• Tidak ada hasil yang ditemukan

Srikandi- Srikandi Cyber

Dalam dokumen Deja Vu Nusantara-nico Andrianto (Halaman 197-200)

“Seorang ilmuwan muda lebih berharga daripada dua puluh politisi tua”

Journey 10: Jumat, 07:30-08:00 am, Perjalanan Manuka - Toadhall

16. Srikandi- Srikandi Cyber

Gedung tua bergaya gothic yang berdiri kokoh itu menunjukkan umur University of Melbourne tak lagi muda. Berpenampilan seperti gereja abad pertengahan, bangunan bernama Old Art Building itu masih dimanfaatkan sebagai ruang kuliah sampai sekarang. Umurnya setua gedung parkir bawah tanah mengerikan yang terletak di sisi lain Unimelb, dengan patung besar seorang ibu sedang memeluk anak-anaknya. Cankaya Khairunisa adalah salah satu dari anak-anak itu, karena ia sedang menuntut ilmu di kampus papan atas di negeri Kanguru. Ia mengambil jurusan e-commerce, sebuah jurusan yang menghubungkan kemajuan internet dengan pemasaran produk.

Bangunan Faculty of Business and Economics dilengkapi dengan peralatan canggih berbasis program komputer yang mampu menyemprotkan air pembunuh api saat ada suara seperti “Fire!” atau “Burning!”. Kenyataan itu bukanlah menunjukkan sifat paranoid, namun lebih menunjukkan kecanggihan universitas urutan atas di Australia ini dalam hal mitigasi dari kemungkinan bencana kebakaran. Kenyataan itu membawa pada sebuah kesimpulan, gedung Unimelb dirancang secara sangat artistik namun dengan tidak menelantarkan fungsinya. Tak mengherankan lembaga pendidikan tinggi dengan reputasi Internasional itu banyak mengundang mahasiswa dari seluruh dunia.

“Aku adalah seorang hacker, technopreneur”, batin Cankaya.  Canka berkeinginan kuat untuk menjadi pejuang cyber untuk membela bangsanya di bidang yang dikuasainya, teknologi informasi. Ia ingin mengembangkan bisnis berbasis online untuk menjual produk-produk Nusantara ke seluruh dunia. Melalui bantuan internet, produk-produk UKM Nusantara bisa bersaing “jengkol to jengkol” dengan produk dari seluruh penjuru dunia. Jarinya sedang menari-nari diatas keyboard komputer, menuliskan curahan hati tentang perjuangan yang ia dan kawan-kawannya sedang lakoni.

Gelombang tak kasat mata itu merambat melalui udara mengalirkan data dan informasi berbagai aktivitas manusia. Nirkabel dalam format wifi, GSM atau CDMA dengan modem dan penguat sinyal itu terus menyalurkan bahasa mesin internet yang rumit,

mempertemukan protokol dan menuju server-server membentuk jaringan world wide web. Di kantor, hotel, kafe, pondok pesantren, sekolah, universitas, warnet, rumah-rumah data itu membentuk jaringannya ke seluruh dunia seperti sarang laba-laba yang rumit sekaligus sulit untuk diputus. Kabel-kabel bawah laut, serat optik, gelombang telekomunikasi, kabel telepon telah menghubungkan manusia di pelosok dunia. Digitalisasi, internet, virtual reality, cyberspace, adalah perkembangan peradaban manusia yang tiada bandingannya sampai sejauh ini.

Belum ada penguasa tunggal di dunia internet, meskipun Negara Adidaya berupaya memata-matai komunikasi internet dan telepon di seluruh dunia melalui program PRISM seperti dibocorkan oleh bekas agen National Security Agency, Edward Snowden. Negara adidaya boleh mempunyai supercomputer dengan kekuatan operasi digital sekian terabyte per detik yang sanggup memecahkan password rumit dalam hitungan menit atau jam, namun sungguh tidak bisa memonopoli internet sendirian. Peperangan-peperangan pada dekade terakhir telah membuktikannya, dimana internet telah meruntuhkan sekat-sekat batas-batas negara bangsa. Kabar di salah satu ujung bumi akan diketahui di ujung lainnya dalam hitungan detik. Kekalahan AS di dunia maya oleh perlawanan pejuang Iraq dan Afghanistan, adalah sebuah fenomena baru dimana kekuatan adidaya kalah oleh gerilyawan dari negeri miskin, sehingga Amerika harus membentuk divisi khusus peperangan cyber.

Wikileaks dan Anonimous adalah kekuatan baru yang mampu membuka abuse of power yyang dilakukan oleh kekuatan negara dan menyerangnya baik secara digital atau membuka informasinya. Serangan cyber bisa mencuri data-data perusahaan besar atau bahkan badan-badan milik negara atau organisasi internasional. Jika peperangan cyber terjadi, mungkin jalannya peperangan akan berbeda, karena bisa saja arah rudal melenceng, pesawat jatuh tiba-tiba, garis komando militer terputus, mengacaukan sistem penerbangan, merusak industri strategis, atau menghentikan secara tiba-tiba sistem lalu lintas suatu negara. China dengan kekuatan cyber attack-nya saat ini sangat ditakuti negara-negara Barat. China juga memiliki kemampuan memutuskan sambungan internetnya saat mendapat serangan, sementara Amerika tidak bisa melakukannya.

