(1225-1274)
1. Apakah pengaruh Aristoteles bagi etika St. Thomas Aquinas? Pertama-tama St. Thomas Aquinas merujuk banyak pada pemikiran Aristoteles. Ia meminjam struktur moralnya: kebahagiaan sebagai tujuan tertinggi, yang mana ini dicapai dengan melakukan apa yang seharusnya dilakukan dalam hidup. Karena itu, hidup ini seperti suatu medan kesempatan untuk diisi dengan karakter dan tindakan yang baik untuk mencapai tujuan tertingg. Di sini diakui bahwa tindakan-tindakan moral merupakan sarana bagi pencapaian tujuan. St. Thomas juga mengikuti organisasi keutamaan-keutamaan moral dari Aristoteles. Seperti Aristoteles etika St. Thomas juga berkenaan dengan tindakan manusia secara umum dalam arti bukan untuk memberikan nasihat konkret dan spesifik bagi orang-orang yang berhadapan dengan pengambilan keputusan-keputusan moral personal. Sebagaimana Aristoteles, etika St. Thomas berangkat dari tujuan akhir manusia yang pencapaiannya membuat hidup menjadi bermutu atau sempurna (etika finalitas). Akan tetapi, St. Thomas melihat bahwa Aristoteles tidak berhasil menentukan di mana terletak pemenuhan esensial manusia: apakah pada
theoria atau pada praxis. St. Thomas mengajukan Allah dan kesatuan dengan memandang-Nya (visio beatifica) sebagai
47
tujuan akhir manusia, yang mana ini dituju dan disasar oleh akal budi praktis (dan juga hukum moral kodrati). Pada ide tentang Allah sebagai tujuan terakhir dan yang meletakkan tujuan terakhir manusia inilah terletak perbedaan pokok antara etika St. Thomas dengan etika Aristoteles. St. Thomas sendiri menulis komentar atas Ethika Nikomachei. Bila pada Aristoteles digunakan rasio, pada St. Thomas dipakai rasio dan iman. Kebenaran-kebenaran yang mendasari pemikiran St. Thomas di samping berasal dari rasio, juga dari Pewahyuan.
2. Dimana dapat dijumpai etika St. Thomas Aquinas? St. Thomas bicara tentang tema-tema moral dalam berbagai tempat dalam karyanya, tetapi dapat dilihat bahasan teologisnya terhadap moral dalam Summa Theologiae, dan bahasan secara filosofis dalam Komentar akan Ethika Nikomacheia. Pokok-pokok etikanya dapat dilihat dari susunan Summa Theologiae yang menampilkan suatu moral yang didasarkan pada suatu metafisika dalam suatu tatanan semesta serta antropologi.
Summa Theologiae disusun sebagai suatu skema yang
menampakkan gerakan “keluar-kembali” (exitus-reditus) dari semesta yang berasal dari Allah dan kembali pada penciptanya itu sebagai tujuan terakhir. Skema ini tampak pada skema pokoknya: I: Allah dan realitas-realitas yang diciptakan-Nya; II: tindakan-tindakan manusiawi yang dengannya manusia kembali pada Allah; III: Kristus dan sakramen-sakramen, tampak bahwa Allah adalah sumber dan tujuan segala sesuatu. Secara khusus tindakan-tindakan manusia yang berperan membawa manusia pada tujuan terakhir dibahas dalam bagian II yang terbagi ke dalam dua bagian. Pada bagian pertamanya dibahas tindakan manusia secara umum dan pada bagian
48
keduanya tindakan manusia secara khusus dan konkret meski tidak sampai pada level praktis seperti kasuistis. Semuanya menunjukkan suatu studi atau ilmu spekulatif-praktis yang melibatkan refleksi berkenaan dengan tindakan-tindakan manusia.
3. Siapakah manusia menurut St. Thomas? Paham tentang manusia adalah seperti yang dimengerti menurut pikiran Allah. Pada ST II dielaborasi kemanusiaan sebagai yang diciptakan menurut gambar Allah dan tindakan-tindakan manusiawi yang berasal dari intelek dan kehendaknya. Allah dan kodrat manusia berelasi di atas poros “citra Allah.” Dari penciptaan secitra dengan Allah ini ditarik gagasan tentang kodrat manusia, termasuk tindakan-tindakan-nya. Allah merupakan model ilahi bagi manusia. Tindakan manusia diletakkan dalam hubungan dengan tujuan terakhirnya yang menunjuk pada asal mula manusia dan ke mana manusia terarah menuju.
