MASTERPLAN PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN
PEMERINTAH KABUPATEN TEMANGGUNG
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
2011
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Temanggung Tahun 2013
iiiHal. SAMBUTAN ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Umum ... 1
1.2 Pengelompokan Sektor Lapangan Usaha ... 1
1.3 Analisa dan Kegunaan Data PDRB ... 6
1.4 Sistematika Laporan ... 10
BAB II. KONSEP DAN DEFINISI ... 11
2.1 Domestik dan Regional ... 11
2.2 Produk Domestik dan Produk Regional ... 11
2.3 Agregat PDRB Atas Dasar Harga Berlaku ... 12
2.4 Agregat PDRB Atas Dasar Harga Konstan ... 15
BAB III. METODE PENGHITUNGAN PENDAPATAN REGIONAL ... 20
3.1 Metode Pendekatan Produksi ... 20
3.2 Pendekatan Pendapatan ... 21
3.3 Pendekatan Pengeluaran ... 21
3.4 Metode Alokasi ... 22
BAB IV. ULASAN SINGKAT PENDAPATAN REGIONAL KABUPATEN TEMANGGUNG ... 25
4.1 Pertumbuhan PDRB Tahun 2013 ... 25
4.2 Distribusi PDRB / Struktur Ekonomi ... 29
4.3 PDRB Perkapita ... 33
4.4 Indeks Perkembangan ... 35
4.5 Indeks Berantai ... 36
4.6 Inflasi ... 37
4.7 Perkembangan PDRB Sektoral ... 39
BAB V. PENUTUP ... 60
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Temanggung Tahun 2013
iv Tabel 1. PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga BerlakuKabupaten Temanggung Tahun 2009 - 2013 (Juta Rupiah) ... 62 Tabel 2. PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000
Kabupaten Temanggung Tahun 2009 - 2013 (Juta Rupiah) ... 63 Tabel 3. Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga Berlaku
Kabupaten Temanggung Tahun 2009 - 2013 (Persen) ... 64 Tabel 4. Distribusi Persentase PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000
Kabupaten Temanggung Tahun 2009 - 2013 (Persen) ... 65 Tabel 5. Indeks Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku
Kabupaten Temanggung Tahun 2009 - 2013 ( Tahun 2000 = 100 ) ... 66 Tabel 6. Indeks Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000
Kabupaten Temanggung Tahun 2009 - 2013 ( Tahun 2000 = 100 ) ... 67 Tabel 7. Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku
Kabupaten Temanggung Tahun 2009 - 2013 (Persen) ... 68 Tabel 8. Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000
Kabupaten Temanggung Tahun 2009 - 2013 (Persen) ... 69 Tabel 9. Indeks Berantai PDRB Kabupaten Temanggung Atas Dasar Harga Berlaku
Tahun 2009 - 2013 ( Tahun sebelumnya = 100 ) ... 70 Tabe 10. Indeks Berantai PDRB Kabupaten Temanggung Atas dasar harga Konstan
Tahun 2009 - 2013 ( Tahun sebelumnya = 100 ) ... 71 Tabel 11. Indeks Implisit PDRB Kabupaten Temanggung Tahun 2009 - 2013
(Tahun 2000 = 100) ... 72 Tabel 12. Inflasi PDRB Kabupaten Temanggung Tahun 2009 - 2013 ... 73
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Temanggung Tahun 2013
v Tabel 14. Produk Domestik Regional Bruto Menurut Kelompok SektorKabupaten Temanggung Tahun 2009 – 2013 (Juta Rupiah) ... 75 Tabel 15. Distribusi Persentase PDRB Menurut Kelompok Sektor
Kabupaten Temanggung Tahun 2009 – 2013 (Persen) ... 76 Tabel 16. Indeks Perkembangan Menurut Kelompok Sektor
Kabupaten Temanggung Tahun 2009 – 2013 ( Tahun 2000 = 100 ) ... 77 Tabel 17. Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Kelompok Sektor
Kabupaten Temanggung Tahun 2009 – 2013 (Persen) ... 78 Tabel 18. Indeks Berantai PDRB Menurut Kelompok Sektor Kabupaten Temanggung
Tahun 2009 – 2013 ( Tahun Sebelumnya = 100 ) ... 79 Tabel 19. Indeks Implisit Menurut Kelompok Sektor Kabupaten Temanggung
Tahun 2009 – 2013 ( Tahun 2000 = 100 ).. ... ... 80
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 - Pendahuluan I - 1
1.1. Latar Belakang
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Temanggung Tahun 2015 merupakan penjabaran dari RPJMD tahun 2013–2018 sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2014 dan memperhatikan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2015.
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 merupakan tahun pertama pelaksanaan tahapan ke III dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Temanggung tahun 2005- 2025, dan merupakan tahun ke II pelaksanaan RPJMD Kabupaten Temanggung Tahun 2013 -2018.
Adapun visi daerah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten
Temanggung Tahun 2013–2018 adalah TERWUJUDNYA
TEMANGGUNG SEBAGAI DAERAH AGRARIS BERWAWASAN LINGKUNGAN, BERMASYARAKAT AGAMIS, BERBUDAYA, DAN SEJAHTERA DENGAN PEMERINTAHAN YANG BERSIH.
Tahapan dan proses penyusunan RKPD 2015 berpedoman pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional pasal 5 ayat (3) dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 150 ayat (3) huruf d, Jo. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2011
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 - Pendahuluan I - 2
Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara, Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah.
RKPD dimaksud memuat kerangka ekonomi daerah,program prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaan serta prakiraan maju dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif, baik yang bersumber dari APBD maupun sumber- sumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.
Bahwa dalam rangka menyusun RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 yang memenuhi kaidah-kaidah dan komponen perencanaan maka penyusunan RKPD dibuat berdasarkan tahapan- tahapan sesuai ketententuan perundang-undangan yang berlaku.
