• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skor Pola Pangan Harapan

Chart Title

JUMLAH KUNJUNGAN

1. Skor Pola Pangan Harapan

Kuantitas dan kualitas konsumsi pangan merupakan hal penting yang harus diperhatikan, karena kelebihan atau kekurangan terhadap satu atau beberapa jenis pangan akan mengakibatkan keadaan malnutrisi (gizi salah) serta penyakit yang menyertainya kemudian. Tercapainya penganekaragaman konsumsi pangan penduduk diukur melalui pencapaian nilai komposisi pola pangan dan gizi seimbang. Implementasi indikator kuantitatif tersebut yang selama ini kita kenal dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH). Pola Pangan Harapan (PPH) atau Desirable Dietary Pattern (DDP) adalah susunan keragaman pangan yang didasarkan pada sumbangan energi dari kelompok pangan utama. Melalui pendekatan PPH ini, kualitas konsumsi pangan penduduk dapat dicerminkan dari besaran skor PPH, dengan skor maksimal sebesar 100.

Mengacu pada PPH tersebut, keadaan perencanaan penyediaan dan konsumsi pangan penduduk diharapkan dapat memenuhi tidak hanya kecukupan gizi (nutritional adequency) akan tetapi juga mempertimbangkan keseimbangan gizi (nutritional balance) yang didukung oleh cita rasa (palatability), daya cerna (digestability), daya terima masyarakat (acceptability), kuantitas dan kemampuan daya beli (affortability).

Sejak ditetapkannya Peraturan Presiden No 22 tahun 2009, skor pola pangan harapan telah dijadikan indikator strategis untuk melihat kinerja Ketahanan Pangan. Selain itu, skor PPH juga berfungsi sebagai instrumen untuk mengevaluasi konsumsi pangan di suatu wilayah, yang selanjutnya digunakan sebagai acuan atau dasar untuk penyusunan perencanaan kebutuhan konsumsi pangan wilayah ke depan. Untuk itu skor PPH saat ini telah dijadikan indikator pencapaian target dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah.

Disamping itu, skor PPH juga dijadikan sebagai salah satu indikator kinerja pelayanan dasar di bidang ketahanan pangan (standar pelayanan minimal). Standar Pelayanan Minimal Bidang (SPM) Bidang Ketahanan Pangan sebagaimana

ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 65/Permentan/

OT.140/12/2010.

Berdasarkan analisis skore Pola Pangan Harapan (Skore PPH) Kota Tasikmalaya tahun 2016 baru mencapai 67,6 poin dan tahun 2017 belum diukur.

Untuk tahun 2018 dari target 70 tercapai sebesar 73, atau sebesar 104,28 % dari yang ditargetkan. Data berdasarkan kegiatan survey mandiri yang

dilaksanakan pada tahun 2018. Data yang digunakan dalam penghitungan skor

PPH adalah data jumlah konsumsi energi per kelompok pangan. Proporsi konsumsi energi untuk masing-masing kelompok hasil kesepakatan Deptan tahun 2001 yaitu : (1) Padi-padian 50%, (2) Umbi-umbian 6%, (3) Pangan hewani 12%, (4) Minyak

