VI ANALISIS LINGKUNGAN USAHA WISATA AGRO TAMB
6.2.2 Sosial, Budaya, Demografi, dan Lingkungan
Faktor sosial, budaya, demografi, dan sosial yang berpengaruh terhadap Wisata Agro Tambi cukup banyak. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah loyalitas konsumen, ketersediaan tenaga kerja, tren wisata, sikap masyarakat, pemandangan alam yang indah, berhawa sejuk dan masih asri, infrastruktur/akses, curah hujan, penyebaran penyakit Cacar Daun Teh, terjadinya bencana dan gangguan alam, pengelolaan limbah/sampah wilayah sekitar, dan isu ancaman teroris di Indonesia.
6.2.2.1 Loyalitas Konsumen
Loyalitas konsumen yang tinggi merupakan suatu peluang yang harus dapat dimanfaatkan suatu perusahaan. Loyalitas adalah suatu kondisi dimana pelanggan menjadi setia kepada suatu produk sekaligus merekomendasikan produk tersebut kepada orang lain, walaupun dia tidak lagi menjadi konsumen dari produk tersebut. Berdasarkan pemaparan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat dua jenis konsumen yang loyal, yaitu konsumen yang masih menjadi pelanggan, atau konsumen yang merekomendasikan produk dari suatu perusahaan walaupun dia sendiri mungkin bukan lagi menjadi pemakai produk tersebut.
Banyak cara yang digunakan oleh perusahaan untuk menciptakan loyalitas dalam diri konsumennya, tidak terkecuali bagi Wisata Agro Tambi. Langkah yang digunakan wisata Agro Tambi dalam menciptakan loyalitas
konsumennya adalah dengan membangun komunikasi dua arah dengan pelanggan dan berupaya untuk membangun kecintaan pelanggan terhadap Wisata Agro Tambi. Komunikasi dua arah dilakukan Wisata Agro Tambi dalam upaya mendapatkan kritik dan saran dari pengunjung, agar mereka memiliki pegangan dalam melakukan perbaikan-perbaikan dari sisi pelayanan maupun fasilitas.
Loyalitas konsumen Wisata Agro Tambi terlihat dari data historis pengunjung, yang menunjukkan bahwa terdapat institusi-institusi yang secara berkala melakukan kunjungan ke Wisata Agro Tambi seperti UPN Yogyakarta, Universitas Diponegoro Semarang, PLN, Kejaksaan Negeri, dan lain-lain. Berdasarkan kuesioner yang diberikan kepada pengunjung juga dapat ditarik kesimpulan bahwa 29 orang (97 persen) pengunjung akan merekomendasikan Wisata Agro Tambi kepada orang lain.
6.2.2.2 Ketersediaan Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang direkrut oleh Wisata Agro Tambi sebagian berasal dari masyarakat sekitar yaitu dari Desa Tambi, Kecamatan Kejajar. Alasan dipilihnya tenaga kerja yang berasal dari wilayah sekitar adalah untuk mengantisipasi datangnya pengunjung pada malam atau dini hari, lokasi tenaga kerja yang dekat dapat mempermudah komunikasi dan mempercepat proses pelayanan kepada pengunjung. Sesuai dengan syarat minimal tenaga kerja, Wisata Agro Tambi menetapkan kualifikasi minimal SMP untuk merekrut tenaga kerja yang berasal dari wilayah setempat. Data mengenai kondisi monografi penduduk Desa Tambi terkait dengan jumlah penduduk produktif minimal tamat SMP disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Jumlah Penduduk minimal Tamat SMP Desa Tambi 2009
Tingkat Pendidikan Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%)
Tamat SMP 812 60,06
Tamat SMA 510 37,72
Tamat Akademi 5 0,37
Tamat S-1 25 1,85
Total 1352 100,00
Sumber: Monografi Desa Tambi 2010 (diolah)
Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa di Desa Tambi, jumlah tenaga kerja yang mengenyam pendidikan minimal SMP cukup besar yaitu 1.352 orang
orang. Jumlah tersebut menjadi peluang bagi Wisata Agro Tambi apabila ingin merekrut tenaga kerja baru baik sebagai karyawan tetap maupun sebagai karyawan lepas.
6.2.2.3 Tren Wisata
Faktor perubahan sosial dan budaya lain adalah perubahan pola konsumsi wisatawan yang ada saat ini. Pola konsumsi wisatawan mulai bergeser dari wisata konvensional berbentuk industri skala besar berubah ke produk wisata back to nature yang lebih bersifat natural, otentik, dan eksotik. Tren back to
nature menggambarkan bahwa saat ini terdapat kecenderungan berkembangnya
gaya hidup dan kesadaran baru akan penghargaan yang lebih tinggi terhadap lingkungan.
