• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

3.2. Metode Pengukuran

3.2.3. Skala Pengukuran

3.2.3.2. Skala Interval (Skala Likert)

Imron & Munif mengatakan bahwa pengukuran menggunakan skala interval adalah mempunyai sifat berurutan dan dapat dijadikan rangking dimana jarak nomor atau simbol yang sama yang juga menunjukkan jarak yang sama dari indikator sifat yang diukur. Besar interval dapat dikurangi atau ditambah (Siswanto & Suyanto, 2018:168).

Skala interval yang dipakai dalam penelitian ini adalah Skala Likert yang dikembangkan oleh Rensis Likert yang sering disebut sebagai Method of Summated Rating yang berarti nilai peringkat setiap jawaban atau tanggapan dijumlahkan sehingga mencapai nilai total (Ruslan, 2003:198).

Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi

2014:107). Sementara Dane mengatakan Skala Likert adalah teknik skala non-komparatif dan unidimensional (hanya mengukur sifat tunggal) secara alami.

Responden diminta untuk menunjukkan tingkat kesepakatan melalui pernyataan yang diberikan dengan cara skala ordinal (skala-ikert-metode-perhitungan-persentase-dan- interval : diakses 17 september 2019).

Dari pengertian pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa skala likert merupakan metode perhitungan kuesioner yang dibagikan kepada responden penelitian untuk mengetahui skala sikap suatu objek tertentu. Didasarkan pada jawaban responden terhadap pertanyaan atau pernyataan dari kuisioner yang disesuaikan dengan skor dimana skor tertinggi setiap pertanyaan adalah 5 (lima) dan terendah adalah 1 (satu). Jawaban setiap item instrumen mempunyai gradasi dari sangat positif hingga sangat negatif yang dapat berupa kata-kata, antara lain:

Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).

Penerapan skala likert dilakukan dalam bentuk ceklis dengan menggunakan alternatif jawaban: yang dapat dilihat dalam contoh pada tabel 3.7.berikut ini:

Tabel 3.7 Instrumen Skala Likert

No Pernyataan Skor

1 SangatSetuju (SS) 5

2 Setuju (S) 4

3 KurangSetuju (KS) 3

4 TidakSetuju (TS) 2

5 SangatTidakSetuju (STS) 1

Sumber: Sugiyono (2014:107)

3.1.1.1.1. Skor Ideal

Skor ideal adalah skor yang digunakan untuk menghitung skor dalam menetukan rating scale dan jumlah seluruh jawaban. Untuk menghitung jumlah skor ideal (kriterium dari seluruh item maka digunakan rumus berikut:

Skor Kriterium= Nilai skala x jumlah responden x jumlah pertanyaan

Jika skor tertinggi adalah 5 dan jumlah responden 80 dan pertanyaan 1, maka dapat dirumuskan seperti pada tabel 3.8 berikut:

Tabel 3.8 Menentukan skor ideal

Rumus Skala

5 x 80 responden x 1 pertanyaan = 400 SS (Sangat setuju) 4 x 80 responden x 1 pertanyaan = 320 S (Setuju) 3 x 80 responden x 1 pertanyaan = 240 KS (Kurang Setuju) 2 x 80 responden x 1 pertanyaan = 160 TS (Tidak Setuju)

1 x 80 responden x 1 pertanyaan = 80 STS (Sangat Tidak Setuju) Sumber:http://rolahengki.com/

Selanjutnya semua jawaban responden dijumlahkan dan dimasukkan ke dalam rating scale dan ditentukan daerah jawabannya.

