• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

5. Sosial Ekonomi dan Budaya

Berdasarkan informasi dari ketua RT setempat, Pulau Payung Besar mempunyai jumlah penduduk sebanyak 158 jiwa yang terdiri dari 45 kepala keluarga. Tingkat pendidikan penduduk terdiri dari tingkat SD sampai SMA. Matapencaharian penduduk sebagian besar adalah nelayan, adapula yang berusaha di bidang makanan yaitu membuat kripik sukun, krupuk ikan dan ikan asin. Untuk memperoleh tambahan, masyarakat mulai giat mengembangkan sektor wisata dengan memanfaatkan limpahan wisatawan yang berkunjung ke Pulau Tidung Besar. Dari aktifitas tersebut, masyarakat Pulau Payung Besar memperoleh penghasilan rata-rata 100 ribu perhari per kepala keluarga.

PPK mempunyai nilai ekonomi sumber daya yang tinggi. Hal ini dapat dihitung dari luasan sumber daya pulau kecil dikalikan dengan nilai ekonominya. Nilai ekonomi sumber daya Pulau Payung Besar dihitung berdasarkan NJOP atas tanah dan nilai ekonomi sumber daya alam yang ada. Berdasarkan DKI Jakarta (2015), NJOP tanah di pulau ini adalah Rp. 285.000 per meter persegi. Menurut Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (2012), luasan terumbu karang seluas 288.96 ha dan padang lamun seluas 317 ha, sehingga didapatkan total nilai ekonomi sumber daya di Pulau Payung Besar sebesar Rp. 750.117.000.000.

Berdasarkan luas areal dan peruntukan lahan pulau, potensi rasio areal pengembangan investasi di Pulau Payung Besar, lebih dari 70 persen dari luas areanya bisa dipergunakan untuk pengembangan investasi.

Keamanan dan kenyamanan merupakan jaminan investasi di suatu tempat. Salah satu faktor berkembangnya suatu masyarakat di pulau kecil dikarenakan terciptanya keamanan. Menurut informasi dari penduduk setempat, situasi pulau yang berpenduduk sangat mendukung apabila ada investasi. Hal ini ditunjukkan dengan jaminan keamanan yang diberikan oleh penduduk setempat. Sampai saat ini di Pulau Payung Besar belum pernah terjadi tindak kejahatan atau kerusuhan.

Kearifan lokal yang berupa warisan budaya merupakan salah satu potensi pulau yang bisa digunakan sebagai daya tarik investor. Diantara pulau-pulau kecil yang berpenduduk biasanya mempunyai warisan budaya yang berbeda antara pulau satu dengan yang lainnya. Warisan budaya mempunyai peran utama dalam menentukan identitas pulau terutama pada PPK yang telah cukup lama terisolasi akan menghasilkan bentuk budaya yang unik (Pungeti, 2012). Di Pulau Payung Besar terdapat bekas bangunan dan mercusuar peninggalan Belanda yang saat ini dimanfaatkan oleh Dinas Perhubungan sebagai alat bantu navigasi perhubungan laut, sehingga tidak bisa dijadikan obyek daya tarik pulau.

Hasil penilaian kriteria investasi berdasarkan sosial konomi dan budaya, Pulau Payung Besar mempunyai nilai 3.61. Tabel 13 menunjukkan hasil penilaian parameter dan indikator sosio economic and culture Pulau Payung Besar.

Tabel 13 Hasil penilaian parameter dan indikator sosio economic and culture (SI)

di Pulau Payung Besar.

