BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.5. Uji validitas dan Reliabilitas
3.5.2. Uji Reliabilitas
Alat ukur disebut realibel bila alat ukur tersebut secara konsisten memberikan hasil atau jawaban yang sama terhadap gejala yang sama, walau digunakan berulang kali. Reliabilitas mengandung arti bahwa alat ukur tersebut stabil (tidak berubah-ubah), dapat diandalkan (dependable), dan tetap (konsisten) (Kriyantono 2006:31). Uji reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik (Arikunto 2006:28). Teknik ini tidak hanya digunakan untuk tes dengan dua pilihan, tetapi penerapannya lebih luas seperti menguji skala pengukuran sikap dengan tiga, lima atau tujuh pilihan (Zainal Arifin 2011:44).
Reliabilitas menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner dapat dipercaya. Hasil pengukuran harus reliabel dalam arti harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan (Sumadi Suryabrata 2004: 28). Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan reliabilitas koefisien cronbach koofficient-alpha melalui alat bantu Software SPSS 22. Item pengamatan dapat dikatakan reliabel apabila nilai r hasil (r Alpha) lebih besar dari r tabel.
3.6. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan seperti dalam bentuk tabel. Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis statistik deskriptif dan analisis korelasi rank spearman yang dijelaskan sebagai berikut:
3.6.1. Analisis Statistik Deskriptif
Sugiyono dalam Anggoroseto mengatakan bahwa statistik deskriptif adalah statistik yang berfungsi untuk mendikripsikan atau memberi gambaran terhadap suatu objek yang diteliti melalui data sampel ataupun populasi (Anggoroseto,2012:86).
Data primer yang telah tersedia melalui hasil penyebaran kuesioner sebagai instrumen penelitian maka selanjutnya dianalisis melalui tahapan sebagai berikut:
a. Penomoran kuesioner, dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh kuesioner dari penyuluh lalu diberi nomor urut mulai dari nomor 01 sampai 80 sebagai pengenal.
b. Editing, dilakukan dengan cara mengedit jawaban penyuluh untuk memperjelas setiap jawaban yang meragukan dan menghindari terjadinya kesalahan ketika penyuluh mengisi data kedalam kotak yang disediakan.
c. Coding atau pengkodean, adalah suatu proses pemindahan angka dari jawaban-jawaban penyuluh ke kotak kode yang disediakan.
d. Inventarisasi variabel, yaitu data mentah yang diperoleh melalui kuesioner
data lalu kemudian dikelola dan dianalisa menggunakan SPSS 22.
3.6.2. Analisis Korelasi Rank Spearman (Uji Hipotesis)
Data yang telah dianalisis secara statistik deskriptif menggunakan frekuensi persentase, median, rataan skor, dan tabel distribusi frekuensi, selanjutnya dilakukan uji hipotesis menggunakan analisis uji korelasi rank Spearman (bantuan SPSS 22) untuk melihat tingkat keeratan hubungan antar variabel.
Pemilihan uji korelasi rank Spearman juga mengacu pada pendapat yang dikemukakan oleh Riduan dan Sunarto (Siswanto & Suyanto, 2018:263), bahwa kegunaan korelasi Rank Spearman adalah untuk mengukur tingkat keeratan hubungan antara dua variabel yang berskala ordinal maupun data yang berskala interval/ratio yang telah diubah menjadi data ordinal. Korelasi Spearman juga dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kecocokan dari dua variabel terhadap group yang sama untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas dari kuesioner sebagai alat pengumpul data.
BAB IV
HASIL PENELITIAN 4.1. Proses Penelitian
Sebelum menjabarkan hasil penelitian terlebih dahulu peneliti menjelaskan bagaimana proses penelitian berlangsung. Penelitian ini dilakukan melaui beberapa tahapan yang disebut sebagai proses penelitian. Tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
4.1.1. Tahap Awal
Penelitian ini diawali dengan berbagai persiapan sebelum terjun langsung kelapangan untuk mengumpulkan data. Sebagai tahap awal adalah dengan mengumpulkan beberapa literatur yang terkait dengan topik penelitian diambil dari buku, jurnal, tesis, website. Setelah literatur terkumpul selanjutnya peneliti melakukan pra penelitian yaitu dengan mengumpulkan data skunder sebagai data awal berupa gambaran umum Kabupaten Aceh Singkil sebagai lokasi penelitian, Profil Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Aceh Singkil, data sumber daya manusia yang dalam hal ini adalah penyuluh pertanian, dan data skunder lainnya yang dianggap perlu dalam penelitian ini.