4. Bagaimanakah manusia dapat mencapai tujuan terakhirnya (visio beatifica)? Jawaban atas pertanyaan ini menyusun etika St. Thomas sebagaimana terdapat dalam Summa Theologiae bagian kedua (pars II). Summa Theologiae bagian kedua merupakan sintesis sistematis atas moralitas manusia sebagai gambar Allah. Ia terbagi menjadi dua bagian pokok: I-II (umum) dan II-II (khusus tentang moral: summa de virtutibus et vitiis). Bagian I-II berisi unsur-unsur umum tindakan: tujuan akhir, tindakan manusia, unsur interior (intelek-kehendak, passion,
keutamaan)-eksterior (hukum, rahmat). Bagian II-II berisi keutamaan dengan lawannya, aturan, dan karunia yang berhubungan. Padanya didapatkan tekanan pada Hukum Baru
49
dan keutamaan. Dalam etikanya St. Thomas Aquinas tidak mulai dengan pertanyaan: hukum apa yang harus kupatuhi, tetapi dengan soal dengan apakah kebahagiaan yang sejati itu dicapai? Etikanya bukan pengetahuan akan perintah-perintah, seperti perintah-perintah Allah, Sang Pemberi Hukum, melainkan kebijaksanaan yang membuat mungkin manusia untuk memperdalam persahabatan dengan Allah Bapa yang penuh cinta, sebagai tujuan tertinggi manusia. Apa maksud kebijaksanaan di sini? Etika St. Thomas dimulai dari visi tentang ciptaan secara umum dan manusia secara khusus sebagai yang mengada dan bertindak menurut suatu tujuan akhir. Di sini apa yang harus dilakukan manusia ditentukan oleh tujuan apa yang diletakkan Allah pada keberadaannya sebab tindakan-tindakan manusia adalah yang merealisasikan tujuan akhir itu. Dan ini bukan sembarang tindakan, melainkan tindakan yang tertata pada tujuan akhir. Tindakan-tindakan itu adalah tindakan-tindakan yang mempunyai prinsip-prinsip intrinsik dan ekstrinsik yang membuat mungkin ketertataannya. Mengenai prinsip-prinsip tindakan ini dibahas dalam Summa Theologiae I-II, yaitu terdiri atas prinsip intrinsik, berupa daya-daya dan habitus pada jiwa yang ada di balik tindakan-tindakan dan keutamaan-keutamaan beserta cacat-cacat celanya, dan prinsip ekstrinsik, yaitu hukum dan rahmat.
5. Apa itu keutamaan menurut St. Thomas? Keutamaan merupakan kualitas dalam jiwa yang mengarahkan tindakan manusia sedemikian rupa sehingga itu dapat berkontribusi bagi perkembangan manusia. Keutamaan adalah disposisi yang stabil untuk melakukan apa yang baik dan bertumbuh dari aplikasi intelek, kehendak, dan emosi. Keutamaan pertama-tama
50
merupakan habitus. Terhadap emosi atau passion, habitus berperan mengarahkannya. Habitus berkembang dari kebiasaan, kodrat, dan Allah. Ia melibatkan pertimbangan akal budi yang tepat. Di sini berlaku paham bahwa hidup yang baik merupakanh hidup yang dipandu oleh akal budi yang tepat (right reason), yang mana ini mungkin karena kodrat rasional manusia yang membuat manusia memliki kapasitas natural untuk itu. Right reason ini dapat ada oleh karena keberadaan keutamaan intelektual kearifan, yang menunjukkan pada kehendak yang menginginkan mengambil pilihan tindakan yang tepat dari sekian pilihan dan juga untuk mengaplikasikan keutamaan moral. Sehubungan dengan tindakan yang benar ini hati nurani (synteresis dan conscientia) berperan sebagai yang mengaplikasikan prinsip moral dari Allah yang ditangkap dalam kodrat manusia pada setiap kasus pilihan tindakan moral sehingga tindakan moral manusia dapat benar. Tindakan yang tidak tertata menurut akal budi manusia maupun akal budi ilahi disebut dosa. Ia suatu penyimpangan, kekacauan, dan kekurangan dari yang baik. Pada dirinya sendiri ia bertentangan dengan kebaikan manusia sekaligus merupakan penghinaan pada Allah. Keutamaan (ST II-II) adalah jalan menuju pada tujuan akhir. Kembalinya manusia pada Allah adalah melalui keutamaan-keutamaan. Keutamaan-keutamaan yang spesifik manusiawi terdiri atas tiga yang teologal dan empat yang kardinal. Ada juga keutamaan yang berkenaan dengan panggilan khusus. Kearifan (prudentia) merupakan keutamaan kebijaksanaan praktis yang berkenaan dengan mengetahui pilihan tindakan yang tepat.
51
6. Apa peran yang adikodrati dalam etika St. Thomas? Peran yang adikodrati secara menyolok tampak pada relasi moral dan spiritualitas pada etika St. Thomas. Bagi St. Thomas Aquinas hidup moral tidak terpisah dari hidup kristiani, yaitu hidup pertumbuhan iman, harapan, dan kasih, yang semuanya ini berperan signifikan dalam mengantar manusia mencapai tujuan terakhirnya. Hidup spiritual ini menunjukkan relasi kodrat dan adikodrat di mana kodrat disempurnakan oleh rahmat sebagaimana tampak pada kehendak yang disempurnakan cintakasih dan intelek oleh iman. Karunia-karunia Roh, yaitu disposisi yang memudahkan jiwa menerima gerakan-gerakan Roh, menyempurnakan pertumbuhan keutamaan-keutamaan dalam jiwa.
52