3.1.1.1.2. Rating Scale

Skor yang telah diperoleh melalui penjumlahan skor ideal kemudian dimasukkan kedalam rating scale seperti pada gambar berikut ini:

0 80 160 240 320 400

0 % 20 % 40 % 60 % 80 % 100

%

STS TS S KS SS

Rating scale bertujuan untuk mengetahui hasil data dari kuesioner penelitian dan keseluruhan yang didapat dari penilaian. Dengan ketentuan dapat dilihat pada tabel 3.9 berikut:

Tabel 3.9

Menentukan Rating Scale

Rumus Skala

320 – 400 SS (Sangat setuju)

240 – 320 S (Setuju)

160 – 240 KS (Kurang Setuju) 80 – 160 TS (Tidak Setuju)

0 – 80 STS (Sangat Tidak Setuju)

3.1.1.1.3. Persentase Persetujuan

Untuk mengetahui jumlah jawaban dari responden penelitian melalui persentase, maka digunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

P : Persentase

f : Frekuensi dari setiap jawaban responden pada kuesioner n : Jumlah Skor Ideal

100 : Bilangan tetap (Sugiono, 2012: 95)

3.2.3.2. Skala Nominal

Riduan & Akdon (Siswanto & Suyanto, 218:167) mengatakan skala nominal adalah skala yang sangat sederhana disusun berdasarkan jenis (kategorinya) atau fungsi bilangan hanya sebagai simbol untuk membedakan suatu karakteristik dengan karakteristik lain. Ciri-ciri skala nominal antara lain:

Hasil perhitungan yang tidak dijumpai bilangan pecahan. Angka yang tertera hanya label saja dan tidak memiliki urutan atau perengkingan dan tidak memiliki

nol mutlak. Test statistik yang dipakai pada skala ini adalah statistik non parametik. Skala nominal dalam penelitian ini digunakan dalam pengukuran status penyuluh dan jenis kelamin responden penelitian, kode 1 diberikan pada jenis kelamin laki-laki dan kode 2 diberikan pada jenis kelamin perempuan.

3.2.3.3. Skala Ratio

Skala rastio merupakann skala pengukuran yang mempunyai nilai nol mutlak serta mempunyai jarak yang sama. Seperti misalnya umur manusia tidak memiliki angka nol. Maksudnya adalah seseorang tidak dapat berumur dibawah 0 tahun. Pengukuran skala ratio perlu dilakukan oleh peneliti mengingat bahwa dalam skala ini selain memiliki sifat skala nominal, ordinal dan interval, juga memiliki titik 0 absolut dengan pemaknaan empiris (Siswanto & Suyanto, 2018:169).

Skala rastio dalam penelitian ini digunakan dalam pengukuran karakteristik penyuluh pada poin umur dan pendidikan non formal (banyaknya penyuluh mengikuti pelatihan). Untuk poin umur, penyuluh digolongkan muda jika interval umur 23-35 tahun, penyuluh golongkan dewasa jika umur 36-47 tahun, dan penyuluh di golongkan tua jika umur 48-60 tahun. Selanjutnya untuk poin pendidikan non formal (banyaknya mengikuti pelatihan jika interval pelatihan yang pernah diikuti 0-5 kali tergolong pada kategori rendah, 6-10 kali digolongkan pada kategori sedang, dan > 10 digolongkan pada kategori tinggi.

3.3. Populasi Dan Metode Pengambilan Sampel 3.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian kuantitatif terdiri atas semua orang sebagai objek penelitian yang termasuk dalam kategori tertentu sementara sampel adalah sekelompok orang yang dipilih untuk mewakili populasi dari yang ingin diteliti (Richard & Linn.2013). Populasi adalah keseluruhan objek atau subjek yang berada pada wilayah tertentu dan memenuhi syarat-syarat yang berkaitan dengan masalah penelitian (Yuwono & Rahardjo, 2016).

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penyuluh pertanian PNS, THL dan Swadaya di wilayah Kabupaten Aceh Singkil yang berada dibawah instansi Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Aceh Singkil yang berjumlah 80 orang.

3.3.2. Metode Pengambilan Sampel

Sample adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi dengan kata lain Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek atau fenomena yang diamati (Sugiyono,2019:136).

