-negara yang belum memiliki kemampuan untuk memenuhi hak atas pendidikan secara gratis, maka mereka diberi kesempatan untuk memenuhinya secara bertahap. Namun, di dalam Pasal 14 disebutkan bahwa pemerintah dari negara peserta hanya memiliki waktu dua tahun untuk secara efektif melakukan berbagai langkah progresif demi terpenuhinya hak atas pendidikan secara gratis. Pasal 14 tersebut berbunyi:

“Setiap Negara Pihak pada Kovenan ini, yang pada waktu menjadi Pihak tidak dapat menyelenggarakan wajib belajar tingkat dasar secara cuma-cuma di daerah kota atau daerah lain yang berada di bawah yurisdiksinya, harus berusaha, dalam jangka waktu dua tahun, menyusun dan menetapkan rencana kegiatan yang terperinci untuk dilaksanakan secara bertahap, prinsip pendidikan wajib yang cuma-cuma bagi semua orang yang harus ditetapkan dalam rencana tersebut”. Pentingnya pendidikan tercermin dalam kenyataan bahwa Komite Ekonomi, Sosial dan Budaya mengeluarkan dua Komentar Umum mengenai hak atas pendidikan, yakni: Komentar Umum No. 11 dan No. 13. Komentar Umum No.

11 difokuskan pada Pasal 14, yakni bahwa pendidikan dasar harus bersifat wajib dan bebas, sedangkan Komentar Umum No. 13 lebih terfokus pada Pasal 13, yakni ketentuan umum tentang pendidikan.

Ketentuan yang sangat rinci tentang tujuan dan sasaran terhadap hak atas pendidikan juga ditemukan dalam Convention On The Rights Of The Child (Konvensi Hak Anak). Dalam Pasal 28 Ayat (1) Konvensi itu disebutkan bahwa: Negara-Negara Pihak mengakui hak anak atas pendidikan, dan dengan tujuan mencapai hak ini secara progresif dan berdasarkan kesempatan yang sama, mereka harus, terutama: (a) Membuat pendidikan dasar diwajibkan dan terbuka bagi semua anak; (b) Mendorong perkembangan bentuk-bentuk pendidikan menengah yang berbeda-beda, termasuk pendidikan umum dan pendidikan kejuruan, membuat pendidikan-pendidikan tersebut tersedia dan dapat dimasuki oleh setiap anak, dan mengambil langkah-langkah yang tepat seperti memperkenalkan pendidikan cuma-cuma dan menawarkan bantuan keuangan jika dibutuhkan; (c) Membuat pendidikan yang lebih tinggi dapat dimasuki oleh semua anak berdasarkan kemampuan dengan setiap sarana yang tepat; (d) Membuat informasi pendidikan dan kejuruan dan bimbingan tersedia dan dapat dimasuki oleh semua anak; (e) Mengambil langkah untuk mendorong kehadiran yang tetap di sekolah dan penurunan angka putus sekolah. (2) Negara-negara Pihak harus mengambil semua langkah yang

(26)

tepat untuk menjamin bahwa disiplin sekolah dilaksanakan dalam cara yang sesuai dengan martabat manusia si anak dan sesuai dengan Konvensi ini. (3) Negara-negara Pihak harus meningkatkan dan mendorong kerja sama internasional dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan, terutama dengan tujuan mengarah pada penghapusan kebodohan dan buta aksara di seluruh penjuru dunia dan memberikan fasilitas akses ke ilmu pengetahuan dan pengetahuan teknik dan metode-metode mengajar modern. Dalam hal ini, perhatian khusus harus diberikan pada kebutuhan-kebutuhan negara-negara sedang berkembang.