No Parameter Bobot Indikator Skor x Skor Bobot 1 Nilai sejarah PPK 0.10 Tidak mempunyai

nilai strategis 1 0.10 2 Jumlah penduduk (jiwa) 0.09 Kurang dari 1 000 5 0.45 3 Kepadatan penduduk 0.10 Kurang dari 25 5 0.50

33 (orang/hektar)

4 Potensi rasio luas area untuk pengembangan investassi dengan luas pulau (persen)

0.12 Lebih dari 70 persen 5 0.60

5 Potensi ekonomi local 0.10 Terdapat 2 – 3 sektor ekonomi berbasis sumberdaya local

3 0.30

6 Tingkat pendapatan penduduk pulau (USD per hari per KK)

0.08 Antara 8 hingga 10 4 0.32

7 Nilai ekonomi sumber daya PPK

0.10 Nilai total ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan (SDAL) PPK lebih dari Rp. 5 milyar

5 0.50

8 Keamanan PPK 0.12 Keamanan terjamin yang ditunjukkan dengan tidak ada tindak kejahatan dan atau kerusuhan

5 0.60

9 Budaya dan adat istiadat 0.07 Tidak ada kearifan local 1 0.07 10 Persentase tingkat pendidikan 0.07 Kurang dari 20 persen penduduk berpendidikan 1 0.07

11 Jumlah tipe situs bersejarah dan atraksi budaya

0.05 1 tipe, kurang baik 2 0.10

Total 3.61

Modifikasi dari : Adrianto et al. (2011)

Pulau Tidung Kecil 1. Gambaran Umum

Pulau Tidung Kecil sangat dekat dengan Pulau Tidung Besar dan dihubungkan dengan jembatan diantara keduanya. Secara administratif, pulau ini terletak di Kelurahan Pulau Tidung, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, dengan titik koordinat 5o 48’ 11” LS dan 106o 31’ 24” BT. Pulau Tidung Kecil tidak berpenduduk tetapi menopang kegiatan pariwisata di Pulau Tidung Besar. Status kepemilikan pulau merupakan milik pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan peruntukannya diserahkan kepada Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta, Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, dan Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Pulau ini memiliki pantai pasir putih dengan vegetasi pulau antara lain kelapa, cemara laut, kepatang, sukun, dan mangga. Saat

34

ini pemanfaatan pulau digunakan sebagai pusat bibit oleh Dinas Pertanian dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta.

2. Potensi Sumber Daya dan Strategi Geografis

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2012, Pulau Tidung Kecil mempunyai luas 0.188 km2. Pulau ini tergolong dalam pulau yang datar, dari pengamatan dilapangan diketahui ketinggian pulau 1.7 mdpl. Berdasarkan informasi dari Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, Pulau Tidung Kecil setiap tahun dilanda angin puting beliung sehingga mengakibatkan pulau ini mempunyai tingkat kerentanan yang tinggi.

Posisi Pulau Tidung Kecil terletak di sebelah utara Jakarta atau Pulau Jawa yang merupakan daratan besar dengan jarak 12.43 mill laut. Tidak ada aksesibilitas yang langsung menuju pulau ini, sehingga menyebabkan pulau Tidung Kecil tidak berkembang. Tingginya aksesibilitas suatu daerah dapat menjadi potensi untuk pengembangaan wilayah (Flamin dan Asnaryati, 2013). Pulau Tidung Kecil dapat dicapai dengan menggunakan kapal yang menuju Pulau Tidung Besar dan dilanjutkan dengan menyewa perahu maupun berjalan kaki menyeberang jembatan yang menghubungkan antara Pulau Tidung Kecil dan Pulau Tidung Besar. Biaya perjalanan menuju Pulau Tidung Besar dengan menggunakan kapal regular sebesar Rp. 55.000,- bila ditempuh dari pelabuhan Kali Adem, dan Rp. 40 000,- bila ditempuh dari pelabuhan Muara Angke. Apabila ingin menggunakan jalur laut, dapat menyewa speed boat dari Pulau Tidung Besar dengan harga Rp. 100 000,-.

Pusat administrasi pemerintahan berada di Pulau Pramuka dengan jarak dari Pulau Tidung Kecil sejauh 6.05 mill laut. Berdasarkan informasi dari masyarakat, aktifitas ekonomi masyarakat sekitar banyak dilakukan di pelabuhan Rawa Saban Kabupaten Tangerang. Jarak antara Pelabuhan Rawa Saban dengan Pulau Tidung Kecil menurut analisa peta Alos tahun 2010 adalah 13.87 mill laut.