Mengingat jumlah populasi penelitian ini angkanya dibawah 100 penelitian ini mengobsevasi semua populasi dan dijadikan sampel penelitian yaitu seluruh penyuluh pertanian yang berada dibawah naungan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Aceh Singkil, baik penyuluh pertanian PNS, THL maupun Swadaya dengan jumlah keseluruhan 80 orang yang berasal dari 11 BPP atau Kecamatan se Kabupaten Aceh Singkil.

Dalam penelitian ini semua populasi digunakan sebagai sample (Total Sampling). Jika populasi kurang dari 100, maka keseluruhan populasi dijadikan sampel, sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi (Arikunto, 2006:140).

Apabila peneliti ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut study populasi atau study sensus. Total sampling adalah teknik penentuan sample bila semua anggota populasi digunakan sebagai sample (Sugiyono, 2019:143)

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Pada umumnya dalam penelitian kuantitatif pengumpulan data dapat dilakukan dengan tiga cara, diataranya adalah dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang dapat digunakan oleh peneliti diantaranya adalah: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Semua teknik pengumpulan data ini dapat digunakan untuk memperkaya data yang dikumpulkan selama penelitian berlangsung (Edy Suwono, 2016:88).

Teknik pengumpulan data adalah metode atau cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data. Teknik pengumpulan data penelitian kuantitatif biasanya melalui obeservasi, kuesioner, wawancara, dan dokumentasi (Ardianto.E, 2011:162). Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data skunder.

3.4.1. Data Primer

Data primer diperoleh langsung dari Penyuluh Pertanian Kabupaten Aceh Singkil melalui observasi (pengamatan langsung), wawancara langsung dan dengan menggunakan daftar pertanyaan atau kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh peneliti.

3.4.1.1. Kuesioner dan Wawancara

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menyebarkan kepada setiap sampel penelitian seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis untuk dijawab oleh penyuluh (Siswanto & Suyanto, 2018).

Kuesioner merupakan teknik atau cara pengumpulan data dimana semua penyuluh yang dijadikan sebagai sampel penelitian mengisi semua pertanyaan atau pernyataan lalu mengembalikan kepada peneliti. (Sugiono, 2019:216)

Kuesioner merupakan instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini yang berisi beberapa pertanyaan dalam bentuk pernyataan terbuka dan tertutup mengenai pemanfaatan cyber extension oleh penyuluh pertanian dalam meningkatakan kompetensi dan kinerja penyuluh pertanian di kabupaten Aceh Singkil.

Kuesioner yang memuat pertanyaan dalam bentuk pernyataan terdiri atas beberapa bagian antara lain:

1) Bagian pembuka mengenai identitas dan data penyuluh pertanian meliputi nama penyuluh, jenis kelamin, wilayah kerja.

2) Bagian pertama mengenai karakteristik penyuluh pertanian meliputi: umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, tingkat kepemilikan TIK, jumlah mengikuti pelatihan, status penyuluh (PNS, THL, atau Swadaya).

3) Bagian kedua mengenai faktor lingkungan sebagai pendukung pemanfaatan Cyber Extension oleh penyuluh pertanian.

4) Bagian ke tiga mengenai motivasi sebagai pendukung pemanfaatan Cyber Extensionoleh penyuluh pertanian.

5) Bagian keempat mengenai pemanfaatan Cyber Extension oleh penyuluh pertanian.

6) Bagian kelima mengenai kompetensi penyuluh pertanian.

7) Bagian keenam mengenai kinerja penyuluh pertanian.

Kuesioner yang digunakan oleh peneliti telah disusun secara terstruktur sehingga dapat diketahui informasi dari variabel-variabel penelitian. Responden akan mengisi kuesioner secara mandiri sambil didampingi oleh peneliti bilamana ada poin pertanyaan yang kurang dipahami, kemudian dilakukan wawancara menggunakan alat komunikasi pada beberapa penyuluh. Wawancara dengan koordinator penyuluh atau Kepala Dinas TPHP tingkat kabupaten juga dilakukan untuk menambah data kualitatif. Semua populasi yang berjumlah 80 orang tenaga penyuluh pertanian kabupaten Aceh Singkil dijadikan sebagai sampel penelitian yang mengisi semua kuesioner yang diantarkan langsung oleh peneliti sekaligus mewancarai seputar pemanfaatan Cyber Extension, tingkat kompetensi dan kinerja penyuluh pertanian. Jika ada penyuluh yang tidak dapat dijumpai secara langsung maka peneliti melalukan wawancara melalui Telephone Seluler.