LKIP Kota Tasikmalaya Tahun 2018

5%, (8) Sayur dan buah 6%, serta (9) Lain-lain (bumbu) 3%. Selanjutnya, berdasarkan hasil perkalian antara proporsi energi dari masingmasing kelompok pangan dengan masing-masing pembobotnya diperoleh skor PPH. Dalam konsep PPH akan diperoleh skor ideal sebesar 100, yang artinya kualitas konsumsi pangan penduduk disebut ideal apabila mempunyai skor PPH sebesar 100. Dalam penghitungan skor PPH, setiap kelompok pangan diberi bobot yang didasarkan pada fungsi pangan dalam triguna makanan (sumber karbohidrat/zat tenaga, sumber protein/zat pembangun, serta vitamin dan mineral/zat pengatur). Ketiga fungsi zat gizi tersebut memiliki proporsi yang seimbang, masingmasing sebesar 33.3% (berasal dari 100% dibagi 3). Pembobotan tersebut adalah sebagai berikut: a) Untuk kelompok pangan sumber karbohidrat (padi-padian, umbi-umbian, minyak dan lemak, buah/biji berminyak, dan gula), total kontribusi energi (%AKG) adalah 74%. Bobot untuk kelompok pangan ini adalah 0.5 (berasal dari nilai 33.3% dibagi 74%). 7 Panduan Penghitungan Pola Pangan Harapan (PPH) b) Untuk kelompok pangan sumber protein (kacang-kacangan dan pangan hewani) dengan total kontribusi energi 17%, diperoleh bobot 2.0 (berasal dari nilai 33.3% dibagi 17%). c) Untuk kelompok pangan sumber vitamin dan mineral (sayur dan buah) dengan total kontribusi energi 6%, diperoleh bobot 5.0 (berasal dari nilai 33.3% dibagi 6%). d) Kelompok pangan lainnya (aneka minuman dan bumbu) dengan kontribusi energi 3% akan diperoleh bobot 0.0 yang berasal dari nilai 0% dibagi 3. Bobot 0.0 untuk kelompok pangan lainnya didasarkan pada pertimbangan bahwa konsumsi bumbu dan minuman tidak dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi

Grafik 3.9

Skor Pola Pangan Harapan 2011-2018

Program program yang dilaksanakan adalah sebagai berikut : a. Pemberian bantuan rawan pangan

b. Pembangunan lumbung pangan masyarakat c. Penganekaragaman pangan

d. Kawasan Rumah Pangan Lestari e. Penguatan lembaga pangan

65,1 65,5 56,3 70,1 77,3 67,6 73 0 20 40 60 80 100 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Series 1

Series 1

Pertumbuhan PDRB kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

PDRB perkapita Kota Tasikmalaya tahun 2016 paling tingi dibanding kabupaten dan kota lian di priangan timur yaitu 25,39 juta rupiah dan yang paling rendah adalah Kabupaten Tasikmalaya 16,08 juta rupiah.

PDRB dari sektor pertanian meningkat dari tahun 2014-2016 sebagai berikut : Tabel 3.26

Produk Domestik Regional Bruto Kota Tasikmalaya a.d.h Berlaku Menurut Lapangan Usaha,

2014-2016 (Triliun Rupiah)

Untuk PDRB kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan terdapat peningkatan dari 0.80 pada tahun 2014, menjadi 0,86 pada tahun 2015, dan menjadi 0,93 pada Tahun 2016.

Tabel 3.27

Anggaran Program Sasaran 6

NO PROGRAM PAGU REALISASI CAPAIAN PERANGKAT

DAERAH

1 Program Pengembangan Budidaya Perikanan

5.661.400.000 5.461.252.144 96,46% DPP 2 Program Optimalisasi Pengelolaan

dan Pemasaran Produksi Perikanan

843.000.000 831.653.099 98,65%

3 Program Peningkatan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan

LKIP Kota Tasikmalaya Tahun 2018 4 Program Peningkatan Produksi

Perikanan

10.234.959.000 8.965.522.276 87,60% 5 Program Peningkatan Pemasaran

Hasil Produksi Pertanian/Perkebunan

1.660.000.000 1.526.814.150 91,98%

6 Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan

400.000.000 386.892.000 96,72% 7 Program Peningkatan Produksi

Pertanian/Perkebunan

16.465.500.000 15.540.678.650 94,38% 8 Program Pemberdayaan Penyuluh

Pertanian/Perkebunan Lapangan

387.000.000 365.400.000 94,42% 9 Program Pencegahan dan

Penanggulangan Penyakit Ternak

400.000.000 397.229.100 99,31% 10 Program Peningkatan Produksi

Hasil Peternakan

9.072.000.000 8.807.609.647 97,09% 11 Program Peningkatan Pemasaran

Hasil Produksi Peternakan

3.375.000.000 2.605.672.335 77,21% 12 Program Penyediaan dan

Perbaikan Infrastruktur Pertanian

5.220.000.000 5.095.616.600 97,62% 13 Program Peningkatan SDM

Pertanian

1.314.481.000 1.117.568.475 85,02% 14 Program Pemanfaatan Potensi

Sumberdaya Pertanian 300.000.000 275.585.090 91,86% 15 Program Perencanaan Pembangunan Daerah 400.000.000 363.559.600 90,89% KETAHANAN PANGAN 16 Program Pengawasan dan