4.1.2. Pengumpulan Data
Pelaksanaan pengumpulan data dimulai pada tanggal 13 Mei 2019 – 18 Agustus 2019. Peneliti menemui seluruh penyuluh pertanian Kabupaten Aceh Singkil yang berjumlah 80 orang sebagai responden penelitian. Setiap responden diberikan satu angket kuesioner yang berisi 59 pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap responden. Selanjutnya peneliti membantu mengarahkan responden
jika ada poin-poin pertanyaan yang kurang dipahami sepenuhnya sehingga seluruh poin pertanyaan dipastikan terisi dengan benar. Beberapa responden yang tidak dapat ditemui secara langsung peneliti mengirimkan file kuesioner melalui Whatsapp dan menindaklanjuti melalui telepon sehingga peneliti dapat memastikan seluruh responden telah mengisi kuesioner penelitian.
4.1.3. Proses Pengolahan Data
Proses pengolahan data dilakukan setelah peneliti selesai mengumpulkan data yang diperoleh dari 80 responden penelitian, maka selanjutnya peneliti melakukan pengolahan data. Data primer yang telah tersedia melalui hasil penyebaran kuesioner sebagai instrumen penelitian selanjutnya dianalisis melalui tahapan sebagai berikut:
a. Penomoran kuesioner.
Penomoran kuesioner dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh kuesioner yang telah di isi jawabannya oleh responden lalu diberi nomor urut mulai dari nomor 01 sampai 80 sebagai pengenal.
e. Editing
Editing dilakukan dengan cara mengedit jawaban responden untuk memperjelas setiap jawaban yang meragukan dan menghindari terjadinya kesalahan ketika penyuluh mengisi data kedalam kotak yang disediakan.
f. Coding atau pengkodean.
Coding atau pengkodean adalah suatu proses pemindahan angka dari jawaban-jawaban responden ke kotak kode yang disediakan. Pengkodean
bertujuan untuk mempermudah peneliti dalam melakukan analisis data lebih lanjut pada SPSS.
g. Inventarisasi variabel
Inventarisasi variabel adalah data mentah yang diperoleh melalui kuesioner dimasukkan kedalam lembar foltron cobol (FC) sehingga memuat seluruh data lalu kemudian dikelola dan dianalisa menggunakan SPSS 22.
4.2. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kabupaten Aceh Singkil dengan ibukota Singkil adalah kabupaten yang berada di bagian paling selatan Provinsi Aceh di Pulau Sumatera, Indonesia. Aceh Singkil adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan dimana sebagian wilayahnya berada pada kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Kabupaten Aceh Singkil terbentuk pada tahun 1999 dengan dikeluarkannya UU No.14 Tahun 1999 pada tanggal 27 April 1999.
Letak geografis Kabupaten Aceh Singkil berada pada posisi 2o 0’2”-2o36’40” Lintang Utara dan 97o04’54”-98o11’47” Bujur Timur. Kabupaten Aceh Singkil terdiri dari wilayah daratan dan lautan atau kepulauan. Kepulauan yang menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Singkil adalah Kepulauan Banyak dengan jumlah pulau lebih kuirang 87 pulau yang terdiri dari Kecamatan Pulau Banyak dan Kecamatan Pulau Banyak Barat.
Dilihat dari segi topografi, Aceh singkil berada pada ketinggian 0 m – 100 m dpl. Wilayah bagian utara adalah daerah dataran rendah dengan kemiringan 0%
- 8%, sedang kan daerah yang berbukit-bukit dengan kemiringabn 8% - 30 %.
Secara administrasi kabupaten Aceh Singkil mencakup wilayah daratan dan kepulauan seluas 185.829,53 Ha dan wilayah kewenangan laut sejauh 4 mil sejauh garis pangkal seluas 2.802,56 Km2.
Kabupaten Aceh Singkil memiliki batas-batas wilayah atau daerah administrasi yang meliputi:Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Subulussalam, Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Aceh Selatan, Sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara.