Perumusan rancangan awal RKPD Kabupaten Temanggung dilakukan melalui serangkaian kegiatan berikut:
1. Pengolahan data dan informasi;
2. Analisis gambaran umum kondisi daerah;
3. Analisis ekonomi dan keuangan daerah;
4. Evaluasi kinerja tahun lalu;
5. Penelaahan terhadap kabijakan pemerintah nasional;
6. Penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD provinsi;
7. Perumusan permasalahan pembangunan daerah provinsi;
8. Perumusan rancangan kerangka ekonomi dan kebijakan keuangan daerah;
9. Perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah beserta pagu indikatif;
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 - Pendahuluan I - 3
12. Penyelarasan rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif;
Secara lebih jelas alur penyusunan rancangan RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 Penyusunan rancangan RKPD yang dijelaskan dalam bagian ini digunakan untuk menyusun RKPD merupakan rangkaian mulai dari penyusunan rancangan awal RKPD dan berakhir pada penetapan RKPD melalui proses sebagai dapat dilihat pada gambar 1.1. berikut :
Penyusunan Rancangan RKPD Kabupaten Temanggung
Rancangan RKPD
· pendahuluan;
· evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan;
· rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah;
· prioritas dan sasaran pembangunan daerah;
· rencana program dan kegiatan prioritas daerah.
Rancangan Renja-SKPD Kabupaten/Kota Rancangan Awal RKPD
· pendahuluan;
· evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu dan capaian kinerja penyelengaraan pemerintahan;
· rancangan kerangka ekonomi daerah Dan kebijakan keuangan daerah;
· prioritas dan sasaran pembangunan daerah;
· rencana program dan kegiatan prioritas daerah
Verifikasi
sesuai
tidak
Evaluasi Rancangan Awal RKP &
RKPD Prov.
Integrasi Renja SKPD
Penyelarasan Penyajian Ranc RKPD
Dari gambar tersebut tahapan penyusunan rancangan RKPD Kabupaten Temanggung mencakup kegiatan-kegiatan: evaluasi rancangan awal RKP dan rancangan awal RKP tahun rencana; verifikasi dan integrasi rancangan Renja SKPD; dan penyelarasan penyajian rancangan RKPD.
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 - Pendahuluan I - 4
Tahun 2015 merupakan awal dari seluruh proses penyusunan rancangan RKPD untuk memberikan panduan kepada seluruh SKPD Kabupaten Temanggung menyusun rancangan Renja SKPD dan berfungsi sebagai koridor perencanaan pembangunan daerah dalam kurun waktu 1 (satu) tahun yang disusun menggunakan pendekatan teknokratis dan partisipatif.
Dokumentasi perumusan dan keseluruhan tahap perencanaan pembangunan daerah daerah dijadikan sebagai kertas kerja (working paper). Suatu kertas kerja perumusan dan keseluruhan tahap
penyusunan RKPD merupakan dokumen yang tak terpisah dan dijadikan sebagai dasar penyajian (dokumen).
1.3. Landasan Hukum
Peraturan perundang-undangan sebagai landasan dalam penyusunan RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 adalah sebagai berikut:
1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah;
3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 - Pendahuluan I - 5
Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059);
5. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
6. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
9. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
10. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005–2025
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 - Pendahuluan I - 6
11. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1345);
12. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3459);
13. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5068);
14. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan Dan Kawasan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 07, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5188);
15. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4576);
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 - Pendahuluan I - 7
2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
19. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593);
20. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614);
21. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663);
22. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 97, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4664);
23. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
24. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 - Pendahuluan I - 8
25. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815);
26. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4816);
27. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);
28. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4832);
29. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
30. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 59 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor5219);
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 - Pendahuluan I - 9
undangan;
32. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014;
33. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005–2025 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 Nomor 3 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 9);
34. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2010 Nomor 6, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 28);
35. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 65);
36. Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 6 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang menjadi Kewenangan Pemerintahan Daerah Kabupaten Temanggung (Lembaran Daerah Kabupaten Temanggung Tahun 2008 Nomor 6 );
37. Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 10 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Temanggung Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kabupaten Temanggung Tahun 2008 Nomor 10);
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 - Pendahuluan I - 10
Daerah Kabupaten Temanggung Tahun 2011 Nomor 13);
39. Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Temanggung Tahun 2011-2031 (Lembaran Daerah Kabupaten Temanggung Tahun 2012 Nomor 1 Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 1);
40. Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 26 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Temanggung Tahun 2012 Nomor 26, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 26);
41. Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 1 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Temanggung.
1.4. Hubungan Antar Dokumen
Penyusunan rancangan RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 juga mendasarkan pada perencanaan multi sektoral di tingkat nasional antara lain Roadmap Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium (MDG’s) di Indonesia, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RAN PG) 2011-2015, dan Masterplan Percepatan dan Percepatan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) serta Grand Design Reformasi Birokrasi tahun 2010-2025.
Rancangan akhir RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 juga disusun dengan berpedoman pada dokumen perencanaan multi sektoral di tingkat daerah yaitu Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 - Pendahuluan I - 11
Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) Provinsi Jawa Tengah, RAD MDG’s Provinsi Jawa Tengah tahun 2011-2015, dan dokumen perencanaan lainnya.
Gambar 1.2.
Hubungan rancangan RKPD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya.
1.5. Kaidah Pelaksanaan
Rancangan RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 merupakan rencana kerja Pemerintah Kabupaten Temanggung selama satu tahun di Tahun 2015 dengan mendasarkan potensi yang tersedia,
RPJP Nasional
Tingkat Nasional
RTRW Kab. Temanggung
2011-2031
RPJM Nasional
RPJPD Provinsi
RPJPD Kab.
Temanggung 2005-2025
Tingkat Provinsi Jawa Tengah
RPJMD Kab.
Temanggung 2013-2018
Renstra SKPD Kab Temanggung Tahun 2014-2018
Rancangan RKPD Kab Temanggung
Tahun 2015 RPJMD Prov. Jawa
Tengah
RPJM Desa se-Kabupaten
Temanggung
Rencana Kerja Tahunan Desa Perencanaan
Multi Sektor
Perencanaan Multi Sektor
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 - Pendahuluan I - 12
Berdasarkan pada Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 pasal 285 dan Permendagri Nomor 32 Tahun 2012 pasal 3 ayat 2 pada lampiran I, perubahan RKPD dapat dilaksanakan apabila hasil evaluasi pelaksanaan dalam tahun berjalan menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan perkembangan keadaan meliputi:
a. Perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kerangka ekonomi daerah dan kerangka pendanaan, prioritas dan sasaran pembangunan, rencana program dan kegiatan daerah;
b. Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun anggaran sebelumnya harus digunakan untuk tahun berjalan;
c. Keadaan darurat dan keadaan luar biasa sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan;
d. Pergeseran kegiatan antar SKPD, penghapusan kegiatan, penambahan kegiatan baru/alternatif, penambahan atau pengurangan target kinerja, serta perubahan lokasi dan kelompok sasaran kegiatan.