Sugyiono mengatakan bahwa jika penelitian dilaksanakan pada lingkup yang tidak terlalu luas maka kuesioner dapat diantarkan langsung dalam waktu tidak tidak terlalu lama, maka pengiriman angket kepada penyuluh tidak perlu melalui pos atau internet sebab dengan adanya kontak langsung antara penyuluh dengan peneliti akan memberikan kondisi yang jauh lebih baik sehingga penyuluh dapat memberikan data yang objektif dan lebih cepat bahkan dapat dilanjutkan dengan sedikit wawancara untuk melengkapi hasil penelitian (Sugyiono, 2019:217)

3.4.1.2. Observasi

Observasi adalah sebuah proses pengamatan menggunakan panca indra peneliti dengan demikian peneliti dapat melihat konsdisi masyarakat sebagai sasaran penelitian (Martono,2016:86). Balnaves dan Caputi (Ajari, 2015:96) menyatakan bahwa observasi atau pengamatan adalah sebuah kunci untuk penelitian kuantitatif.

Observasi adalah pengamatan yang telah dirancang secara sistematis tentang apa yang akan diteliti, waktunya kapan dan dimana tempatnya. Observasi dilakukan apabila peneliti telah tahu dengan pasti variabel apa saja yang akan diamati dan diteliti. Dalam melakukan observasi atau pengamatan, peneliti menggunakan instrumen penelitian yang telah diuji validitas dan reabilitasnya.

Disamping itu angket atau kuesioner juga dapat dijadikan pedoman dalam melakukan observasi (Sugiono, 2019:215).

Observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan melakukan pengamatan terhadap kondisi lapangan seperti bagaimana perkembangan jaringan

internet diwilayah yang akan diteliti, dalam hal ini adalah Kabupaten Aceh Singkil, mengamati jumlah TIK yang dimiliki penyuluh pertanian dalam mengakses internet seperti Smartphone dan Komputer, mengamati bagaimana keaktifan penyuluh pertanian dalam mengakses internet dalam menggali informasi dan pengetahuan khususnya berhubungan dengan materi penyuluhan pertanian, bagaimana pengenalan penyuluh pertanian terhadap Cyber Extension dan pemanfaatannya,apa yang menjadi motivasi penyuluh pertanian dalam mengakses internet khususnya Cyber Extension, bagaimana tingkat kompetensi atau kemampuan dalam membina kelompok tani dan kinerja dilapangan, dan lainnya yang dianggap penting dalam melengkapi penelitian ini.

3.4.1.3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah sebuah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan berbagai dokumen yang berhubungan dengan masalah penelitian, apakah berupa dokumen pemerintah, hasil penelitian terdahulu, foto-foto atau gambar, undang-undang, dan sebagainya, dimana dokumen tersebut dapat sebagai sumber data pokok atau penunjang dalam mengeksplorasi masalah penelitian (Martono, 2016:87). Dengan adanya dokumentasi maka dapat melengkapi penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti sehingga mempermudah peneliti dalam mencapai tujuan penelitian.

3.4.2. Data Skunder.

Data sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian ini berkaitan dengan keadaan umum, data pendukung atau potensi aktual mengenai kondisi geografis

yang dapat diperoleh dari pihak-pihak atau lembaga terkait seperti Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura Dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Aceh Singkil berupa data penyuluh PNS, THL dan Swadaya, kondisi penyuluh pertanian. Data sekunder juga dikumpulkan dari setiap UPTB-BPP Kecamatan se-Kabupaten Aceh Singkil seperti data monografi wilayah, data penyuluh pertanian dalam angka tahun 2019 yang telah di update pada website Simluhtan dan data lainnya yang relevan dengan penelitian ini.