Kabupaten Aceh Singkil terdiri dari 11 kecamatan, 15 Mukim dan 120 desa dengan jumlah penduduk pada tahun 2018 adalah 121.681 jiwa yang terdiri dari 61.275 jiwa laki-laki dan 60.406 jiwa perempuan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1
Jumlah Desa menurut Kecamatan Kabupaten Aceh Singkil
No UPTB-BPP/Kecamatan Jumlah Desa
01 Kota Baharu 10
02 Kuala Baru 4
03 Pulau Banyak 3
04 Pulau Banyak Barat 4
05 Singkil 16
06 Singkil Utara 7
07 Gunung Meriah 25
08 Singkohor 7
09 Simpang Kanan 25
10 Suro 12
11 Danau Paris 7
JUMLAH 120
Sumber: BPS Kabupaten Aceh Singkil 2019
Melalui tabel 4.1 dapat dilihat bahwa jumlah desa di kabupaten Aceh Singkil sebanyak 120 desa, dengan rincian di Kecamatan Kota Baharu sebanyak 10 desa, jumlah desa di Kecamatan Kuala Baru sebanyak 4 Desa, jumlah desa di Kecamatan Pulau banyak sebanyak 3 Desa, jumlah desa di Kecamatan Pulau banyak Barat sebanyak 4 Desa, jumlah desa di kecamatan Singkil sebanyak 16 Desa, jumlah Desa di kecamatan Singkil Utara sebanyak 7 Desa, jumlah desa di Kecamatan Gunung meriah sebanyak 25 desa, jumlah desa di Kecamatan Singkohor sebanyak 7 Desa, jumlah Desa di Kecamatan Simpang kanan sebanyak 25 Desa, jumlah desa di Kecamatan Suro sebanyak 12 Desa dan jumlah desa di Kecamatan Danau paris sebanyak 7 Desa.
Kabupaten Aceh Singkil secara alamiah adalah wilayah yang sarat dengan potensi pengembangan pertanian dengan budaya pertanian yang kuat. Bertani, beternak dan nelayan adalah keahlian turun-menurun yang sudah mendarah daging bagi masyarakat. Teknologi pertanian secara tradisional sudah dikuasai sejak jaman nenek moyang. Karena budaya pertanian yang telah mendarah daging maka usaha pada sektor pertanian di Kabupaten Aceh Singkil sebenarnya dapat dipacu untuk berproduksi sebesar-besarnya. Luasnya potensi lahan pertanian dan perkebunan, cadangan air yang melimpah, dan potensi sumber daya alam (SDA) yang tersedia mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi yang mendukung menjadi obsesi dalam menjadikan Kabupaten Aceh Singkil sebagai pemasok hasil pertanian unggulan di kemudian hari.
Kabupaten Aceh Singkil memiliki potensi sumber daya alam (SDA) yang tidak akan pernah habis, dan akan selalu ada sepanjang usia alam itu sendiri yakni
manusia, sinar matahari, tanah, hutan, dan laut. Masyarakat dengan akal dan budaya lokal daerah yang beraneka ragam akan menghasilkan beragam teknologi budidaya yang unggul spesifik lokalita. Teknik budidaya yang berbasis pada keragaman fertilitas tanah, yang berkaitan dengan jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi setempat akan mengakibatkan keunggulan komparatif dari jumlah dan mutu pertanian yang dihasilkan.
Untuk saat ini melalui program Dinas tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Aceh Singkil dan tentunya teknis pelaksanaannya dilapangan melalui para penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pembangunan pertanian telah dan sedang dikembangkan budidaya tanaman pangan seperti padi, jagung, dan beberapa tanaman hortikultura seperti bawang merah, buah-buahan,dan sebagainya dibeberapa kecamatan diwilayah Kabupaten Aceh Singkil.
Selain itu tanaman kelapa sawit yang telah lebih dahulu mendominasi sebagai tanaman perkebunan rakyat ataupun perkebunan perusahaan telah memberikan sumbangan terbesar bagi pendapatan masyarakat khususnya para petani sebagai pelaku utama dan pelaku usaha pertanian.