1.6. Sistematika Penulisan
Rancanagan awal RKPD Tahun 2015 disusun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Memuat latar belakang; penyusunan RKPD yang meliputi pengertian secaran ringkas RKPD, proses penyusunan rancangan akhir RKPD, maksud dan tujuan penyusunan, landasan hukum penyusunan, hubungan RKPD dengan dokumen perencanaan lainnya, kaidah pelaksanaan, dan
RKPD Kabupaten Temanggung Tahun 2015 - Pendahuluan I - 13
PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH TAHUN 2014
Memuat gambaran umum kondisi daerah, dan evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.
BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH TAHUN 2015
Memuat tentang arah kebijakan ekonomi daerah yang terdiri dari kondisi ekonomi daerah serta tantangan dan prospek perekonomian daerah, arah kebijakan keuangan daerah yang terdiri dari proyeksi keuangan daerah dan kerangka pendanaan serta arah kebijakan keuangan daerah.
BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN 2015
Menjelaskan perumusan isu strategis, prioritas pembangunan daerah, yang terdiri atas kebijakan umum, strategi, prioritas pembangunan daerah tahun 2015 dan prioritas pengembangan kewilayahan.
BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH TAHUN 2015
Memuat perencanaan program dan kegiatan prioritas pembangunan daerah tahun 2015 yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan, indikator kinerja, target, satuan, rencana anggaran maupun SKPD penanggungjawab.
BAB VI PENUTUP
Gambaran Umum Kawasan II - 1
Bab 2
G G a a m m b b a a r r a a n n U U m m u u m m K K a a w w a a s s a a n n
2.1. CAKUPAN WILAYAH
Kabupaten Temanggung terletak di tengah-tengah Provinsi Jawa Tengah dengan bentangan Utara ke Selatan sepanjang 46,8 km dan Timur ke Barat sepanjang 43 km.
Kabupaten Temanggung secara astronomis terletak di antara 110o23´-110o46´30 bujur timur dan 7o14´-7o32´35 lintang selatan dengan luas wilayah 870,65 km2 (87.065 ha).
Secara administratif sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kendal, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Semarang, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Magelang, dan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo. Kabupaten Temanggung terletak pada ketinggian antara 400 m sampai 3.200 m dari permukaan air laut, sebagian (50%) berupa dataran tinggi dan sebagian lagi landai.
Kabupaten Temanggung terdiri dari 20 kecamatan, 266 desa, dan 23 kelurahan, dengan 1.584 dusun/lingkungan, dan total luas wilayah 87.065 hektar, dimana wilayah kecamatan terluas adalah Kecamatan Kandangan sebesar 9% dari luas Kabupaten Temanggung atau sekitar 7.836 hektar dan wilayah kecamatan terkecil adalah Kecamatan Selopampang yaitu 1,99% dari luas Kabupaten Temanggung atau sekitar 1.729 hektar. Luas dan batas wilayah Kecamatan di Kabupaten Temanggung disajikan pada Tabel 2.1.
Tabel 2. 1 Luas dan Batas Wilayah Kecamatan di Kabupaten Temanggung
Kecamatan Luas dan Batas Wilayah
Km2 Utara Timur Selatan Barat
Parakan 22,23 Ngadirejo Kedu Bulu Bansari
Kledung 32,21 Bansari Bulu, Parakan Kledung Kab. Wonosobo
Bansari 22,54 Ngadirejo Parakan Kledung Cadiroto
Bulu 43,04 Parakan,
Kedu
Temanggung Tlogomulyo Kledung Temanggung 33,39 Kedu,
Kandangan
Kaloran, Kranggan
Tembarak Tlogomulyo, Bulu
Tlogomulyo 24,84 Bulu Temanggung Tembarak Kab. Magelang
Tembarak 26,84 Tlogomulyo, Temanggung
Kranggan Selopampang Tlogomulyo Selopampang 17,29 Tembarak Kranggan Kab. Magelang Tlogomulyo
Gambaran Umum Kawasan II - 2 Tabel 2.1. ...(Lanjutan)
Kecamatan Luas dan Batas Wilayah
Km2 Utara Timur Selatan Barat
Kranggan 57,61 Kaloran Pringsurat Kab. Magelang Temanggung Pringsurat 57,27 Kaloran Kab. Magelang Kab. Magelang Kranggan Kaloran 63,92 Kandangan Kab. Semarang Temanggung Kranggan Kandangan 78,36 Kab. Semarang Kab. Semarang Temanggung Kedu
Kedu 34,96 Jumo,
Gemawang
Kandangan, Kaloran
Temanggung Parakan, Bulu
Ngadirejo 53,31 Candiroto Jumo Bansari Candiroto
Jumo 29,32 Candiroto, Gemawang
Gemawang Kedu Ngadirejo
Gemawang 67,11 Semarang Kandangan, Kab.
Semarang
Kedu Candiroto, Jumo
Candiroto 59,94 Bejen Gemawang Jumo Wonoboyo
Bejen 68,84 Kab. Kendal Kab. Semarang Candiroto, Gemawang
Tretep, Kab.
Kendal
Tretep 33,65 Kab. Kendal Bejen, Wonoboyo Wonoboyo Kab. Wonosobo
Wonoboyo 43,98 Tretep Candiroto Candiroto Kab. Wonosobo
2.2. PERKEMBANGAN PERIKANAN DI KABUPATEN TEMANGGUNG
Kebutuhan ikan di Temanggung cukup besar, dan berdasarkan perhitungan yang dilakukan Bidang Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Temanggung. Pada tahun 2008, produksi ikan di wilayahnya baru mencapai sekitar 60% dari tingkat kebutuhan pasar untuk skala konsumsi. Sedangkan 40% sisanya merupakan pasokan dari luar daerah, artinya produksi ikan Kabupaten Temanggung belum mampu mencukupi kebutuhan sendiri. Kekurangan tersebut diantaranya disebabkan oleh minimnya pemanfaatan lahan untuk kegiatan usaha perikanan. Dari potensi lahan seluas 488,94 Ha yang ada di Kabupaten Temanggung, baru sekitar 104 Ha yang dimanfaatkan sebagai kolam ikan konsumsi atau baru 21,27%.
Pada tahun 2009, Temanggung berusaha menargetkan produksi ikan lokal-nya sebesar 70% (www.temanggungkab.go.id). Peningkatan target itu disesuaikan dengan tingkat konsumsi ikan masyarakat yang cenderung meningkat. Pada tahun 2006 konsumsi ikan di Temanggung hanya 9,8 kg per kapita per tahun, dan meningkat menjadi 10,6 kg pada tahun berikutnya. Jumlah tersebut sebenarnya masih jauh dari standar Jawa Tengah, yakni 14 kg.