3.5. Uji Validitas dan Reliabilitas

Dalam poenelitian kuantitatif, validitas dan reliabilitas instrumen penelitian merupakan hal yang paling utama dalam meningkatkan efektivitas proses pengumpulan data, seperti yang dinyatakan oleh Best, Kahn bahwa validitas dan reliabilitas sangat penting untuk efektivitas setiap pengumpulan data yang diproses. Dengan penggunaan instrumen yang valid dan reabel diharapkan hasil penelitian valid dan reliabel juga (Sugiyono, 2019:176-177)

Untuk itu sebelum instrumen penelitian berupa kuesioner digunakan dilapangan maka instrumen tersebut perlu diuji validitas dan reabilitasnya terlebih dahulu. Jika uji validitas dan reabilitas tidak dilakukan terlebih dahulu maka data hasil penelitian yang terkumpul melalui penggunaan instrumen dalam bentuk kuesioner penelitian dapat diragukan keabsahannya (sugyono, 2019:177)

Pengukuran validitas dan reliabilitas merupakan hal yang sangat penting dalam proses analisis data. Bila pengukuran dilakukan secara tepat maka alat ukur juga akan memiliki validitas dan reabilitas yang cukup baik (Martono, 2016:108)

3.5.1. Uji Validitas

Uji validitas diperoleh dengan cara mengkorelasi setiap sektor indikator variabel dengan total skor indikator variabel, kemudian hasil korelasi dibandingkan dengan nilai kritis pada taraf signifikansi 0,05 (Ghozali, 2001:135).

Ancok dalam Singarimbun & Effendi (2011:124-137) mengatakan bahwa untuk menguji validitas suatu instrumen penelitian, ada beberapa langkah yang harus dilakukan : pertama, mendefinisikan secara operasional konsep yang akan diukur; kedua, melakukan uji coba skala pengukur tersebut pada sejumlah penyuluh; ketiga; mempersiapkan tabel tabulasi jawaban; keempat, menghitung korelasi antara tiap-tiap pernyataan dan skor total dengan menggunakan rumus teknik korelasi product moment atau Ranks Spearman. Cara lain untuk menguji validitas adalah dengan menggunakan alat bantu (statistic software) SPSS 22.

Masing-masing item/instrument (skor) dilihat total korelasi, bila koefisien korelasi sama dengan 0,3 atau lebih, maka item dikatakan valid (Rumengan, 2010:69).

Instrumen penelitian berupa kuesioner adalah alat yang dipakai oleh peneliti dalam pengumpulan data pada penelitian ini. Instrumen penelitian ini telah dicoba kepada seluruh penyuluh pertanian kabupaten Aceh Singkil, yang terdiri dari 80 orang penyuluh pertanian (PNS, THL, dan swadaya).

Uji Validitas dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui kevalidan dari instrumen tersebut dengan menganalisa setiap item pengamatan dimana skor-skor yang ada pada setiap item pertanyaan dikorelasikan dengan skor total. Nilai validitas ditentukan dengan menggunakan nila r, dengan dasar bahwa jika nilai r lebih besar dari r tabel maka hal itu menunjukkan nilai positif maka item

kuesioner dinyatakan valid. Sebaliknya apabila nilai r lebih kecil dari r tabel berarti nilainya negatif maka item kuesioner dinyatakan tidak valid. Nilai r tabel pada n:0,361.