Wisata alam atau yang lebih dikenal dengan ekowisata memiliki prinsip yang membedakannya dengan wisata jenis lain. Prinsip tersebut diantaranya fokus pada wilayah yang masih alami yang memungkinkan wisatawan untuk menikmati alam secara langsung, menyediakan jasa pendidikan yang memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk menikmati alam sehingga mereka menjadi lebih mengerti, lebih mampu berapresiasi, serta lebih menikmati kegiatan yang dilakukan, memberikan kontribusi terhadap konservasi alam dan warisan budaya, memberikan kontribusi secara berkelanjutan kepada masyarakat lokal, menghormati dan peka terhadap nilai-nilai budaya yang ada, secara konsisten memenuhi harapan konsumen dan dipasarkan serta dipromosikan dengan jujur serta akurat sehingga kenyataannya sesuai dengan harapan.10
Tren wisata lain yang juga berkembang saat ini adalah wisata rombongan baik dari sekolah, perguruan tinggi, kantor maupun instansi. Organisasi tersebut pada umumnya memiliki agenda tahunan atau tengah tahun untuk melakukan rekreasi dengan berbagai macam tujuan. Tujuan yang paling umum digunakan adalah untuk mengadakan pertemuan, studi lapang atau hanya sekedar untuk melakukan rekreasi.
Perubahan pola wisata masyarakat tersebut tentunya menjadi peluang yang besar bagi Wisata Agro Tambi yang mengunggulkan daya tarik alam
10
Melibatkan Masyarakat Lokal Dalam Ekowisata. http://www.cybertokoh.com /index.php?option=comcontent&task=view&id=624&Itemid=97. [24 april 2012]
terutama terkait dengan teh. Wisata Agro Tambi juga memberikan pemahaman kepada pegunjung mengenai sistem agribisnis teh mulai dari budidaya hingga pemasaran yang dapat dinikmati konsumen yang datang secara berombongan minimal sepuluh orang. Institusi yang secara berkala melakukan kunjungan ke Wisata Agro Tambi adalah sekolah, BUMN dan BUMD.
6.2.2.4 Sikap Masyarakat
Keberadaan Wisata Agro Tambi dianggap menguntungkan bagi masyarakat karena turut meningkatkan taraf hidup melalui pemberdayaan masyarakat dan munculnya usaha-usaha kecil di sekitar wilayah agrowisata. Timbal balik yang diberikan masyarakat adalah dengan memberikan dukungannya terhadap adanya Wisata Agro Tambi dan kepada pengunjung yang datang. Dukungan masyarakat dapat dilihat dari adanya lingkungan yang aman, sikap masyarakat yang ramah dan juga terbuka. Hal-hal tersebut menjadi peluang bagi Wisata Agro Tambi karena dapat meningkatkan kenyamanan dan kepuasan pengunjung.
6.2.2.5 Pemandangan Alam yang Indah, Berhawa Sejuk dan Masih Asri Wisata Agro Tambi terletak di lereng Gunung Sindoro dengan hamparan perkebunan teh menampilkan pemandangan alam yang sangat indah, suhu udara 15-240C di ketinggian 2000 di atas permukaan laut menghasilkan hawa khas pegunungan yang sejuk. Selain itu lokasi Wisata Agro Tambi juga berjarak cukup jauh dari jalan raya yaitu sekitar 800 meter, lokasi ini membuat suasana Wisata Agro Tambi mejadi semakin nyaman karena tidak terganggu oleh kebisingan lalu lintas jalan raya.
6.2.2.6 Infrastruktur/Akses
Akses ke Wisata Agro Tambi cukup mudah dengan didukung oleh jalanan yang sudah beraspal halus. Jarak antara lokasi Wisata Agro Tambi dengan pusat pemerintahan kabupaten Wonosobo adalah sekitar 16 kilometer dan dapat ditempuh selama 20 menit dengan menggunakan kendaraan pribadi. Jika menggunakan kendaraan umum, kendaraan yang dapat digunakan adalah bus jurusan Wonosobo-Dieng sampai ke Desa Tambi kemudian dilanjutkan dengan alat transportasi ojek ataupun berjalan kaki sejauh 800 meter (Lampiran 2).
Ojek yang tersedia untuk mengantar pengunjung ke tempat tujuan cukup banyak, yaitu berjumlah 25 buah dengan dua pangkalan yaitu di gerbang masuk Desa Tambi dan di sebelah Wisata Agro Tambi. Keadaan jalan dan akses yang mudah ini menjadi peluang bagi pengembangan Wisata Agro Tambi karena dapat mempermudah wisatawan yang ingin berkunjung.