Pulau Tidung Kecil merupakan pulau datar yang tidak mempunyai teluk. Jenis substrat pantai dari pulau tersebut adalah pantai berpasir dengan slope datar yang luas dan kemiringan pantai kurang dari 10o. Pulau Tidung Kecil merupakan pulau tidak berpenduduk yang dijadikan sebagai pusat bibit oleh Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta. Kondisi lahan pulau ditumbuhi pohon sukun, cemara laut, kelapa, mangrove, mangga, dan semak belukar yang tinggi. Pulau ini mempunyai cadangan penyimpanan air tawar yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pulau tersebut. Keberadaan air di suatu pulau sangat penting karena keberadaan air menjadi pertimbangan utama, dengan demikian air mempunyai implikasi yang signifikan bagi pembangunan manusia di masa depan (Tortajada dan Joshi, 2013).

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Pertanian provinsi DKI Jakarta tahun 2013, perairan Pulau Tidung Kecil mempunyai tingkat kecerahan sebesar 6.58 meter dengan kecepatan arus mencapai 9 cm/dtk. Potensi terumbu karang di pulau ini mempunyai lebar hamparan mencapai 497.02 meter dengan keragaman jenis

lifeform mencapai 11 jenis.

Pemanfaatan Pulau Tidung Kecil mengacu pada Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No. 1 Tahun 2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi (RDTRPZ). Hasil analisis terhadap peta RDTR didapatkan bahwa di Pulau Tidung Kecil tidak ada pembagian zonasi pemanfaatan, karena menurut perda tersebut seluruh luasan pulau diperuntukkan

35 untuk zona perdagangan dan jasa. Dengan masuknya Pulau Tidung Kecil dalam Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi (RDTRPZ), akan memberikan kepastian dalam pengembangannya ke depan. Hal ini juga dinyatakan oleh Dehoorne dan Tatar (2013), bahwa kepastian ruang sangat penting dalam memastikan keberhasilan kebijakan ekowisata.

Hasil penilaian kriteria investasi berdasarkan sumber daya alam dan strategi geografi, Pulau Tidung Kecil mempunyai nilai masing-masing 2.96 untuk ketersediaan jasa lingkungan, 3.28 untuk ketersediaan sumberdaya hayati dan 2.79 untuk ketersediaan sumberdaya non hayati yang disajikan pada Tabel 14, 15 dan 16.

Tabel 14 Hasil penilaian investasi berbasis ketersediaan jasa lingkungan di Pulau Tidung Kecil.

No Parameter

Bobot Indikator Skor x Skor Bobot 1 Luas daratan pulau kecil

(km2) 0.03 0,1 – 1 2 0.06 2 Ketinggian pulau kecil

(mdpl)

0.02 <2 1 0.02 3 Tingkat kerentanan pulau

kecil (frekuensi bencana)

0.05 Agak tinggi (Tiap tahun terjadi)

3 0.15 4 Posisi pulau 0.01 12 – 20 mill laut 3 0.03 5 Jarak ke pusat aktifitas

ekonomi 0.03 12 – 20 mill laut 3 0.09 6 Jarak ke administrasi pemerintahan (kabupaten) 0.02 4 – 12 mill laut 4 0.08 7 Kemudahan mencapai PPK 0.05 Cukup mudah (carteran 1 jam) 3 0.15 8 Moda transportasi 0.05 Perahu

Carteran/Nelayan 1 0.05 9 Kondisi moda tranportasi 0.04 Buruk (tidak ada

pelengkapan safety)

1 0.04 10 Waktu tempuh rata-rata 0.03 2 – 6 jam 4 0.12 11 Tingkat ketersediaan

transportasi

0.04 Sangat terbatas (carter dari lokasi lain)

1 0.04

12 Frekuensi perjalanan 0.04 <1 kali per minggu 1 0.04 13 Biaya transportasi 0.02 Standard (Rp.

50 000,- s/d Rp. 200 000,-/ trip)