3.5.2. Uji Reliabilitas

Alat ukur disebut realibel bila alat ukur tersebut secara konsisten memberikan hasil atau jawaban yang sama terhadap gejala yang sama, walau digunakan berulang kali. Reliabilitas mengandung arti bahwa alat ukur tersebut stabil (tidak berubah-ubah), dapat diandalkan (dependable), dan tetap (konsisten) (Kriyantono 2006:31). Uji reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik (Arikunto 2006:28). Teknik ini tidak hanya digunakan untuk tes dengan dua pilihan, tetapi penerapannya lebih luas seperti menguji skala pengukuran sikap dengan tiga, lima atau tujuh pilihan (Zainal Arifin 2011:44).

Reliabilitas menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner dapat dipercaya. Hasil pengukuran harus reliabel dalam arti harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan (Sumadi Suryabrata 2004: 28). Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan reliabilitas koefisien cronbach koofficient-alpha melalui alat bantu Software SPSS 22. Item pengamatan dapat dikatakan reliabel apabila nilai r hasil (r Alpha) lebih besar dari r tabel.

3.6. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan seperti dalam bentuk tabel. Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis statistik deskriptif dan analisis korelasi rank spearman yang dijelaskan sebagai berikut:

3.6.1. Analisis Statistik Deskriptif

Sugiyono dalam Anggoroseto mengatakan bahwa statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi untuk mendikripsikan atau memberi gambaran terhadap suatu objek yang diteliti melalui data sampel ataupun populasi (Anggoroseto,2012:86).

Data primer yang telah tersedia melalui hasil penyebaran kuesioner sebagai instrumen penelitian maka selanjutnya dianalisis melalui tahapan sebagai berikut:

a. Penomoran kuesioner, dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh kuesioner dari penyuluh lalu diberi nomor urut mulai dari nomor 01 sampai 80 sebagai pengenal.

b. Editing, dilakukan dengan cara mengedit jawaban penyuluh untuk memperjelas setiap jawaban yang meragukan dan menghindari terjadinya kesalahan ketika penyuluh mengisi data kedalam kotak yang disediakan.

c. Coding atau pengkodean, adalah suatu proses pemindahan angka dari jawaban-jawaban penyuluh ke kotak kode yang disediakan.

d. Inventarisasi variabel, yaitu data mentah yang diperoleh melalui kuesioner

data lalu kemudian dikelola dan dianalisa menggunakan SPSS 22.

3.6.2. Analisis Korelasi Rank Spearman (Uji Hipotesis)

Data yang telah dianalisis secara statistik deskriptif menggunakan frekuensi persentase, median, rataan skor, dan tabel distribusi frekuensi, selanjutnya dilakukan uji hipotesis menggunakan analisis uji korelasi rank Spearman (bantuan SPSS 22) untuk melihat tingkat keeratan hubungan antar variabel.

Pemilihan uji korelasi rank Spearman juga mengacu pada pendapat yang dikemukakan oleh Riduan dan Sunarto (Siswanto & Suyanto, 2018:263), bahwa kegunaan korelasi Rank Spearman adalah untuk mengukur tingkat keeratan hubungan antara dua variabel yang berskala ordinal maupun data yang berskala interval/ratio yang telah diubah menjadi data ordinal. Korelasi Spearman juga dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kecocokan dari dua variabel terhadap group yang sama untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas dari kuesioner sebagai alat pengumpul data.

BAB IV

HASIL PENELITIAN 4.1. Proses Penelitian

Sebelum menjabarkan hasil penelitian terlebih dahulu peneliti menjelaskan bagaimana proses penelitian berlangsung. Penelitian ini dilakukan melaui beberapa tahapan yang disebut sebagai proses penelitian. Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

4.1.1. Tahap Awal

Penelitian ini diawali dengan berbagai persiapan sebelum terjun langsung kelapangan untuk mengumpulkan data. Sebagai tahap awal adalah dengan mengumpulkan beberapa literatur yang terkait dengan topik penelitian diambil dari buku, jurnal, tesis, website. Setelah literatur terkumpul selanjutnya peneliti melakukan pra penelitian yaitu dengan mengumpulkan data skunder sebagai data awal berupa gambaran umum Kabupaten Aceh Singkil sebagai lokasi penelitian, Profil Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Aceh Singkil, data sumber daya manusia yang dalam hal ini adalah penyuluh pertanian, dan data skunder lainnya yang dianggap perlu dalam penelitian ini.