4.3. Gambaran Umum Penyuluh Pertanian Kabupaten Aceh Singkil
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura Dan Peternakan (TPHP) yang beralamat di Jl. Raya Singkil-Subulussalam Km. 18, Kota Baru Singkil, adalah merupakan salah satu lembaga pemerintah yang menaungi 11 Unit Pelaksana Teknis Dinas Balai Penyuluhan Pertanian (UPTD-BPP) di 11 Kecamatan Kabupaten Aceh Singkil. Jadi masing-masing Kecamatan terdapat satu Unit Pelaksana Teknis Dinas Balai Penyuluhan Pertanian (UPTD-BPP). Pada Instansi
inilah para penyuluh bertugas sesuai dengan wilayah kerja atau wilayah binaan yang telah ditetapkan sebelumnya.
4.3.1. Kedudukan, Tugas dan Fungsi Dinas TPHP Kabupaten Aceh Singkil Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Aceh Singkil mempunyai tugas pokok membantu pemerintah Kabupaten dalam melaksanakan urusan pemerintahan, selain di bidang tanaman pangan, tanaman hortikultura dan peternakan juga penyelenggaraan penyuluhan pertanian yang dikepalai oleh seorang Kepala Bidang (Kabid) penyuluhan dengan fungsi sebagai berikut:
1) Penyusunan kebijakan dan program penyuluhan daerah kabupaten yang sejalan dengan kebijakan dan program penyuluhan provinsi dan nasional.
2) Penyusunan kebijakan, program dan kegiatan penyuluhan di daerah yang mendukung kebijakan, program dan kegiatan pembangunan pertanian dan peternakan di daerah Kabupaten Aceh Singkil.
3) Pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan mekanisme, tata kerja dan metode penyuluhan pertanian.
4) Pelaksanaan pengumpulan, pengolahan, pengemasan dan penyebaran materi penyuluhan bagi pelaku utama dan pelaku usaha.
5) Pelaksanaan pembinaan pengembangan kerjasama, kemitraan, pengelolaan kelembagaan, ketenagaan, sarana dan prasarana, serta pembiayaan penyuluhan pertanian. 6) Penumbuhkembangan dan memfasilitasi kelembagaan dan forum kegiatan bagi petani sebagai pelaku utama dan
6) Peningkatan kapasitas Penyuluh Pegawai Negeri Sipil, THL, swadaya dan swasta melalui proses pembelajaran secara berkelanjutan.
Setiap kecamatan terdapat satu kantor Unit Pelaksana Teknis Dinas Balai Penyuluhan Pertanian (UPTD-BPP) yang dikoordinatori oleh seorang kepala UPTD-BPP dengan membawahi beberapa orang penyuluh pertanian. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut:
Tabel 4.2
Jumlah UPTB-BPP di kabupaten Aceh Singkil
NO UPTB-BPP Alamat Kantor Nama Pimpinan
01 Kec. Kota Baharu Desa Danau Bungara Su’id, SP 02 Kec. Kuala Baru Desa Kuala Baru Ubaidillah,SST 03 Kec. Pulau Banyak Desa Pulau Balai Halimah 04 Kec. Pulau Banyak Barat Desa Haloban Rafli
05 Kec. Singkil Desa Singkil Radia Naska Manik,SP 06 Kec. Singkil Utara Kampung Baru Irham Ardhi, SP
07 Kec. Gunung Meriah Rimo Ruaida
08 Kec. Singkohor Desa Singkohor Jimah Farianti, SP 09 Kec. Simpang Kanan Desa Lipat kajang Haris,SP
10 Kec. Suro Desa Siompin Sajidan, SP
11 Kec. Danau Paris Desa Biskang Suandi Sinamo Sumber: Data Simluhtan Dinas TPHP Kabupaten Aceh Singkil Tahun 2019
4.3.2. Struktur Organisasi Dinas TPHP Kabupaten Aceh Singkil
Struktur organisasi Dinas Tanaman Pangan, hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Aceh Singkil dapat dilihat pada lampiran 10. Dinas Tanaman Pangan, Hortikulturan dan Peternakan (TPHP) merupakan unsur pelaksana teknis pemerintah Kabupaten Aceh Singkil dibidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan.
1) Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura Dan Peternakan dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekda.
2) Sekretariat dipimpin oleh seorang Sekretaris yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Dinas.