3 0.06

14 Ketersediaan sumber air tawar

0.05 Tersedia sepanjang tahun, hanya cukup untuk kebutuhan penduduk pulau

4 0.20

15 Jenis substrat pantai 0.05 Pantai berpasir sangat baik

5 0.25 16 Tipologi pantai 0.05 Memiliki slope

datar (flat) yang

36

luas 17 Kondisi ekosistem

(tutupan karang hidup (%)

0.07 >40-60 3 0.21 18 Lebar hamparan datar

karang (m)

0.07 300-500 4 0.28 19 Struktur fisik pulau 0.03 Tidak memiliki

teluk 1 0.03

20 Biota unik sebagai obyek pemanfaatan

0.05 1 spesies 1 0.05 21 Jumlah lokasi

pemanfaatan 0.05 2 pulau – 4 lokasi di satu 3 0.15 22 Daya dukung lokasi

pemanfaatan PPK

0.05 Baik ( air tawar banyak)

5 0.25 23 Lebar pantai (m) 0.07 5-<10 3 0.21 24 Kemiringan pantai 0.03 <10 5 0.15

Total 2.96

Modifikasi dari : Yulianda (2007); Adrianto et al. (2011)

Tabel 15 Hasil penilaian investasi berbasis ketersediaan sumber daya hayati di Pulau Tidung Kecil.

No Parameter Bobot Indikator Skor Bobot x Skor 1 Luas daratan pulau kecil

(km2) 0.03 0,1 – 1 2 0.06 2 Ketinggian pulau kecil

(mdpl)

0.02 <2 1 0.02 3 Tingkat kerentanan pulau

kecil (frekuensi bencana)

0.04 Agak tinggi (Tiap tahun terjadi)

3 0.12 4 Jarak ke pusat aktifitas

ekonomi 0.04 12 – 20 mill laut 3 0.12 5 Jarak ke administrasi

pemerintahan (kabupaten)

0.04 4 – 12 mill laut 4 0.16 6 Kemudahan mencapai

PPK 0.05 Cukup mudah (carteran 1 jam) 3 0.15 7 Moda transportasi 0.04 Perahu

Carteran/Nelayan

1 0.04 8 Kondisi moda tranportasi 0.04 Buruk (tidak ada

pelengkapan safety)

1 0.04 9 Waktu tempuh rata-rata 0.05 2 – 6 jam 4 0.20 10 Tingkat ketersediaan

transportasi

0.04 Sangat terbatas (carter dari lokasi lain)

1 0.04

11 Biaya transportasi 0.05 Standard (Rp. 50 000,- s/d Rp. 200 000,-/ trip)

3 0.15

12 Ketersediaan air tawar

37 untuk kebutuhan

penduduk pulau 13 Potensi dan jenis

pemanfaatan 0.06 2 jenis/kurang baik 2 0.12 14 Kecerahan perairan (%) 0.06 60 – 80 Baik 4 0.24 15 Luas Areal pemanfaatan 0.06 10 – 50 ha 4 0.24 16 Keterlindungan lokasi

pemanfaatan

0.06 Terlindung 1 pada waktu musim saja

3 0.18 17 Tingkat sensitivitas lokasi

terhadap pencemaran dari luar 0.06 Tidak sensitive (pantai berpasir) 5 0.30 18 Kondisi oseanografi (kecepatan arus (cm/dt)) 0.06 Sangat baik (0 – 15) 5 0.30 19 Penutupan lahan pulau 0.05 Belukar tinggi 3 0.15 20 Kedalaman terumbu

karang (m)

0.05 <10 5 0.25 21 Jenis lifeform 0.05 10-11 4 0.20

Total 3.28

Modifikasi dari : Yulianda (2007); Adrianto et al. (2011)

Tabel 16 Hasil penilaian investasi berbasis ketersediaan sumber daya non hayati di Pulau Tidung Kecil.

