• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKALA PRODUKSI

Dalam dokumen MASTERPLAN PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN (Halaman 38-42)

Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, diketahui bahwa kegiatan budidaya ikan di Kabupaten Temanggung didominasi oleh beberapa jenis ikan, terutama jenis ikan Nila, Karper dan ikan Lele. Ke tiga jenis ikan tersebut tersebar di seluruh kecamatan di wilayah Kabupaten Temanggung. Lima kecamatan yang pemanfaatan lahan untuk kolam budidaya ikan paling besar adalah Kecamatan Temanggung (17,1355 Ha), Parakan (16,8440 Ha), Kedu (16,2484 Ha), Kecamatan Tembarak (11,8991 Ha) dan Kecamatan Selopampang.

Sedangkan Kecamatan Bulu merupakan kecamatan yang mempunyai kawasan budidaya mina padi paling luas (1.268,23 Ha). Kabupaten Temanggung merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang sangat potensial untuk pengembangan kawasan minapolitan. Hal ini antara lain adanya kekuatan sumberdaya air tawar yang cukup melimpah serta produksi benih ikan yang bisa mencukupi kebutuhan. Gambaran luas lahan budidaya saaat ini, baik kolam maupun mina padi disajikan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Pemanfaatan Lahan Budidaya Ikan di Kabupaten Temanggung Kecamatan Luas Kolam

(Ha)

Luas Mina Padi (Ha)

Luas Total (Ha)

Jumlah Produksi (Kw)

Parakan 16,844 254,65 271,494 2193,350

Kledung 4,1347 16,95 21,085 415,940

Bansari 0,8335 35,21 36,044 180,410

Bulu 5,9323 1.268,23 1274,162 4117,790

Temanggung 17,1355 172,78 189,916 2019,240

Tlogomulyo 1,8235 113,65 115,474 492,890

Tembarak 11,8991 144,67 156,569 1465,980

Selopampang 8,1448 116,68 124,825 1056,740

Kranggan 1,046 24,18 25,226 168,870

Pringsurat 4,4834 43,08 47,563 523,230

Kaloran 1,3363 25,92 27,256 199,150

Pengembangan Komoditas dan Usaha IV- 2 Tabel 4.1. Lanjutan ...

Kecamatan Luas Kolam (Ha)

Luas Mina Padi (Ha)

Luas Total (Ha)

Jumlah Produksi (Kw)

Kandangan 1,0284 11,38 12,408 123,040

Kedu 16,2484 221,33 237,578 2069,950

Ngadirejo 7,6007 145,29 152,891 1083,100

Jumo 5,5241 127,24 132,764 859,930

Gemawang 0,8837 87,9 88,784 331,500

Candiroto 4,1791 35,12 39,299 384,400

Bejen 0,5525 88,1 88,653 298,390

Tretep 0,122 5,57 5,692 29,860

Wonoboyo 4,3185 36,92 41,239 486,340

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Temanggung yang Diolah

Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa luas lahan budidaya di Kabupaten Temanggung masih relatif sempit.

Sebagaimana dijelaskan di bab terdahulu, kegiatan budidaya ikan di Kabupaten Temanggung yang dominan adalah 3 (tiga) jenis ikan yaitu : ikan Karper, ikan Nila dan ikan Lele. Sedangkan target produksi budidaya ikan di Kabupaten Temanggung pada tahun 2014 adalah sebesar 2.041,66 ton, terdiri atas ikan Karper, Nila dan Lele (Tabel 4.2).

Tabel 4.2. Target Produksi Budidaya Ikan Komoditas Unggulan Tahun 2010-2014 No Komoditas Total Produksi Budidaya (Ton)

2010 2011 2012 2013 2014

1. Mas/Karper 1.016,74 1.029,09 1.044,77 1.057,208 1.071,205

2. Nila 425,57 433,36 445,70 459,300 475,050

3. Lele 418,15 440,75 457,00 476,556 495,406

Jumlah 1.860,46 1.903,20 1.947,47 1.993,06 2.041,66 Sumber: Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Temanggung

Untuk dapat menghasilkan produksi ikan hasil budidaya tersebut, maka Dinas Peternakan dan Perikanan menargetkan lahan kolam budidaya pada tahun 2014 seluas 119,24 Ha.

Pengembangan Komoditas dan Usaha IV- 3 Tabel 4.3. Target Area Perikanan Budidaya Tahun 2010-2014

No Komoditas Luas Areal Kolam (Ha)

2010 2011 2012 2013 2014

1. Mas 34,15 34,50 34,80 35,20 35,53

2. Nila 38,70 39,10 39,48 39,80 40,27

3. Lele 28,45 28,75 39,48 29,35 29,81

Jumlah 101,3 102,35 113,76 104,35 105,61 Sumber: Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Temanggung

Apabila menyimak potensi yang ada di Kabupaten Temanggung, target tersebut akan dapat dicapai dengan baik, mengingat potensi lahan budidayanya cukup luas (Tabel 4.4).