6.2.2.7 Curah Hujan
Bagi Wisata Agro Tambi yang sebagian besar kegiatan wisatanya berada di alam terbuka, faktor cuaca seperti hujan turut berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan. Curah hujan yang tinggi di wilayah Wonosobo yaitu rata-rata mencapai 4088 milimeter per tahun11, berpengaruh negatif atau menjadi ancaman bagi kelangsungan usaha Wisata Agro Tambi. Hujan pada umumnya mempengaruhi aktivitas di luar ruangan seperti plantation tour dan outbond. Ketika hujan turun, apabila memungkinkan paket wisata plantation tour dan
outbound dipindahkan ke waktu lain, namun apabila tidak memungkinkan, kedua
kegiatan tersebut terpaksa dibatalkan. Menurut Bapak Puji selaku Kasi Umum dan
Tour Guide, hujan cukup sering mengganggu aktivitas outdoor di Wisata Agro
Tambi.
6.2.2.8 Penyebaran Penyakit Cacar Daun Teh
Faktor lingkungan lain yang berpengaruh terhadap Wisata Agro Tambi adalah penyebaran penyakit cacar daun yang menyerang teh. Cacar daun teh merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Exobasidium vexans. Peningkatan serangan bakteri Exobasidium vexans sendiri disebabkan karena penurunan kadar bahan organik tanah akibat kurangnya konservasi lahan, penurunan keanekaragaman hayati, serta masih terbatasnya klon teh yang tahan terhadap serangan penyakit ini. Faktor eksternal seperti perubahan iklim, cuaca, dan lingkungan juga turut menjadi penyebab meningkatnya serangan penyakit cacar daun teh. Umumnya serangan penyakit cacar daun teh terjadi pada pucuk peko (pucuk daun teh), daun pertama, kedua dan ketiga. Gejala awal terlihat bintik-bintik kecil tembus cahaya, kemudian bercak melebar dengan pusat tidak berwarna dibatasi dari cincin berwarna hijau, lebih hijau dari sekelilingnya dan
11
Kecamatan Garung.http://www.wonosobokab.go.id/wonosobo/index.php?option=com _content&view=article&id=12&Itemid=86[24 april 2012]
menonjol ke bawah, kemudian berubah warna menjadi putih yang mengandung spora dan akhirnya pusat berwarna coklat tua, mati dan menjadi lubang12
Penyebaran penyakit teh yaitu cacar daun teh yang seringkali menyerang saat pergantian musim, menjadi ancaman bagi wisata agro Tambi, hal ini dikarenakan pemandangan alam di wilayah kebun teh menjadi tidak sedap dipandang dan mengurangi minat pengunjung untuk menelusuri tea walk. Sebanyak 21,18 persen dari jumlah total tanaman teh PT Tambi terinfeksi oleh penyakit cacar daun teh pada saat pergantian musim (Primanita 2010). Penyakit cacar daun teh ini juga berakibat pada penurunan produktivitas dan mutu hasil pengolahan teh.
6.2.2.9 Terjadinya Bencana dan Gangguan Alam
Terjadinya bencana dan gangguan alam menjadi ancaman karena hal ini berpengaruh signifikan terhadap penurunan jumlah pengunjung wisata Agro Tambi. Isu yang berkembang pada saat itu diantaranya adalah perubahan status Dataran Tinggi Dieng dan Gunung Sindoro menjadi waspada pada tahun 2011. Adanya isu ini mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan karena terkait pada kekhawatiran calon pengunjung akan adanya imbas bencana terhadap diri mereka. Penurunan jumlah wisatawan ini dapat dibuktikan melalui data historis pengunjung tahun 2011 yang mengalami penurunan sebesar 6,78 persen dari tahun sebelumnya, data mengenai jumlah kunjungan tahun 2010-2011 dapat dilihat pada Tabel 12.
12
Penyakit cacar daun teh mengenal gejala, kerusakan dan cara pengendaliannya. http://ditjenbun.deptan.go.id/perlindungan/index.php?option=com_content&view=article&id=149: penyakit-cacar-daun-teh-mengenal-gejala-kerusakan-dan-cara-pengendaliannya&catid=15:home.