No Parameter Bobot Indikator Skor Bobot x Skor 1 Luas daratan pulau kecil

(km2) 0.07 0,1 – 1 2 0.14

2 Ketinggian pulau kecil (mdpl)

0.07 <2 1 0.07 3 Tingkat kerentanan pulau

kecil (frekuensi bencana)

0.07 Agak tinggi (Tiap tahun terjadi)

3 0.21 4 Jarak ke pusat aktifitas

ekonomi 0.05 12 – 20 mill laut 3 0.15 5 Jarak ke administrasi pemerintahan (kabupaten) 0.05 4 12 mill laut 4 0.20 6 Kemudahan mencapai

PPK 0.05 Cukup mudah (carteran 1 jam) 3 0.15 7 Moda transportasi 0.05 Perahu

Carteran/Nelayan

1 0.05 8 Kondisi moda tranportasi 0.04 Buruk (tidak ada

pelengkapan safety)

1 0.04 9 Waktu tempuh rata-rata 0.04 2 – 6 jam 4 0.16 10 Tingkat ketersediaan

transportasi 0.05 Sangat terbatas (carter dari lokasi lain)

1 0.05

11 Biaya transportasi 0.05 Standard (Rp. 50 000,- s/d Rp. 200 000,-/ trip)

38

12 Ketersediaan air tawar (tingkat kecukupan)

0.06 Tersedia sepanjang tahun, hanya cukup untuk kebutuhan penduduk pulau

2 0.12

13 Potensi dan jenis pemanfaatan

0.05 2 jenis/kurang baik 2 0.10 14 Kecerahan perairan (%) 0.06 60 80 Baik 4 0.24 15 Luas areal pemanfaatan 0.06 10 50 ha 4 0.24 16 Keterlindungan lokasi

pemanfaatan

0.06 Terlindung 1 pada waktu musim saja

3 0.18 17 Tingkat sensitivitas lokasi

terhadap pencemaran dari luar 0.03 Tidak sensitif (pantai berpasir) 5 0.15 18 Kondisi oseanografi (kecepatan arus (cm/dt)) 0.06 Sangat baik (0 15) 5 0.30 19 Penutupan lahan pulau 0.03 Belukar tinggi 3 0.09

Total 2.79

Modifikasi dari : Yulianda (2007); Adrianto et al. (2011)

3. Tata Kelola Pemerintah

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No. 1 Tahun 2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi (RDTRPZ), Pulau Tidung Kecil termasuk dalam zona perkantoran, perdagangan dan jasa. Status kepemilikan pulau merupakan aset pemerintah daerah, sehingga kewenangan pengelolaannya berada ditangan pemerintah daerah provinsi DKI Jakarta.

Aturan-aturan dan insentif dapat memberikan pengaruh penting terhadap investasi pulau kecil. Hal ini berkaitan dengan berbagai aturan tentang penggunaan lahan, ijin mendirikan bangunan dan sebagainya (Umardiono, 2011). Sistem perijinan investasi dalam pengelolaan pulau dilaksanakan oleh pemerintah daerah provinsi DKI Jakarta secara terpusat sesuai dengan Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah, Nomor 12 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, UU no. 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, dan Perda Provinsi DKI Jakarta no. 3 tahun 2012 tentang Retribusi Daerah. Dalam memberi kenyamanan pada investor, pemerintah daerah memberikan insentif berupa keringanan retribusi dan penangguhan penarikan retribusi pada investor sesuai aturan yang berlaku.

Penilaian kriteria investasi berdasarkan tata kelola pemerintahan, Pulau Tidung Kecil mempunyai nilai indek yang cukup tinggi, yaitu 4.2. Hal ini disebabkan status lahan pulau yang sudah jelas yaitu merupakan aset pemerintah sehingga akan mempermudah proses investasi. Tabel 17 menunjukkan hasil penilaian parameter dan indikator governance index di Pulau Tidung Kecil.