Tabel 4.4. Potensi Lahan Pengembangan Perikanan Budidaya Tahun 2010-2014

No Jenis Budidaya Potensi Areal (Ha)

2010 2011 2012 2013 2014

1. Kolam 488,94 488,94 488,94 488,94 488,94

2. Dana/waduk (KJA) 13,00 13,00 13,00 13,00 13,00

3. Sawah 19.833,01 19.833,01 19.833,01 19.833,01 19.833,01 Sumber: Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Temanggung

Berdasarkan Tabel di atas terlihat bahwa proyeksi luas lahan budidaya tidak bertambah lagi sejak tahun 2010. Apabila telah disetujui dan ditetapkan sebagai Kawasan Minapolitan, maka luas lahan kolam budidaya, khususnya di Kecamatan Parakan sebagai kawasan Minapolitan, diproyeksikan akan terus bertambah sampai luas kolam di atas 200 hektar. Lahan – lahan kurang produktif diarahkan untuk dikonversi menjadi kolam budidaya ikan.

Skala produksi suatu kegiatan usaha atau industri dapat dilihat berdasarkan luas distribusi output/produk, jumlah tenaga yang terlibat, jumlah modal dan sebagainya. Berdasarkan distribusi produk hasil usaha dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu:

a. Skala lokal yaitu: produk tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan di daerah sekitarnya.

b. Skala regional yaitu; produk tersebut tidak hanya memenuhi daerah sekitar, akan tetapi sudah menjangkau di luar kabupaten maupun provinsi akan tetapi masih di dalam negeri.

c. Skala internasional yaitu : produk tersebut telah di ekspor ke luar negeri.

Berdasarkan tiga komoditas unggulan yang telah dibudidayakan di Kabupaten Temanggung, dari data yang didapatkan di lapangan, skala produksi usaha budidaya ikan

Pengembangan Komoditas dan Usaha IV- 4 pada umumnya masih kategori skala lokal. Saat sekarang di Kabupaten Temanggung masih mendatangkan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan.

Selain skala produksi, penggolongan industri juga diperlukan untuk mengetahui posisi industri yang akan dikembangkan di kawasan minapolitan serta kebutuhan apa yang diperlukan untuk mengembangkan komuditas tersebut. Berdasarkan jumlah tenaga kerjanya, industri dapat dibagi menjadi 4 (empat) jenis yaitu:

a. Industri rumah tangga, yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja kurang dari empat orang. Ciri industri ini memiliki modal yang sangat terbatas, tenaga kerja berasal dari anggota keluarga, dan pemilik atau pengelola industri biasanya kepala rumah tangga itu sendiri atau anggota keluarganya. Misalnya: industri anyaman, industri kerajinan, industri tempe/tahu, dan industri makanan ringan.

b. Industri kecil, yaitu industri yang tenaga kerjanya berjumlah sekitar 5 sampai 19 orang.

Ciri industri kecil adalah memiliki modal yang relatif kecil, tenaga kerjanya berasal dari lingkungan sekitar atau masih ada hubungan saudara. Misalnya: industri genteng, industri batu bata, dan industri pengolahan rotan.

c. Industri sedang, yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja sekitar 20 sampai 99 orang. Ciri industri sedang adalah memiliki modal yang cukup besar, tenaga kerja memiliki ketrampilan tertentu, dan pimpinan perusahaan memiliki kemampuan manajerial tertentu. Misalnya: industri konveksi, industri bordir, dan industri keramik.

d. Industri besar, yaitu industri dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 100 orang. Ciri industri besar adalah memiliki modal besar yang dihimpun secara kolektif dalam bentuk pemilikan saham, tenaga kerja harus memiliki keterampilan khusus, dan pimpinan perusahaan dipilih melalui uji kemampuan dan kelayakan (fit and profer test). Misalnya: industri tekstil, industri mobil, industri besi baja, dan industri pesawat terbang.

Berdasarkan jumlah tenaga kerjanya, saat sekarang usaha budidaya ikan di Kabupaten Temanggung sebagian besar masih masuk dalam kategori skala rumah tangga.

Pada masa yang akan datang, komoditas unggulan yang direncanakan untuk dikembangkan di kawasan minapolitan dapat ditingkatkan menjadi industri kecil, artinya disamping memperkerjakan anggota keluarga, juga mampu merekrut tenaga kerja dari luar keluarga, yang berjumlah sekitar 5 sampai 19 orang.

Pengembangan Komoditas dan Usaha IV- 5 Tabel 4.5. Skala dan Kelompok Usaha Tiga Komuditas Unggulan di Kabupaten

Temanggung Saat Sekarang

No Komuditas Unggulan Skala Kelompok Industri Jenis usaha

1 Ikan Karper Lokal Rumah tangga Budidaya

2 Ikan Nila Lokal Rumah tangga Budidaya dan

pembibitan

3 Ikan Lele Lokal Rumah tangga Budidaya dan

pembibitan

Dalam dokumen MASTERPLAN PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN (Halaman 38-42)

Dokumen terkait