4.1.2. Pengumpulan Data

Pelaksanaan pengumpulan data dimulai pada tanggal 13 Mei 2019 – 18 Agustus 2019. Peneliti menemui seluruh penyuluh pertanian Kabupaten Aceh Singkil yang berjumlah 80 orang sebagai responden penelitian. Setiap responden diberikan satu angket kuesioner yang berisi 59 pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap responden. Selanjutnya peneliti membantu mengarahkan responden

jika ada poin-poin pertanyaan yang kurang dipahami sepenuhnya sehingga seluruh poin pertanyaan dipastikan terisi dengan benar. Beberapa responden yang tidak dapat ditemui secara langsung peneliti mengirimkan file kuesioner melalui Whatsapp dan menindaklanjuti melalui telepon sehingga peneliti dapat memastikan seluruh responden telah mengisi kuesioner penelitian.

4.1.3. Proses Pengolahan Data

Proses pengolahan data dilakukan setelah peneliti selesai mengumpulkan data yang diperoleh dari 80 responden penelitian, maka selanjutnya peneliti melakukan pengolahan data. Data primer yang telah tersedia melalui hasil penyebaran kuesioner sebagai instrumen penelitian selanjutnya dianalisis melalui tahapan sebagai berikut:

a. Penomoran kuesioner.

Penomoran kuesioner dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh kuesioner yang telah di isi jawabannya oleh responden lalu diberi nomor urut mulai dari nomor 01 sampai 80 sebagai pengenal.

e. Editing

Editing dilakukan dengan cara mengedit jawaban responden untuk memperjelas setiap jawaban yang meragukan dan menghindari terjadinya kesalahan ketika penyuluh mengisi data kedalam kotak yang disediakan.

f. Coding atau pengkodean.

Coding atau pengkodean adalah suatu proses pemindahan angka dari jawaban-jawaban responden ke kotak kode yang disediakan. Pengkodean

bertujuan untuk mempermudah peneliti dalam melakukan analisis data lebih lanjut pada SPSS.

g. Inventarisasi variabel

Inventarisasi variabel adalah data mentah yang diperoleh melalui kuesioner dimasukkan kedalam lembar foltron cobol (FC) sehingga memuat seluruh data lalu kemudian dikelola dan dianalisa menggunakan SPSS 22.

4.2. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Kabupaten Aceh Singkil dengan ibukota Singkil adalah kabupaten yang berada di bagian paling selatan Provinsi Aceh di Pulau Sumatera, Indonesia. Aceh Singkil adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan dimana sebagian wilayahnya berada pada kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Kabupaten Aceh Singkil terbentuk pada tahun 1999 dengan dikeluarkannya UU No.14 Tahun 1999 pada tanggal 27 April 1999.

Letak geografis Kabupaten Aceh Singkil berada pada posisi 2o 0’2”-2o36’40” Lintang Utara dan 97o04’54”-98o11’47” Bujur Timur. Kabupaten Aceh Singkil terdiri dari wilayah daratan dan lautan atau kepulauan. Kepulauan yang menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Singkil adalah Kepulauan Banyak dengan jumlah pulau lebih kuirang 87 pulau yang terdiri dari Kecamatan Pulau Banyak dan Kecamatan Pulau Banyak Barat.

Dilihat dari segi topografi, Aceh singkil berada pada ketinggian 0 m – 100 m dpl. Wilayah bagian utara adalah daerah dataran rendah dengan kemiringan 0%

- 8%, sedang kan daerah yang berbukit-bukit dengan kemiringabn 8% - 30 %.

Secara administrasi kabupaten Aceh Singkil mencakup wilayah daratan dan

Secara administrasi kabupaten Aceh Singkil mencakup wilayah daratan dan