39 Tabel 17 Hasil penilaian parameter dan indikator governance index (GI) di Pulau

Tidung Kecil.

No Parameter Bobot Indikator Skor x Skor Bobot 1 Perijinan 0.21 Jika system

perizinan terpusat dan peruntukannya tersentral dan terintegrasi 5 1.05 2 Peruntukan PPK dalam

RTRW 0.17 Jika peruntukan PPK untuk kawasan budidaya dan terdapat dalam RTRWN atau RTRWP atau RTRWK 5 0.85 3 Kewenangan pengelolaan

PPK 0.19 Jika status kewenangan pengelolaan berada pada pemerintah provinsi atau kabupaten atau badan otorita 3 0.57

4 Sistem insentif dan

disinsentif investasi di PPK 0.21 Jika hanya terdapat system insentif dan disinsentif pada tingkat pemerintah daerah saja

3 0.63

5 Kepemilikan lahan atau tanah di PPK

0.22 Jika lahan atau tanah di PPK berstatus dan dikuasai oleh pemerintah atau pemerintah daerah 5 1.10 Total 4.20

Modifikasi dari : Adrianto et al (2011)

4. Infrastruktur

Berdasarkan hasil observasi di lapangan, di Pulau Tidung Kecil terdapat jalan yang terbuat dari paving blok dan dermaga yang dibangun oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta. Untuk keperluan listrik di pulau, pemerintah DKI Jakarta sudah membangun sarana listrik dari daratan (mainland) melalui jaringan kabel

bawah laut. Hal ini membuat kebutuhan listrik di pulau ini terpenuhi selama 24 jam.

Pulau Tidung Kecil mempunyai cadangan air bersih yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pulau. Sebagai upaya dalam memenuhi kebutuhan air bersih, di pulau ini telah dibangun pompa air dan jaringan air yang ditempatkan

40

pada tandon dan lokasinya tersebar di beberapa titik untuk keperluan penyiraman bibit-bibit tanaman.

Saat ini sarana komunikasi merupakan hal pokok bagi setiap orang. Melalui berbagai teknologi telekomunikasi dan sarana virtual, pulau-pulau kecil di seluruh dunia bisa terhubung secara langsung (Bjarnason, 2010). Pulau Tidung Kecil belum terdapat sarana komunikasi tetapi sinyal HP sudah bisa mencapai bagian pulau. Sinyal HP berasal dari menara relay yang dibangun di Pulau Tidung Besar. Pulau Tidung Kecil mempunyai ruang pertemuan yang dibangun oleh Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta sebagai sarana untuk kegiatan- kegiatan kedinasan.

Hasil penilaian kriteria investasi berdasarkan infrastruktur, Pulau Tidung Kecil mempunyai nilai indeks 3.22. Tabel 18 menunjukkan hasil penilaian parameter dan indikator infrastruktur index di Pulau Tidung Kecil.

Tabel 18 Hasil penilaian parameter dan indikator infrastruktur index (II) di Pulau

Tidung Kecil.

No Parameter Bobot Indikator Skor Bobot x Skor 1 Jenis jalan 0.06 Jalan propinsi 4 0.24 2 Kualitas jalan 0.14 Jalan beraspal 5 0.70 3 Ketersediaan sarana air

bersih

0.16 Jika ada sumber air tawar yang berasal dari air tanah atau sungai serta sudah ada sarana air bersihnya

5 0.80

4 Ketersediaan listrik 0.17 Jika listrik tersedia dari salah satu jenis energi dan berasal dari luar PPK itu sendiri dan mencukupi untuk pengembangan kegiatan ekonomi