Terkait dengan upaya pencapaian target, Kabupaten Temanggung sudah menyiapkan beberapa program di antaranya pengembangan kawasan budidaya ikan dan pembangunan
Gambaran Umum Kawasan II - 3 unit pembenihan. Sejumlah kecamatan yang menjadi sasaran kawasan budidaya di antaranya Wonoboyo, Candiroto, Parakan, Temanggung, Tlogomulyo, Tembarak, Selopampang, Kedu, dan Bulu. Sedangkan untuk unit pembenihan akan dibangun di tiga kecamatan dengan sistem satu kelompok per wilayah. Lokasi yang pertama adalah Kelurahan Jurang, Kecamatan Temanggung. Daerah ini akan dijadikan sebagai unit pembenihan untuk ikan Lele.
2.2.1. Potensi Budidaya Ikan Kolam
Potensi budidaya ikan terdapat di seluruh kecamatan di Kabupaten Temanggung. Lima kecamatan yang luas lahan dan produksi ikan budidaya kolam jumlahnya terbesar Kecamatan Parakan, Temanggung, Tembarak, Kedu dan Kecamatan Selopampang (Tabel 2.2.).
Tabel 2. 2 Perkembangan Produksi Ikan Kolam (Kw) Dirinci Menurut Jenis Ikan per Kecamatan di Kabupaten Temanggung
Kecamatan Luas Kolam (Ha)
Karper Lele Nila Lain-Lain Jumlah (Kw)
1.Parakan 16,8440 391,90 591,99 435,50 62,23 1.481,62
2.Kledung 4,1347 94,80 145,63 106,42 15,18 362,03
3.Bansario 0,8335 18,20 32,43 21,47 3,11 75,21
4.Bulu 5,9323 138,20 210,77 154,02 21,89 524,88
5.Temanggung 17,1355 398,16 602,97 442,25 63,21 1.506,59
6.Tlogomulyo 1,8235 41,85 69,34 46,82 6,78 164,79
7.Tembarak 11,8991 277,34 421,83 308,31 43,48 1.050,96
8.Selopampang 8,1448 189,24 290,85 211,47 29,70 721,26
9.Kranggan 1,0460 21,70 43,08 26,57 3,63 94,98
10.Pringsurat 4,4834 102,94 162,02 114,70 16,30 395,96
11.Kaloran 1,3363 30,36 52,44 34,08 4,90 121,78
12.Kandangan 1,0284 21,05 38,80 24,57 3,63 88,05
13.Kedu 16,2484 377,15 568,70 417,62 59,85 1.423,32
14.Ngadirejo 7,6007 175,96 268,20 195,56 28,12 667,84
15.Jumo 5,5241 128,68 197,76 142,89 20,44 489,77
16.Gemawang 0,8837 20,73 35,16 23,45 3,31 82,65
17.Candiroto 4,1791 72,09 117,86 80,29 11,52 281,76
18.Bejen 0,5525 10,11 23,38 12,65 1,69 47,83
19.Tretep 0,1220 4,06 5,90 4,93 0,70 13,59
20.Wonoboyo 4,3185 99,91 151,88 112,38 16,04 380,21
Kecamatan Luas Kolam (Ha)
Karper Lele Nila Lain-Lain Jumlah (Kw) Jumlah 2009
2008
2007
2006
2005
113,0705 111,5790 104,4005 99,4000 93,8200
2.613,43 2.590,04 2.000,91 1.455,57 1.821,41
4.030,99 3.878,06 3.201,43 2.340,71 897,49
2.914,95 2.863,78 2.401,08 1.755,12 1.466,44
415,71 405,62 400,14 292,15 252,25
9.975,08 9.707,50 8.003,56 5.843,55 4.437,59 Sumber: Statistik Kabupaten Temanggung yang Diolah
Gambaran Umum Kawasan II - 4 Berdasarkan draft RTRW 2011-2031, daerah atau kawasan yang direncanakan peruntukan minapolitan meliputi Kecamatan Wonoboyo, Candiroto, Parakan, Termanggung, Tembarak, Tlogomulyo, Selopampang, Kedu dan Kecamatan Bulu. Gambaran luas kolam dan produksi ikan dari hasil budidaya kolam tersebut disajikan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 menunjukkan adanya kenaikkan luas kolam dari tahun 2005 sebesar 93,8200 Ha menjadi 113,0705 Ha pada tahun 2009. Kenaikkan luas kolam juga diikuti kenaikan produksi dari 4,437,59 kw pada tahun 2005 menjadi 9.975,08 kw pada tahun 2009.
2.2.2. Potensi Budidaya Mina Padi
Hasil produksi ikan budidaya minapadi di lima kecamatan yang paling banyak terdapat di Kecamatan Bulu dengan luas lahan 1.268,23 Ha dan jumlah produksi 3.592,91 kw (Tabel 2.3). Kecamatan lain yang cukup besar produksinya adalah Kecamatan Parakan (711,73 Kw), Kedu (646,63 Kw), Temanggung (512,65 Kw) dan Kecamatan Tembarak (415,02 Kw).
Tabel 2. 3 Perkembanagn Produksi Ikan Budidaya Mina Padi (Kw) Dirinci Menurut Jenis Ikan per Kecamatan di Kabupaten Temanggung
Kecamatan Luas Mina Padi
(Ha) Karper Nila Jumlah
(Kw)
1.Parakan 254,65 605,78 105,95 711,73
2.Kledung 16,95 44,75 9,16 53,91
3.Bansario 35,21 88,29 16,91 105,20
4.Bulu 1.268,23 3.051,93 540,98 3.592,91
5.Temanggung 172,78 436,50 76,15 512,65
6.Tlogomulyo 113,65 277,99 50,11 328,10
7.Tembarak 144,67 350,32 64,70 415,02
8.Selopampang 116,68 282,90 52,58 335,48
9.Kranggan 24,18 62,65 11,24 73,89
10.Pringsurat 43,08 108,05 19,22 127,27
11.Kaloran 25,92 66,00 11,37 77,37
12.Kandangan 11,38 30,16 4,83 34,99
13.Kedu 221,33 548,59 98,04 646,63
14.Ngadirejo 145,29 352,40 62,86 415,26
15.Jumo 127,24 315,16 55,00 370,16
16.Gemawang 87,90 211,42 37,43 248,85
17.Candiroto 35,12 86,57 16,07 102,64
18.Bejen 88,10 212,80 37,76 250,56
19.Tretep 5,57 13,76 2,51 16,27
20.Wonoboyo 36,92 88,90 17,23 106,13
Gambaran Umum Kawasan II - 5 Tabel 2.3. lanjutan ...