Pasal 29 ayat (1) berbunyi: Negara-Negara Pihak bersepakat bahwa pendidikan anak harus diarahkan pada: (a) Pengembangan kepribadian anak, bakat-bakat dan kemampuan mental dan fisik pada potensi terpenuh mereka; (b) Pengembangan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan dasar dan prinsip-prinsip yang diabadikan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa; (c) Pengembangan penghormatan terhadap orang tua anak, jati diri budayanya sendiri, bahasa dan nilai-nilainya sendiri terhadap nilai-nilai nasional dari negara di mana anak itu sedang bertempat tinggal, negara anak itu mungkin berasal dan terhadap peradaban-peradaban yang berbeda dengan miliknya sendiri; (d) Persiapan anak untuk kehidupan yang bertanggung jawab dalam suatu masyarakat yang bebas, dalam semangat saling pengertian, perdamaian, tenggang

rasa, persamaan jenis kelamin, dan persahabatan antara semua bangsa, etnis, warga negara dan kelompok agama, dan orang-orang asal pribumi; (e) Pengembangan untuk menghargai lingkungan alam. Ayat (2) berbunyi: Tidak satu pun bagian dari pasal ini atau Pasal 28 dapat ditafsirkan sehingga mengganggu kebebasan orang-orang dan badan-badan untuk membuat dan mengarahkan lembaga-lembaga pendidikan, dengan selalu tunduk pada pentaatan prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam ayat (1) Pasal ini dan pada persyaratan-persyaratan bahwa pendidikan yang diberikan dalam lembaga-lembaga tersebut harus memenuhi standar minimum seperti yang mungkin ditentukan oleh negara yang bersangkutan.

Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial 1965 dalam Pasal 5 juga telah memberikan jaminan perlindungan terhadap hak atas pendidikan. Selanjutnya Konvensi Menentang Diskriminasi dalam Pendidikan yang disepakati pada tangga 14 Desember 1960 oleh Konferensi Umum Organisasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa m e n ya t a k a n p e r s a m a a n k e s e m p a t a n p e n d i d i k a n , menghormati keragaman sistem pendidikan nasional dan mewajibkan bagi negara-negara untuk melarang setiap bentuk diskriminasi dalam pendidikan dan meningkatkan persamaan kesempatan dan perlakuan bagi semua orang dalam hal pendidikan dari segala perbedaan, baik ras, warna kulit, jenis

(27)

kelamin, bahasa, agama, politik, asal-usul kebangsaan atau sosial, kondisi ekonomi.

Konvensi Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan Pasal 14 ayat (2) menegaskan bahwa: Negara-negara peserta wajib membuat peraturan-peraturan yang tepat untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan di daerah pedesaan, dan menjamin bahwa mereka ikut serta dalam dan mengecap manfaat dari pembangunan pedesaan atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan, khususnya menjamin kepada perempuan pedesaan hak: huruf (d) Untuk memperoleh segala jenis pelatihan dan pendidikan, baik formal maupun non formal, termasuk yang berhubungan dengan pemberantasan buta huruf fungsional, serta manfaat semua pelayanan masyarakat dan pelayanan penyuluhan guna meningkatkan ketrampilan tehnik mereka; dan huruf (e) Untuk berpartisipasi dalam semua kegiatan masyarakat.

(2) Instrumen Nasional

Pemerintah Indonesia telah mengakui bahwa hak atas pendidikan adalah hak dasar yang harus dipenuhi oleh negara. Pengakuan itu dilakukan dengan melakukan ratifikasi terhadap Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (KIHESB) dan dengan disahkannya beberapa produk perundang-undangan yang mengatur tentang pendidikan.

Pengaturan tentang hak atas pendidikan di Indonesia terdapat mulai dari Undang-Undang Dasar 1945 hingga beberapa perarturan perundang-undangan di bawahnya. Pasal 28 C ayat (1) UUD menyebutkan bahwa:

“Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi m e n i n g k a t k a n k u a l i t a s h i d u p n ya d a n d e m i kesejahteraan umat manusia”.