3) Bidang dipimpin oleh seorang kepala bidang yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Dinas.
4) Sub Bagian dipimpin oleh seorang kepala Sub Bagian yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Sekretaris.
5) Seksi dipimpin oleh seorang Kepala Seksi yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Bidang.
Khusus Bidang Prasarana, Sarana dan Penyuluhan mempunyai tugas merencanakan, melaksanakan, mengoordinasikan dan mengendalikan kegiatan, perumusan, penyusunan, pelaksanaan pengawasan, evaluasi dan pelaporan dibidang prasarana, sarana dan penyuluhan yang meliputi prasarana dan sarana produksi, alat dan mesin pertanian, pembiayaan, investasi dan penyuluhan.
Tugas fungsi :
1) perumusan rencana kerja dibidang prasarana sarana dan penyuluhan yang meliputi prasarana dan sarana produksi, alat dan mesin pertanian, pembiayaan, investasi dan penyuluhan;
2) perumusan kebijakan teknis dibidang prasarana, sarana dan penyuluhan yang meliputi sarana dan prasarana produksi, alat dan mesin pertanian, pembiayaan, investasi dan penyuluhan;
3) pelaksanaan koordinasi, fasilitasi dan pembinaan tugas dibidang prasarana sarana dan penyuluhan yang meliputi prasarana dan sarana produksi, alat dan mesin pertanian, pembiayaan, investasi dan penyuluhan;
4) pelaksanaan pengawasan, pengendalian, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kegiatan dibidang prasarana sarana dan penyuluhan yang meliputi prasarana dan sarana produksi, alat dan mesin pertanian, pembiayaan, investasi dan penyuluhan; dan
5) pelaksanaan fungsi dinas lainnya yang diberikan oleh Kepala Dinas.
4.3.3. Sumber Daya Penyuluh Pertanian
Penyuluh pertanian yang berada dibawah Intansi Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Aceh Singkil berjumlah 80 orang yang terdiri dari penyuluh PNS, THL dan Swadaya, dengan berbagai latar belakang tingkat pendidikan mulai dari SMK Pertanian, D-3 Pertanian dan Sarjana Pertanian serta bidang keahlian seperti bidang tanaman pangan, perkebunan dan peternakan, dll. Untuk melihat lebih jelas rincian jumlah penyuluh pertanian Kabupaten Aceh Singkil dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut:
Tabel 4.3
Jumlah Penyuluh Pertanian Kabupaten Aceh Singkil No UPTB-BPP/Kecamatan Jumlah dan Status Penyuluh
PNS THL Swadaya JUMLAH
01 Kota Baharu 4 1 0 5
02 Kuala Baru 3 0 3 6
03 Pulau Banyak 1 0 0 1
04 Pulau Banyak Barat 0 2 0 2
05 Singkil 6 3 2 11
06 Singkil Utara 13 0 2 9
07 Gunung Meriah 6 1 3 10
08 Singkohor 7 0 1 8
09 Simpang Kanan 4 2 1 7
10 Suro 7 0 3 10
11 Danau Paris 3 1 1 5
JUMLAH 54 8 18 80
TOTAL 80 Orang
Sumber: Data Simluhtan/Dinas TPHP Kabupaten Aceh Singkil tahun 2019
Melalui tabel 4.3. diatas dapat dilihat bahwa jumlah penyuluh pertanian yang berstatus PNS sebanyak 54 orang, penyuluh pertanian yang berstatus THL sebanyak 8 orang, dan penyuluh pertanian yang berstatus Swadaya sebanyak 18
orang. Jadi jumlah keseluruhan sebanyak 80 orang penyuluh pertanian di kabupaten Aceh Singkil.