Kecamatan Luas Mina Padi
(Ha) Karper Nila Jumlah
(Kw) Jumlah 2009
2008 2007 2006 2005
2.974,85 2.946,40 2.544,43 2.045,57 1.930,69
7.234,92 7.069,54 5.498,01 4.692,66 3.911,61
1.290,10 1.247,56 1.374,49 521,41 48,04
8.525,02 8.317,10 6.872,50 5.214,07 3.959,65
Sumber: Statistik Kabupaten Temanggung yang Diolah
Berdasarkan Tabel 2.3 terdapat kenaikan luas lahan budidaya mina padi, pada tahun 2005 seluas 1.930,69 ha menjadi 2.974,85 ha pada tahun 2009. Produksi juga mengalami kenaikan dari 3.959,65 kw pada tahun 2007 menjadi 8.525,02 kw pada tahun 2009. Jenis ikan yang dibudidayakan dengan pola minapadi tersebut terdiri dari ikan Kaper dan ikan Nila.
2.2.3. Potensi Perikanan Tangkap di Perairan Sungai
Selain mempunyai komoditas perikanan budidaya, Kabupaten Temanggung juga mempunyai produksi ikan dari sektor perikanan tangkap, terutama penangkapan di sungai dan cekdam/genangan. Antara tahun 2005-2009 produksi perikanan tangkap cenderung mengalami kenaikan (Tabel 2.4). Produksi ikan hasil tangkapan pada tahun 2009 sebesar 441,06 kw, dengan daerah paling besar berada di Kecamatan Temanggung yaitu sebesar 57,73 kw.
Tabel 2. 4 Perkembangan Produksi Hasil Penangkapan Ikan (Kw) di Sungai Dirinci Menurut Jenis Ikan per Kecamatan di Kabupaten Temanggung
Kecamatan Tawes Karper Nila Gabus Lele Udang Lain-
Lain Jumlah
1.Parakan 1,54 9,80 14,36 3,26 8,85 0,57 8,50 46,88
2.Kledung 0,00 0,00 0,50 0,14 0,12 0,02 0,00 0,78
3.Bansario 0,00 0,00 0,42 0,19 0,11 0,03 0,00 0,75
4.Bulu 1,26 6,08 7,97 2,12 6,19 0,29 7,31 31,22
5.Temanggung 2,37 12,14 17,30 5,02 9,86 0,98 9,75 57,42 6.Tlogomulyo 0,08 0,83 2,65 0,28 3,52 0,12 5,04 12,52
7.Tembarak 0,83 3,59 7,71 1,46 7,25 0,25 6,60 27,69
8.Selopampang 0,82 3,80 7,23 1,39 5,05 0,27 7,40 25,96
9.Kranggan 2,80 7,28 7,14 1,14 9,30 0,39 8,68 36,73
10.Pringsurat 0,89 4,95 6,95 1,04 7,87 0,26 9,30 31,26
11.Kaloran 0,35 2,04 2,26 0,55 2,78 0,06 1,50 9,54
12.Kandangan 0,10 1,46 1,75 0,56 1,60 0,10 1,95 7,52
13.Kedu 1,95 8,90 10,26 4,28 9,56 0,33 11,45 46,73
14.Ngadirejo 1,50 8,48 14,74 3,06 8,57 0,46 8,40 45,21
15.Jumo 0,30 3,40 6,74 1,15 4,86 0,16 3,47 20,08
Gambaran Umum Kawasan II - 6 Tabel 4.3. Lanjutan ...
Kecamatan Tawes Karper Nila Gabus Lele Udang Lain-
Lain Jumlah
16.Gemawang 0,00 1,00 1,19 0,37 1,18 0,06 1,20 5,00
17.Candiroto 0,13 4,40 6,38 0,76 0,79 0,21 9,50 22,17
18.Bejen 0,00 0,00 0,43 0,16 0,10 0,03 0,00 0,72
19.Tretep 0,00 0,00 0,25 0,13 0,12 0,00 0,00 0,50
20.Wonoboyo 0,10 1,20 4,36 0,44 1,97 0,06 1,90 10,03 Jumlah 2009
2008 2007 2006 2005
15,02 34,03 33,66 32,34 26,80
79,35 69,71 31,07 29,85 3,78
120,59 108,93 24,59 23,63 14,94
27,50 24,05 23,73 40,51 75,37
89,65 87,14 35,38 33,99 28,13
4,65 4,36 24,16 23,18 15,59
101,95 105,44 256,75 246,70 152,69
438,71 433,66 429,34 430,20 317,30 Sumber: Statistik Kabupaten Temanggung yang Diolah
2.2.4. Potensi Tangkap di Genangan/Cekdam
Potensi perikanan lain yang kurang tergarap adalah potensi perikanan tangkap di genangan/cekdam. Tahun 2009 jenis ikan yang ditangkap adalah jenis Karper, Nila, Gabus, Lele dan lain sebagainya. Produksi ikan hasil tangkapan perairan genangan/cekdam sebesar 67,59 kw. Kecamatan yang mempunyai hasil tangkapan di genangan/cekdam tertinggi adalah Kecamatan Kedu dengan jumlah tangkapan 12,37 kw.
Tabel 2. 5 Perkembangan Produksi Hasil Penangkapan Ikan (Kw) di Genangan/Cekdam Dirinci Menurut Jenis Ikan per Kecamatan di Kabupaten Temanggung
Kecamatan Karper Nila Gabus Lele Lain-
Lain Jumlah
1.Parakan 0,62 1,52 0,22 0,24 4,28 6,88
2.Kledung - - - - - -
3.Bansario - - - - - -
4.Bulu 0,35 0,14 0,15 0,20 1,00 1,84
5.Temanggung 0,52 1,51 0,30 0,27 3,76 6,36
6.Tlogomulyo - 0,13 - - 0,50 0,63
7.Tembarak 0,60 1,69 0,20 0,26 4,33 7,08
8.Selopampang - 0,18 0,15 0,22 1,50 2,05
9.Kranggan 0,45 1,16 0,11 0,24 3,61 5,57
10.Pringsurat - 0,18 0,12 0,15 1,80 2,25
11.Kaloran 0,16 0,56 0,10 0,30 2,00 3,12 12.Kandangan 0,84 1,69 0,26 0,53 4,00 7,31
13.Kedu 1,47 3,59 0,22 0,32 6,80 12,37
14.Ngadirejo 0,67 1,37 0,23 0,40 3,40 6,04
15.Jumo 0,38 0,94 0,12 0,11 2,20 3,72
16.Gemawang - 0,12 - - 0,50 0,62
17.Candiroto - 0,14 0,12 0,12 0,40 0,78
18.Bejen - 0,12 - - 0,30 0,42
19.Tretep - - - - - -
20.Wonoboyo - 0,14 0,11 - 0,30 0,55
Gambaran Umum Kawasan II - 7 Tabel 2.5. Lanjutan ...