3 0.51

5 Pelabuhan/dermaga/jetty 0.14 Jika hanya ada salah satu pelabuhan laut atau udara serta terletak di PPK

2 0.28

6 Sarana komunikasi 0.14 Jika tidak tersedia sarana komunikasi baik kabel, nirkabel dan satelit

1 0.14

7 Kelengkapan fasilitas umum dan fasilitas sosial di PPK dan atau pulau

sekitarnya

0.09 Jika fasum dan fasos tersedia dengan sangat baik di PPK dan atau di pulau sekitarnya dan tertata

41 dengan baik serta

memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan pendatang 8 Ketersediaan sarana

penyediaa BBM di PPK dan atau pulau sekitarnya

0.10 Jika sarana penyedia BBM tidak tersedia di pulau sekitarnya

1 0.10

Total 3.22

Modifikasi dari : Adrianto et al. (2011)

5. Sosial Ekonomi dan Budaya

Pulau Tidung Kecil merupakan pulau yang tidak berpenduduk. Pulau ini sering dimanfaatkan oleh wisatawan dari Pulau Tidung Besar untuk berekreasi. Walaupun tidak berpenduduk, pulau ini mempunyai berbagai sumber daya alam sebagai aset pengembangan ekowisata, diantaranya adalah pantai pasir putih, terumbu karang dan mangrove. Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan ekowisata adalah sumber daya rekreasi atau potensi wisata yang dimiliki (Umardiono, 2011). Nilai ekonomi sumber daya Pulau Tidung Kecil dihitung berdasarkan NJOP atas tanah dan nilai ekonomi sumber daya alam yang ada. Berdasarkan DKI Jakarta (2015), NJOP tanah di pulau ini adalah Rp. 285. 000 per meter persegi. Menurut Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (2012), luasan mangrove di Pulau Tidung Kecil sebesar 0.16 ha, terumbu karang seluas 289.79 ha, dan padang lamun seluas 464.24 ha, sehingga didapatkan total nilai ekonomi sumber daya di Pulau Tidung Kecil sebesar Rp. 877 361 957 279.60.

Berdasarkan luas areal dan peruntukan lahan pulau yang ada, potensi rasio areal pengembangan investasi di Pulau Tidung Kecil adalah 100 persen dari seluruh luas area pulau bisa dipergunakan untuk pengembangan investasi. Sebagai pulau yang tidak berpenduduk, keamanan di pulau ini belum sepenuhnya terjamin. Hal ini terbukti dengan adanya keterangan dari Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, bahwa di pulau ini sering terjadi tindak pencurian terhadap aset-aset pemerintah.

Hasil penilaian kriteria investasi berdasarkan kondisi sosial ekonomi dan budaya, Pulau Tidung Kecil mempunyai nilai 2.64. Tabel 19 menunjukkan hasil penilaian parameter dan indikator sosio economic and culture di Pulau Tadung

Kecil.

Tabel 19 Hasil penilaian parameter dan indikator sosio economic and culture (SI)

di Pulau Tidung Kecil.

No Parameter Bobot Indikator Skor x Skor Bobot 1 Nilai sejarah PPK 0.10 Tidak mempunyai

nilai strategis

1 0.10 2 Jumlah penduduk (jiwa) 0.09 Kurang dari 1.000 5 0.45 3 Kepadatan penduduk

(orang/hektar)

0.10 Kurang dari 25 5 0.50 4 Potensi rasio luas area

untuk pengembangan

42

investassi dengan luas pulau (persen)

5 Potensi ekonomi local 0.10 Kurang dari 2 sektor ekonomi berbasis sumberdayaan lokal

1 0.10

6 Tingkat pendapatan penduduk pulau (USD per hari per KK)

0.08 Kurang dari 2 1 0.08

7 Nilai ekonomi sumber daya PPK

0.10 Nilai total ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan (SDAL) PPK lebih dari Rp. 5 milyar

5 0.50

8 Keamanan PPK 0.12 Keamanan tidak terjamin, karena banyak terjadi tindak kejahatan dan atau kerusuhan dan penanganannya kurang optimal (lebih dari 1 kali kejadian)

1 0.12

9 Budaya dan adat istiadat 0.07 Tidak ada kearifan local 1 0.07 10 Persentase tingkat pendidikan 0.07 Kurang dari 20 persen penduduk berpendidikan 1 0.07