Orang-orang Nusantara yang rendah diri sering mengolok-olok negerinya dengan joke seperti ini. Konon dalam sebuah pertemuan empat orang dari negeri yang berbeda, masing-masing membanggakan capaian teknologi

negerinya. Arkeolog Jepang menggali tanah lima meter, menemukan kabel tembaga dan berani menyimpulkan 40 tahun yang lalu mereka telah menggunakan telepon digital. Orang Amerika menggali 10 meter tanahnya menemukan kabel panjang dan menyimpulkan 100 tahun yang lalu mereka telah menggunakan telepon analog. Orang Inggris menggali kedalaman tanah 15 meter dan menemukan kabel tembaga yang kemudian menyimpulkan 150 tahun yang lalu mereka telah digunakan facsimile. Orang Nusantara menggali tanahnya sedalam 5, 10, 15, 20 sampai 100 meter tidak menemukan apapun lalu dengan malu-malu menyimpulkan bahwa 200 tahun yang lalu mereka telah menggunakan wifi nirkabel. 

Padahal Nusantara pernah melambung namanya bersama diluncurkannya satelit Palapa di tahun 1980-an. Saat ini telah dibangun Nusantara Ring, dimana pada tahun 2012 telah terdapat 55 juta orang pengguna internet di seluruh Nusantara. Di negara muslim demokrasi terbesar ini, setidaknya terdapat tiga jalur internet yang menghubungkannya dengan dunia luar. Sementara China yang hanya memiliki satu gateway, memungkinkan negara komunis itu menyensor semua konten internet di negaranya, baik media masa dan sosial media mereka.

Sebuah penelitian menunjukkan hubungan terjauh manusia hanya sampai enam level. Rata-rata hubungan antar manusia adalah lima level, dari anda sampai ke Barrack Obama. Anda akrab dengan bos anda dikantor, lalu bos anda kenal dengan direktur di kantor pusat yang ternyata kenal dengan presiden Nusantara, sahabat presiden Barrack Obama di Asia Tenggara. Konsep itulah yang diambil secara jenius oleh pendiri Facebook untuk membangun situs jejaring sosial paling populer di bumi saat ini. Facebook menjadi wadah berkumpulnya orang-orang di dunia maya, dengan berbagai aspirasi politik, kegemaran, profesi atau gerakan sosial yang sama. Jamaah al Fisbukiyyah memiliki anggota melebihi 900 juta orang, serta mampu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Warga “Negara Facebook” sedikit lebih kecil dibandingkan warga negara China atau India dimana 55 persen penduduk bumi telah mengetahui komunitas ini. Setiap minggu ada 3,5 juta konten dibagikan melalui Facebook. Sejak tahun 2006, setidaknya 17 persen pasangan menikah karena bertemu melalui social media, meskipun survei pula yang menyimpulkan 33% kasus perceraian di Inggris karena Facebook. Sementara orang-orang punya lapak-lapak di internet bebas menyampaikan gagasannya, terjadi proses konvergensi

pandangan dunia, ideologi, dan hoby secara global karena internet. Lihatlah peta dunia, baik dalam posisi utara diatas atau dibawah, akan kau dapati bahwa dunia ini ternyata sangatlah dekat.

Tak mengherankan, kekuatan sosial media bisa menjelma menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat. Gerakan “Cicak versus Buaya”, mampu menggagalkan kriminalisasi terhadap pimpinan KPK. Gerakan pengumpulan koin untuk Prita oleh ratusan ribu bahkan jutaan orang pengguna Facebook, tuts-tuts komputer yang tersambung internet bisa menekan kuasa tidak adil kekuatan kapitalisme besar. Maka sosial media menjelma kekuatan kelima setelah eksekutif, legislatif, yudikatif melengkapi pers dalam konsep trias politica. Arab spring di Tunisia, Mesir, Libya, dan Syria dengan memanfaatkan sosial media bahkan mampu menjatuhkan satu-per satu rezim-rezim yang di-back up oleh kekuatan raksasa, AS. Memang, bisa saja beberapa pihak menjadi provokator dengan memasang gerakan ini dan itu lewat Facebook, jika memang terdapat isu yang menjadi perhatian masyarakat.

Kicauan Tweeter saat ini telah mencapai 400 juta per hari. Kuliah Tweeter selalu dinanti para folower, seperti fatwa ulama klasik terhadap umatnya. Khotbah para “ayatollah tweeter” seperti pizza yang dihidangkan panas-panas yang siap disantap. Tapi tahukah kawan, mengikuti situs jejaring social berarti harus siap jika data milik kita dimanfaatkan. Apa haluan politikmu, apa ketertarikan sosialmu, apa karakteristik konsumerismemu, semua bisa diolah oleh pemilik Facebook untuk keuntungan ekonomi, politik, social dan keamanan. Kamu adalah yang kamu klik. Karena 20 juta pengguna Facebook di Nusantara saat ini hampir menyerupai populasi random sampling sebuah survey ilmiah. Tapi, hati-hatilah dengan informasi di akun Facebook-mu.

Di jaman teknologi informasi sekarang, informasi sudah tidak bisa dimonopoli. Pemborongan sebuah edisi majalah oleh mereka yang sakit hati, hanya akan membuang-buang uang, karena masih ada versi pdf atau digital yang bahkan bisa diunduh secara gratis. Ini adalah tentang sebuah revolusi informasi, dimana negara tidak lagi mampu menyensornya secara penuh. Jika sebuah alamat resmi internet diblokir, maka bisa dibuat alamat-alamat miror, yang bisa digandakan secara eksponensial oleh para hacktivist. Ini adalah senjakala era kekuasaan totalitarian, monopoli kuasaan berita, bahkan oleh kekuatan bermodal besar. Inilah sisi kebebasan yang memiliki nilai lebih jika dimanfaatkan secara positif, seperti Youtube yang bisa dimanfaatkan untuk menghantam kekuasaan culas yang korup lagi despotis.

Dalam dokumen Deja Vu Nusantara-nico Andrianto (Halaman 197-200)