Tabel 12. Jumlah dan Perubahan Kunjungan Wisata Agro Tambi Tahun 2010- 2011 No Bulan Jumlah kunjungan (orang) Perubahan (orang) Persentase (%) 2010 2011 1 Januari 841 865 24 2,85 2 Februari 642 560 -82 -12,77 3 Maret 374 533 159 42,51 4 April 720 967 247 34,31 5 Mei 1061 1690 629 59,28 6 Juni 1682 753 -929 -55,23 7 Juli 1113 1022 -91 -8,18 8 Agustus 309 112 -197 -63,75 9 September 810 637 -173 -21,36 10 Oktober 1076 790 -286 -26,58 11 Nopember 745 924 179 24,03 12 Desember 1243 1043 -200 -16,09
Rata-rata per bulan 884,7 824,7 -60 -3,41
Keseluruhan 10616 9896 -720 -6,78
Sumber: Data Historis Wisata Agro Tambi 2012 (diolah)
6.2.2.10 Pengelolaan Limbah/Sampah Wilayah Sekitar
Bagi Wisata Agro Tambi, pengelolaan limbah merupakan hal yang sangat penting karena menyangkut kebersihan dan keindahan lingkungan. Lingkungan yang bersih dan indah turut menjadi daya tarik bagi wisatawan yang akan datang berkunjung. Untuk menjaring masyarakat dan wisatawan, setiap objek wisata harus menjaga keunikan, kelestarian, dan keindahan alamnya. Dalam hal ini, sampah dan limbah yang dibiarkan begitu saja dapat menjadi ancaman yang serius bagi kelangsungan dan kelestarian kawasan wisata alam, sebaliknya apabila dikelola dengan baik, sampah dapat memiliki nilai potensial seperti penyedia lapangan pekerjaan, peningkatan kualitas dan estetika lingkungan, dan pemanfaatan lain sebagai bahan pembuatan kompos.
Di Wisata Agro Tambi, sampah dan limbah telah dikelola dengan cukup baik. Sampah yang berasal dari lingkungan wisata agro dibuang ke tempat pembuangan sampah khusus yang letaknya jauh dari kawasan Wisata Agro Tambi, masyarakat wilayah sekitar juga telah paham benar mengenai dampak negatif sampah sehingga mereka turut menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya. Sebagai lokasi wisata yang berdekatan dengan pabrik, limbah pabrik juga dapat berakibat negatif bagi Wisata Agro Tambi, karena itu, perusahaan
induk berupaya untuk memaksimalkan penanganan limbah sisa pengolahan teh. PT Tambi menerapkan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) dimana sanitasi dan kebersihan lingkungan menjadi perhatian utama perusahaan. Untuk limbah sisa pengolahan teh, PT Tambi membedakan penanganan untuk limbah dengan jenis berbeda, diantaranya limbah padat sisa pembakaran kayu bakar dibuang dan diletakkan di permukaan tanah di lingkungan produksi sedangkan limbah padat berupa debu pada winnower (alat ayak)diambil alih oleh perusahaan batik sebagai pewarna pakaian, untuk limbah cair berupa soda api sisa pembersihan alat, PT Tambi tidak langsung membuangnya ke sungai, melainkan dialirkan ke dalam bak berbentuk kotak dengan dasar tanah, sehingga soda api tersebut dapat terserap ke dalam tanah, limbah terakhir berupa asap sisa pelayuan dan pengeringan dibuang ke udara melalui cerobong asap yang dibangun lebih tinggi dibandingkan pabrik dan wilayah sekitarnya (Primanita 2010). Kepedulian lingkungan dan perusahaan akan pengelolaan sampah dan limbah ini menjadi peluang bagi pengembangan Wisata Agro Tambi.
6.2.2.11 Isu Ancaman Teroris di Indonesia
Salah satu ciri khas terorisme di Indonesia adalah tidak adanya pelaku yang mengklaim bahwa kegiatan tersebut merupakan tanggung jawab perorangan atau kelompok, sehingga terorisme harus diklaim sebagai musuh bersama yang bersifat global. Aksi terorisme ini dapat dengan mudah mengguncang pasar wisata dan menjadi faktor yang berpengaruh signifikan terhadap penurunan minat wisatawan untuk melakukan perjalanan ke negara destinasi wisata (Damanik & Weber 2006).
Salah satu aksi terorisme yang pernah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Wonosobo adalah aksi terorisme pada tahun 2006 dimana ditemukannya empat orang teroris di sebuah rumah kontrakan yang beralamat di Jalan Km.4 Desa Binangun, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, dua diantaraya berhasil ditangkap, sedangkan dua orang sisanya meninggal dalam baku tembak dengan petugas Detasemen Khusus 8813. Bagi Wisata Agro Tambi sendiri, aksi terorisme memiliki pengaruh yang cukup besar mengingat banyak
13
Mabes Polri: 2 Teroris Tewas di Wonosobo, 2 ditangkap http://news.detik.com/read/ 2006/04/29/124346/584784/10/mabes-polri-2-teroris-tewas-di-wonosobo-2-ditangkap [8 Mei
pengunjung Wisata Agro Tambi yang berasal dari mancanegara, aksi terorisme memunculkan perasaan was-was dan ketidakpercayaan masyarakat asing terhadap keamanan di Indonesia.