11 Jumlah tipe situs bersejarah dan atraksi budaya

0.05 Na (tidak ada) sangat

kurang baik 1 0.05

Total 2.64

Modifikasi dari : Adrianto et al. (2011)

Pulau Kecil Bernilai Tinggi

Penilaian terhadap pulau kecil menggambarkan kelayakan pulau kecil untuk dikembangkan investasi ekowisata. Penilaian ini mengandung beberapa faktor yang sangat dominan dalam mempengaruhi masuknya investor. Faktor tersebut terdiri dari faktor sumber daya alam, baik jasa lingkungan, sumber daya hayati maupun non hayati, faktor tata kelola pemerintahan, faktor kualitas infrastruktur, dan faktor sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Keempat faktor tersebut merupakan faktor yang sangat dominan dalam mempengaruhi investasi di pulau kecil. Menurut Umardiono (2011), ada tujuh faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan sumberdaya wisata, yaitu (1) iklim, (2) kondisi fisik, (3) atraksi, (4) aksesbilitas, (5) tata guna dan kepemilikan lahan, (6) aturan-aturan dan insentif, dan (7) pertimbangan lain. Sedangkan berdasarkan Yustika (2008),

43 faktor yang dapat mempengaruhi investasi yang dijadikan bahan pertimbangan investor dalam menanamkan modalnya, antara lain: faktor sumberdaya alam, faktor sumberdaya manusia, stabilitas politik dan perekonomian, faktor kebijakan pemerintah dan faktor kemudahan perijinan. Purwanti (2010), menyatakan bahwa faktor yang dapat digunakan untuk mencapai sasaran dalam pemilihan lokasi untuk pengembangan ekowisata antara lain adalah potensi SDA, SDM, sarana prasarana, modal dan kebijakan pemerintah. Kekurangan salah satu faktor dapat menyebabkan kurangnya minat investor dan bahkan dapat menghambat masuknya investor ke pulau-pulau kecil.

Penilaian dilakukan dengan menghitung indeks masing-masing faktor. Ada 4 indeks dalam penentuan pulau kecil bernilai tinggi, yaitu natural resources and geostrategic island index (NI) , govermenance index (GI), infrastructure index (II), sosio economic and culture index(SI), dengan menggunakan formulasi Small Island Investmen Index (SIII) dari Adrianto et al (2011) yaitu:

SIII = α*NI + β * GI + φ*II + *SI

indeks pulau kecil bernilai tinggi dapat dihitung. Indeks pulau kecil ini yang akan memberikan status kesiapan sebuah pulau dalam menerima investasi.

Berdasarkan simulasi diatas diperoleh masing-masing indeks sebagai faktor penentu dalam menentukan Small Island Investmen Index (SIII). Tabel 20

menunjukkan hasil perhitungan indeks investasi pulau kecil dari Pulau Pari, Pulau Payung Besar dan Pulau Tidung Kecil.

Tabel 20 Hasil perhitungan small island investmen index (SIII) pada Pulau Pari,

Pulau Payung Besar dan Pulau Tidung Kecil.

No Nama Pulau NI GI II SI SIII 1 Pulau Pari 3.90 3.60 3.50 3.63 3.70 2 Pulau Tidung Kecil 3.01 4.20 3.22 2.64 3.69 3 Pulau Payung Besar 3.70 3.60 3.04 3.61 3.48 Keterangan :

SIII = Small Island Investment Index

NI = Natural resources and geostrategic island Index

GI = Governance Index

II = Infrastruktur Index

SI = Socio economic and culture Index

Berdasarkan Tabel 20, Pulau Pari, Pulau Tidung Kecil dan Pulau Payung Besar mempunyai kelas yang sama dengan kategori kesiapan dalam mendukung kegiatan investasi ekowisata yaitu kelas sedang. Kategori siap artinya ketiga pulau tersebut bisa dimasukkan k edalam urutan prioritas pulau yang siap investasi

Dokumen terkait