Kecamatan Karper Nila Gabus Lele Lain-
Lain Jumlah Jumlah 2009
2008 2007 2006 2005
6,06 13,40 12,50 1,80 13,70
15,18 12,65 11,30 5,10 15,72
2,41 - 4,20 1,20 18,50
3,36 9,85 8,60 2,30 3,55
40,68 25,55 18,90 43,00 16,13
67,59 67,90 55,50 53,40 104,17 Sumber: Statistik Kabupaten Temanggung yang Diolah
2.2.3. Potensi Benih Ikan
Benih ikan merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan budidaya. Produksi benih ikan di Kabupaten Temanggung pada tahun 2009 sebanyak 29.813.400 ekor, dan Kecamatan Kedu merupakan produsen terbesar yaitu mencapai 5.854.910 ekor (Tabel 2.6).
Tabel 2. 6 Perkembangan Produksi Benih Ikan per Kecamatan di Kabupaten Temanggung Kecamatan Unit Pembenihan Ikan
Luas (Ha) Produksi (Ekor)
1.Parakan 8,24 2.914.638
2.Kledung 0,35 201.402
3.Bansario 0,45 322.702
4.Bulu 5,00 3.588.574
5.Temanggung 7,09 5.135.808
6.Tlogomulyo 1,70 546.036
7.Tembarak 4,33 1.856.838
8.Selopampang 4,43 1.625.538
9.Kranggan 0,39 2.475.606
10.Pringsurat 0,68 362.986
11.Kaloran 0,26 118.234
12.Kandangan 0,21 151.734
13.Kedu 8,91 5.854.910
14.Ngadirejo 4,77 1.750.904
15.Jumo 1,47 788.136
16.Gemawang 0,44 485.202
17.Candiroto 1,03 454.334
18.Bejen 0,03 100.734
19.Tretep 0,21 103.534
20.Wonoboyo 0,43 975.568
Jumlah 2009 2008 2007 2006 2005
50,42 49,37 46,60 45,90 36,66
29.813.400 24.640.000 22.408.500 20.504.600 13.046.409
Sumber: Statistik Kabupaten Temanggung yang Diolah
Gambaran Umum Kawasan II - 8 Berdasarkan Tabel 2.6 terdapat kenaikan luas lahan dan jumlah produksi benih ikan. Luas lahan pada tahun 2005 sebesar 36,66 ha meningkat menjadi 50,42 ha pada tahun 2009.
Jumlah benih juga meningkat dari 13.046.409 ekor pada tahun 2007 menjadi 29.813.400 ekor pada tahun 2009.
2.3. KOMODITAS UNGULAN
Komoditas unggulan adalah suatu komoditas yang memiliki keunggulan secara komparatif maupun secara kompetitif, baik dari sisi penawaran maupun permintaan. Dari sisi penawaran komodtas unggulan dicirikan oleh superioritas dalam pertumbuhannya pada kondisi biofisik, teknologi dan kondisi sosial ekonomi disuatu wilayah. Dari sisi permintaan, komoditas unggulan dicirikan oleh kuatnya permintaan pasar, baik pasar domistek maupun internasional. Budidaya ikan yang banyak dilakukan di Kabupaten Temanggung terutama adalah ikan Nila, ikan Karper/Mas dan ikan Lele. Ke tiga komoditas ini dapat memenuhi kriteria tersebut di atas, sehingga dapat dikategorikan sebagai komoditas unggulan untuk usaha budidaya ikan di Kabupaten Temanggung. Gambaran tentang produksi ke tiga jenis ikan tersebut disajikan pada Tabel 2.7.
Tabel 2. 7 Produksi Komoditas Unggulan dari Hasil Budidaya (Kw) Kecamatan Jenis Komoditas
Jumlah Karper Lele Nila
Parakan 1008,1 601,08 557,33 2166,51 Kledung 139,55 145,75 116,08 401,38 Bansari 106,49 32,54 38,8 177,83 Bulu 3196,56 217,16 703,11 4116,83 Temanggung 847,32 613,1 537,21 1997,63 Tlogomulyo 320,67 72,86 99,71 493,24 Tembarak 631,85 429,34 382,41 1443,6 Selopampang 475,94 296,12 271,46 1043,52 Kranggan 92,08 52,62 46,11 190,81 Pringsurat 215,94 170,04 141,05 527,03 Kaloran 98,56 55,52 48,27 202,35 Kandangan 53,51 40,93 32,84 127,28 Kedu 936,11 578,58 529,51 2044,2 Ngadirejo 537,51 277,17 274,53 1089,21 Jumo 447,62 202,73 205,57 855,92 Gemawang 233,15 36,34 62,19 331,68
Gambaran Umum Kawasan II - 9 Tabel 2.7. Lanjutan ...
Kecamatan Jenis Komoditas
Jumlah Karper Lele Nila
Candiroto 163,06 118,77 102,88 384,71 Bejen 222,91 23,48 50,96 297,35
Tretep 17,82 6,02 7,69 31,53
Wonoboyo 190,01 153,85 134,11 477,97 Jumlah 9934,76 4124 4341,82 18400,58
Sumber: Statistik Kabupaten Temanggung yang Diolah
2.3.1. Ikan Nila
Budidaya ikan Nila dapat berkembang pesat karena mudah dipelihara, laju pertumbuhan dan perkembangbiakannya cepat, tahan terhadap gangguan hama dan penyakit dan secara ekonomi cukup menguntungkan. Pada saat ini ikan Nila merupakan salah satu komoditas ekspor. Selain dipelihara di kolam biasa, ikan Nila juga dapat dibudidayakan di media lain seperti kolam air deras, karamba jaring apung, sawah (mina padi), bahkan dalam tambak (air payau).