Ketentuan di atas diperkuat secara tegas dan detil dengan Pasal 33 UUD menyebutkan bahwa:

(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan

dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan s a t u s i s t e m p e n d i d i k a n n a s i o n a l , ya n g meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

(4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurangkurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari aggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. (5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan

tekhnologi dengan menjunjung tinggi nilainilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Pengakuan terhadap hak atas pendidikan juga diperkuat oleh beberapa undang-udang yang lain seperti

(28)

Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia, Undang-Undang-Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan beberapa Undang-Undang ratifikasi atas kovenan dan konvensi internasional di bidang pendidikan dan hak anak.

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia secara tegas menyebutkan bahwa hak atas pendidikan adalah hak asasi manusia. Pasal 12 menyebutkan bahwa:

“Setiap orang berhak atas perlindungan bagi pengembangan pribadinya, untuk memperoleh pendidikan, mencerdaskan dirinya, dan meningkatkan kualitas hidupnya agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, bertanggung jawab, berakhlak mulia, bahagia, dan sejahtera sesuai dengan hak asasi manusia”.

Pada pasal yang lain ditegaskan bahwa setiap anak berhak atas pendidikan yang layak. Hal ini dipesankan oleh Pasal 60 sebagai berikut:

(1) Setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya.

(2) Setiap anak berhak mencari, menerima, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat intelektualitas dan usianya demi pengembangan dirinya sepanjang sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan.

Ketentuan tentang hak atas pendidikan juga diakomodasi di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun

2002 tentang Perlindungan Anak. Pada Pasal 9 disebutkan bahwa:

(1) Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.

(2) Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), khusus bagi anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus. Hak atas pendidikan mencakup kepentingan banyak stakeholder, bukan saja anak (siswa) tetapi juga para guru, orang tua dan negara. Anak-anak memiliki hak untuk memperoleh pendidikan, guru memiliki hak atas kebebasan akademis untuk memastikan bahwa pendidikan yang layak disediakan, orang tua memiliki hak untuk memastikan bahwa pendidikan yang diterima oleh anak-anak mereka sesuai dengan kepercayaan mereka, dan negara memiliki beberapa hak untuk menentukan standar dan norma pendidikan untuk memastikan pelaksanaan yang layak dari kewajibannya dalam pendidikan.

Kepentingan di atas sudah dicoba diakomodasi di dalam Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional, walaupun secara umum terdapat beberapa pasal yang tidak sejalan dengan prinsip hak asasi manusia. Pasal 5 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 mengamanatkan sebagai berikut:

Gambar

Tabel Rata-rata Jumlah Guru Pada Setiap Sekolah Dasar
Tabel Tabel Jumlah Taman Kanak-Kanak (TK)
Tabel Banyaknya Siswa SD dan MI Yang Putus Sekolah
Tabel Jumlah Siswa SD dan MI yang Putus Sekolah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Laporan kinerja UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Triwulan I Tahun 2021 disusun sesuai dengan amanah yang dikandung dalam Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang

Teori Piaget merupakan akar revolusi kognitif saat ini yang menekankan pada proses mental (Kompasiana, edisi 12 Maret 2011). Piaget mengambil perspektif organismik,

Sedangkan pasal 29 ayat 1 UUD 1945 berbunyi: “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa” Terhadap pasal 29 ayat 1 UUD 1945, Hazairin memberi komentar antara

Program pemberian Vitamin A adalah salah satu bentuk intervensi yang murah dan 

Pelaksanaan Acara Puncak Peringatan Hari Habitat Tahun 2007 yang akan diselenggarakan di Kota Surakarta dilakukan bersama- sama oleh Departemen Pekerjaan Umum, Kementerian Negara

sebagai akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi. d) Penyelenggaraan peran masyarakat jasa konstruksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui suatu

Pasal 106 ayat 1 KUHAP yang berbunyi “ Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Pedoman Teknis Bangunan Gedung Negara .... 12 Tabel 2.2 Pedoman Teknis Bangunan Gedung Negara