Jumlah Kelompok Tani di seluruh Kabupaten Aceh Singkil sebanyak 227 Kelompok Tani dan 64 Gabungan Kelompok tani (Gapoktan). Untuk lebih jelasnya rincian Kelompok Tani dan Gapoktan di kabupaten Aceh Singkil dapat dilihat pada tabel 4.4. dibawah ini:
Tabel 4.4
Jumlah Kelompok Tani dan Gapoktan Kabupaten Aceh Singkil No UPTB-BPP/Kecamatan Kelompok Tani GAPOKTAN
01 Kota Baharu 27 4
02 Kuala Baru 10 2
03 Pulau Banyak 8 2
04 Pulau Banyak Barat 15 4
05 Singkil 33 5
06 Singkil Utara 36 5
07 Gunung Meriah 44 6
08 Singkohor 36 7
09 Simpang Kanan 33 11
10 Suro 17 12
11 Danau Paris 18 6
JUMLAH 227 64
Sumber: Data Simluhtan/Dinas TPHP Kabupaten Aceh Singkil tahun 2019
Melalui tabel 4.4 diatas dapat diketahui bahwa di Kecamatan Kota baharu terdapat 27 Kelompok Tani dan 4 Gapoktan, di Kecamatan Kuala Baru terdapat 10 Kelompok tani dan 2 gapoktan, di Kecamatan Pulau banyak terdapat 8 kelompok tani dan 2 gapoktan, di Kecamatan Pulau banyak barat terdapat 15 kelompok tani dan 4 gapoktan, di Lkecamatan Singkil terdapat 33 Kelompok tani dan 5 Gapoktan, di Kecamatan Singkil Utara terdapat 36 kelompok Tani dan 5 Gapoktan, di kecamatan Gunung meriah terdapat 44 Kelompok tani dan 6
Gapoktan, di kecamatan Singkohor terdapat 36 Kelompok tani dan 7 gapoktan, di kecamatan Simpang Kanan terdapat 33 Kelompok Tani dan 11 gapoktan, di Kecamatan Suro terdapat 17 Kelompok tani dan 12 Gapoktan, di kecamatan Danau Paris terdapat 18 Kelompok tani dan 6 gapoktan. Jadi diseluruh Kabupaten Aceh Singkil terdapat 227 kelompok tani dan 64 Gapoktan dibawah binaan para penyuluh pertanian.
4.4. Hasil penelitian
4.4.1. Pengujian Validitas Dan Reabilitas
Uji Validitas dan reliabilitan dilakukan oleh peneliti terhadap alat pengumpul data penelitian, yaitu terhadap kuesioner penelitian. Valit artinya dimana data-data yang diperoleh dengan menggunakan instrumen penelitian yaitu kuesioner dapat menjawab tujuan penelitian, sedangkan reliabel artinya konsisten atau stabilnya instrumen penelitian yaitu kuesioner.
4.4.1.1. Uji Validitas
Uji validitas yang dilakukan peneliti dilakukan dengan metode sekali ukur, dimana pengukuran pada metode ini hanya dilakukan satu kali saja. Untuk uji validitas, peneliti menyebarkan kuesioner kepada 80 orang penyuluh yaitu penyuluh pertanian Kabupaten Aceh Singkil dibawah Instansi Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Aceh Singkil dengan tingkat signifikan 0,05 maka diperoleh nilai rtabel = 0,220. Alat yang digunakan untuk analisa pengujian validitas adalah koefisien korelasi Product Moment Pearson yang diperoleh dengan menggunakan alat bantu SPSS versi 22.
Untuk lebih jelas hasil dari pengujian validitas item pertanyaan kuesioner dapat dilihat pada tabel 4.5 di lampiran 5.
Berdasarkan tabel 4.5 pada lampiran 5, dengan pengujian validitas kuesioner penelitian terhadap 59 butir pertanyaan menggunakan SPSS versi 22 maka ditemukan hasilnya semua valid. Hal ini dapat dilihat dari hasil koefisien korelasi (rhitung) lebih besar dari nilai rtabel (0,220) dengan taraf signifikan α= 5%
atau 0,05, sehingga seluruh butir pertanyaan adalah Valid.
4.4.1.2. Uji Reliabilitas
Dalam melakukan uji reliabilitas instrumen penelitian ini, peneliti menggunakan reliabilitas koefisien cronbach koofficient-alpha melalui alat bantu Software SPSS 22. Item pengamatan dapat dikatakan reliabel apabila nilai r hasil (r Alpha) lebih besar dari r tabel.
Tabel 4.6
Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Kuesioner
No Kuesioner Crobach’s
Alpha
Batas
reliabel Ket.