Berdasarkan Tabel 2.7 terlihat bahwa kecamatan penghasil ikan Nila paling besar berturut- turut adalah Kecamatan Bulu (703,11 Kw), Parakan (557,33 Kw), Temanggung (537,21 Kw), dan Kedu (529,51 Kw).
Wilayah Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, kini telah dikembangkan sebagai kawasan unit pembenihan rakyat (UPR), termasuk pembenihan ikan Nila. Ada dua desa di Kecamatan Bulu yang dipilih sebagai UPR ikan Nila, yaitu Desa Mondoretno dan Desa Putat. Kecamatan Bulu dipilih sebagai kawasan UPR ikan Nila karena sudah banyak embrio di daerah tersebut, dan komoditas ikan Nila ini dinilai cocok untuk dikembangkan di wilayah tersebut. Dengan banyaknya UPR, maka masyarakat sekitar diharapkan akan terpacu untuk mengembangkan budidaya ikan tersebut. Dengan kata lain, wilayah Kecamatan Bulu akan dikembangkan sebagai cluster ikan Nila, sehingga ada pembibitan, budidaya, dan pengolahan hasil. Pada akhir tahun 2009 diketahui UPR Desa Ngimbrang mendapatkan bantuan 1.500 induk nila BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia), yang merupakan jenis Nila varietas unggul baru hasil penelitian dan pengujian dari Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Perikanan dan Kelautan. Keunggulan nila BEST, antara lain tahan terhadap perubahan
Gambaran Umum Kawasan II - 10 lingkungan seperti suhu maupun musim, produksi ikan jenis ini lebih baik jika dibanding ikan Nila yang biasa dikembangkan masyarakat.
Lokasi budidaya ikan Nila di Chekdam Kembangsari Desa Kembangsari Kecamatan Kandangan dengan luas sekitar 15,18 ha. Usaha budidaya ikan Nila di Chekdam Kembangsari masih terus dikembangkan. Saat sekarang telah terbentuk kelompok pembudi daya ikan dari masyarakat sekitar Desa Kembangsari yang tergabung dalam Pokdakan
"Margo utomo".
2.3.3. Ikan Lele
Ikan Lele merupakan salah satu komoditas yang penting, karena meskipun belum menjadi komoditas ekspor namun daya serap pasar tinggi. Budidaya ikan Lele berkembang pesat dikarenakan 1) dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah dan 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah. Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan Lele Dumbo ke Indonesia pada tahun 1985.
Keunggulan Lele Dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit.
Berdasarkan data tahun 2009 (Tabel 2.2), produksi ikan lele di Kabupaten Temanggung cenderung meningkat 897,49 Kw pada tahun 2005 meningkat menjadi 4.030,99 Kw pada tahun 2009. Produksi ikan Lele terbesar di Kabupaten Temanggung berturut-turut adalah Kecamatan Temanggung (613,1 Kw), Parakan (601,08 Kw), Kedu (578,58 Kw) dan Kecamatan Tembarak (429,34 Kw) (Tabel 2.7). Pengolahan hasil budidaya ikan Lele di Kabupaten Temanggung sudah mulai dikembangkan, terutama produk abon lele dan kripik kulit lele.
Usaha Ikan lele, baik budidaya ikan lele dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran dan pengolahan serta pemasaran hasil, mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan ikan lele semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.
2.3.3. Ikan Karper
Di Indonesia, ikan karper memiliki beberapa nama sebutan yakni ikan mas, kancra, tikeu, tombro, raja, rayo, ameh atau nama lain sesuai dengan daerah penyebarannya. Ikan karper
Gambaran Umum Kawasan II - 11 sebagai ikan konsumsi dibagi menjadi dua kelompok yakni ras ikan karper bersisik penuh dan ras ikan karper bersisik sedikit. Kelompok ras ikan karper yang bersisik penuh adalah ras-ras ikan karper yang memiliki sisik normal, tersusun teratur dan menyelimuti seluruh tubuh. Ras ikan karper yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah ikan karper majalaya, ikan karper punten, ikan karper si nyonya dan ikan karper merah atau mas. Sedangkan yang tergolong dalam ras karper bersisik sedikit adalah ikan karper kaca yang oleh petani di Tabanan biasa disebut dengan nama karper gajah. Untuk kelompok ras ikan karper hias, beberapa di antaranya adalah karper kumpay, kaca, mas merah dan koi.
Budidaya ikan Karper di Kabupaten Temanggung cenderung meningkat, seperti terlihat pada Tabel 2.2 dan 2.3. Pada tahun 2005, produksi ikan Karper hasil budidaya di kolam sebesar 1.821,41 Kw, meningkatmenjadi 2.613,43 Kw pada tahun 2009 (Tabel 2.2). Sedangkan dari hasil budidaya minapadi, pada tahun 2005 sebesar 3.911,61 Kw meningkat menjadi 7.234,92 Kw pada tahun 2009.
Berdasarkan gambaran tersebut terlihat bahwa produksi ikan Karper di Kabupaten Temanggung terutama berasal dari budidaya minapadi. Kecamatan yang paling besar produksi ikan Karpernya berturut turut adalah Kecamatan Bulu (3.051,93 Kw), Parakan (605,78 Kw), Kedu (548,59 Kw) dan Kecamatan Temanggung (436,50 Kw).
Analisis Pengembangan Kawasan III - 1
BAB 3
An A n al a l i i s s i i s s P P e e n n ge g e mb m b a a n n g g a a n n K K a a w w a a s s a a n n
Konsep kawasan adalah wilayah yang berbasis pada keanekaragaman fisik dan ekonomi tetapi memiliki hubungan erat dan saling mendukung satu sama lain secara fungsional dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kawasan sentra perikanan budidaya (minapolitan) merupakan kota perikanan yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha minabisnis serta mampu melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan perikanan di wilayah sekitarnya.
Kawasan sentra perikanan terdiri dari kota perikanan dan desa-desa sentra produksi perikanan yang ada disekitarnya dengan batasan yang tidak ditentukan oleh batasan administratif pemerintahan, tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan skala ekonomi kawasan yang ada.
Pengelolaan ruang diartikan sebagai kegiatan pengaturan, pengendalian, pengawasan, evaluasi, penertiban dan peninjauan kembali atas pemanfaatan ruang kawasan sentra perikanan. Program pengembangan kawasan sentra perikanan adalah pembangunan ekonomi berbasis perikanan yang dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada, utuh dan menyeluruh, berdaya saing, berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah.