Pengendalian Kesehatan Makanan

81.000.000 77.201.450 95,31% 17 Program Peningkatan Ketahanan

Pangan

2.078.000.000 1.989.915.366 95,76% TOTAL 58.937.340.000 54.825.784.452 93,02%

Sasaran 7

Meningkatnya layanan jalan yang mantap, aman, nyaman dan inklusif

Pencapaian sasaran 7 dapat dilihat dalam tabel dibawah ini : Tabel 3.28

Analisis Pencapaian Sasaran 7

Meningkatnya layanan jalan yang mantap, aman, nyaman dan inklusif

No Indikator Kinerja Satuan

Tahun 2017 %

Tahun 2018

% Target Realisasi Target Realisasi

21 Persentase panjang jalan dalam kondisi

mantap % 1.0 1.060.95 0.00

86 87.80 102.09

Sasaran Meningkatnya layanan jalan yang mantap, aman, nyaman dan inklusif dapat dilihat dari sebanyak 1 indikator yaitu :

Capaian kinerja nyata indikator 21 "Persentase panjang jalan dalam kondisi mantap " adalah sebesar 87.80 % dari target sebesar 86 % yang direncanakan dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2018 sehingga persentase capaian kinerjanya adalah 102.09 %, capaian ini melebihi / melampaui target yang diperjanjikan.

Tahun 2018 adalah tahun ke 1 renstra, capaian kinerja indikator 21 "Persentase panjang jalan dalam kondisi mantap " tahun ini adalah sebesar 87.80 %, bila dibandingkan dengan target akhir renstra Kota Tasikmalaya maka capaian kinerjanya mencapai 102.09 %.

Namun pada tahun 2017, terdapat perubahan jumlah ruas jalan dan panjang jalan Kota Tasikmalaya. Berdasarkan SK Walikota Nomor 541.3/Kep.282-DPMPP/2015 jumlah panjang jalan Kota adalah sepanjang sepanjang 402.229 km sedangkan berdasarkan SK Walikota terbaru, panjang jalan Kota adalah 450.742 km. Perubahan panjang jalan ini otomatis akan mengubah perhitungan prosentase indikator sasaran Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik (point).

Perlu diinformasikan pula bahwa ada beberapa ruas jalan yang belum termasuk jalan Pemerintah Kota Tasikmalaya yang masuk ke dalam program dan kegiatan peningkatan jalan, sehingga hal ini terlihat dari capaian yang melebihi 100 %. Hal ini untuk mengakomodasi permintaan dari masyarakat yang sangat membutuhkan akses jalan yang baik.

Panjang jalan di Kota Tasikmalaya adalah 395,66 km. Dari jumlah tersebut, 58,66 persen dalam kondisi baik dan 41,34 persen dalam kondisi sedang.

Pada tahun 2017, panjang jalan di Kota tasikmalaya adalah 435,64 km. Dimana sepanjang 10,01 km kewenangan pengelolaannya adalah negara, 29,97 km oleh provinsi, dan sisanya 395,64 km oleh pemerintah Kota Tasikmalaya.

Dari seluruh jalan yang ada di Kota Tasikmalaya, tercatat sejumlah 58,66 persen dalam kondisi baik dan 41,34 persen dalam kondisi sedang.

1. Persentase Jalan dan Jembatan dalam kondisi baik x 0,94

2. Capaian Kesesuaian Pemanfaatan Ruang dengan Rencana Tata Ruang yang ditangani x 0,04

3. Tingkat ruas jalan yang memenuhi standar keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan x 0,51

Tabel 3.29

LKIP Kota Tasikmalaya Tahun 2018

Tabel 3.30

Kinerja Jalan Dalam Kondisi Baik

NO Kinerja TA 2018 Kinerja Satuan

A Pembangunan Jembatan 1 Unit

B Kondisi Baik 30,93 Km

1 Pembangunan Jalan 0,7 Km