01 Pemanfaatan Cyber Extension
a. Faktor Lingkungan 0,932 0,60 Reliabel
b. Motivasi 0,825 0,60 Reliabel
c. Keaktifan 0,926 0,60 Reliabel
02 Kompetensi Penyuluh 0,874 0,60 Reliabel
03 Kinerja Penyuluh 0,786 0,60 Reliabel
Suber: Hasil Uji Reliabilitas menggunakan SPSS versi 22
Dari tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa nilai koefisien alpha untuk Pemanfaatan Cyber Extension (Variabel X) yang terdiri dari: a) faktor lingkungan sebagai faktor pendukung dalam pemanfaatan Cyber Extension sebesar 0,932, b) Motivasi sebagai faktor pendorong dalam pemanfaatan Cyber Extension oleh
penyuluh pertanian sebesar 0,825, dan c) keaktifan dalam mengakses Cyber Extension oleh penyuluh pertanian sebesar 0,926. Untuk variabel kompetensi penyuluh sebagai variabel Y1 sebesar 0,874 dan untuk variabel kinerja penyuluh pertanian sebagai variabel Y2 sebesar 0,786.
Reliabilitas menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner dapat dipercaya. Hasil pengukuran harus reliabel dalam arti harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan (Sumadi Suryabrata 2004: 28).
4.4.2. Analisis Tabel Tunggal
Analisis tabel tunggal adalah analisiss yang dilakukan dengan cara membagi-bagikan variabel penelitian ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Maksud daripada analisis tabel tunggal adalah untuk melihat distribusi jawaban responden dari setiap instrumen penelitian. Data pada analisis karakteristik penyuluh pertanian, faktor lingkungan yang mendukung pemanfaatan Cyber extension, Motivasi penyuluh penyuluh pertanian dalam memanfaatkan Cyber Extension, keaktifan dalam mengakses Cyber Extension, Kompetensi penyuluh pertanian dan kinerja penyuluh pertanian disajikan dalam tabel tunggal.
4.4.2.1. Karakteristik Penyuluh
Karakteristik penyuluh dalam penelitian ini merupakan data yang dapat dianalisa secara deskriptif menggunakan Skala Likert yang di ukur dengan Rating Scale. Analisis ini tidak menjawab tujuan utama penelitian yang dilakukan
penyuluh. Karakteristik penyuluh yang menjadi subjek dalam penelitian ini diantaranya adalah Umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, status penyuluh, banyaknya mengikuti pelatihan, dan kepemilikan TIK. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel-tabel berikut:
Frekuensi atau persentasi karakteristikpenyuluh berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.7. U m u r
Kategori Frekuensi penyuluh Persentase
Umur Muda (23-35 Tahun) 41 51,3 %
Dewasa (36-47 Tahun) 37 46,3 %
Tua (48-60 Tahun) 2 2,5 %
Total 80 100,0
Sumber: Hasil analisis Deskriptif data Kuesioner SPSS versi 22
Melalui frekuensi dan persentase data pada tabel 4.7 diatas dapat diketahui bahwa penyuluh pertanian Kabupaten Aceh Singkil didominasi oleh penyuluh pertanian yang berusia muda (23-35 tahun) sebanyak 41 orang dan dewasa (36-47 tahun). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas penyuluh pertanian berada pada usia produktif, memiliki tenaga dan semangat yang tinggi untuk terus belajar dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang mereka miliki dalam mengakses Cyber Extension, bekerja lebih kreatif dan berkopetensi. Sementara penyuluh pertanian yang berusia tua lebih condong lebih banyak mengandalkan pengalaman yang sudah ada dan lebih banyak belajar
Melalui frekuensi dan persentase data pada tabel 4.7 diatas dapat diketahui bahwa penyuluh pertanian Kabupaten Aceh Singkil didominasi oleh penyuluh pertanian yang berusia muda (23-35 tahun) sebanyak 41 orang dan dewasa (36-47 tahun). Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas penyuluh pertanian berada pada usia produktif, memiliki tenaga dan semangat yang tinggi untuk terus belajar dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang mereka miliki dalam mengakses Cyber Extension, bekerja lebih kreatif dan berkopetensi. Sementara penyuluh pertanian yang berusia tua lebih condong lebih banyak mengandalkan pengalaman yang sudah ada dan lebih banyak belajar