Kawasan perikanan yang terdapat di daerah pedesaan harus dikembangkan sebagai satu kesatuan pengembangan wilayah berdasarkan keterkaitan ekonomi antara desa-kota (urban-rural linkages), dan menyeluruh hubungan yang bersifat timbal balik yang dinamis.
3.1. VISI DAN MISI
3.1.1. Visi dan Misi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
Kebijakan sektor pembangunan kelautan dan perikanan merupakan upaya mewujudkan Visi dan Misi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Visi KKP adalah ”Indonesia
Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar 2015” dan Misinya adalah
Analisis Pengembangan Kawasan III - 2
"Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan ". Berawal dar Visi dan Misi tersebut, maka disusun kebijakan strategis dan kemudian dikenal sebagai GRAND STRATEGY (The Blue Revolution Policies) yang berisikan 4 (empat) kebijakan yaitu :
1. Memperkuat Kelembagaan dan SDM secara Terintegrasi
a. Peraturan perundang-undangan di bidang Kelautan dan Perikanan sesuai kebutuhan nasional dan tantangan global serta diimplementasikan secara sinergis lintas sektor, pusat dan daerah
b. Seluruh perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pelaporan terintegrasi, akuntabel dan tepat waktu berdasarkan data yang terkini dan akurat
c. Sumber daya manusia kelautan dan perikanan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan
2. Mengelola Sumber Daya Kelautan dan Perikanan secara Berkelanjutan
a. Sumber daya kelautan dan perikanan dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan
b. Konservasi kawasan dan jenis biota perairan yang dilindungi dikelola secara berkelanjutan
c. Pulau-pulau kecil dikembangkan menjadi pulau bernilai ekonomi tinggi
d. Indonesia bebas Illegal, Unreported dan Unregulated (IUU) Fishing serta kegiatan yang merusak sumber daya kelautan dan perikanan
3. Meningkatkan Produktivitas dan Daya Saing Berbasis Pengetahuan
a. Seluruh kawasan potensi perikanan menjadi kawasan Minapolitan dengan usaha yang bankable
b. Seluruh sentra produksi kelautan dan perikanan memiliki komoditas unggulan yang menerapkan teknologi inovatif dengan kemasan dan mutu terjamin
c. Sarana dan prasarana kelautan dan perikanan mampu memenuhi kebutuhan serta diproduksi dalam negeri dan dibangun secara terintegrasi
4. Memperluas Akses Pasar Domestik dan Internasional
a. Seluruh desa memiliki pasar yang mampu memfasilitasi penjualan hasil perikanan
b. Indonesia menjadi market leader dunia dan tujuan utama investasi di bidang kelautan dan perikanan.
Analisis Pengembangan Kawasan III - 3 Dalam melaksanakan kebijakan tersebut dilakukan progam strategis pembangunan perikanan berbasis kawasan, yang dikenal dengan program Minapolitan. Minapolitan merupakan upaya percepatan pengembangan pembangunan kelautan dan perikanan di sentra-sentra produksi perikanan yang memiliki potensi untuk dikembangkan dalam rangka mendukung Visi dan Misi Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pengembangan minapolitan ini hakekatnya mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
1. Meningkatkan produksi perikanan, produktivitas usaha, dan meningkatkan kualitas produk perikanan;
2. Meningkatkan pendapatan nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan yang adil dan merata;
3. Mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah dan sentra-sentra produksi perikanan sebagai penggerak ekonomi rakyat.
3.1.2. Visi dan Misi Kabupaten Temanggung 2008-2013 1. Visi Kabupaten Temanggung
Dalam rangka mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang baik (Good Governance) dalam pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan daerah untuk 5 (lima) tahun kedepan, maka penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah didasarkan pada asas-asas umum, yaitu :
a. Asas Kepastian Hukum, yaitu mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan pemerintahan.
b. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara, yaitu mengutamakan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam penyelenggaraan pemerintahan.
c. Asas Kepentingan Umum, yaitu mendahuluan kesejahteraan umum dengan cara aspiratif, akomodatif, dan selektif.
d. Asas Keterbukaan, yaitu membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, bersikap jujur, dan tidak diskriminatif dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan tetap memperhatikan perlindungan hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara.
e. Asas Proporsionalitas, yaitu mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban penyelenggaraan pemerintah.
Analisis Pengembangan Kawasan III - 4 f. Asas Profesionalitas, yaitu mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik
profesional dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
g. Asas Akuntabilitas, yaitu setiap penyelenggaraan pemerintahan daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Sejalan dengan penerapan asas-asas umum pemerintahan tersebut dan agar pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan daerah dapat terarah dan berkelanjutan maka diperlukan adanya Visi Daerah baik untuk jangka panjang maupun jangka menengah. Visi Daerah dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Temanggung Tahun 2005-2025 adalah Temanggung makin Maju, Mandiri, Aman, Adil, dan Sejahtera. Untuk jangka menengah periode tahun 2008-2013 Visi Kabupaten Temanggung adalah ”Bersatu Untuk Maju dan Sejahtera”.
Visi tersebut mempunyai filosofi dasar, yaitu :
a. Mewujudkan Temanggung yang lebih baik maka diperlukan adanya tekad semua komponen baik Pemerintah Daerah, swasta maupun masyarakat untuk “Bersatu”. Hal ini mengandung makna menyatukan semua potensi sumberdaya manusia (SDM) dalam lingkungan birokrasi (eksekutif), legislatif, dunia usaha dan masyarakat agar mampu mengelola sumberdaya alam (SDA) secara terarah, didasarkan pada program yang mantap, pelaksanaan yang tepat, serta pengawasan yang ketat sehingga “Kemajuan”
bisa tercapai.
b. Masyarakat yang “Maju” mengandung makna terwujudnya kondisi masyarakat yang berkembang dan berorientasi pada upaya memajukan daerah dengan dilandasi sikap disiplin, bekerja keras, dan gemar membaca/meningkatkan kapasitas dan kapabilitas diri. Kondisi ini akan mengantarkan pada terwujudnya masyarakat yang “Sejahtera”.
c. “Sejahtera” mengandung arti tercukupinya kebutuhan pokok material dan spiritual bagi masyarakat, yang ditandai dengan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yaitu meningkatnya kehidupan perekonomian masyarakat, pelaksanaan pendidikan yang berkeadilan dan derajat kesehatan yang berkualitas, serta didukung oleh kepastian hukum dan penegakan has azasi manusia.